Harakatuna.com. Quetta – Sebuah bom Taliban berkekuatan besar meledak di area parkir sebuah hotel mewah di kota Quetta, Pakistan Rabu 21 April. Polisi menyebutkan ledakan bom itu menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai sedikitnya sembilan lainnya.

Pasukan keamanan bergegas ke hotel Serena dan tidak ada yang mereka izinkan mendekati lokasi ledakan. Polisi mengatakan tim penyelamat membawa korban ke rumah sakit terdekat. Rekaman di saluran berita Pakistan menunjukkan mobil yang terbakar.

Beberapa jam setelah serangan itu, Taliban Pakistan dalam sebuah pernyataan mengaku bertanggung jawab, mengatakan itu adalah serangan bunuh diri. Taliban Pakistan, atau Tehreek-e-Taliban Pakistan, adalah kelompok pemberontak terpisah dari Taliban Afghanistan.

“Petugas berusaha untuk menentukan apakah bom itu ditanam di kendaraan yang diparkir di tempat parkir hotel,” ujar pejabat senior polisi Azhar Akram, seperti dikutip AFP, Kamis 22 April 2021.

Dia tidak memberikan rincian lebih lanjut, mengatakan polisi masih melakukan menyelidiki.

Pejabat keamanan lainnya mengatakan bom itu meledak beberapa menit setelah sebuah mobil memasuki tempat parkir. Pihak berwenang sedang menyelidiki untuk menentukan apakah itu serangan bunuh diri.

Wasim Beg, juru bicara departemen kesehatan provinsi mengatakan, empat orang tewas dan 12 luka-luka dalam pemboman itu.

Tidak jelas siapa yang berada di balik serangan itu. Provinsi Baluchistan barat daya adalah tempat pemberontakan berkepanjangan oleh kelompok-kelompok separatis seperti Front Pembebasan Baluchistan dan Tentara Pembebasan Baluchistan.

Mereka telah selama beberapa dekade melancarkan serangan untuk menekan tuntutan kemerdekaan mereka. Kelompok Taliban dan Negara Islam Pakistan juga memiliki kehadiran di sana.

Menteri Dalam Negeri Pakistan Sheikh Rashid Ahmed langsung menyalahkan negara tetangga India atas pemboman hotel tersebut, meskipun dia tidak memberikan bukti untuk mendukung tuduhan tersebut.

Dia mengatakan kepada saluran berita Geo Pakistan bahwa Pakistan hanya memiliki satu musuh dan itu adalah negara tetangga India, yang dia duga berada di balik pengeboman tersebut.

Konflik Taliban Berujung Pengaboman

Ahmed mengatakan mereka telah menerima informasi intelijen tentang kemungkinan serangan di ibu kota, Islamabad dan tempat lain dan informasinya telah dibagikan dengan otoritas terkait untuk meningkatkan keamanan.

Liaquat Shahwani, juru bicara pemerintah provinsi, menyebut serangan itu sebagai tindakan terorisme. “Teroris ingin mengganggu perdamaian di Baluchistan.

Mereka yang tidak ingin melihat kemajuan dan kemakmuran di provinsi Baluchistan bertanggung jawab atas tindakan terorisme ini,” ujar Shahwani.

Jam Kamal Khan, Menteri Kepala di Baluchistan, segera mengutuk pengeboman tersebut. Menteri Informasi Pakistan Fawad Chaudhry mengatakan pihak berwenang sedang menyelidiki dan pernyataan akan dikeluarkan kemudian.

Menteri Dalam Negeri Baluchistan Ziaullah Langove mengatakan, Duta Besar Tiongkok Nong Rong menginap di hotel pada saat pengeboman itu, tetapi tidak jelas apa motif di balik serangan itu.

Dia mengatakan tidak ada tamu yang terluka tetapi seorang petugas polisi termasuk di antara empat orang yang tewas dalam serangan itu.

Hotel ini sering dikunjungi oleh orang asing karena merupakan satu-satunya hotel mewah di kota itu dan dianggap aman.

Arbab Kamran Kasi, seorang dokter di rumah sakit utama Quetta mengatakan pulihan korban luka dibawa dan mereka menyatakan keadaan darurat di rumah sakit untuk menangani para korban.

Pengeboman di Quetta terjadi beberapa jam setelah Pakistan dan tetangganya Iran membuka titik perlintasan perbatasan baru di Baluchistan untuk meningkatkan hubungan perdagangan dan ekonomi. Baluchistan berbagi perbatasan dengan Iran dan Afghanistan.

Perang Melawan Teror

Taliban Pakistan telah menargetkan militer dan warga sipil di seluruh negeri sejak 2001, ketika negara Islam ini bergabung dengan perang melawan teror pimpinan AS menyusul serangan 11 September di Amerika Serikat.

Sejak itu, pemberontak telah menyatakan perang terhadap pemerintah Pakistan dan melakukan banyak serangan. Kelompok militan Pakistan sering kali terkait dengan mereka yang melintasi perbatasan di Afghanistan.

Pakistan hampir menyelesaikan pagar di sepanjang perbatasan dengan Afghanistan. Menurut Islamabad mereka perlukan untuk mencegah serangan militan dari kedua belah pihak.

Pakistan dan tetangganya Afghanistan sering menuduh satu sama lain menutup mata terhadap militan yang beroperasi di sepanjang perbatasan yang keropos.

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Perjalanan ke wilayah Afghanistan yang dikuasai Taliban tidak lama. Setelah sekitar 30 menit dari kota Mazari Sharif di utara, melintasi kawah-kawah besar bekas bom di pinggir jalan, kami bertemu dengan tuan rumah: Haji Hikmat, wali kota bayangan Taliban di distrik Balkh.

Mengenakan wewangian dan turban hitam, dia adalah anggota veteran kelompok militan tersebut, bergabung pada tahun 1990-an ketika mereka menguasai mayoritas Afghanistan.

Taliban telah menyiapkan unjuk kekuatan untuk kami. Pria-pria bersenjata berat berbaris di kedua sisi jalan, salah satu dari mereka membawa pelontar granat berpeluncur roket, lainnya membawa senapan serbu M4 yang dirampas dari tentara AS. Balkh pernah menjadi salah satu daerah paling stabil di Afghanistan; sekarang, ia termasuk yang paling bergejolak.

Baryalai, seorang komandan militer lokal dengan reputasi bengis, menunjukkan jalan, "pasukan pemerintah ada di dekat pasar utama, tetapi mereka tidak bisa meninggalkan pangkalan mereka. Wilayah ini milik mujahidin".

Gambaran serupa ditemukan di sebagian besar Afghanistan: pemerintah mengontrol kota-kota, namun Taliban mengelilingi mereka, dengan kehadiran di sebagian besar pedesaan.

Kelompok militan itu menegaskan otoritas mereka melalui pos pengecekan yang terletak sporadis di jalan-jalan utama. Ketika anggota Taliban menghentikan dan menanyai mobil-mobil yang lewat, Aamir Sahib Ajmal, kepala dinas intelijen setempat, berkata kepada kami bahwa mereka sedang mencari orang-orang yang punya hubungan dengan pemerintah.

"Kami akan menangkap mereka, dan menawan mereka," ujarnya. "Kemudian kami menyerahkan mereka ke pengadilan kami dan mereka memutuskan apa yang terjadi selanjutnya."

Taliban percaya kemenangan adalah milik mereka. Duduk ditemani secangkir teh hijau, Haji Hekmat menyatakan, "kami telah menang perang dan Amerika telah kalah". Keputusan Presiden AS Joe Biden untuk menunda penarikan sisa tentara AS sampai September, yang berarti mereka akan tetap berada di negara itu setelah tenggat 1 Mei yang disepakati tahun lalu, telah memantik reaksi keras dari kepemimpinan politik Taliban. Meskipun demikian, momentum tampaknya ada di tangan para militan.

"Kami siap untuk apapun," kata Haji Hekmat. "Kami sepenuhnya siap untuk damai, dan kami sepenuhnya siap untuk jihad." Seorang komandan militer yang duduk di sampingnya menambahkan: "Jihad adalah ibadah. Ibadah adalah sesuatu yang, seberapa banyakpun Anda melakukannya, Anda tidak merasa lelah."

 

Haji Hekmat mengenakan turban hitam, Taliban, AS, Afghanistan
 

Haji Hekmat, wali kota bayangan Taliban di distrik Balkh, bergabung dengan kelompok itu pada tahun 1990-an.

 

Dalam setahun ke belakang, tampaknya ada kontradiksi dalam "jihad" Taliban. Mereka berhenti menyerang pasukan internasional menyusul penandatanganan kesepakatan dengan AS, namun terus bertempur dengan pemerintah Afghanistan.

Akan tetapi, Haji Hikmat bersikeras bahwa tidak ada kontradiksi. "Kami menginginkan pemerintahan Islam yang diatur dengan Syariah. Kami akan melanjutkan jihad kami sampai mereka menerima tuntutan kami."

Soal apakah Taliban akan bersedia membagi kekuasaan dengan faksi politik lain di Afghanistan, Haji Hikmat menyerahkannya pada kepemimpinan politik kelompok itu di Qatar. "Apapun yang mereka putuskan, kami akan terima," katanya berkali-kali.

Taliban tidak menganggap diri mereka sebagai kelompok pemberontak biasa, tetapi calon pemerintah. Mereka menyebut diri mereka "Emirat Islam Afghanistan", nama yang mereka gunakan saat berkuasa dari tahun 1996 sampai digulingkan, menyusul serangan teror 11 September 2001 di Amerika Serikat.

Sekarang, mereka memiliki struktur "bayangan" yang rumit, dengan beberapa pajabat bertanggung jawab mengawasi layanan sehari-hari di wilayah yang mereka kuasai. Haji Hikmat, sang walikota Taliban, mengajak kami berkeliling.

Kami dibawa ke sebuah sekolah dasar, penuh dengan anak laki-laki dan perempuan menulis di buku teks yang disumbangkan oleh PBB. Saat berkuasa pada 1990-an, Taliban melarang perempuan mendapat pendidikan, meskipun mereka sering membantahnya. Bahkan sekarang, ada laporan bahwa di wilayah lain perempuan yang berusia lebih tua tidak diizinkan masuk kelas. Akan tetapi di sini setidaknya Taliban berkata mereka aktif mendorongnya.

"Selama mereka mengenakan hijab, penting bagi mereka untuk belajar," kata Mawlawi Salahuddin, yang bertanggung jawab atas komisi pendidikan setempat Taliban. Di sekolah menengah, katanya, hanya guru perempuan yang diizinkan, dan mereka wajib mengenakan kerudung. "Jika mereka mengikuti Syariah, tidak masalah."

 

Anak-anak perempuan dalam kelas di wilayah yang dikuasai Taliban, AS, Afghanistan
 

Beberapa pihak takut anak-anak perempuan tidak akan mendapat akses ke pendidikan jika Taliban berkuasa lagi.

 

Sumber BBC mengatakan Taliban menghapus mata pelajaran seni dan kewarganegaraan dari kurikulum, mengganti mereka dengan mata pelajaran Islam, namun sisanya mengikuti silabus nasional.

Jadi apakah Taliban menyekolahkan putri-putri mereka sendiri? "Putri saya masih sangat muda, tapi setelah dia besar, saya akan mengirimnya ke sekolah dan madrasah, selama mereka mewajibkan hijab dan Syariah," kata Salahuddin.

Pemerintah membayar gaji pegawai sekolah, namun Taliban yang berkuasa. Ini sistem hibrida yang diterapkan di seluruh negeri.

Di klinik kesehatan setempat, yang dijalankan oleh organisasi bantuan, ceritanya sama. Taliban mengizinkan pegawai perempuan untuk bekerja, tapi mereka harus didampingi pria saat malam hari, dan pasien laki-laki dan perempuan dipisah. Kontrasepsi dan informasi tentang keluarga berencana selalu siap sedia.

Taliban jelas-jelas ingin kami melihat mereka dengan lebih positif. Ketika kendaraan kami melintasi kerumunan murid perempuan yang berjalan pulang dari sekolah, Haji Hikmat melambai dengan semangat, bangga karena telah menyangkal ekspektasi kami. Namun keprihatinan tentang pandangan Taliban terhadap hak-hak perempuan tetap ada. Kelompok itu tidak punya anggota perempuan sama sekali, dan pada 1990-an mereka melarang perempuan bekerja di luar rumah.

 

Patients at a clinic in a Taliban-controlled area, Taliban, AS, Afghanistan
 

Perempuan diizinkan bekerja di klinik kesehatan lokal ini, tapi harus didampingi pria pada malam hari.

 

Ketika kendaraan kami melewati desa-desa di distrik Balkh, kami melihat banyak perempuan, tidak semuanya mengenakan burqa yang menutupi sekujur badan, berjalan-jalan dengan bebas. Namun di bazar setempat, tidak ada perempuan sama sekali. Haji Hikmat bersikeras bahwa mereka tidak dilarang, meski dalam masyarakat yang konservatif, dia bilang, mereka biasanya memang tidak pergi ke sana.

Kami ditemani Taliban setiap waktu, dan beberapa warga lokal yang kami ajak bicara mengungkapkan dukungan mereka kepada kelompok tersebut, dan bersyukur kepada mereka karena telah membuat wilayah mereka lebih aman dan mengurangi tindak kriminal. "Ketika pemerintah berkuasa, mereka memenjarakan orang-orang kami dan meminta suap untuk membebaskan mereka," kata seorang lelaki tua. "Orang-orang kami dahulu sangat menderita, tapi sekarang kami bahagia dengan situasi ini."

Nilai-nilai ultra-konservatif Taliban memang tidak begitu berbenturan dengan masyarakat di wilayah rural, namun banyak orang, terutama di perkotaan, takut mereka akan membangkitkan kembali Emirat Islam yang brutal di tahun 1990-an.

Seorang warga lokal belakangan bersedia untuk bicara kepada kami, dengan syarat namanya tidak disebut, dan mengatakan Taliban sebenarnya jauh lebih keras dari yang mereka akui dalam wawancara. Dia menceritakan warga desa yang ditampar atau dipukuli karena mencukur janggut, atau stereo mereka dihancurkan karena mendengarkan musik. "Orang-orang tidak punya pilihan selain patuh pada mereka," ujarnya kepada BBC, "bahkan karena masalah sepele pun mereka main fisik. Orang-orang takut."

 

Anggota taliban membawa senapan anti pesawat udara, AS, Afghanistan
 

Seorang warga berkata kepada BBC banyak orang patuh pada Taliban karena takut.

 

Haji Hikmat adalah anggota Taliban di tahun 1990-an. Sementara para kombatan yang lebih muda senang mengambil foto dan selfie, dia awalnya menutup wajahnya dengan turban ketika melihat kamera kami. "Kebiasaan lama," katanya sambil nyengir, sebelum akhirnya mengizinkan kami merekam wajahnya. Di bawah rezim lama Taliban, fotografi dilarang.

Apakah mereka melakukan kesalahan saat berkuasa, saya bertanya? Akankah mereka berperilaku sama lagi sekarang?

"Taliban dahulu dan Taliban sekarang sama saja. Jadi membandingkan waktu itu dan sekarang - tidak ada yang berubah," kata Haji Hikmat. "Tapi," dia menambahkan, "ada perubahan personel, tentu saja. Sebagian orang lebih kejam dan sebagian lagi lebih kalem. Itu normal."

Taliban tampaknya sengaja bersikap ambigu tentang apa yang mereka maksud dengan "pemerintahan Islam" yang ingin mereka dirikan. Beberapa analis memandangnya sebagai usaha sengaja untuk menghindari gesekan internal antara elemen garis keras dan yang lebih moderat. Dapatkah mereka mengakomodasi mereka yang berpandangan berbeda tanpa mengasingkan basis mereka sendiri? Kekuasaan dapat menjadi ujian terbesar mereka.

Saat kami menyantap makan siang ayam dan nasi, kami mendengar suara gemuruh setidaknya empat serangan udara dari jauh. Haji Hikmat tidak gentar. "Itu jauh, jangan khawatir," ujarnya.

Kekuatan udara, khususnya yang disediakan oleh Amerika, berperan penting dalam upaya menghalau Taliban selama bertahun-tahun. AS sudah secara drastis memangkas operasi militernya setelah meneken kesepakatan dengan Taliban tahun lalu, dan banyak yang takut kalau menyusul penarikan total mereka, Taliban akan mengerahkan militernya untuk mengambil alih Afghanistan.

Haji Hikmat mencemooh pemerintah Afghanistan, atau "pemerintahan Kabul" - demikian sebutan Taliban, korup dan tidak Islami. Sulit membayangkan laki-laki seperti dia akan berdamai dengan pihak lain di negara itu, kecuali itu sesuai kemauan dia.

"Ini jihad," ujarnya, "ini ibadah. Kami melakukannya bukan untuk kekuasaan melainkan untuk Allah dan hukum-Nya. Untuk membawa Syariah ke negeri ini. Siapapun yang menghalangi kami akan kami lawan."

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Menteri pendidikan Afghanistan mengatakan sedang menginvestigasi pernyataan baru-baru ini dari seorang direktur kementerian pendidikan di kota Kabul yang melarang perempuan berusia 12 tahun ke atas bernyanyi di depan publik.

Larangan ini mendapat kritik yang meluas di media sosial. Para perempuan membagikan video mereka sambil bernyanyi dengan menggunakan tagar #IAmMySong. Pro dan kontra ini datang di tengah kekhawatiran kemungkinan kesepakatan damai dengan Taliban.

Di bawah Taliban, remaja perempuan tak diberi pendidikan dan sebagian besar musik dilarang. Pernyataan dari Kabul, melarang remaja 12 tahun ke atas untuk bernyanyi dalam acara sekolah, dan juga melarang remaja perempuan memiliki guru musik laki-laki.

Menteri pendidikan mengatakan, kebijakan ini tidak mencerminkan posisi dirinya. Dia mengatakan akan mengkaji hal ini, dan mungkin mengambil langkah menegur atau korektif kepada bawahannya yang mengeluarkan kebijkan tersebut.

Larangan ini diumumkan beberapa hari lalu, yang menapat kritik di media sosial. Kalangan sastrawan dan aktivis mengatakan pelarangan bernyanyi menjadi langkah mundur dari hak-hak pendidikan.

"Maafkan kami Tuhan, manusia bisa begitu kejam, bahkan mereka melihat seorang anak dari sudut pandang berbasis gender," cuit penulis dan penyair Shafiqa Khpalwak, satu dari penulis perempuan terkenal di negara itu.

Sejumlah perempuan membandingkan larangan ini terhadap kehidupan di bawah Taliban - yang digulingkan pada 2001 - di mana remaja perempuan dilarang untuk pergi ke sekolah, dan kebanyakan musik dilarang. "Ini adalah Talibanisasi dari dalam republik," kata Sima Samar, seorang aktvisi HAM Afghanistan kepada kantor berita Associated Press (AP).

 

Afghan female musicians

"Musik adalah bagian besar dari budaya Afghanistan. Jika pelarangan berlanjut dan para perempuan muda dilarang bernyanyi, maka kami akan kehilangan bagian dari budaya Afghanistan," kata pianis konser Maram Atayee.

Remaja berusia 18 tahun dari Kabul itu adalah anggota orkestra Zohra yang semuanya perempuan. Ia kini belajar di Institut Musik Nasional Afghanistan. Seperti banyak anak muda Afghanistan, dia khawatir dengan arahan kementerian pendidikan baru-baru ini, yang melarang perempuan berusia di atas 12 tahun bernyanyi di depan umum ketika ada laki-laki.

 

Tanda peringatan

"Hari ini mereka melarang perempuan muda menyanyi - jika kami tidak melawan, mereka akan melarang musik sepenuhnya," kata Maram kepada BBC.

 
Maram Atayee performing in a concert

Ketakutannya bukan tanpa alasan - larangan tersebut membawa kembali kenangan menyakitkan semasa kekuasaan Taliban antara tahun 1996 dan 2001. Para militan percaya pada bentuk Islam yang keras, yang melihat bahwa musik tidak sesuai dengan keyakinan mereka dan mereka sama sekali melarangnya.

"Itu sangat mengejutkan dan menyedihkan. Saya tidak menyangka orang akan melakukan ini di tahun 2021," katanya.

 

Peluang

Maram bergabung dengan orkestra Zohra empat tahun lalu dan mereka telah tampil dalam konser di banyak negara, termasuk Pakistan, India, China, Portugal, Azerbaijan, Inggris, Swedia, Slovakia dan Australia.

 

Afghan female musician playing with a dog

Peluang seperti ini sangat jarang bagi anak perempuan yang tumbuh di negara yang dilanda perang saudara selama empat dekade. "Orkestra memberi kami kesempatan untuk melihat dunia, bermain dengan musisi lain, dan merasakan budaya yang berbeda," kata Maram.

Afghanistan adalah salah satu negara termiskin di dunia, dengan pendapatan per kapita sekitar $ 500 (Rp7,1 juta) per tahun, dan jumlah perempuan yang bisa membaca di bawah 30 persen.

 

Keluhan-keluhan

Kementerian pendidikan mengatakan mereka mengambil keputusan tersebut setelah menerima keluhan dari orang tua, yang mengatakan pendidikan anak perempuan mereka terganggu oleh kegiatan bermusik yang mereka ikuti.

 

Dr Ahmad Sarmast surrounded by the members of his orchestra after a performance in Slovakia

 

"Ini tidak masuk akal," kata Dr Ahmad Sarmast yang gelisah dengan persoalan itu. Dia adalah orang yang mendirikan orkestra Zohra pada 2015 dan Institut Musik Nasional Afghanistan pada 2010. "Bahkan jika ada keluhan dari beberapa orang tua, itu tidak bisa menjadi alasan untuk membungkam semua perempuan muda Afghanistan," katanya kepada BBC.

Menyusul protes terhadap larangan tersebut, kementerian pendidikan Afghanistan mengeluarkan klarifikasi pada hari Kamis (11 Maret) yang mengatakan anak-anak sekolah dasar dapat berpartisipasi dalam kegiatan bernyanyi jika mendapat izin dari keluarga mereka.

 

Kebebasan berekspresi

Pemerintah mengatakan mereka yang melanggar arahan ini akan ditangani sesuai dengan aturan hukum, tetapi tidak menyebutkan tindakan hukuman apa pun. Dr Sarmast telah memulai kampanye daring menentang larangan tersebut.

 

Zohra concert in progress

"Saya mendesak orang-orang untuk merekam dan mengunggah lagu untuk menyuarakan perlawanan mereka," katanya. Dr Sarmast lolos dari kematian pada tahun 2014, ketika seorang pelaku bom bunuh diri Taliban meledakkan dirinya hanya beberapa meter darinya, saat dia tengah menonton drama yang dipentaskan oleh murid-muridnya di Kabul.

Dia kehilangan pendengaran di satu telinga dan harus menjalani beberapa operasi untuk mengeluarkan pecahan peluru dari kepalanya. Namun, dia masih mendedikasikan diri untuk bidang yang sama. "Para perempuan muda Afghanistan harus bisa bebas berekspresi lewat musik," katanya.

Komisi Hak Asasi Manusia Independen negara itu telah bergabung menentang langkah pemerintah itu. "Hak atas pendidikan, kebebasan berekspresi dan akses ke keterampilan artistik adalah hak dasar semua anak," katanya dalam sebuah pernyataan.

Dr Sarmast sangat mengkhawatirkan masa depan. "Ini adalah upaya untuk membatasi perempuan dan anak perempuan secara sosial. Jika kita tidak menghentikan ini, lebih banyak pembatasan akan diberlakukan," katanya.

Perwakilan pemerintah Afghanistan saat ini sedang merundingkan kesepakatan damai dengan Taliban, yang dapat mengarah pada pembagian kekuasaan dengan militan dan penarikan pasukan Amerika. Taliban didorong keluar oleh invasi militer pimpinan Amerika pada akhir 2001. Tapi butuh waktu bertahun-tahun untuk menghidupkan kembali musik Afghanistan.

 

Perjuangan awal

Kompetisi musik di televisi sekarang sangat populer di Afghanistan dan lagu-lagu, dari Turki hingga Bollywood dan sekitarnya, dapat didengar di radio. Tetapi penolakan terhadap musik tidak memudar sepenuhnya dengan jatuhnya Taliban.

 

Zohra orchestra performing in Slovakia

"Hanya orang yang sangat kuat yang bisa menjadi penyanyi atau musisi di Afghanistan," kata Maram. Dia memahami itu dari pengalaman. Kakek-nenek Maram menentang musik, begitu pula orang tuanya pada awalnya.

Namun setelah pindah ke Mesir pada tahun 2000, penentangan orangtuanya berkurang. Maram lahir pada tahun 2002 di Kairo dan mulai belajar piano saat berusia lima tahun. Dia tampil di konser pertamanya pada usia enam tahun. Perjalanan musik Maram mengalami gangguan ketika keluarganya pindah kembali ke Kabul ketika dia berusia 13 tahun.

"Ketika saya datang ke sini semuanya berubah. Ayah saya khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada kami jika saya melanjutkan musik saya," kata Maram. Ayahnya bahkan memintanya untuk berhenti bermain piano di rumah.

 

Cinta pada piano

Maram merasa sulit untuk menurut.

 

Zohra concert in progress

"Saya benar-benar tidak tahu betapa berharganya musik bagi saya, hingga saya datang ke Afghanistan. Di sini orang dan budayanya berbeda. Ada begitu banyak kesulitan," kata Maram. "Satu-satunya hal yang tetap sama adalah musik saya." Dia menghubungi Dr Sarmast dan dia membantunya mendapatkan izin dari ayahnya untuk bermain piano dua kali seminggu.

"Dua jam itu paling penting bagi saya. Saya tidak pernah ingin meninggalkan piano," kata Maram. Dia segera bergabung dengan sekolah musik dan orkestra yang dia dirikan, dan menjadi pianis pada usia 14 tahun.

"Memilih musik adalah keputusan terbaik dalam hidup saya. Saya menjadi lebih dewasa dan guru saya mengatakan saya adalah panutan yang baik." Dia mengatakan timnya menginspirasi banyak pelajar untuk mempelajari musik.

 

Mimpi yang tinggi

Maram sekarang menghabiskan sebanyak delapan jam sehari untuk berlatih piano dan dia ingin melanjutkan studinya.

 

Maram pratising her music

"Tidak ada perguruan tinggi di Afghanistan yang menawarkan gelar di bidang musik, jadi saya ingin pergi ke luar negeri," katanya. Dia khawatir langkah terbaru pemerintah bisa menghancurkan aspirasi banyak orang. Untungnya dia mendapat dukungan penuh dari orang tuanya dan dia memiliki tujuan yang jelas.

"Saya ingin menjadi perempuan Afghanistan pertama yang melakukan konser piano solo di seluruh dunia."

Diterbitkan di Berita

Gubernur Herat Sayed Abdul Wahid Qatali mengatakan puluhan rumah dan toko rusak akibat ledakan tersebut, dengan wanita dan anak-anak termasuk di antara yang tewas. Tim penyelamat di tempat kejadian berusaha menyelamatkan orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan, seperti dikutip dari Deutsche Welle, Sabtu (13/3/2021). 

Meskipun tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas ledakan itu, pihak berwenang setempat menyalahkan Taliban atas insiden tersebut. Taliban fundamentalis Sunni telah melancarkan pemberontakan terhadap pemerintah Afghanistan yang didukung Barat selama hampir dua dekade.

Diterbitkan di Berita