JAKARTA, REQnews - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqiln Siraj mengatakan, ia telah menerima informasi bahwa di Indonesia saat ini, masih ada sekitar 6.000 teroris yang berkeliaran dan belum tertangkap.

Menurut Said Aqil, ribuan teroris itu sebagian besarnya adalah bagian dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). "Konon masih ada 6.000 teroris yang belum ketangkap. Saya yakin ini merupakan jaringan dari Filipina Selatan, kemudian Poso, kemudian ke mana-mana. 
 
Ini jaringan JAD," kata Said, Selasa 30 Maret 2021. Ia menjelaskan, JAD adalah kelompok yang jauh lebih berbahaya dan ekstrem ketimbang Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) yang dulu dipimpin Abu Bakar Baasyir.
 
JAD ini tak hanya menyerang non Muslim saja, namun orang-orang yang beragama Islam juga bisa menjadi target serangan atau musuh mereka, bila tak sependapat dan berbeda pandangan.

"JAT Abu Bakar Baasyir itu yang disasar nonmuslim, gereja, nonmuslim yang harus dihabisin. Kalau JAD, kita semua halal darahnya," ujar Said Aqil.

Adapun peristiwa bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, Saiq menyebut hal itu telah menambah beban bagi masyarakat yang masih berjuang melawan pandemi Covid-19.

Menurutnya, insiden itu membuktikan bahwa saat ini bahaya laten terorisme masih mengancam Indonesia.

Bahkan, Said menyebut bahaya terorisme lebih mengancam dibanding bahaya laten paham komunisme.

"Mohon maaf, saya berani mengatakan bukan PKI bahaya laten kita, tapi radikalisme dan terorisme yang selalu mengancam kita sekarang ini," kata Saiq Aqil.

Diterbitkan di Berita

Rusman H Siregar sindonews.com 

Seorang santri bertanya kepada Dr TGB Muhammad Zainul Majdi terkait maraknya terorisme. Mengapa kita harus melawan Irhabiyah atau terorisme?

TGB Muhammad Zainul Majdi atau lebih dikenal dengan Tuan Guru Bajang memberi jawaban singkat namun sangat menyejukkan hati. Berikut pesannya disiarkan melalui akun IG @tuangurubajang, Selasa (30/3/2021).

" Terorisme itu menghancurkan banyak hal baik di tengah kita. Merusak kemanusiaan, mengoyak persaudaraan, menciptakan saling curiga dan permusuhan. Bahkan bisa meredupkan cahaya kemuliaan Islam," kata Tuan Guru Bajang yang juga Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia.

Dai yang pernah menjabat Gubernur Nusa Tenggara Barat periode 2008-2018 membeberkan lima alasannya.

1. Terorisme Menghancurkan Nilai Paling Mendasar dalam Islam.
Salah satu nilai paling mendasar yang dibawa Islam adalah Insaniyah atau kemanusiaan. Allah Ta'ala berfirman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Ada (manusia)". (Al-Isra' Ayat 70)

"Apa yang dimuliakan Allah tentu tidak boleh kita hinakan," kata Tuan Guru Bajang.

2. Terorisme Menerjang Salah Satu Larangan Utama dalam Islam.
Yaitu membunuh orang yang tidak boleh dibunuh. Allah melarang membunuh orang lain tanpa hak. Berikut firman-Nya:

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۗ

"Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar..." (Al-Isra: Ayat 33)

3. Terorisme Merusak Tatanan Baik dalam Kehidupan.
Yaitu tatanan yang Allah Ta'ala ciptakan. Bumi dan kita semua yang ada di bumi telah Allah ciptakan dengan nilai-nilai baik. Allah berfirman:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا

"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan)." (Al-A'raf Ayat 56)

4. Terorisme Itu Industri Kebencian.
Artinya aksi terorisme membuat kita sesama anak bangsa saling curiga, bahkan sesama umat Islam juga. Itulah salah satu pekerjaan utama setan, memecah persatuan, membangun kebencian dan permusuhan. Allah berfirman:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ

"Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan (kebencian) di antara manusia." (Al-Isra' Ayat 53)

"Yang semula akur dan baik menjadi saling curiga dan saling membenci," kata Tuan Guru Bajang.

5. Terorisme Menjadi Pintu Fitnah Terhadap Islam.
Meledakkan bom atas nama Islam, menebar ketakutan. Sehingga membuat banyak orang menduga itu adalah Islam. Padahal Islam justru paling menentang segala bentuk permusuhan.

"Sesungguhnya para teroris justru melayani agenda orang-orang yang tidak suka terhadap ajaran Islam," kata Pimpinan Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah itu.

Berikut pesan Tuan Guru Bajang disiarkan akun NW VOICE melalui saluran Youtube, 30 Maret 2021:

(rhs)
Diterbitkan di Berita

Jakarta, Dakwah NU Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyebut bahwa ajaran Wahabi merupakan pintu masuk terorisme.

Oleh karena itu menurutnya, strategi untuk memberantas jaringan terorisme dilakukan dari benihnya atau pintu masuknya ajaran ekstremisme, yaitu ajaran Wahabi.

“Ini artinya, kalau kita benar-benar sepakat, benar-benar kita satu barisan ingin menghabisi jaringan terorisme, benihnya dong yang harus dihadapi. Benihnya, pintu masuknya yang harus kita habisi.

Apa? Wahabi, ajaran Wahabi itu adalah pintu masuk terorisme,” kata Said Aqil dalam webminar ‘Mencegah Radikalisme dan Terorisme untuk Melahirkan Keharmonisan Sosial’ yang disiarkan di YouTube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama, Selasa (30/3/2021).

Kiai Said menegaskan ajaran Wahabi itu bukan terorisme, tetapi Wahabi pintu masuk terorisme. Sebab, ajarannya dianggap ajaran ekstremisme.

“Ajaran Wahabi bukan terorisme, bukan, Wahabi bukan terorisme, tapi pintu masuk. Kalau udah Wahabi ‘ini musyrik, ini bid’ah, ini sesat, ini nggak boleh, ini kafir, itu langsung satu langkah lagi, satu step lagi sudah halal darahnya boleh dibunuh’.

Jadi benih pintu masuk terorisme adalah Wahabi dan Salafi. Wahabi dan salafi adalah ajaran ekstrem,” ujarnya.

Kemudian, Kiai Said juga meminta agar ajaran agama di perguruan tinggi bagi jurusan selain agama Islam mengutamakan pembahasan terkait akidah, syariat, dan akhlak. Serta diperbanyak penjelasan terkait akhlakul karimah.

Misalnya menolong sesama, menghormati orang tua, membantu orang lagi susah, silaturahmi, menghormati tamu dan tetangga, menengok orang sakit, menengok orang sedang berduka karena kematian, tidak boleh dengki, tak boleh hasut, tidak boleh adu domba, hoax.

“Jadi, kalau pelajaran agama disampaikan di fakultas yang bukan (jurusan) agama kemudian terulang-ulang ‘neraka, surga, kafir, sesat, musyrik, bid’ah, neraka surga’. Wah, radikal semua itu, itu bagian fakultas yang memperdalam akidah, yang memperdalam syariah,” ujarnya.

“Kalau di fakultas umum cukup hanya mengenal hanya mengajak meyakini itu yang ditekankan adalah akhlakul karimah, menghindari radikalisme yang tumbuh di perguruan tinggi jurusan teknik atau yang bukan jurusan agama.

Ini yang saya lihat kurikulum yang harus dijalankan di perkuliahan mata kuliah agama di perguruan tinggi yang bukan jurusan agama Islam,” tandasnya mengakhiri. (red)

Diterbitkan di Berita

voi.id MATARAM - Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri menangkap empat orang terduga teroris di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kabid Humas Polda NTB Kombes Artanto membenarkan informasi penangkapan empat warga terduga teroris di Kota Bima.

"Penangkapannya hari Minggu (28/3), di Kota Bima. Seiring berjalan dengan waktu kejadian (bom bunuh diri) di Makassar," kata Artanto. Kini keempat terduga teroris masih diamankan di Rumah Tahanan (Rutan) Polda NTB.

"Diamankan di Rutan Polda NTB guna pengamanan lebih lanjut," ujarnya. Terkait dengan identitasnya, Artanto hanya menyebutkan inisial mereka. Untuk asal dan lokasi penangkapannya, Artanto enggan sampaikan.

"Jadi apakah ada kaitannya dengan kelompok radikal (Jamaah Ansharut Daulah) atau sebagainya, saya tidak punya kewenangan, karena ini hasil giat dari Densus 88/Antiteror, kewenangan itu ada di Mabes Polri," kata Artanto. 

Salah satu terduga teroris yang ditangkap berinisial BU alias Gozi asal Rite, Kecamatan Ambalawi, Kabupaten Bima.

Mantan narapidana teroris ini ditangkap di Kelurahan Penatoi, Kecamatan Mpunda, Kota Bima, bersama dua anggota JAD lainnya, berinisial LA alias Guru Mudi dan MU alias Abu Zahiroh

Kemudian RAP alias Abu Ridho yang ditangkap di lokasi berbeda, yakni di Kelurahan Nae, Kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima.

Sebelum akhirnya diamankan di Rutan Polda NTB, keempatnya sempat diamankan oleh Tim Densus 88/Antiteror di Markas Komando (Mako) Brimob Detasemen Pelopor Bima.

Diterbitkan di Berita

Surabaya (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengajak tokoh-tokoh masyarakat dari lintas agama di wilayah Jawa Timur untuk bersama-sama menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam pertemuan tokoh masyarakat lintas agama dengan forkopimda Jatim bertempat di Markas Komando Daerah Militer (Kodam) V Brawijaya di Surabaya, Rabu, Mahfud mengungkapkan bahwa Jatim sebagai salah satu provinsi terbesar, dengan 40 juta lebih penduduk yang tersebar di 38 kabupaten/kota, adalah tempat berkembangbiak-nya moderasi beragama.

"Dulu moderasi beragama di wilayah Jatim dipelopori oleh KH Hasyim Asyari sebagai salah satu pendiri Nahdlatul Ulama. Bahkan, sebelum itu, Muhammadiyah juga berkembang di Jatim dan telah mengajarkan toleransi beragama," ujarnya kepada wartawan di sela pertemuan.

Diakuinya memang beberapa kali terjadi aksi terorisme di Jatim akibat pemahaman yang radikal atau menyimpang dari ajaran agamanya, namun bisa segera diatasi. "Aksi terorisme itu disebabkan oleh pemahaman yang menyimpang dari ajaran agama.

Jadi bisa muncul terorisme dari agama manapun, bukan Islam saja," ucap dia. Menko Polhukam percaya bahwa rakyat Jatim tumbuh dengan penuh toleransi, termasuk di Tanah Air yang umat beragama, khususnya Islam, di Indonesia sebenarnya sangat toleran.

"Seperti hari ini saat Pak Pangdam V/Brawijaya mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat dari lintas agama dan berbagai organisasi massa di Jatim untuk bersilaturahim dengan pemerintah, bahwa kita punya Indonesia yang harus dijaga bersama-sama," tutur-nya.

Menko Polhukam menyampaikan pertemuan dengan tokoh masyarakat dari lintas agama tersebut sekaligus untuk mengimplementasikan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 82 Tahun 2020.

"Perpres 82/ 2020 ini mengajak peran serta masyarakat untuk bersama-sama perang melawan virus Corona (COVID-19) dan pemulihan ekonomi nasional karena memang tidak bisa dilakukan sendirian oleh pemerintah," katanya.

Pewarta: Fiqih Arfani/Hanif Nashrullah
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita
Jihaan Khoirunnisaa - detikNews Jakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol. Boy Rafli Amar bersama Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi serta Deputi Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan menggelar acara silaturahmi kebangsaan dengan pengurus FKPT dan Mitra Deradikalisasi Provinsi Aceh di Banda Aceh, kemarin (24/2).

Ketua FKPT provinsi Aceh, Kamaruzaman Bustaman Ahmad menjelaskan berdasarkan riset yang dilakukan FKPT, provinsi Aceh masuk ke dalam kategori sedang menuju tinggi perihal intoleransi.

Ia kemudian merinci 4 faktor yang turut mempengaruhi hal tersebut, antara lain penyebaran berita hoax, pemanfaatan kebijakan Syariat Islam Aceh sebagai pintu masuk kelompok garis keras, isu politik yang disambungkan dengan isu agama, dan masalah regional terutama di negara-negara Asia Tenggara.

Adapun acara ini dilaksanakan untuk menampung pengalaman, masukan serta keluh kesah dari pengurus FKPT. Sekaligus melihat efektivitas program deradikalisasi BNPT. Menurutnya, radikal intoleran tidak sejalan dengan nilai-nilai bangsa dan Pancasila.

Oleh karena itu, kerja sama yang baik antara BNPT dan masyarakat perlu terjalin, guna mencegah keterpaparan terhadap paham radikal sekaligus meminimalisir potensi kekerasan dan propaganda jaringan teroris.
 
"Kedatangan ini guna menyerap informasi terkait dinamika dalam masyarakat terutama dalam hal mengantisipasi agar potensi radikal intoleran dan yang mengarah pada kejahatan terorisme bisa tidak ada lagi," ungkap Boy Rafli dalam keterangan tertulis, Kamis (25/2/2021).

Lebih lanjut, Boy Rafli memberikan apresiasi tinggi atas peran aktif pengurus FKPT Provinsi Aceh dalam mendukung upaya penanggulangan terorisme yang dilakukan BNPT.

Ia berharap, tidak hanya FKTP Provinsi Aceh, tapi juga FKPT di semua daerah dapat mengobarkan semangat kerja sama, toleransi, dan semangat persaudaraan agar tercipta Indonesia yang aman dan damai.

"Literasi digital bagi masyarakat agar menggunakan media sosial dengan bermartabat. Menjadikan nilai-nilai hukum dan nilai etika sebagai dasar menggunakan media sosial," tuturnya.

Di samping itu, ia mengatakan diskusi dan dialog dengan mahasiswa perlu dilakukan agar mereka memiliki pemahaman kebangsaan serta pandangan yang sama tentang Pancasila.

Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terpaparnya mahasiswa oleh paham radikalisme. Ia pun menyebut media sosial memiliki peran yang luar biasa dalam upaya pencegahan preventif.

(prf/ega)

 

Diterbitkan di Berita

Arfandi Ibrahim Liputan6.com, Gorontalo - Densus 88 AT Mabes Polri yang didampingi Forum Kerukunan Penanggulanan Teroris (FKPT) Provinsi Gorontalo, serta Ormas Keagamaan Muhammadiyah dan NU, bertemu Wakil Gubernur (Wagub) Idris Rahim.

Pertemuan ini merupakan tindak lanjut mengantisipasi paham radikalisme masuk di wilayah Gorontalo. Selain itu, tentunya kedatangan Tim [Densus 88 Mabes Polri]( 4416522 "") ini juga membahas tentang upaya pencegahan terorisme.

"Mengingat baru-baru ini ada 7 warga Gorontalo yang ditangkap, karena diduga terlibat paham dan aksi terorisme," kata Wakil Gubernur Gorontalo Idris Rahim.

Menurutnya, pemerintah perlu akan mengambil bagian dalam upaya pencegahan paham radikalisme dan terorisme di Gorontalo. Dengan cara menggerakkan stakeholder terkait, termasuk menggandeng Ormas keagamaan.

Sebagai daerah yang dikenal sebagai Bumi Serambi Madinah yang memiliki penduduk 97 persen beragama Islam, maka, kata Idris, patut diwaspadai ada oknum yang menyebar paham tersebut.

"Dengan tertangkapnya 7 orang teroris di Pohuwato, upaya koordinasi dengan berbagai pihak akan terus diintensifkan, agar paham radikalisme bisa teratasi,” jelas Idris.

Saat ini, upaya pemerintah sedang melokalisasi keluarga dari 7 orang terduga teroris yang ditangkap Densus 88 AT Mabes Polri di Kabupaten Pohuwato belum lama ini.

"Dengan harapan menjadikan daerah Gorontalo ini aman dan tidak terjadi lagi masalah menyangkut radikalisme dan terorisme," ia menandaskan.

Diterbitkan di Berita

Reza Gunadha | Stephanus Aranditio Suara.comDetasemen Khusus 88 Antiteror Polri mengungkapkan, kelompok teroris memanfaatkan pandemi covid-19 untuk memperkuat sumber daya untuk mempersiapkan serangan selanjutnya.

Analis Utama Intelijen Densus 88 Antiteror Polri Brigjen Pol Ibnu Suhendra mengatakan, kondisi ketidakpastian selama pandemi dimanfaatkan oleh teroris untuk menarik pengikut baru.

"Kelompok teroris melihat krisis pandemi itu sebagai peluang untuk mendapatkan lebih banyak perekrutan, dukungan, simpatisan untuk menyerang lebih keras," kata Ibnu dalam webinar The Habibie Center, Senin (22/2/2021).
 
Selain itu, momen orang-orang yang banyak menggunakan internet selama pandemi juga dimanfaatkan oleh teroris untuk menyebarkan propaganda melalui internet dibalut informasi Covid-19.

Ibnu mengungkap, modus seperti itu juga dimanfaatkan sejumlah kelompok teroris terafiliasi ISIS di Indonesia seperti Jamaah Ansharut Khilafat (JAK), Mujahidi Indonesia Timur (MIT), Al Jama'ah Al Islamiyah (JI), serta JAD, Eks Napi Teroris, dan Deportan.

"Kelompok Ansharut Khilafat (JAK) saat ini memulangkan siswanya karena corona, akhirnya mereka memanfaatkan platform online zoom untuk melaksanakan kajian," jelasnya.

Selain itu, masih ada kelompok Jama'ah Ansharut Syariah (JAS) yang pada masa pandemi, masuk ke aktivitas politik dan misi medis kemanusiaan.

"Nah sekarang banyak bencana ini, nah mereka bahu membahu dengan dalih kemanusiaan menyumbang untuk merebut simpati masyarakat, beberapa jamaah Ansharut Syariah masih melakukan suro online," ungkap Ibnu.

Bahkan, Ibnu menyebut sudah ada perintah dari pemimpin ISIS Abu Ibrahim al-Hashimi al-Quraishi kepada pengikutnya di seluruh dunia untuk melakukan aksi lebih keras di negara masing-masing.

"Dia menyampaikan lakukan serangan lebih keras di setiap negara masing-masing, nah ini yang menjadi fatwa ini menjadi dasar kelompok teror indonesia untuk melakukan aksi teror di dalam negeri," kata Ibnu.
Diterbitkan di Berita

Pengamat intelijen dan terorisme Universitas Indonesia, Stanislaus Riyanta, mendorong pemerintah untuk melibatkan masyarakat dalam menghalau penyebaran terorisme di internet. Penyebaran konten terorisme di internet melalui berbagai macam platform dinilai semakin masif.

Di samping itu, menurut Stanislaus, upaya pencegahan yang dilakukan pemerintah, mulai dari penghapusan konten dan situs yang mengandung konten terorisme, dianggap kurang efektif. Sebab pertumbuhan konten yang mengandung terorisme tumbuh sangat pesat di internet.

 

Pengamat intelijen dan terorisme Universitas Indonesia, Stanislaus Riyanta. (Foto: Dokumentasi Stanislaus)
Pengamat intelijen dan terorisme Universitas Indonesia, Stanislaus Riyanta. (Foto: Dokumentasi Stanislaus)

 

"Kominfo memang sudah menghapus (take down) situs-situs yang menyebarkan paham radikal. Tapi satu diturunkan, bisa muncul ratusan situs yang lainnya dalam waktu cepat," jelas Stanislaus Riyanta kepada VOA, Rabu (17/2).

Stanislaus menambahkan pemerintah dapat mengajak generasi milenial untuk menggarap konten tandingan di internet. Semisal konten tentang Pancasila dan nasionalisme yang lebih menarik generasi remaja sehingga tidak terpapar paham radikalisme.

Ia juga telah melakukan wawancara terhadap belasan remaja yang terpapar terorisme di internet. Sebagian besar dari mereka terpapar paham tersebut karena mengalami persoalan di keluarga. Karena itu, katanya, perlu dilakukan penguatan di tingkat keluarga dalam melakukan deteksi awal terorisme di tingkatan terkecil.

 

Seorang anggota Densus 88 berdiri di dekat bangkai mobil yang menabrak gereja di Gereja Pentakosta Surabaya Pusat (GPPS), Surabaya, 13 Mei 2018. (Foto: REUTERS/Beawiharta)
Seorang anggota Densus 88 berdiri di dekat bangkai mobil yang menabrak gereja di Gereja Pentakosta Surabaya Pusat (GPPS), Surabaya, 13 Mei 2018. (Foto: REUTERS/Beawiharta)

 

"Jadi ketika mereka bermasalah, mereka mendapatkan sesuatu di internet. Di usia mereka yang muda, mereka membutuhkan nilai dan eksistensi,” tegasnya.

Menurut Stanislaus, penyebaran konten terorisme di internet dilakukan oleh kelompok ISIS atau Jamaah Ansharut Daulah (JAD) untuk di Indonesia. Kelompok ini berbeda dengan kelompok al-Qaeda yang memiliki organisasi yang rapi dan tertutup dalam perekrutan anggota.

ISIS, katanya, cenderung oportunis, seperti memanfaatkan internet dalam penyebaran paham terorisme dan tidak mempermasalahkan keterlibatan perempuan dan anak-anak di bawah umur dalam aksi penyerangan.

Hal ini dapat dilihat pada peristiwa bom Surabaya pada 2018 di mana seorang perempuan, yang mengajak anaknya, mengambil peran utama sebagai pelaku bom bunuh diri.

 

Seorang teroris tiruan memegang senapan di dekat "warga sipil yang ditahan" dalam latihan anti-teror di markas pasukan khusus polisi di Depok, Jawa Barat, 9 Maret 2010. (Foto: REUTERS/Beawiharta)
 
 
Pemerintah Diingatkan Soal Definisi Ekstremisme

Penyebaran paham terorisme di internet, kata Stanislaus, juga membuat gerakan mereka tidak sistematis dan cenderung bergerak secara individu (lonewolf). Hal tersebut berakibat deteksi dan pencegahan terhadap potensi serangan terorisme secara individu sulit dilakukan.

"Mereka biasanya melihat konten di website-website. Setelah intens dan ada respons, mereka lebih mendalami di grup percakapan yang lebih eksklusif," tambahnya.

 

Sebelumnya, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyoroti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah melahirkan senjata baru, yaitu internet, siber dan media sosial. Menurutnya, kekuatan media sosial telah mampu menggulirkan kerusuhan di berbagai negara.

"Kekuatan medsos telah menggulirkan kerusuhan di beberapa negara, seperti Eropa, Amerika Serikat, Myanmar dan Thailand," jelas Hadi Tjahjanto dalam Rapat Pimpinan TNI tahun 2021 pada Selasa (16/2), seperti dikutip dari laman resmi tni.mil.id.

 

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto saat memberi sambutan dalam Rapat Pimpinan (Rapim) TNI 2021 di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (16/2/2021). (Foto: Courtesy/TNI)
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto saat memberi sambutan dalam Rapat Pimpinan (Rapim) TNI 2021 di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (16/2/2021). (Foto: Courtesy/TNI)

 

Ia juga menyoroti penggunaan internet untuk menyebarkan paham radikalisme dan terorisme, serta rekrutmen terhadap generasi muda dengan memanfaatkan media sosial dan menyebarkan propaganda-propaganda.

Sementara Kementerian Komunikasi dan Informatika telah memblokir dan menurunkan 16.739 konten dari media sosial dan website terkait isu terorisme pada Juli 2017 hingga Juli 2020. Konten tersebut tersebar di Facebook yang mencapai 11.600an konten, Twitter 2.282 konten, website 496 konten dan Youtube 678 konten, serta berbagi berkas (file sharing) yang mencapai 1000an. [sm/ah]

 
Diterbitkan di Berita

DAMASKUS, KOMPAS.com – Rusia dilaporkan melancarkan serentetan serangan udara di sebuah gurun di Suriah dan menewaskan sedikitnya 21 anggota ISIS.

Laporan tersebut disampaikan oleh kelompok pemantau hak asasi manusia (HAM) Syrian Observatory for Human Rights sebagaimana dilansir dari AFP, Sabtu (20/2/2021). Kelompok tersebut menambahkan, Rusia melancarkan setidaknya 130 serangan udara selama 24 jam terakhir.

Serangan tersebut menyasar guru di tepi provinsi Aleppo, Hama, dan Raqqa. Serangan itu berlanjut hingga Sabtu. Pada Jumat (19/2/2021) ISIS melancarkan serangan terhadap pemerintah dan pasukan sekutu.

Sedikitnya, delapan anggota milisi pro- suriah tewas akibat serangan itu. Dalam beberapa bulan terakhir, gurun yang dikenal sebagai Badia tersebut telah menjadi tempat pertempuran yang semakin sering.

Baca juga: Israel Lancarkan Serangan Rudal ke Suriah, Ditangkis Sistem Pertahanan Udara

Bentrokan-bentrokan itu terjadi antara anggota ISIS melawan pasukan Suriah yang didukung oleh kekuatan udara Rusia. ISIS memplokamirkan berdirinya sebuah “negara” dengan menduduki sebagian wilayah Suriah dan Irak pada 2014.

Namun, kelompok tersebut segera digempur oleh pasukan koalisi dari berbagai negara secara terus menerus. Baca juga: Pasukan AS Bantah Lindungi Ladang Minyak di Suriah Perlahan, wilayah kekuasaannya semakin menyempit dan posisi ISIS semakin terpojok.

Hingga akhirnya, ISIS dinyatakan kalah pada 2017 dan wilayah teritorialnya benar-benar habis pada awal 2019. Kendati demikian, ISIS masih memiliki sel-sel aktif dan anggotanya masih melancarkan serangan sporadis.

Di Suriah, anggota ISIS biasanya melancarkan serangan di gurun Badia, gurun yang yang membentang dari provinsi tengah Homs hingga perbatasan dengan Irak. Lebih dari 1.300 tentara pemerintah telah tewas akibat beberapa bentrokan dengan ISIS.

Selain itu, 145 anggota milisi pro-Iran dan lebih dari 750 anggota ISIS juga tewas, menurut Syrian Observatory for Human Rights. Sejak perang saudara Suriah meletus pada 2011, lebih dari 387.000 orang telah terbunuh dan jutaan orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka.

Editor : Danur Lambang Pristiandaru

Diterbitkan di Berita