sindonews.com KANDAHAR - Para keluarga meninggalkan rumah mereka berbondong-bondong, bom-bom pesawat menghujani lingkungan dan mayat-mayat memenuhi jalan-jalan.

Itulah pemandangan memilukan ketika Taliban melancarkan perang mereka ke kota-kota Afghanistan selama akhir pekan lalu.

Pertempuran antara gerilyawan Taliban melawan pasukan pemerintah Afghanistan memulai babak baru berdarah dalam perang panjang negara itu.

Penduduk di kota selatan Lashkar Gah mengatakan bahwa Taliban berperang dari "jalan ke jalan" dengan pasukan keamanan Afghanistan dan telah mengepung markas polisi dan kantor gubernur.

“Pesawat itu membom kota setiap menit. Setiap inci kota telah dibom,” kata Badshah Khan, seorang penduduk Lashkar Gah, Ibu Kota Provinsi Helmand, kepada AFP melalui telepon.

“Anda bisa melihat mayat-mayat di jalanan. Ada mayat orang di alun-alun," ujarnya yang dilansir Senin (2/8/2021).

Pemerintah tetap mengendalikan Lashkar Gah hingga hari ini berkat rentetan serangan udara yang terus-menerus, tetapi masa depan ibu kota provinsi itu tampaknya menggantung dari seutas benang ketika gelombang demi gelombang pemberontak memasuki kota.

Kekerasan telah meningkat di seluruh Afghanistan sejak awal Mei ketika Taliban melancarkan serangan besar-besaran di sebagian besar negara itu ketika militer AS dan sekutunya memulai penarikan terakhirnya setelah hampir 20 tahun beroperasi.

Taliban melahap distrik pedesaan dengan kecepatan tinggi, yang seringkali tanpa perlawanan dari pasukan pemerintah Afghanistan.

Tetapi militer negara itu telah berusaha keras untuk mempertahankan serangkaian wilayah Ibu Kota Provinsi Helmand yang tersebar di Afghanistan—termasuk Lashkar Gah, Kandahar, dan Herat.

Setelah jeda singkat pertempuran selama liburan Idul Adha akhir bulan lalu, Taliban telah mengalihkan perhatian mereka untuk merebut kota-kota, meluncurkan serangan mematikan di beberapa ibu kota provinsi.

Situasi Memburuk

Di Lashkar Gah, warga setempat; Hazrat Omar Shirzad, sangat marah setelah Taliban memaksanya keluar dari rumahnya untuk berlindung dari serangan udara.

“Imarah Islam membakar bumi dan republik membakar langit. Tidak ada yang peduli dengan bangsa ini,” kata Shirzad. Imarah Islam adalah sebutan untuk kelompok Taliban di Afghanistan.

Pertempuran juga dilaporkan terjadi di Herat dekat perbatasan dengan Iran selama tiga hari berturut-turut, di mana gerilyawan Taliban mengerumuni pinggiran ibu kota.

“Semakin hari situasi keamanan semakin buruk,” kata Agha Reza, seorang pengusaha di Herat. “Ada kemungkinan 90 persen kota Herat akan runtuh ke tangan Taliban,” ujarnya, dengan menambahkan bahwa kota itu kekurangan pasokan listrik dan jalan-jalan utama diblokir karena bentrokan.

Seorang guru sekolah di Herat dengan syarat anonim mengatakan kepada AFP bahwa hanya beberapa sekolah yang buka di kota karena anak-anak lebih suka tinggal di dalam rumah.

"Tadi malam kami mendengar banyak pesawat terbang di atas kota... Hari ini, saya pergi ke sekolah dan hanya anak laki-laki yang berani datang," katanya.

Para pejuang dengan panglima perang veteran Ismail Khan yang milisinya membantu pasukan asing pimpinan AS menggulingkan rezim Taliban pada tahun 2001 telah berkumpul untuk menyelamatkan kota, berbaris bahu-membahu dengan pasukan keamanan Afghanistan di jalan-jalan menuju ke garis depan.

Dan di Kandahar, pertempuran berhari-hari telah membuat ribuan orang yang memadati pusat kota mengungsi untuk menghindari baku tembak di pinggir ibu kota provinsi.

Warga Kandahar, Khalid Hewadmal, mengatakan Taliban memaksa warga keluar dari rumah mereka saat mereka bergerak lebih dekat ke kota.

“Pada hari Jumat mereka telah memperingatkan warga untuk meninggalkan rumah mereka,” kata Hewadmal.

Kandahar adalah tempat kelahiran gerakan Taliban dan jatuhnya kota itu akan memberikan pukulan besar bagi pemerintah, yang secara efektif membelah negara itu menjadi dua sebelum musim dingin, ketika merebut kembali wilayah itu sangat sulit.

Pemerintah telah berulang kali menolak klaim kemenangan Taliban, tetapi sebagian besar pasukan pemerintah gagal membalikkan momentum mereka di medan perang.

(min)

Diterbitkan di Berita

sindonews.com KANDAHAR - Nazar Mohammad alias Khasha Zwan adalah komedian populer di Afghanistan . Pada Kamis malam pekan lalu, dia diseret dari rumahnya di Kandahar oleh orang-orang bersenjata dan kemudian disandarkan di bawah pohon lalu digorok lehernya.

Keluarga korban, yang dikutip media lokal TOLO News, menuduh para pelakunya adalah kelompok Taliban . Namun, kelompok yang sedang berperang dengan pasukan pemerintah itu membantah terlibat dalam pembunuhan sang komedian.

Menurut kantor berita ANI, komedian itu sebelumnya bertugas di Kepolisian Kandahar.

Kandahar, tempat Nazar Mohammad, telah menjadi medan pertempuran yang berkecamuk antara pasukan pemerintah dan Taliban. Perang telah meluas ke berbagai wilayah di negara itu seiring dengan penarikan tentara Amerika Serikat (AS) dan sekutu NATO-nya.

Menurut perkiraan pejabat lokal, sekitar 100 orang telah tewas dalam dua minggu terakhir di Kandahar. Selain itu, sekitar 300 orang lainnya hilang.

Taliban sendiri telah merebut wilayah teritorial besar selama beberapa minggu terakhir sebelum tentara AS benar-benar hengkang pada 31 Agustus. Menurut laporan media lokal, para milisi Taliban pergi dari rumah ke rumah di Kandahar mencari pegawai pemerintah.

Provinsi Kandahar secara tradisional menjadi kubu Taliban dan pertempuran di sana telah berlangsung sengit dalam beberapa pekan terakhir dengan gerilyawan merebut perbatasan utama dengan Pakistan di selatan, di Spin Boldak.

Wartawan Reuters Danish Siddiqui tewas di daerah itu beberapa waktu lalu saat meliput bentrokan antara pasukan keamanan Afghanistan dan milisi Taliban.

Banyak keluarga telah meninggalkan rumah mereka dalam jumlah besar dan melarikan diri ke utara menuju Kabul, atau mencari perlindungan di kamp-kamp pengungsi.

Sebelumnya, CNN telah melaporkan bahwa Taliban memenggal Sohail Pardis, seorang warga Afghanistan yang bekerja sebagai penerjemah untuk Angkatan Darat AS. Namun, lagi-lagi Taliban membantah telah memenggal Pardis.

Negara yang dilanda perang itu mengalami peningkatan 47% dalam jumlah semua warga sipil yang tewas dan terluka dalam kekerasan pada paruh pertama tahun 2021, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

"Saya memohon kepada para pemimpin Taliban dan Afghanistan untuk memperhatikan lintasan konflik yang suram dan mengerikan serta dampaknya yang menghancurkan terhadap warga sipil," kata Deborah Lyons, perwakilan khusus Sekjen PBB untuk Afghanistan seperti dikutip The Mirror, Selasa (27/7/2021).

Ketika pasukan asing menarik diri dari Afghanistan, Taliban mengumumkan pada hari Kamis pekan lalu bahwa mereka menguasai 90 persen perbatasan negara itu.

"Perbatasan Afghanistan dengan Tajikistan, Uzbekistan, Turkmenistan, dan Iran, atau sekitar 90 persen dari perbatasan, berada di bawah kendali kami," kata juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid kepada kantor berita pemerintah RIA Novosti.

Namun, Kementerian Pertahanan Afghanistan menggambarkan klaim Taliban sebagai "kebohongan mutlak".

Menegaskan bahwa pasukan pemerintah mengendalikan perbatasan Afghanistan dan semua "kota utama dan jalan raya", wakil juru bicara Kementerian Pertahanan Fawad Aman mengatakan kepada AFP: "Ini adalah propaganda tak berdasar."

Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri Afghanistan mengatakan Taliban membunuh sekitar 100 warga sipil pekan lalu di Spin Boldak dekat perbatasan Pakistan.

"Pasukan keamanan Afghanistan akan segera membalas dendam pada teroris liar ini," kata juru bicara Kementerian Dalam Negeri Mirwais Stanekzai di Twitter.
(min)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat akan terus melancarkan gempuran udara untuk membantu pasukan Afghanistan melawan Taliban, demikian menurut seorang petinggi militer AS.

Taliban meningkatkan serbuan dalam beberapa pekan ke belakang dan menguasai perbatasan serta beberapa wilayah pedesaan, setelah presiden AS Joe Biden pada April lalu mengatakan pasukannya akan ditarik pada September nanti.

"Amerika Serikat telah meningkatkan serangan udara untuk mendukung pasukan Afghanistan dalam beberapa hari terakhir, dan kami bersiap untuk terus meningkatkan serangan ini dalam beberapa pekan ke depan jika Taliban juga meningkatkan kekuatan," demikian ujar Jenderal Militer Kenneth McKenzie dalam konferensi pers di Kabul.

McKenzie yang memimpin Pusat Komando AS, badan yang mengendalikan pasukan AS di wilayah Afghanistan, tidak menyatakan soal sikap AS setelah operasi militer mereka di Afghanistan berakhir 31 Agustus nanti.

"Pemerintah Afghanistan menghadapi ujian yang besar dalam beberapa hari ke depan... Taliban tengah berupaya menciptakan nuansa bahwa serangan mereka tidak terhindarkan," kata McKenzie

Namun, menurutnya, kemenangan Taliban bukan suatu hal yang tidak terhindarkan dan masih ada kemungkinan penyelesaian politik.

Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintah Afghanistan dan negosiator Taliban telah bertemu di Doha, Qatar, meski para diplomat mengatakan belum ada kemajuan yang berarti sejak pertemuan perjanjian damai dimulai September tahun lalu.

Saat ini pasukan Afghanistan tengah merancang ulang strategi perang mereka melawan Taliban dengan berkonsentrasi di wilayah-wilayah kritis seperti Kabul, wilayah perbatasan, dan juga infrastruktur penting.

McKenzie mengatakan kekerasan akan meningkat usai masyarakat menjalani libur IdulAdha pekan lalu, dan Taliban bisa menargetkan wilayah perkotaan yang padat penduduk.

"Jika mereka ingin meraih kekuasaan, mereka harus berhadapan dengan wilayah perkotaan," katanya.

"Namun, bukan kesimpulan yang tepat jika mengatakan bahwa mereka bisa mengambil alih wilayah urban tersebut."

(Reuters/vws)

Diterbitkan di Berita

sindonews.com CANBERRA - Kedutaan Besar Afghanistan di Australia telah merilis serangkaian video yang menunjukkan kekejaman mengerikan yang dilakukan oleh Taliban .

Salah satu video tersebut adalah pemenggalan terhadap warga sipil, yang menurut pemerintah adalah pegawai negeri. Serangkaian video kebrutalan itu dirilis ketika kelompok Taliban mengintensifkan serangannya untuk menguasai negara tersebut.

Kedutaan mengatakan telah mengumpulkan rekaman dari beberapa bagian Afghanistan, yang baru-baru ini jatuh kembali di bawah kendali Taliban ketika pasukan Barat menarik diri dari negara yang dilanda konflik tersebut

Video yang sangat menyedihkan menunjukkan para warga sipil dipukuli, disiksa dan dibunuh. Dua klip terpisah menunjukkan warga sipil Afghanistan—yang menurut kedutaan adalah pegawai negeri yang bekerja untuk pemerintah Afghanistan—dipenggal oleh Taliban.

Satu video menunjukkan tentara Afghanistan menyerah dan kemudian ditembak dan dibunuh oleh orang-orang yang tampaknya adalah gerilyawan Taliban.

Video lain menunjukkan seorang pria—diduga seorang warga sipil—menjadi sasaran penyiksaan brutal di lapangan umum, sementara video kelima menunjukkan seorang wanita dicambuk oleh tentara Taliban karena melanggar hukum "kesopanan".

Kedutaan juga menyediakan foto-foto jenazah tiga orang yang diidentifikasi sebagai pegawai negeri sipil Afghanistan.

"Video-video ini menunjukkan kekerasan ekstrem, kekejaman yang memilukan, dan kejahatan perang mengerikan yang dilakukan oleh Taliban di daerah-daerah yang baru saja mereka masuki," kata kedutaan dalam sebuah pernyataan seperti dikutip ABC.net.au, Sabtu (17/7/2021).

Kedutaan mengatakan serangkaian video dan foto tersebut membuktikan bahwa Taliban tetap terikat pada "interpretasi menyimpang dari Syariah Islam".

"Perilaku Taliban dengan jelas menunjukkan visi dan ambisi mereka untuk kembalinya Emirat tanpa perbedaan apa pun dari tahun 90-an. Hak asasi manusia tidak menjadi masalah bagi mereka," katanya.

Rodger Shanahan, pakar dari Lowy Institute, mengatakan bahwa Kedutaan Besar Afghanistan di Canberra bermaksud merusak upaya Taliban untuk menampilkan dirinya sebagai entitas politik yang lebih modern dan bertanggung jawab.

"Pemerintah Afghanistan mencoba untuk menegaskan bahwa Taliban 2.0 sama dengan Taliban 1.0," katanya.

“Mereka ingin melawan pesan Taliban. Salah satu hal yang diinginkan Taliban adalah legitimasi, dan Taliban mengedepankan garis bahwa mereka tidak sama seperti sebelumnya, bahwa mereka telah berubah. Pemerintah Afghanistan sedang mencoba untuk mendapatkan dukungan diplomatik, dan memastikan bahwa pemerintah daerah yang merasa nyaman dengan Taliban yang mengambil alih kekuasaan, atau yang secara longgar mengikatkan diri dengan Taliban, juga terikat dengan kekejaman ini," imbuh dia.

Shanahan mengatakan bahwa belum jelas apakah misi diplomatik Afghanistan di negara lain mengambil langkah serupa.

"Apa yang menarik untuk dilihat adalah apakah ini adalah bagian dari kampanye yang lebih luas oleh pemerintah Afghanistan—apakah upaya ini telah diarahkan dari Kabul untuk mencoba dan memulai kampanye informasi bersama di seluruh dunia," katanya.

Diterbitkan di Berita
sindonews.com SPIN BOLDAK - Danish Siddiqui, jurnalis Reuters peraih Pulitzer, tewas pada hari Jumat ketika meliputperang sengit antara pasukan khusus Afghanistan dan gerilyawan Taliban . Petempuran pecah di dekat perbatasan dengan Pakistan.
Pejabat Afghanistan mengatakan pasukan khusus sedang berjuang untuk merebut kembali area pasar utama Spin Boldak ketika Siddiqui dan seorang perwira senior Afghanistan tewas dalam apa yang mereka sebut sebagai baku tembak dengan Taliban.

Siddiqui telah ditempatkan sejak awal pekan ini dengan pasukan khusus Afghanistan yang berbasis di provinsi selatan Kandahar dan telah melaporkan pertempuran antara pasukan khusus yang juga dikenal sebagai pasukan komando Afghanistan dan gerilyawan Taliban.
"Kami segera mencari lebih banyak informasi, bekerja dengan pihak berwenang di kawasan itu," kata Presiden Reuters Michael Friedenberg dan Pemimpin Redaksi Alessandra Galloni dalam sebuah pernyataan yang dilansir Sabtu (17/7/2021).

“Danish adalah jurnalis yang luar biasa, suami dan ayah yang setia, dan kolega yang sangat dicintai. Pikiran kami bersama keluarganya pada saat yang mengerikan ini," lanjut pernyataan mereka.
Presiden Afghanistan Ashraf Ghani mengatakan dalam sebuah pernyataan di Twitter bahwa dia sangat sedih dengan laporan mengejutkan tentang kematian Siddiqui dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarganya.

Siddiqui mengatakan kepada Reuters bahwa dia telah terluka di lengan oleh pecahan peluru sebelumnya pada hari Jumat saat melaporkan bentrokan tersebut. Dia dirawat dan gerilyawan Taliban kemudian mundur dari pertempuran di Spin Boldak.
Seorang komandan pasukan Afghanistan mengatakan Siddiqui telah berbicara dengan penjaga toko ketika kelompok Taliban menyerang lagi.

Reuters tidak dapat memverifikasi secara independen rincian pertempuran baru yang dijelaskan oleh pejabat militer Afghanistan, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya tersebut sebelum Kementerian Pertahanan Afghanistan membuat pernyataan.
Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan bahwa Taliban tidak mengetahui adanya wartawan yang melaporkan dari lokasi yang dia gambarkan sebagai "pertempuran sengit" dan tidak jelas bagaimana Siddiqui terbunuh.

Siddiqui adalah bagian dari tim fotografi Reuters yang memenangkan Penghargaan Pulitzer 2018 untuk Fotografi Feature karena mendokumentasikan krisis pengungsi Rohingya. Serangkaian karyanya digambarkan oleh komite juri sebagai foto-foto mengejutkan yang memaparkan dunia pada kekerasan yang dihadapi pengungsi Rohingya saat melarikan diri dari Myanmar.

Sebagai seorang fotografer Reuters sejak 2010, pekerjaan Siddiqui mencakup perang di Afghanistan dan Irak, krisis pengungsi Rohingya, protes Hong Kong dan gempa Nepal. Dalam beberapa bulan terakhir, foto-fotonya yang berapi-api menangkap pandemi virus corona di India telah diterbitkan di seluruh dunia.

Sementara itu, kelompok Taliban telah merebut daerah perbatasan pada hari Rabu, penyeberangan terbesar kedua di perbatasan dengan Pakistan dan salah satu tujuan terpenting yang telah mereka capai selama kemajuan pesat di seluruh negeri ketika pasukan Amerika Serikat (AS) menarik diri setelah 20 tahun konflik.
 
Data PBB tahun ini mengatakan 30 jurnalis tewas di Afghanistan antara 2018 hingga 2021. Sepuluh wartawan tewas pada 30 April 2018, termasuk sembilan wartawan dan fotografer yang tewas dalam serangan bom bunuh diri di Kabul, dan seorang wartawan yang bekerja untuk layanan BBC Afghanistan yang ditembak di kota timur Khost.
(min)
 
 
Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Taliban hari Selasa (13/7) memperingatkan bahwa jika Turki memperluas kehadiran militernya di Afghanistan, kelompok Islamis itu akan menganggap pasukan Turki sebagai “penjajah” dan akan mengobarkan “jihad” terhadap mereka.

Peringatan itu disampaikan di tengah adanya gerakan medan tempur baru yang menurut para kritikus menunjukkan bahwa Taliban sedang merencanakan pengambilalihan secara militer atas Afghanistan, yang merupakan pengingkaran janji perdamaian yang telah mereka sepakati, dan meningkatkan prospek terjadinya perang saudara besar-besaran.

Amerika Serikat telah meminta Turki untuk mengamankan bandara Kabul setelah semua pasukan Amerika dan NATO ditarik dari negara itu pada akhir bulan depan.

Turki Ingin Berperan di Afghanistan Setelah Penarikan Pasukan AS

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada hari Jumat (9/7) tanpa merinci bahwa dia telah setuju dengan Washington mengenai “ruang lingkup” terkait bagaimana mengamankan dan mengelola bandara itu.

Taliban mengutuk kesepakatan itu sebagai “tercela” dan menuntut Turki meninjau kembali keputusannya.

“Kami menganggap tetap hadirnya pasukan asing di tanah air kami oleh negara mana pun dengan dalih apa pun sebagai pendudukan. Perpanjangan pendudukan akan membangkitkan emosi kebencian dan permusuhan di dalam negara kami terhadap para pejabat Turki dan akan merusak hubungan bilateral.” Demikian bunyi pernyataan Taliban.

Keamanan dan kelancaran operasi bandara internasional Hamid Karzai di ibukota Afghanistan sangat penting untuk menjaga misi-misi diplomatik dan organisasi-organisasi asing yang beroperasi di Kabul, di mana ledakan bom Selasa (13/7) menewaskan sedikitnya empat orang.

Ratusan tentara Amerika diperkirakan akan tinggal di ibu kota Afghanistan itu untuk menjaga kompleks kedutaan besar AS di sana.

Pasukan Taliban secara dramatis memperluas kontrol teritorial mereka di Afghanistan dengan menguasai sejumlah distrik tanpa perlawanan sejak pasukan AS secara resmi mulai menarik diri dari negara itu pada awal Mei. [lt/jm]

Diterbitkan di Berita

Para pejabat senior militer dan intelijen Pakistan mengatakan kepada mereka kehilangan pengaruh atas Taliban dan membangun pertahanan perbatasan karena cemas akan meningkatnya kekerasan di negara tetangga Afghanistan setelah penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) di sana.

Hal itu dikemukakan kepada para anggota Parlemen dalam rapat tertutup yang berlangsung selama delapan jam, Kamis (1/7).

Direktur Jenderal Intelijen Antar-Layanan, Letnan Jenderal Faiz Hameed memberi pengarahan dengan panglima militer Jenderal Qamar Javed Bajwa yang siap menjawab pertanyaan.

Menurut pernyataan dari Kementerian Informasi Pakistan dan sumber-sumber VOA di dalam pertemuan itu, para pejabat itu mengatakan kepada komite parlemen bahwa Pakistan berupaya membujuk Taliban untuk merundingkan penyelesaian konflik, tetapi pengaruh negara itu berkurang.

Mereka juga mengatakan, Pakistan memagari 90 persen perbatasannya dengan Afghanistan untuk melindungi dari peningkatan kekerasan setelah pasukan AS dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty Organization/NATO) meninggalkan Afganistan.

Pakistan memperkirakan jutaan pengungsi Afghanistan akan tiba di perbatasannya jika kekerasan di Afghanistan meningkat atau situasi memburuk menjadi perang saudara. Negara ini telah menampung hampir 3 juta pengungsi, beberapa di antaranya telah tinggal Pakistan sejak 1980-an ketika Uni Soviet menduduki Afghanistan. [ps/jm]

Diterbitkan di Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Para pejuang Taliban kembali merebut puluhan distrik di Afghanistan setelah mereka meningkatkan serangan pada saat proses penarikan terakhir oleh pasukan asing berlangsung, menurut laporan dari PBB.

Para gerilyawan merebut lebih dari 50 dari 370 distrik sejak Mei, kata utusan khusus PBB Deborah Lyons kepada Dewan Keamanan PBB dengan memperingatkan skenario mengerikan.

Dia mengatakan peningkatan konflik berarti peningkatan ketidakamanan bagi banyak negara lain. Sementara itu, AS dan NATO masih menargetkan penarikan pasukan sepenuhnya pada 11 September.

Juru bicara Pentagon John Kirby mengatakan situasinya 'tetap dinamis' meskipun Taliban diuntungkan.

Baca Juga : Penarikan Pasukan AS Dimulai dari Afghanistan, Taliban Jadi Ancaman

Hanya saja hal itu tidak mengubah penarikan pasukan AS dan masih ada fleksibilitas bagi AS untuk bertindak.

Kemajuan kelompok Islam garis keras baru-baru ini adalah hasil dari "serangan militer yang intensif", kata Lyons kepada 15 anggota Dewan Keamanan PBB di New York seperti dikutip CNN.com, Rabu (23/6/2021).

"Distrik-distrik yang telah diambil itu mengelilingi ibu kota provinsi yang menunjukkan bahwa Taliban memposisikan diri mereka untuk mencoba mengambil ibu kota ini begitu pasukan asing ditarik sepenuhnya," katanya.

Taliban juga merebut perbatasan utama Afghanistan dengan Tajikistan pada Selasa, kata para pejabat. Persimpangan itu berada di provinsi utara Kunduz, tempat pertempuran meningkat dalam beberapa hari terakhir.

Baca Juga : Joe Biden Masih Ragu Tarik Pasukan AS dari Afghanistan

Pejuang Taliban mengatakan mereka memiliki kendali atas seluruh provinsi dan tinggal ibu kota provinsi dan Kunduz yang dipertahankan oleh pemerintah.

Namun, kementerian pertahanan di Kabul mengatakan pasukan Afghanistan telah merebut kembali beberapa distrik dan operasi sedang berlangsung.

Kota Kunduz berada di posisi strategis dan sempat jatuh ke tangan pemberontak pada 2015 dan setahun kemudian direbut kembali oleh pasukan pemerintah yang didukung NATO.

Media lokal melaporkan bahwa Taliban juga telah menyita sejumlah besar peralatan militer, dan membunuh serta melukai atau menangkap puluhan tentara.

Author: John Andhi Oktaveri
Editor : Oktaviano DB Hana

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Sebanyak 12 orang tewas akibat ledakan bom di masjid di ibu kota Afghanistan, Kabul. Insiden berdarah tersebut terjadi saat Salat Jumat. Jubir Kepolisian Kabul, Ferdous Faramarz, mengatakan imam masjid menjadi salah satu korban jiwa. Selain itu, terdapat pula 15 orang korban luka.
 
Meski demikian Ferdous tidak mengungkap di masjid mana ledakan tersebut terjadi, demikian dikutip dari Reuters. Sampai saat ini masih belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab.
 
Teroris Taliban, yang biasanya menjadi otak serangan di Afghanistan, kini tengah melakukan gencatan senjata untuk menghormati Idul Fitri.
 
Ledakan di Kabul terjadi sepekan usai ledakan besar di sebuah sekolah. Kejadian berdarah itu mengakibatkan 80 orang lebih tewas.
 
Kekerasan di Afghanistan makin meningkat seiring rencana AS menarik seluruh pasukannya dari negara itu. Rencananya, semua tentara AS akan angkat kaki sebelum 11 September 2021.
Diterbitkan di Berita

Seorang pejabat senior keamanan mengatakan kepada Reuters tanpa menyebut nama bahwa sebagian besar korban adalah siswa yang keluar dari sekolah Sayed ul Shuhada, dan banyak yang terluka parah di rumah sakit.

Rekaman di saluran TV ToloNews menunjukkan adegan kacau, dengan buku dan tas sekolah berserakan di jalan berlumuran darah, dan warga bergegas membantu para korban.

"Itu adalah ledakan bom mobil yang terjadi di depan pintu masuk sekolah," kata seorang saksi mata seperti dikutip dari Reuters, Minggu (9/5/2021), yang meminta tidak disebutkan namanya. Dia mengatakan semua kecuali tujuh atau delapan korban adalah siswi yang akan pulang setelah menyelesaikan studi mereka.

Di sekolah menengah Sayed ul Shuhada, anak perempuan dan laki-laki belajar dalam tiga shift, yang kedua untuk siswa perempuan, Najiba Arian, juru bicara Kementerian Pendidikan, mengatakan kepada Reuters. Yang terluka kebanyakan adalah para siswi, katanya.

Juru bicara kementerian dalam negeri, Tariq Arian, mengatakan korban tewas sedikitnya 30 orang dengan 52 luka-luka.

Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan hari Sabtu itu. Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid membantah kelompoknya terlibat dan mengutuk insiden itu.

Meskipun Ghani menyalahkan Taliban, ledakan hari Sabtu terjadi di lingkungan Muslim Syiah yang telah menghadapi serangan brutal oleh militan ISIS selama bertahun-tahun, termasuk ledakan di bangsal bersalin hampir persis setahun yang lalu.

Diterbitkan di Berita