suaraislam.co Minoritas Syiah Afghanistan, komunitas Hazara, akan melanjutkan konfrontasi bersenjata dengan Taliban jika mereka ingkar janji dan menghindari tirani, sebut mantan Wakil Presiden Afghanistan Karim Khalili, salah satu pemimpin Hazara.

“Sejauh ini, kita telah melihat kabinet sementara (Taliban), yang sama sekali tidak inklusif. Kelanjutan ini tidak dapat diterima oleh kekuatan (politik) dan kelompok etnis lainnya,” tegas Khalili, mengutip TASS 22 September.

“Situasi ini pasti akan menjadi tak tertahankan bagi Tajik dan Uzbek dan mereka, bersama dengan Hazara, akan kembali ke medan perang,” sambungnya.

Lebih jauh Khalili berharap, dengan adanya tekanan dari komunitas global, Taliban tidak memaksakan kehendaknya kepada seluruh penduduk dan perang saudara dapat dihindari.

“Kami masih berjuang untuk itu dan berharap Taliban akan belajar dari (pengalaman) tahun 1990-an dan akan siap untuk mendirikan pemerintahan yang inklusif dan menahan diri dari tirani,” jelasnya.

“Kita tidak boleh dipaksa untuk menempuh jalan perlawanan bersenjata untuk melindungi kehidupan dan hak-hak dasar rakyat kita,” tegas Kepala Hazara memperingatkan. Menurut Khalili, perkembangan di Afghanistan bukan hanya masalah internal tetapi juga ancaman keamanan global.

“Saya berharap kemiskinan, perang dan obat-obatan di satu sisi dan kurangnya sistem pemerintahan yang sah yang ditegakkan oleh rakyat dan komunitas global di sisi lain, tidak akan mengembalikan Afghanistan kembali menjadi tempat berkembang biak bagi kelompok teroris, yang tidak akan kembali ke Afghanistan. Tidak hanya menghancurkan daerah itu sendiri, tetapi juga menimbulkan ancaman bagi keamanan internasional,” pungkas Khalili.

 

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Sudah sejak lama perancang busana asal Kabul Anjilla Seddeqi mendapat inspirasi untuk koleksi labelnya dari pakaian tradisional wanita Afghanistan. Dalam kesehariannya dia menciptakan desain-desain baru untuk koleksinya.

Tapi sekarang, ketika Taliban kembali berkuasa, dia dan wanita emigran Afghanistan lainnya memperjuangkan warisan pakaian yang kaya di tanah air mereka untuk memprotes aturan berpakaian baru untuk siswa perempuan, dan membantu wanita yang terkena dampak kembalinya gerakan tersebut.

"Saya merasa apa yang Taliban coba lakukan adalah untuk menghapus perempuan Afghanistan dari masyarakat pada umumnya, dan kemudian juga menghapus budaya kita. Dan bagian dari itu adalah pakaian kita," kata Seddeqi dikutip dari Reuters.

"Mereka perlu diingatkan sepanjang waktu ... Diam bukanlah pilihan," kata Seddeqi, yang kreasi pakaian malamnya yang berani dan berwarna-warni dipotong dalam brokat dan sutra.

Sejak berkuasa pada pertengahan Agustus, para pejabat Taliban telah berusaha untuk meyakinkan dunia bahwa mereka telah berubah sejak pemerintahan fundamentalis 1996-2001 yang keras, ketika perempuan harus menutupi diri mereka dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Mereka mengatakan perempuan akan dapat belajar dan bekerja di luar rumah mereka, tetapi menteri pendidikan tinggi yang baru mengatakan awal bulan ini siswa perempuan harus mematuhi aturan berpakaian Islami termasuk jilbab agama cadar.

Tidak jelas apakah itu berarti jilbab atau penutup wajah wajib. Untuk menyuarakan hal ini, para wanita Afghanistan yang tinggal di luar negeri mulai mengunggah foto online dengan pakaian tradisional yang cerah. Rambut dan wajah mereka pun tak tertutup kain.

"Saya pikir ekspresi apa pun melalui mode akan sangat, sangat terbatas," katanya. "Wanita Afghanistan harus mematuhi aturan berpakaian standar. Itulah yang menjadi sinyal bagi saya (untuk bersuara)."

"Saya sangat senang melihat bahwa sesama wanita Afghanistan menunjukkan bahwa apa yang dipaksakan oleh Taliban bukanlah pakaian tradisional," kata Seddeqi tentang kampanye virtual di bawah tagar termasuk #DontTouchMyDress.

Bentuk perlawanan yang mereka lakukan adalah dengan mengajak wanita negara tersebut untuk merangkul warisan budaya mereka. "Pada awalnya, butuh banyak keberanian untuk mulai mengenakan pakaian lokal.

Sekarang, banyak gadis yang mengambilnya kembali," kata desainer Inggris-Afghanistan Marina Khan.

Dia mengatakan pakaian wanita tidak boleh diawasi oleh pria, tetapi menambahkan bahwa banyak wanita Afghanistan yang lebih suka mengenakan kerudung harus dihormati pilihan mereka. Gaun tradisional Afghanistan juga sederhana dan tidak terbuka, katanya.

Seperti Seddeqi, dia juga berharap untuk bekerja dengan lebih banyak perajin perempuan di Afghanistan karena mereka menghadapi peluang kebebasan yang semakin berkurang untuk bekerja di bawah pemerintahan baru Taliban.

(chs)

 

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Kelompok ekstremis ISIS mengklaim sebagai dalang di balik pengeboman yang menargetkan anggota Taliban di Jalalabad, Afghanistan, pada akhir pekan lalu.

ISIS Khorasan mengklaim bom tersebut melalui pengumuman di media propaganda mereka, Kantor Berita Amaaq, pada Minggu (19/9). Sebagaimana dilansir Reuters, dalam pemberitaan itu, ISIS mengklaim memakan korban puluhan anggota Taliban, tapi belum ada pihak yang dapat memverifikasi.

"Lebih dari 35 anggota Taliban tewas atau terluka dalam serangan ledakan tersebut," demikian pernyataan ISIS tersebut. Taliban juga mengakui bahwa anggotanya menjadi target sejumlah serangan bom di Jalalabad pada Sabtu hingga Minggu lalu.

Seorang sumber mengatakan kepada Reuters bahwa setidaknya tiga orang tewas dan sekitar 20 lainnya terluka akibat ledakan di Jalalabad pada Sabtu. Serangkaian ledakan ini menimbulkan pertanyaan terkait keamanan di Afghanistan setelah Taliban mengambil alih kuasa pada pertengahan Agustus lalu.

Ini bukan kali pertama ISIS-K berulah setelah Taliban berkuasa. Pada Agustus lalu, ISIS-K juga melakukan serangan bom bunuh diri di bandara Kabul, ketika warga sedang berbondong menanti evakuasi.

Setelah itu, Taliban mengklaim bahwa mereka dapat membendung ISIS-K jika AS sudah angkat kaki. Namun ternyata, setelah AS hengkang pada akhir Agustus lalu, ISIS-K masih dapat menargetkan anggota Taliban.

"Kami kira sejak Taliban datang, akan ada perdamaian," ujar Feda Mohammad, salah satu warga yang abangnya tewas dalam serangan bom ISIS-K pada Minggu lalu.

Ia kemudian berkata, "Namun, sekarang tak ada perdamaian. Tak ada keamanan. Kalian tak bisa mendengar apapun selain kabar mengenai ledakan bom yang membunuh siapa.

"Bom ISIS ini terjadi ketika Taliban masih berupaya membentuk pemerintahan. Dengan pemerintahan yang belum lengkap ini, Afghanistan harus menghadapi berbagai krisis akibat pembekuan berbagai aliran dana asing setelah Taliban berkuasa. "Ini merupakan puncak dari kesengsaraan kami," ucap seorang warga di Jalalabad, Abdullah.

(has)

Diterbitkan di Berita

KABUL, KOMPAS.TVAnak perempuan usia remaja Afghanistan dilarang kembali ke sekolah menengah oleh pemerintah Taliban. Dilaporkan pada Sabtu (18/9/2021), penguasa baru di negara itu hanya memerintahkan anak laki-laki dan guru laki-laki kembali ke kelas.

Kelompok Islam garis keras menggulingkan pemerintah yang didukung Amerika Serikat (AS) bulan lalu. Taliban menjanjikan pemerintahan yang lebih lembut daripada pemerintahan represifnya pada 1990-an, ketika sebagian besar perempuan dilarang bersekolah dan bekerja.

Namun diktat dari kementerian pendidikan merupakan langkah terbaru dari pemerintahan baru untuk mengancam hak-hak perempuan, seperti dilansir Straits Times, Sabtu.

"Semua guru dan siswa laki-laki harus kembali berkegiatan di sekolah-sekolah mereka," kata sebuah pernyataan menjelang kelas dimulai kembali pada hari Sabtu. Pernyataan itu, yang dikeluarkan pada Jumat malam, tidak menyebutkan guru atau siswa perempuan.

Sekolah menengah di Afghanistan, dengan siswa-siswi yang biasanya berusia antara 13 dan 18, sering dipisahkan berdasarkan jenis kelamin. Selama pandemi Covid-19, mereka menghadapi penutupan berulang kali dan penutupan permanen sejak Taliban merebut kekuasaan.

Sejak invasi pimpinan AS menggulingkan Taliban tahun 2001, pendidikan anak perempuan mencapai kemajuan signifikan.

Jumlah sekolah menjadi tiga kali lipat, dan tingkat melek huruf murid perempuan hampir dua kali lipat, yang persentasenya mencapai 30 persen dari jumlah seluruh perempuan di Afghanistan. Namun, perubahan itu sebagian besar terbatas di kota-kota.

PBB menyatakan "sangat khawatir" akan masa depan sekolah perempuan di Afghanistan.

"Sangat penting bahwa semua anak perempuan, termasuk anak perempuan yang lebih tua, dapat melanjutkan pendidikan mereka tanpa penundaan lebih lanjut. Untuk itu, kami membutuhkan guru perempuan untuk melanjutkan mengajar," kata badan anak-anak PBB, UNICEF.

 

Perempuan Afghanistan diperbolehkan bersekolah, namun harus terpisah dari pria. (Sumber: AP Photo/Felipe Dana)

 

Sekolah dasar telah kembali beroperasi, dengan anak laki-laki dan perempuan kebanyakan duduk di kelas terpisah dan beberapa guru perempuan kembali bekerja.

Rezim baru Taliban juga mengizinkan perempuan untuk kuliah di universitas swasta, meskipun dengan pembatasan ketat pada pakaian dan pergerakan mereka.

Taliban juga dilaporkan menutup kementerian urusan perempuan pemerintah dan menggantinya dengan departemen yang terkenal karena menegakkan doktrin agama yang ketat selama pemerintahan pertamanya.

Ini merupakan pertanda buruk mengerasnya kebijakan Taliban terhadap kaum perempuan. Di Kabul pada Jumat (17/9/2021), para pekerja terlihat memasang tanda untuk Kementerian Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan di gedung lama Kementerian Urusan Perempuan di ibukota Kabul.

Video yang diunggah ke media sosial memperlihatkan pekerja perempuan dari kementerian melakukan protes di luar setelah kehilangan pekerjaan. Sejauh ini, belum ada komentar dari pejabat Taliban.

Meski masih terpinggirkan, perempuan Afghanistan berjuang untuk dan mendapatkan hak-hak dasar selama 20 tahun terakhir, menjadi anggota parlemen, hakim, pilot dan polisi.

Ratusan ribu perempuan telah memasuki dunia kerja. Ini merupakan suatu keharusan. Lantaran, dalam beberapa kasus, banyak perempuan menjadi janda dan kini harus menghidupi keluarga karena suami mereka cacat akibat konflik selama beberapa dekade belakangan.

Taliban dilaporkan menunjukkan sedikit kecenderungan untuk menghormati hak-hak perempuan. Ini terlihat dari tidak adanya perempuan yang dimasukkan dalam pemerintahan dan banyak yang dihentikan untuk kembali bekerja.

Penulis : Edwin Shri Bimo | Editor : Vyara Lestari

Diterbitkan di Berita

damailahindonesiaku.com Tangerang – Indonesia harus mewaspadai potensi radikalisme dan terorisme pasca kehancuran kelompok ISIS di Irak dan Suriah, dan berkuasanya kelompok Taliban di Afghanistan.

Pasalnya, banyak Warga Negara Indonesia (WNI) yang pernah bergabung dengan jaringan kelompok teroris Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) di Suriah dan Irak di era 2014-2019, serta ikut pelatihan dengan Taliban di Afghanistan pada 1990-an yang melahirkan kelompok Al Jamaah Al Islamiyah.

“Ini menjadi tantangan bangsa Indonesia untuk melawan radikalisme dan terorisme. ISIS memang sudah selesai, tetapi simpatisan dari Indonesia yang ingin kembali masih banyak. Lalu kemudian Al Jamaah Al Islamiyah Indonesia yang kita ketahui bersama ada generasi 1 sampai 4 dan sudah diidentifikasi oleh negara,” ujar mantan Deputi Kerjasama Internasional dan Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irjen Pol (Purn) Drs. Hamidin di Tangerang, Jumat (10/9/2021).

Ia mengungkapkan, ada beberapa kembalinya simpatisan ISIS dan isu Taliban di Afghanistan yang harus diwaspadai. Potensi pertama adalah orang-orang yang kembali pasca kekalahan ISIS.

Ia mengaku pernah datang langsung ke Irbil, Irak, untuk menjemput deportan eks simpatisan ISIS tahun 2017 lalu. Di situ, ia melihat fakta, tidak semua simpatisan ISIS tidak semua kembali ke negaranya.

Dari penelusurannya, Hamidin mengatakan, ada eks militan asal Indonesia yang tidak pulang ke Indonesia, tetapi pulang ke Tunisia karena menikah dengan orang Tunisia. Kemudian ada juga militan dari negara lain yang justru ke Indonesia.

Ada yang kembali ke Tunisia misalnya orang Indonesia atau wanita Indonesia yang kemudian menikah dengan orang Tunisia. Kemudian ada yang dari negara lain juga ke Indonesia.

“Saya menyebut mereka relocator. Mereka adalah dia orang dari suatu negara,tapi dia ikut berjuang pada ISIS, dia kembali, kemudian dia tinggal di suatu negara tertentu dan bergabung dengan sel-sel terorisme di negara tersebut,” ungkap mantan Kapolda Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur ini.

Menurutnya, relocator ini dulu pernah terjadi di Indonesia saat ramai-ramainya kelompok Al Qaeda seperti Noordin M Top dan Dr. Azahari dari Malayia. Pun dengan tokoh teroris lainnya Muhammad Hasan dari Singapura yang ditangkap tahun 2008 lalu.

Mereka adalah contoh nyata relocator masa lalu. “Sekarang orang yang dari ISIS bisa saja berada di tengah-tengah kita, kemudia dia bergabung kepada sel lamanya. Kemudian suatu saat ketika ada momentum, maka dia akan hidup lagi untuk menggelorakan itu,” jelas Hamidin.

Ia mengungkapkan, tidak semua relocator itu teridentifikasi saat masuk ke Indonesia. Seperti Muhammad Bojoglan dan kawan-kawan dari Uighur, yang pernah bergabung dengan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso. Kedua, lanjut Hamidin, yang perlu diwaspadai adalah pengelana yang frustasi atau frustatated traveller.

Saat ISIS berjaya, orang-orang ini sebenarnya ingin berangkat ke Suriah dan Irak tetapi tidak ada sponsor, tidak ada yang bisa mengajak, tidak ada yang bisa mengantar tapi gairahnya sangat tinggi.

“Kita sudah melihat bagaimana kasus misalnya penyerangan Kapolsek di Tangerang pada saat itu. Dia mau berangkat, tapi tidak ada uang. Hanya melihat polisi dia hajar. Nah ini termasuk pengelana yang frustasi,” tegasnya.

Ketiga, ungkapnya, adalah sel-sel hibernasi atau hibernate cells atau sel tiarap. Mereka bila BNPT, Densus 88, dan BIN banyak kegiatan, mereka tiarap, tapi bukan mati. Kendati demikian, semangat dan motivasi mereka tetap ada dan tinggi.

Kemudian yang keempat adalah sleeping cell atau sel tidur. Mereka ini tidak ada gerakan, tapi sebetulnya radikal. Mereka tidak melakukan apa-apa, dan lebih banyak menunggu momen. Contohnya adalah kasus tero bom Surabaya dan bom Gereja Katedral Makassar.

Empat hal itulah yang harus diwaspadai terutama seiring berkuasanya Taliban di Afghanistan sekarang ini. Pasalnya, ideologi Tablian di masa lalu adalah ideologi terorisme.

“Semua kita paham itu. Jadi tetaplah kita Waspada, kita ikuti perkembangan perkembangan Taliban di sana. Kita berharap mereka akan melaksanakan apa yang sudah Taliban deklarasikan kepada Amerika dan lain-lain bahwa mereka akan menjadi demokrasi dan mengikuti tata aturan global. Saya kira itu yang saya lihat. Lebih baik kita wait and see,” papar Ketua Kelompok Ahli Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) ini.

Selain itu, Hamidin mengungkapkan ada tantangan besar bangsa Indonesia dalam mewaspadai radikalisme dan terorisme di masa pandemi Covid-19. Ia mengakui pandemi membuat banyak sektor terpuruk dan perekonomian nasional menurun, serta kegiatan masyarakat harus dibatasi.

Di sisi lain, pemerintah juga fokus menangani pandemi Covid-19. Menurutnya di tengah isu-isu pandemi Covid-19, bukan berarti isu terorisme selesai. Sebab, kadang-kadang kelompok-kelompok teroris memanfaatkan isu itu menimbulkan keresahan di masyarakat.

“Misalnya mau percaya takut kepada siapa? Mau takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atau takut kepada Covid ? Nah ini yang mereka campur adukkan. Sebetulnya jawabannnya tidak seperti itu. Dua duamya memang harus kita waspadai. Jadi kalau Allah memang tempat kita bermohon, tetapi Covid ini juga tidak bisa dihindari. Karena dia berada di tengah-tengah kita jadi saya kira dua hal ini harus sama-sama kita waspadai. Dan semua komponen bangsa harus turut serta didalamnya,” tuturnya.

Untuk itulah, ia menyarankan BNPT sebagai koordinator penanggulangan terorisme di Indonesia menggandeng ulama-ulama untuk ikut juga memberikan pencerahan terhadap bagaimana mencegah pandemi covid dan juga mengembalikan apa namanya pemahaman kita kepada ideologi dan agama yang benar.

Keterlibatan ulama sangat penting untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat. Ia khawatir bila masyarakat menerima pemikiran yang salah dan karena tidak ada yang meluruskan akhirnya mereka melaksanakan ajaran itu.

Terbukti banyak isu-isu menyesatkan selama pandemi seperti disebutkan bahwa pandemi ini konspirasi.

“Saya kira itu untuk kelompok-kelompok radikal selalu itu yang dijadikan bahan propaganda,” tegasnya.

Diterbitkan di Berita

 

BBC News Indonesia

Setelah Taliban menguasai Afghanistan, ribuan orang di negara itu meninggalkan rumah mereka dalam ketakutan. Belakangan perhatian publik terfokus pada kerumunan yang memadati Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul.

Namun terdapat ribuan warga Afganistan di daerah lainnya yang telah melarikan diri lewat jalur darat ke Pakistan melalui perbatasan di Kota Chaman. Jurnalis BBC News, Shumaila Jaffery, berbicara kepada beberapa dari mereka.

---

Perbatasan Spin Boldak di Chaman adalah salah satu penyeberangan tersibuk antara Pakistan dan Afghanistan. Ribuan pedagang dan pelancong melewati gerbang di kota berdebu ini setiap hari.

Namun belakangan ini, lalu lintas orang dari sisi Afghanistan sangat tinggi karena ribuan warga negara itu kabur dari kemungkinan persekusi oleh Taliban. Dari fajar hingga sebelum matahari tenggelam, mereka masuk ke penyeberangan ini.

Ratusan laki-laki membawa barang di pundak mereka. Para perempuan bercadar berjalan cepat di belakang pasangan mereka. Anak-anak berpegangan pada ibu mereka. Mereka terlihat kelelahan karena panas terik. Bahkan terdapat pula orang-orang sakit yang didorong di dalam gerobak.

'Mereka akan menyerbu rumah kami'

Zirqoon Bibi adalah perempuan berusia 57 tahun dari komunitas minoritas Hazara. Dia baru saja tiba di Pakistan ketika saya bertemu dengannya. Kelompok Hazara dianiaya oleh Taliban pada masa lalu.

Baru-baru ini serangan brutal terhadap sejumlah laki-laki dari komunitas itu memicu kembali ketakutan mereka terhadap Taliban. "Hati saya terbakar dengan rasa sakit," ujarnya berulang kali sambil terisak, ketika saya menanyakan kabarnya.

"Saya bertanya pada diri sendiri apa yang akan terjadi pada anak saya, anak saya satu-satunya," kata perempuan itu. Putranya, yang bekerja untuk sebuah perusahaan Inggris, sudah mencoba meninggalkan Afganistan. Tapi dia gagal.

Zirqoon Bibi berkata, menantu perempuan meninggal akibat ledakan bom Taliban yang menargetkan komunitas Hazara beberapa tahun lalu.

"Saya merasa sangat kehilangan (setelah kematiannya) sehingga saya tidak bisa tidur untuk waktu yang lama. Taliban adalah orang-orang yang mengerikan, saya takut pada mereka," ujarnya.

 
Satellite image of Spin Boldak crossing

 

Sebelum tiba di Pakistan, Zirqoon Bibi ditempatkan di sebuah kamp darurat kecil di perbatasan. Kamp itu dihuni sekitar 24 perempuan dan anak-anak Hazara lainnya dari berbagai bagian Afghanistan.

Dia meninggalkan rumahnya di ibu kota Kabul bersama dua putri dan cucunya. Saat dia berbicara, cucunya duduk di pangkuannya. Anak itu sama sekali tidak menyadari fakta bahwa dia sekarang tidak memiliki rumah.

"Saya tidak peduli dengan rumah atau barang-barang kami. Saya hanya mencemaskan putra saya dan putrinya," kata Zirqoon Bibi sambil memijat lembut bahu anak itu.

"Ke mana saya bisa pergi? Apa yang bisa saya lakukan? Saya telah menempatkan ibu gadis ini di kuburan dengan tangan saya sendiri. "Butuh banyak usaha dan cinta untuk membesarkan anak-anak, saya tidak bisa kehilangan anggota keluarga saya yang lain," ucapnya.

Sementara itu, Zarmeeney Begum, warga Afghanistan berusia 60 tahun yang menganut Syiah, juga baru saja datang bersama sekelompok perempuan lain. Muslim Syiah di Afghanistan telah menjadi sasaran persekusi Taliban pada masa lalu.

Begum berkata, ketika komunitasnya mendengar berita tentang Taliban yang mengambil alih kekuasaan, mereka merasa tidak punya pilihan selain meninggalkan Afghanistan.

 

Afganistan
 

Orang tua dan orang sakit diangkut dengan gerobak untuk melintasi perbatasn meuju Pakistan.

 

"Kami khawatir Taliban akan melanjutkan aksi terorisme mereka lagi. Mereka akan menggerebek di rumah kami," ujar Begum.

"Mereka sudah mencari pejabat pemerintah. Kami merasa pengeboman bisa dimulai kapan saja," katanya.

'Masa depan yang terganggu'

Banyak orang yang melintasi perbatasan ini adalah laki-laki dan perempuan muda Afghanistan. Mereka merasa tengah menghadapi ketidakpastian masa depan.

Salah satu di antara mereka adalah Muhammad Ahmer. Dia sedang menempuh pendidikan tinggi sambil bekerja sebagai pengajar bahasa Inggris di Kabul.

Dia masih tidak percaya bahwa Kabul tiba-tiba jatuh ke tangan Taliban.

"Sangat sulit dipercaya. Sejujurnya, kami tidak tahu mereka akan menguasai seluruh Kabul hanya dalam satu malam. Tapi saya hanya mencemaskan sekolah dan pendidikan saya," katanya.

Ahmer berkata, saat ini dia tidak tahu harus berbuat apa. Tapi yang jelas, dia yakin masa depannya tidak akan terwujud di Afghanistan yang dikendalikan Taliban.

"Saya ingin membuat pilihan saya sendiri dalam hidup. Saya ingin kebebasan, jadi saya tidak akan kembali," ujarnya.

 

Afganistan
 

Perekonomian memburuk dan tingkat pengangguran sangat tinggi, kata beberapa warga Afganistan yang bermigrasi untuk mencari pekerjaan di Pakistan.

 

Jamal Khan, mahasiswa lainnya di Kabul yang saya temui di perbatasan, memiliki kecemasan serupa. "Semua orang ingin tinggal di rumah mereka, tapi kami terpaksa meninggalkan Afghanistan," tuturnya.

"Kami merasa tidak nyaman bermigrasi ke Pakistan atau negara lain. Semua orang khawatir, tapi mereka tidak memiliki harapan," katanya. Orang-orang lain yang saya temui juga menyangsikan kemungkinan bertahan hidup di bawah rezim Taliban.

Obaidullah, seorang buruh dari Kandahar, menyebut dirinya memutuskan kabur ke Pakistan. Dia menilai perekonomian Afganistan berantakan dan negara berjalan tanpa pemerintahan.

"Situasi di Kandahar normal, tapi tidak ada pekerjaan, saya datang ke sini untuk mencari pekerjaan, saya mungkin akan menjadi tukang becak," katanya.

Taliban belakangan telah berusaha membentuk citra yang lebih positif sejak mereka menguasai Afganistan. Hal ini tercermin dari sikap seorang milisi yang berhenti untuk berbicara dengan kami di perbatasan.

Dia menegaskan situasi Afganistan sekarang benar-benar damai. "Trauma rakyat Afghanistan akan berakhir segera setelah pasukan pendudukan asing meninggalkan negara itu," ujarnya.

"Ini hanya masalah kepercayaan, orang akan segera tahu bahwa kami bersungguh-sungguh dengan apa yang telah kami janjikan," tuturnya.

 
Afganistan
 

Ribuan orang melintasi perbatasan Spin Boldak setiap hari. Namun arus masuk dari Afghanistan ke Pakistan sangat tinggi sejak Taliban mengambil alih kekuasaan.

 

Namun banyak warga Afganistan meragukan janji Taliban. "Taliban mungkin bertindak berbeda kali ini, tapi orang-orang yang pernah menderita akibat tangan mereka di masa lalu belum siap untuk mempercayai mereka," kata Ahmer.

Mereka melarikan diri meskipun mereka tahu masa depan mereka tidak pasti. Pakistan sejauh ini sudah menampung jutaan warga Afghanistan. Mereka menyatakan tidak sanggup lagi nampung lebih banyak pelarian Afganistan.

Banyak yang percaya dalam waktu dekat Pakistan akan benar-benar menutup pintu masuk mereka untuk warga Afganistan.

Pemerintah Pakistan menyatakan, tidak seperti tahun 1980-an ketika jutaan orang Afghanistan datang setelah invasi Uni Soviet, kali ini kamp pengungsi akan didirikan di perbatasan. Warga Afghanistan tidak akan diizinkan masuk lebih jauh ke wilayah Pakistan.

Namun sejauh ini, orang bebas memasuki negara itu melalui perbatasan Spin Boldak. Mereka paham hanya ada peluang kecil untuk keluar, jadi mereka rela mengambil resiko apapun untuk melarikan diri.

Namun belum jelas ke mana langkah mereka akan mengarah setelah keluar dari Afganistan.

Nama-nama narasumber dalam liputan ini diubah untuk melindungi identitas mereka

Diterbitkan di Berita

INDOZONE.IDSebelum pasukan AS terakhir meninggalkan Kabul pada Senin (30/8) tengah malam, banyak pemandangan mencolok dan suara kehidupan kota di Afghanistan bahkan mulai berubah.Mereka berusaha menyesuaikan diri dengan gaya tegas pemerintah baru mereka. 

Taliban sejauh ini telah berusaha menunjukkan wajah yang lebih menenangkan kepada dunia. Tak ada hukuman keras dipertontonkan di depan publik dan tak ada larangan menggelar hiburan rakyat seperti yang mereka terapkan saat berkuasa dulu.

Kegiatan budaya diperbolehkan, sejauh tidak melanggar hukum Syariat dan budaya Islam Afghanistan. Reklame warna-warni di depan salon-salon kecantikan sudah dicat ulang, jeans telah diganti dengan pakaian tradisional, dan stasiun radio dilarang memutar musik dan suara penyiar perempuan.

 

"Bukan karena Taliban memerintahkan kami mengubah apa pun, kami mengganti program sekarang karena kami tidak ingin Taliban memaksa kami berhenti siaran," kata Khalid Sediqqi, produser stasiun radio swasta di Kota Ghezni, dikutip dari Reuters, Rabu (1/9).

"Lagi pula tak seorang pun di negara ini berminat mencari hiburan, (karena) kami semua sedang syok," sambungnya.

Selama 20 tahun hidup di bawah pemerintah dukungan Barat, budaya populer tumbuh di Kabul dan kota-kota lain yang diwarnai kemunculan tempat kebugaran, minuman berenergi, gaya rambut kekinian dan lagu-lagu pop yang berdencing-dencing. Bagi petinggi Taliban perubahan itu dianggap sudah melampaui batas.

"Budaya kami telah teracuni, kami melihat pengaruh Rusia dan Amerika di mana saja bahkan pada makanan yang kami santap, sesuatu yang harus disadari oleh masyarakat dan perlu diubah," kata seorang komandan Taliban.

Meski petinggi Taliban berulang kali mengatakan pasukan mereka harus menghormati penduduk dan tidak sembarangan menghukum, banyak warga tidak percaya mereka mampu mengendalikan anggota-anggota yang ada di bawah. 

"Tak ada musik di seluruh Kota Jalalabad, orang ketakutan dan khawatir dipukul Taliban," kata Naseem, mantan pejabat di provinsi timur, Nangarhar.

Diterbitkan di Berita

sindonews.com KABUL - Kepala keamanan pendiri al-Qaeda; Osama bin Laden , terlihat pulang ke Afghanistan . Orang-orang yang mengangguminya terlihat berebut bersalaman dan mencium tangannya.

Amin ul-Haq, kepala keamanan Osama bin Laden terlihat pulang ke kampung halamannya di Provinsi Nangarhar, Afghanistan. Dia muncul hanya beberapa jam setelah pasukan Amerika Serikat (AS) dan sekutu NATO-nya hengkang dari negara itu.

Orang dekat Osama bin Laden itu dikenal sebagai pemasok senjata utama al-Qaeda.

Sekadar diketahui, di bawah perjanjian damai AS-Taliban 2020, kelompok Taliban berjanji bahwa mereka tidak akan membiarkan anggotanya, individu lain, atau kelompok, termasuk al-Qaeda, menggunakan tanah Afghanistan untuk mengancam keamanan Amerika Serikat dan sekutunya.

Osama bin Laden sendiri telah terbunuh dalam operasi Navy SEAL AS di Pakistan pada 2 Mei 2011 atau satu dekade setelah serangan 11 September 2001 di AS.

Sebuah video yang dibagikan jurnalisHassan I. Hassan di Twitterpada hari Senin menunjukkan sebuah SUV yang membawa Amin ul-Haq melintasi pos pemeriksaan di tengah kerumunan kecil para pengagum.

 

 

Pada satu titik, mobil berhenti dan Amin ul-Haq membuka jendela. Orang-orang yang mengangguminya bergiliran bersalaman dan mencium tangannya.

SUV itu kemudian terlihat diikuti oleh konvoi kendaraan yang membawa gerilyawan bersenjata, dengan beberapa mengibarkan bendera Taliban.

"Mantan ajudan keamanan Osama bin Laden dan pemasok/fasilitator senjata al-Qaeda Amin-ul-Haq kembali ke kampung halamannya setelah dua dekade dalam pelarian, dua minggu setelah pengambilalihan Taliban," tulis Hassan di Twitter.

"Jangan heran jika al-Qaeda menunjuk seorang Afghanistan sebagai pemimpin berikutnya setelah Zawahiri," lanjut dia, merujuk pada pemimpin al-Qaeda saat ini, Ayman Zawahiri.

Baik Pentagon maupun Departemen Luar Negeri belum mengomentari kemunculan orang dekat Osama bin Laden tersebut. Kelompok Taliban sendiri belum mengonfirmasi kehadiran Amin ul-Haq di Afghanistan.

(min)

Diterbitkan di Berita

damailahindonesiaku.com Jakarta – Kabag Bantuan Operasi Densus 88 Kombes Pol Aswin Siregar menyampaikan Afghanistan menjadi tempat melatih diri (training ground) para kelompok teroris yang biasa beraksi di Indonesia.

Awalnya, Aswin menyampaikan konflik di Afghanistan yang terjadi sejak 1970 silam telah memicu datangnya pejuang alias kombatan dari berbagai penjuru negara. Tak terkecuali Warga Negara Indonesia (WNI).

Ia mengungkapkan banyak WNI yang diketahui menjadi kombatan berdalih memperjuangkan nasib dan kemerdekaan umat Islam. Sesampainya di sana, mereka mendapatkan pencucian otak (brainwash).

“Sampai di sana mereka biasa lah yang mengalami proses brainwash. Kemudian membangun jaringan kenal satu sama lain dan melatih dan melengkapi diri dengan persenjataan yang ada,” kata Aswin dalam diskusi daring, dikutip tribunnews, Senin (30/8).

Ia mencatat ada lebih dari 10 gelombang WNI yang berangkat ke Afghanistan dengan maksud menjadi kombatan pejuang di Afghanistan. Mereka menjadikan tempat itu sebagai melatih berperang.

“Ada yang tercatat misalnya, saya mungkin lebih ada 10 gelombang yang berangkat ke Afghanistan dari tahun-tahun awal itu ya. Kemudian setelah mereka selesai dalam tanda kutip berjuang di sana, selesai berlatih di sana, Afghanistan itu akan selalu itu jadi training ground mereka ya berlatih dan berperang,” ungkapnya.

Ia menerangkan WNI eks kombatan di Afghanistan ini rata-rata memiliki pemikiran dengan tingkat radikalisme yang tinggi seusai pulang ke Indonesia. Tercatat, ada sejumlah aksi teror yang diperbuat eks kombatan di Afghanistan.

“Kemudian selesai pulang ke Indonesia dan melakukan berbagai aksi teror ya di sini sebagaimana yang tercatat di kita itu ada bom malam natal ketika konflik di Poso, Bom Bali 1, bom Bali 2, bom JW Marriott, bom Kedubes Australia, Ritz Carlton dan sebagainya,” ungkapnya.

Atas dasar itu, Aswin mengingatkan bahwa keberadaan WNI sebagai kombatan di Afghanistan berdampak terhadap pemikirannya selepas pulangnya ke Indonesia.

“Jadi hasil-hasil dari keberadaan mereka di Afghanistan itu secara nyata dan faktual memberikan dampak terhadap pemikiran dan aksi mereka setelah kembali ke Indonesia,” jelasnya.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Komandan Divisi Lintas Udara ke-82, Mayor Jenderal Chris Donahue, menjadi jenderal Amerika Serikat yang terakhir angkat kaki dari Afghanistan.

Donahue meninggalkan Bandara Internasional Hamid Karzai Kabul pada Senin (30/8) malam waktu setempat. Sebelumnya, Kementerian Pertahanan mengunggah foto Chris Donahue, saat akan menaiki pesawat militer C-17 meninggalkan Kabul.

Foto itu menunjukkan Donahue tengah berjalan menuju pesawat militer terakhir AS di Afghanistan. Ia terlihat memakai seragam dinas lapangan militer AS sembari membawa senjata dan dilengkapi helm.

Jenderal tertinggi komando pusat AS, Kenneth "Frank" McKenzie, mengatakan Donahue dan Kuasa Usaha Diplomat tinggi di Kabul, Ross Wilson, menjadi dua pejabat terakhir yang naik ke pesawat militer AS meninggalkan Afghanistan.

"Di pesawat terakhir yang keluar adalah Jenderal Chris Donahue, komandan divisi lintas udara ke-82 dan komandan pasukan besar saya di sana, dan dia ditemani oleh Duta Besar kami Ross Wilson, jadi mereka keluar bersama-sama," kata McKenzie, seperti dikutip CNN, Selasa (31/8).

Mc Kenzie melanjutkan, "Tim negara dan pertahanan keluar di pesawat terakhir dan sebenarnya orang terakhir yang menginjak tanah, naik ke pesawat." Dalam tradisi militer, perwira dengan pangkat tertinggi terakhir meninggalkan medan laga: "The Last Man Departing."

Penarikan terakhir pasukan AS dari bandara Kabul selesai pada Senin (30/8) malam. Pesawat militer AS terakhir lepas landas satu menit sebelum tengah malam waktu setempat dari Kabul. Keberangkatan itu juga menjadi tanda AS dan sekutunya tak lagi memiliki pasukan di Afghanistan.

Diterbitkan di Berita