VIVA – Aksi kelompok peretas atau hacker Indonesia menyerang pertahanan Israel dinilai sebagai bentuk solidaritas ke Palestina sebagai sesama negara berpenduduk Muslim. Selain Indonesia, hacker Malaysia juga melakukan hal serupa terhadap negeri Yahudi itu.

"Biasanya ada pihak yang mengunggah proses dan keberhasilan di video. Hal semacam ini memang banyak ditemui di YouTube. Artinya, ada potensi di mana SDM di Tanah Air bisa dimaksimalkan lebih baik lagi. Khususnya membentuk SDM yang bisa berkontribusi dalam era cyberwarfare," kata pakar siber Pratama Persadha kepada VIVA Tekno, Senin malam, 24 Mei 2021. 

Seperti diketahui, baru saja kelompok hacker Indonesia yang mengatasnamakan dirinya sebagai Ganosec Team atau Garuda Anon Security mengklaim telah meretas email dan 300 nomor WhatsApp penduduk Israel. Di mata Pratama hal ini tidak langsung mudah untuk dibuktikan.

Pun, di berbagai postingan media sosial, juga ditemukan netizen Indonesia dan Malaysia kompak menyerukan untuk bersama-sama membantu Palestina dengan cara meretas. Ada banyak postingan ajakan maupun sebatas meme grafis, terutama di media sosial Facebook.

Menurut Pratama, negara hanya bisa mengimbau supaya masyarakat tetap bisa menjaga diri di ranah digital. Aksi peretasan yang melibatkan berbagai warga negara terkait konflik Palestina dan Israel memang sudah lama terjadi.

"Iran dan Pakistan misalnya, juga biasanya diketahui selalu ikut dalam aksi saling meretas dengan Israel. Tentunya juga bersama dengan warga negara Arab lainnya," ungkap dia.

Bahkan, ada beberapa kelompok hacker asal California, Amerika Serikat (AS) yang turut serta membantu aksi peretasan terhadap Israel. Namun, lanjut Pratama, peretasan ini tak selalu menyerang langsung ke aset strategis Israel maupun personel militernya.

"Dalam beberapa kejadian ada saja hacker asal Timur Tengah yang berkolaborasi dengan peretas Rusia. Misalkan melakukan pembobolan bank lalu menyumbangkannya ke warga Palestina," jelas Pratama.

Informasi saja, tidak hanya meretas nomor WhatsApp dan email, hacker Indonesia juga mengaku telah membobol data pribadi milik Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu. Hal tersebut diungkapkan oleh akun Twitter @alaldlwkxl.

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Tren kasus Covid-19 dan keterisian tempat tidur rumah sakit - khususnya di Sumatra - yang terus mengalami peningkatan di tengah laporan tambahan kasus varian dari Inggris dan India adalah "puncak gunung es" yang menunjukkan Covid-19 di Indonesia jauh lebih parah dari kenyatannya, kata epidemiolog.

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan bertambahnya kasus varian baru dan mobilisasi penduduk selama liburan Lebaran berkontribusi pada tren lonjakan kasus selama beberapa hari terakhir - mencapai 5.000 kasus per hari - yang diprediksi akan terus meningkat sampai pertengahan Juni.

Pakar epidemiologi dari Universitas Griffith di Australia, Dicky Budiman, menyebut tren lonjakan kasus selama sepekan terakhir adalah "sinyal yang sangat serius" di tengah "minimnya pengetesan dan pelacakan".

"Dengan situasi minimnya testing dan tracing, di tengah sebagian kasus terjadi di rumah-rumah dan ada peningkatan di rumah sakit, itu adalah puncak gunung es yang sudah menyentuh rumah sakit. Artinya, kasus yang sebenarnya di daerah jauh lebih serius, harus dilakukan pendataan ke rumah-rumah," kata Dicky Budiman kepada BBC News Indonesia, Senin (24/05).

Di sisi lain, ia memprediksi dalam dua hingga tiga bulan ke depan Indonesia akan menghadapi lonjakan kasus Covid-19 dengan semakin banyaknya kasus varian B117 dari Inggris dan varian B1617 dari India yang ditemukan Indonesia.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa sudah ada 54 kasus mutasi virus SARS-Cov-2 yang tergolong variant of concern (VoC), dengan rincian 18 kasus B117, 32 kasus B1617 dan 4 kasus varian B1351 dari Afrika Selatan.

Empat provinsi di Sumatra, yakni Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau dan Sumatra Selatan, termasuk dalam zona merah Covid-19 dengan risiko tinggi.

 

pekerja migran

Sejumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) antre untuk melakukan pengecekan dokumen perjalanan di Pelabuhan Internasional Batam Centre, Batam, Kepulauan Riau, Kamis (29/04). Disebutkan, sebagian kasus varian dari luar negeri berasal dari PMI dan WNA. ANTARA FOTO/TEGUH PRIHATNA

 

Kementerian Kesehatan mencatat rata-rata keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) di Indonesia berkisar 30%, namun di Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Riau di atas 50%.

Riau mencatat rata-rata BOR unit perawatan intesif (ICU) tertinggi, yakni 65%.

Jumlah itu melebihi ambang batas aman persentase BOR rumah sakit yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni sebesar 60 persen.

'Keterisian ICU 80% hingga 100%'

Suasana di Pasar Raya Padang pada Minggu (23/05) tampak ramai dijejali dengan warga yang berbelanja. Mereka tampak berimpitan satu sama lain di antara lapak-lapak pedagang yang berjejer tanpa menjaga jarak. Kebanyakan dari mereka, tampak tak mengenakan masker.

Situasi abai protokol kesehatan juga tampak terjadi di Pantai Padang, pada Minggu (23/05) sore.

 

Pasar Raya Padang

Suasana di Pasar Raya Padang pada Minggu (23/05)malam. GAMBAR,AGUS EMBUN

 

Salah satu warga, Maharajo, seorang sopir angkot di Padang, mengaku tak lagi percaya dengan Covid dan menyebutnya sebagai "konspirasi".

Kendati ada tren pelonjakan kasus di tempat tinggalnya, pria berusia 40 tahun ini mengaku tak takut dengan bahaya Covid-19.

"Percaya nggak percaya. Yang mati itu tetap akan mati, itu takdir Tuhan. Saya masih tetap tidak percaya," ungkap Maharajo kepada wartawan Agus Embun yang melaporkan dari Padang, Sumatra Barat.

"Saya merasa itu bisnis industri pandemi. Contohnya vaksin, masak vaksin itu yang harus kita pakai? Apa tidak ada pilihan lain? Obat flu aja ada pilihannya, masak vaksin nggak ada pilihannya? Jadi saya tidak percaya itu, pandai-pandai mereka aja," katanya.

Hal senada diungkapkan oleh warga di Padang Pariaman, Armaini, yang menyebut tak merasa perlu mengenakan masker dan menerapkan protokol kesehatan yang lain.

"Banyak meninggal karena Covid. Di sini, tak ada orang meninggal. Hanya saja ada yang demam dan batuk langsung dibilang Covid. Dulu, kalau batuk itu adalah penyakit yang sudah lumrah terjadi kepada setiap orang. Karena faktor cuaca saja itu," jelas Armaini.

 

Pantai Padang

Wisata di Pantai Padang tanpa prokes pada Minggu (23/5/2021) sore. AGUS EMBUN

 

Tren penambahan kasus di Sumatra Barat yang terjadi belakangan, membuat salah satu rumah sakit yang menangani pasien Covid-19, RPSUP DR. M Djamil Padang, kewalahan.

"Pasien kita sekarang ini lebih kurang 120 yang dirawat yang positif Covid, pasien tersebut dirawat di ruang ICU. Ruang ICU kita itu keterisiannya lebih kurang 80%.

Kemudian, kadang kala ruang ICU yang pakai ventilator keterisiannya bisa 100%," kata Gustafianof, juru bicara RSUP DR. M Djamil Padang.

Sementara keterisian tempat tidur di ruang isolasi perawatan Covid, lanjut Gustafianof, kurang lebih 40-50%.

 

RSUP DR. M Djamil Padang

Dirut RSUP DR. M Djamil Padang mengecek ruangan isolasi Covid-19 AGUS EMBUN

 

Untuk mengantisipasi lonjakan kasus, manajemen rumah sakit menyiapkan ruang tambahan dengan 84 tempat tidur, 20 tempat tidur di antaranya untuk perawatan intesif.

Adapun, rata-rata keterisian tempat tidur rumah sakit di Sumatra Barat dan Riau sebanyak 53%. Sedangkan di Sumatra Utara sebesar 58%.

'Hampir seluruh Sumatra alami kenaikan'

Sekretaris Direktorat Jenderal Pelayanan Kemenkes Kesehatan Azhar Jaya mengungkapkan hampir seluruh provinsi di Sumatra mengalami kenaikan kasus Covid-19.

Bahkan, tren peningkatan kasus di Sumatra Utara, Riau, Sumatra Barat dan Kepulauan Riau telah terjadi sebelum masa libur panjang Lebaran.

"Ini kita perkirakan karena provinsi-provinsi ini yang banyak pekerja migrannya dan memang sangat sulit sekali, berdasar keterangan para kepala dinas dan direktur rumah sakit, karena banyak sekali punya pos lintas batas tradisional," ujar Azhar dalam rapat koordinasi satuan tugas penanganan Covid-19 Nasional, Minggu (23/05).

 

Tren peningkatan kasus Covid-19 di Sumatra

Tren peningkatan kasus Covid-19 di Sumatra SATGAS COVID-19

 

"Maka khusus untuk Sumatra trennya nggak turun-turun, naik terus. Jadi ini adalah lima provinsi yang kami terus cermati, karena ada potensi selain mudik lokal, PMI-nya juga sangat tinggi," imbuhnya.

Tren peningkatan kasus juga terjadi di seluruh provinsi di Pulau Jawa, sebagai imbas dari mobilisasi penduduk selama libur panjang Lebaran.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menambahkan mobilisasi penduduk, di tambah semakin meningkatnya jumlah kasus varian baru di Indonesia, berkontribusi pada jumlah peningkatan kasus Covid-19.

"Kita bisa melihat pada empat hari terakhir, peningkatan kasus baru itu mencapai 5.000 [per hari]. Ini menunjukkan mobilisasi selama Ramadan sudah terlihat minggu ini.

 

Terminal Domestik Pelabuhan Sekupang, Batam,

Penumpang kapal asal Dumai tiba di Terminal Domestik Pelabuhan Sekupang, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (21/04) ANTARA FOTO/TEGUH PRIHATNA

 

"Prediksi yang kita lakukan, mungkin akan mencapai peningkatannya sampai pertengahan Juni," kata Dante dalam konferensi pers, Senin (24/05).

Pakar epidemiologi dari Universitas Griffith di Australia, Dicky Budiman, menyebut tren lonjakan kasus selama sepekan terakhir adalah "sinyal yang sangat serius" di tengah "minimnya pengetesan dan pelacakan".

"Dengan situasi minimnya testing dan tracing, di tengah sebagian kasus terjadi di rumah-rumah dan ada peningkatan di rumah sakit, itu adalah puncak gunung es yang sudah menyentuh rumah sakit. Artinya, kasus yang sebenarnya di daerah jauh lebih serius, harus dilakukan pendataan ke rumah-rumah," kata Dicky.

 

Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC), Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta

Sejumlah tenaga kesehatan berjalan menuju ruang perawatan pasien COVID-19 di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC), Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Rabu (05/05) ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT

 

Kasus varian dari India dan Inggris bertambah

Dante menambahkan, hingga kini Kementerian Kesehatan telah mencatat 54 kasus varian yang dikategorikan sebagai variant of concern oleh WHO, yang berasal dari Inggris, Afrika Selatan dan India. Jumlah ini meningkat tiga kali lipat ketimbang jumlah 17 kasus yang tercatat pada April lalu.

"35 di antaranya berasal dari migran dari luar Indonesia dan 19 kasus berasal dari Indonesia, jadi sudah ada penyebaran internal dari varian tersebut."

"Kombinasi antara mobilisasi dan mutasi dari virus menyebabkan kasus ini akan meningkat dalam beberapa saat ke depan," jelas Dante.

 

vaksin, AstraZeneca

Varian baru dari Afrika Selatan disebut berpotensi membuat vaksin jenis tertentu tidak efektif PA MEDIA

 

Pakar epidemiologi dari Universitas Griffith di Australia, Dicky Budiman, memprediksi dalam dua bulan ke depan, Indonesia akan menghadapi lonjakan kasus varian B117 yang berasal dari Inggris.

Disebutkan oleh Dicky, varian ini menambah tingkat keparahan penyakit sehingga akan membuat orang-orang yang disebut rawan - baik dari segi usia dan komorbiditas - akan cenderung mencari layanan kesehatan.

Menurutnya, potensi ini akan jauh lebih buruk lagi dua-tiga bulan ke depan dengan adanya dampak dari varian B1617 dari India, sebab data terakhir menunjukkan B1617 memiliki dampak atau gejala kinlis yang cenderung lebih buruk dari B117.

Di sisi lain, infection contraction transmission varian ini 50-60% lebih tinggi dari B117, kata Dicky.

"Baru mulai ya, tapi belum puncaknya," katanya.

 

Virus corona

Varian baru virus corona yang ditemukan di Inggris memiliki mutasi pada bagian "receptor-binding domain", yang digunakan virus untuk menginfeksi sel tubuh manusia. GETTY IMAGES

 

Minimnya surveilans genomik varian virus corona, kata Dicky, membuat Indonesia "tidak terlalu mengetahui pemetaan varian yang beredar di Indonesia saat ini secara menyeluruh".

Adapun, merujuk data Kementerian Kesehatan, hingga kini telah dilakukan 1.749 sekuens genomik virus Sars-Cov2.

Dari situ, tercatat ada 54 kasus dengan rincian 18 kasus varian B117 dari Inggris, empat kasus varian B1351 dari Afrika Selatan dan 32 kasus varian B1617 dari India.

Kasus varian baru itu kebanyakan berasal dari pekerja migran Indonesia (PMI) yang kembali ke kampung halaman dari sejumlah negara, seperti Arab Saudi, Ghana dan Malaysia.

Sisanya, berasal dari warga negara asing yang tiba dari Taiwan, Singapura dan India.

 

Covid 19

Petugas memeriksa penumpang bus saat pengecekan protokol kesehatan di Terminal Tipe A Mengwi, Badung, Bali, Senin (26/04). NYOMAN HENDRA WIBOWO/ANTARA FOTO

 

Mengapa Covid di Indonesia tampak terkendali?

Di saat Indonesia menghadapi tren lonjakan kasus selama empat hari terakhir, negara-negara tetangga di Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand, telah lebih dulu mengalami lonjakan kasus.

Namun tak seperti negara-negara di kawasan, situasi Covid di Indonesia tampak lebih terkendali, mengapa demikian?

Pakar epidemiologi Dicky Budiman menyebut "situasi di Indonesia seperti tidak ada masalah" sebab kebanyakan warga Indonesia masih mengaggap enteng Covid-19 dan memilih untuk mengobati penyakit secara mandiri ketimbang merujuk ke fasilitas kesehatan.

Budaya seperti ini, kata Dicky, juga terjadi di India dan Brazil sebelum pada akhirnya terjadi lonjakan kasus dan fasilitas kesehatan kewalahan.

Indonesia, menurutnya, memiliki pra-kondisi di mana "tsunami Covid" seperti yang terjadi di India, kemungkinan terjadi.

"Itu yang menyebabkan India seperti sekarang ini dan itu akan berpotensi dialami di Indonesia, paling tidak dua-tiga bulan ke depan. Ini menjawab kenapa Indonesia seperti tidak ada masalah, kalau diperiksa, banyak," kata dia.

 

Covid 19 di India

Seorang warga India yang meninggal akibat terpapar Covid-19 akan dikremasi di Chandigarh, India, Selasa (26/04). RAVI KUMAR/GETTY

 

Pengetesan dan pelacakan minim

Lebih lanjut, Dicky menyatakan bahwa laporan harian Covid-19 di Indonesia, hanya sepersepuluh dari estimasi permodelan epidemiologi kasus harian, yang menurutnya, tak memenuhi logika program epidemiologi.

Dalam logika epidemiologi, kasus bisa diklaim mengalami penurunan jika positivity rate maksimal 5%. Namun di Indonesia, kasus diklaim turun dalam kondisi positivity rate tinggi, yakni sekitar 10%.

"Itu adalah bukti banyak kasus tidak terkendali karena logika program epidemiologi, jika ada 5,000 kasus dilaporkan dalam 3x24 jam ada 100,000 testing, itu minimal.

 

Stasiun Senen

Sejumlah calon penumpang mengantre menaiki kereta di Stasiun Senen, Jakarta, Kamis (20/05). Kemenkes memprediksi lonjakan kasus Covid-19 imbas mudik Lebaran akan terasa hingga Juni. ANTARA FOTO/HAFIDZ MUBARAK A

 

"Tapi kita tidak pernah melihat itu selama satu tahun terakhir. Itu menggambarkan dari satu kasus positif itu tidak tuntas tracing-nya, bagaimana kita berharap karantinanya efektif?

"Yang dilaporkan pemerintah tidak menggambarkan angka yang sesungguhnya. Bahkan di angka kematian saja itu tidak mendekati pada kondisi yang hampir relatif riil, apalagi angka-angka kasus poisitifnya," jelas Dicky.

Pakar permodelan matematika dari Institut Teknologi Bogor, Nuning Nuriani menyebut kapasitas pengetesan memang berkurang karena relawan tracing dan testing berhenti. Akibatnya, sumber daya untuk melakukan pengetesan dan pelacakan kurang.

"Oleh sebab itu karena kurang dites kasusnya tampaknya tidak terlihat. Padahal kalau dlihat data bulan-bulan terakhir positivity rate-nya tinggi, kisarannya 20-40% padahal kita tahu standardnya 5%. Jadi belum aman sama sekali.

"Berkaitan dengan varian baru yang ditemukan, tentu saja ini menambah kecepatan penyebarannya," jelas Nuning.

Sementara itu, analisis dari Insitute of Health Metric and Evaluations di Univesitas Washington, AS, menunjukkan bahwa jumlah total kematian Covid-19 di Indonesia, dan juga di dunia, bisa lebih dari dua kali lipat angka yang dilaporkan.

 

Insitute of Health Metric and Evaluation
INSITUTE OF HEALTH METRIC AND EVALUATION

 

Analisis itu memprediksi bahwa lebih dari 123.000 orang meninggal karena Covid-19 sejak dimulainya pandemi pada Maret tahun lalu. Jumlah itu lebih dari dua kali lipat dari total angka resmi Satgas Covid-19 sebanyak sekitar 49.000.

Adapun hingga kemarin, Indonesia mencatat hampir 6.000 harian dengan jumlah keseluruhan lebih dari 1,7 juta kasus terkonfirmasi.

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Kasus varian corona baru yang termasuk varian of concern (diwaspadai) semakin banyak ditemukan di Indonesia. Kini sudah ada 54 kasus, terdiri dari varian Inggris B117, varian Afrika Selatan B1351, dan varian India B1617.1 serta B1617.2
"Total kasus Variant of Concern sampai saat ini adalah 54 kasus, 18 kasus B117, 4 kasus B1351, dan 32 kasus adalah B1617," kata Kepala Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Vivi Setiawaty, dilihat kumparan di Youtube Pusdalops BNPB, Senin (24/5).
 
54 kasus ini dibawa oleh pihak dari luar negeri. Baik Warga Negara Asing (WNA) maupun Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Dari 54 kasus itu, terdapat 25 kasus yang baru dilaporkan tiap daerah per 20 Mei 2021. Terbanyak varian India yang dibawa oleh WN India di berbagai daerah.
 
Corona Baru Makin Merajalela di RI: Ditemukan 54 Kasus, Terbanyak Varian India (1)
Update kasus varian corona diwaspadai di Indonesia. Foto: Pusdalaops BNPB
 
Berikut data lengkap 54 varian baru corona yang perlu diwaspadai:
  • Arab Saudi: 4 kasus B117 terdiri dari 2 kasus PMI di Karawang, 1 kasus PMI di Balikpapan, dan 1 kasus PMI di Tangerang
  • Ghana: 1 kasus B117 dari PMI di Bogor
  • Kongo: 1 kasus B117 dari TNI di Mojokerto
  • Taiwan: 1 kasus B117 berasal dari WNA masuk via Jakarta.
  • Singapura:1 kasus B1617 berasal dari WNA masuk via Jakarta.
  • India: 1 kasus B117 dan 22 kasus B1617. Berasal dari 13 WNA masuk via Cilacap, 3 WNA masuk via Samarinda, 5 WNA masuk via Jakarta, dan 1 WNA masuk via Dumai.
  • Malaysia: 1 kasus B117 dari PMI masuk Bangkalan via Surabaya, 1 kasus B1351 dari PMI masuk Jember via Surabaya, dan 1 kasus B1617.2 dari Medan via Jakarta.
Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Putri Kusuma Wardani berhasil memutus paceklik gelar tunggal putri Indonesia usai juara Spain Master 2021.

Putri KW keluar sebagai yang terbaik usai mengalahkan wakil Denmark, Line Christophersen di partai puncak. Pebulutangkis berusia 18 itu menang meyakinkan lewat permainan dua gim 21-15, 21-10 di Palacio de Deportes Carolina Marin, Huelva, Minggu (23/5).

Hasil itu bukan hanya jadi debut manis bagi Putri KW di turnamen Super 300. Ia juga membuka kembali keran prestasi di sektor tunggal putri setelah Fitriani.

Dikutip dari akun Twitter Badminton Talk, Putri KW jadi pebulutangkis putri pertama setelah Fitriani jadi juara di Thailand Masters 2019. Putri KW juga menjadi salah satu dari empat tunggal putri yang mampu menjuarai turnamen Grand Prix Gold atau turnamen di atasnya.

Selain Fitriani dan Putri KW, Adriyanti Firdasari dan Lindaweni Fanetri juga pernah mengukir prestasi. Firdasari juara Indonesia Masters 2014, sementara Lindaweni berjaya di Syed Modi 2012.

Putri KW juga jadi salah satu dari empat wakil Indonesia yang jadi juara di Spain Master 2021.

Tiga wakil lainnya yakni ganda putri Yulfira Barkah/Febby Valencia Dwijayanti Gani, ganda putra Pramudya Kusumawardana/Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan, dan ganda campuran Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari.

Keberhasilan Putri KW jadi juara Spain Master 2021 juga tidak lepas dari keberhasilannya mengalahkan pebulutangkis yang lebih diunggulkan.

Putri KW mampu mengalahkan rekan sesama pelatnas Ruselli Hartawan (unggulan kelima), Lianne Tan (unggulan keempat), dan Christophersen yang menempati unggulan ketiga.

Sementara itu, Chico Aura Dwi Wardoyo jadi satu-satunya wakil Indonesia yang kalah di final. Chicho menyerah dari pebulutangkis Prancis, Toma Junior Popov lewat permainan dua gim 15-21, 17-21.

(jal)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia tercatat mengimpor senjata dari Israel senilai US$1,32 juta pada 2020 lalu, atau setara Rp18,48 miliar (kurs Rp14 ribu per dolar AS). Secara volume, impor senjata dari Israel mencapai 2.674 kilogram (kg) atau 2,67 ton.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor senjata dari Israel meliputi tiga kode Harmonized System (HS).

Pertama, kode HS 93011000, yakni senjata artileri, meliputi senapan, mortir, dan meriam howitzer. Nilai impornya mencapai US$1,28 juta atau mayoritas dari total impor senjata dari Israel.

Kedua, kode HS 93051000 yakni suku cadang dan aksesori revolver serta pistol. Nilainya mencapai US$3.756.

Ketiga, kode HS 93059999 yakni suku cadang dan aksesori revolver serta pistol heading 9302 dari kulit/tekstil lainnya. Nilainya, mencapai US$41.091.

Berdasarkan data BPS, impor senjata dari Israel paling banyak masuk pada Oktober 2020 yakni US$1,28 juta. Pada bulan tersebut, Indonesia mendatangkan senjata dengan kode HS 93011000.

Yakni senjata artileri, meliputi senapan, mortir, dan meriam howitzer dan kode HS 93059999 yakni suku cadang dan aksesori revolver serta pistol heading 9302 dari kulit/tekstil lainnya.

Secara total, nilai impor senjata Indonesia sepanjang 2020 sebesar US$404,61 miliar. Itu berarti, impor senjata dari Israel hanya setara dengan 0,32 persen dari total impor senjata Indonesia sepanjang tahun lalu.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat merilis laporan deretan berbagai bentuk pelanggaran kebebasan beragama di berbagai negara selama 2020, termasuk Indonesia.

Dalam laporan yang dirilis di situs Kementerian Luar Negeri AS pada pekan lalu ini, Gedung Putih juga membeberkan setidaknya sepuluh bentuk pelanggaran kebebasan beragama di Indonesia.

1. Pembunuhan di luar hukum

AS menyoroti setidaknya dua dugaan kasus pembunuhan di luar hukum, salah satunya penembakan enam anggota Front Pembela Islam (FPI) di jalan tol Jakarta-Cikampek oleh anggota kepolisian.

Selain itu, AS juga menyoroti kematian Yeremia Zanambani, seorang pendeta yang merupakan pemimpin Gereja Kristen Evangelis Indonesia di Intan Jaya, Papua.

Aktivis lokal dan para pemimpin agama mendesak penyelidikan independen terkait insiden itu. Mereka menduga personel TNI merupakan dalang di balik kematian Yeremia.

2. Dugaan pelanggaran berdasarkan Undang-Undang Penodaan Agama

Dalam dokumen ini, AS menyoroti laporan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia pada Agustus yang menyebutkan bahwa setidaknya ada 38 kasus penodaan agama pada periode Januari hingga Maret, dua di antaranya melibatkan anak di bawah 18 tahun.

AS juga membahas pernyataan Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik, bahwa ketidakjelasan UU Penodaan Agama menyebabkan hukum itu kerap digunakan untuk menargetkan kelompok agama minoritas.

3. Larangan beribadah

Gedung Putih juga menyoroti larangan beribadah bagi kelompok-kelompok agama minoritas di Indonesia. Salah satu isu yang menjadi sorotan besar adalah kesulitan para umat Muslim aliran Syiah untuk beribadah.

AS menjabarkan sejumlah kasus tersebut, salah satunya keputusan Tim Pengawas Aliran Kepercayaan dan Masyarakat (PAKEM) Ternate yang terdiri dari kepolisian, kejaksaan, FKUB, dan MUI.

"Tim PAKEM menerapkan larangan aktivitas kelompok agama Syiah Jafariah di Kota Maluku Utara," tulis Kemlu AS.

Selain itu, AS juga membahas Majelis Desa Adat Bali melarang seluruh aktivitas International Society for Krishna Consciousness (ISKCON). Majelis itu menganggap ajaran ISKCON berbeda dengan ajaran Hindu.

4. Kesulitan izin membangun atau menggunakan tempat ibadah

Beberapa larangan aktivitas keagamaan Kristen juga dibahas dalam laporan ini. Menurut AS, kebanyakan kasus ini berkaitan dengan perizinan.

"Pemerintah lokal, polisi, dan organisasi keagamaan dilaporkan mencoba menutup tempat ibadah kelompok-kelompok minoritas atas dasar pelanggaran izin, sering kali setelah ada protes dari 'kelompok intoleran', meski kelompok-kelompok minoritas itu sudah punya izin resmi," tulis Kemlu AS.

Mereka juga menuliskan, "Pejabat pemerintahan dan kepolisian terkadang gagal mencegah "kelompok intoleran" melanggar kebebasan beragama kelompok lain dan melakukan tindakan intimidasi, seperti menghancurkan rumah ibadah."

5. Penutupan tempat keagamaan lainnya

Selain tempat ibadah, penutupan sejumlah tempat keagamaan lainnya juga disoroti oleh AS, salah satunya penyegelan makam sesepuh Sunda Wiwitan di Kuningan, Jawa Barat.

Setelah Komnas HAM turun tangan untuk memediasi pejabat lokal dengan anggota Sunda Wiwitan, makam itu akhirnya dibuka kembali.

6. Pemaksaan belajar agama di sekolah

Dalam laporan ini, Kemlu AS juga menuliskan, "Kelompok-kelompok minoritas melaporkan banyak sekolah memaksa muridnya untuk mengikuti ajaran agama berdasarkan enam agama yang diakui."

7. Penggunaan parameter keagamaan untuk naik jabatan

Penggunaan parameter salah satu agama untuk menentukan kenaikan jabatan di lingkungan pemerintahan juga tak luput dari perhatian AS.

Mereka membahas keputusan Pemerintah Gowa, Sulawesi Selatan, untuk menerapkan tes baca Alquran untuk ASN yang ingin naik pangkat. Dari 76 orang yang mengikuti tes, 14 di antaranya gagal.

8. Kesulitan akses layanan pemerintah

Berdasarkan penelusuran AS, meski pemerintah Indonesia mengizinkan penduduk untuk mengosongkan kolom agama di KTP, masih ada warga yang mengeluhkan kesulitan mengakses layanan pemerintah jika mereka mengosongkan kolom itu.

9. Kesulitan menikah beda agama

Dalam laporan ini, Kemlu AS juga menuliskan, "Pria dan perempuan beda agama yang ingin menikah masih kesulitan mencari pejabat keagamaan untuk melaksanakan upacara pernikahan."

10. Penerapan Syariah di Aceh

AS menekankan bahwa terdakwa non-Muslim satu kasus di Aceh memang bisa memilih untuk diadili dengan hukum Syariah atau tidak.

Namun, banyak warga non-Muslim dilaporkan memilih untuk mengikuti hukum Syariah karena takut kasus mereka jadi terlalu panjang.

(has)

 

Diterbitkan di Berita

Presiden Joko Widodo mengutuk keras serangan militer Israel terhadap Palestina yang telah menewaskan ratusan orang. Dalam cuitan di akun twitter resminya @Jokowi, Sabtu (15/5) sore, Presiden mendesak agar serangan tersebut segera dihentikan.

“Indonesia mengutuk keras serangan Israel yang telah menelan banyak ratusan korban jiwa, termasuk perempuan dan anak-anak. Agresi Israel harus segera dihentikan,” ungkap Jokowi. 

 

 

Menurut Jokowi, ia telah berbincang dengan berbagai pemimpin negara lainnya guna membahas situasi yang terjadi di Palestina.

Pemimpin-pemimpin tersebut termasuk Presiden Turki, Yang Dipertuan Agung Malaysia, Perdana Menteri Singapura, Sultan Brunei Darussalam, dan Perdana Menteri Malaysia.

“Kita berbicara tentang perkembangan global termasuk tindak lanjut dari pertemuan ASEAN Learders Meeting #ALM, perkembangan di Afganistan dan situasi yang sangat memprihatinkan di Palestina,” kata Jokowi.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, mengaku aktif menghubungi sejumlah menteri luar negeri dari berbagai negara untuk membahas kondisi yang terjadi di Palestina saat ini.

 

Melalui akun twitternya, Retno mengatakan pada Sabtu (15/5) pagi dirinya telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Soukry. Kedua pihak, ujar Retno, sangat prihatin atas kejadian yang berlangsung di wilayah Palestina, termasuk eskalasi dan perluasan konflik.

“Saya juga telah menghubungi rekan saya, yaitu Menteri Luar Negeri Vietnam, India dan Norwegia, untuk melihat kepemimpinan mereka sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, dalam pertemuan yang akan digelar untuk membahas isu kawasan Timur Tengah, termasuk Palestina, pada Minggu (16/5) nanti,” ujar Retno.

Selain itu, pihaknya juga membahas situasi terkait apa yang terjadi di Palestina dengan Menteri Luar Negeri Brunei Darussalam Dato’ Erywan Yusof.

“Indonesia mengecam meluasnya ketegangan dan kekerasan khususnya di jalur Gaza yang menyebabkan lebih dari 100 korban jiwa warga sipil Palestina yang tidak berdosa,” tutur Retno.

 

 

Indonesia, katanya, akan terus berusaha berjuang semaksimal mungkin di semua lini, termasuk termasuk melalui Komite Pelaksanaan Hak-hak yang Tidak Dapat Dicabut dari Rakyat Palestina (CEIRPP), OKI, Gerakan Non-Blok, dan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengambil langkah nyata untuk menghentikan seluruh kekerasan dan menghadirkan keadilan serta perlindungan bagi Palestina.

Masih dalam akun twitternya, Retno pun memastikan akan hadir dalam pertemuan virtual tingkat menlu, Open-Ended Emergency Meeting OIC (Organization of Islamic) Executive Committee, pada Minggu (16/5). Pertemuan ini, kata Retno, akan membahas agresi Israel terhadap Palestina.

“Sudah terlalu lama hak-hak bangsa dan rakyat Palestina digerogoti oleh Israel. Indonesia akan terus bersama rakyat dan bangsa Palestina dalam memperjuangkan hak-haknya,” pungkasnya. [gi/ah]

Diterbitkan di Berita

Leonard Triyono VOA Indonesia 

Gus Aan Anshori, tokoh muda Nahdlatul Ulama dari kota santri Jombang dan dosen di Universitas Ciputra Surabaya tidak terkejut dengan temuan dan rekomendasi USCIRF itu karena selama ini dia juga berpendapat bahwa buah sistem pendidikan di Indonesia, terutama pendidikan agama, cenderung mengarah pada intoleransi. Dia merasa prihatin bahwa kondisi demikian akan sulit dihindarkan karena sistem pendidikan agama tidak memberikan ruang untuk dialog dan tidak inklusif.

“Orang belajar agama tertentu kan dididik dengan cara menegasikan agama yang lain. Itu sudah sangat common, dan itu dianggap sebagai sebuah kebenaran yang pada titik tertentu akhirnya mendorong orang, semakin orang itu berislam, katakanlah, maka semakin ia tidak toleran dengan yang lain. Semakin ia Kristen sangat mungkin ia semakin tidak toleran dengan yang lain. Karena apa? Karena tidak diajari tentang agama yang lain,” tukasnya.

 

Gus Aan Anshori (dok. pribadi).
Gus Aan Anshori (dok. pribadi).

 

Gus Aan menambahkan, “Bagaimana mungkin kita disuruh mencintai saudara kita yang beragama tidak seperti kita, tetapi kita tidak diberitahu agama tersebut, dan malahan, katakanlah dalam perspektif competitor, agama yang lain itu dijelek-jelekkan agar agama kita itu menjadi unggul.” Menurutnya, kondisi demikian mengemuka karena “jebakan pengajaran agama yang pada titik tertentu di Indonesia hingga kini menyebabkan begitu banyak intoleransi.”

“Cara pandang demikian muncul karena sistem pendidikan agama di Indonesia masih sangat homogen, tidak heterogen. Hal-hal yang jauh lebih substantif, katakanlah berdialog, mencari titik temu, yang paling penting, sudah sangat lama tidak dijamah oleh sistem pendidikan nasional, terutama sistem pendidikan agama yang ada di seluruh struktur sistem pendidikan nasional,” imbuhnya.

Berbeda dari sistem pendidikan nasional, di tataran akar rumput ada individu-individu dan kelompok yang giat melaksanakan pendidikan toleransi bagi umatnya.

Bonnie Andreas adalah pendeta Gereja Kristen Indonesia di Jakarta dan wakil sekretaris umum GKI Sinode Jawa Tengah.

 

Pendeta Bonnie Andreas (dok. pribadi).
Pendeta Bonnie Andreas (dok. pribadi).

 

Pendeta Bonnie bersama para pendeta lain dan majelis gerejanya memiliki gagasan untuk memasukkan seorang guru tamu dari agama Islam untuk ikut mengajar katekisasi, yakni pembelajaran bagi peserta – disebut “katekisan” – yang ingin masuk ke dalam pengakuan percaya atau sidi yang di GKI wajib diikuti seminggu sekali selama 9-12 bulan.

Dia mengatakan tujuan mengundang pengajar tamu dari agama lain adalah untuk mendidik katekisan agar tidak hanya menjadi orang Kristen yang baik tetapi juga menjadi warga negara Indonesia yang toleran, yang bersahabat dan rukun dengan umat dari agama lain, serta memiliki pemahaman yang baik tentang perlunya interaksi antaragama.

“Buat saya, memaparkan percakapan antaragama itu penting, dalam situasi yang sejuk dan menyenangkan. Percakapan ini adalah sebuah kunci awal yang menurut saya sangat prasastional, sebagai sebuah prasasti yang bisa diteruskan oleh anak-anak didik,” ujar Bonnie.

 

Rombongan PMII berkunjung di Gereja Katolik St. Fransiskus Xaverius Pacitan. (foto: courtesy)
Rombongan PMII berkunjung di Gereja Katolik St. Fransiskus Xaverius Pacitan. (foto: courtesy)

 

Selain mengundang guru katekisasi dari agama Islam, Pendeta Bonnie mengatakan bahwa remaja dan pemuda di gerejanya sering dilibatkan dalam kegiatan kunjungan ke gereja-gereja dari denominasi berbeda dan vihara. Mereka juga mengikuti kemah dengan peserta antariman. Dia berpendapat bahwa dialog antaragama dan membangun serta membina persahabatan dengan umat yang berbeda agama secara santai dan bersahabat sangat penting demi kerukunan dalam pluralisme warga Indonesia.

Tunjukkan Toleransi dan Kebersamaan, Pemuda Lintas Agama Bagikan Iftar

Sebagai pihak yang diundang untuk menjadi pengajar di kelas katekisasi, Gus Aan Anshori bereaksi positif dan menganggap undangan itu sebagai “tantangan sekaligus berkah,” karena dia juga percaya bahwa pluralisme dan dialog antaragama harus dipupuk dan diadvokasi untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Gus Aan menganggap keberanian mengundang dirinya sebagai “terobosan” dan dia sendiri juga mempraktekkan gagasan tersebut dengan mengajak para mahasiswa yang tergabung dalam PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) untuk mengunjungi gereja, baik Katolik maupun Protestan, berdialog dengan rohaniwan, dan berinteraksi dengan jemaat gereja-gereja yang dikunjungi.

“Dengan menginklusi kami ke dalam ruang yang sangat personal – ini katekisasi lho – tetapi caranya dibalik oleh Pendeta Bonnie, ini harus dikasih tahu soal Islam supaya mereka bisa meng-embrace soal kasih itu dengan sesungguhnya. Ini menginspirasi saya untuk juga melakukan hal yang sama, misalnya, ketika saya mendidik teman-teman di PMII saya juga mengajari mereka untuk bisa belajar dari kekristenan, mengajak mereka mengunjungi gereja,” kata Gus Aan.

 

Para siswa MII Plosogenuk, Perak, Jombang bermain bersama para siswa SD Kristen Petra Jombang (foto: courtesy).
Para siswa MII Plosogenuk, Perak, Jombang bermain bersama para siswa SD Kristen Petra Jombang (foto: courtesy).

 

Gus Aan juga berusaha mempertemukan pelajar dari sekolah Kristen dengan pelajar dari madrasah, dengan melakukan kunjungan antarsekolah. Misalnya, dengan dibantu oleh seorang temannya dari Lakpesdam NU Jombang dia mengatur kunjungan siswa-siswi dan guru dari SD Kristen Petra (SDKP) Jombang ke Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah (MII) Plosogenuk, Perak, Jombang, tepat pada Hari Pendidikan Nasional yang lalu.

Gus Aan berpendapat, upaya kunjungan antarsekolah itu perlu dilakukan untuk mendobrak “sekat berbagai macam perbedaan identitas yang kerap membuat anak-anak terpenjara, saling curiga dan mudah mendiskriminasi jika kelak menjadi dewasa.” Mengenai acara pembauran siswa dan guru itu, dia menambahkan, “jika situasi segregatif seperti ini dibiarkan terjadi, maka hal itu akan terus memproduksi individu yang berpotensi terjerat gerakan intoleransi.”

Tentang masa depan pendidikan toleransi yang ideal dalam kebhinekaan di Indonesia, Pendeta Bonnie merasa optimis walaupun mungkin perlu proses lama untuk mencapainya. “Dari perspektif gereja, saya optimis karena ajaran kami mengedepankan persahabatan. Jadi, kami perlu mulai melakukan tindakan nyata, tidak lagi membicarakan, tetapi kami perlu untuk membuka ruang persahabatan, dan kadang mungkin tidak perlu dengan cepat menemukan titik temu. Kadang bersahabat itu dalam kerangka agree to disagree. Di situlah letak persahabatan yang kami sedang upayakan dengan banyak agama di Indonesia.”

 

Peter Suwarno, Ph.D., Profesor di Arizona State University (foto: courtesy).
Peter Suwarno, Ph.D., Profesor di Arizona State University (foto: courtesy).

 

Pendapat senada dengan Gus Aan Anshori disampaikan oleh Profesor Peter Suwarno, seorang diaspora Indonesia yang kini mengajar di Arizona State University. Dari wawancara dengan guru dan siswa dalam penelitiannya tentang pembelajaran agama di sekolah-sekolah di Indonesia, dia mendapati bahwa sistem pendidikan agama di Indonesia mengutamakan ibadah ritual.

“Saya mewawancarai beberapa guru mengenai pendidikan moral di Indonesia, dan pendidikan moral itu direalisasikan dalam bentuk pendidikan agama. Setelah saya observasi, saya interview guru, saya interview siswa-siswa juga – ini terlepas dari buku teks dan kurikulumnya – isinya adalah lebih banyak mengenai ibadah ritual,” ujar Suwarno.

Dari penelitiannya, dia menemukan bahwa pendidikan agama itu lebih banyak menekankan produk, dan hasilnya adalah siswa-siswa yang taat beragama yang ditunjukkan dengan rajinnya, kesetiaannya dalam beribadah. Dia mengaku kaget ketika dia mendapati jawaban dari para guru dan siswa mengenai prinsip dan konsep orang baik di Indonesia, ternyata orang yang baik adalah orang yang rajin beribadah. Menurutnya, “buah dari sebuah pengajaran moral atau agama adalah perbuatan baik.”

Suwarno menambahkan, “Kenapa itu menjadi sumber intoleransi? Ya, mau tidak mau, pendidikan agama yang menekankan ibadah ritual mengatakan bahwa ibadah ritual kita yang paling baik, yang lain tidak baik.”

 

Puluhan siswa-siswi peserta tur berkunjung ke GKP Kampung Sawah. Mereka mengunjungi 5 rumah ibadah dan mengenal ajaran agama yang berbeda dalam wisata toleransi. (Foto dok. VOA/Rio Tuasikal)
Puluhan siswa-siswi peserta tur berkunjung ke GKP Kampung Sawah. Mereka mengunjungi 5 rumah ibadah dan mengenal ajaran agama yang berbeda dalam wisata toleransi. (Foto dok. VOA/Rio Tuasikal)

 

Profesor Suwarno mengatakan bahwa di Amerika memang agama tidak diajarkan di sekolah-sekolah negeri, tetapi pendidikan moral, misalnya, dilaksanakan dengan pelajaran sejarah agama-agama. Dalam pelajaran itu tidak boleh ada yang menyalahkan agama lain, tetapi sebaliknya, siswa dididik untuk mengapresiasi tradisi agama-agama yang berbeda-beda. Siswa juga dituntut belajar dan mempraktekkan prinsip-prinsip, termasuk “honesty (kejujuran), respect (kesopanan), service (pelayanan) yang semuanya mendorong anak didik untuk menunjukkan perbuatan baik yang bermanfaat bagi kemanusiaan.

 

Namun, Profesor Suwarno tetap optimis dengan masa depan toleransi di Indonesia, terutama setelah mengamati adanya gerakan-gerakan di tingkat akar rumput yang bertujuan untuk mengembangkan, memupuk dan merawat kehidupan yang harmonis dalam semangat pluralisme di bawah payung Bhineka Tunggal Ika.

“Di Indonesia ada peristiwa-peristiwa, misalnya pertemuan berbagai kelompok agama. Di Salatiga, misalnya, ada kelompok di desa Getasan kalau hari raya Idul Fitri banyak orang Kristen mengunjungi desa Muslim dan bersilaturahmi di sana. Sebaliknya, waktu Natal, masyarakat Muslim mendatangi dan bersilaturahmi di tempat orang Kristen. Jadi masih banyak seperti itu,” pungkasnya. [lt/ab]

Diterbitkan di Berita

Taufik Fajar sindonews.com JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif memastikan, tarif pengecasan kendaraan listrik yang dikenakan pada stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di Indonesia merupakan salah satu yang termurah di dunia setelah China. Tarif tersebut antara Rp1.644 sampai Rp2.466 per kWh.

"Jadi tarif (pengecasan kendaraan listrik di Indonesia) ini lebih murah dari negara-negara lain di dunia, setelah China yang tarifnya memang masih lebih rendah dari Indonesia," ujar dia dalam konferensi pers Grab Indonesia, Kamis (22/4/2021).

Kemudian, lanjut dia, penggunaan energi listrik pada kendaraan-kendaraan listrik relatif jauh lebih murah, apabila dibandingkan dengan kendaraan berbahan bakar konvensional. Dia mengklaim penghematannya bisa empat kali lipat.

"Apabila dibandingkan dengan yang konvensional, KBLBB ini empat kali lebih hemat," ungkap dia.

Guna mendukung hal itu, dia memastikan bahwa pihaknya juga telah mengeluarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 13 Tahun 2020 tentang penyediaan infrastruktur pengisian listrik untuk kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

"Isinya yakni mengatur soal aturan ketenagalistrikan, aturan tentang stasiun pengisian, dan penukaran baterai umum," tandas dia.
Diterbitkan di Berita

Fathor Rasi alinea.id

Meningkatnya kasus Covid-19 di India menyita perhatian dunia. Pemerintah Indonesia pun melakukan berbagai upaya agar kasus Covid-19 di Tanah Air bisa terus dikendalikan sehingga tidak terjadi seperti di India.

"Yang pasti kita terus menerus mengedukasi masyarakat. Adanya larangan mudik itu kan salah satu upaya kita menjaga supaya mengurangi mobilitas,” kata Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi kepada wartawan, Selasa (20/4/2021).

Langkah antisipasi lainnya adalah pelaksanaan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro, khususnya di daerah-daerah tujuan mudik, daerah zona merah atau yang kasusnya meningkat.

Kemudian, penguatan testing, tracing, treatment terutama di daerah-daerah tujuan mudik.

Nadia menjelaskan, pemerintah juga terus meningkatkan capaian program vaksinasi. Teorinya bahwa 70% dari sasaran vaksinasi bisa memberikan perlindungan, atau menekan laju penularan virus. 

“Kita tahu bahwa vaksin kan memberikan perlindungan kepada individu untuk dia tidak menjadi sakit. Kalaupun sakit, tidak parah atau berakhir kematian. Itu perlindungan yang diberikan,” kata Nadia.

Pemerintah berharap kepada seluruh masyarakat agar bisa menahan diri sehingga tidak mudik. Nadia mengaku bisa memahami bahwa masyarakat menginginkan sekali bisa berkumpul bersama keluarga saat Lebaran.

“Tapi tentunya kita menahan diri jangan sampai kemudian terjadi pelonjakan kasus di kemudian hari. Kita tahu bahwa peningkatan kasus selalu berhubungan dengan mobilitas yang tinggi,” jelasnya.

Dia menjelaskan, sudah sekitar 17 juta dosis vaksin yang disuntikan sampai saat ini. “Orangnya itu ada 11.100.000 untuk dosis pertama dan dosis kedua 6,1 juta. Jadi sudah 17 juta dosis vaksin yang sudah kita suntikan,” ujar Nadia.

Jika vaksinasi semakin cepat dan banyak, atau 70% jumlah penduduk Indonesia sudah divaksin, maka kekebalan kelompok akan terjadi. Kondisi itu pasti akan menekan laju penularan Covid-19.

Fakta sekarang baru sekitar 11 juta orang yang divaksin atau 6% dari target. Kalau dibandingkan jumlah penduduk, angka itu masih kecil. Artinya belum cukup untuk memberikan perlindungan kekebalan kelompok.

Mengenai stok vaksin, Nadia mengungkapkan sebenarnya di April ini Indonesia mendapatkan dua sumber vaksin, yakni AstraZeneca dan Sinovac. AstraZeneca menunda pengiriman vaksin. India meminta menunda pengiriman karena ada peningkatan kasus.

"Jadi yang seharusnya vaksin dikirim April, itu baru bisa dikirimkan Mei. Jumlahnya tidak mencapai 11 juta juga, jadi akan dikirimkan kurang lebih sekitar 5 juta,” imbuhnya.

Dengan keterbatasan stok vaksin, pemerintah melakukan berbagai upaya. “Pemerintah memastikan vaksinasi pada Mei, vaksinnya betul-betul datang. Kemudian, meminta Biofarma untuk meningkatkan kapasitas produksinya,” tutur Nadia.

Diterbitkan di Berita