Hal itu ia sampaikan usai Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan jumlah kematian akibat covid-19 selama empat pekan telah meningkat.

"Adanya tren yang cukup mengkhawatirkan dari beberapa belahan dunia ini bertolak belakang dengan tren yang kita hadapi di tanah air.

Dalam beberapa bulan terakhir di Indonesia menunjukkan banyak tanda perbaikan sehubungan dengan penanganan covid-19, yang dibuktikan berangsur perbaikan perkembangan covid-19 di Indonesia," kata Wiku dalam konferensi pers seperti dikutip melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (16/4/2021).

Ia mengaku terjadi penurunan kasus covid-19 di Indonesia hingga sebesar 14,2 persen pada sepekan. Namun, masih ada daerah yang menjadi penyumbang covid-19 tertinggi, lima daerah tersebut adalah Jawa Tengah, Riau, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, dan Sumatera Barat.

Wiku menyebut secara nasional jumlah kasus kematian juga turun sebanyak 17,6 persen pada sepekan terakhir. Untuk itu, ia meminta masyarakat agar tetap mematuhi protokol kesehatan 3M, agar kasus covid-19 di Indonesia bisa terkendali.

"Marilah kita bersemangat menunjukkan dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia. Indonesia dapat tangguh melawan pandemi, dan turut berkontribusi mengurangi angka kasus positif di dunia," pungkasnya.

 
Diterbitkan di Berita

Hal itu terlihat dalam pelaksanaan Hybrid Coffee Business Matching and Cupping "A Cup of Java: The Original Taste of Indonesian Coffee" pekan lalu di Outdoor Rooftop Lt. 5 Gedung Konsulat Jenderal RI (KJRI) Los Angeles.

“Telah dihadirkan lima pemasok kopi UKM asal Indonesia yang berpartisipasi dalam acara ini, baik secara langsung, yaitu, Opal Coffee dan Red Goni Inc, maupun secara virtual, yaitu PT. Dua Harimau, Ephraim Coffee, dan Kopi Kalyan,” ucap Konsul Jenderal RI di Los Angeles Saud P. Krisnawan kepada RRI.co.id, Rabu (14/4/2021).

Menurutnya, terdapat tiga jenis kopi yang menjadi favorit para peserta. “Dari hasil sesi Coffee Cupping, beberapa sampel kopi yang menjadi favorit para peserta, termasuk Java Pineapple, Bondowoso, dan Wahana Longberry Washed,” jelasnya.

Selain, dalam pertemuan bisnis itu juga memperoleh komitmen pembelian hingga USD 100,000. “Dari hasil kegiatan telah diperoleh komitmen pembelian kopi yang diestimasi bernilai sekitar USD 100,000,” ungkap Saud.

Pandemi COVID-19 sangat berdampak terhadap ekspor kopi Indonesia ke AS, dimana terjadi penurunan sebesar -22,1 % dari USD307.8 juta di 2019 menjadi USD239.9 juta di 2020.

Namun, dilihat dari nilai impor produk kopi AS dari dunia yang pada tahun 2020 mencapai USD5.7 milyar, tercatat adanya penurunan sebesar -2.8% year-on-year. Hal ini menunjukkan bahwa di tahun 2020, permintaan produk kopi di AS juga menurun.

Ia menyebut dengan meningkatnya jumlah vaksinasi dan penurunan jumlah kasus per hari COVID-19 khususnya di negara bagian California, diproyeksikan sektor bisnis akan segera kembali ke normal di tengah musim panas ini.

“Oleh karena itu, saat ini merupakan peluang yang baik untuk terus mendorong promosi kopi Indonesia kepada para pemilik cafe dan coffee roasters di California yang tengah bersiap untuk membuka bisnisnya kembali,” ungkap Saud. (Foto : KJRI LA)

Diterbitkan di Berita

Akbar Ridwan alinea.id - Juru Bicara (Jubir) Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan, per 4 April 2021, total ada 12,5 juta vaksin Covid-19 telah diberikan. Menurut dia, cakupan dosis itu sudah 21,33% dari target 40 juta sasaran pada tahap satu.

"Dan tahap kedua itu sudah kurang lebih 8,5 juta orang mendapatkan suntikan vaksin Covid-19," kata dia saat diskusi dalan jaringan yang disiarkan kanal Youtube Kementerian Kesehatan, Minggu (4/4).

Nadia mengklaim, capaian tersebut lebih baik dari negara-negata di kawasan Eropa. Sebab, menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, negara di benua biru lambat dalam vaksinasi.
 
"Menurut WHO dinilai lebih lambat karena rata-rata negara-negara di kawasan Eropa ini cakupan vaksinasi dosis mereka masih kurang dari 10%," ujarnya.

Ke depan, kapasitas vaksinasi bakal ditingkatkan. Namun, Nadia mengatakan, terdapat kendala khususnya bagi masyarakat yang berusia di atas 60 tahun. Padahal, kata dia, vaksinasi Covid-19 terhadap lansia penting karena kelompok itu memiliki risiko kematian dan kesakitan tiga kali lebih besar dari golongan usia lain.

Kendala yang dihadapi, jelas Nadia, misalnya kesulitan akses sentra vaksinasi, takut aktivitas di luar rumah, keterbatasan fisik mencapai pos-pos vaksin, dan kesulitan melakukan pendaftaran elektronik. 

"Saat ini, kita tahu bahwa baru sekitar 8% usia di atas 60 tahun yang telah mengikuti vaksinasi Covid-19," ucapnya.

Atas kendala tersebut, Nadia mendorong partisipasi dari keluarga dan masyarakat agar mau membantu warga lansia melakukan vaksinasi. Diharapkan juga, publik ikut serta mensosialisasikan program vaksinasi Covid-19.

"Kami memahami tidak mudah mengajak orang tua untuk mendapatkan vaksinasi, tetapi tentunya dengan kita menyampaikan hal-hal yang secara baik dan tentunya ini adalah perlu untuk menjaga kesehatan orang tua kita, maka kita dorong orang tua kita untuk bisa segera mendapatkan vaksinasi," ucapnya.
 
Diterbitkan di Berita

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah kepada VOA, Rabu (24/3) memastikan empat eks sandera Abu Sayyaf asal Indonesia dalam keadaan sehat.

“Kemarin (23/3) sudah diserahterimakan oleh pemerintah Filipina kepada pemerintah Indonesia dan mereka dalam kondisi sehat, sudah menjalani pemeriksaan kesehatan, termasuk memastikan terkait COVID-19," kata Faizasyah.

 

Juru bicara Kemlu RI, Teuku Faizasyah
Juru bicara Kemlu RI, Teuku Faizasyah

 

Namun, Faizasyah belum dapat memastikan kapan keempat warga Indonesia itu dipulangkan ke tanah air untuk dikembalikan pada keluarga masing-masing.

Serah terima eks sandera itu dilakukan oleh Panglima Angkatan Bersenjata Filipina Letnan Jenderal Cirilito Sobejana yang didampingi oleh Kepala Kepolisian Filipina Letnan Jenderal Guillermo Eleazar kepada Duta Besar Indonesia untuk Filipina Widya Rahmanto.

Serah terima tersebut dilakukan di ibu kota Manila hari Selasa (23/3).

Keempat warga Indonesia yang baru yang dibebaskan dari sekapan Abu Sayyaf selama setahun lebih itu adalah AK (30 tahun), AD (42 tahun), AR (26 tahun), dan KR (14 tahun).

Mereka diterbangkan menggunakan pesawat militer Filipina dari Zamboanga di selatan Filipina ke Manila pada hari Minggu lalu (21/3).

Untuk mengantisipasi penculikan lain oleh Abu Sayyaf, lanjut Faizasyah, pihak keamanan dari tiga negara yaitu Indonesia, Malaysia, dan Filipina - telah bekerjasama dalam hal pertukaran informasi intelijen dan patroli keamanan laut.

Dia menambahkan pemerintah meminta nelayan yang biasa menangkap ikan hingga perairan internasional untuk menghindari daerah-daerah rawan yang menjadi basis kegiatan Abu Sayyaf di laut.

Menurut Faizasyah, pihak keamanan Filipina juga sudah memperingatkan kapal-kapal penangkap ikan asal Malaysia untuk tidak melintasi wilayah-wilayah yang rawan di sekitar Kepulauan Sulu.

Daerah Kepulauan Sulu Dikenal Sebagai Sarang Perompak

Peneliti perbatasan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Sandy Raharjo menjelaskan dari sisi sejarah, daerah sekitar Kepulauan Sulu memang terkenal sebagai sarang perompak.

Selain itu, sejak lama sudah ada kegiatan lintas batas yang melibatkan warga dari ketiga negara, yakni Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

Hanya saja tidak pernah ada kejadian penculikan warga Indonesia oleh perompak yang beroperasi di perairan Kepulauan Sulu karena adanya kedekatan budaya, ras, dan agama.

Sandy menambahkan penculikan terhadap warga Indonesia oleh Abu Sayyaf mulai marak setelah pemerintah Indonesia dan pemilik kapal memberi uang tebusan untuk membebaskan warga Indonesia yang tidak sengaja ditangkap Abu Sayyaf sekitar tahun 2016.

 

Karena pemberian uang tebusan tersebut, menurut Sandy, Abu Sayyaf kerap mengulangi tindakan menyandera warga Indonesia yang bekerja sebagai nelayan atau anak buah kapal ketika kapal mereka berlayar di sekitar Kepulauan Sulu.

"Akhirnya kemudian pola itu, dari titik dibayar uang tebusan, jadi semacam pemicu untuk melakukan kasus yang berulang lagi. kalau misalnya kita bisa menangkap WNI itu, kemungkinan besar mereka tetap akan membayar kita.

Titik itu yang kemudian jadi krusial, kenapa terus menerus penculikan terhadap warga negara kita, teruatama para ABK yang bekerja di kapal-kapal banyak beroperasi di sekitar Laut Sulawesi itu," ujar Sandy.

Menurutnya faktor kemiskinan, ketertinggalan pembangunan, politik identitas dan tidak adanya pengakuan membuat Abu Sayyaf dan kelompok perompak itu masih terus bercokol.

Jika pemerintah Filipina mau mengakui, menghormati, dan mengakomodasi politik identitas warga Muslim di Filipina Selatan, sambil sekaligus memperbaiki kondisi perekonomian masyarakat, peneliti LIPI ini menilai masalah Abu Sayyaf dapat diselesaikan.

Militer Filipina Bebaskan Sandera

Militer Filipina pada Sabtu malam pekan lalu (20/3) terlibat baku tembak dengan kelompok Abu Sayyaf yang menyandera empat warga Indonesia. Dalam pertempuran tersebut, pemimpin Abu Sayyaf yang menyekap keempat warga Indonesia, Majan Sahidjuan alias Apo Mike, luka parah.

Apo Mike kemudian berusaha kabur menggunakan perahu menuju Tawi-Tawi, namun perahu mereka terbalik setelah dihantam ombak besar.

Hal itu memberi kesempatan pasukan keamanan Filipina untuk menyelamatkan tiga dari empat warga Indonesia yang disandera, yakni AK, AD, dan AR. Sedangkan KR ditemukan pasukan Filipina di desa tempat kontak tembak dengan kelompok Abu Sayyaf. [fw/em]

Diterbitkan di Berita

TEMPO.COJakarta - Uni Emirat Arab (UAE) mengumumkan akan berinvestasi sebesar 10 miliar dolar AS ke sovereign wealth fund Indonesia - Otoritas Investasi Indonesia (INA). Investasi ini bagian dari arahan Putra Mahkota Abu Dhabi dan Wakil Komandan Tertinggi Angkatan Bersenjata Uni Emirat Arab (UAE) , Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan. 

"Investasi-investasi itu akan fokus pada sektor strategis Indonesia, termasuk infrastruktur, jalan-jalan, pelabuhan-pelabuhan, pariwisata, agrikultur, dan sektor menjanjikan lainnya dari segi potensi pertumbuhan dan dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan serta kemajuan ekonomi dan sosial," dilansir dari kantor berita resmi UAE, WAM, Selasa 23 Maret 2021.

Presiden Joko Widodo telah mengumumkan nama-nama anggota Dewan Pengawas dan Dewan Direktur INA. Pembentukan dewan tersebut dianggap sebagai tutuk balik dalam pemerintahan dan pengembangan sistem investasi di Indonesia. 

Sovereign fund (SWF) Indonesia bertujuan untuk mengimplementasikan proyek-proyek strategis yang mendukung pembangunan nasional, termasuk pembangunan infrastruktur dan konstruksi ibu kota baru di Kalimantan.

UAE dan Indonesia memiliki hubungan politik, ekonomi, dan kebudayaan yang kuat. Hubungan diplomatik resmi antara kedua negara dimulai pada 1976, dengan kedutaan besar Indonesia di Abu Dhabi yang dibuka pada 28 Oktober 1978. Adapun Kedubes UAE di Jakarta diresmikan pada 1991, menyusul kunjungan yang bersejarah oleh mendiang Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan ke Indonesia pada 1990.

Hubungan antara kedua negara telah melewati pertumbuhan besar dalam beberapa tahun terakhir dengan peningkatan dalam kunjungan dari pejabat pemimpin dan pejabat senior kedua negara, terutama kunjungan Presiden Indonesia Joko Widodo pada September 2015 ke UAE, dan kunjungan Putera Mahkota Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan ke Indonesia pada Juli 2019.

Kedua negara telah menandatangani sejumlah kesepakatan kerjasama. Keduanya pun baru-baru ini menyelesaikan Pekan UAE-Indonesia 2021, di mana sejumlah kesepakatan kerja sama telah ditandatangani terkait dengan pelabuhan, logistik, industri pertahanan dan strategis, energi, pariwisata, ekonomi kreatif dan mangrove.

Dari segi hubungan perdagangan dan ekonomi Uni Emirat Arab dan Indonesia, telah terdapat pertumbuhan besar, dengan volume pertukaran dagang mencapai 3,7 miliar dolar AS.

Reporter: Antara
Editor: Ali Akhmad Noor Hidayat
Diterbitkan di Berita
KBRN, Jakarta: Seorang pemimpin kelompok Abu Sayyaf Majan Sahidjuan, alias Apo Mike terbunuh setelah baku tembak dengan pasukan Marinir Filipina, pada Sabtu (20/3/2021) malam di Kota Languyan di Provinsi Tawi-Tawi selatan.

Atas kejadian itu, empat sandera Indonesia yang ditahan sejak tahun lalu, menurut pihak militer kemarin berhasil diselamatkan. 

"Kami senang bahwa semua sandera aman sekarang dan kami juga dapat melenyapkan 'Apo Mike' yang terkenal kejam dan dua rekannya,” kata Komandan Komando Mindanao Barat militer, Letnan Jenderal Corleto Vinluan Jr. seperti dikutip TheGuardian.com, Senin (22/3/2021). 

Menurutnya, pemimpin kelompok itu sering melakukan penculikan untuk meminta uang tebusan. Sahidjuan sebagai dalang dalam beberapa penculikan oleh Abu Sayyaf, yang berbasis di Sulu.

Selain itu, juga terlibat dalam serangan bom dan pembajakan selama beberapa dekade. 

Dimana sejak 2014, mereka telah menyatakan kesetiaan kepada kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). 

Sahidjuan termasuk di antara lima militan Abu Sayyaf yang pergi ke Tawi-Tawi dengan perahu dari Sulu bersama empat korban penculikan asal dari Indonesia Kamis lalu. 

Perahu mereka terbalik setelah dihantam ombak besar sehingga memudahkan pasukan pemerintah untuk menyelamatkan tiga dari empat sandera.  

Mereka adalah Arizal Kasta Miran, 30, Arsad Bin Dahlan, 41 dan Andi Riswanto, 26. Nama yang keempat, Mohd Khairuldin yang berusia 15 tahun, ditemukan oleh pasukan pemerintah di desa yang sama tempat baku tembak terjadi. 

Keempat sandera ini diculik Abu Sayyaf pada 17 Januari tahun lalu di lepas pantai Tambisan di Malaysia. Satu dari lima orang tewas saat mencoba melarikan diri.

Diterbitkan di Berita

Sejak diumumkan ke khalayak tahun 2019, Raya and the Last Dragon (selanjutnya disebut Raya) telah didengungkan sebagai film animasi yang terinspirasi budaya Asia Tenggara. Di samping Kelly Marie Tran – aktris Amerika keturunan Vietnam pemeran Raya, kedua penulis skenario, Adele Lim dan Qui Nguyen, juga berdarah Asia Tenggara.

Di sepanjang film, penonton Indonesia dimanjakan berbagai tampilan audio-visual dengan referensi budaya yang tidak asing, seperti kesenian wayang kulit, gamelan, buah kelengkeng, struktur atap rumah gadang, hingga pedang menyerupai keris yang jadi senjata andalan Raya.

Kemunculan elemen-elemen tersebut nyatanya tidak lepas dari peran sejumlah konsultan budaya asal Indonesia yang terlibat dalam film besutan Disney itu.

 

Kumandra, negeri dongeng yang diwarnai unsur-unsur budaya Asia Tenggara. (Foto: Courtesy/Disney Media and Entertainment Distribution)
Kumandra, negeri dongeng yang diwarnai unsur-unsur budaya Asia Tenggara. (Foto: Courtesy/Disney Media and Entertainment Distribution)

 

“Saya bagian bahasa,” kata Juliana Wijaya, ahli bahasa sekaligus Presiden Dewan Pengajar Bahasa-Bahasa Asia Tenggara di AS, saat diwawancarai VOA melalui Zoom (11/3).

Ini pertama kalinya ia dilibatkan sebagai konsultan budaya untuk proyek sebesar Raya. Juliana bercerita, dirinya dihubungi tim Disney pada April 2019, “Mungkin karena saya di UCLA dan terlibat di Centers for Southeast Asian Studies UCLA.”

 

Juliana Wijaya. (Foto: Dok Pribadi)
Juliana Wijaya. (Foto: Dok Pribadi)

 

Juliana dilibatkan untuk memastikan kesesuaian istilah-istilah yang dipakai film fantasi itu dengan konteks budaya di Asia Tenggara.

“Mereka punya tim kreatif yang menciptakan bahasa,” ujarnya. “Mereka mengirim ke saya, ‘ini ada beberapa pilihan (kata), yang mana yang paling baik?’ Saya bisa melakukan riset untuk melihat apakah kata-kata itu ofensif atau tidak.”

Perannya tidak hanya sampai di situ, ia juga membantu tim Disney menciptakan aksara fiktif yang muncul dalam Raya. Ia memberikan pemahaman kepada tim kreatif tentang perbedaan goresan dan lekuk huruf asal negara-negara di Asia Tenggara dengan aksara dari wilayah lain.

Satu hal yang ia jadikan pedoman selama memberikan konsultasi tersebut: “Mereka bilang, ‘jangan lupa bahwa ini fantasi.’” Meski terinspirasi budaya Asia Tenggara, elemen-elemen yang muncul dalam Raya diminta agar tidak secara jelas merujuk pada satu kebudayaan tertentu.

 

Emiko Susilo. (Foto: Dok Pribadi)
Emiko Susilo. (Foto: Dok Pribadi)

 

Hal yang sama menjadi pegangan dua sosok Indonesia lainnya yang terlibat dalam proyek Raya: Emiko Saraswati Susilo dan Dewa Putu Berata.

“Saya masih ingat sekali waktu Osnat (produser Raya, Osnat Shurer -red) bilang, ‘film ini harus tidak menunjukkan satu tempat,’” ungkap Dewa dalam wawancara Skype dengan VOA, Jumat (5/3).

Dewa dan Emiko adalah pasangan seniman dari Sanggar Seni Çudamani, yang berbasis di California, AS, dan Gianyar, Bali. Dewa dikenal dengan keahliannya menciptakan komposisi gamelan. Ia juga telah membawa sanggar yang didirikannya tampil di berbagai panggung dunia.

Sementara Emiko, yang lahir dan besar di Los Angeles, California, telah mendalami seni tari Bali dan Jawa sejak lama. Kini, dirinya ikut memimpin Sanggar Çudamani sebagai pengajar dan koreografer.

“Filmnya fantasi, seperti petualangan fantasi golongannya. Jadi, seperti Pak Dewa katakan tadi, memang saya kira dia mencari benang merah antara (budaya-budaya di) Asia Tenggara,” timpal Emiko dalam wawancara yang sama.​

 

Observasi Budaya Indonesia

Dewa Putu Berata. (Foto: Dok Pribadi)
Dewa Putu Berata. (Foto: Dok Pribadi)

 

Tugas pertama Dewa dan Emiko, setelah bergabung dengan tim konsultan budaya Raya pada Februari 2019, adalah mengorganisasi kunjungan tim Disney ke Bali. Keduanya lantas membawa kru film itu ke kampung halaman Dewa di Banjar Pengosekan, Gianyar, di mana mereka mengikuti berbagai kegiatan – dari upacara adat, demo pencak silat hingga lokakarya gamelan.

“Mereka melihat tingkatan-tingkatan kejadian, dari yang paling sakral di dalam pura, di tengah hingga di luar. Saya kira mereka melihat bagaimana orang menempatkan diri,” kenang Dewa.

Para kru, kata Dewa, tak lupa untuk melukis apa yang mereka lihat selama kunjungan tersebut. Mereka yang ikut dalam rombongan itu, antara lain sutradara John Ripa dan Paul Briggs, pengarah artistik Helen Chen dan Shiyoon Kim, serta head of story Fawn Veerasunthorn.

Emiko menuturkan, “Mereka mengunjungi Bali untuk mengetahui budaya, merasakan bagaimana kehidupan (warga), upacara dan keluarga di Bali.”

 

Konsultan budaya Raya, Dewa Putu Berata, dan anggota sanggar Çudamani mengajarkan gamelan kepada kru Raya saat berkunjung ke Bali.
Konsultan budaya Raya, Dewa Putu Berata, dan anggota sanggar Çudamani mengajarkan gamelan kepada kru Raya saat berkunjung ke Bali.

 

Setelah menyelesaikan observasi di Pulau Dewata serta dua negara lainnya, Kamboja dan Laos, Dewa dan Emiko kembali membuat lokakarya gamelan dan kecak bagi tim yang terlibat di studio animasi Disney di Burbank, Los Angeles. Di sana, keduanya juga memeragakan berbagai gestur khas orang Indonesia dalam kehidupan sehari-hari untuk kembali direkam dan dilukis sebagai referensi, selain tentunya memberikan konsultasi di sepanjang proses pembuatan film.

“Kadang-kadang mereka menunjukkan sekelumit adegan, menanyakan ‘Apakah ini sesuai dengan sopan santun?’ atau ‘Apakah benar cara memegang senjatanya?’” tutur Dewa.

Yang jelas, Emiko terkesan dengan keseriusan tim yang terlibat untuk memastikan keakuratan referensi budaya dengan animasi yang mereka garap.

“Gerakan badan kita juga (mengandung) banyak komunikasi, kan? Dan gerak-gerik orang Indonesia berbeda dengan gerak-gerik orang Amerika,” paparnya. “Sering kita bicarakan detil yang sangat kecil, ya lewatnya (di depan layar) hanya 2-3 detik, tapi penting sekali bagi saya – bagi kita semua saya kira. Akan ada rasa, ‘Itu asli Asia Tenggara atau gambaran saja?’”

Pemilihan Nama ‘Raya’ dan Indonesia

Seperti Emiko, Juliana Wijaya juga kagum dengan upaya studio film raksasa yang terkenal dengan karakter para putrinya itu dalam membuat kisah dan penggambaran Raya yang dekat dengan budaya Asia Tenggara, meskipun tidak spesifik mengangkat budaya Indonesia.

“Kalau kita pikirkan hanya Indonesia saja – sementara banyak sekali negara-negara di Asia Tenggara – kapan kita masuk?” ujarnya.

 

Karakter Boun disuarakan Izaac Wang, aktor cilik keturunan Tionghoa-Laos. (Foto: Courtesy/Disney Media and Entertainment Distribution).
Karakter Boun disuarakan Izaac Wang, aktor cilik keturunan Tionghoa-Laos. (Foto: Courtesy/Disney Media and Entertainment Distribution).

 

Pemilihan kata ‘Raya’ – yang familiar di telinga orang Indonesia – sebagai nama karakter utama dalam film animasi itu sendiri tak lepas dari peran Juliana.

“Mereka memberi saya beberapa kata, lalu saya mengatakan, ‘OK, kalau ini artinya ini… ini kemungkinan artinya dekat dengan ini.’ Lalu, saya memilih ‘Raya’,” ungkapnya. “Karena, pertama… ya saya orang Indonesia.”

Selain ‘Raya’, terdapat beberapa kata lain yang dipertimbangkan Disney untuk menamai karakter utama film itu, termasuk ‘Kaya’, “Aduh… kalau ‘Kaya’ ini artinya rich ya, jadi tidak menjangkau banyak orang,” jelasnya.

Meski demikian, perlu waktu berbulan-bulan hingga akhirnya Disney resmi menjatuhkan pilihan pada nama ‘Raya’ – sebuah momen yang amat berkesan bagi Juliana.

 

Konsultan budaya Raya, Emiko Susilo, beserta putrinya, Dewa Ayu Larassanti, menunjukkan gerakan tarian Bali di Studio Animasi Walt Disney di Burbank, California.
Konsultan budaya Raya, Emiko Susilo, beserta putrinya, Dewa Ayu Larassanti, menunjukkan gerakan tarian Bali di Studio Animasi Walt Disney di Burbank, California.

“Saya waktu itu lagi di Indonesia, baru sampai, lagi jetlag, masih jam tiga pagi, saya ditelepon,” ungkapnya. “Scott (penasihat produksi Raya, Scott Sakamoto -red) mengatakan, ‘Juliana, dewan (pimpinan Disney) akan menggelar pertemuan dalam satu jam untuk menentukan nama karakternya. Apakah kamu setuju dengan nama ‘Raya’?’”

Ia bercerita bahwa dirinya sulit berkonsentrasi dini hari itu, pasalnya Scott tidak sadar bahwa Juliana tidak sedang berada di Amerika.

 

Poster Raya and the Las Dragon. (Foto: Courtesy/Disney Media and Entertainment Distribution)
Poster Raya and the Las Dragon. (Foto: Courtesy/Disney Media and Entertainment Distribution)

 

“Saya masih jetlag, ‘Ini siapa ya? Terus yang mau dibicarakan itu siapa? Naganya ya?’” kenangnya. Lalu, Scott menjawab, “‘Bukan. Karakter utama: Raya.”

Juliana lantas tersadar, “Oh ya, ‘Raya’!” dan mengatakan, “Ya, saya approve!”

Ia senang bukan main karena nama pilihannya terpilih menjadi nama karakter utama animasi itu, karena “memang artinya paling bagus.”

“’Raya kan ‘merayakan’, saya bilang begitu. Jadi, raya itu kalau di Indonesia artinya grand, kemudian merayakan itu to celebrate,” paparnya, “Dan penulis skenarionya kan dua, Qui Nguyen dan Adele Lim – Adele kan orang Malaysia, dia bisa bahasa Melayu – dia juga setuju.”

 

Terinspirasi Rasa Kebersamaan di Indonesia

Wawancara VOA melalui Skype dengan Adele Lim. (Foto: VOA)
Wawancara VOA melalui Skype dengan Adele Lim. (Foto: VOA)

 

Dalam perbincangan melalui Skype dengan VOA, Kamis (11/3), Adele Lim, penulis skenario Raya yang berasal dari Malaysia, sangat senang mendapatkan kesempatan untuk menulis sebuah cerita dengan nuansa Asia Tenggara yang sangat kental.

“Terkadang mudah bagi kita yang tumbuh di Malaysia atau Indonesia untuk merasa bahwa dunia mungkin tidak benar-benar memahami atau melihat kita. Maka itu, rasanya selalu menyenangkan ketika mereka datang melihat langsung dan memahami keindahan dan kekayaan kita,” ujar Adele yang sebelumnya menulis skenario film Crazy Rich Asians.

Kekayaan yang ia maksud, terutama, adalah rasa kebersamaan yang kuat dalam kehidupan bermasyarakat di negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Hal itu jelas ia lihat saat mengikuti lokakarya gamelan yang digelar Dewa dan Emiko di studio Disney.

 

Pencak silat menginspirasi keahlian bela diri karakter Raya. (Foto: Courtesy/Disney Media and Entertainment Distribution)
Pencak silat menginspirasi keahlian bela diri karakter Raya. (Foto: Courtesy/Disney Media and Entertainment Distribution)

 

“Ketika mereka membawa masuk gamelan, para pemain dan penarinya, yang kita lihat bukan hanya tentang kesenian yang mereka pertunjukkan ke dunia, tetapi juga tentang bagaimana mereka sebagai sebuah keluarga saling terhubung satu sama lain, bagaimana mereka dan para penampil saling terkait satu sama lain, dan bagaimana mereka benar-benar mampu menciptakan keselarasan antara eratnya hubungan sebagai sebuah keluarga, sebuah komunitas, dengan bagaimana Anda tampil sebagai sebuah kesatuan,” paparnya.

Rasa kebersamaan itu juga Adele rasakan dalam visualisasi kisah Raya, yang ia sebut dikerjakan oleh banyak seniman Disney keturunan Asia Tenggara, termasuk mereka yang berdarah Indonesia, yang tumbuh dalam lingkungan rumah tangga khas Asia Tenggara.

“Seringkali tim pengembangan visual – tim ahli kami – melibatkan diri, tapi banyak di antara sentuhan yang muncul juga berasal dari para storyboard artist, banyak di antaranya dari Indonesia, baik itu Griselda Sastrawinata atau Luis Logam, yang bisa menuangkan jati diri mereka seutuhnya ke dalam bentuk visual, bahkan tanpa harus diminta dulu sebelumnya melalui naskah,” jelas Adele.

Rasa kebersamaan itu jugalah yang menjadi tema utama kisah Raya, yang dipandang Disney sebagai nilai utama yang menjadi benang merah beragam budaya di Asia Tenggara.

 

Raya kecil bersama sang ayah, Chief Benja, yang bercita-cita mempersatukan kembali negeri Kumandra. (Foto: Courtesy/Disney Media and Entertainment Distribution)
Raya kecil bersama sang ayah, Chief Benja, yang bercita-cita mempersatukan kembali negeri Kumandra. (Foto: Courtesy/Disney Media and Entertainment Distribution)

 

Adele mengatakan, “Yang kami cari bukan sekadar tampilan luarnya – mengambil apa yang kelihatan indah dan menggunakannya dalam film, tapi lebih mendalam dari itu. Yang kami benar-benar ‘baca’ dari banyak negara dan budaya di Asia Tenggara adalah rasa kebersamaannya.”

Raya and the Last Dragon menceritakan petualangan Raya di negeri Kumandra, sebuah negeri dongeng yang dahulu kala ditinggali manusia dan para naga secara berdampingan. Sambil ditemani – dan menunggangi – hewan peliharaannya yang tampak seperti percampuran anjing dan serangga armadillo (pillbug) bernama Tuk-Tuk, Raya mencari naga terakhir yang bisa membantunya menyatukan kembali warga Kumandra yang terpecah belah dan menyelamatkan mereka dari kawanan monster tak berwajah, yang telah mengubah ayah Raya dan banyak warga lainnya menjadi arca.

Raya tayang di bioskop sejak awal Maret lalu. [rd/ab]

Diterbitkan di Berita

Rachmatunnisa - detikInet Jakarta - Website dan akun media sosial (medsos) jadi aset digital yang penting buat universitas-universitas di Indonesia di tengah industri 4.0, dan juga situasi pandemi yang menuntut semua sektor go digital.

Baik website maupun akun medsos universitas, dimanfaatkan untuk memastikan ratusan, bahkan ribuan mahasiswa aktif dan juga para calon mahasiswa bisa tetap up to date mengetahui apa yang saat ini sedang terjadi di kampus mereka.

Nah, startup teknologi edukasi (edutech) RevoU melakukan riset dengan mengurutkan universitas di Indonesia yang memiliki website dan medsos terbaik di Q1 2021.

Dalam risetnya, RevoU mengumpulkan 30 universitas besar di Indonesia, terdiri dari universitas negeri dan swasta. Dari sana, RevoU mengumpulkan dan membandingkan jumlah pengunjung website bulanan (SimilarWeb), jumlah pengikut di medsos (Instagram, Twitter, LinkedIn, dan YouTube), jumlah konten di masing-masing medsos, strategi konten di medsos universitas.

RevoU juga melihat strategi apa saja yang dilakukan di masing-masing aset digital yang setiap universitas miliki. Ini dia hasilnya, apakah kampus kamu termasuk?

Website paling banyak dikunjungi

Universitas Gadjah Mada (UGM) menempati urutan teratas website kampus terbaik. Pengunjung bulanan website UGM tercatat sebesar 6,1 juta. Dalam posisi 5 besar, di belakangnya masing-masing menyusul Universitas Indonesia (UI) dengan pengunjung bulanan 5 juta, Binus University 4,3 juta, Institut Teknologi Bandung (ITB) 3,9 juta, dan Universitas Brawijaya sebanyak 3,5 juta pengunjung.

Dalam infografis berikut ini ditampilkan urutan lengkap website universitas paling banyak dikunjungi.

website dan medsos kampus terbaik

Di Instagram

UGM memiliki jumlah follower terbanyak di Instagram dengan total 750 ribu follower. Salah satu strategi konten yang dilakukan adalah membuat konten seperti UGM Sepekan untuk merangkum apa saja informasi-informasi terpenting di kampusnya.

 

website dan medsos kampus terbaik

Berdasarkan data Socialblade, selain memiliki followers yang cukup banyak, rata-rata interaksi di akun Instagram UGM juga cukup tinggi. Rata-rata likes 10 ribu dan komentar 46. Rata-rata kenaikan jumlah followers di akun UGM juga tinggi yaitu sebesar 220 followers setiap harinya. UI mengekor di belakangnya dengan 680 ribu follower, diikuti Brawijaya (272 ribu), ITB (266 ribu), dan Universitas Padjadjaran (UNPAD) dengan 254 ribu follower. 

Di Twitter

UI dan UGM memiliki lebih dari satu juta follower di Twitter. Selain UI dan, di posisi berikutnya ada UNPAD (973 ribu), ITB (922 ribu), dan Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan 741 ribu follower.

ITS menjadi universitas yang paling banyak nge-tweet dengan total 84 ribu kicauan. Diikuti oleh UI, Telkom University, dan Universitas Airlangga dengan jumlah rata-rata tweet di atas 26 ribu. UI menggunakan Twitter untuk menyampaikan update terkait kegiatan civitas akademika UI. Selain itu, Twitter juga menjadi media untuk menjawab pertanyaan follower.

UGM menggunakan Twitter sebagai salah satu media promosi portal berita https://ugm.ac.id/id/berita/ yang informasinya juga dapat dinikmati masyarakat umum. Di posisi nomor lima, ada IPB yang memiliki beberapa content pillar di Twitter yang terwakili dengan hashtag #BeritaIPB, #MasukIPB, #SpotIPB, #IPBTips.

website dan medsos kampus terbaik

Di YouTube

ITB menempati posisi pertama sebagai kampus dengan jumlah YouTube subscriber terbesar, yakni 100 ribu (silver play button) dan total video view sebesar 8.5 juta. Salah satu strategi konten yang dilakukan ITB adalah membuat seminar atau Stadium Generale dengan mengundang para ahli di bidangnya.

Berdasarkan data dari Socialblade, Universitas Udayana memiliki channel YouTube paling aktif dengan jumlah video sebanyak 2.618 dan total video views sebesar 1.5 juta. Berikut ini daftar lengkap kampus dengan total subscriber dan video terbanyak.

website dan medsos kampus terbaik


Di LinkedIn

Ada tiga universitas yang memiliki follower terbanyak di LinkedIn, yaitu UGM, ITB, dan UI. Namun tampaknya hanya UGM yang cukup aktif untuk memproduksi konten di jejaring sosial profesional ini.

website dan medsos kampus terbaik

*Artikel ini berdasarkan riset RevoU tentang "Peta Digital Universitas di Indonesia"

(rns/fay)

Diterbitkan di Berita

Lucas Aditya - detikSport Jakarta -  Pemain tunggal putri Turki, Neslihan Yigit, masih terus lanjut di All England 2021. Padahal, pebultangkis 27 tahun itu sepesawat dengan tim Indonesia.

Yigit dijadwalkan melawan unggulan ketiga asal Jepang, Akane Yamaguchi. Dia memainkan laga kedua di Court 2 Utilita Arena, Birmingham, Kamis (18/3/2021) pukul 10.00 waktu setempat.

Yigit mengalahkan wakil Prancis, Marie Batomene, dalam pertandingan tiga gim. Dia menang 13-21, 21-19, dan 21-17.

Sebelumnya, pihak otoritas kesehatan Inggris, National Health Service, meminta tim Indonesia agar melakukan isolasi mandiri selama 10 hari karena salah satu penumpang yang sepesawat dalam penerbangan dari Turki ke Inggris terkonfirmasi positif COVID-19.Ketum PBSI, Agung Firma Sampurna, mengonfirmasi dalam jumpa pers bahwa Yigit ada dalam satu pesawat penerbangan dari Istanbul ke Birmingham dengan tim Indonesia.

Dengan begitu, Tim Indonesia tak akan bisa mengikuti sisa All England 2021 karena ajang ini akan selesai pada akhir pekan ini.

"All England 2021 bisa begitu ya. Terserah yang punya acara deh. Atur aja," kata Greysia di akun @greyspolii.Tim Indonesia sudah mengungkapkan kekecewaan gagal menyelesaikan All England 2021 karena dipaksa mundur dengan kalah WO. Salah satunya diungkapkan oleh Greysia Polii lewat Intagram Story.

Pihak Kedutaan Besar Indonesia untuk Inggris sedang memperjuangkan nasib Tim Indonesia di All England 2021. Dubes Desra Percaya, sedang melakukan komunikasi yang intens dengan pihak yang berwenang di Negara Ratu Elizabeth.

(cas/bay)

Diterbitkan di Berita

Masih Surplus Dihadang Pandemi

Rabu, 17 Maret 2021 09:28

Kerjha — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tren kenaikan neraca perdagangan yang masih terus berlanjut di tengah pandemi global Covid-19. Pada Februari 2021, necara dagang tercatat mencapai USD 2 miliar, membaik dari surplus bulan sebelumnya sebesar USD 1,96 miliar.

Berdasarkan catatan BPS, nilai ekspor Indonesia Februari 2021 mencapai USD 15,27 miliar atau turun 0,19 persen dibanding ekspor Januari 2021. Sementara dibanding Februari 2020, naik sebesar 8,56 persen.

Ditilik dari kategorinya, ekspor nonmigas Februari 2021 mencapai USD 14,40 miliar, turun 0,04 persen dibanding Januari 2021. Sedangkan jika dibandingkan dengan ekspor nonmigas Februari 2020, naik 8,67 persen.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Februari 2021 mencapai USD 30,56 miliar atau naik 10,35 persen dibanding periode yang sama pada 2020. Demikian juga ekspor nonmigas mencapai USD 28,81 miliar atau naik 10,52 persen.

Sementara penurunan terbesar ekspor nonmigas Februari 2021 terhadap Januari 2021 terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar USD 639,5 juta (27,11 persen), dan peningkatan terbesar terjadi pada besi dan baja sebesar USD 240,7 juta (24,20 persen).

Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari– Februari 2021 naik 10,29 persen dibanding periode yang sama pada 2020, demikian juga ekspor hasil pertanian naik 8,81 persen dan ekspor hasil tambang dan lainnya naik 12,19 persen.

Ekspor nonmigas Februari 2021 terbesar diserap Tiongkok sebesar USD 2,95 miliar, disusul Amerika Serikat USD 1,86 miliar, dan Jepang USD 1,20 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 41,77 persen. Sementara ekspor ke ASEAN dan Uni Eropa masing-masing sebesar USD 2,99 miliar dan USD 1,13 miliar.

Adapun menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari–Februari 2021 berasal dari Jawa Barat dengan nilai USD 5,16 miliar (16,90 persen), diikuti Jawa Timur USD 3,23 miliar (10,56 persen), dan Riau USD 2,64 miliar (8,63 persen).

Masih berdasarkan data BPS, nilai impor Indonesia Februari 2021 mencapai USD 13,26 miliar, turun 0,49 persen dibandingkan Januari 2021 atau naik 14,86 persen dibandingkan Februari 2020.

Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Februari 2021 adalah Tiongkok USD 8,06 miliar (33,95 persen), Jepang USD 1,86 miliar (7,83 persen), dan Singapura USD 1,31 miliar (5,53 persen). Sedangkan impor nonmigas dari ASEAN USD 4,41 miliar (18,57 persen) dan Uni Eropa USD 1,55 miliar (6,54 persen).

Diterbitkan di Berita