BBC News Indonesia Setidaknya 27 anak tewas di Afghanistan dalam tiga hari di tengah pertempuran sengit antara Taliban dan pasukan pemerintah, kata PBB.

Lembaga anak-anak PBB, Unicef, mengatakan mereka terkejut dengan "kekerasan parah terhadap anak-anak yang meningkat pesat".

Taliban menguasai banyak wilayah di Afghanistan setelah penarikan pasukan asing. Kelompok itu telah merebut enam ibu kota daerah sejak hari Jumat (06/09).

Mereka menolak seruan internasional untuk gencatan senjata. Lebih dari 1.000 warga sipil terbunuh akibat konflik tersebut dalam satu bulan terakhir.

Dalam pernyataan pers pada Senin (09/09), Unicef mengatakan tindakan kekejaman yang dilakukan terhadap anak-anak "bertambah dari hari ke hari".

Angka 27 kematian anak dicatat di tiga provinsi - Kandahar, Khost, dan Paktia. Sekitar 136 anak lainnya terluka di wilayah-wilayah ini dalam tiga hari terakhir, kata Unicef.

"Afghanistan sudah lama menjadi salah satu tempat terburuk di Bumi bagi anak-anak namun dalam beberapa pekan terakhir dan, bahkan, 72 jam terakhir, itu telah menjadi lebih buruk lagi," kata Samantha Mort dari Unicef Afghanistan kepada BBC.

Anak-anak terbunuh dan terluka akibat bom-bom di pinggir jalan dan dalam baku tembak. Seorang ibu berkata kepada Unicef bahwa keluarganya sedang tidur ketika rumahnya dihantam pecahan peluru meriam, yang mengakibatkan kebakaran dan membuat putranya yang berusia 10 tahun mengalami "luka bakar yang mengerikan".

Banyak anak juga tidur di luar setelah mengungsi dari rumah mereka.

 

Pasukan keamanan Afghanistan di Kunduz, Juli 2020.

Pemerintah Afghanistan mengatakan pasukan keamanan masih bertempur di Kunduz. REUTERS

 

Unicef meminta kedua pihak yang berseteru untuk memastikan anak-anak dilindungi.

Kekerasan terus meningkat

Kekerasan meningkat di seluruh Afghanistan setelah pasukan asing yang dipimpin AS ditarik usai menjalankan operasi militer selama 20 tahun.

Taliban dengan cepat merangsek dan merebut sebagian besar daerah di pedesaan, dan sekarang menyasar kota-kota.

Taliban dilaporkan telah menguasai kota Kunduz di utara, dalam kemenangan mereka yang paling signifikan sejak Mei.

Kota berpopulasi 270.000 orang itu dianggap sebagai pintu gerbang menuju provinsi-provinsi di utara yang kaya akan mineral. Lokasinya strategis karena dekat perbatasan dengan Tajikistan, yang dimanfaatkan untuk menyelundupkan opium dan heroin.

Kunduz juga signifikan secara simbolis bagi Taliban karena merupakan benteng pertahanan penting di utara sebelum 2001. Para militan sempat dua kali menguasai kota itu pada 2015 dan 2016 namun tidak pernah mempertahankannya untuk waktu yang lama.

Pemerintah Afghanistan mengatakan pasukan keamanan masih bertempur di kota tersebut.

 

Pasukan keamanan Afghanistan

Pasukan keamanan Afghanistan menerima pukulan besar dengan jatuhnya Kunduz ke tangan Taliban. REUTERS

 

Kota Zaranj di barat daya merupakan ibu kota daerah pertama yang jatuh ke tangan Taliban dalam serangan besar-besaran. Kota-kota Shebergan, Sar-e-Pul, Taloqan, dan Aybak di utara juga sekarang dilaporkan berada di bawah kendali Taliban.

Para pemberontak itu memasuki Aybak, ibu kota provinsi Samangan, tanpa perlawanan setelah para tetua masyarakat meminta supaya tidak ada lagi kekerasan di kota itu, kata deputi gubernur Sefatullah Samangani kepada kantor berita AFP.

"Gubernur menerima dan menarik semua pasukan dari kota itu," ujarnya. Tolo News dan Shamshad TV juga melaporkan di Twitter bahwa pasukan Afghanistan telah mundur dari kota Aybak tanpa pertempuran. Belum ada pernyataan langsung dari pihak tentara.

Di tempat lain, pesawat-pesawat AS dan Afghanistan telah melancarkan serangan udara, yang belum berhasil menghentikan pergerakan Taliban namun pemerintah Afghan mengatakan puluhan kombatan dari kelompok itu telah tewas.

Pertempuran sengit dilaporkan terjadi di Pul-e-Khumri dan Mazar-e-Sharif, pusat perdagangan di perbatasan dengan Uzbekistan. Para komandan tentara mengatakan mereka telah memukul mundur militan dari pinggiran kota.

Pada Senin pagi (09/09) ledakan keras terdengar di luar kantor polisi di kota Lashkar Gah di selatan, tempat pasukan pemerintah dan Taliban telah bertempur selama lebih dari seminggu.

Warga mengatakan sekitar 20 warga sipil tewas dalam dua hari terakhir, dan sebuah sekolah dan sebuah klinik hancur.

Perebutan sejumlah kota dan pertempuran sengit yang terus berlangsung di kota-kota lainnya telah mengakibatkan ribuan warga sipil mengungsi. Banyak keluarga, beberapa dengan anak-anak kecil dan perempuan hamil, meninggalkan rumah mereka dan pergi ke ibu kota, Kabul.

Departemen Pertahanan AS pada hari Senin mengatakan situasi keamanan di Afghanistan "tidak bergerak ke arah yang benar", namun pasukan keamanan Afghanistan mampu melawan Taliban.

"Ini adalah pasukan militer mereka, ini adalah ibu kota provinsi mereka, rakyat mereka sendiri yang mereka lindungi dan ini akan tergantung pada kepemimpinan yang sanggup mereka tunjukkan di sini pada saat ini," kata juru bicara Dephan AS John Kirby.

Diterbitkan di Berita
Novi Christiastuti - detikNews Kabul - Kelompok Taliban menembak mati seorang pejabat pemerintah Afghanistan di sebuah masjid di wilayah Kabul.

Penembakan dilakukan beberapa hari setelah Taliban memperingatkan akan menargetkan pejabat pemerintahan senior sebagai balasan atas meningkatkan serangan udara beberapa waktu terakhir.

Seperti dilansir AFP, Jumat (6/8/2021), pejabat yang ditembak mati Taliban itu diidentifikasi sebagai Dawa Khan Menapal yang merupakan kepala pusat informasi media pada pemerintahan Afghanistan.

"Sangat disayangkan, teroris yang biadab telah melakukan aksi pengecut sekali lagi dan membunuh seorang patriot Afghan," sebut juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan, Mirwais Stanikzai, merujuk pada kematian Menapal.

Taliban dalam pernyataannya mengklaim bertanggung jawab atas kematian Menapal pada Jumat (6/8) waktu setempat.

Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mengirimkan pesan kepada media yang berbunyi: "Dia tewas dalam serangan khusus yang dilakukan oleh mujahidin."

Pertempuran dalam konflik berkepanjangan Afghanistan semakin meningkat sejak Mei, saat pasukan asing mulai ditarik pulang oleh negara masing-masing. 

Taliban dilaporkan telah menguasai sebagian besar wilayah pinggiran Afghanistan, dan sekarang tengah menantang pasukan pemerintah di beberapa kota besar.

Pada Rabu (4/8) waktu setempat, Taliban memperingatkan akan ada lebih banyak serangan menargetkan pejabat pemerintah Afghanistan. Sehari sebelumnya, Taliban melancarkan serangan terhadap Menteri Pertahanan (Menhan), yang berhasil selamat dari upaya pembunuhan itu.

Serangan bom dan penembakan terhadap Menhan Bismillah Mohammadi pada Selasa (3/8) malam waktu setempat membawa pertempuran ke ibu kota Kabul untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir.

Militer Afghanistan dan Amerika Serikat (AS) meningkatkan serangan udara dalam perjuangan melawan Taliban di berbagai kota. Pada Rabu (4/8) waktu setempat, Taliban menyebut serangan di area Kabul merupakan respons atas peningkatan serangan udara itu.

(nvc/ita)

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia - Kementerian Pertahanan Afghanistan mengatakan angkatan udaranya telah melakukan lebih banyak serangan udara terhadap posisi Taliban di Afghanistan Selatan, sementara kelompok pemberontak tersebut kembali meraih kemajuan di bagian utara negara itu.

Sebuah pernyataan kementerian pertahanan menyebutkan serangan udara itu sendiri sebetulnya dilangsungkan di berbagai penjuru negara itu, termasuk di provinsi Helmand, di bagian selatan Afghanistan, di mana ibu kota provinsinya -- Lashkar Gah -- sedang diperebutkan dengan sengit.

Taliban menguasai sembilan dari 10 distrik polisi di kota itu. Penduduk di Lashkar Gah melaporkan pengeboman besar-besaran terjadi di dekat stasiun radio dan televisi pemerintah, yang berada di bawah kendali Taliban.

Beberapa balai pernikahan dan wisma gubernur provinsi itu terletak di dekat stasiun radio dan televisi itu.

Di Afghanistan Utara, Taliban menguasai sebagian besar ibu kota provinsi, Sar-e-Pul, kata kepala dewannya, Mohammad Noor Rahmani. Dalam beberapa bulan terakhir, kelompok tersebut telah menguasai puluhan distrik di beberapa provinsi di wilayah utara negara itu.

Serangan Taliban tampaknya meningkat dengan dimulainya penarikan terakhir pasukan AS dan NATO pada akhir April. Pasukan keamanan Afghanistan menanggapinya dengan mengintensifkan serangan udara, dengan bantuan pasukan Amerika Serikat.

Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran banyak pihak tentang jatuhnya korban sipil di berbagai penjuru negara itu.

"Kami sangat prihatin dengan keselamatan orang-orang di Lashkar Gah, di Afghanistan Selatan, di mana puluhan ribu orang kemungkinan terjebak dalam pertempuran," kata Stephane Dujarric, juru bicara PBB, Rabu (4/8).

“Kami, bersama dengan mitra-mitra bantuan kemanusiaan kami di Afghanistan, kini sedang mengevaluasi kebutuhan dan tanggapan yang diperlukan di Afghanistan Selatan, jika akses memungkinkan,'' katanya. [ab/uh]

Diterbitkan di Berita

sindonews.com KANDAHAR - Nazar Mohammad alias Khasha Zwan adalah komedian populer di Afghanistan . Pada Kamis malam pekan lalu, dia diseret dari rumahnya di Kandahar oleh orang-orang bersenjata dan kemudian disandarkan di bawah pohon lalu digorok lehernya.

Keluarga korban, yang dikutip media lokal TOLO News, menuduh para pelakunya adalah kelompok Taliban . Namun, kelompok yang sedang berperang dengan pasukan pemerintah itu membantah terlibat dalam pembunuhan sang komedian.

Menurut kantor berita ANI, komedian itu sebelumnya bertugas di Kepolisian Kandahar.

Kandahar, tempat Nazar Mohammad, telah menjadi medan pertempuran yang berkecamuk antara pasukan pemerintah dan Taliban. Perang telah meluas ke berbagai wilayah di negara itu seiring dengan penarikan tentara Amerika Serikat (AS) dan sekutu NATO-nya.

Menurut perkiraan pejabat lokal, sekitar 100 orang telah tewas dalam dua minggu terakhir di Kandahar. Selain itu, sekitar 300 orang lainnya hilang.

Taliban sendiri telah merebut wilayah teritorial besar selama beberapa minggu terakhir sebelum tentara AS benar-benar hengkang pada 31 Agustus. Menurut laporan media lokal, para milisi Taliban pergi dari rumah ke rumah di Kandahar mencari pegawai pemerintah.

Provinsi Kandahar secara tradisional menjadi kubu Taliban dan pertempuran di sana telah berlangsung sengit dalam beberapa pekan terakhir dengan gerilyawan merebut perbatasan utama dengan Pakistan di selatan, di Spin Boldak.

Wartawan Reuters Danish Siddiqui tewas di daerah itu beberapa waktu lalu saat meliput bentrokan antara pasukan keamanan Afghanistan dan milisi Taliban.

Banyak keluarga telah meninggalkan rumah mereka dalam jumlah besar dan melarikan diri ke utara menuju Kabul, atau mencari perlindungan di kamp-kamp pengungsi.

Sebelumnya, CNN telah melaporkan bahwa Taliban memenggal Sohail Pardis, seorang warga Afghanistan yang bekerja sebagai penerjemah untuk Angkatan Darat AS. Namun, lagi-lagi Taliban membantah telah memenggal Pardis.

Negara yang dilanda perang itu mengalami peningkatan 47% dalam jumlah semua warga sipil yang tewas dan terluka dalam kekerasan pada paruh pertama tahun 2021, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

"Saya memohon kepada para pemimpin Taliban dan Afghanistan untuk memperhatikan lintasan konflik yang suram dan mengerikan serta dampaknya yang menghancurkan terhadap warga sipil," kata Deborah Lyons, perwakilan khusus Sekjen PBB untuk Afghanistan seperti dikutip The Mirror, Selasa (27/7/2021).

Ketika pasukan asing menarik diri dari Afghanistan, Taliban mengumumkan pada hari Kamis pekan lalu bahwa mereka menguasai 90 persen perbatasan negara itu.

"Perbatasan Afghanistan dengan Tajikistan, Uzbekistan, Turkmenistan, dan Iran, atau sekitar 90 persen dari perbatasan, berada di bawah kendali kami," kata juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid kepada kantor berita pemerintah RIA Novosti.

Namun, Kementerian Pertahanan Afghanistan menggambarkan klaim Taliban sebagai "kebohongan mutlak".

Menegaskan bahwa pasukan pemerintah mengendalikan perbatasan Afghanistan dan semua "kota utama dan jalan raya", wakil juru bicara Kementerian Pertahanan Fawad Aman mengatakan kepada AFP: "Ini adalah propaganda tak berdasar."

Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri Afghanistan mengatakan Taliban membunuh sekitar 100 warga sipil pekan lalu di Spin Boldak dekat perbatasan Pakistan.

"Pasukan keamanan Afghanistan akan segera membalas dendam pada teroris liar ini," kata juru bicara Kementerian Dalam Negeri Mirwais Stanekzai di Twitter.
(min)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat akan terus melancarkan gempuran udara untuk membantu pasukan Afghanistan melawan Taliban, demikian menurut seorang petinggi militer AS.

Taliban meningkatkan serbuan dalam beberapa pekan ke belakang dan menguasai perbatasan serta beberapa wilayah pedesaan, setelah presiden AS Joe Biden pada April lalu mengatakan pasukannya akan ditarik pada September nanti.

"Amerika Serikat telah meningkatkan serangan udara untuk mendukung pasukan Afghanistan dalam beberapa hari terakhir, dan kami bersiap untuk terus meningkatkan serangan ini dalam beberapa pekan ke depan jika Taliban juga meningkatkan kekuatan," demikian ujar Jenderal Militer Kenneth McKenzie dalam konferensi pers di Kabul.

McKenzie yang memimpin Pusat Komando AS, badan yang mengendalikan pasukan AS di wilayah Afghanistan, tidak menyatakan soal sikap AS setelah operasi militer mereka di Afghanistan berakhir 31 Agustus nanti.

"Pemerintah Afghanistan menghadapi ujian yang besar dalam beberapa hari ke depan... Taliban tengah berupaya menciptakan nuansa bahwa serangan mereka tidak terhindarkan," kata McKenzie

Namun, menurutnya, kemenangan Taliban bukan suatu hal yang tidak terhindarkan dan masih ada kemungkinan penyelesaian politik.

Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintah Afghanistan dan negosiator Taliban telah bertemu di Doha, Qatar, meski para diplomat mengatakan belum ada kemajuan yang berarti sejak pertemuan perjanjian damai dimulai September tahun lalu.

Saat ini pasukan Afghanistan tengah merancang ulang strategi perang mereka melawan Taliban dengan berkonsentrasi di wilayah-wilayah kritis seperti Kabul, wilayah perbatasan, dan juga infrastruktur penting.

McKenzie mengatakan kekerasan akan meningkat usai masyarakat menjalani libur IdulAdha pekan lalu, dan Taliban bisa menargetkan wilayah perkotaan yang padat penduduk.

"Jika mereka ingin meraih kekuasaan, mereka harus berhadapan dengan wilayah perkotaan," katanya.

"Namun, bukan kesimpulan yang tepat jika mengatakan bahwa mereka bisa mengambil alih wilayah urban tersebut."

(Reuters/vws)

Diterbitkan di Berita
sindonews.com KABUL - Setidaknya tiga roket mendarat di dekat istana kepresidenan Afghanistan pada Selasa (20/7/2021) ketika Presiden Ashraf Ghani dan sejumlah pemimpin negara lainnya melaksanakan shalat Idul Adha di taman. Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan roket pertama di Kabul sejak Taliban melancarkan serangkaian serangan bertepatan dengan penarikan terakhir pasukan asing dari negara yang dilanda perang itu.

Ketenangan libur Idul Adha di pagi hari dihancurkan oleh suara roket yang terdengar di Zona Hijau yang dijaga ketat yang menampung istana kepresidenan dan beberapa kedutaan, termasuk misi diplomatik Amerika Serikat (AS).
Dalam sebuah video yang diposting di halaman Facebook resmi istana, puluhan pria terlihat melanjutkan doa mereka bahkan ketika roket terdengar di atas kepala dan meledak di dekatnya.
 
Presiden Ghani, yang mengenakan pakaian tradisional Afghanistan dan sorban, berdiri di depan dan tampak tidak bergeming saat orang banyak membungkuk.
"Taliban telah membuktikan bahwa mereka tidak memiliki keinginan dan niat untuk perdamaian," katanya dalam pidato sesudahnya seperti dikutip dari AFP.

Juru bicara kementerian dalam negeri Afghanistan Mirwais Stanikzai mengatakan tiga roket tampaknya ditembakkan dari sebuah truk pickup. Satu tidak meledak.
"Berdasarkan informasi awal kami, kami tidak memiliki korban," tambahnya.

Istana Kepresidenan Afghanistan diserang tahun lalu ketika ratusan orang berkumpul untuk menyaksikan upacara pelantikan Ghani, mendorong beberapa orang untuk melarikan diri.
Kelompok teroris Negara Islam (IS) mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, tanpa ada laporan korban jiwa.

Serangan hari Selasa bertepatan dengan serangan Taliban di seluruh negara itu ketika pasukan asing mengakhiri penarikan pasukan yang dijadwalkan akan selesai pada 31 Agustus.
Serangan itu juga terjadi sehari setelah lebih dari selusin misi diplomatik di Kabul menyerukan mendesak mengkahiri serangan militer kejam kelompok pemberontak, dengan mengatakan itu bertentangan dengan klaim bahwa mereka ingin mengamankan kesepakatan politik untuk mengakhiri konflik.

Pernyataan itu mengikuti putaran lain dari pembicaraan tidak meyakinkan di Doha selama akhir pekan antara pemerintah Afghanistan dan Taliban yang diharapkan banyak orang akan memulai proses perdamaian yang sedang sakit.
"Serangan Taliban bertentangan langsung dengan klaim mereka untuk mendukung penyelesaian yang dirundingkan," bunyi pernyataan itu.

"Ini telah mengakibatkan hilangnya nyawa warga Afghanistan yang tidak bersalah, termasuk melalui pembunuhan yang ditargetkan terus menerus, pemindahan penduduk sipil, penjarahan dan pembakaran gedung, penghancuran infrastruktur vital, dan kerusakan jaringan komunikasi," sambung pernyataan itu.

Selama berbulan-bulan, kedua belah pihak telah bertemu di dalam dan di luar Ibu Kota Qatar tetapi hanya mencapai sedikit kemajuan, dengan pembicaraan tampaknya telah kehilangan momentum karena para militan membuat keuntungan di medan perang.
Sebuah pernyataan bersama Minggu malam mengatakan mereka telah sepakat tentang perlunya mencapai "solusi yang adil", dan untuk bertemu lagi minggu depan.

"Kami juga sepakat bahwa tidak boleh ada jeda dalam negosiasi," kata Abdullah Abdullah, yang mengawasi delegasi pemerintah Afghanistan, kepada AFP, Senin.
Dia mencatat, bagaimanapun, bahwa tidak ada pihak yang saat ini mengejar gencatan senjata bersama selama pembicaraan, meskipun ada seruan mendesak dari masyarakat sipil Afghanistan dan masyarakat internasional untuk mengakhiri pertempuran.

Taliban dan pemerintah sebelumnya telah mengumumkan gencatan senjata selama beberapa hari raya keagamaan. Setelah pertemuan puncak akhir pekan, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengumumkan bahwa pemerintahannya berharap untuk memulai pembicaraan dengan Taliban mengenai penolakan kelompok itu membiarkan Ankara mengelola bandara Kabul setelah pasukan AS mundur dari Afghanistan.

Turki telah bernegosiasi dengan pejabat pertahanan AS mengenai tawaran untuk mengamankan bandara, yang merupakan kunci untuk memungkinkan negara-negara mempertahankan kehadiran diplomatik di Afghanistan setelah penarikan pasukan.
Pekan lalu, Taliban menyebut tawaran Turki "tercela".

Sementara itu, pertempuran berlanjut di Afghanistan, dengan Taliban dan pemerintah mengklaim keuntungan di berbagai bagian negara itu. Selama akhir pekan, pemimpin tertinggi Taliban Hibatullah Akhundzada mengatakan dia "sangat mendukung" penyelesaian politik - bahkan ketika gerakan Islam garis keras melanjutkan serangannya.

Taliban telah merebut distrik, merebut penyeberangan perbatasan dan mengepung ibu kota provinsi saat pasukan asing bersiap untuk keluar sepenuhnya pada akhir Agustus.
Di Washington, Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa sekitar 700 penerjemah dan anggota keluarga dekat mereka yang melarikan diri dari Afghanistan akan dipindahkan ke pangkalan militer di negara bagian Virginia.
 
 
Diterbitkan di Berita

sindonews.com CANBERRA - Kedutaan Besar Afghanistan di Australia telah merilis serangkaian video yang menunjukkan kekejaman mengerikan yang dilakukan oleh Taliban .

Salah satu video tersebut adalah pemenggalan terhadap warga sipil, yang menurut pemerintah adalah pegawai negeri. Serangkaian video kebrutalan itu dirilis ketika kelompok Taliban mengintensifkan serangannya untuk menguasai negara tersebut.

Kedutaan mengatakan telah mengumpulkan rekaman dari beberapa bagian Afghanistan, yang baru-baru ini jatuh kembali di bawah kendali Taliban ketika pasukan Barat menarik diri dari negara yang dilanda konflik tersebut

Video yang sangat menyedihkan menunjukkan para warga sipil dipukuli, disiksa dan dibunuh. Dua klip terpisah menunjukkan warga sipil Afghanistan—yang menurut kedutaan adalah pegawai negeri yang bekerja untuk pemerintah Afghanistan—dipenggal oleh Taliban.

Satu video menunjukkan tentara Afghanistan menyerah dan kemudian ditembak dan dibunuh oleh orang-orang yang tampaknya adalah gerilyawan Taliban.

Video lain menunjukkan seorang pria—diduga seorang warga sipil—menjadi sasaran penyiksaan brutal di lapangan umum, sementara video kelima menunjukkan seorang wanita dicambuk oleh tentara Taliban karena melanggar hukum "kesopanan".

Kedutaan juga menyediakan foto-foto jenazah tiga orang yang diidentifikasi sebagai pegawai negeri sipil Afghanistan.

"Video-video ini menunjukkan kekerasan ekstrem, kekejaman yang memilukan, dan kejahatan perang mengerikan yang dilakukan oleh Taliban di daerah-daerah yang baru saja mereka masuki," kata kedutaan dalam sebuah pernyataan seperti dikutip ABC.net.au, Sabtu (17/7/2021).

Kedutaan mengatakan serangkaian video dan foto tersebut membuktikan bahwa Taliban tetap terikat pada "interpretasi menyimpang dari Syariah Islam".

"Perilaku Taliban dengan jelas menunjukkan visi dan ambisi mereka untuk kembalinya Emirat tanpa perbedaan apa pun dari tahun 90-an. Hak asasi manusia tidak menjadi masalah bagi mereka," katanya.

Rodger Shanahan, pakar dari Lowy Institute, mengatakan bahwa Kedutaan Besar Afghanistan di Canberra bermaksud merusak upaya Taliban untuk menampilkan dirinya sebagai entitas politik yang lebih modern dan bertanggung jawab.

"Pemerintah Afghanistan mencoba untuk menegaskan bahwa Taliban 2.0 sama dengan Taliban 1.0," katanya.

“Mereka ingin melawan pesan Taliban. Salah satu hal yang diinginkan Taliban adalah legitimasi, dan Taliban mengedepankan garis bahwa mereka tidak sama seperti sebelumnya, bahwa mereka telah berubah. Pemerintah Afghanistan sedang mencoba untuk mendapatkan dukungan diplomatik, dan memastikan bahwa pemerintah daerah yang merasa nyaman dengan Taliban yang mengambil alih kekuasaan, atau yang secara longgar mengikatkan diri dengan Taliban, juga terikat dengan kekejaman ini," imbuh dia.

Shanahan mengatakan bahwa belum jelas apakah misi diplomatik Afghanistan di negara lain mengambil langkah serupa.

"Apa yang menarik untuk dilihat adalah apakah ini adalah bagian dari kampanye yang lebih luas oleh pemerintah Afghanistan—apakah upaya ini telah diarahkan dari Kabul untuk mencoba dan memulai kampanye informasi bersama di seluruh dunia," katanya.

Diterbitkan di Berita
sindonews.com SPIN BOLDAK - Danish Siddiqui, jurnalis Reuters peraih Pulitzer, tewas pada hari Jumat ketika meliputperang sengit antara pasukan khusus Afghanistan dan gerilyawan Taliban . Petempuran pecah di dekat perbatasan dengan Pakistan.
Pejabat Afghanistan mengatakan pasukan khusus sedang berjuang untuk merebut kembali area pasar utama Spin Boldak ketika Siddiqui dan seorang perwira senior Afghanistan tewas dalam apa yang mereka sebut sebagai baku tembak dengan Taliban.

Siddiqui telah ditempatkan sejak awal pekan ini dengan pasukan khusus Afghanistan yang berbasis di provinsi selatan Kandahar dan telah melaporkan pertempuran antara pasukan khusus yang juga dikenal sebagai pasukan komando Afghanistan dan gerilyawan Taliban.
"Kami segera mencari lebih banyak informasi, bekerja dengan pihak berwenang di kawasan itu," kata Presiden Reuters Michael Friedenberg dan Pemimpin Redaksi Alessandra Galloni dalam sebuah pernyataan yang dilansir Sabtu (17/7/2021).

“Danish adalah jurnalis yang luar biasa, suami dan ayah yang setia, dan kolega yang sangat dicintai. Pikiran kami bersama keluarganya pada saat yang mengerikan ini," lanjut pernyataan mereka.
Presiden Afghanistan Ashraf Ghani mengatakan dalam sebuah pernyataan di Twitter bahwa dia sangat sedih dengan laporan mengejutkan tentang kematian Siddiqui dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarganya.

Siddiqui mengatakan kepada Reuters bahwa dia telah terluka di lengan oleh pecahan peluru sebelumnya pada hari Jumat saat melaporkan bentrokan tersebut. Dia dirawat dan gerilyawan Taliban kemudian mundur dari pertempuran di Spin Boldak.
Seorang komandan pasukan Afghanistan mengatakan Siddiqui telah berbicara dengan penjaga toko ketika kelompok Taliban menyerang lagi.

Reuters tidak dapat memverifikasi secara independen rincian pertempuran baru yang dijelaskan oleh pejabat militer Afghanistan, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya tersebut sebelum Kementerian Pertahanan Afghanistan membuat pernyataan.
Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan bahwa Taliban tidak mengetahui adanya wartawan yang melaporkan dari lokasi yang dia gambarkan sebagai "pertempuran sengit" dan tidak jelas bagaimana Siddiqui terbunuh.

Siddiqui adalah bagian dari tim fotografi Reuters yang memenangkan Penghargaan Pulitzer 2018 untuk Fotografi Feature karena mendokumentasikan krisis pengungsi Rohingya. Serangkaian karyanya digambarkan oleh komite juri sebagai foto-foto mengejutkan yang memaparkan dunia pada kekerasan yang dihadapi pengungsi Rohingya saat melarikan diri dari Myanmar.

Sebagai seorang fotografer Reuters sejak 2010, pekerjaan Siddiqui mencakup perang di Afghanistan dan Irak, krisis pengungsi Rohingya, protes Hong Kong dan gempa Nepal. Dalam beberapa bulan terakhir, foto-fotonya yang berapi-api menangkap pandemi virus corona di India telah diterbitkan di seluruh dunia.

Sementara itu, kelompok Taliban telah merebut daerah perbatasan pada hari Rabu, penyeberangan terbesar kedua di perbatasan dengan Pakistan dan salah satu tujuan terpenting yang telah mereka capai selama kemajuan pesat di seluruh negeri ketika pasukan Amerika Serikat (AS) menarik diri setelah 20 tahun konflik.
 
Data PBB tahun ini mengatakan 30 jurnalis tewas di Afghanistan antara 2018 hingga 2021. Sepuluh wartawan tewas pada 30 April 2018, termasuk sembilan wartawan dan fotografer yang tewas dalam serangan bom bunuh diri di Kabul, dan seorang wartawan yang bekerja untuk layanan BBC Afghanistan yang ditembak di kota timur Khost.
(min)
 
 
Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Taliban hari Selasa (13/7) memperingatkan bahwa jika Turki memperluas kehadiran militernya di Afghanistan, kelompok Islamis itu akan menganggap pasukan Turki sebagai “penjajah” dan akan mengobarkan “jihad” terhadap mereka.

Peringatan itu disampaikan di tengah adanya gerakan medan tempur baru yang menurut para kritikus menunjukkan bahwa Taliban sedang merencanakan pengambilalihan secara militer atas Afghanistan, yang merupakan pengingkaran janji perdamaian yang telah mereka sepakati, dan meningkatkan prospek terjadinya perang saudara besar-besaran.

Amerika Serikat telah meminta Turki untuk mengamankan bandara Kabul setelah semua pasukan Amerika dan NATO ditarik dari negara itu pada akhir bulan depan.

Turki Ingin Berperan di Afghanistan Setelah Penarikan Pasukan AS

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada hari Jumat (9/7) tanpa merinci bahwa dia telah setuju dengan Washington mengenai “ruang lingkup” terkait bagaimana mengamankan dan mengelola bandara itu.

Taliban mengutuk kesepakatan itu sebagai “tercela” dan menuntut Turki meninjau kembali keputusannya.

“Kami menganggap tetap hadirnya pasukan asing di tanah air kami oleh negara mana pun dengan dalih apa pun sebagai pendudukan. Perpanjangan pendudukan akan membangkitkan emosi kebencian dan permusuhan di dalam negara kami terhadap para pejabat Turki dan akan merusak hubungan bilateral.” Demikian bunyi pernyataan Taliban.

Keamanan dan kelancaran operasi bandara internasional Hamid Karzai di ibukota Afghanistan sangat penting untuk menjaga misi-misi diplomatik dan organisasi-organisasi asing yang beroperasi di Kabul, di mana ledakan bom Selasa (13/7) menewaskan sedikitnya empat orang.

Ratusan tentara Amerika diperkirakan akan tinggal di ibu kota Afghanistan itu untuk menjaga kompleks kedutaan besar AS di sana.

Pasukan Taliban secara dramatis memperluas kontrol teritorial mereka di Afghanistan dengan menguasai sejumlah distrik tanpa perlawanan sejak pasukan AS secara resmi mulai menarik diri dari negara itu pada awal Mei. [lt/jm]

Diterbitkan di Berita

Para pejabat senior militer dan intelijen Pakistan mengatakan kepada mereka kehilangan pengaruh atas Taliban dan membangun pertahanan perbatasan karena cemas akan meningkatnya kekerasan di negara tetangga Afghanistan setelah penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) di sana.

Hal itu dikemukakan kepada para anggota Parlemen dalam rapat tertutup yang berlangsung selama delapan jam, Kamis (1/7).

Direktur Jenderal Intelijen Antar-Layanan, Letnan Jenderal Faiz Hameed memberi pengarahan dengan panglima militer Jenderal Qamar Javed Bajwa yang siap menjawab pertanyaan.

Menurut pernyataan dari Kementerian Informasi Pakistan dan sumber-sumber VOA di dalam pertemuan itu, para pejabat itu mengatakan kepada komite parlemen bahwa Pakistan berupaya membujuk Taliban untuk merundingkan penyelesaian konflik, tetapi pengaruh negara itu berkurang.

Mereka juga mengatakan, Pakistan memagari 90 persen perbatasannya dengan Afghanistan untuk melindungi dari peningkatan kekerasan setelah pasukan AS dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty Organization/NATO) meninggalkan Afganistan.

Pakistan memperkirakan jutaan pengungsi Afghanistan akan tiba di perbatasannya jika kekerasan di Afghanistan meningkat atau situasi memburuk menjadi perang saudara. Negara ini telah menampung hampir 3 juta pengungsi, beberapa di antaranya telah tinggal Pakistan sejak 1980-an ketika Uni Soviet menduduki Afghanistan. [ps/jm]

Diterbitkan di Berita