KABUL, KOMPAS.TV - Janji Taliban menghormati hak asasi perempuan disambut ketidakpercayaan masyarakat Afghanistan. Di tengah skeptisisme itu, Taliban melakukan represi dengan menghapus mural dan membubarkan demonstrasi perempuan.

Pada Sabtu (4/9/2021), anggota Taliban menghapus sejumlah mural yang mempromosikan kebijakan kesehatan dan mengampanyekan bahaya HIV.

Tak cuma itu, Taliban juga menghapus mural penghormatan pada antropologis Nancy Dupree yang berjasa besar mencatat sendiri warisan budaya Afghanistan.

Melansir Associated Press, Taliban mengganti mural itu dengan coretan slogan berisi ucapan selamat atas kemenangan mereka atas pasukan Amerika Serikat dan sekutu.

Ahmadullah Muttaqi, juru bicara komisi kebudayaan Taliban menulis, pihaknya menilai mural itu bertentangan dengan nilai Taliban.

“Mural-mural itu menodai pikiran mujahidin dan sebagai gantinya kami menuliskan slogan-slogan yang akan berguna untuk semua orang,” kata Muttaqi, dikutip dari Associated Press.

Taliban, kata Muttaqi, juga menggunakan slogan-slogan di dinding dan pengibaran bendera baru menjelang pengumuman kabinet pemerintahan Afghanistan yang baru.

Sementara, warga perempuan Afghanistan mengaku khawatir hidup di bawah pemerintahan Taliban mendatang. Mereka pun kembali melakukan demonstrasi di Kabul pada Sabtu.

Demonstrasi awalnya berjalan damai. Demonstran menaruh karangan bunga di luar Kementerian Pertahanan Afghanistan untuk menghormati tentara yang tewas memerangi Taliban.

Setelah itu, mereka berbaris ke istana presiden menuntut hak asasi manusia bagi perempuan dan warga Afghanistan.

“Kami di sini untuk menuntut hak asasi manusia di Afghanistan. Aku cinta negaraku. Aku akan selalu menetap di sini,” ujar seorang demonstran bernama Maryam Naiby yang berumur 20 tahun.

Pasukan Taliban mendatangi mereka untuk menanyakan maksud demonstrasi itu. Mereka lalu berkata akan menghormati hak asasi perempuan.

Akan tetapi, ketika demonstrasi terus mendekati istana presiden, pasukan khusus Taliban berlari ke tengah demonstran dan menembakkan senjata api ke udara.

Mereka juga menembakkan gas air mata ke tengah kerumunan. Demonstran pun bubar menyelamatkan diri.

Farhat Popalzai, seorang peserta demo berumur 24 tahun mengaku mengikuti aksi protes itu demi menyuarakan suara perempuan lain yang ketakutan.

“Aku adalah suara bagi perempuan yang tidak bisa menyatakan keinginannya. Mereka pikir ini adalah negara laki-laki, tapi tidak. Ini juga negara perempuan,” ujar Popalzai.

Popalzai tak mengingat bagaimana cara Taliban berkuasa. Meski begitu, ia mendengar cerita masyarakat Afghanistan soal Taliban yang melarang perempuan bekerja dan bersekolah.

Di sisi lain, Taliban sedang berunding dengan dengan mantan presiden Hamid Karzai dan mantan kepala negosiasi pemerintah Abdullah Abdullah soal pemerintahan Afghanistan yang baru.

Selama dua minggu terakhir, para pejabat Taliban juga telah mengadakan pertemuan di antara mereka. Informasi beredar menyebut kemunculan perbedaan pendapat di antara petinggi Taliban.

Meski Taliban berjanji membentuk pemerintahan inklusif, tidak ada yang tahu apakah faksi dengan ideologi garis keras akan mendominasi atau tidak.

Di tengah ketidakpastian itu, kepala intelijen Pakistan Jenderal Faiez Hameed melakukan kunjungan mendadak ke Kabul. 

Tidak jelas apa yang ia katakan kepada para pemimpin Taliban, tetapi dinas intelijen Pakistan memiliki pengaruh kuat pada Taliban.

Hal ini karena markas Taliban sebelumnya berada di Pakistan. Pemerintahan Afghanistan sebelumnya dan Amerika Serikat kerap menuduh Pakistan membantu Taliban.

Penulis : Ahmad Zuhad | Editor : Iman Firdaus

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Cendekiawan muslim Buya Syafii Maarif meminta pemerintah Indonesia tak tergesa-gesa menjalin hubungan diplomatik dengan Taliban yang kini menguasai Afghanistan.

Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah itu menyarankan agar Indonesia tak mudah termakan berbagai janji-janji Taliban. Taliban sebelumnya berjanji akan meniadakan konflik, amnesti kepada mereka yang berseberangan, atau memuliakan kaum perempuan.

"Bagi saya begini, kita wait and see dulu. Kan katanya mau berubah, tapi kan belum tampak buktinya. Kita tunggu bukti dulu," kata Buya Syafii ditemui di kediamannya, Nogotirto, Gamping, Sleman, DIY, Jumat (3/9).

Memori atas  kekejaman rezim militan ini sepanjang 1996-2001 masih melekat di benak Buya Syafii. Genosida hingga pengekangan peran perempuan yang terjadi sepanjang ideologi Taliban berkuasa semestinya jadi bahan pemikiran bagi pemerintah Indonesia.

"Tahun 1996-2001 itu parah sekali, parah sekali," ucapnya. Di satu sisi, Buya Syafii meyakini mengubah ideologi tak akan semudah membalikkan telapak tangan. "Berkuasa lima tahun itu Taliban membawa 'keping neraka' ke muka bumi.

Semestinya kalau yang pakai (nama) Islam, membawa 'keping surga' ke muka bumi. Jangan dibalik-balik begitu. Orang yang tidak paham Islam itu menarik (kesimpulan) ini Islam, repot. Islam tidak seperti ini," lanjutnya tegas.

Sementara di saat negara-negara kuat seperti Amerika Serikat (AS) dan sekutunya mengambil langkah keras, China dan Rusia justru mempertontonkan kemesraannya terhadap Taliban. Buya Syafii beranggapan kedua negara ini menyimpan maksud lain.

"Kalau Rusia dan China saya rasa itu dalam rangka melecehkan Amerika, lebih banyak ke sana saya lihat. Karena walaupun Uni Soviet hancur, tapi antara Rusia dan Amerika perang dingin diam-diam masih ada, walaupun secara resmi sudah tidak. Tapi itu mereka berlomba-lomba merebut ekonomi dunia," sebut Buya Syafii.

Tak kalah penting, kata Buya, Indonesia harus mewaspadai euforia kemenangan Taliban dan dampaknya pada kegiatan terorisme di Tanah Air.

"Tentunya yang beraliran keras ini gembira toh, kita lihat saja. Indonesia harus waspada. Terorisme itu musuh-musuh kemanusiaan. Walaupun mengatasnamakan agama dan Tuhan, itu jelas pembajakan terhadap agama dan Tuhan. Apa pun mereka, komat-kamit membaca dzikir, seperti itu nggak bisa dipercaya," ucapnya.

(kum/bac)

Diterbitkan di Berita

damailahindonesiaku.com Jakarta – Badan Intelijen Negara (BIN) memastikan terus memantau aktivitas jaringan teroris Jamaah Islamiyah (JI). BIN menyebut anggota jaringan ini relatif masih muda-muda.

“Sekarang ada Jamaah Islamiyah lagi di mana anggotanya relatif muda-muda. Ini menjadi catatan,” kata Deputi VII BIN Wawan Hari Purwanto dalam diskusi yang ditayangkan di YouTube Gelora TV, Kamis (2/9/2021).

Wawan tak menjelaskan lebih detail kisaran usia para penggawa Jemaah Islamiyah tersebut. Polisi, kata Wawan, telah berhasil mencegah aksi teror dari kelompok ini dengan melakukan penangkapan beberapa waktu lalu.

“Jadi kita di Indonesia sudah ada penangkapan-penangkapan yang terantisipasi karena mereka melakukan langkah-langkah (teror),” ucapnya.

Lebih jauh, Wawan memastikan jaringan Jamaah Islamiyah tak berkaitan dengan kembalinya Taliban berkuasa di Afghanistan. Akan tetapi, kata dia, dengan kondisi euforia Taliban, tak tertutup kemungkinan hal itu bisa membangkitkan lagi jaringan teroris di Tanah Air.

“Dan itu dari patroli siber yang kita lakukan itu sudah muncul gerakan-gerakan seperti itu. Maka kita langsung masuk kepada saudara-saudara kita yang melakukan euforia itu untuk meredakan situasi yang emosional tadi supaya tetap mengedepankan bahwa Indonesia ini adalah bukan medan perang,” ujarnya.

Sebelumnya, Densus 88 telah menangkap 53 terduga teroris selama medio Agustus 2021 atau menjelang HUT ke-76 RI. Polri menyebut para terduga teroris itu ingin memanfaatkan momen Hari Kemerdekaan RI dengan menebar aksi teror.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, NU Online Pengamat Politik Timur Tengah, M Najih Arromadloni, menginventarisasi beberapa persamaan antara kelompok Taliban dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Pertama, lahir dari ideologi yang sama, yakni ideologi Salafi-Wahabi, bukan Sunni. Gus Najih, sapaan akrabnya, menyampaikan hal tersebut dalam diskusi daring bertajuk Serial Kajian Studi Kehidupan Agama Kontemporer yang disiarkan langsung di kanal YouTube TVNU, Jumat (29/8).

“Mereka eksklusif. Mengklaim kebenarannya sendiri dan merasa sebagai representasi Islam. Keduanya mengaku mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah. Menentang mereka berarti menentang Allah dan rasul-Nya,” kata dia.

Kedua, sama-sama lahir dari negara konflik. Baik Taliban di Afghanistan maupun ISIS di Suriah, keduanya lahir dari negara yang memiliki konflik berkepanjangan. “Juga sama-sama lahir atas peran Amerika,” terangnya.

Dijelaskan, kelahiran ISIS, Taliban, dan kelompok-kelompok teror, langsung maupun tidak langsung merupakan peran AS. ISIS muncul setelah negara Adi Kuasa ini menginvasi Irak, dan Taliban membesar setelah AS menginvasi Afghanistan. 

“Meskipun kalau kita baca peta geopolitiknya, lahirnya Taliban itu sendiri tidak lepas dari Amerika. Tadi saya katakan bahwa mereka dulu dididik di kembaga-lembaga pendidikan yang didanai oleh Arab Saudi,” ujar Gus Najih.

Menurut dia, Taliban mendapatkan pelatihan militer justru dari CIA (Central Intelligence Agency). “Sebetulnya, sampai sekarang pun CIA masih bisa memegang orang-orang Taliban, sebagaimana dikatakan Kiai As’ad Said Ali (mantan Wakil Kepala BIN),” sambungnya.

Ketiga, sama-sama mempunyai visi Negara Islam. “Dua-duanya sama, hanya ISIS negara Islamnya transnasional, kalau Taliban lokal,” ungkap Gus Najih. Keempat, kedua kelompok ini sama-sama suka menggunakan kekerasan dan teror dalam mencapai tujuan.

Kelima, dalam hal memahami teks agama, dua-duanya sangat tekstual. “Termasuk dalam hukum qishas, masih menerapkan hukum potong tangan, hukum rajam dan seterusnya,” terang penulis buku Bid’ah Ideologi ISIS: Catatan atas Penistaan ISIS terhadap Hadis (2017) itu.

Keenam, menggunakan narasi memerangi kafir. Ketujuh, mengeliminasi peran perempuan. Di Afghanistan, perempuan dijadikan budak dan diperdagangkan. Di tangan Taliban, perempuan menjadi kelompok terpinggirkan.

“Terbukti, Taliban membatasi peran-peran perempuan di ruang publik: tidak boleh sekolah dan seterusnya. Kemudian juga memposisikan perempuan di belakang laki-laki saat berjalan,” jelas Sekjen Ikatan Alumni Syam Indonesia (ALSYAMI) ini.

“Mereka juga tidak menganggap eksistensi anak perempuan. Orang Afghanistan kalau punya anak lima, misalnya, yang dua perempuan, ketika ditanya anaknya berapa, dia bilang tiga. Hanya menghitung laki-laki, yang perempuan tidak,” imbuhnya.

Dari persamaan itulah, banyak pihak yang mengkhawatirkan eksistensi Taliban, terlebih semenjak mereka menguasai Afghanistan. “Meski beberapa letupan konflik antara Taliban terjadi akhir-akhir ini, tetapi kerja sama dan persamaan-persamaan itu memang ada,” terang Gus Najih.

Ia menambahkan, perbedaan di antara keduanya yaitu Taliban lebih permisif. Dalam arti berteman baik dengan Syi’ah dan Komunis. Seperti saat perayaan Hari Asyura yang digelar beberapa waktu lalu. “Taliban menghadiri perayaan Syi’ah, yaitu Hari Asyura’.

Kemudian Taliban juga berkawan dekat dengan komunis, baik Tiongkok maupun Rusia,” ungkap alumnus Universitas Kuftaro Damaskus, Suriah, itu. Hal itu berbeda dengan ISIS yang justru relatif permisif terhadap Israel.

“ISIS saat berkuasa selama 2014-2019 di Irak dan Suriah, tidak pernah sekali pun berkonfrontasi dengan Israel. Satu peluru dari ISIS belum pernah sampai Israel, padahal ISIS mempunyai semua senjata,” pungkasnya. 

Kontributor: Ahmad Naufa KF Editor: Musthofa Asrori


Diterbitkan di Berita

 

BBC News Indonesia

Setelah Taliban menguasai Afghanistan, ribuan orang di negara itu meninggalkan rumah mereka dalam ketakutan. Belakangan perhatian publik terfokus pada kerumunan yang memadati Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul.

Namun terdapat ribuan warga Afganistan di daerah lainnya yang telah melarikan diri lewat jalur darat ke Pakistan melalui perbatasan di Kota Chaman. Jurnalis BBC News, Shumaila Jaffery, berbicara kepada beberapa dari mereka.

---

Perbatasan Spin Boldak di Chaman adalah salah satu penyeberangan tersibuk antara Pakistan dan Afghanistan. Ribuan pedagang dan pelancong melewati gerbang di kota berdebu ini setiap hari.

Namun belakangan ini, lalu lintas orang dari sisi Afghanistan sangat tinggi karena ribuan warga negara itu kabur dari kemungkinan persekusi oleh Taliban. Dari fajar hingga sebelum matahari tenggelam, mereka masuk ke penyeberangan ini.

Ratusan laki-laki membawa barang di pundak mereka. Para perempuan bercadar berjalan cepat di belakang pasangan mereka. Anak-anak berpegangan pada ibu mereka. Mereka terlihat kelelahan karena panas terik. Bahkan terdapat pula orang-orang sakit yang didorong di dalam gerobak.

'Mereka akan menyerbu rumah kami'

Zirqoon Bibi adalah perempuan berusia 57 tahun dari komunitas minoritas Hazara. Dia baru saja tiba di Pakistan ketika saya bertemu dengannya. Kelompok Hazara dianiaya oleh Taliban pada masa lalu.

Baru-baru ini serangan brutal terhadap sejumlah laki-laki dari komunitas itu memicu kembali ketakutan mereka terhadap Taliban. "Hati saya terbakar dengan rasa sakit," ujarnya berulang kali sambil terisak, ketika saya menanyakan kabarnya.

"Saya bertanya pada diri sendiri apa yang akan terjadi pada anak saya, anak saya satu-satunya," kata perempuan itu. Putranya, yang bekerja untuk sebuah perusahaan Inggris, sudah mencoba meninggalkan Afganistan. Tapi dia gagal.

Zirqoon Bibi berkata, menantu perempuan meninggal akibat ledakan bom Taliban yang menargetkan komunitas Hazara beberapa tahun lalu.

"Saya merasa sangat kehilangan (setelah kematiannya) sehingga saya tidak bisa tidur untuk waktu yang lama. Taliban adalah orang-orang yang mengerikan, saya takut pada mereka," ujarnya.

 
Satellite image of Spin Boldak crossing

 

Sebelum tiba di Pakistan, Zirqoon Bibi ditempatkan di sebuah kamp darurat kecil di perbatasan. Kamp itu dihuni sekitar 24 perempuan dan anak-anak Hazara lainnya dari berbagai bagian Afghanistan.

Dia meninggalkan rumahnya di ibu kota Kabul bersama dua putri dan cucunya. Saat dia berbicara, cucunya duduk di pangkuannya. Anak itu sama sekali tidak menyadari fakta bahwa dia sekarang tidak memiliki rumah.

"Saya tidak peduli dengan rumah atau barang-barang kami. Saya hanya mencemaskan putra saya dan putrinya," kata Zirqoon Bibi sambil memijat lembut bahu anak itu.

"Ke mana saya bisa pergi? Apa yang bisa saya lakukan? Saya telah menempatkan ibu gadis ini di kuburan dengan tangan saya sendiri. "Butuh banyak usaha dan cinta untuk membesarkan anak-anak, saya tidak bisa kehilangan anggota keluarga saya yang lain," ucapnya.

Sementara itu, Zarmeeney Begum, warga Afghanistan berusia 60 tahun yang menganut Syiah, juga baru saja datang bersama sekelompok perempuan lain. Muslim Syiah di Afghanistan telah menjadi sasaran persekusi Taliban pada masa lalu.

Begum berkata, ketika komunitasnya mendengar berita tentang Taliban yang mengambil alih kekuasaan, mereka merasa tidak punya pilihan selain meninggalkan Afghanistan.

 

Afganistan
 

Orang tua dan orang sakit diangkut dengan gerobak untuk melintasi perbatasn meuju Pakistan.

 

"Kami khawatir Taliban akan melanjutkan aksi terorisme mereka lagi. Mereka akan menggerebek di rumah kami," ujar Begum.

"Mereka sudah mencari pejabat pemerintah. Kami merasa pengeboman bisa dimulai kapan saja," katanya.

'Masa depan yang terganggu'

Banyak orang yang melintasi perbatasan ini adalah laki-laki dan perempuan muda Afghanistan. Mereka merasa tengah menghadapi ketidakpastian masa depan.

Salah satu di antara mereka adalah Muhammad Ahmer. Dia sedang menempuh pendidikan tinggi sambil bekerja sebagai pengajar bahasa Inggris di Kabul.

Dia masih tidak percaya bahwa Kabul tiba-tiba jatuh ke tangan Taliban.

"Sangat sulit dipercaya. Sejujurnya, kami tidak tahu mereka akan menguasai seluruh Kabul hanya dalam satu malam. Tapi saya hanya mencemaskan sekolah dan pendidikan saya," katanya.

Ahmer berkata, saat ini dia tidak tahu harus berbuat apa. Tapi yang jelas, dia yakin masa depannya tidak akan terwujud di Afghanistan yang dikendalikan Taliban.

"Saya ingin membuat pilihan saya sendiri dalam hidup. Saya ingin kebebasan, jadi saya tidak akan kembali," ujarnya.

 

Afganistan
 

Perekonomian memburuk dan tingkat pengangguran sangat tinggi, kata beberapa warga Afganistan yang bermigrasi untuk mencari pekerjaan di Pakistan.

 

Jamal Khan, mahasiswa lainnya di Kabul yang saya temui di perbatasan, memiliki kecemasan serupa. "Semua orang ingin tinggal di rumah mereka, tapi kami terpaksa meninggalkan Afghanistan," tuturnya.

"Kami merasa tidak nyaman bermigrasi ke Pakistan atau negara lain. Semua orang khawatir, tapi mereka tidak memiliki harapan," katanya. Orang-orang lain yang saya temui juga menyangsikan kemungkinan bertahan hidup di bawah rezim Taliban.

Obaidullah, seorang buruh dari Kandahar, menyebut dirinya memutuskan kabur ke Pakistan. Dia menilai perekonomian Afganistan berantakan dan negara berjalan tanpa pemerintahan.

"Situasi di Kandahar normal, tapi tidak ada pekerjaan, saya datang ke sini untuk mencari pekerjaan, saya mungkin akan menjadi tukang becak," katanya.

Taliban belakangan telah berusaha membentuk citra yang lebih positif sejak mereka menguasai Afganistan. Hal ini tercermin dari sikap seorang milisi yang berhenti untuk berbicara dengan kami di perbatasan.

Dia menegaskan situasi Afganistan sekarang benar-benar damai. "Trauma rakyat Afghanistan akan berakhir segera setelah pasukan pendudukan asing meninggalkan negara itu," ujarnya.

"Ini hanya masalah kepercayaan, orang akan segera tahu bahwa kami bersungguh-sungguh dengan apa yang telah kami janjikan," tuturnya.

 
Afganistan
 

Ribuan orang melintasi perbatasan Spin Boldak setiap hari. Namun arus masuk dari Afghanistan ke Pakistan sangat tinggi sejak Taliban mengambil alih kekuasaan.

 

Namun banyak warga Afganistan meragukan janji Taliban. "Taliban mungkin bertindak berbeda kali ini, tapi orang-orang yang pernah menderita akibat tangan mereka di masa lalu belum siap untuk mempercayai mereka," kata Ahmer.

Mereka melarikan diri meskipun mereka tahu masa depan mereka tidak pasti. Pakistan sejauh ini sudah menampung jutaan warga Afghanistan. Mereka menyatakan tidak sanggup lagi nampung lebih banyak pelarian Afganistan.

Banyak yang percaya dalam waktu dekat Pakistan akan benar-benar menutup pintu masuk mereka untuk warga Afganistan.

Pemerintah Pakistan menyatakan, tidak seperti tahun 1980-an ketika jutaan orang Afghanistan datang setelah invasi Uni Soviet, kali ini kamp pengungsi akan didirikan di perbatasan. Warga Afghanistan tidak akan diizinkan masuk lebih jauh ke wilayah Pakistan.

Namun sejauh ini, orang bebas memasuki negara itu melalui perbatasan Spin Boldak. Mereka paham hanya ada peluang kecil untuk keluar, jadi mereka rela mengambil resiko apapun untuk melarikan diri.

Namun belum jelas ke mana langkah mereka akan mengarah setelah keluar dari Afganistan.

Nama-nama narasumber dalam liputan ini diubah untuk melindungi identitas mereka

Diterbitkan di Berita

KABUL, KOMPAS.TV – Beredar rekaman video viral yang memperlihatkan seseorang yang diduga digantung dari helikopter Black Hawk peninggalan militer Amerika Serikat (AS) di langit Kandahar, Afghanistan, Selasa (31/8/2021).

Banyak yang menyatakan bahwa Taliban tengah mengeksekusi seseorang dengan menggantungnya dari helikopter. Sebelumnya, seperti diwartakan New York Post, akun Talib Times mengunggah sebuah video yang menampakkan seseorang tergantung dari sebuah helikopter.

“Angkatan Udara kita,” tulis Talib Times, yang mengaku akun resmi Taliban berbahasa Inggris, Selasa. Dalam video itu, terlihat seseorang digantung di bawah helikopter yang mengudara di langit Kandahar.

Namun, Talib Times tidak menjelaskan apakah seseorang yang tergantung itu masih hidup atau tidak.

 

Rekaman video yang diunggah oleh akun Twitter Talilb Times yang mengaku akun resmi berbahasa Inggris milik Taliban memperlihatkan seseorang yang tampak menggantung pada Selasa (31/8/2021). (Sumber: Twitter)

 

Sejumlah anggota Kongres AS dari Partai Republik, termasuk Senator Ted Cruz dan Dan Crenshaw dari Texas, menyebarkan kabar mengejutkan itu.

Taliban menggantung seseorang dari helikopter di Kandahar,” unggah akun komedi @Holbornlolz yang memiliki 73,7 ribu pengikut.

Cruz menggunakan cuitan itu untuk menuding dan menyalahkan Presiden AS Joe Biden atas ‘bencana’ yang terjadi di Afghanistan. “Gambar mengerikan ini merangkum bencana Afghanistan Joe Biden: Taliban menggantung seorang pria dari helikopter Blackhawk AS. Tragis. Tak terbayangkan,” tulisnya.

Crenshaw juga menggunakan video yang di beberapa bagian tampak buram itu untuk mengkritik kebijakan penarikan seluruh pasukan AS oleh Biden. “Dalam dunia jahanam mana ide menyerahkan sebuah negara pada orang-orang ini adalah ide bagus?!” cuitnya.

Sejumlah akun Twitter populer juga turut menyebarkan kabar itu.

Jurnalis India Sudhir Chaudhary yang memiliki lebih dari 6 juta pengikut, mencuitkan pesan di akun Twitternya, “Taliban menggantung seseorang, diduga seorang penerjemah Amerika, dari sebuah helikopter Blackhawk AS.”

Faktanya, seperti dilansir dari CNN, tak ada seorang pun yang dieksekusi dari helikopter di Kandahar seperti yang ditunjukkan dalam video yang viral itu.

Video lain menunjukkan seseorang yang tergantung di helikopter ternyata mengenakan tali pengaman harness di tubuhnya, dan bukan tali yang melilit lehernya. Dan lelaki itu kelihatan bergerak bebas, bahkan tampak melambaikan tangan.

Belum dapat dikonfirmasi segera apa yang tepatnya tengah dilakukan lelaki yang menggantung di helikopter itu.

Namun, Bilal Sarwary, seorang jurnalis Afghanistan yang berhasil meninggalkan negara itu melalui evakuasi pada akhir Agustus, mencuitkan sebuah pesan di akun Twitternya pada Selasa.

Pilot Afghanistan yang menerbangkan (helikopter) ini adalah seseorang yang saya kenal bertahun-tahun. Ia pernah dilatih di AS dan UAE (Uni Emirat Arab), ia mengonfirmasi pada saya bahwa ia menerbangkan helikopter Blackhawk itu. (Ternyata) pasukan Taliban berupaya memasang bendera Taliban dari udara, tapi tampaknya itu tidak berhasil,” urainya.

Diterbitkan di Berita

INDOZONE.IDSebelum pasukan AS terakhir meninggalkan Kabul pada Senin (30/8) tengah malam, banyak pemandangan mencolok dan suara kehidupan kota di Afghanistan bahkan mulai berubah.Mereka berusaha menyesuaikan diri dengan gaya tegas pemerintah baru mereka. 

Taliban sejauh ini telah berusaha menunjukkan wajah yang lebih menenangkan kepada dunia. Tak ada hukuman keras dipertontonkan di depan publik dan tak ada larangan menggelar hiburan rakyat seperti yang mereka terapkan saat berkuasa dulu.

Kegiatan budaya diperbolehkan, sejauh tidak melanggar hukum Syariat dan budaya Islam Afghanistan. Reklame warna-warni di depan salon-salon kecantikan sudah dicat ulang, jeans telah diganti dengan pakaian tradisional, dan stasiun radio dilarang memutar musik dan suara penyiar perempuan.

 

"Bukan karena Taliban memerintahkan kami mengubah apa pun, kami mengganti program sekarang karena kami tidak ingin Taliban memaksa kami berhenti siaran," kata Khalid Sediqqi, produser stasiun radio swasta di Kota Ghezni, dikutip dari Reuters, Rabu (1/9).

"Lagi pula tak seorang pun di negara ini berminat mencari hiburan, (karena) kami semua sedang syok," sambungnya.

Selama 20 tahun hidup di bawah pemerintah dukungan Barat, budaya populer tumbuh di Kabul dan kota-kota lain yang diwarnai kemunculan tempat kebugaran, minuman berenergi, gaya rambut kekinian dan lagu-lagu pop yang berdencing-dencing. Bagi petinggi Taliban perubahan itu dianggap sudah melampaui batas.

"Budaya kami telah teracuni, kami melihat pengaruh Rusia dan Amerika di mana saja bahkan pada makanan yang kami santap, sesuatu yang harus disadari oleh masyarakat dan perlu diubah," kata seorang komandan Taliban.

Meski petinggi Taliban berulang kali mengatakan pasukan mereka harus menghormati penduduk dan tidak sembarangan menghukum, banyak warga tidak percaya mereka mampu mengendalikan anggota-anggota yang ada di bawah. 

"Tak ada musik di seluruh Kota Jalalabad, orang ketakutan dan khawatir dipukul Taliban," kata Naseem, mantan pejabat di provinsi timur, Nangarhar.

Diterbitkan di Berita

sindonews.com KABUL - Kepala keamanan pendiri al-Qaeda; Osama bin Laden , terlihat pulang ke Afghanistan . Orang-orang yang mengangguminya terlihat berebut bersalaman dan mencium tangannya.

Amin ul-Haq, kepala keamanan Osama bin Laden terlihat pulang ke kampung halamannya di Provinsi Nangarhar, Afghanistan. Dia muncul hanya beberapa jam setelah pasukan Amerika Serikat (AS) dan sekutu NATO-nya hengkang dari negara itu.

Orang dekat Osama bin Laden itu dikenal sebagai pemasok senjata utama al-Qaeda.

Sekadar diketahui, di bawah perjanjian damai AS-Taliban 2020, kelompok Taliban berjanji bahwa mereka tidak akan membiarkan anggotanya, individu lain, atau kelompok, termasuk al-Qaeda, menggunakan tanah Afghanistan untuk mengancam keamanan Amerika Serikat dan sekutunya.

Osama bin Laden sendiri telah terbunuh dalam operasi Navy SEAL AS di Pakistan pada 2 Mei 2011 atau satu dekade setelah serangan 11 September 2001 di AS.

Sebuah video yang dibagikan jurnalisHassan I. Hassan di Twitterpada hari Senin menunjukkan sebuah SUV yang membawa Amin ul-Haq melintasi pos pemeriksaan di tengah kerumunan kecil para pengagum.

 

 

Pada satu titik, mobil berhenti dan Amin ul-Haq membuka jendela. Orang-orang yang mengangguminya bergiliran bersalaman dan mencium tangannya.

SUV itu kemudian terlihat diikuti oleh konvoi kendaraan yang membawa gerilyawan bersenjata, dengan beberapa mengibarkan bendera Taliban.

"Mantan ajudan keamanan Osama bin Laden dan pemasok/fasilitator senjata al-Qaeda Amin-ul-Haq kembali ke kampung halamannya setelah dua dekade dalam pelarian, dua minggu setelah pengambilalihan Taliban," tulis Hassan di Twitter.

"Jangan heran jika al-Qaeda menunjuk seorang Afghanistan sebagai pemimpin berikutnya setelah Zawahiri," lanjut dia, merujuk pada pemimpin al-Qaeda saat ini, Ayman Zawahiri.

Baik Pentagon maupun Departemen Luar Negeri belum mengomentari kemunculan orang dekat Osama bin Laden tersebut. Kelompok Taliban sendiri belum mengonfirmasi kehadiran Amin ul-Haq di Afghanistan.

(min)

Diterbitkan di Berita

damailahindonesiaku.com Jakarta – Kabag Bantuan Operasi Densus 88 Kombes Pol Aswin Siregar menyampaikan Afghanistan menjadi tempat melatih diri (training ground) para kelompok teroris yang biasa beraksi di Indonesia.

Awalnya, Aswin menyampaikan konflik di Afghanistan yang terjadi sejak 1970 silam telah memicu datangnya pejuang alias kombatan dari berbagai penjuru negara. Tak terkecuali Warga Negara Indonesia (WNI).

Ia mengungkapkan banyak WNI yang diketahui menjadi kombatan berdalih memperjuangkan nasib dan kemerdekaan umat Islam. Sesampainya di sana, mereka mendapatkan pencucian otak (brainwash).

“Sampai di sana mereka biasa lah yang mengalami proses brainwash. Kemudian membangun jaringan kenal satu sama lain dan melatih dan melengkapi diri dengan persenjataan yang ada,” kata Aswin dalam diskusi daring, dikutip tribunnews, Senin (30/8).

Ia mencatat ada lebih dari 10 gelombang WNI yang berangkat ke Afghanistan dengan maksud menjadi kombatan pejuang di Afghanistan. Mereka menjadikan tempat itu sebagai melatih berperang.

“Ada yang tercatat misalnya, saya mungkin lebih ada 10 gelombang yang berangkat ke Afghanistan dari tahun-tahun awal itu ya. Kemudian setelah mereka selesai dalam tanda kutip berjuang di sana, selesai berlatih di sana, Afghanistan itu akan selalu itu jadi training ground mereka ya berlatih dan berperang,” ungkapnya.

Ia menerangkan WNI eks kombatan di Afghanistan ini rata-rata memiliki pemikiran dengan tingkat radikalisme yang tinggi seusai pulang ke Indonesia. Tercatat, ada sejumlah aksi teror yang diperbuat eks kombatan di Afghanistan.

“Kemudian selesai pulang ke Indonesia dan melakukan berbagai aksi teror ya di sini sebagaimana yang tercatat di kita itu ada bom malam natal ketika konflik di Poso, Bom Bali 1, bom Bali 2, bom JW Marriott, bom Kedubes Australia, Ritz Carlton dan sebagainya,” ungkapnya.

Atas dasar itu, Aswin mengingatkan bahwa keberadaan WNI sebagai kombatan di Afghanistan berdampak terhadap pemikirannya selepas pulangnya ke Indonesia.

“Jadi hasil-hasil dari keberadaan mereka di Afghanistan itu secara nyata dan faktual memberikan dampak terhadap pemikiran dan aksi mereka setelah kembali ke Indonesia,” jelasnya.

Diterbitkan di Berita

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Kamis lalu (27/8) mengadakan pertemuan dengan perwakilan Taliban di kantor Biro Politik Taliban di Ibu Kota Doha, Qatar.

Dalam pertemuan tertutup tersebut, dia menyampaikan tiga harapan pemerintah Indonesia pada pemerintahan baru Afghanistan yaitu pemerintahan yang inklusif, penghormatan pada hak-hak perempuan, dan memastikan Afghanistan tidak menjadi sarang teroris.

Pertemuan itu terjadi sebelas hari setelah Taliban menguasai Ibu Kota Kabul dan lima hari menjelang tenggat akhir penarikan pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan. Retno tidak menyebutkan siapa petinggi Taliban yang ditemuinya di Doha itu.

 

Juru bicara Kemlu RI, Teuku Faizasyah (foto: VOA/Fathiyah)
Juru bicara Kemlu RI, Teuku Faizasyah (foto: VOA/Fathiyah)

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah kepada VOA, Minggu (29/8) menjelaskan pemerintah Indonesia tidak akan tergesa-gesa mengakui pemerintahan Taliban di Afghanistan dan akan terus mengikuti perkembangan proses internal yang sedang berlangsung di negara Asia Tengah itu.

"Apakah mereka bisa membangun satu pemerintahan atau satu sistem politik yang inklusif. Tiga hal yang disampaikan Ibu Menlu (Menteri Luar Negeri Retno Marsudi) menjadi catatan penting buat Indonesia dan saya yakin banyak negara juga memiliki pandangan yang serupa. Jadi hal-hal itu kita harapkan bisa tercapai karena itu akan menciptakan kondisi yang lebih menjanjikan bagi perkembangan Afghanistan dari sekarang dan ke depan," kata Faizasyah.

Tak Otomatis Akui Pemerintahan Taliban

Menurut Faizasyah, kunjungan Retno ke kantor Biro Politik Taliban di Doha tidak otomatis berarti pemerintah Indonesia mengakui pemerintahan Taliban di Afghanistan.

Faizasyah menambahkan membangun komunikasi merupakan sebuah hal yang harus dilakukan dalam menyikapi perkembangan terbaru di Afghanistan.

Apalagi Retno juga sudah banyak berinteraksi dengan Taliban dalam beragam pertemuan membahas proses perdamaian di Afghanistan.

"Pertemuan kemarin adalah bagian dari katakanlah membangun komunikasi untuk mengetahui lebih khusus lagi apa rencana ke depan dari pihak Taliban dan dari sisi lain juga menyampaikan sisi pandangan Indonesia yang kita harapan bisa diperhatian dan diimplementasikan oleh pihak Taliban," kata Faizasyah.

Faizasyah mengungkapkan pertemuan antara Retno dan perwakilan di kantor Biro Politik Taliban itu berlangsung lebih dari sejam. Namun dia menolak menjelaskan secara rinci apa saja yang dibahas antara kedua pihak.

 

Delegasi Taliban ketika berlangsung pembicaraan perdamaian Afghanistan di Doha, Qatar bulan Juli 2021 (foto: dok).
Delegasi Taliban ketika berlangsung pembicaraan perdamaian Afghanistan di Doha, Qatar bulan Juli 2021 (foto: dok).

 

Faizasyah menyebutkan Retno menyampaikan harapan pemerintah Indonesia kepada Taliban dan pihak Taliban juga menjelaskan mengenai rencana mereka ke depan dalam memerintah Afghanistan.

Faizasyah mengakui ketiga tuntutan disampaikan Retno dalam pertemuan dengan perwakilan di kantor Biro Politik Taliban di Doha tersebut juga menjadi harapan masyarakat internasional.

Namun dia mengatakan pemerintah Indonesia berharap Taliban tidak lagi seperti dua daswarsa lalu ketika berkuasa untuk pertama kalinya di Afghanistan.

Pengamat: Ada Peluang Pemerintahan Taliban Diterima Masyarakat Internasional

Pengamat hubungan internasional dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Nanto Sriyanto mengatakan Indonesia tidak akan memaknai kemenangan Taliban sebagai bagian dari perdamaian namun dia menilai ada harapan pemerintahan baru Afghanistan di bawah kendali Taliban akan diterima oleh masyarakat internasonal.

Namun ada catatan khusus tentang Taliban ketika berkuasa 20 tahun lalu sehingga menjadi bahan pertimbangan bagi banyak negara, termasuk Indonesia, untuk mengakui pemerintahan Taliban.

Nanto mengatakan, pemerintah Indonesia sepertinya ingin melihat apakah Afghanistan di bawah Taliban bisa dipercaya menjadi bagian dari komunitas internasional yang bertanggung jawab. Namun Indonesia memahami kebijakan politik luar negeri bebas aktif.

"Dari situ, salah satu cirinya adalah Indonesia tidak takut untuk encari tahu langsung kepada Taliban. Tapi juga Indonesia berpegang teguh kepada nilai-nilai komunitas internasional, seperti menjaga kedamaian di kawasan, bagaimana Taliban memperlakukan warga negaranya sesuai standar katakanlah hak asasi manusia yang berlaku," ujar Nanto.

Menurut Nanto, pertemuan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dengan perwakilan di kantor Biro Politik Taliban di Doha menunjukkan pemerintah Indonesia berperan aktif untuk mendorong Taliban agar memerintah Afghanistan mengikuti kebiasaan internasional. [fw/em]

Diterbitkan di Berita