Nanda Perdana Putra Liputan6.com, Jakarta - Aksi terorisme di Indonesia masih terjadi dan mereka yang bergabung dalam kelompok pelaku teror banyak pula dari kalangan anak muda. Berbagai pihak pun menegaskan terorisme bukan ajaran agama mana pun.

Ketua Program Studi Kajian Terorisme Sekolah Kajian Strategik dan Global Universitas Indonesia, Muhammad Syauqillah mengatakan teror tentunya sangat bertentangan dengan inti ajaran Islam. 

"Tidak bisa dipungkiri juga, memang pelaku teror itu rata-rata berbasis latar belakang keagamaan. Kalau di Indonesia misalnya mayoritas bergama muslim, di India dan Myanmar itu Hindu dan Budha. Dan kalau kita tengok ke negara-negara lain, memang terorisme itu tidak dimonopoli atau milik agama-agama tertentu," tutur Syauqillah dalam acara yang digelar BKN Pusat PDI Perjuangan secara virtual bertemakan Terorisme Bukan Ajaran Agama, Sabtu (8/5/2021).

Menurut dia, di Islam sendiri pengertian jihad masih banyak disalahartikan oleh pihak tertentu dan kaitkan dengan teror. Sementara, di luar negeri pun kasus serupa turut terjadi.

"Ada misalnya terorisme berbasis supremasi kulit putih, seperti yang baru-baru ini kita lihat di Amerika. Ada juga yang berbasis etnonasionalism, seperti PKK yang ada di Kurdi, Suriah atau Turki. Atau ada juga yang terkait dengan gerakan right wing atau left wing seperti yang terjadi di Amerika Latin atau negara-negara lain," jelas Syauqillah.

Syauqillah menyebut, teror sebenarnya berasal dari pemahaman agama yang keliru. Dalam Islam misalnya, banyak pihak yang menafsirkan ayat-ayat tentang perang dalam Alquran secara tekstual.

Jihad Ditafsirkan Keliru

Padahal, Indonesia adalah negara yang damai tanpa keadaan perang sedikit pun. Namun, ada kelompok yang mengembangkan narasi-narasi perang di Indonesia.

"Terkait jihad, banyak ditafsirkan secara keliru seolah berperang itu jihad. Padahal, arti jihad itu sungguh-sungguh. Jadi kalau konteks Indonesia yang damai ini bukan perang bentuk jihadnya, tetapi sungguh-sungguh menjaga kedamaian, sungguh-sungguh bekerja, sungguh-sungguh menolong terhadap sesama, itu jihad," kata Syauqillah.

"Jadi teror bukan jihad, apalagi dalam ajaran agama Islam ada intinya, yaitu menjaga kehidupan. Membunuh satu orang saja itu artinya membunuh kehidupan, membunuh umat manusia. Jadi, melakukan teror yang membunuh orang jelas menyalahi inti dari ajaran agama," sambungnya.

Dia pun berharap anak muda Indonesia dapat mengantisipasi perkembangan perekrutan anggota teroris era masa kini. Sebab, metode yang digunakan tidak saja secara offline, namun juga online.

"Jadi senjata anak muda untuk menghadapi itu adalah kritis setiap menerima informasi dari media apapun itu," Syauqillah menandaskan.

Diterbitkan di Berita

niicrisiscenter.com Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan membenarkan bahwa takfiri atau mengkafirkan orang lain di luar kelompoknya dan anti budaya kearifan lokal merupakan bibit radikalisme dan cikal bakal terorisme di Indonesia. Apapun afiliasinya, selama ada bibit radikalisme itu, mereka akan berpotensi muncul sebagai tindakan teroris. ujarnya.

Menurut Ken, dalam sistem demokrasi, mereka bebas dan dijamin undang-undang untuk berkumpul dan menyatakan pendapat, termasuk mengadakan kajian keagamaan di masyarakat.

“Para pelaku propaganda radikalisme itu juga berperan penting untuk memberi semangat pengikutnya melakukan aksi teror, apapun jenis dan bentuknya, namun yang bisa ditindak oleh aparat adalah orang atau kelompok yang sudah melakukan tindakan terorisme.

Paham radikal saja belum bisa ditindak dengan terorisme. Disinilah problem utama kita di Indonesia,” tambahnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, lemahnya hukum yang diberikan kepada aparat keamanan kita adalah mereka hanya bisa menindak manakala sudah melakukan tindakan teror.

Densus 88 menurut Ken paling hebat didunia dalam menindak pelaku terorisme, tapi densus belum bisa menindak di tingkat paham radikalnya sebelum melakukan aksi.

Kelehaman UU no 5 tentang tindak pidana terorisme adalah belum bisa menindak pahamnya, tapi tindakan atau aksi terorisme yang bisa ditindak. Tambah Ken.

“Jadi orang atau kelompok yang hanya mengkampanyekan negara Islam atau khilafah belum bisa ditindak dengan pasal terorisme, kecuali mereka yang sudah bergabung dalam kelompok dengan berbaiat dan melakukan latihan untuk persiapan terorisme, itu bisa ditindak dengan ‘preventif strike’ atau pencegahan keras, jadi sebelum melakukan aksi mereka sudah bisa ditangkap aparat,” jelas Ken.

Jadi Intoleransi dan paham radikal seperti takfiri dan anti budaya akan terus merajalela karena memang payung hukum di Indonesia belum mencakupnya. Paling bila mengarah kepada ujaran kebencian dan transaksi elektronik hanya bisa ditindak dengan UU ITE.

Sosialisasi pencegahan tertang radikalisme dan terorisme oleh kementrian dan lembaga, termasuk BNPT sudah sering digaungkan, namun menurut Ken masih kurang, ibarat menyalakan api, kita itu lilin, sementara kelompok radikal itu obor, jadi kita masih kalah masif. Jelas Ken.

Jumlah kelompok radikal tidak banyak, namun mereka 24 jam bergerak, sementara masyarakat yang moderat cenderung diam tidak merasa terancam dan membiarkannya sehingga ini akan terus menyebar dan semakin merajalela. Tutup Ken.

Diterbitkan di Berita

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah resmi menetapkan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua sebagai teroris. Atas dasar itu, penegakan hukum pun kini menggunakan Undang-Undang Terorisme.

"Kalau memang sudah digolongkan dalam kelompok terorisme tentunya menggunakan UU itu," tutur Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (3/5/2021).

Menurut Rusdi, penegakan hukum sesuai UU terorisme tidak hanya menyasar ke KKB Papua saja. Namun juga pihak-pihak yang terafiliasi dengan kelompok tersebut.

"Semua telah teridentifikasi, ada beberapa kelompok menggangu daripada rasa aman dan damai masyarakat Papua. Kelompok-kelompok ini sudah teridentifikasi oleh aparat keamanan, jadi kelompok-kelompok ini telah teridentifikasi," jelas dia.

Adapun terkait pelibatan tim Densus 88 Antiteror Polro dalam penanganan KKB Papua, lanjut Rusdi, masih dalam proses kajian staf operasi Polri.

"Ketika mereka diberikan label terorisme dikenakan UU Pemberantasan Terorisme," Rusdi menandaskan.

Pada kesempatan yang sama, dia menegaskan bahwa TNI-Polri berupaya menciptakan kedamaian di Tanah Papua dengan menjaga seluruh masyarakat yang ada. Kepada kelompok apa pun yang mengganggu, maka akan tegas diterapkan penegakan hukum.

"Prinsipnya tentunya negara tidak boleh kalah dengan kelompok-kelompok ini," tutur Rusdi.

Rusdi mengaku telah menerima informasi terkait niatan OPM yang berusaha melawan penetapan terorisme dari pemerintah. Baik dengan melaporkan ke PBB hingga bermaksud mengkampanyekan bahwa Indonesia negara teroris.

"Baru isu-isu saja kan. Yang penting sudah kita antisipasi semua, TNI-Polri dan juga dibantu dengan instansi yang lainnya. Masyarakat juga di sana berupaya menciptakan, berupaya menciptakan Papua yang damai, Papua yang aman," jelas Rusdi.

Tidak Perlu Takut

Polri menanggapi sikap dari pihak Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) yang meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan dunia internasional lainnya melakukan intervensi militer pasca pemerintah Indonesia menetapkan KKB Papua sebagai teroris.

Kadiv Humas Polri Irjen Raden Prabowo Argo Yuwono menyampaikan, masyarakat Papua tidak perlu takut dengan ancaman KKB dan organisasi lainnya, ataupun individu yang terafiliasi dengannya.

"Masyarakat di Papua tak perlu khawatir dengan keberadaan KKB. TNI-Polri akan menjaga dan mengawal warganya dalam bingkai NKRI di Tanah Papua," tutur Argo saat dikonfirmasi, Senin (3/5/2021).

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Tiga orang warga Indonesia eks napi teroris, yang pernah menjadi petempur kelompok militan ISIS di Suriah, menyadari kesalahannya dan berusaha menebusnya dengan menyebarkan narasi anti-ekstremisme di masyarakat.

Inilah kisah tiga pria asal Surabaya, Pasuruan dan Malang, Jawa Timur, yang terpapar gerakan ekstremisme yang menghalalkan kekerasan, dengan berangkat ke medan perang di Suriah dan bergabung dengan kelompok militan yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS.

Mereka terpikat menjadi 'jihadis radikal' melalui propaganda di internet, persinggungan dengan seorang perekrut ISIS, serta proses panjang dan perlahan yang membuat mereka makin terdorong ke dalam ekstremisme.

Ujungnya, atas nama persaudaraan dan, tentu saja, petulangan adrenalin, Abu Farros (nama sebutan), Wildan Bahriza, dan Syahrul Munif, meninggalkan ayah, ibu, anak dan keluarganya.

Dihadapkan kekejaman perang di Suriah, kekejian ISIS, dan perangai negatif sang perekrut, kesadaran intelektual dan ruhani, juga situasi di Indonesia, mereka akhirnya memutuskan meninggalkan Suriah.

Apa yang terjadi setelah mereka diadili dan mendekam di penjara?

Di titik mana dalam kehidupan para eks jihadis ini sehingga mereka akhirnya berhasil keluar dari ideologi kebencian?

Bagaimana mereka beradaptasi di masyarakat ketika dihadapkan adanya stigma tentang latar belakang mereka sebagai mantan napi teroris?

Berikut kesaksian tiga orang itu dalam wawancara terpisah di Surabaya dan Malang:

'Ibu yang membuka mata saya, saya bersumpah tak ulangi kesalahan'

(Abu Farros, 43 tahun, pernah ke Suriah dan berbaiat kepada ISIS, sudah bebas dari hukuman penjara, berusaha aktif kampanye melawan ekstremisme )

Abu Farros, begitu dia minta dipanggil, memiliki sahabat bernama Husni. Persahabatan itu terjalin semenjak mereka belia dan tumbuh dewasa di kawasan Ampel, Surabaya — wilayah yang didiami warga peranakan Arab dan etnis lainnya.

Keduanya kemudian berkongsi dalam bisnis jual-beli baju koko. "Saya percaya sekali dengan Husni," akunya.

Sekitar 2013, ketika Suriah diguncang perang saudara, dua sahabat ini 'terhubung' dengan apa yang terjadi di sana setelah mengonsumsi antara lain berbagai film propaganda yang beredar di media sosial.

 

Abu Farros

Abu Farros saat mendekam di penjara. "Saya tidak bisa tidur selama dua bulan, suara anak saya terus menggaung, bagaimana masa depannya..." DOKUMEN PRIBADI

 

Atas nama persaudaraan (ukhuwah) sesama muslim, Husni dan Abu suatu saat saling bertanya "apa kontribusi kita terhadap mereka" — kata 'mereka' ini merujuk kepada orang-orang atau kelompok yang melawan rezim Bashar al-Assad.

Husni, yang usianya lebih tua lima tahun, lantas mengajak Abu — kelahiran 1978 — berangkat ke Suriah untuk "memberikan bantuan khusus".

"Ada teman yang bisa mengajak kita ke sana," ujar Husni, seperti ditirukan Abu. Lalu mereka yang besar dengan tradisi Sunni ini bertemu 'teman' itu di Kota Malang. "Saya ingat pertemuannya di rumah makan sate."

Dalam perjumpaan, Salim Mubarok Attamimi — nama 'teman' itu tadi kelak dikenal sebagai Abu Jandal, anggota ISIS yang bertugas merekrut orang-orang Indonesia untuk berangkat ke Suriah — akhirnya mampu membujuk Abu dan Husni.

 

Salim Mubarok Attamimi alias Abu Jandal

Abu Jandal alias Salim Mubarok Attamimi, anggota ISIS, yang berhasil membujuk Abu Farros meninggalkan keluarganya dan berangkat ke Suriah untuk 'berjihad'. AL HAYAT

 

Keduanya kemudian diminta Salim — "kami memanggilnya Ustaz Salim," akunya — menyediakan paspor dan uang US$500. "Saya juga diminta tidak ngomong [rencana ke Suriah] kepada keluarga."

Akhirnya, pada Maret 2014, Abu Farros berangkat dari Bandara Sukarno-Hatta, Jakarta, menuju Suriah. Mereka berangkat bersama 19 orang Indonesia untuk "berjihad" di Suriah.

"Tidak ada yang saya kenal, kecuali Husni dan Salim," ungkap Abu Farros saat ditemui BBC News Indonesia di rumahnya di Jalan Ampel Kembang, Surabaya, pertengahan April 2021 lalu.

Saat itu, Salim meminta Abu dan orang-orang itu menggunakan nama samaran. "Saya memakai nama Abu Farros. Itu nama anak sulung saya, Muhammad Farros."

Setelah transit di Kuala Lumpur, Malaysia, rombongan tersebut terbang ke Istanbul, Turki dan berlanjut ke Kota Gaziantep, sebelum menyeberang ke Suriah.

Abu, Husni, dan belasan orang Indonesia ditempatkan di sebuah wilayah pedesaan di luar Kota Aleppo — situasinya mirip "desa-desa yang hancur akibat lumpur Lapindo di Sidoarjo," kata Abu Farros.

Ketika rombongan itu tiba di lokasi tujuan, ISIS dan kelompok pemberontak lainnya berusaha dan bersaing satu sama lain untuk menguasai beberapa wilayah di dekat perbatasan dengan Turki.

Tujuh tahun kemudian, Abu Farros mengeklaim kehadirannya di Suriah semata untuk menolong anak-anak yang terlantar akibat perang saudara dan berharap ditempatkan di bagian logistik atau perbaikan bangunan.

 

Abu Farros

Abu Farros (kanan) bersama pengacaranya saat acara besuk di penjara. DOKUMEN ABU FARROS

 

Faktanya, mereka saat itu mengikuti latihan militer selama dua bulan di sebuah kamp di luar kawasan pedesaan.

Dua orang warga Ampel, Surabaya itu, bersama warga Indonesia lainnya, kemudian ditempatkan di pos penjagaan yang berjarak kira-kira 500 meter dari posisi musuh.

Mereka juga dipersenjatai dan melakukan baiat (bersumpah) mendukung ISIS. "Saya pegang AK-47, tapi saya bukan petempur utama," akunya.

Dalam perjalanannya, Abu Farros menggambarkan, "situasinya mencekam, sesekali kita dihujani mortir, peluru tank."

Ketika itu pesawat-pesawat pemerintah Suriah menjatuhkan bom di berbagai kawasan yang dikuasai kelompok pemberontak.

"Saya tidak bisa tidur selama dua bulan, suara anak saya terus menggaung, bagaimana masa depannya..."

Rupanya kekejaman perang yang dia saksikan sendiri membuatnya "tidak siap". "Nah, saya mulai sadar, saya memutuskan untuk pulang [ke Indonesia]," katanya dalam wawancara.

 

Kampung Ampel, Surabaya.

Abu Farros tinggal di kawasan Ampel, Surabaya, yang sebagian penduduknya adalah warga Indonesia peranakan Arab. BBC NEWS INDONESIA

 

Setelah empat bulan berada di Suriah, Abu mengaku untuk pertama kalinya mendapat akses internet saat berkunjung ke Kota Al-Bab, kira-kira satu jam perjalanan dari kamp.

"Lewat internet, saya jadi tahu situasinya [aktivitas ISIS dan perang saudara di Suriah] seperti ini," kata bekas mahasiswa Teknik Perkapalan ITS Surabaya ini. Dia juga menjadi tahu bagaimana sikap pemerintah Indonesia tentang keterlibatan WNI di Suriah.

Dihadapkan situasi seperti itu, dia memutuskan untuk menelpon istri, ibu dan keluarganya di Surabaya.

"'Pulang, pulang'... keluarga saya menangis. Saya pun menangis. Saya menyesal kenapa saya sudah sampai sini [Suriah]." Dia kemudian bertekad bulat untuk meninggalkan Suriah.

 

Abu Farros

Abu Farros saat diwawancarai di rumahnya di kawasan Ampel, Surabaya, April 2021. "Kita berbuat baik dan bersungguh-sungguh itu jihad." BBC NEWS INDONESIA

 

Namun masalahnya, paspornya ditahan Salim Attamimi alias Abu Jandal. Dia ditanya apa alasannya pulang. "Intinya, saya tidak boleh pulang."

Di titik inilah, Abu Farros teringat ibunya. Dia meminta ibunya untuk meyakinkan Abu Jandal — pria yang membujuknya berangkat ke negeri yang luluh-lantak akibat perang saudara itu.

"Salim, Abu Farros itu punya ibu, yang mana jihad itu tidak harus ke Suriah. Bakti ke ke orang tua itu termasuk jihad," Abu menirukan suara ibunya — melalui sambungan telepon — saat membujuk Salim agar mengizinkan anaknya pulang.

Singkatnya, Abu akhirnya berhasil pulang ke Indonesia sekitar Agustus 2014, namun sahabatnya, Husni, sejak awal ragu-ragu untuk pulang, karena takut ditangkap saat tiba di Indonesia.

Setelah sampai di Surabaya, Abu Farros mengetahui sahabatnya itu meninggal akibat bom. "Sampai sekarang, saya selalu memikirkan dia." Nada suara Abu Farros terdengar sedikit bergetar.

 

Kota Aleppo

Abu, Husni, dan belasan orang Indonesia kemudian ditempatkan ke sebuah wilayah pedesaan di sekitar Kota Aleppo. (Foto: Seorang bocah perempuan berdiri di sudut Kota Aleppo, Suriah, 13 Februari 2013). BRUNO GALLARDO/AFP

 

Di hadapan ibunya, istri, anak-anaknya, dan keluarga besarnya, Abu kemudian menyadari kesalahannya bergabung ISIS ke Suriah.

Kondisi ibunya yang sakit akibat memikirkan tindakannya juga membuat "matanya terbuka". Di hadapan ibunya dia bersumpah tidak mengulangi perbuatannya. "Saya janji kepada ibu saya."

Dia masih teringat perkataan yang diulang-ulang oleh ibu dan pamannya: "Jangan berlebihan dalam bersikap, jangan aneh-aneh. Ayahmu (yang meninggal saat dia masih kuliah), keluargamu, tidak ada yang aneh-aneh."

Tiga tahun kemudian ayah tiga anak ini ditangkap Densus 88 dan divonis 3,5 tahun penjara pada 2018 di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat karena terbukti bergabung organisasi teroris ISIS.

 

Abu Farros

Kondisi ibunya yang sakit akibat tindakannya juga membuat "matanya terbuka". Di hadapan ibunya dia lantas bersumpah tidak mengulangi perbuatannya. "Saya janji kepada ibu saya." BBC NEWS INDONESIA

 

Dia hanya menjalani hukuman 2,5 tahun penjara, karena mendapatkan pembebasan bersyarat setelah menyadari kesalahannya di masa lalu dan menyatakan setia kepada NKRI.

"Ketika di dalam penjara, saya bertambah sadar bahwa setiap perbuatan, pasti ada pertanggungjawabannya," ungkapnya. Dia kemudian mengikuti program deradikalisasi.

Pada 29 Mei 2020, Abu Farros menghirup udara bebas dan dia mengaku sepenuhnya sudah berubah.

"Islam itu rahmatan lil alamin, tidak meneror. Islam itu memberikan akhlak. Jadi dakwah itu bisa lewat akhlak (berbuat baik), bukan lewat yang lain-lain," ujarnya.

Dia juga menerima Pancasila sebagai dasar negara dan semua aturan hukum yang berlaku di Indonesia. Dan perlahan-lahan dia pun menekuni lagi bisnis baju koko yang dulu digelutinya.

 

Kota Aleppo

Pasangan suami-istri menyaksikan upaya evakuasi tim penolong di tengah reruntuhan akibat serangan bom di sudut Kota Aleppo, Suriah, 28 April 2014. ZEIN AL-RIFAI/AFP

 

Ketika saya bertanya apakah statusnya sebagai eks napi teroris menganggu aktivitas bisnisnya, Abu tak memungkiri. "Saya agak minder."

Dan, kebetulan rekanan bisnisnya beragama Kristen. Dia awalnya merasa rekanannya itu "lebih bersikap hati-hati" terhadap dirinya. Namun ketakutannya itu, ternyata, terlalu berlebihan.

Buktinya, "saya tetap dihutangi lagi, karena saya baik dengan dia, dan dia baik dengan saya." Abu Farros tertawa kecil.

"Kalau saya tidak menghormati mereka [rekanannya yang beragama Kristen], ngapain saya harus bayar hutang. Kewajiban saya [untuk bayar hutang] tetap kewajiban saya," katanya, memberikan contoh.

Namun tiba-tiba, sambil menarik napas panjang, Abu menyinggung nasib anak-anaknya. Dia sangat berharap apa yang terjadi pada dirinya tidak dialami oleh tiga anaknya. "Kasihan mereka."

Kepada anak bungsunya yang masih kanak-kanak, dia menutupi 'aktivitasnya' di masa lalu. "Saya bilang abi (ayah) mondok."

Sebaliknya dia menjelaskan lebih terbuka kepada anak sulungnya, Farros dan adiknya, bahwa ayahnya pernah dipenjara. Kebetulan anak pertamanya yang berusia 15 tahun itu pernah membesuknya di penjara.

Saat wawancara, dia lalu mengutarakan rencananya bersama eks napi terorisme lainnya, Syahrul Munif, untuk mendirikan organisasi Fajar Ikhwan Sejahtera.

 

Setia NKRI

Napi teorisme mengucap ikrar setia kepada NKRI di aula Sahardjo, Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (15/04). ARIF FIRMANSYAH/ANTARA FOTO

 

Mereka menginginkan organisasi itu kelak dapat membantu para eks napi terorisme supaya "memiliki kesibukan dan tidak lagi berpikir aneh-aneh... Juga agar negara peduli kepada mereka."

Belajar dari pengalamannya dulu, dia berujar kepada siapapun agar tidak menelan mentah-mentah informasi yang beredar di media sosial. "Harus benar-benar dipahami. Jangan sampai setelah berbuat, menyesali."

Termasuk memaknai jihad? Tanya saya. "Jihad itu artinya sungguh-sungguh. Kita berbuat baik dan bersungguh-sungguh itu jihad."

Jadi, apa jihad Anda sekarang? "Mengayomi keluarga sebagai kepala rumah tangga dan bertanggungjawab, itu namanya jihad."

'Saya insaf, setelah tahu perangai pendukung ISIS tak sesuai ucapannya'

(Wildan bin Fauzi Bahriza, ikut bertempur bersama ISIS di Suriah, menyadari kesalahannya dan kini mengampanyekan perdamaian)

Wildan Fauzi Bahriza masih berusia 22 tahun ketika bergabung dengan kelompok militan ISIS di Suriah pada Juni 2013 lalu.

Dia merupakan salah-satu generasi pertama dari Indonesia yang berangkat 'berjihad' ke negara itu.

"[Di usia muda] Semua orang pasti pernah merasakan bagaimana mengutamakan adrenalin daripada berpikir jernih," katanya kepada BBC News Indonesia, pertengahan April lalu. Kami menemuinya di pondokannya di pinggiran Kota Malang.

 

Wildan Bahriza

Wildan Bahriza berpose di depan kamera dari balik terali besi — saat masih dipenjara. DOKUMEN WILDAN BAHRIZA

 

Hal itu dia utarakan ketika saya bertanya apakah saat itu dia tidak menyadari kompleksitas di balik perang saudara di Suriah.

"Semangat itu meluap-luap, apapun akan aku lakukan untuk mencapai target itu," tambah sarjana strata satu bidang informatika di sebuah perguruan tinggi swasta di Malang, Jatim ini.

Pria kelahiran Pasuruan, 17 Juni 1991 ini nekad berangkat ke Suriah setelah bertemu anggota ISIS asal Pasuruan dan tinggal di Malang, Abu Jandal.

Sepekan kemudian dia berangkat ke negara yang saat itu dilanda perang saudara. "Sesederhana itu malah."

Selain dorongan adrenalin, anak kelima dari enam bersaudara asal kota kecil Bangil, Jatim, ini mengaku semenjak kecil gampang tersentuh ketika bersentuhan dengan isu kemanusiaan.

 

Wildan Bahriza

Wildan Bahriza (tengah) — saat berada di dalam penjara — bersama dua orang petugas lembaga pemasyarakatan. DOKUMEN WILDAN

 

Dalam situasi seperti itu, Wildan mendapat informasi — yang sangat mungkin tidak utuh alias sepihak — seputar konflik Ambon, perang Afghanistan, Irak, hingga Suriah.

Dan mirip yang dialami eks napi teroris lainnya, yaitu Abu Farros, Wildan mengaku 'terpanggil' untuk berangkat ke Suriah atas nama persaudaraan sesama muslim.

"Rentetan peristiwa itu yang membuat aku ingin membantu mereka [di Suriah], setidaknya aku ingin berguna," katanya.

Dari mana Anda mengetahui kondisi di Suriah, saat itu? Tanya saya. Wildan tidak memungkiri dia mendapatkannya dari media sosial.

"Aku melihat video-video anak-anak kecil yang kehilangan orang tuanya."

 

Wildan Bahriza

Wildan Bahriza (tengah, berkacamata) bersama petugas lembaga pemasyarakatan dan anggota polisi. DOKUMEN WILDAN

 

Setelah tiba di Suriah pada September 2013, Wildan dan sekitar sembilan orang WNI — di antaranya Abu Jandal, yang merekrutnya — dikirim ke kamp militer, dua pekan kemudian. Mereka dipersenjatai.

"Dan kami ditaruh di front-front pertempuran," akunya. Jadi Anda ikut bertempur? Tanya saya. "Iya."

Ketika itu Wildan mengaku nyaris dimasukkan dalam rombongan 'bom syahid' alias bom bunuh diri. Dia mengaku sudah dikarantina, namun akhirnya batal.

Belakangan dia mengaku dipindahkan ke rumah sakit untuk menjadi petugas evakuasi. "Ini sesuai keinginanku [menjadi petugas medis]," akunya.

Selama bertugas di rumah sakit, Wildan mengaku menyaksikan anak-anak dan warga sipil yang menjadi korban kekejaman perang saudara.

 

Wildan Bahriza

"Tunjukkan dengan akhlak (berbuat baik), jangan balas dengan keburukan," Wildan mengutip ulang nasihat orang tuanya. Perkataan ini pula menguatkan dirinya untuk berubah. (Foto Wildan Bahriza saat diwawancarai pada pertengahan April 2021).

 

"Sampai sekarang, saya kesulitan tidur, saya selalu terbayang-bayang apa yang saya saksikan," Wildan menerawang, lalu menarik napas panjang. Matanya terlihat basah.

Dihadapkan situasi yang tidak terbayangkan itu, pada awal 2014, Wildan memutuskan kembali ke Indonesia dengan sikap ekstrim yang belum sepenuhnya berubah.

Dua tahun kemudian dia ditangkap Tim Densus 88, setelah sempat menikahi perempuan asal Indramayu, Jawa Barat, setahun sebelumnya.

Dia divonis bersalah karena terlibat organisasi teroris ISIS dan dihukum lima tahun penjara.

 

Aleppo

Dua orang dari kelompok pemberontak sedang berbincang dengan sebuah keluarga yang terjebak di lokasi pertempuran di pinggiran Kota Aleppo, Suriah, 5 Januari 2013. Mereka menunggu kabar ayahnya tak tak kunjung kembali. MAURICO MORALES/AFP

 

Di dalam penjara, Wildan semula menolak melakukan ikrar kesetiaan pada NKRI, karena dia mengaku "diancam keselamatannya oleh beberapa napi teroris ISIS".

Namun dia kemudian mengalami titik balik — melakukan ikrar setia kepada NKRI dan mengikuti program deradikalisasi — setelah mengetahui para pengancamnya itu disebutnya "akhlak dan sikapnya bertentangan jauh dengan apa yang diucapkannya."

Akhirnya dia mendapatkan remisi dan hukumannya diubah menjadi tiga tahun sembilan bulan. Dia dibebaskan pada 2 Oktober 2019.

Dalam wawancara, Wildan menyebut peran orang tuanya yang "sangat luar biasa" saat dirinya berada di titik nol dalam kehidupannya — mendekam di balik terali besi.

 

Aleppo

Zakia Abdullah, warga Distrik Tariq Al-Bab, Aleppo, duduk termenung di lokasi reruntuhan gedung yang hancur akibat perang, 23 Februari 2013. PABLO TOSCO/AFP

 

"Tunjukkan dengan akhlak (berbuat baik), jangan balas dengan keburukan," Wildan mengutip ulang nasihat orang tuanya. Perkataan ini pula menguatkan dirinya untuk berubah.

Ketika diberi kesempatan untuk membagikan pengalamannya keluar dari jeratan gerakan ekstrim di berbagai acara diskusi, Wildan selalu menyisipkan pentingnya memelihara kedekatan dengan orang tua.

Hal penting lainnya yang sering dia utarakan adalah menyadari pentingnya perdamaian. "Jadi selagi diberi nikmat perdamaian, kenapa kita harus berperang."

Wildan juga mengoreksi konsep 'jihad' yang dulu disebutnya identik dengan perang. Dia memahami jihad itu "banyak pintunya", di antaranya membantu fakir miskin dan anak-anak yatim yang terlantar.

 

Wildan Bahriza

Wildan saat ini bekerja sebagai tenaga kontrak fotografer dan videografer di Dinas Koperasi dan Perdagangan di Kota Malang. BBC NEWS INDONESIA

 

"Apalagi di negara kita banyak fakir miskin," ungkapnya. Kini Wildan aktif membantu memasarkan produk makanan sebuah yayasan yatim piatu di Malang.

Kritikan juga dia sampaikan kepada aliran-aliran di dalam kelompok Islam tertentu yang disebutnya "terlalu ekstrim". "Misalnya suka mengkafirkan sesama muslim. Saya pun dikafirkan juga."

"Mungkin itu yang memicu radikalisme yang begitu kuat karena kesalahan pemikiran seperti itu," kata Wildan. "Padahal Islam itu agama yang rahmat, dan tidak ada yang mengekstrimkan seperti itu."

Dia berharap nantinya dapat memiliki yayasan sendiri untuk membantu para yatim piatu yang terlantar.

"Karena semakin banyak berinteraksi dengan anak-anak itu membuat saya semakin merasa tenang," ujarnya.

Saat ini Wildan memulai menekuni aktivitas baru sebagai fotografer dan videografer di Kantor Dinas Koperasi dan Perdagangan Kota Malang.

"Yang lalu biarlah berlalu, case closed, aku sekarang membangun kehidupan yang baru."

'Kamu harus pulang, ayah-ibumu tak restui 'jihadmu' ke Suriah'

(Syahrul Munif, kelahiran 1982, bergabung ISIS di Suriah, dan setelah bebas dari penjara aktif menyuarakan nilai-nilai anti-radikalisme)

Dalam rentang sekitar tujuh tahun, Syahrul Munif, 39 tahun, yang dulu berangkat 'berjihad' ke medan perang Suriah dengan bergabung ISIS, dapat berubah seratus delapan puluh derajat.

Kini pria kelahiran Juli 1982 ini berulang-ulang menyebut ISIS sebagai "virus yang merusak citra Islam" — hal yang diakuinya tak "terpikirkan" saat dia bersumpah mendukung ISIS tujuh tahun silam.

Saya lantas bertanya kepada Syahrul — lulusan strata satu Fakultas Hukum di sebuah perguruan tinggi swasta di Malang — perihal bagaimana dia bisa berubah dalam rentang tujuh tahun.

 

Syahrul Munif

Syahrul Munif saat diwawancarai pada pertengahan April 2021: "Saya tidak ingin generasi setelah saya itu akan lahir 'Syahrul-Syahrul yang salah' seperti saya." BBC NEWS INDONESIA

 

Berubah dalam artian, misalnya saja, dia tidak lagi menganggap jihad itu harus mengangkat senjata atau tentang ketegasan sikapnya yang menolak konsep kekhalifahan.

"Saat di dalam penjara saya mulai berpikir," ujarnya dalam wawancara dengan BBC News Indonesia di rumah kontrakannya di Singosari, Malang, pertengahan April 2021 lalu.

Selama mengikuti program deradikalisasi yang disponsori pemerintah Indonesia, mantan aktivis dakwah kampus ini mengaku "banyak belajar" tentang konsep keislaman secara lebih luas.

"Termasuk jihad di Indonesia seharusnya seperti apa, jihad sesungguhnya menurut syariah seperti apa," ungkapnya.

Lalu, apa yang terjadi pada Anda ketika disuguhi video-video propaganda tentang apa yang terjadi di Suriah oleh Abu Jandal alias Salim Mubarok Attamimi, sehingga nekad ke Suriah? Saya bertanya lagi.

"Saya tidak berpikir ke sana," jawab Syahrul, mencoba menggambarkan apa yang ada di benaknya, saat itu.

Dia menyebut posisinya saat itu sebagai murid yang "mencari ilmu" kepada Salim yang disebutnya sebagai ustaz alias guru.

"Dan saat itu, saya percaya kepadanya, berprasangka baik saja" — termasuk isi video itu.

 

Syahrul Munif

Syahrul Munif (nomor dua dari kanan) saat acara pengenalan produk bisnisnya. "Saya anggap itu dakwah saya. Bentuk koneksi jihad saya sudah berubah. Itu cocok buat di Indonesia yang merupakan negara damai," ungkapnya. DOKUMEN ARIF BUDI SETYAWAN

 

Mirip yang dialami Abu Farros dan Wildan, Syahrul juga menggunakan alasan persaudaraan sesama muslim dan alasan kemanusiaan yang membuatnya "berpikir sempit" untuk memberi penguatan makna jihadnya saat itu.

"Mungkin pikiran saya saat itu sempit dan berpikir, pokoknya saya bisa menolong dan bisa berarti bagi saudara-saudara saya di Suriah," katanya.

Kalimat inilah yang mengantarkannya dalam perjalanan berisiko dan berbahaya ke medan perang di Suriah pada Maret 2014.

Demi tujuan 'jihad' itulah Syahrul saat itu membohongi ibu dan ayahnya, dengan mengatakan bahwa kepergiannya itu untuk umroh dan ambisi belajar agama di Arab Saudi.

 

Napi terorisme

Narapidana tindak pidana terorisme mencium bendera Merah Putih usai mengucap ikrar setia kepada NKRI di Aula Sahardjo, Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (15/04). ARIF FIRMANSYAH/ANTARA FOTO

 

Kepada istrinya, Syahrul hanya bercerita sekilas tentang rencana kepergiannya. Sang istri saat itu sudah mengingatkannya bahwa dirinya harus bertanggungjawab untuk membesarkan dua anaknya yang masih kecil.

Syahrul dan Abu Farros terbang ke Malaysia dan bertemu beberapa orang lainnya, sebelum terbang ke Turki dan akhirnya melintasi perbatasan menuju "penampungan" di Kota Tell Abyad, Suriah.

Setelah mengikuti latihan militer oleh ISIS di Kota Raqqa selama 25 hari, mereka kemudian ditempatkan di lokasi "perbatasan" dengan Kota Aleppo.

Dalam perjalanannya, Syahrul mengaku mulai bimbang atas pilihan 'jihadnya' ke Suriah, setelah mengetahui ada peristiwa deklarasi kekhalifahan apa yang disebut sebagai Negara Islam.

 

Terorisme

Personel kepolisian bersenjata berjaga di depan Gedung Mabes Polri, Jakarta, Kamis (01/04/2021). APRILLIO AKBAR/ANTARA FOTO

 

"Pemahaman saya khilafah itu rujukan seluruh muslimin di seluruh dunia, tahu-tahu kok ISIS deklarasikan khilafah. Ini menurut saya terburu-buru dan prematur," katanya belakangan.

Syahrul mengeklaim dirinya mulai sedikit berubah setelah mengetahui perangai Abu Jandal yang dianggapnya mulai memurtadkan kelompok Islam lainnya.

"ISIS kok seperti itu," ujarnya. Belum lagi informasi yang dia terima praktek kekejaman ISIS terhadap tawanan perang.

"Saya mendengar di alun-alun kota itu ada kepala-kepala [manusia] yang dipajang di pagar," katanya. Pada titik inilah, katanya tujuh tahun kemudian, dia memutuskan untuk segera meninggalkan Suriah.

Apakah sebelum Anda berangkat ke Suriah tidak menyadari hal itu, saya bertanya. Syahrul dulu mengaku 'mengidealkan' ISIS. "Tapi itu sebelum saya lihat faktanya saat di Suriah."

 

Syahrul Munif

"Kalau salah sebut virus takfiri mulai kelihatan dan neo-khawarijnya sudah kelihatan, itu yang membuat saya berpikir bahwa ISIS itu virus bagi umat Islam," katanya. BBC NEWS INDONESIA

 

Selama berproses mengikuti program deradikalisasi di dalam penjara itulah, Syahrul kemudian menyimpulkan bahwa "ISIS sudah melenceng dari konsep keislaman".

"Kalau salah sebut virus takfiri mulai kelihatan dan neo-khawarijnya sudah kelihatan, itu yang membuat saya berpikir bahwa ISIS itu virus bagi umat Islam," katanya.

Namun momen puncak yang menguatkan tekadnya untuk meninggalkan Suriah adalah saat dia memberanikan diri menelpon keluarga besarnya.

"Orang tua saya sangat terpukul ketika mengetahui saya berbohong untuk pergi ke Suriah, dan saudara-saudara saya bilang 'mas, pokoknya kamu harus pulang, karena umi dan aba tidak merestui kepergian mas'," katanya.

Pada momen itulah, dia merasa sangat berdosa. "Andaikata saya mati di Suriah, dan orang tua tidak merestui, itu sangat berdosa," tambahnya.

 

Pengungsi Suriah.

Warga Kota Raqqah, Suriah, melarikan diri untuk menghindari peperangan, dengan menunggu di perbatasan Turki-Suriah, 18 September 2014. HALIL FIDAN/GETTY

 

Itulah sebabnya, masih dalam tahun yang sama, Syahrul akhirnya memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan berhasil.

Tiga tahun kemudian, yaitu pada 2017, Syahrul ditangkap oleh Densus 88 atas keterlibatannya bersama ISIS di Suriah. Dia divonis tiga tahun penjara dan dibebaskan pada 2019 setelah mendapat remisi.

Dalam wawancara, kehadiran ayah dan ibunya disebutnya sebagai faktor paling penting yang membuatnya menyadari kesalahannya bergabung dengan ISIS di Suriah.

"Keajaiban itu saya kira dari doa orang tua yang senantiasa mendoakan saya," katanya. Dia meyakini doa orang tua lah yang membuatnya berhasil kembali ke Indonesia.

 

Syahrul Munif

Setelah menghirup udara bebas, Syahrul (kiri) menjalankan bisnis yaitu menjual permen buah dan mendistribusikan lembar kerja siswa (LKS). BBC NEWS INDONESIA

 

Dan dua tahun setelah menghirup udara bebas, Syahrul belum menceritakan masa lalunya itu dengan tiga anaknya yang masih kecil. Kelak saat mereka sudah dewasa, Syahrul akan mengungkapkannya — tanpa menutup-nutupinya.

"Paling tidak setiap orang pernah melakukan kesalahan, barangkali abi (ayah) dulu pernah salah dengan berangkat ke sana [Suriah], dan abi sudah berusaha memperbaiki diri, dan bahkan mendidik anak-anak untuk hati-hati melangkah, supaya tidak seperti abi," kata Syahrul.

Saat ditemui BBC News Indonesia, Syahrul sedang menjalankan bisnisnya yaitu menjual permen buah dan mendistribusikan lembar kerja siswa (LKS).

"Saya anggap itu dakwah saya. Bentuk koneksi jihad saya sudah berubah. Itu cocok buat di Indonesia yang merupakan negara damai," ungkapnya.

Dari sisi pemahaman keislaman, Syahrul mengaku memperluas 'pergaulannya' dengan para ulama yang selama ini 'di luar' pemahamannya dulu tentang Islam.

"Yaitu ulama yang memiliki wawasan lebih longgar, luas dan luwes, karena Islam ternyata mengajarkan seperti itu," katanya.

 

Aksi menolak terorisme.

Seorang peserta aksi menolak aksi terorisme — tergabung Forum Rakyat Bersatu — memegang bunga saat aksi solidaritas di depan Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (04/04). ABRIAWAN ABHE/ANTARA FOTO

 

Ketika saya bertanya apakah dirinya mengalami stigma dari masyarakat terkait status eks napi teroris yang dilekatkan padanya, Syahrul tidak terlalu memusingkannya.

Dia ingin menunjukkan kepada siapapun bahwa dirinya adalah "orang baik" dengan membuktikan dengan dakwahnya sekarang yang disebutnya lebih humanis.

"Itu semua akan menjawab dari sebuah stigma, dan itu akan hilang dengan sendirinya, yaitu dengan kita tunjukkan dengan amal nyata yang lebih baik," ujar Syahrul.

Saat ini Syahrul sedang menyelesaikan sebuah buku yang isinya tentang pengalamannya selama ini yang diharapkannya dapat bermanfaat bagi masyarakat. Dia juga rajin membagikan pengalamannya di berbagai kampus dan sekolah.

"Saya tidak ingin generasi setelah saya itu akan lahir 'Syahrul-Syahrul yang salah' seperti saya," tandasnya.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, Dakwah NU Katib Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Zulfa Mustofa menyebut penganut paham Salafi dan Wahabi hanya berjarak selangkah dari terorisme.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut banyak pelaku terorisme di Indonesia berpaham Wahabi dan Salafi.

Menurutnya, Salafi dan Wahabi memegang doktrin al-wala wal-bara atau ajaran kawan dan lawan. Konsep itu memiliki keyakinan hanya pemahaman Islam versi mereka saja yang benar, sementara yang lain salah.

“Di sana ada konsep Al-Wala Wal-Bara. Konsep ini memposisikan orang itu dia harus mencintai seseorang yang satu paham, dan memusuhi orang yang tak sepaham,” kata Kiai Zulfa dikutip CNNIndonesia, Jumat (30/4).

Kiai Zulfa menjelaskan doktrin tersebut membuat pengikut Salafi dan Wahabi mudah memusuhi atau mengkafirkan orang lain. Bahkan sesama umat Islam sendiri yang tak sepaham dengan ajaran tersebut bisa dimusuhi.

Tak jarang, Wahabi dan Salafi turut memusuhi orang yang dianggap tak mengerti sunah, seperti tak memelihara jenggot dan memusuhi orang yang dianggap mengerjakan bidah.

Doktrin itu pula, kata Kiai Zulfa yang membuat Wahabi-Salafi dekat atau selangkah lagi menuju terorisme.

“Itu dalam ajaran mereka ini orang pelaku bidah lebih berbahaya dari orang kafir. Itu jelas sudah menanamkan permusuhan dan kebencian,” jelasnya.

“Itu selangkah lagi masuk dalam terorisme. Karena sudah ditanamkan kebencian dan permusuhan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Kiai Zulfa mengkategorikan paham Wahabi-Salafi dekat dengan paham kaku dalam memahami teks. Meski demikian, tak jarang dari mereka yang masih memiliki sisi ‘moderat’ dalam beragama. “Tapi umumnya kaku,” kata dia.

Sebelumnya, Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Ahmad Nurwakhid mencatat bahwa kebanyakan teroris yang ditangkap merupakan pemeluk Islam serta memiliki latar belakang paham keagamaan wahabi dan salafi yang jihadis.

Meski begitu, Ahmad menegaskan tak semua pemeluk wahabi dan salafi memiliki ideologi sebagai teroris. Ia menyatakan masih banyak pemeluk wahabi dan salafi yang menjalankan perintah agama sesuai ketentuan yang berlaku dan tak menyimpang.

“Mereka semua, mohon maaf dengan segala hormat, mereka bermahzab salafi wahabi. Yang kita tangkap ini salafi wahabi jihadis, yang jadi kombatan,” kata Ahmad. (red)

Diterbitkan di Berita

Elshinta.com - Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan menjelaskan alasan pengacara tidak bisa menjenguk Munarman setelah tiga hari ditangkap dan ditahan di Rutan Narkoba Polda Metro Jaya, karena terlibat kasus terorisme.

Ramadhan dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Jumat mengatakan penanganan kasus terorisme berbeda dengan kasus pidana umum lainnya.

"Terkait tidak boleh dijenguk bahwa penyidikan kasus terorisme itu berbeda hukum acara pidana-nya dengan kasus biasa," ujar Ramadhan.

Menurut dia saat ini penyidik mempunyai waktu untuk mendalami kasus Munarman. Dalam menelusuri kasus-kasus tersebut membutuhkan konsentrasi penyidik ingin fokus terhadap kasus tersebut.

"Jadi saya jawab alasannya karena hukum acara pidana kasus terorisme itu berbeda," kata Ramadhan.

Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap mantan petinggi FPI tersebut, Selasa (27/4) di rumahnya di kawasan Pamulang, Tengerang Selatan.

Munarman diduga menggerakkan orang untuk melakukan tindak pidana terorisme, bermufakat jahat untuk melakukan tindakan terorisme dan menyembunyikan informasi tentang tindak pidana terorisme.

Saat ditanya keterlibatan Munarman dalam peristiwa teror apa, Ramadhan menjelaskan, keterlibatannya adalah aksi terorisme.

Terkait di mana lokasi teror yang dilakukan Munarman, sedang didalami oleh Densus 88 Antiteror Polri.

"Mungkin sebelumnya ada peristiwa-peristiwa itu di daerah a, b, c, itu sedang dilakukan pendalaman. Tentunya, penyidik Densus akan melakukan penyelidikan dan penyidikan secara profesional dan kita tunggu saja apa hasilnya nanti," tutur Ramadhan.

Diterbitkan di Berita

TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Umum Partai NasDem Ahmad Ali mengatakan NasDem dan Partai Keadilan Sejahtera berkomitmen menjadikan Pancasila sebagai ideologi bangsa dan menjaga kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini disampaikan Ali seusai pertemuan antara DPP NasDem dan PKS pada Jumat petang, 30 April 2021.

"Partai Nasdem dan PKS sepakat apa pun perbedaan yang terjadi tapi kami akan tetap berkomitmen konsisten menjadikan Pancasila sebagai ideologi bangsa dan kemudian tetap menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata Ali seusai pertemuan di Akademi Bela Negara NasDem, Pancoran, Jakarta Selatan.

Ali mengatakan NasDem juga setuju untuk tak memberi tempat bagi radikalisme di Tanah Air. Dia berujar tak ada tempat bagi penganut radikalisme di Indonesia yang menganut demokrasi.

"NasDem dan bersama-sama (PKS) bersepakat untuk memerangi paham-paham radikal dan teroris," kata Ali.

Ketua Fraksi Partai NasDem di Dewan Perwakilan Rakyat ini mengakui setiap partai memiliki tujuan dan kepentingan masing-masing, termasuk NasDem dan PKS. Namun dia berpendapat perbedaan itu bisa dipertemukan lewat dialog yang terus-menerus dilakukan.

Kalaupun tak ada titik temu, ujarnya, setidaknya kedua partai dapat memahami posisi masing-masing.

"Perbedaan yang terjadi antara Partai Nasdem dan PKS insya Allah bisa akan terus-menerus bisa dicairkan titik temunya, paling tidak kita bisa saling memahami ketika perbedaan itu tidak bisa dipertemukan," ucap Ali.

Ali mengatakan pertemuan petang ini merupakan kunjungan dari PKS yang memang berkeliling menemui pimpinan partai-partai politik dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, PKS memang diketahui sudah bertemu dengan Partai Persatuan Pembangunan, Partai Demokrat, PDI Perjuanganz Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Golkar.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Katib Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Zulfa Mustofa menyebut penganut paham Salafi dan Wahabi hanya berjarak selangkah dari terorisme.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut banyak pelaku terorisme di Indonesia berpaham Wahabi dan Salafi.

Menurutnya, Salafi dan Wahabi memegang doktrin al-wala wal-bara atau ajaran kawan dan lawan. Konsep itu, kata dia, memiliki keyakinan hanya pemahaman Islam versi mereka saja yang benar, sementara yang lain salah.

"Di sana ada konsep Al-Wala Wal-Bara. Konsep ini memposisikan orang itu dia harus mencintai seseorang yang satu paham, dan memusuhi orang yang tak sepaham," kata Zulfa kepada CNNIndonesia.com, Jumat (30/4).

Zulfa menjelaskan doktrin tersebut membuat pengikut Salafi dan Wahabi mudah memusuhi atau mengkafirkan orang lain. Bahkan sesama umat Islam sendiri yang tak sepaham dengan ajaran tersebut bisa dimusuhi.

Tak jarang, kata dia, Wahabi dan Salafi turut memusuhi orang yang dianggap tak mengerti sunah, seperti tak memelihara jenggot dan memusuhi orang yang dianggap mengerjakan bidah.

Doktrin itu pula, kata Zulfa yang membuat Wahabi-Salafi dekat atau selangkah lagi menuju terorisme.

"Itu dalam ajaran mereka ini orang pelaku bidah lebih berbahaya dari orang kafir. Itu jelas sudah menanamkan permusuhan dan kebencian," kata Zulfa.

"Itu selangkah lagi masuk dalam terorisme. Karena sudah ditanamkan kebencian dan permusuhan," tambahnya.

Lebih lanjut, Zulfa mengkategorikan paham Wahabi-Salafi dekat dengan paham kaku dalam memahami teks. Meski demikian, tak jarang dari mereka yang masih memiliki sisi 'moderat' dalam beragama. "Tapi umumnya kaku," kata dia.

Sebelumnya, Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Ahmad Nurwakhid mencatat bahwa kebanyakan teroris yang ditangkap merupakan pemeluk Islam serta memiliki latar belakang paham keagamaan wahabi dan salafi yang jihadis.

Meski begitu, Ahmad menegaskan tak semua pemeluk wahabi dan salafi memiliki ideologi sebagai teroris. Ia menyatakan masih banyak pemeluk wahabi dan salafi yang menjalankan perintah agama sesuai ketentuan yang berlaku dan tak menyimpang.

"Mereka semua, mohon maaf dengan segala hormat, mereka bermahzab salafi wahabi. Yang kita tangkap ini salafi wahabi jihadis, yang jadi kombatan," kata Ahmad.

(rzr/bmw)

Diterbitkan di Berita

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan meminta jajaran Kepolisian Republik Indonesia (Polri) meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan adanya aksi teror setelah penangkapan eks Sekertaris FPI Munarman. 

Aksi teror, terkhusus yang dilakukan seorang diri atau Lone Wolf, bisa saja terjadi mengingat Munarman memiliki cukup banyak simpatisan.

"Aparat juga harus meningkatkan kewaspadaan, sebab penangkapan Munarman dapat memicu jaringan teror lone wolf. Simpatisan Munarman cukup banyak di Indonesia," ujar Ken saat dihubungi Tribunnews.com, Selasa (27/4/2021) malam.

Namun Ken lebih menekankan agar aksi terorisme yang dilakukan oleh para Lone Wolf lebih diwaspadai.

Para Lone Wolf yang biasanya tidak memiliki kelompok, lanjut Ken, keberadaan dan kegiatannya justru sering kali luput dari perhatian aparat keamanan.

"Kalau yang bergabung ke kelompok seperti JI dan JAD masih terpantau oleh aparat. Tapi kalau yang simpatisan FPI/ lone wolf bisa saja lepas dari pantaun aparat," ujar Ken.

Selain itu Ken Setiawan juga mengapresiasi langkah Tim Densus 88 Anti-teror yang menangkap Munarman.

Diharapkan, para mentor aksi terorisme lainnya bisa segera ditangkap.

"Saya mengapresiasi langkah aparat menangkap Munarman, selain itu juga diharap segera menindak para mentor-mentor aksi terorisme yang lain," pungkas Ken Setiawan.

Sebelumnya, eks Sekretaris Umum FPI Munarman ditangkap tim Densus 88 Antiteror Polri.

Pengacara Muhammad Rizieq Shihab itu diduga terlibat dalam jaringan teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Diketahui, Munarman ditangkap Densus 88 Polri di rumahnya di Perumahan Modernhills, Pamulang, Tangerang Selatan pada Selasa 27 April 2021 sekitar pukul 15.00 WIB.

Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan menyampaikan Munarman diduga kuat terlibat dalam jaringan terorisme di tiga daerah sekaligus.

"Jadi terkait dengan kasus baiat di UIN Jakarta, kemudian juga kasus baiat di Makassar, dan mengikuti baiat di Medan. Jadi ada tiga tersebut," kata Ahmad di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (27/4/2021).

Untuk kasus baiat teroris di Makassar, kata dia, mereka merupakan jaringan kelompok teroris JAD.

Jaringan ini biasa dikenal terafiliasi dengan ISIS.

"Baiat itu yang di Makassar itu yang ISIS. Kalau UIN Jakarta dan Medan belum diterima," jelas dia.

Hingga saat ini, Ahmad menyatakan Munarman tengah dibawa menuju Polda Metro Jaya untuk menggali keterangan lebih lanjut.

"Yang bersangkutan saat ini akan dibawa ke Polda Metro Jaya untuk dilakukan pemeriksaan," tukas dia.


Penulis: Lusius Genik Ndau Lendong
Editor: Eko Sutriyanto

Diterbitkan di Berita

Liputan6.com, Jakarta - Ayo Mengajar Indonesia menggelar dialog publik dalam program Ayo Bahas Vol.9 dengan tema Tolerance, Yes! Radicalism, No! Cegah Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme di Dunia Pendidikan yang digelar pada Sabtu, 24 April 2021 di Meeting Room, Favehotel Gatot Subroto Jakarta.

Dalam dialog tersebut membahas tentang bagaimana peran serta semua pihak, dari mulai guru, pemerintah, sampai lembaga masyarakat dalam menolak radikalisme dan menjadi toleransi didalam dunia pendidikan.

 

Acara berjalan dengan konsep hybrid secara online dan offline dengan cara dialog paralel serta tanya jawab antara narasumber dengan peserta.

Direktur Ayo Mengajar Indonesia Adi Raharjo mengatakan, kegiatan ini memiliki tujuan untuk menyampaikan nilai-nilai toleransi.

Karena, menurut dia, sekolah mengajarkan untuk membuat karakter dalam nilai-nilai yang baik dan kondisi intoleransi di dunia pendidikan.

"Pendidikan harus membuat karakter bangsa bersih dari nilai-nilai intoleransi," ucap Adi, melalui keterangan tertulis, Minggu (25/4/2021).

Sementara itu, peneliti dari Setara Institute Iif Fikriyati Ihsani menjabarkan, pola pendidikan di Indonesia semakin kehilangan ruhnya.

Hal tersebut menurut dia karena hanya bergerak dalam wilayah kompetisi, bukan menumbuhkan nilai nilai yang membangun toleransi.

"Kita menemukan, intoleransi terjadi di perguruan tinggi, ketika meneliti 10 kampus, kami menemukan tingkat intoleransi cukup tinggi sapai 20-30 persen," ucap Iif.

Lalu, lanjut dia, ketika penelitian di sekolah pun sama, cukup tinggi tingkat intoleransi, dan bukan tumbuh tiba-tiba, tapi memang ada peningkatan dari zaman di sekolah sampai ke perguruan tinggi.

"Darahnya Indonesia itu adalah intoleransi, seperti sejarah yang ada, Ini bukan sesuatu yang tumbuh tiba-tiba, tapi tumbuh secara perlahan dan dari pola pola kecil, bahwa orang itu cenderung radikal karena dalam keluarganya tidak memberikan ruang interaksi," papar Iif.

 

Dibayangi Radikalisme
 

 

Menurut Cendikiawan Islam Azzyumardi Azra, kita selalu dibayang-bayangi oleh radikalisme dan seolah-olah Indonesia itu jauh lebih buruk dari negara lain.

Karena, kata dia, jika dibombardir dengan isu radikalisme, maka kita sebagai bangsa akan merasa minder dengan negara lain, walau memang benar ada gejala radikalisme tapi jangan dilebih-lebihkan.

"Ayo mengajar Indonesia harus membuat anak anak peserta didik kita tidak kecut, harus mengajarkan pemahaman keagamaan yang moderasi, dan toleransi, serta pemerintah harus inisiatif, agar guru guru diberikan pelatihan tentang pancasila dan nasionalisme, agar dalam pengajarannya bisa memberikan nilai-nilai toleransi, dan saya mengapresiasi gerakan Ayo Mengajar Indonesia ini, agar bisa menekankan perbaikan karakter," ucap Azzyumardi.

Kemudian, Jejen Musfah, Pakar Pendidikan dan Wakil Sekjen PB PGRI menyampaikan, Ppndidikan untuk karakter itu melalui 3 cara, yaitu modeling, kebiasaan, pengajaran.

"Benar bahwa indonesia sudah baik toleransinya namun bukan berarti kita mengabaikan pikiran intoleran," terang Jejen.

"Pencegahan radikalisme, bahwa banyak dalam riset, bahwa radikalisme itu benih benihnya dari intoleransi, jika model pengajarannya inklusif atau kolaboratif atau pembelajaran aktif, saya rasa akan berkurang rasa intoleransi," tegas dia.

Brigjen Polisi Ahmad Nurwahid selaku Direktur Pencegahan BNPT menyampaikan, radikalisme dan terorisme dalam segi agama yang kita bicarakan, yaitu ingin mengganti konstitusi negara menjadi khilafah, atau daulah islam.

"Yang belum dilarang oleh negara yaitu ajaran yang radikalisme atau ajaran agama yang ingin merubah konsitusi negara menjadi negara islam. Namun undang-undang sudah bisa menangkap untuk mencegah dalam tidakan terorisme," kata Ahmad.

"Yang belum terpapar 87,8 persen radikalisme, namun rentan untuk terpapar, maka harus diajarkan spritualitas yang rahmatan lil alamin, dan juga jangan memfollow ustad yang berfaham radikal, seperti ustad yang berfaham salafi wahabi, dan juga jangan mengeneralkan salafi wahabi semua teroris ya," sambung dia.

Ahmad pun berpesan jangan sampai intolerasi berkembang dan berkeliaran di seluruh lapisan masyarakat.

"Apalagi memfitnah dan menjelakan satu sama lain, maka satu sama lain harus saling mengenal satu sama lain, satu sama lain harus menghargai, saling menyayangi, dan jangan biarkan intoleransi merajalela, karena intoleransi adalah embrio radikalisme dan terorisme," pungkas Ahmad Nurwahid.

Untuk diketahui, acara itu dihadiri beragam narasumber yaitu Cendikiawan Islam Azyumardi Azra, Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol R. Ahmad Nurwahid, Wakil Sekjen PB PGRI Jejen Musfah, peneliti Setara Institute Iif Fikriyati Ihsani, dan Adi Raharjo (Direktur Ayo Mengajar Indonesia).

Peserta yang hadir dari berbagai elemen masyarakat, mahasiswa, serta relawan Ayo Mengajar Indonesia, jumlah peserta yang hadir dalam offline ada 30 orang, hadir dalam online ada 300 orang.

Diterbitkan di Berita