Liputan6.com, Kabul - Sebuah bom magnet yang dipasang pada sebuah mobil van kecil meledak pada Sabtu di daerah mayoritas Syiah di ibu kota Afghanistan, Kabul, kata sejumlah laporan.

Menurut seorang pejabat Taliban yang menolak disebutkan namanya, enam orang tewas dan sedikitnya tujuh orang terluka. Hitungan resmi belum diumumkan dan belum ada yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, seperti dilansir dari Sky News, Minggu (14/11/2021). 

Ledakan itu terjadi di daerah Dashte Barchi di Kabul barat dan merupakan yang terbaru dari serangkaian serangan di Afghanistan dalam beberapa pekan terakhir. Dashte Barchi memiliki populasi besar etnis Muslim Syiah Hazara, yang telah berulang kali menjadi sasaran militan ISIS.

Dalam sebuah tweet, Zabihullah Mujahid, juru bicara Taliban, mengatakan kebakaran telah terjadi di distrik itu yang menewaskan sedikitnya satu warga sipil dan melukai dua lainnya. Dia mengatakan bahwa investigasi sedang berlangsung.

 

Krisis di Afghanistan Akan Bertambah Buruk

 

Sebuah serangan bom di sebuah sekolah di distrik itu terjadi awal tahun ini, sebelum penarikan koalisi dari Afghanistan dan pengambilalihan berikutnya oleh Taliban. Sedikitnya 55 orang tewas dalam serangan itu, kebanyakan dari mereka diyakini sebagai mahasiswi berusia antara 11 dan 15 tahun, dan sedikitnya 150 lainnya terluka.

Pemerintah Afghanistan saat itu menyalahkan Taliban, tetapi Zabihullah membantah terlibat pada saat itu dan pada gilirannya menyalahkan ISIS.

Ledakan hari Sabtu menghantam sebuah negara di mana jutaan orang berisiko kelaparan musim dingin ini karena kekeringan dan ekonomi yang runtuh membuat negara bagian itu dalam bahaya.

PBB khawatir krisis hanya akan bertambah buruk tanpa tindakan drastis, karena pola cuaca menunjukkan kekeringan lebih lanjut di daerah penghasil gandum utama Afghanistan kemungkinan terjadi pada musim dingin ini.

Reporter: Cindy Damara

 

Sumber: https://www.liputan6.com/global/read/4710444/ledakan-bom-magnet-targetkan-daerah-mayoritas-syiah-di-kabul-afghanistan

 

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia Serangan bom bunuh diri saat ibadah salat Jumat di masjid-masjid yang dihadiri umat Syiah Hazara di Afghanistan, yang menewaskan ratusan orang pada bulan lalu, meneror warga Syiah di Afghanistan. Beberapa bahkan tidak berani keluar rumah untuk beraktivitas sehari-hari.

Asif Lali tak lagi pergi beribadah salat Jumat ke masjid. Belum lama ini, gelombang serangan terhadap komunitasnya, yang sebagian besar beretnik Syiah Hazara, telah menewaskan adik laki-lakinya. Kini, ia ketakutan setiap pergi keluar rumah.

“Kami ketakutan dalam situasi apa pun. Saya bahkan tidak berani ke jalan raya, saya hanya berjalan lewat gang-gang saja, karena saya takut ada serangan bunuh diri.

Setiap kali saya terjebak macet atau ada di tengah keramaian, saya takut ada serangan bunuh diri, karena komunitas kami diancam langsung oleh ISIS," kata Lali yang merupakan seorang dokter di sebuah klinik setempat.

Jumat pada 8 dan 15 Oktober, serangan bom bunuh diri meledak di beberapa masjid, menewaskan lebih dari 100 orang. ISIS mengaku bertanggung jawab atas kedua serangan yang menyasar umat Syiah, kelompok minoritas di sana.

Setelah kejadian tersebut, beberapa warga Hazara seperti Lali memutuskan untuk tidak beribadah ke masjid untuk sementara waktu.

 

Kondisi masjid setelah ledakan, di Kunduz, Afghanistan, 8 Oktober 2021. (Foto: Reuters)
Kondisi masjid setelah ledakan, di Kunduz, Afghanistan, 8 Oktober 2021. (Foto: Reuters)

 

“Adik laki-laki saya tewas dalam serangan bunuh diri yang dilakukan ISIS di bandara. Umurnya 23 tahun. Hampir 43 hari telah berlalu sejak serangan itu terjadi, akan tetapi hati kami masih terluka dan masih ada rasa duka di rumah kami. Kami bahkan tidak bisa memajang foto adik kami di dinding. Kami pun menghapus foto-fotonya dari handphone kami, karena kenangan tentangnya sangat menyakitkan bagi kami," ujar Lali.

Saking banyaknya korban tewas akibat serangan bom bunuh diri, warga Hazara memiliki pemakaman khusus di Kabul, dengan sebutan “Kebun Para Martir,” yang menjadi tempat peristirahatan terakhir korban-korban tewas dalam serangan bom sekolah Mei lalu.

Warga etnik Hazara di Afghanistan telah lama didiskriminasi dengan berbagai alasan, salah satunya agama yang mereka anut.

Meski ribuan telah tewas saat Taliban memerintah pada 1996-2001, keberadaan ISIS di Afghanistan pada awal tahun 2015-lah yang menjadikan mereka dan komunitas Syiah secara umum sebagai target sistematis.

Ratusan orang tewas dalam banyak serangan bunuh diri di masjid maupun pusat keramaian oleh militan Sunni garis keras yang tidak menganggap mereka sebagai Muslim sejati, menimbulkan kekerasan sektarian yang menghancurkan negara-negara seperti Irak dan Afghanistan.

Meski Taliban telah berjanji semua kelompok etnik di Afghanistan akan dilindungi, aksi-aski pembunuhan terus terjadi semenjak mereka merebut kekuasaan Agustus lalu. Dengan lebih dari 400 masjid Syiah di Kabul saja, rasa aman sulit terwujud karena tidak ada yang tahu di mana serangan berikutnya akan terjadi.

Hussain Rahimi (23), warga etnik Hazara, mengatakan setiap kali ia berangkat ke masjid untuk beribadah, ia selalu membaca kalimat syahadat, karena tak tahu apakah ia akan selamat pulang ke rumah.

Rahimi sendiri kehilangan adik perempuannya yang duduk di kelas 12 dalam serangan bom di sebuah sekolah di Kabul Mei lalu, yang kebanyakan menewaskan murid perempuan.

“Ini rasa takut yang muncul dengan sendirinya, karena keluarga dan saya sendiri ketakutan. Ketika saya akan pergi ke masjid, saya membaca syadahat, karena saya khawatir tidak bisa kembali ke rumah dengan selamat," ujarnya.

 

Personel keamanan Afghanistan memeriksa lokasi ledakan bom di Kabul, Afghanistan, Kamis, 3 Juni 2021. (Foto: AP)
Personel keamanan Afghanistan memeriksa lokasi ledakan bom di Kabul, Afghanistan, Kamis, 3 Juni 2021. (Foto: AP)

 

Warga Hazara, yang berbahasa Persia dan diperkirakan merupakan keturunan tentara penakluk Mongol abad ke-13, Genghis Khan, dianggap sebagai kelompok etnik terbesar ketiga di Afghanistan, setelah Pashtun dan Tajik. Tidak ada data sensus terbaru, tetapi secara keseluruhan, warga Syiah diperkirakan mewakili 10-20 persen populasi.

Selain itu, warga Hazara juga kerap menjadi korban persaingan etnis dan ekonomi yang merajalela dalam politik Afghanistan.

Di bawah pemerintahan sebelumnya, warga Syiah ditawari sejumlah persenjataan dan pelatihan dasar agar dapat melindungi masjid-masjid mereka. Akan tetapi, Taliban telah mencabut sebagian pesar penawaran tersebut, sehingga membuat mereka merasa lebih rentan.

 

“Masyarakat kami merasa suatu saat, hari Jumat nanti misalnya, dua atau tiga hari setelahnya, mungkin Herat yang akan meledak, mungkin Kabul akan meledak, mungkin kota lainnya, misalnya Helmand atau tempat dan masjid-masjid lain di mana umat Syiah berkumpul untuk berJumatan," kata Mohammad Baqer Sayed, dosen Afghan University.

Pihak berwenang Taliban berjanji akan meningkatkan pengamanan di masjid-masjid Syiah dua pekan lalu, akan tetapi jaminan itu tidak cukup bagi banyak orang, yang memiliki sedikit kepercayaan pada kelompok yang sejak lama dianggap sebagai musuh mereka. [rd/jm]

 

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia Kepala juru bicara Pemerintah Afghanistan Zabihullah Mujahid hari Rabu (10/11) menyerukan seluruh mantan pilot militer Afghanistan untuk tetap berada di negara itu, dengan mengatakan mereka akan dilindungi oleh amnesti dan tidak akan ditahan.

“Pesan saya adalah tidak akan ada masalah keamanan terhadap para pilot ini di Afghanistan. Tidak ada rencana untuk menangkap mereka. Amnesti telah diumumkan. Para pilot, baik yang berasal dari militer maupun maskapai penerbangan swasta, dapat direkrut kembali dan mengabdi bagi negara ini. Kami akan memfasilitasi mereka. Mereka tidak perlu melarikan diri. Kami ingin kembali mengundang mereka. Kepergian sebagian pilot ini sangat disesalkan,” kata Zabihullah.

Pernyataan itu disampaikan di tengah laporan bahwa lebih dari 140 pilot Afghanistan yang sebelumnya dilatih oleh Amerika dan sejumlah awak pesawat telah meninggalkan Tajikistan dalam sebuah evakuasi yang dimediasi Amerika hari Selasa (9/11), tiga bulan setelah mereka mengungsi ke negara itu pasca pengambilalihan Afghanistan oleh Taliban. Associated Press belum dapat mengkonfirmasi laporan tersebut secara independen.

Pilot-pilot Angkatan Udara Afghanistan, bersama mitra-mitra mereka dari Amerika, memainkan peran penting dalam perang melawan gerilyawan Taliban selama 20 tahun yang berakhir dengan penarikan mundur seluruh pasukan asing pada akhir Agustus lalu. Serangan udara itu menimbulkan banyak korban di kalangan Taliban dan berulangkali mengusir kelompok gerilyawan itu dari lokasi-lokasi yang mereka rebut di berbagai bagian negara itu.

Ratusan pilot ini melarikan diri ke negara-negara Asia Tengah, termasuk Tajikistan dan Uzbekistan, setelah runtuhnya pemerintahan Afghanistan yang didukung Amerika dan kembali berkuasanya Taliban. Belum jelas berapa banyak pilot militer dan awak yang tersisa di Afghanistan, dan tingkat risiko apa yang mereka hadapi, atau sejauh mana jaminan Taliban itu dapat dipercaya.

Selama tiga bulan terakhir ini ada beberapa laporan pembunuhan balas dendam oleh Taliban, tetapi tidak dalam skala besar dan teroganisir. [em/jm]

 

Sumber: https://www.voaindonesia.com/a/taliban-serukan-mantan-pilot-angkatan-udara-tak-tinggalkan-afghanistan/6308203.html

 

Diterbitkan di Berita

Khadijah Nur Azizah - detikHealth Jakarta - Taliban memenggal salah satu atlet voli wanita Afghanistan bulan lalu dan memamerkan fotonya di media sosial belum lama ini.

Dikutip dari Daily Mail, pevoli Mahjabin Hakimi, bintang yang sedang naik daun asal Kota Kabul, awalnya menghilang secara misterius kemudian jasadnya ditemukan pada bulan lalu. Pelatihnya mengatakan Mahjabin telah dibunuh oleh Taliban meski tak sedikit yang menduga ia bunuh diri.

Sebuah foto beredar di medsos yang konon mayat Mahjabin, menunjukkan cedera di lehernya, tetapi belum bisa dipastikan apakah luka itu disebabkan oleh sayatan pisau atau penjerat.

Pusat Jurnalisme Investigasi Payk di Afghanistan mengonfirmasi bahwa Mahjabin dipenggal oleh Taliban di Kabul. Kematiannya baru dilaporkan setelah pelatih mengatakan Taliban mengancam keluarga korban agar tak membocorkan peristiwa ini.

"Semua pemain tim bola voli dan atlet wanita lainnya berada dalam situasi yang buruk dan putus asa dan ketakutan. Semua orang terpaksa melarikan diri dan tinggal di tempat yang tidak diketahui," katanya.

Pelatih mengatakan bahwa hanya dua anggota tim yang berhasil melarikan diri dari negara itu sebelum jatuh ke tangan kelompok Islamis. Sisanya sekarang bersembunyi dan ketakutan selama hidup mereka.

Tim bola voli nasional wanita Afghanistan telah mengajukan petisi kepada organisasi asing untuk membantu mengeluarkan mereka dari negara itu tetapi sejauh ini tidak berhasil.

Zahra Fayazi, seorang anggota tim senior yang melarikan diri ke Inggris pada bulan Agustus, sebelumnya menjelaskan bagaimana sesama pemain telah dibunuh oleh Taliban. "Pemain kami yang tinggal di provinsi harus pergi dan tinggal di tempat lain," katanya kepada BBC bulan lalu.

"Mereka bahkan membakar peralatan olahraga mereka untuk menyelamatkan diri dan keluarga mereka. Mereka tidak ingin mereka menyimpan sesuatu yang berhubungan dengan olahraga. Mereka ketakutan," jelasnya.

(kna/kna)

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, REQnews - Kelompok wanita Afghanistan dengan tegas mendesak PBB tidak memberikan kursi kepada perwakilan pemerintahan Taliban.

Salah satu mantan politisi perempuan Afghanistan, Fawzia Koofi berkata, Taliban adalah kelompok ekstremis yang tak pernah mendengarkan dan menampung aspirasi kaum wanita, namun ingin berkuasa penuh atas negara.

“Ini sangat sederhana. PBB perlu memberikan kursi itu kepada seseorang yang menghormati hak semua orang di Afghanistan," kata Koofi, seperti dikuti Jumat 22 Oktober 2021.

"Kami banyak dibicarakan, tetapi kami tidak didengarkan. Bantuan, uang, pengakuan, semuanya adalah pengaruh yang harus digunakan dunia untuk inklusi, untuk menghormati hak-hak perempuan, untuk menghormati hak semua orang," ujar dia menambahkan.

Sementara eks mantan politikus lainnya Naheed Fareed menyebut, Taliban sudah ingkar janji, dari apa yang mereka kampanyekan bahwa perempuan diizinan bekerja dan mendapatkan pendidikan.

“Ketika Taliban merebut Afghanistan, mereka mengatakan akan memberikan izin kepada perempuan untuk bekerja dan kembali ke sekolah, tetapi mereka tidak menepati janji itu,” kata Fareed. Seperti diketahui, Taliban merebut kekuasaan Afghanistan pada pertengahan Agustus 2021 lalu. 

Setelah berkuasa, Taliban berjanji akan memenuhi serta menghormati hak-hak perempuan sesuai dengan hukum Islam. Namun, kenyataannya, masih terjadi banyak diskriminasi, bahkan Kementerian Urusan Perempuan Afghanistan dihapuskan.

Diterbitkan di Berita

KABUL, KOMPAS.TV - Pekerja perempuan Afghanistan, khususnya pekerja kesehatan, guru, dan para pembela hak perempuan, mendesak masyarakat internasional untuk melanjutkan bantuan keuangan kepada Afghanistan, Selasa (28/9/2021).

Mereka mengatakan, penghentian bantuan kepada Afghanistan telah berdampak tidak proporsional terhadap perempuan.

Aqela Noori, seorang guru, mengatakan pada konferensi pers di Kabul bahwa 120.000 pendidik perempuan dan hampir 14.000 petugas kesehatan perempuan belum mendapatkan pembayaran gaji selama dua sampai tiga bulan terakhir.

“Kami menyerukan kepada masyarakat internasional, Bank Dunia dan badan-badan kemanusiaan internasional untuk tidak menghentikan bantuan kemanusiaan mereka kepada Afghanistan,” katanya. “Jangan tinggalkan Afghanistan sendirian di masa sulit ini,” tambahnya.

Sejak Taliban menyerbu Kabul pada 15 Agustus dan menguasai negara itu, dunia terus memperhatikan apakah Taliban akan memberlakukan kembali aturan keras yang mereka jalankan seperti pada akhir tahun 1990-an.

Menurut laporan Bank Dunia, bantuan asing menyumbang hampir 75% dari pengeluaran publik Afghanistan, sebelum Taliban mengambil alih negara itu bulan lalu. Namun dana bantuan asing itu kini telah dibekukan, dan krisis ekonomi pun membayangi negara tersebut.

Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional menghentikan pembayaran kepada pemerintah Afghanistan, sementara AS membekukan miliaran dolar aset yang disimpan di rekening Amerika oleh Bank Sentral Afghanistan.

Perempuan yang bekerja di daerah pedesaan sangat terpengaruh dengan terjadinya penunggakan gaji mereka selama beberapa bulan terakhir. Noori, mendesak agar pembayaran gaji mereka diprioritaskan.

Selain itu, gaji untuk pria dan wanita di seluruh lembaga negara tidak dibayar oleh pemerintah sebelumnya di bawah Presiden Ashraf Ghani, beberapa bulan sebelum pengambilalihan Taliban.

Bank Dunia mengatakan dalam sebuah pernyataan hari Selasa, bahwa mereka sangat prihatin tentang gangguan pada layanan kesehatan kritis dan mengatakan pihaknya memantau dan menilai situasi dengan cermat.

“Kami terus mengamati dan setelah situasi menjadi lebih jelas, kami akan dapat menilai langkah selanjutnya,” katanya. Noori mengatakan, tidak dibayarnya pekerja kesehatan perempuan telah merusak pemberian layanan, terutama di daerah pedesaan.

Hal ini berdampak pada tingkat kematian ibu dan bayi yang lebih tinggi. Menurut Noori, gaji sebanyak 8.400 orang dari total 14.000 petugas kesehatan telah dibayarkan langsung oleh Bank Dunia di masa lalu, tetapi alokasi itu berhenti dua bulan lalu.

Yalda Hamishi, seorang dokter kandungan, mengatakan penghentian dana telah menyebabkan "bencana" di daerah pedesaan dan sebagian besar dokter wanita berhenti bekerja karena mereka belum menerima gaji.

Sementara itu, para guru berbicara langsung kepada pimpinan baru Taliban. Mereka meminta pekerjaan alternatif bagi sekitar 16.000 guru perempuan yang dilarang mengajar di sekolah menengah oleh Taliban, sampai keputusan baru tentang status mereka ditetapkan.

Sebagian besar dari mereka merupakan satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga. Mereka mendesak Taliban untuk memastikan lingkungan yang aman bagi anak laki-laki dan perempuan untuk bersekolah dan membuka kembali sekolah untuk anak perempuan sesegera mungkin.

Sekolah putri dari kelas 7-12 hingga kini masih ditutup.

Penulis : Tussie Ayu | Editor : Fadhilah

Diterbitkan di Berita

rmol.id Kelompok militan Taliban tampak semakin menjauh dari janji yang pernah diucapkan ke publik.

Sejumlah video yang beredar di media sosial akhir pekan ini (Sabtu, 25/9) menunjukkan perlakukan keji sejumlah militan Taliban di Mazari Sharif atau disebut juga Mazar Sharif, kota terbesar keempat di Afganistan dengan memiliki jumlah penduduk sekitar 300 jiwa.

Video yang beredar menunjukan militan Taliban memeriksa setiap rumah di Mazar Sharif untuk mencari orang-orang yang pernah menentang mereka. Selain itu, Taliban juga kabarnya mencari peralatan milik pemerintah seperti senjata dan mobil.

Video lain yang kabarnya juga direkam di Mazar Sharif, menunjukkan militan Taliban menangkap seorang pria yang tampak ketakutan. Belum jelas situasi apa yang terjadi.

Penangkapan orang-orang di Mazar Sharif membuat janji-janji Taliban untuk memberikan amnesti atau pengampunan kepada mantan musuh-musuh mereka menjadi tanda tanya besar.

"Bukan pengampunan publik, melainkan balas dendam publik," tulisa salah seorang pengguna Facebook yang membagikan video soal penangkapan seorang pria di Mazar Sharif. "Taliban bersiap untuk mengeksekusi musuh mereka di Mazar Sharif," tambahnya. 

EDITOR: AMELIA FITRIANI

 

 
Diterbitkan di Berita

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews Jakarta - Taliban menggantung mayat menggunakan crane di kota Herat, Afghanistan. Disebutkan mayat tersebut merupakan pelaku penculikan. Peristiwa mengerikan itu terjadi pada Sabtu (25/9) waktu setempat.

Menurut kesaksian salah seorang warga, total ada 4 mayat yang dibawa ke alun-alun pusat kota Herat kemudian 3 di antaranya dibawa lagi ke bagian kota lainnya untuk dipamerkan ke publik.

Pihak berwenang Taliban mengumumkan bahwa keempat mayat yang digantung merupakan pelaku penculikan pada Sabtu (25/9) pagi waktu setempat. Mereka kemudian dibunuh oleh aparat kepolisian.

"Taliban berhasil menyelamatkan seorang ayah dan anak yang diculik oleh empat penculik setelah baku tembak," kata kepala polisi distrik setempat, Ziaulhaq Jalali, seperti dilansir Associated Press, Minggu (26/9/2021).

Jalali menyebut seorang anggota Taliban dan seorang warga sipil terluka oleh para penculik. Keempat penculik itu pun tewas usai baku tembak. Dalam sebuah video yang diterima Associated Press, tampak kerumunan warga di sekitar lokasi mayat digantung.

Beberapa orang Taliban berteriak mengumumkan sesuatu. "Tujuan dari tindakan ini adalah untuk memperingatkan semua penjahat bahwa mereka tidak aman," kata seorang komandan Taliban yang tidak mengidentifikasi dirinya kepada AP dalam sebuah wawancara di alun-alun kota.

Sejak Taliban menguasai Afghanistan pada 15 Agustus lalu, banyak orang khawatir akan kembalinya aturan-aturan garis keras seperti yang terjadi di masa lampau. Saat itu tindakan hukum rajam hingga potong tangan diberlakukan untuk para pelaku tindakan kriminal.

Dalam sebuah wawancara dengan AP pekan lalu, salah satu pendiri Taliban, Mullah Nooruddin Turabi mengatakan bahwa pihaknya akan melakukan tindakan keras untuk kasus eksekusi dan potong tangan. Hal ini dilakukan mengikuti hukum islam.

"Semua orang mengkritik kami atas hukuman yang kami lakukan, tetapi kami tidak pernah berkomentar apa pun tentang aturan hukum mereka," kata Mullah Nooruddin Turabi.

"Tidak ada yang perlu memberi tahu kami seperti apa hukum kami seharusnya. Kami akan mengikuti Islam dan kami akan membuat hukum kami berdasarkan Al-Quran." imbuhnya.

(izt/dhn)

Diterbitkan di Berita

My Childhood My Country: 20 Years in Afghanistan (“Masa Kecilku, Negeraku: 20 Tahun di Afghanistan”) adalah film dokumenter terbaru oleh pembuat film pemenang penghargaan Phil Grabsky dan Shoaib Sharifi.

Grabsky berbicara dengan Penelope Poulou dari VOA tentang film 20 tahun yang memaparkan kehidupan di Afghanistan melalui mata seorang pemuda Afghanistan dari masa kecilnya hingga hari ini.

Lensa Phil Grabsky mulai mengikuti kehidupan Mir muda sejak pasukan Amerika dan sekutu menginvasi Afghanistan pada 2001 setelah serangan 11 September.

Beberapa bulan sebelum serangan 9/11 di Amerika Serikat pada tahun 2001, Taliban telah menghancurkan patung-patung Buddha Bamiyan di Afghanistan, salah satu situs arkeologi paling signifikan di dunia.

Grabsky terbang ke Kabul untuk merekam bagaimana peristiwa-peristiwa tersebut mempengaruhi negara itu.

 

Phil Grabsky, filmmaker "My Childhood My Country: 20 Years in Afghanistan" (VOA)
Phil Grabsky, filmmaker "My Childhood My Country: 20 Years in Afghanistan" (VOA)

 

Ketika berkeliling di reruntuhan patung-patung itu, dia bertemu dengan Mir muda dan keluarganya yang tinggal di gua dalam kemiskinan.

“Dengan energi itu, kelincahan itu, keingintahuan itu, saya tiba-tiba berpikir, ‘tentu saja, film adalah apa yang akan dibuat dalam setahun ke depan mengenai kehidupan anak muda ini karena itulah yang kemudian memproyeksikan kepada penonton tentang masa depan Afghanistan," jelas Phil Grabsky.

Secara bertahap, kata Grabsky, kegembiraan dan optimisme Mir sebagai anak memudar di bawah beban kemiskinan dan tanggung jawab keluarga. “Saya sedang libur sekolah. Jika kami tidak membajak, kami tidak makan.”

Setelah bertahun-tahun di depan lensa kamera, Mir sendiri, yang kini menjadi ayah dari dua anak, bekerja sebagai juru kamera di Kabul.

Pada 31 Mei 2017, sebuah bom meledak di Kabul, menewaskan lebih dari 250 orang dan melukai ratusan lainnya. Ledakan itu meleset dari Mir karena keberuntungan belaka.

 

Salah satu adegan dalam film dokumenter besutan Phil Grabsky "My Childhood, My Country: 20 Years in Afghanistan" (VOA)
Salah satu adegan dalam film dokumenter besutan Phil Grabsky "My Childhood, My Country: 20 Years in Afghanistan" (VOA)

 

“Kami harus memeriksa bagian bawah kemudi mobil kami setiap kali kami akan melakukan perjalanan karena Taliban memasang bom dan meledakkan mobil jurnalis, hakim, dan pejabat pemilu. Itu mengerikan, sangat mengerikan,” jelas Phil Grabsky.

Grabsky mengatakan belakangan dia tidak pernah pergi ke Afghanistan karena tidak lagi aman bagi orang Barat untuk membuat film di sana. Shoaib Sharifi, rekannya sesama pembuat film di Afghanistan terus berkarya dengan syuting di sana tetapi baginya itu pun tidak aman.

Mir Husein, yang kini menjadi kamerawan mengatakan, “Akan ada perang karena Taliban tidak dapat dihentikan. Dengan adanya pasukan asing, konflik dapat dicegah, keamanan tetap terjaga.

 

Salah satu adegan dalam film dokumenter besutan Phil Grabsky "My Childhood, My Country: 20 Years in Afghanistan" (VOA)
Salah satu adegan dalam film dokumenter besutan Phil Grabsky "My Childhood, My Country: 20 Years in Afghanistan" (VOA)

 

Sementara itu, istri Mir menimpalinya, “Perempuan dihukum jika Taliban menganggap mereka tidak menjaga kesantunan. Taliban percaya bahwa mereka adalah Muslim sejati. Mereka akan sangat kejam dan menindas.”

Mengenai nasib kaum perempuan, Phil Grabsky mengatakan, “Saya telah bertemu dengan banyak perempuan pemberani, tetapi perempuan Afghanistan berbeda dengan yang lain, dan bahkan sekarang mereka keluar untuk berdemonstrasi. Itu sulit dipercaya. Mereka layak mendapatkan dukungan sepenuh hati kita.”

Grabsky mengatakan “Masa Kecilku, Negaraku: 20 Tahun di Afghanistan” adalah karya cinta yang berlangsung hampir 20 tahun. Film ini menceritakan berbagai kekuatan yang membentuk Afghanistan dan rakyatnya. [lt/uh]

Diterbitkan di Berita

sindonews.com KABUL - Taliban akan menerapkan kembali praktik hukuman berat, termasuk eksekusi mati dan potongan tangan atau anggota badan lainnya sebagai hukuman resmi bagi publik pelaku kejahatan di Afghanistan.

Hal itu disampaikan seorang pejabat kelompok tersebut kepada The Associated Press, Kamis (23/9/2021).

Sejak menguasai Afghanistan pada 15 Agustus 2021, Taliban telah meluncurkan aksi tebar pesona untuk merehabilitasi citra garis keras mereka dari era 1996-2001 ketika mereka melakukan eksekusi di depan umum, mencambuk pria yang tidak salat di masjid, membatasi gerak perempuan dan mengadopsi pemahaman ekstrem dari hukum atau Syariah Islam versi mereka.

Pemerintah baru Afghanistan sebagian besar diisi anggota senior kelompok Taliban. Kelompok itu telah membubarkan Kementerian Urusan Perempuan dan menghidupkan kembali Kementerian Penyebaran Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan.

Namun, tampaknya Taliban tidak banyak mengubah nilai-nilai inti mereka seperti yang ditekankan Mullah Nooruddin Turabi dalam sebuah wawancara dengan The Associated Press bahwa kelompok itu akan melakukan hukuman yang dianggap pantas dan menuntut masyarakat internasional untuk tidak ikut campur.

“Semua orang mengkritik kami atas hukuman di stadion [eksekusi publik], tetapi kami tidak pernah mengatakan apa pun tentang hukum dan hukuman mereka. Tidak ada yang akan memberi tahu kami seperti apa seharusnya hukum kami. Kami akan mengikuti Islam dan kami akan membuat hukum kami berdasarkan Al-Qur'an," kata Turabi.

Turbai, yang merupakan kepala Kementerian Penyebaran Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan selama era Taliban sebelumnya, mengatakan bahwa kejahatan pembunuhan akan dihukum dengan eksekusi di depan publik, yang biasa dijatuhkan oleh kelompok itu dengan tembakan satu peluru ke kepala.

Namun, pilihan tetap ada bagi keluarga korban yang terbunuh untuk memilih menerima "uang darah" untuk menyelamatkan nyawa pelaku pembunuhan. Pencuri akan dihukum dengan potong tangan dan untuk perampokan di jalan raya, hukumannya adalah potong tangan dan kaki.

“Pemotongan tangan sangat diperlukan untuk keamanan karena efek jeranya,” kata Turbai. Turbai mengatakan bahwa kali ini, Taliban akan memiliki hakim untuk mengadili kasus sebelum memberikan hukuman. “Kami berubah dari masa lalu,” katanya.

Dia mengatakan sekarang Taliban akan mengizinkan televisi, ponsel, foto dan video. ”Karena itu adalah kebutuhan rakyat, dan kami serius tentang itu,” ujarnya. Dia menyarankan agar Taliban melihat media sebagai cara untuk menyebarkan pesan mereka. “Sekarang kita tahu daripada hanya mencapai ratusan, kita bisa mencapai jutaan,” katanya.

(min)

Diterbitkan di Berita