Jakarta, NU Online Pengamat Timur Tengah Muhammad Imdadun Rahmat mengatakan bahwa janji-janji politik Taliban setelah berhasil menguasai Afghanistan hanya akan terjadi di level elite.

Namun, pada praktiknya di tataran masyarakat bakal berbeda karena tetap akan diterapkan doktrin konservatisme beragama.  Beberapa janji politik Taliban adalah akan membuat pemerintahan yang moderat, inklusif, dan menjunjung hak-hak warga negara, terutama perempuan.

Di antaranya, perempuan bakal diperbolehkan untuk berperan di ruang publik dan tidak diwajibkan mengenakan pakaian burka.  “Kita berharap proses moderasi terjadi.

Secara teoritik, kelompok perlawanan itu kalau diberi peran di dalam pemerintahan cenderung akan mengalami proses moderasi. Mereka harus bernegosiasi dengan berbagai kepentingan,” tutur Imdad saat dihubungi NU Online, Sabtu (21/8).

Setelah berkuasa di Afghanistan, Taliban kini harus bernegosiasi dengan dunia internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara-negara Islam yang tergabung di dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di kawasan Timur Tengah.

“Jadi, kecenderungan umum kalau berkuasa itu sedikit banyak akan mengalami proses moderasi. Tetapi teori juga mengatakan, proses moderasi karena faktor politik itu biasanya hanya terjadi di level elite. Di level massanya yang dipegang adalah doktrin,” jelas Imdad. 

Sebagai gambaran, Imdad mencontohkan situasi yang terjadi di Mesir saat Ikhwanul Muslimin berkuasa. Di level elite, kelompok yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin di seluruh dunia akan mengeluarkan retorika, pernyataan, dan sikap politik yang moderat.

Namun praktik di bawah pasti akan berbeda. “Saya khawatir moderasi itu hanya terjadi di tingkat elite, kalau toh ada proses moderasi itu akan terjadi terlalu lama sehingga di bawah bakal banyak terjadi persekusi-persekusi atas nama konservatisme agama.

Ini yang kita khawatirkan di internal Afghanistan,” terang Direktur Said Aqil Siroj (SAS) Institute itu. 

Selain itu, karena proses pengambilalihan kekuasaan yang dilakukan Taliban melalui perang, maka akan sangat sulit diharapkan mereka mampu mengakomodasi kelompok-kelompok lain yang berseberangan.

Dengan demikian, harapan dunia Internasional yang menginginkan Afghanistan menjadi negara moderat dirasa akan sulit.  Dijelaskan bahwa dalam teori politik terdapat dua pola transisi kekuasaan yakni trans-placement dan replacement.

Sementara peralihan kekuasaan yang terjadi di Afghanistan saat ini, menurut Imdad, menggunakan pendekatan yang kedua.  “Nah yang terjadi di Afghanistan ini sekarang adalah replacement. Jadi penguasa lama kabur, hilang, digantikan dengan kekuasaan yang sama sekali baru.

Kalau trans-placement itu kan mungkin ada sekian persen penguasa lama yang dilibatkan ketika penguasa baru menduduki ruang elite. Kalau di Afghanistan sekarang ini benar-benar baru, semua kekuasaan diambil alih oleh Taliban,” jelas Imdad.

Jika demikian, Afghanistan di bawah kekuasaan Taliban ini akan memunculkan masalah soal keselamatan kelompok-kelompok yang dianggap musuh atau berseberangan secara politik.

Kemungkinan yang terjadi adalah akan banyak terjadi pembunuhan sehingga banyak warga yang mencoba melakukan eksodus atau pelarian dari Afghanistan. “Karena memang kemungkinan akan terjadi pembunuhan politik itu sangat besar.

Memang ada amnesty (pengampunan) untuk masyarakat yang tidak tahu apa-apa. Tetapi untuk mereka yang dianggap terlibat (kekuasaan lama) itu dalam praktiknya enggak (tidak mendapat pengampunan),” ungkap Wakil Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu.

Di Mesir, sebagai contoh, ketika Ikhwanul Muslim berhasil mengambil alih kekuasaan maka semua orang yang dianggap terlibat dengan penguasa sebelumnya ditangkap dan dipenjara. Begitu juga sebaliknya saat Abdul Fattah Al-Sisi berkuasa, semua elite Ikhwanul Muslimin dipenjara.

“Itu kalau replacement begitu. Nah ini yang terjadi di Afghanistan itu adalah replacement. Jadi, akan ada potong satu generasi.

Jadi berharap akan munculnya bangsa yang inklusif dan pemerintah yang demokratis di Afghanistan, agaknya susah,” tutur Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) 2016-2017 itu. 

Pewarta: Aru Lego Triono Editor: Fathoni Ahmad

Diterbitkan di Berita

POJOKSATU.id, JAKARTA – Pakar politik Amerika Serikat, Jerry Massie menanggapi analisa mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) tentang Taliban dan pemerintahan Afghanistan.

Jerry Massie mengaku tertawa saat mendengar pernyataan JK bahwa mundurnya Amerika Serikat dari Afghanistan karena AS ingin ada perang saudara antara kelompok Taliban dengan tentara Afghanistan.

“Saya hanya ketawa membaca analisis Jusuf Kalla,” ujar Jerry Massie, dipansir kepada Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (22/8).

Pengamat politik dari Political and Public Policy Studies (P3S) ini lantas mengurai apa yang terjadi di Afghanistan. Menurutnya, semua itu merupakan bagian dari strategi Presiden Amerika Serikat Joe Biden yang disebutnya sebagai seorang demenesia.

Demenesia adalah kondisi penyakit yang ditandai dengan penurunan setidaknya dua fungsi otak, seperti hilangnya memori dan kemampuan menilai. “Hampir 20 tahun mereka menduduki Afghanistan. Ada banyak veteran AS yang menentang kebijakan Biden,” tegas Jerry Massie.

Donald Trump, sambungnya, justru lebih elegan saat mendekati Taliban. Sebab, pendekatan itu dilakukan tanpa ada kekacauan dan pasukan AS tidak ditarik.

Kebijakan Joe Biden bahkan membuat Senator Partai Reoublik dari South Carolina Lindsey Graham dan Marjorie Taylor Greene dari Georgia mengirimkan pasal pemakzulan. Mereka ingin ada jaminan warga AS selamat saat kembali pulang.

“Jadi kaum konservatif menolak akan penarikan ini. Memang Menlu Anthony Blinken sangat berbahaya dia pernah ditolak mendiang Senator Jhon Mc Cain dari Arizona,” tegasnya.

Jerry Massie juga membantah pernyataan JK yang menyebut perang sipil di Afghanistan tidak terjadi karena militer pemerintah memilih pergi. Faktanya, kini perang sipil sudah terjadi. Pejuang rakyat Afganistan bahkan telah menguasai 3 kota besar dari tangan Taliban.

Namun perjuangan ini akan menjadi sia-sia, jika pemerintahan Joe Biden tidak ikut campur. “Ini sama persis dengan ISIS di Suriah saat mantan Presiden AS Barrack Obama membiarkan Suriah jatuh ke tangan ISIS,” urainya.

Menyinggung soal keterlibatan China, Jerry Massie tidak menampik. Dia yakin China punya kepentingan besar di Afghanistan jika dilihat dari hubungan mesra mereka dengan Taliban.

Terlepas dari itu, dia ingin agar Indonesia menjaga dan memblokir pusat pelatihan-pelatihan militer dari orang Indonesia di Afganistan.

“Ingat, Taliban sudah menawarkan perlindungan bagi Alqaeda. Ini sangat berbahaya. Bisa saja kejadian penyerangan sama seperti 11 September di AS terulang lagi,” sambungnya. “Intinya, tujuan AS bukan Civil War atau perang saudara. Analisis JK irrasional,” demikian Jerry Massie. 

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Taliban telah berhasil menguasai seluruh wilayah Afghanistan pada 15 Agustus 2021. UNESCO pun meminta situs-situs bersejarah atau warisan budaya di negara tersebut dilindungi dan dilestarikan. Dilansir India Today, UNESCO mengkhawatirkan kerusakan dan penjarahan warisan penting negara itu sejak pengambilalihan Afghanistan oleh Taliban.
 
Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada Kamis (19/8), UNESCO mengingatkan dunia saat ikon Buddha Bamiyan, sebuah situs warisan dunia di Lembah Bamiyan, sengaja dihancurkan pada 2001.
 
 
Taliban Kuasai Afghanistan, UNESCO Minta Situs Bersejarah Dilindungi (1)
Lembah Bamiyan di Afghanistan. Foto: Shutter Stock
 
"Kami menyerukan pelestarian warisan budaya #Afganisthan dalam keragamannya, dengan menghormati hukum internasional, dan untuk mengambil semua tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menyelamatkan dan melindungi warisan budaya dari kerusakan dan penjarahan," tulis Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay pada laman akun Twitter resminya.
 
 
Lembah Bamiyan merupakan salah satu Warisan Budaya UNESCO yang hilang setelah dihancurkan oleh Taliban. Di perbukitan tersebut terdapat sebuah patung Buddha yang berdiri tegak selama berabad-abad. Namun, patung tersebut sudah hancur setelah dibom oleh Taliban pada Maret 2001.
UNESCO pun mengukuhkan Lembah Bamiyan ke dalam Situs Warisan Dunia pada 2003. Situs ini juga langsung masuk dalam kategori bahaya yang perlu diselamatkan segera. 

Afghanistan Rumah Berbagai Situs Warisan Dunia

Taliban Kuasai Afghanistan, UNESCO Minta Situs Bersejarah Dilindungi (2)
Lembah Bamiyan di Afghanistan. Foto: Shutter Stock
 
Afghanistan sendiri diketahui menjadi rumah dari beberapa situs warisan dunia lainnya yang menjadi bagian dari sejarah dan identitas negara tersebut. Beberapa di antaranya seperti Kota Tua Herat, yang memiliki banyak bangunan bersejarah, salah satunya adalah Minaret, dan juga menara jam ikonik. Sayangnya, beberapa di antaranya rusak akibat konflik militer.
 
Selain itu, bangunan lainnya adalah Museum Nasional Afghanistan yang dibangun pada 1919 masa pemerintahan Raja Amanullah Khan. Negara tersebut pun berupaya untuk menyelamatkan ribuan benda-benda bersejarah yang dimiliki museum itu. Untuk itu, UNESCO menggarisbawahi bahwa diperlukan upaya konservasi yang nyata untuk melindungi situs-situs warisan dunia yang ada di Afghanistan.
 
"Afghanistan adalah rumah bagi berbagai warisan yang kaya dan beragam, yang merupakan bagian integral dari sejarah dan identitas Afghanistan, serta penting bagi umat manusia secara keseluruhan, yang harus dijaga," ujar pernyataan resmi UNESCO. "Sangat penting bagi masa depan Afghanistan untuk menjaga dan melestarikan landmark ini," tutupnya.
Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Pasukan perlawanan Anti-Taliban yang masih bertahan terus menggempur Taliban dan sejauh ini dilaporkan berhasil merebut tiga distrik di dekat Lembah Panjshir dari kelompok tersebut.

Lembah Panjshir terletak di utara Afghanistan dan menjadi tempat sisa pasukan pemerintah yang masih bertahan serta kelompok milisi lokal lainnya berkumpul.

Menteri Pertahanan Afghanistan, Jenderal Bismillah Mohammadi, menjadi salah satu pejabat pemerintah yang masih bertahan di negara itu. Mohammadi bersumpah akan melawan Taliban.

Melalui kicauan di Twitter, Mohammadi menuturkan bahwa distrik Deh Saleh, Baon, dan Pul-Hesar, di Provinsi Baghlan telah berhasil direbut dari tangan Taliban.

Meski begitu, tak kunjung jelas pasukan Anti-Taliban yang terlibat dalam aksi perlawanan terhadap Taliban tersebut.

Namun, bentuk perlawanan itu semakin memperjelas gerakan melawan Taliban yang  telah menguasai belasan ibu kota provinsi, termasuk ibu kota negara Kabul dan Istana Kepresidenan, selama beberapa pekan terakhir.

Sementara itu, mengutip seorang komandan polisi setempat, stasiun televisi lokal Tolo News melaporkan bahwa distrik Bano di Baghlan berada di bawah kendali pasukan milisi lokal. Media itu mengatakan banyak korban berjatuhan akibat pertempuran di distrik tersebut.

Dikutip Reuters, sejauh ini Taliban belum mengomentari perebutan ketiga distrik tersebut. Sebagian pejabat pemerintah Afghanistan, termasuk Presiden Ashraf Ghani, telah kabur ke luar negeri tak lama setelah Taliban menduduki Kabul.

Namun, beberapa petinggi negara yang masih bertahan, termasuk Wakil Presiden Amrullah Saleh, bersumpah akan melawan Taliban dan mengembalikan pemerintahan. Saleh bahkan telah mendeklarasikan diri sebagai penjabat presiden Afghanistan menyusul kepergian Ghani.

Menurut Saleh, berdasarkan konstitusi negara, dia yang berhak menjabat sebagai pemimpin tertinggi Afghanistan setelah presiden kabur.

Selain Saleh, putra mantan Komandan Mujahidin anti-Soviet Ahmad Shah Massoud, Ahmad Massoud, telah juga turut bersumpah akan menumpas Taliban di negara itu.

Sejumlah orang yang dekat dengan Massoud mengatakan bahwa sudah ada lebih dari 6.000 pejuang yang bergabung dengannya. Ribuan pasukan itu terdiri dari sisa unit tentara Afghanistan dan pasukan khusus negara itu hingga kelompok milisi lokal.

Pasukan anti-Taliban ini juga dilaporkan memiliki beberapa helikopter dan kendaraan militer lapis baja peninggalan Uni Soviet. Ribuan pasukan itu dikabarkan telah berkumpul di Lembah Panjshir untuk mempersiapkan perlawanan.

Pasukan Taliban sejauh ini belum mencoba memasuki Panjshir.

(rds/bac)

Diterbitkan di Berita

sindonews.com Taliban ancam bunuh Maziar Kouhyar pemain Afghanistan pertama yang bermain sepak bola profesional di Liga Inggris .

Jika bintang Afghanistan berusia 23 tahun itu itu kembali ke tanah airnya, dia takut Taliban akan membawanya ke stadion nasional di Kabul untuk mengeksekusinya.

Mantan pemain sayap Walsall – sekarang bermain untuk Hereford – datang ke Inggris bersama orang tuanya sebagai pengungsi pada tahun 1999 ketika dia berusia dua tahun saat mereka melarikan diri dari rezim jahat.

Karim, ayahnya adalah seorang perwira militer di tentara Afghanistan sebelum dikuasai oleh Taliban.

Dia kemudian kembali bekerja sebagai pejabat politik untuk PBB, membantu mengembangkan negara dan infrastrukturnya, dan penasihat budaya untuk NATO. Dia juga mengajar pasukan Inggris bahasa Persia asli Afghanistan.

’’Ayah saya dipandang sebagai kolaborator dan setiap keluarga saya, termasuk saya, diancam akan dieksekusi. Kami memiliki kerabat yang sekarang bersembunyi,’’tuturnya.

“Taliban menentang nilai-nilai orang beradab pada tahun 2021. Bahkan jika saya mengenakan celana pendek, mereka akan mempermasalahkannya. Ayah saya ditangkap sebelum kami melarikan diri karena janggutnya tidak cukup panjang!,’’lanjutnya.

Maziar sempat berseragam Tim Nasional Afghanistan tapi mengundurkan diri sebelum menjalani laga persahabatan internasional.

’’Tiga tahun lalu saya menarik diri dari skuad Afghanistan saat pertandingan persahabatan melawan Palestina di Kabul. Terlalu berbahaya untuk mengambil risiko kembali karena Taliban selalu mengintai,’’ungkapnya.

Taliban Ancam Bunuh Maziar Kouhyar Pemain Afghanistan Pertama di Liga Inggris


Maziar tinggal di Birmingham bersama ayahnya, ibunya Latifa, 47, saudara laki-laki Afshin, 20, Sam, 9, dan saudara perempuan Lola, 16. Dan mereka khawatir tentang peristiwa di negaranya.

Karim, yang memiliki salah satu saudaranya sendiri dibunuh oleh Taliban mengatakan: ’’Lola dan Sam mendapatkan pelajaran bahasa Persia melalui Zoom dari seorang wanita di Kabul dan tadi malam Taliban mengunjungi rumah temannya.’’

’’Mereka menuntut untuk mengetahui berapa banyak perempuan di dalam dan memerintahkan dua dari mereka keluar, mengatakan bahwa mereka tidak diizinkan untuk menginap. Mereka membawa gadis-gadis itu kembali ke rumah mereka.’’

’Ini adalah sehari setelah Taliban bermaksud agar perempuan diperlakukan secara normal, tetapi sayangnya itu dalam interpretasi mereka tentang Islam.Mereka tidak akan menghormati wanita atau anak perempuan. Mereka akan mengangkat beberapa wanita ke posisi senior sampai pasukan asing keluar, lalu mereka akan kembali ke cara lama mereka.’

’’Klaim mereka tentang amnesti bagi mereka yang bekerja untuk Amerika dan Inggris juga tidak benar. Mereka akan langsung menembakku.”

Latifa adalah seorang mahasiswa apoteker tetapi ketika Taliban mengambil alih mereka menutup universitasnya dan melarang perempuan mendapatkan pendidikan. Sejak itu, di sini, di Inggris, ia mengikuti kursus dan menjadi pekerja penitipan anak.

Maziar baru dua kali ke Afghanistan – ketika ayahnya bekerja di sana – dan dia ingat: ''Anda dapat melihat kemajuan nyata sedang dibuat – mereka telah membangun rumah sakit, klinik, sekolah, jalan dan pria dan wanita dapat berkeliaran di jalanan dengan bebas dan setara.

Tiga bibiku semuanya punya pekerjaan. Sekarang itu terancam." Maziar memiliki enam caps untuk negaranya tetapi telah berada di beberapa skuat mereka.

Afganistan berada di peringkat 153 dalam peringkat FIFA dan pemain sayap itu yakin timnya "mungkin standar Liga Dua".

''Skuad itu penuh dengan pengungsi yang melarikan diri dari Taliban bersama keluarga mereka dan mereka tinggal di seluruh dunia. Bahkan pelatih kepala kami Anoush Dastgir tinggal di Belanda. Kami memainkan pertandingan kandang di tempat-tempat seperti Doha, Dubai, dan Tajikistan yang berdekatan.

''Mereka lebih suka menggunakan stadion untuk melakukan eksekusi, penyiksaan atau pemotongan tangan atau lengan remaja yang mungkin telah mencuri sepotong roti daripada mengadakan pertandingan. Taliban biasa menggantung lengan dan kaki yang terputus dari palang di dalam stadion nasional di Kabul sebagai peringatan seram bagi calon pencuri. Perempuan akan ditembak di sana karena interpretasi Taliban sebagai tidak setia."

Diterbitkan di Berita

Jakarta, Dakwah NU Setelah sebelumnya mengatakan kemenangan Taliban menguasai Afghanistan dijadikan motivasi dan membangkitkan semangat kelompok radikal di Indonesia.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj mengingatkan para pelajar Indonesia yang saat ini tengah menimba ilmu di berbagai belahan dunia. Ia berharap para pelajar tersebut hanya membawa ilmu, bukan budaya di tempat negaranya belajar.

“Saya sempat belajar ke Timur Tengah, Gus Dur juga ke Irak dan Mesir, Alwi Shihab ke Mesir. Tapi kita pulang bawa ilmu. Ilmu agama tafsir, hadis. Tapi tak bawa budaya, tak bawa cara berfikir orang Arab,” ujarnya.

“Begitu juga silakan yang kuliah di Eropa, Amerika, pulang bawa teknologi, jangan bawa budaya Eropa atau barat atau AS ke Indonesia,” sambungnya.

Kiai Said menekankan Indonesia memiliki kebudayaan tersendiri yang khas dan harus dipertahankan. Ia menegaskan budaya yang berasal dari negara lain tak akan cocok untuk Indonesia. “Dan saya yakin [budaya Indonesia] lebih baik dari budaya orang Arab dan Eropa,” ujarnya.

Sebelumnya, mantan Anggota Jemaah Islamiyah (JI) Nasir Abbas mengatakan keberhasilan Taliban menguasai Afghanistan menjadi euforia di kalangan jihadis alias pihak yang terkait kelompok teror berbasis agama.

Nasir menyebut para ‘jihadis’ merasa memiliki misi dan perjuangan yang sama, yakni mendirikan negara berdasarkan agama Islam. Nasir menyebut ada kebanggaan dari JI, Jamaah Ansharut Daulah (JAD), dan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) atas keberhasilan Taliban.

“Akibat Taliban mendapatkan kemenangan, di sini jelas terjadi euforia di kalangan para jihadis,” kata Nasir dalam webinar Kemenangan Taliban di Afghanistan dan Implikasinya yang digelar Lakpesdam PBNU, Kamis (19/8).

Taliban menguasai Afghanistan setelah menduduki ibu kota Kabul pada 16 Agustus 2021. Manuver Taliban semakin intens setelah Amerika Serikat (AS) menarik pasukan yang telah beroperasi di Afghanistan selama 20 tahun.

Sebelum menguasai Kabul, Taliban telah menguasai belasan kota lainnya di Afghanistan. (red)

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, HOLOPIS.COM – Wakil Ketua Umum DPP Partai Gelora, Fahri Hamzah mengaku sangat pesimis bahwa kelompok Taliban akan melakukan rekonsiliasi di Afghanistan. “Saya pesimis ada rekonsiliasi di Afghanistan,” kata Fahri Hamzah, Sabtu (21/8/2021).

Pun demikian, ia tetap berdoa bahwa rekonsiliasi bisa dijalankan dan Taliban menghentikan segala praktik kebiadabannya untuk merusak dan membunuh orang. Ia ingin, Afghanistan hidup dan tumbuh menjadi negara yang damai dan bersatu.

“Tentu kita berdoa agar bangsa itu bisa dipersatukan hingga tak ada lagi darah dan air mata,” ujarnya. Namun jika melihat dari pergerakan Taliban dewasa ini pasca menguasai Ibukota Afghanistan yakni Kabul, potensi konflik masih tercium.

“Tapi apakah Taliban bisa menjalankan amanah ini? Atau malah mau menang sendiri? Saya pesimis. Entahlah,” pungkasnya.

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kerena latar belakang masa lalu Taliban yang kelam dan pernah kejam terhadap perempuan, Eko Kuntadhi menilai kaum perempuan yang bela Taliban maka perlu dibawa ke psikiater.

“Jika ada lelaki Indonesia punya ibu, punya istri, punya anak perempuan, atau punya kekasih mendukung Taliban. Mereka golongan aneh,” kata Eko Kuntadhi, Sabtu 21 Agustus 2021.

“Jika ada perempuan Indonesia mendukung Taliban, mereka perlu ke psikiater...,” imbuhnya.

Sementara sebelumnya diberitakan, sebelum digempur Amerika Serikat (AS) pada 2001, rezim Taliban disorot punya perlakuan buruk terhadap hak-hak kaum perempuan. Kini, Taliban balik lagi menguasai Afghanistan. Mereka menaburkan janji-janjir manis untuk para perempuan.

Dulu, di bawah pemerintahan Taliban dari tahun 1996-2001, kaum perempuan tidak diperbolehkan keluar rumah tanpa didampingi muhrimnya, serta diharuskan mengenakan burqa yang menutup wajah hingga ujung kaki. 

Perempuan tidak diperbolehkan bekerja dan anak perempuan tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan setelah melewati usia 10 tahun.

Harapan hidup perempuan naik dari 57 menjadi 66 tahun. Angka-angkanya masih relatif buruk, tetapi sudah ada perbaikan. Namun sekarang hanya ada ketakutan bahwa angka-angka itu akan kembali turun.

15 Agustus 2021 waktu setempat, Taliban masuk Ibu Kota Kabul dan menduduki Istan Kepresidenan. Presiden Ashraf Ghani kabur ke Tajikistan dan mengakui Taliban sudah menang.

Dilansir detik.com dari AFP, Rabu (18/8), Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mengatakan rezim baru akan 'berbeda secara positif' dari masa kepemimpinan mereka pada 1996-2001, yang terkenal dengan kematian rajam dan melarang perempuan bekerja dengan laki-laki.

"Kalau soal ideologi, keyakinan, tidak ada bedanya, tapi kalau kita hitung berdasarkan pengalaman, kedewasaan, dan wawasan, pasti banyak perbedaannya," kata Mujahid.

Dia juga mengatakan Taliban berkomitmen untuk membiarkan perempuan bekerja sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Tapi dia tidak menjelaskan aturan spesifik.

Seorang juru bicara kelompok itu di Doha, Suhail Shaheen, mengatakan kepada Sky News Inggris bahwa wanita tidak diharuskan mengenakan burqa yang menutupi semua. Tapi, dia juga tidak mengatakan pakaian apa yang dapat diterima.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price mengatakan pihaknya bakal menagih janji Taliban.

"Jika Taliban mengatakan mereka akan menghormati hak-hak warganya, kami akan mencari mereka untuk menegakkan pernyataan itu dan membuat pernyataan itu baik," ucapnya.

Perempuan-perempuan Afghanistan benar-benar khawatir dengan kembalinya Thaliban di kursi kekuasaan negara tanpa laut itu. Wali Kota perempuan pertama di Afghanistan, yakni Wali Kota Maidan Shahr bernama Zarifa Ghafari merasa hidupnya tinggal menghitung hari.

"Saya duduk di sini menunggu mereka untuk datang. Tidak ada seorang pun yang datang membantu saya atau keluarga saya. Saya hanya duduk bersama keluarga saya dan suami saya. Dan mereka akan datang ke orang-orang seperti saya dan membunuh saya," tutur Zarifa Ghafari dilansir The Sun, Rabu (18/8)

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj meyakini kemenangan Taliban menguasai Afghanistan dijadikan motivasi dan membangkitkan semangat kelompok radikal di Indonesia.

"Taliban menang ini akan pasti, akan dijadikan motivasi, membangkitkan semangat di [kelompok] radikal Indonesia ini," kata Said dalam webinar 'Langkah Nyata Merajut Kebinekaan NKRI' yang disiarkan di NU Channel, Jumat (20/8) malam.

Meski demikian, Said tak merinci kelompok radikal mana yang ia maksud. Ia mengatakan kelompok radikal di Indonesia pasti memiliki klaim bahwa Tuhan telah membantu Taliban menguasai kembali Afghanistan.

"Mereka pasti bilang 'tuh liat Tuhan telah membela Taliban, sekarang bisa menang, mari kita bangkit, Tuhan akan membela kita'. Pasti akan terjadi seperti itu," ujarnya.

Said mengingatkan Indonesia sangat berbeda jauh dengan kondisi Afghanistan. Menurutnya, berbagai pihak luar negeri bahkan memuji kondisi masyarakat Indonesia.

Menurutnya, mereka memandang masyarakat Indonesia bisa hidup berdampingan satu sama lain meski berbeda suku, ras dan agama.

"Afghanistan itu hanya 7 suku, 100 persen muslim. Tapi 40 tahun kerap dilanda perang saudara. Tapi yang namanya hanya karena politik itu perang sampai 40 tahun," kata Said.

Lebih lanjut, Said pun mengingatkan para pelajar Indonesia yang saat ini tengah menimba ilmu di berbagai belahan dunia. Ia berharap para pelajar tersebut hanya membawa ilmu, bukan budaya di tempat negaranya belajar.

"Saya sempat belajar ke Timur Tengah, Gus Dur juga ke Irak dan Mesir, Alwi Shihab ke Mesir. Tapi kita pulang bawa ilmu. Ilmu agama tafsir, hadis. Tapi tak bawa budaya, tak bawa cara berfikir orang Arab," ujarnya.

"Begitu juga silakan yang kuliah di Eropa, Amerika, pulang bawa teknologi, jangan bawa budaya Eropa atau barat atau AS ke Indonesia," katanya menambahkan.

Said menekankan Indonesia memiliki kebudayaan tersendiri yang khas dan harus dipertahankan. Ia menegaskan budaya yang berasal dari negara lain tak akan cocok untuk Indonesia. "Dan saya yakin [budaya Indonesia] lebih baik dari budaya orang Arab dan Eropa," ujarnya.

Sebelumnya, mantan Anggota Jemaah Islamiyah (JI) Nasir Abbas mengatakan keberhasilan Taliban menguasai Afghanistan menjadi euforia di kalangan jihadis alias pihak yang terkait kelompok teror berbasis agama.

Nasir menyebut para 'jihadis' merasa memiliki misi dan perjuangan yang sama, yakni mendirikan negara berdasarkan agama Islam. Nasir menyebut ada kebanggaan dari JI, Jamaah Ansharut Daulah (JAD), dan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) atas keberhasilan Taliban.

"Akibat Taliban mendapatkan kemenangan, di sini jelas terjadi euforia di kalangan para jihadis," kata Nasir dalam webinar Kemenangan Taliban di Afghanistan dan Implikasinya yang digelar Lakpesdam PBNU, Kamis (19/8).
(rzr/fra)

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, KOMPAS.TV Merespons janji Taliban, akademisi Indonesia yang mengajar di Fakultas Hukum Universitas Monash, Australia, Profesor Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir menyatakan tidak ada yang bisa memutuskan bahwa kelompok Taliban sudah berubah.

Gus Nadir menjelaskan hal tersebut berdasar pada tidak adanya literatur atau kitab yang telah mereka tulis untuk dibaca, sehingga bisa dijadikan rujukan  untuk memutuskan bahwa mereka benar sudah berubah.

"Kita tidak bisa melihat bahwa taliban itu sama dengan yang dulu karena memang tidak ada literatur yang mereka tulis," kata Gus Nadir dalam program "Rosi", dikutip Jumat (20/8/2021).

Lebih lanjut, tokoh Nahdlatul Ulama ini juga menyebut bahwa Taliban adalah fighter atau pejuang, sehingga mereka tidak punya kitab tafsir atau karya yang bisa dibaca.

"Mereka itu fighter, mereka tidak punya kitab tafsir tidak punya karya-karya tulis yang bisa kita baca untuk menjustifikasi bahwa mereka sudah berubah," lanjutnya.

Diketahui sebelumnya, Juru bicara Zabihullah Mujahid pada Selasa (17/8/2021) mengatakan, janji Taliban yang pertama adalah menghormati hak-hak perempuan, sehingga boleh bekerja dan belajar.

Namun, ia menekankan, hak-hak perempuan Afghanistan dapat dilakukan dengan batas-batas syariah islam.

Tak hanya itu, kedua, Taliban juga berjanji memberi ampunan untuk semua. Artinya, Taliban akan memaafkan semua orang yang melawan mereka, termasuk pejabat pemerintah, polisi, dan angkatan bersenjata.

Ketiga, Taliban berjanji akan memastikan keamanan terhadap pemerintah dan organisasi asing, termasuk kedutaan besar, kantor, dan para pegawainya.

Keempat, Taliban berjanji Afghanistan tidak dipakai untuk melawan negara lain. Mereka berjanji akan menghormati komitmen itu, meyakinkan bahwa negara-negara lain tidak akan menghadapi ancaman.

Kelima, Taliban berjanji tidak ada lagi transaksi narkoba. Terlebih hingga kini, Afghansitan masih dikenal sebagai salah satu pusat dunia untuk produksi dan perdagangan obat-obatan terlarang seperti heroin.

Dari seluruh janji yang disebutkan banyak kalangan yang meragukan, lantaran rekam jejak Taliban di masa silam yang justru mengkhawatirkan, terutama dari sisi kemanusiaan yang telah terjadi pada kurun waktu 1996 hingga 2001.

Menurut Gus Nadir, sejauh ini yang diketahui hanyalah kisah tentang Taliban atau kisah orang-orang yang berhubungan dengan Taliban.

"Kita tidak punya literatur yang ditulis oleh orang orang taliban tentang keislaman, tentang tafsir, tentang fikih," pungkasnya.

Penulis : Nurul Fitriana | Editor : Iman Firdaus

Diterbitkan di Berita