MURIANEWS, Kudus – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Badai Ismoyo diketahui sempat terpapar Covid-19 beberapa waktu lalu. Badai juga menceritakan, bahwa dirinya juga termasuk salah seorang yang terpapar Covid-19 varian delta.

Ini diketahui dari hasil boratorium tes whole-genome sequencing (WGS) yang dilakukan di UGM Yogyakarta. Saat ini Badai sudah dinyatakan sepenuhnya sembuh dari virus itu. Namun belum diketahui penularannya dari mana.

“Kami belum bisa menemukan sumbernya (Delta) dari mana. Dari hasil lab WGS 28 sama 34 (terdeteksi varian delta), boleh dikatakan termasuk saya.  Saya dan istri saya itu menjadi yang terperiksa dalam spesimen tersebut,” katanya, Sabtu (26/6/2021).

Sebelum terkonfirmasi positif Covid-19 varian delta, ia mengaku tidak pernah melakukan perjalanan ke manapun.  Hanya melakukan aktivitas keseharian seperti saat bekerja. “Masa inkubasi itu 14 hari, selama 14 hari ke belakang (sebelum positif) saya tidak ke mana-mana.

Berada di rumah saja, maksudnya rumah-kantor, dan tengah mengurus di (isolasi) Rusunawa pada waktu dan Akbid. Tidak keluar kota.  Setelah itu saya isolasi, sampai jalan juga tidak pernah lihat, karena di rumah terus,” ujarnya.

Ketika ada instruksi pasien positif diisolasi terpusat di Asrama Haji Donohudan Boyolali, masa isolasi Badai hampir selesai. Sehingga, tidak dibawa ke tempat isolasi tersebut, lantaran sudah melampaui waktu isolasi mandiri lebih dari delapan hari.

“Saya itu ya terkena (varian) delta. Saya ingin membuktikan bahwasanya saya sendiri yang terkena varian delta itu dalam posisi tidak ke mana-mana.  Sehingga memang belum diketahui sumbernya dari mana.

Dilakukan penelusuran hampir sama tidak ada kontak ke mana-mana,  jika dimungkinkan itu peristiwa lokalan saat mudik,” jelasnya. Saat terkonfirmasi positif Covid-19 varian delta, Ia menyebut saat itu dalam status orang tanpa gejala (OTG).

Hanya mengalami sejumlah gejala ringan seperti pusing hingga telinga tidak bisa mendengar. “Yang jelas itu ya pusing, yang kelihatan agak berbeda sedikit itu telinga agak sedikit budek (tuli),  saya kena baru kali ini sekali ini,” ucapnya.

Ia juga menyatakan dirinya merupakan salah satu orang sudah divaksin berbarengan dengan sekitar 7.000 lebih tenaga kesehatan di Kudus yang sudah mendapatkan vaksinasi lengkap.

Namun saat ini dirinya sudah dinyatakan sembuh bersama ratusan nakes lain yang sempat positif. “Saya bersama sebanyak 7.000-sekian nakes telah mendapat vaksin lengkap.

Kemudian yang terpapar sebanyak 700-an, artinya orang yang sudah divaksin bisa terpapar itu 6-10 persen yang juga tanpa gejala, dan 17 dirawat dengan gejala ringan,  dan sebanyak 90 pesen yang terpapar itu sudah selesai isolasi dan dinyatakan sembuh, ” terangnya.

Sehingga, lanjut Badai, bagi yang terpapar dan telah melakukan vaksinasi itu bisa terhindar dari kemungkinan terburuk. Ia juga membandingkan dengan angka kematian mulai melonjak itu sebanyak 400-an orang yang secara umum belum terjangkau vaksin.

“Kalau mau dibandingkan antara vaksin dan tidak itu ada efektivitas vaksin, artinya vaksin punya manfaat daripada tidak,” pungkasnya.  

Reporter: Yuda Auliya Rahman Editor: Ali Muntoha

Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Kudus – Jumlah pasien Covid-19 di Kabupaten Kudus yang telah dinyatakan sembuh kini mencapai angka 10.167 orang, dari total kasus Covid-19 keseluruhan yakni sebanyak 13.264 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Badai Ismoyo mengatakan, angka pasien sembuh memang terus mengalami peningkatan. Namun perlu diwaspadai pula, penambahan jumlah konfirmasi positif juga masih terjadi.

“Semalam terjadi penambahan kasus sebanyak 279 orang, penambahan pasien sembuh ada sebanyak 235 orang, sementara pasien meninggal bertambah sebanyak 12 orang,” kata Badai Sabtu (26/6/2021).

Penambahan di tiga kategori tersebut, lanjut Badai, menjadikan jumlah pasien aktif kini berada di angka 2.015 orang. Dengan rincian 413 pasien menjalani perawatan di rumah sakit, dan 1.602 pasien lainnya menjalani isolasi mandiri.

“Juga masih ada sebanyak 266 suspek dan 212 probable,” ujarnya. Delapan dari sembilan kecamatan pun kini dikategorikan sebagai zona merah penyebaran Covid-19.

“Hanya Kecamatan Kaliwungu saja yang kini berstatus oranye. Ini menunjukkan jika Kudus masih mempunyai risiko tinggi penularan Covid-19,” terangnya.

Oleh karena itu, pihaknya berharap masyarakat Kudus tetap patuh akan penerapan protokol kesehatan 5M. Yakni mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

“Karena untuk menghentikan penularan virus ini butuh upaya bersama dari semua elemen di masyarakat,” jelas dia.  

Reporter: Anggara Jiwandhana Editor: Ali Muntoha

Diterbitkan di Berita

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menyebut varian delta hanya menjangkiti Kabupaten Kudus. Dari beberapa sampel yang dikirim dari sejumlah daerah, semua hasilnya negatif varian delta.

“Sampai hari ini, baru yang ada di Kudus. Maka saya minta nanti report terakhir evaluasinya seperti apa. Kemarin sampel untuk genome sequencing hampir semua wilayah di Jateng diambil. Dan yang sudah jadi, hasilnya negatif. Tidak ada varian baru,” kata Ganjar ditemui usai gowes pagi di rumahnya, Jumat (25/6/2021).

Meski beberapa daerah lanjut Ganjar, ada yang belum keluar hasilnya. Namun sebagian besar yang dikirim, hasilnya negatif varian delta.

“Kita masih menunggu, tapi mudah-mudahan tidak,” imbuhnya.

Untuk penanganan kasus varian baru di Kudus, Ganjar mengatakan sudah dilakukan dengan ketat. Masyarakat Kudus dan sekitarnya juga diharapkan membantu sekaligus berjaga-jaga.

“Kudus harus dikunci, agar tidak ada penyebaran. Untuk itu, penanganan di sana kita optimalisasi. Istilahnya ada penebalan, baik tenaga kesehatan, layanan kesehatan, alat kesehatan termasuk penebalan TNI/Polri,” terangnya.

Meski varian delta hanya ada di Kudus, namun Ganjar tetap meminta semua daerah untuk siaga. Masyarakat diminta tetap tertib menjalankan 5 M dan pemerintah diminta meningkatkan 3 T.

“Digenjot saja, kalau semua daerah merah bisa melakukan itu, maka akan cepat. Begitu ketahuan, segera mikrozonasi. Lockdown tingkat RT harus dilakukan. Sebanyak-banyaknya RT dilockdown tidak apa-apa, laporkan ke kami nanti akan kami bantu, termasuk bantuan Babinsa/Bhabinkamtibmas untuk menjaga. Sehingga efektivitasnya bisa optimal,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, Yulianto Prabowo mengatakan, hampir semua daerah di Jateng sudah mengirimkan sampel genome squencing. Namun hasil yang dinyatakan positif varian delta baru Kudus.

“Ada banyak, seperti Semarang, Magelang, Solo, Brebes, Sragen dan lainnya. Yang positif varian delta sementara baru di Kudus. Memang belum semua hasilnya keluar, termasuk kemarin kami kirim 40 sampel lagi. Waktu pemeriksaannya kan cukup lama, sekitar dua minggu. Jadi kami masih menunggu,” katanya.

Editor : Kholistiono

Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Kudus – Empat mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) berhasil menyabet medali emas dalam ajang lomba internasional yang diadakan World Science, Environment and Engineering Commpetition (WSEEC) 2021 yang diumumkan pada 20 Juni 2021 lalu.

Ada 288 tim dari 21 negara yang lolos dalam lomba ini. Keempat mahasiswa tersebut yakni Tri Setiyana Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Ahmad Jumanto serta Achmad Abdul Wachid dari Program Studi Bimbingan Konseling (BK), dan Silvia Sari Setyowati dari Pendidikan Bahasa Inggris (PBI).

Mereka berhasil menarik perhatian juri dengan karyanya berupa website pembelajaran bahasa Inggris bertema local wisdom atau kearifan lokal. Website tersebut dinamakan ‘Educational English Language with Local Wisdom Gusjigang’.

Salah seorang anggota tim Tri Setiyana mengatakan, dengan website ini akan lebih mudah dipahami dalam belajar bahasa Inggris. Selain itu, kearifan lokal juga dipilih, lantaran bisa sebagai salah satu bentuk melestarikan budaya.

“Ide ini muncul saat kami itu ngobrol, jagong santai. Ini juga bisa untuk nguri-uri budaya,” katanya, Kamis (24/6/2021). Ia menjelaskan, website tersebut dirancang untuk membantu anak usia 6-12 tahun atau usia siswa SD agar bisa mudah mengenal bahasa internasional.

Namun, tanpa menghilangkan pengetahuan budaya kearifan lokal. “Jadi bukan hanya bahasa Inggris saja yang didapatkan, dengan website yang kami buat juga bisa mengenal budaya di Kudus,” ucapnya.

Ia mencontohkan, sejumlah sistem kerja yang ada pada website yang mereka buat.

Salah satunya terdapat kearifan lokal seperti Menara Kudus yang juga memiliki penjelasan singkat. Seusai melihat gambar dan deskripsi singkat, siswa akan disuguhi dengan sebuah kuis atau pertanyaan pilihan ganda.

Kemudian, terdapat juga suara yang bisa didengar dengan menggunakan bahasa Inggris, sehingga selain belajar membaca siswa juga bisa belajar pelafalan atau pronunciation kata yang tepat dalam bahasa Inggris.

“Gambar yang ada tentu kami pilih ikon-ikon Kudus dan kearifan lokal Gusjigang sebagai sumber materi yang digunakan. Dan akan kami kembangkan terus website yang kami buat agar lebih baik lagi,” terangnya.

Sementara dosen pembimbing lomba Richma Hidayari menambahkan, munculnya ide tersebut menurutnya memang cukup menarik. Apalagi website tersebut bisa membuat cara belajar bahasa Inggris agar semakin asyik dan mudah.

“Potensi mahasiswa cukup bagus, idenya menarik dan dengan penyempurnaan, akhirnya diputuskan ikut lomba dan mendapatkan medali emas di kancah internasional. Ini bukan hanya membawa nama baik UMK, melainkan nama baik Indonesia juga diboyong ke kancah internasional,” pungkasnya.  

Reporter: Yuda Auliya Rahman

Editor: Ali Muntoha

Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Kudus – Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Kudus kembali mencatat adanya penambahan pasien baru, pasien sembuh, dan pasien meninggal pada Rabu (23/6/2021) malam.

Dengan rincian, 251 pasien baru, 286 pasien sembuh, dan 15 pasien meninggal dunia. Sehingga menjadikan jumlah pasien aktif di Kabupaten Kudus menjadi sebanyak 2.017 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Badai Ismoyo menyampaikan, untuk saat ini angka kesembuhan mulai berangsur stabil dan cenderung naik. Sementara angka kematian mulai mengalami penurunan.

“Untuk kemarin, angka kesembuhan sedikit naik dari 75,4 persen menjadi 76,03 persen, sedangkan angka kematian sedikit mengalami penurunan dari 8,28 persen menjadi 8,24 persen,” ujar Badai, Rabu (24/6/2021).

Sementara untuk jumlah penambahan kasus baru, lanjut dia, masih sangat fluktuatif. Di tiga hari terakhir misalnya. Pada tanggal 21 Juni, penambahan kasus aktif hanya sebanyak 155 orang saja. Kemudian di dua hari terakhir meningkat ke 222 hingga 251 orang per hari.

Delapan dari sembilan kecamatan pun kini dikategorikan sebagai zona merah penyebaran Covid-19. “Hanya Kaliwungu saja yang kini berstatus oranye. Ini menunjukkan jika Kudus masih mempunyai risiko tinggi penularan Covid-19,” kata dia.

Oleh karena itu pihaknya berharap masyarakat bisa melaksanakan disiplin protokol kesehatan secara baik dan benar. Penerapan prokesnya, seperti rajin mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak.

“Serta mengurangi mobilitas dan menghindari kerumunan, sehingga bisa memutus rantai penularan virus ini,” jelas Badai.   

Reporter: Anggara Jiwandhana

Editor: Ali Muntoha


Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Kudus – Keterisian tempat tidur isolasi Covid-19 dan tempat tidur ICU Covid-19 di rumah sakit di Kudus mulai sedikit melega.

Hingga Senin (21/6/2021) malam, keterisian tempat tidur isolasi maupun tempat tidur ICU Covid-19 menurun di angka 88 persen. Pada pekan sebelumnya, tingkat keterisiannya mencapai 94 persen.

Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, untuk Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Loekmono Hadi Kudus kini telah memiliki 191 buah. Kemudian hingga Selasa (22/6/2021), jumlah keterisiannya mencapai 92 persen.

“Di RSUD kami mencatat mereka memiliki 191 tempat tidur, kemudian kini sudah terisi 176.

Artinya sisa 15 tempat tidur, untuk tempat tidur ICU juga sama, dari sepuluh tempat tidur kini hanya tersisa dua,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Badai Ismoyo, Selasa (22/6/2021).

Kemudian di Rumah Sakit Islam Sunan Kudus, kini tersisa 27 buah tempat tidur. RSI sendiri, meningkatkan kapasitasnya menjadi 93 tempat tidur dan kini terisi 65 tempat tidur. Untuk ICU, terisi tiga dari empat tempat tidur.

Selanjutnya Rumah Sakit Mardi Rahayu, kini tersisa enam buah tempat tidur isolasi setelah mereka meningkatkan kapasitasnya. Rumah sakit rujukan lini dua tersebut kini menyediakan sebanyak 93 tempat tidur, hingga Selasa ini sudah terisi 87 tempat tidur.

Sementara 34 tempat tidur ICU mereka, kini tiga tempat tidur saja. Untuk Rumah Sakit Aisyiah, mereka menyediakan 45 tempat tidur dan terisi penuh.

Delapan tempat tidur pada ICU mereka juga penuh. Begitu pula dengan RS Kumala Siwi yang menyediakan sebanyak 27 tempat tidur kini juga telah terisi penuh. Tiga tempat tidur ICU RS tersebut juga telah terisi.

“Sementara untuk Rumah Sakit Nurussyifa, dari 28 tempat tidur yang disiapkan kini terisi 18 tempat tidur, satu tempat tidur ICU mereka kini belum terisi,” terangnya.

Sementara 14 tempat tidur isolasi di Rumah Sakit Kartika Husada kini tersedia tiga tempat tidur, setelah sebelumnya penuh. Bupati Kudus HM Hartopo terus mendorong rumah sakit-rumah sakit penanganan Covid-19 di Kudus untuk menambah kapasitas ruang isolasinya.

Dengan harapan, sebagian besar pasien yang butuh perawatan bisa diatasi sendiri oleh rumah sakit di Kudus.

“Kami terus mendorong rumah sakit untuk meningkatkan kapasitas tempat tidur untuk isolasi covid, sehingga masyarakat Kudus bisa tertangani semua, ini juga dorongan dari pusat untuk menambah kapasitas tempat tidur hingga 50 persen,” ujar dia.  

Reporter: Anggara Jiwandhana Editor: Ali Muntoha

Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Kudus – Kabar duka datang dari seorang figur yang menjadi penerus Perusahaan Rokok Jambu Bol Kudus. Haji Nawawi Rusdi, bos pabrik rokok tersebut, meninggal dunia pada Sabtu (19/6/2021) petang.

Ia mengembuskan napas terakhirnya pada usia 91 tahun. Kabar duka tersebut pun juga beredar di sejumlah grup WhatsApp. Ketua Harian Persatuan Perusahaan Rokok Kudus (PPRK) Agus Sarjono membenarkan kabar duka tersebut.

Pihaknya menerima informasi kabar duka tersebut sekitar pukul 19.00 WIB. “Iya benar, saya sudah konfirmasi sama pihak keluarga tadi, informasinya sehabis magrib tadi beliau meninggal. Informasinya beliau sakit dan sempat dirawat di rumah sakit,” katanya, Sabtu (19/6/2021).

Haji Nawawi, lanjut Agus, jabatan terakhir di PR Jambu Pol sebagai direktur dan tinggal di Desa Ngembal Rejo, Kecamatan Bae, Kudus. Ia merupakan adik kandung H Ma’ruf pendiri PR Jambu Bol.

Meski demikian pihaknya pun tidak menyampaikan secara pasti kapan dan di mana almarhum Haji Nawawi akan dimakamkan. “Dari keluarga memang membatasi, karena ini masa pandemi.

Termasuk relasi dan rekan-rekan itu memang dibatasi dan protokol kesehatan ketat akan diterapkan. Pemakaman saya berkeyakinan akan dimakamkan di makam keluarga. Karena memang ada makam keluarganya, tapi memang belum ada informasi pasti,” imbuhnya.

Diketahui PR Jambu Bol sendiri menjadi salah satu perusahaan yang sempat berjaya dalam sejarah kretek di Kudus. PR Jambu Bol didirikan H Ma’ruf sebelum kemerdekaan RI yakni tahun 1937.  

 

Reporter: Yuda Auliya Rahma

Editor: Ali Muntoha

Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Kudus – Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Kudus mencatat adanya penambahan pasien baru, pasien sembuh, dan pasien meninggal pada Jumat (19/6/2021) malam.

Kabar baiknya, jumlah pasien sembuh lebih banyak dari pasien baru. Sehingga membuat jumlah pasien aktif menurun walau tak signifikan. Rinciannya, adalah 237 pasien konfirmasi baru, 256 pasien yang telah sembuh, dan 26 pasien konfirmasi yang meninggal dunia.

“Penambahan di tiga kategori tersebut, menjadikan jumlah kasus aktif kembali menurun di 1.922 orang, atau menurun sebanyak 45 pasien,” ucap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Badai Ismoyo, Sabtu (19/6/2021).

Sementara untuk akumulasi, lanjutnya, hingga Sabtu pagi, total kasus ada sebanyak 11.634 orang yang terkonfirmasi Covid-19. Untuk jumlah pasien sembuh, kini berada di angka 8.744 orang. Kemudian pasien meninggal berada di angka 968 orang.

“Sementara jumlah pasien aktif yang kami sebutkan tadi, 1.922 orang. Dari jumlah itu 1.530 pasien menjalani isolasi mandiri dan 392 lainnya dalam perawatan di rumah sakit,” rincinya.

Kabupaten Kudus, lanjut Badai, juga masih mengawasi setidaknya 5.789 kontak erat pasien Covid-19, 380 suspek yang masih menunggu hasil swab-PCR, dan 189 probable.

“Oleh karena itu kami harapkan masyarakat bisa melaksanakan disiplin protokol kesehatan secara baik dan benar,” katanya.

Penerapan prokesnya, seperti rajin mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. “sehingga bisa memutus rantai penularan virus ini,” lanjut Badai.

Para pasien yang kini menjalani isolasi pun diharapkan bisa melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Sehingga klaster keluarga bisa dihindari. “Pasien yang tengah dirawat juga kami upayakan kesembuhannya,” jelas dia.

Kabupaten Kudus sendiri kini tengah menerapkan kebijakan sepekan di rumah saja guna memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19. Pelaksanaannya sudah berjalan hingga akhir pekan ini.  

Reporter: Anggara Jiwandhana

Editor: Ali Muntoha

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
  
Kondisi tenaga kesehatan (nakes) di Kudus, Jawa Tengah, yang sempat terpapar COVID-19 akibat menangani pasien di fasilitas pelayanan kesehatan kini telah berangsur pulih.
 
Hingga 12 Juni 2021, 308 nakes terkonfirmasi positif COVID-19, 277 tenaga kesehatan dalam perawatan isolasi mandiri, dan 193 lainnya sudah dinyatakan sembuh.
 
“Namun, hari ini (Kamis, 17/6), 90% nakes yang isolasi mandiri sudah bisa mulai masuk kerja dan kembali melayani masyarakat. Ini sebuah berita yang menggembirakan. Selain itu, hal ini juga menunjukkan bahwa vaksin yang diberikan kepada mereka benar-benar efektif melindungi dari kondisi terburuk,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus Badai Ismoyo dikutip dari situs Kemenkes, Jumat (18/6).
 
Vaksin Ampuh! 90% Nakes di Kudus yang Terpapar Corona Sudah Sembuh (1)
Warga menutup lingkungnya untuk penanganan COVID-19 di Kudus. Foto: Akhmad Nazaruddin Lathif/ANTARA
 
Jumlah tenaga kesehatan di Kudus sendiri saat ini mencapai kurang lebih 6.000 orang. Dengan perlindungan yang diberikan melalui program vaksinasi bagi nakes yang dimulai periode Januari-Maret 2021 lalu, nakes di Kudus tidak terlalu banyak terpapar COVID-19.
 
“Hampir 100% nakes di Kudus yang berjumlah sekitar 6.000 orang telah menerima vaksinasi dosis satu dan dua. Dari jumlah tersebut, hanya 308 nakes yang terpapar atau sekitar 5,13% dari jumlah keseluruhan nakes dan sebagian besar di antaranya sudah sembuh dan mulai bekerja kembali,” ujar Badai.
 

Data RSUD Kudus

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah dr. Loekmono Hadi, dr. Abdul Aziz Achyar menyampaikan data terbaru pada Kamis (17/6), bahwa dari total 153 nakes yang terkonfirmasi kasus positif COVID-19 di rumah sakit tersebut, hanya 11 orang (7,1%) yang dirawat inap, 86 (56%) sisanya melakukan isolasi mandiri.
 
Vaksin Ampuh! 90% Nakes di Kudus yang Terpapar Corona Sudah Sembuh (2)
Suasana di Kudus, Jawa Tengah, pada Senin (7/6) pagi, usai pemberlakuan di rumah saja. Foto: Indra Subagja/kumparan
 
Kemudian dari 153 kasus konfirmasi COVID-19 tersebut 59 (38,5%) nakes RSUD dr. Loekmono Hadi sudah dinyatakan sembuh. Hal ini menunjukkan bahwa vaksinasi COVID-19 bagi nakes efektif mengurangi gejala kesakitan dan risiko kematian.
 
Hingga Kamis (17/6), nakes dan tenaga penunjang kesehatan di Kudus yang telah divaksinasi dosis pertama mencapai 6.085 orang dan yang telah mendapatkan dosis kedua sebanyak 5.888 orang.
  

Menggencarkan Vaksinasi di Kudus

Untuk mengantisipasi dan melakukan intervensi kesehatan di Kudus, Kementerian Kesehatan telah mengalokasikan vaksin COVID-19 sejumlah 50 ribu dosis khusus guna mempercepat cakupan vaksinasi di Kudus.
 
Hal ini merupakan upaya melindungi masyarakat Kudus dari COVID-19 karena terbukti vaksinasi memberikan perlindungan bagi tenaga kesehatan yang sudah mendapatkannya lebih dahulu.
 
 
Vaksin Ampuh! 90% Nakes di Kudus yang Terpapar Corona Sudah Sembuh (3)
Bupati Kudus Hartopo saat tinjau penanganan corona. Foto: kumparan
 
“Untuk saat ini kita sudah menggencarkan vaksinasi secara masal di Kudus, supaya nanti bisa melandaikan penularan COVID-19,” ujar Bupati Kudus H.M Hartopo, Kamis (10/6) lalu.
 
Diakui Hartopo, lonjakan kasus COVID-19 berawal dari pemudik yang pulang ke Kudus.
 
“Perlu kita informasikan bahwa masyarakat jangan abai dengan protokol kesehatan meski sudah divaksinasi. Vaksinasi sendiri sebetulnya hanya sarana meningkatkan imunitas. Supaya seandainya terpapar COVID-19 tidak bergejala berat,” terangnya.
 
 
Diterbitkan di Berita

BETANEWS.ID, KUDUS – Pabrik Rokok (PR) Sukun targetkan bisa melakukan vaksinasi sekitar 13.800 masyarakat untuk wilayah Kabupaten Kudus. Melalui Klinik Pratama Sukun Grup (KPSG), target vaksinasi tersebut sangat mungkin bisa dicapai secara cepat.

Kepala KPSG Sunaryo Gana menjelaskan, PR Sukun telah memvaksin hampir seluruh karyawan sekitar 6.000 orang. Salain itu, PR Sukun juga telah melakukan vaksinasi terhadap lansia, pelayan publik. Kini, giliran masyarakat umum yang disasar untuk mendapatkan vaksinasi.

“Kami pertama melakukan vaksinasi kepada lansia di pertengahan April, ada sebanyak 1.500 orang, lalu layanan publik, dan sekarang masyarakat umum. Sampai hari ini, target kami ada sekitar 1.300 an masyarakat umum bisa divaksin. Target kami secara keseluruhan ada 13.800 an warga bisa divaksin,” jelas Sunaryo.

Pihaknya berharap, dalam sepekan ini, target vaksinasi bisa tercapai. Pihaknya mengharap masyarakat mau ikut menyukseskan kegiatan vaksinasi ini dan tidak termakan berita hoaks yang tersebar di masyarakat tentang dampak negatif vaksin.

“Kami juga meminta dukungan dari TNI, Polri, pihak perusahaan, tokoh masyarakat, dan lainnya untuk ikut mendukung menyukseskan kegiatan vaksinasi ini,” tuturnya.

Sunaryo menambahkan, usai Lebaran lalu, semua karyawan PR Sukun telah dites untuk mengetahui apakah terpapar Covid-19 atau tidak. Hasil tes menunjukkan, 0,8 persen dinyatakan reaktif.

“Ada sekitar 43 orang yang terkonfirmasi positif. Kita arahkan mereka untuk melakukan isolasi terpusat. Kita sediakan sembako, obat, dan uang transportasi,” lanjutnya.

Pihaknya juga berharap agar testing dan tracing di Kudus bisa lebih gencar dilakukan. Hal itu diyakini bisa lebih cepat memutus rantai penyebaran Covid-19.

Sementara itu, Corporate Secretary PR Sukun Deka Hendratmanto menjelaskan, sejak akhir 2020, PR Sukun telah mengikuti anjuran Pemkab Kudus terkait PPKM Mikro bagi perusahaan. Salah satunya dengan membagi jam kerja karyawan dalam tiga sift.

“Sejak Pemkab memberlakukan kebijakan PPKM Mikro, kami sudah melaksanakannya. Sejak awal tahun kami sudah melakukan modifikasi pengaturan sift kerja,” jelas Deka.

Deka menyebut, PR Sukun memiliki sekitar 6.000 karyawan, dan nyaris semuanya telah divaksin. Jika ada yang belum divaksin, pihaknya menyebut disebabkan karena mereka tidak lolos saat melakukan skrining. Selain itu juga disebabkan ada yang masih menjalani isolasi mandiri.

“Jadi saat ini kami juga sedang menyelesaikan bagi karyawan yang belum divaksin,” katanya.

Editor: Suwoko

Diterbitkan di Berita