BETANEWS.ID, SEMARANG – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terus memperkuat penanggulangan gerak terorisme di Indonesia.

Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan membangun sinergitas antarkementerian atau lembaga demi mencegah terorisme dari hulu sampai hilir.

Setelah melakukan sosialisasi di beberapa provinsi, kali ini BNPT menyasar ke Jawa Tengah. Untuk itulah pada Kamis (24/6/2021), BPNT menggelar acara “Sosialisasi Sinergitas Program Penanggulangan Terorisme di Jawa Tengah” di Hotel Novotel.

Sekretaris Utama BNPT RI, Mayjen TNI Untung Budiharto saat membuka sosialisasi ini mengungkapkan, bahwa kegiatan ini untuk mensukseskan kegiatan sinergitas dalam menanggulangi terorisme di Provinsi Jawa Tengah.

“BNPT selaku leading sector penanggulangan terorisme di Indonesia dan masing-masing kementerian atau lembaga melaksanakan kolaborasi sesuai dengan tugas dan fungsinya,” jelasnya, Kamis(24/6/2021). 

Untung juga menambahkan, di Jawa Tengah BNPT akan menyasar 5 kota yang sudah dipilih, yakni Boyolali, Klaten, Solo, Boyolali dan Temanggung. Kelima daerah itu dipilih berdasarkan kesepakatan antara lembaga pemerintah.

“Adanya keterlibatan pemerintah daerah bisa lebih membantu memperlancar pelaksanaan Kegiatan Sinergisitas Antarkementerian atau Lembaga tahun 2021,” tambah Untung.

Sementara, Kepala Biro Perencanaan, Hukum, dan Humas BNPT, Bangbang Surono menyampaikan perkembangan tersebut, serta memberikan alur tahapan pemberdayaan masyarakat dalam upaya menanggulangi paham radikal terorisme dari hulu ke hilir.

“Ini juga diyakini sebagai bukti konkret keterllibatan kementerian atau lembaga memberikan dukungan penuh untuk penaggulangan terorisme di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah,” jelasnya.

Surono juga menyampaikan, bahwasanya kegiatan sinergisitas akan didukung salah satunya dengan program Kawasan Khusus Terpadu Nusantara (KKTN).

Pengembangan KKTN ini merupakan sebuah strategi membentuk sebuah wadah kolaborasi dan terbukanya kemitraan terpadu dalam penanggulangan terorisme dari hulu ke hilir.

Editor : Kholistiono

Diterbitkan di Berita

PR TASIKMALAYA – Deddy Corbuzier mengundang M Najih Arromadloni, Pengurus Pusat MUI Bidang Penanganan Terorisme.

Deddy Corbuzier cukup tercengang dan tidak percaya bahwa buku-buku tentang terorisme bisa didapatkan dengan free access di jaringan internet yang ada di Indonesia.

M Najih Arromadloni menyatakan bahwa buku fisik yang ada di hadapan Deddy Corbuzier tentang terorisme itu baru sekitar nol koma sekian persen dari yang beredar banyak di internet.

Buku tersebut mulai dari pembolehan pembunuhan hingga mengkafirkan kelompok tertentu yang menjadi bagian dari luar kelompok penganut paham terorisme tersebut.

Disitat PikiranRakyat-Tasikmalaya.com dari unggahan video di kanal YouTube Deddy Corbuzier pada 23 Juni 2021, M Najih Arromadloni pengurus pusat MUI Bidang Penanganan Terorisme menyatakan buku itu berasal dari Timur Tengah.

“Ada yang dari Arab Saudi, ada yang berasal dari Suriah, tetapi, diterjemahkan oleh salah satu terpidana mati Aman Abdurrahman,” kata M Najih Arromadloni.

“Beberapa juga diterjemahkan oleh yang lain, bukan hanya Aman Abdurrahman,” ucapnya menyambung.

Deddy Corbuzier menunjukkan salah satu judul buku yang menyatakan boleh melakukan pemberontakan kepada pemerintah yang sah.

“Buku itu memberikan legitimasi terhadap pemberontakan yang boleh dilakukan terhadap pemerintahan yang sah,” ujar M Najih Arromadloni menanggapi.

M Najih Arromadloni menyatakan bahwa buku-buku tentang terorisme itu bisa diakses dengan mudah oleh orang-orang layaknya membuka status Facebook.

Deddy Corbuzier juga bertanya apakah cara membuat peledak ada di sana kepada M Najih Arromadloni.

“Sangat, sangat dengan mudah bisa diakses oleh masyarakat. Ada juga judul buku yang dalam bahasa Indonesia diberi nama ‘Manajemen Kekerasan,” tutur M Najih Arromadloni.

“Suatu konsep bagaimana me-manaje kekerasan untuk keuntungan mereka (teroris),” ujarnya menjelaskan.

M Najih Arromadloni melanjutkan, hal tersebut merupakan satu hal yang baru dijumpai di era kita sekarang.

“Kalau kita melihat perilaku Nabi, menyembelih hewan juga ada etikanya. Terhadap hewan saja ada etika yang harus kita perlakukan, apalagi manusia,” kata M Najih Arromadloni.

“Padahal, nyawa manusia ini sangat berharga sekali. Dalam perspektif agama, Nabi menyatakan seandainya Ka’bah itu roboh itu lebih ringan daripada hilangnya satu nyawa manusia,” ucapnya menyambung.

Deddy Corbuzier menanggapi pernyataan M Najih Arromdloni bahwa nyawa manusia itu sangat diperhitungkan sekali.

“Islam itu agama kemanusiaan,” kata M Najih Arromadloni menutup.***

Diterbitkan di Berita

suaraislam.co Pengamat terorisme, Soffa Ihsan, menuding aksi perusakan makam milik umat Nasrani di TPU Cemoro Kembar, Solo yang dilakukan oleh anak-anak diduga terdoktrin kelompok puritan yang merupakan bagian dari sel-sel teroris.

“Kita tahu Solo adalah salah satu kota yang merupakan basis pergerakan islam yang puritan yang lalu bermutasi dalam berbagai varian termasuk gerakan sel-sel teroris”, ujar Soffa Ihsan, seperti dikutip dari FixJakarta.

Menurut Soffa ajaran puritan seringkali mengajarkan bid’ah, syirik, intoleran dan merusak makam sebagai monumen tradisi masyarakat Solo yang sejatinya kaya budaya.

“Sel-sel teroris beririsan paham keagamannya dengan kelompok puritan”, ungkap Soffa yang juga merupakan peneliti terorisme di Lembaga Daulat Bangsa (LDB).

Lebih lanjut Soffa menambahkan bahwa pemerintah perlu bertindak tegas misalnya dengan membuat perda yang mengancam hukuman terhadap vandalisme yang berbasis paham keagamaan tersebut.

“Sambil diiringi dengan penguatan budaya lokal karena budaya bisa menjadi alat penangkal puritasnisme dan radikalisme,” pungkas Soffa yang aktf membina mantan napi teroris (Napiter) dengan mendirikan Rumah Daulat Buku (RUDALKU) di sejumlah tempat.

Sebelumnya, Walikota Solo, Gibran Rakabuming Raka menyayangkan kejadian tersebut, “Ini merupakan bentuk intoleransi. Ngawur sekali, apalagi melibatkan anak-anak,” terang Gibran, Senin 21 Juni 2021.

Gibran mengatakan jika sekolah tersebut ternyata tidak memiliki izin untuk mengelar tempat pendidikan. Gibran juga mewanti-wanti warga untuk tidak mendekat di lokasi tersebut.

Menurut Gibran, kasus ini menjadi kasus yang penting untuk segera ditanggani, mengingat ada upaya radikalisme yang diajarkan di sekolah tersebut.

“Ini sudah kurang aja sekali. Yang diproses hukum pengasuhnya. Termasuk anak dibawah umur harus ada pembinaan,” paparnya.

Seperti diketahui jika sebanyak 12 anak dibawah umur diduga telah melakukan perusakan makam di TPU Cemoro Kembar di Kampung Kenteng, Kelurahan Mojo, Pasar Kliwon.

Dalam meninjau lokasi makam, putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini juga melihat dan mendengarkan kesaksian dari warga sekitar. Salib, patung bahkan lokasi makam sempat digeser oleh pelaku.

“Dipukul Pak sama batu (Makamnya), salibnya dirobohin, makamnya sampe digeser,” ucap salah satu warga ke Gibran.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap belasan terduga teroris di wilayah Riau, Senin (14/6). Belum diketahui jaringan kelompok belasan teroris tersebut.

"Jumlah ada 13 orang di wilayah Riau," kata Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan saat dikonfirmasi wartawan.

Namun, Ramadhan belum bisa bicara lebih lanjut terkait penangkapan terhadap para terduga teroris itu. Ia juga belum mengungkap identitas dan jaringan terkait 13 terduga teroris tersebut. "Sabar ya, Densus 88 masih bekerja," ujarnya.

Sebelumnya, polisi menangkap 11 terduga teroris dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di wilayah Merauke, Papua. Mereka diduga hendak melakukan sejumlah aksi teror di gereja hingga kantor polisi.

JAD di Merauke ini terkait dengan kelompok kajian Villa Mutiara yang merupakan jaringan teroris di wilayah Makassar, Sulawesi Selatan.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divis Humas Polri Brigadir Jenderal Rusdi Hartono mengatakan para terduga teroris yang berada di Makassar saling mengenal dengan yang ditangkap di wilayah Merauke.

Beberapa orang yang ditangkap Merauke merupakan warga Makassar. Berdasarkan penyelidikan Densus 88, jaringan Makassar melebar ke sejumlah wilayah lain seperti Kalimantan Timur dan Papua.

(mjo/fra)

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Direktur Identifikasi dan Sosialisasi Densus 88 Anti-teror Polri Kombes Pol MD Shodiq mengatakan Densus 88 melakukan pendekatan yang humanis kepada pelaku maupun orang-orang yang terpapar terorisme sebagai upaya deradikalisasi.

Kombes Pol MD Shodiq pada diskusi Peran Yayasan Debintal dalam reintegrasi mantan narapidana terorisme di Indonesia, di Jakarta, Sabtu, mengatakan sampai saat ini belum ditemukan model yang tepat upaya deradikalisasi teroris.

"Sampai hari ini pun belum ada saya baca baik jurnal maupun di buku-buku dari para pakar ahli bagaimana orang yang sudah radikal tinggi dengan berbagai teori dan metodologi supaya kembali kepada pemikiran yang moderat, ini saya belum temukan," kata dia.

Oleh karena itu, menurut dia Densus 88 melakukan pendekatan humanis sebagai sebagai upaya deradikalisasi terhadap pelaku, mantan bahkan orang yang terpapar terorisme.

"Sehingga kami melakukan pendekatan ini yang soft yang humanis terhadap orang yang terpapar radikal, dengan harapan membangun kepercayaan, ini yang penting," kata dia.

Dia membagikan pengalamannya yang sudah terlibat menghadapi terorisme sejak 21 tahun lalu. Berbagai upaya dilakukan agar orang-orang yang sudah radikal tinggi bisa kembali menjadi moderat.

"Era 2000 sampai dengan 2008-2009 kita lakukan pendekatan dengan pendekatan tokoh-tokoh jihadis di jazirah Arab, tokoh-tokoh Al-Qaeda yang sudah kembali pada pemahaman modern kita hadirkan," kata dia.

Namun, menurut dia beberapa metode deradikalisasi yang dilakukan itu baik yang dilakukan oleh Densus 88 maupun bersama institusi yang resmi, yakni BNPT belum menghasilkan hal yang sangat signifikan.

"Artinya hanya trial and error, hanya mencoba-coba jadinya mana konsep yang bagus untuk menurunkan tingkat radikalisme ini. Nah ketika dibentuk nomenklatur baru di Densus, kami membuat satu konsep bagaimana melakukan pendekatan baik di dalam rutan, di lapas maupun di luar lapas," ucapnya.

Dia mengatakan, jika berbicara deradikalisasi sesuai peraturan perundang-undangan, deradikalisasi itu dilakukan terhadap orang yang statusnya sudah menjadi tersangka, sementara pemahaman dari kalangan luar menilai deradikalisasi adalah proses secara komprehensif.

Artinya kata dia belum dilakukan penegakan hukum pun, mereka yang terpapar radikal juga harus diberikan pendekatan-pendekatan deradikalisasi.

"Sehingga kami melakukan pendekatan ini yang soft yang humanis terhadap orang yang terpapar radikal. Dasar utama pendekatan dengan trust, kebutuhan primer, kemudian pendekatan membangun komunitas, terjadi suatu pertemuan yang rutin sehingga hubungan emosional akan terjalin," ucapnya.

Hal itu lanjut dia pelan-pelan akan menarik kembali orang-orang yang sudah terpapar, agar kembali membuka mindset mereka, membuka ruang bahwa dunia itu tidak seperti yang mereka pahami selama ini.

Dengan pemahaman itu pula, lanjut dia, para napiter yang berada di rutan, lapas hingga sampai kembali ke masyarakat nantinya perlu mendapatkan wadah pendampingan. Wadah tersebut menurut dia direalisasikan dalam bentuk Yayasan Debintal

"Harapan kita ini nanti akan jadi satu role model yayasan yang mengimplementasikan kegiatan pemahaman yang moderat. Dan kalau bisa nantinya di sana juga dibuat area tangguh ideologi," ujarnya.

Pewarta: Boyke Ledy Watra
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita
 

KBRN, Jakarta: Pancasila di tengah pandemi, radikalisme, dan terorisme menjadi tema dialog RRI dan BNPT hari ini, Jumat (11/6/2021). 

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid menyatakan pancasila merupakan dasar negara dan pemersatu bangsa.

"Pancasila produk jenius tokoh bangsa, tokoh nasional yang tidak hanya memiliki kemampuan kognisi, tetapi kemampuan spiritualnya, semua radikalisme dan terorisme indikatornya anti pancasila," ujarnya di studio Pro 3 RRI. 

Ia menambahkan, semua mahzab mewajibkan untuk mentaati perjanjian dan menghormati pancasila. 

"Ketika orang berdiskusi apakah khilafah bagian dari sejarah agama, itu sebenarnya multi tafsir di kalangan ulama sendiri, yang harus dipahami bahwa semua agama, semua mahzab mewajibkan untuk mentaati perjanjian dan menghormati pancasila," tandasnya.

Maka, siapapun yang ingin merongrong pancasila dan ideologi negara maka masuk dalam indikator radikal dan teroris. 

"Pola radikalisme dan terorisme harus dipahami bahwa akar masalah utama yang mengatasnamakan agama itu adalah ideologi yang menyimpang," tukasnya.

Diterbitkan di Berita
 
Ouagadougou (ANTARA) - Korban tewas akibat serangan milisi terparah dalam beberapa tahun terakhir di Burkina Faso naik menjadi 132, menurut pemerintah pada Sabtu (5/6), setelah kelompok bersenjata  mengepung sebuah desa di wilayah timur laut.
Mereka menyerang pada Jumat (4/6) malam, membunuh warga desa Solhan di Provinsi Yagha, yang bebatasan dengan Nigeria. Para penyerang juga membakar rumah dan pasar, demikian penyataan pemerintah.

Otoritas mengumumkan masa berkabung nasional 72 jam, menggambarkan penyerang sebagai teroris, meski tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Sebanyak 40 warga lainnya terluka, kata juru bicara pemerintah Ousseni Tamboura kepada wartawan.
Perserikatan Bangsa Bangsa mengatakan Sekjen Antonio Guterres berang dengan serangan tersebut, yang korbannya melibatkan tujuh anak.

Kendati ada kehadiran ribuan penjaga perdamaian PBB, serangan kelompok yang terkait dengan al Qaeda dan ISIS di kawasan Sahel Afrika Barat melonjak tajam sejak awal tahun, terutama di Burkina Faso, Mali dan Nigeria, dengan warga sipil yang menanggung bebannya.
Kekerasan di Burkina Faso menyebabkan lebih dari 1,14 juta orang mengungsi hanya dalam waktu dua tahun, selagi negara miskin dan gersang itu menampung sekitar 20.000 pengungsi dari negara tetangga Mali.

Serangan terbaru kelompok bersenjata di kawasan Sahel menambah korban tewas menjadi 500 lebih sejak Januari, menurut direktur Human Rights Watch Afrika Barat Corinne Dufka.
"Alurnya yakni para milisi datang, mereka menguasai pos pertahanan sipil dan terlibat dalam hukuman kolektif terhadap semua desa - sebuah pola yang kami temui di mana pun tahun ini," kata Dufka.

Pada Maret para penyerang menewaskan 137 orang dalam serangan terencana di desa wilayah barat daya Nigeria.

Sumber: Reuters

Penerjemah: Asri Mayang Sari
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar menghelat kunjungan bilateral ke Kerajaan Yordania.

Kunjungan itu terkait pertukaran informasi keamanan di kawasan keduanya dan global. Juga soal ancaman terorisme dan radikalisme di masa pandemi.

"Kedua belah pihak saling berbagi kedua belah pihak sepakat untuk meningkatkan kerja sama dan kolaborasi utamanya terkait penyalahgunaan internet untuk tujuan terorisme (digital terorism) dan penanganan pejuang teroris asing (FTF)," tulis Boy dalam siaran pers resmi BNPT, Rabu (3/6/2021).

Boy menjelaskan, kunjungan kerjanya itu dilangsungkan mulai dari 29 Mei hingga 1 Juni 2021.

Pertemuan berlangsung di Amman dengan didampingi oleh Mei 2021, didampingi oleh Deputy Bidang Kerjasama Internasional dan KUAI KBRI Amman Yordania, beserta staf, telah melaksanakan pertemuan bilateral dengan Director of GID (General Intelligence Directorate), Major General Ahmad Husni.

"Disampaikan keinginan Indonesia untuk dapat menjadi tuan rumah dalam pertemuan Aqaba Process. Aqaba Process (program konter terorisme) yang diinisiasi oleh Raja Abdullah, sudah pernah diselenggarakan di Malaysia dan Nigeria," jelas Kepala BNPT Boy Rafli.

Sambutan Baik Raja Abdullah II

Menurut Boy, Raja Abdullah II menyambut baik dukungan yang diberikan Indonesia kepada Aqaba Process dan kesediaan Indonesia untuk menyelenggarakannya.

"Raja menjelaskan tentang fenomena saat ini terkait ideologi takfiri dan bagaimana membangun Islam yang moderat.

Indonesia, sebagai negara berpenduduk muslim terbesar dan pengguna internet yang besar pula, secara tidak disadari bisa mengamplifikasi ideologi dan paham kekerasan ini," kata Boy menyampaikan ulang pesan Raja Abdullah II

"Raja Abdullah II juga meminta Indonesia bersama-sama dengan Yordania dan Uni Emirat Arab, dapat bekerja sama dan berkolaborasi untuk menyampaikan kepada Arab Saudi guna dapat memoderasi Islam dan mengurangi paham-paham kekerasan," dia menandasi.

Diterbitkan di Berita

Liputan6.com, Jakarta Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid mengatakan para pemuka agama merupakan ujung tombak dalam upaya pencegahan penyebaran paham radikal terorisme di tengah masyarakat.

"Selama ini kelompok radikal terorisme dalam melakukan penyebaran pahamnya selalu membungkusnya dengan motif agama. Padahal, hal tersebut tentunya sangat merugikan dan juga memfitnah agama tersebut," kata Ahmad Nurwakhid dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (29/5/2021).

Maka, keberhasilan penanggulangan radikal terorisme yang mengatasnamakan agama, menurut dia, ujung tombaknya ada pada para pemuka agama.

"Maraknya radikalisme ini merupakan cermin dari krisis spritualisme," kata Ahmad Nurwakhid seperti dikutip dari Antara.

Direktur Pencegahan BNPT itu juga mengimbau para tokoh pemuka lintas agama untuk senantiasa mendoakan keberhasilan dan kesuksesan penanggulangan radikalisme terorisme yang telah diusahakan melalui program Gugus Tugas Pemuka Agama.

"Permasalahan radikal terorisme adalah tanggung jawab bersama seluruh lapisan elemen bangsa ini. Semua agama meyakini bahwa seseorang tidak akan menjadi sadar dan moderat tanpa hidayah dari Tuhan YME," kata alumnus Akpol tahun 1989 ini.

Mantan Kepala Bagian Banops Densus 88/Antiteror Mabes Polri ini mengatakan bahwa semua tokoh pemuka agama hendaknya lebih menonjolkan hal-hal yang sifatnya spiritual, yang tercerminkan dalam perilaku akhlakul karimah (akhlak yang terpuji), serta terus menyampaikan hal-hal baik tersebut kepada umat.

"Perlu disampaikan kepada umat bahwa semua aksi radikalisme dan terorisme tidak ada kaitannya dengan agama apa pun tetapi terkait dengan pemahaman dan cara beragama yang menyimpang," katanya.

Ia juga mengatakan bahwa aksi radikalisme adalah musuh semua agama karena semua aksi terorisme dan radikalisme sangat bertentangan dengan nilai-nilai dan prinsip agama yang menjaga persatuan, perdamaian, dan rahmatan lil’alamin (rahmat bagi seluruh alam).

"Aksi terorisme dan radikalisme ini dapat menimbulkan fitnah, perpecahan, dan juga menjadi musuh negara. Hal itu bertentangan dengan konsesus atau perjanjian bangsa ini, yaitu Pancasila," ujarnya.

Radikalisme Musuh Bersama

Sementara itu, Sekjen Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) H. Denny Sanusi menyampaikan harapannya untuk sinergi antara LPOI dan LPOK bersama BNPT yang ke depannya dengan melakukan sosialisasi ke bawah, terutama pada komunitas keagamaan masing-masing.

Serta memberikan pengertian betapa berbahayanya paham radikalisme dan terorisme ini.

"Ajaran agama merupakan ajaran penuh kasih sayang, tidak ada ajaran agama yang mengajarkan hal negatif. Kalaupun ada, itu hanya oknum. Oleh karena itu, radikalisme adalah musuh kita bersama," katanya.

Dalam kesempatan yang sama Wakil Ketua Pembina Pengurus Pusat Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PP Perti) Dr. K.H. Anwar Sanusi berharap Gugus Tugas Pemuka Agama yang telah dibentuk BNPT makin menguatkan upaya pencegahan penyebaran paham radikal terorisme di semua agama.

"Melalui Gugus Tugas Pemuka Agama ini, insyaallah, kami bisa mencegah adanya paham radikal terorisme di tengah masyarakat yang sengaja dilakukan oleh oknum tertentu yang miskin terhadap spiritual," ujar Anwar Sanusi.

Diterbitkan di Berita
Nurhandoko PIKIRAN RAKYATSeorang guru mengaji berinisial RA dijemput anggota Densus 88 Antiteror. Warga Dusun Baketrak, Desa /Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat dijemput dalam perjalanan.

Ia tengah menuju Pasar Rajapolah, Tasikmalaya usai mengantar ayahnya ke sawah.

“Dijemputnya hari Sabtu 8 Mei 2021, sekitar jam 10.00 an WIB . Usai mengantar bapaknya ke sawah,” kata Kepala Dusun Baketrak, Kevin, di Kantor Desa Cihaurbeuti, Senin, 10 Mei 2021.

Dia mengungkapkan, usai menjemput RA, tim Densus berjumlah sekitar 10 orang, langsung melakukan penggeledahan rumah yang bersangkutan. 

Saat penjemputan, tim mengenakan baju preman, naik tiga unit mobil. “Kepada saya, mereka mengatakan dari Densus 88. Saat penggeledahan RA tidak dihadirkan,” tuturnya.

Tim Densus 88 melakukan penggeledahan sekitar setengah jam. Dari dalam rumah, mereka membawa buku dan dua botol kecil berisi cairan. 

“Saya lihat bukunya, tentang amaliyah sepertinya. Petugas juga membawa dua botol berisi cairan,” ucap Kevin. 

Informasi yang dihimpun, dalam kesehariannya RA tidak menunjukkan perilaku yang mencurigakan atau janggal. Selama ini , RA membuka warung jual jajanan n anak-anak, juga sering berbaur dengan tetangga.

Keseharaiannya, RA mengantar ayahnya ke sawah di wilayah Rajapolah. Selanjutnya ke Pasar Rajapolah membeli jajanan anak. Setelah dari pasar, kembali menjemput ayahnya lagi, lalu pulang ke rumah. RA juga menjadi guru madrasah dan guru ngaji ana-anak.

“Tidak ada yang mencurigakan. Sosialisasi dengan tetangga dan warga juga bagus. RA warga asli sini,” tutur Kevin.

Semenjara itu pihak keluarga RA, mengaku bingung dan terkejut atas penjemputan oleh Densus 88. “Terus terang kaget, enggak percaya. Ini baru dugaan atau sudah fix (terlibat terorisme) kami ingin ada penjelasan dari Densus, biar kami tidak menduga-duga,” tutur Zamzam, adik RA.

Dia mengatakan RA  kesehariannya hanya berkutat mengantar ayah ke sawah, kemudian ke Pasar Rajapolah belanja jajanan anak. Kemudian setelah Dhuhur mengajar di madrasah dan habis Magrib mengajar ngaji.

“Ya itu saja tiap harinya. Selama ini juga tidak ada tamu dari luar daerah,” ucap dia.***

Diterbitkan di Berita