MURIANEWS, Kudus – Kasus terkonfirmasi Covid-19 di Kabupaten Kudus kini menembus angka 15.756 orang. Dari jumlah itu, kini tinggal 383 pasien aktif, baik yang menjalani perawatan di rumah sakit maupun isolasi mandiri.

Sementara untuk jumlah pasien sembuh, kini berada di angka 14.111 orang. Serta jumlah pasien meninggal ada sebanyak 1.262 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Badai Ismoyo mengatakan, untuk rincian jumlah kasus aktif terdiri dari 91 pasien menjalani perawatan di rumah sakit rujukan.

Sementara untuk 292 sisanya, kini tengah menjalani isolasi mandiri. “Bagi yang tidak bergejala dan rumahnya memadai, maka akan diperbolehkan untuk menjalani isolasi mandiri.

Namun jika bergejala, maka akan dirawat,” kata Badai, Rabu (21/7/2021) Kabupaten Kudus masih memiliki setidaknya 83 suspek dan 205 probable. Dari 83 suspek dalam wilayah, sebayak 56 dirawat dan 27 lainnya isolasi mandiri.

“Secara keseluruhan, kasus Covid-19 di Kabupaten Kudus kini trennya terus mengalami penurunan walau penambahan pasien harian masih terjadi,” ujarnya.

Semua desa di Kabupaten Kudus pun kini tak ada yang berstatus zona merah, setelah pada pekan lalu, masih ada dua desa dengan status zona merah. Hanya memang tetap didominasi zona oranye.

Walau demikian, Badai berharap masyarakat tak mengendurkan penerapan protokol kesehatan 5M. Mulai dari mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

Dengan begitu diharapkan penyebaran Covid-19 di Kabupaten Kudus bisa ditekan semaksimal mungkin. “Ini jadi perhatian kita bersama. Karena untuk menurunkan (kasus Covid-19, red) perlu sinergitas baik dari masyarakat, pemerintah, dan unsur-unsur lainnya,” ujar Badai.  

Reporter: Anggara Jiwandhana Editor: Ali Muntoha


Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Kudus – Larangan dine in atau makan di tempat selama PPKM Darurat berimbas pada produksi penjualan Susu Moeria, Kudus. Jumlah susu yang terjual setelah adanya kebijakan ini anjlok.

Alhasil, susu hasil produksi Susu Moeria yang tak terjual terpaksa diminumkan lagi ke sapi-sapi miliknya. Padahal sebelumnya Susu Moeria kewalahan memenuhi permintaan.

Felicia Natali Yuwono, Owner Susu Moeriamenjelaskan, mengakui sulit mendapatkan pelanggan akibat adanya PPKM Darurat. Penjualan susu di tempatnya itu mengalami penurunan. Felicia mengatakan, produksi susu sapi di tempatnya per hari mencapai 500 liter.

Namun, dari jumlah itu untuk saat ini yang mampu terjual hanya sekitar 100 liter saja. “Saat ini malah jumlah produksinya sisa banyak. Karena pembelinya lebih sedikit. Akhirnya ya mau tidak mau sisanya kami minumkan ke sapinya lagi.

Tentunya dengan treatment khusus,” katanya, Sabtu (17/7/2021). Felicia tidak memungkiri adanya larangan makan di tempat memukul usaha Susu Moeria yang dikelolanya. Sebab, sapi tidak dapat disetop produksinya.

“Bahan baku kami itu susu sapi. Sapi tidak bisa disuruh setop (produksi susu). Per ekor sapi kami itu sehari produksi dua kali,” sambungnya. Menurutnya, sebelum pandemi, produksi susu yang dihasilkan oleh sapi yang dikelolanya mencapai 800 liter sehari.

Waktu itu, masih kurang untuk memenuhi permintaan pelanggan. “Kalau dulu saat masih boleh dine in, kami sangat tertolong. Bahkan permintaan banyak banget.

Dari jumlah produksi susu sehari 800 liter itu masih kurang untuk memenuhi permintaan pelanggan. Tapi kalau sekarang enggak boleh ada dine in penjualan susu kami merosot,” ungkapnya. Bahkan, tidak hanya usaha susu miliknya yang terdampak.

Saat ini dari total delapan tenant kuliner yang ada di Susu Moeria keseluruhannya tutup. Tak hanya itu, sebanyak 20 UMKM yang nitip ke Susu Moeria tak lagi menitipkan dagangannya. “Hari Minggu saat awal penerapan PPKM Darurat, ada beberapa pelanggan kami take away.

Sambil antre nunggu panggilan mereka kan duduk. Lha itu masih dibubarin. Akhirnya kan konsumen kami pulang dan mereka komplain ke kami. Mereka bilang kami bungkus kok diusir,” imbuhnya.

Reporter: Vega Ma’arijil Ula Editor: Ali Muntoha


Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Semarang – Penyebaran Covid-19 varian delta di Jawa Tengah telah meluas. Bahkan disinyalir, varian ini yang menjadi biang lonjakan kasus di beberapa daerah di Jateng akhir-akhir ini.

Terlebih, dari 106 sampel yang diambil dari sejumlah daerah di Jateng, 95 sampel positf varian delta. Tak hanya itu, temuan terbaru varian ini juga menyerang anak-anak di bawah umur 17 tahun.

“Hampir seluruh sampel kemarin yang kita kumpulkan dari beberapa kabupaten/kota, ternyata hampir semuanya varian delta.

Kalau sudah begini, ini alert (peringatan) buat kita untuk semakin waspada,” kata Ganjar usai memimpin rapat evaluasi penanganan Covid-19, Senin (12/7/2021).

Ganjar menyebut, dari 95 sampel yang positif itu, 23 di antaranya merupakan anak-anak usia di bawah 17 tahun. Bahkan beberapa di antaranya merupakan balita. Temuan varian delta ini tak hanya di Kabupaten Kudus saja.

Tapi sudah menyebar, ke Jepara, Grobogan, Salatiga, Kota dan Kabupaten Magelang, Karanganyar, serta Solo. Rinciannya, dari 72 sampel asal Kudus, 62 di antaranya positif varian delta.

Kota Salatiga ada enam sampel yang dites, hasilnya lima positif varian delta. Kabupaten Jepara ada tiga (sampel), semuanya positif varian delta. Grobogan dua sampel, semuanya varian delta. Kabupaten Magelang dua sampel, dua-duanya varian delta.

Begitu juga Kota Magelang dan Karanganyar masing-masing tiga sampel, dan semuanya positif varian delta. Dan terakhir Solo dengan 16 sampel, semuanya varian delta.

Dengan kondisi ini menurut Ganjar, kewaspadaan memang harus lebih ditingkatkan. Termasuk mengurangi mobilitas untuk memutus angka penularan. “Maka pergerakan masyarakat harus dikurangi. Masyarakat harus lebih tahu soal ini.

Memang tidak enak, tidak nyaman. Tapi kita harus melakukan itu, sebab kalau tidak, ini akan membahayakan semuanya,” tegasnya. Ia menyebut, pihak kepolisian akan menambah lokasi-lokasi penyekatan guna menekan mobilitas warga.

Setiap kepala daerah di Jateng juga diminta membuat kebijakan yang seragam. “Industri juga saya minta patuh betul pada aturan yang berlaku, yang kritikal, esensial harus mengikuti ketentuan, tidak boleh ada kerumunan,” ucapnya.

Ganjar juga meminta jajarannya dari level atas sampai tingkat desa untuk terus melakukan komunikasi dan edukasi pada masyarakat agar bergandengan tangan untuk melawan pandemi ini.

“Masyarakat bisa diedukasi untuk tidak keluar dari wilayah itu. Sehingga tidak banyak yang turun ke jalan. Sebab kalau sudah turun ke jalan, pergi ke kota, ini kan terjadi mobilitas tinggi. Dan dari data Google, mobilitas warga di Jateng masih tinggi,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng Yulianto Prabowo menambahkan, belum ada varian berbahaya lain selain varian delta di Jateng. Meski begitu, varian delta juga menjadi ancaman karena penularan dan fatalitasnya sangat tinggi.

“Dari laporan genome sequencing, hampir semuanya varian delta. Dari Kudus, Jepara, Salatiga, Magelang, Kota Magelang, Karanganyar dan Solo,” jelasnya. Yuliano menyebut, varian ini sangat cepat penularannya bahkan juga menyerang anak-anak.

Dari data yang ada, sampel dari anak-anak semuanya menunjukkan varian delta. “Ada bayi yang usianya baru 6 bulan, positif varian delta. Ada yang balita, ada yang remaja. Di bawah 17 tahun cukup banyak, dari sampel yang kami ambil, semuanya delta,” pungkasnya.  

Reporter: Ali Muntoha Editor: Ali Muntoha


Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Kudus – Rumah Sakit Islam (RSI) Sunan Kudus menerima bantuan sebanyak 55 tempat tidur untuk perawatan pasien Covid-19 dari Djarum Foundation. Pemberian bantuan tersebut pun dilakukan secara dua tahap.

“Tahap pertama 30 bed, sementara kemarin ada tambahan 25 bed lagi dari Djarum foundation,” kata Direktur RSI Sunan Kudus dr Ahmad Syaifuddin, Rabu (7/7/2021).

Bantuan tersebut, lanjut dia, sangat membantu RSI Sunan Kudus dalam menangani pasien Covid-19. Terlebih ketika pemerintah daerah menginstruksikan semua rumah sakit di Kudus menambah kapasitas isolasi.

“Tentu ini sangat membantu, dari segi kualitas bed-nya juga bagus, sehingga bisa menambah kenyamanan pasien ketika dirawat,” kata dia.

Pihaknya menambahkan, selama ini, Djarum Foundation juga telah mendonasikan sejumlah alat kesehatan penunjang perawatan Covid-19 lainnya di RSI Sunan Kudus.

Di antaranya adalah High Flow Nasal Cannula (HNFC) dan pasien monitor. “Tentunya juga APD dan alat kesehatan lainnya,” jelas dia. RSI Sunan Kudus sendiri, kini memiliki sebanyak 96 tempat tidur untuk perawatan pasien Covid-19.

Kemudian sampai pagi tadi, telah terisi sebanyak 62 tempat tidur.  “Untuk total keseluruhan kami ada sebanyak 212 tempat tidur,” tandasnya.

Djarum Foundation Associate Purwono Nugroho mengungkapkan jika sampai saat ini, sudah ada sekitar 300 lebih tempat tidur pasien yang diberikan pada sejumlah rumah sakit penanganan Covid-19 di Jawa Tengah.

Sementara untuk Kabupaten Kudus sendiri, kata dia, sudah ada sebanyak 185 bed yang telah diberikan pada tiga rumah sakit penanganan Covid-19. Yakni RS Aisyiyah, RSI Sunan Kudus, dan RS Nurusyifa.  

Reporter: Anggara Jiwandhana Editor: Ali Muntoha

Diterbitkan di Berita

BETANEWS.ID, SEMARANG – Setelah sempat mengalami kenaikan cukup tinggi dan menjadi perhatian nasional, kasus Covid-19 di Kabupaten Kudus terus melandai. Bahkan saat ini, Kudus dinyatakan telah keluar dari zona merah penyebaran Covid-19 di Jawa Tengah.

“Kudus melandai, bahkan sekarang sudah oranye kalau dari data epidemologis. Kudus sudah tidak masuk zona merah,” kata Ganjar ditemui di kantornya, Selasa (6/7/2021).

Dengan berhasilnya penanganan kasus Covid-19 di Kudus, Ganjar berharap daerah-daerah sekitar Kudus yang merah bisa segera melandai.

“Kami harapkan tren Kudus bisa mempengaruhi area sekitarnya yang masih tinggi. Ya Jepara, Pati, Rembang dan sekitarnya,” jelasnya.

Ganjar mengatakan, pihaknya terus memantau penanganan kasus Covid-19 di daerah zona merah sekitar Kudus. Beberapa melandai, namun untuk Jepara sedang meningkat. “Jepara lagi meningkat sekarang, jadi kami terus perhatikan,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Ganjar juga meminta daerah lain di Jateng untuk terus meningkatkan BOR di masing-masing rumah sakit. Sehingga jika terjadi lonjakan, tidak akan ada kepanikan.

“Semua saya minta tidak boleh berdiam diri. Pengalaman di Banjarnegara, kemarin itu kasusnya biasa saja. Sekarang terjadi peningkatan cukup tinggi. Maka kemarin saat rapat, saya minta Kadinkes Banjarnegara untuk menyiapkan semuanya,” tegasnya.

Seperdi diketahui, peningkatan kasus Covid-19 di Kabupaten Kudus sempat menggegerkan banyak pihak. Peningkatan yang terjadi secara mendadak usai lebaran itu membuat rumah sakit di Kudus tak mampu menampung pasien.

Tak hanya Pemkab Kudus, Pemprov Jateng juga turun tangan untuk menangani lonjakan kasus di Kudus. Bahkan pemerintah pusat baik dari Kementerian Kesehatan, BNPB juga terjun langsung untuk menangani peningkatan kasus di sana.

Editor : Kholistiono

Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Kudus – Kabupaten Kudus mulai beranjak dari status zona merah atau risiko tinggi penularan Covid-19. Per Senin (5/7/2021) hari ini, Kabupaten Kudus kini berstatus zona oranye atau dengan risiko penularan sedang.

Hal tersebut dikarenakan mulai menurunnya kasus harian dan naikknya jumlah pasien sembuh di Kota Kretek. Bupati Kudus HM Hartopo memastikan hal tersebut usai mengikuti rapat koordinasi tingkat provinsi di Command Center Kudus, Senin (5/7/2021).

“Alhamdulillah berkat doa semuanya, sudah mulai turun ke zona oranye, sudah tidak merah,” katanya. Penurunan zona di tingkat kabupaten, lanjut dia, diikuti dengan menurunnya jumlah desa berstatus zona merah.

Di mana sebelumnya titik tertinggi ada sebanyak 83 desa zona merah, kini hanya ada sebanyak delapan desa saja. “Sisanya banyak oranye, ada juga yang sudah kuning dan hijau,” sambung Hartopo.

Walau demikian, HM Hartopo berharap masyarakat tak mengendurkan penerapan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari. Penurunan kasus, hanya merupakan langkah awal untuk menjadikan Kabupaten Kudus bisa segera menjadi zona hijau.

Karena itu, pihaknya benar-benar memohon agar masyarakat mau menjalankan penerapan 5M mulai dari memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

“Sehingga Kudus ini bisa segera bebas dari Covid-19 ini, masyarakat juga bisa beraktivitas seperti semula tanpa banyak pembatasan,” jelas Hartopo. Kondisi Covid-19 di Kabupaten Kudus sendiri secara persentase, untuk angka kesembuhan kini berada di angka 83,44 persen.

Jumlah tersebut naik dibanding pekan sebelumnya yang berada di angka 75,97persen. Sementara angka pasein meninggal menurun pada pekan ini, yakni sebesar 8,13 persen dari pekan sebelumnya 8,29 persen.

Sementara untuk akumulasi total, hingga Senin ini sudah ada sebanyak 14.593 warga Kudus yang terkonfirmasi positif Covid-19. Sebanyak 12.164 orang telah dinyatakan sembuh dari Covid-19, sementara jumlah pasien meninggal berada di angka 1.197 orang.

Kemudian untuk jumlah pasien aktif kini tersisa 1.232 orang, di mana 232 di antaranya menjalani perawatan dan seribu sisanya menjalani isolasi mandiri.  

Reporter: Anggara Jiwandhana Editor: Ali Muntoha


Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Kudus – Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Kudus kembali mencatat penamabahan pasien sembuh pada Kamis (1/7/2021) malam. Jumlah pasien sembuh lebih banyak dari pasien konfirmasi baru, sehingga kasus aktif di Kudus kembali menurun.

Jumlah pasien sembuh tercatat sebanyak 229 orang, sementara kasus baru sebanyak 104 orang. Satgas juga mencatat ada 14 pasien corona yang meninggal dunia.

“Sehingga kini jumlah pasien aktif menurun ke 1.312 orang, dibanding hari sebelumnya yakni sebanyak  1.451 orang,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Badai Ismoyo, Jumat (2/7/2021).

Sementara untuk akumulasi, lanjutnya, hingga Jumat pagi, sudah ada sebanyak 11.688 orang yang terkonfirmasi Covid-19. Untuk jumlah pasien sembuh, kini beradai di angka 9.137 orang. Kemudian pasien meninggal berada di angka 1.178 orang.

“Sementara jumlah pasien aktif adalah yang kami sebutkan tadi, 1.312 orang. Dari jumlah itu, 1.021 orang menjalani isolasi mandiri, dan 291 lainnya dalam perawatan di rumah sakit,” rincinya.

Kabupaten Kudus, lanjut Badai, juga masih ada sebanyak 207 suspek yang masih menunggu hasil swab-PCR, dan 189 probable. “Oleh karena itu kami harapkan masyarakat bisa melaksanakan disiplin protokol kesehatan secara baik dan benar,” katanya.

Penerapan prokesnya, seperti rajin mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas. “Sehingga bisa memutus rantai penularan virus ini,” lanjut Badai.

Para pasien yang kini menjalani isolasi pun diharapkan bisa melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Sehingga klaster keluarga bisa dihindari. “Pasien yang tengah dirawat juga kami upayakan kesembuhannya,” jelas dia.  

Reporter: Anggara Jiwandhana Editor: Ali Muntoha


Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Kudus – Jumlah pasien sembuh dari Covid-19 di Kabupaten Kudus terus bertambah. Pada Senin (29/6/2021) malam tercatat ada sebanyak 308 pasien yang sudah dinyatakan sembuh.

Selain itu, jumlah pasien konfirmasi baru juga lebih sedikit dari pasien sembuh yakni sebanyak 222 orang. Sementara pasien meninggal bertambah sebanyak 27 orang. “Sehinga membuat kasus aktif menurun lagi.

Jumlahnya kini ada 1.585 orang, untuk jumlah pasien sembuh secara total sudah ada sebanyak 10.997 orang dan pasien meninggal ada sebanyak 1.134, dari total kasus 13.716,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Badai Ismoyo, Selasa (29/6/2021).

Badai mengatakan, penurunan kasus aktif telah terjadi selama tiga hari ke belakang. Hal tersebut dikarenakan jumlah pasien sembuh selalu melebihi pasien baru. Penurunan, kata dia, sudah dimulai sejak tanggal 26 Juni.

Lebih rinci, Badai mengatakan pada tanggal 26 Juni jumlah aktif berada di angka 1.803, kemudian tanggal 27 Juni menurun di angka 1.694 orang, dan pada tanggal 28 Juni kemarin terdapat 1.585 orang.

“Kasusnya di Kabupaten Kudus mulai melandai dan cenderung menurun ya jika dilihat dari tren beberapa hari belakangan,” terangnya. Sembilan kecamatan di Kabupaten Kudus pun kini dikategorikan sebagai zona oranye penyebaran Covid-19.

Namun secara keseluruhan, Kabupaten Kudus masih dikategorikan sebagai zona merah penyebaran Covid-19. Oleh karena itu pihaknya berharap masyarakat bisa melaksanakan disiplin protokol kesehatan secara baik dan benar.

Penerapan prokesnya, seperti rajin mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. “ Serta mengurangi mobilitas dan menghindari kerumunan, sehingga bisa memutus rantai penularan virus ini,” jelas Badai.  

Reporter: Anggara Jiwandhana Editor: Ali Muntoha

Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Kudus – Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Kudus kembali mencatat adanya penurunan jumlah pasien aktif di Kudus,Minggu (27/6/2021) malam. Ini terjadi setelah jumlah pasien sembuh lebih banyak dibanding kasus baru.

Yakni ada 148 pasien sembuh, sementara pasien baru sebanyak 44 orang. Sedangkan pasien meninggal tercatat ada lima orang. Sehingga menjadikan jumlah pasien aktif di Kabupaten Kudus kini menurun kembali menjadi 1.694 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Badai Ismoyo menyampaikan, untuk saat ini angka kesembuhan mulai berangsur stabil dan cenderung naik. Sementara angka kematian mengalami penurunan.

“Untuk total pasien sembuh kini berada di angka 10.693 orang, sementara jumlah pasien meninggal kini berada di angka 1.107 orang, dari total kasus sebanyak 13.494,” ujar Badai, Senin (28/6/2021).

Sementara untuk jumlah penambahan baru, lanjut dia, mengalami penurunan di tiga hari terakhir. Pada tanggal 25 Juni, penambahan kasus aktif terjadi sebanyak 279 orang.

Kemudian di tanggal 26 Juni menurun ke 186 orang, dan tanggal 27 Juni kemarin menurun lagi menjadi 44 orang saja. Sembilan kecamatan di Kabupaten Kudus pun kini dikategorikan sebagai zona oranye penyebaran Covid-19.

Namun secara keseluruhan, Kabupaten Kudus masih dikategorikan sebagai zona merah penyebaran Covid-19. Oleh karena itu pihaknya berharap masyarakat bisa melaksanakan disiplin protokol kesehatan secara baik dan benar.

Penerapan prokesnya, seperti rajin mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. “ Serta mengurangi mobilitas dan menghindari kerumunan, sehingga bisa memutus rantai penularan virus ini,” jelas Badai  

Reporter: Anggara Jiwandhana Editor: Ali Muntoha

Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Kudus – Sebanyak 379 pasien Covid-19 di Kabupaten Kudus dinyatakan sembuh pada Sabtu (26/6/2021) petang. Sementara jumlah pasien baru bertambah sebanyak 186 orang, dan pasien meninggal bertambah 20 orang.

Penambahan di tiga kategori tersebut pun memengaruhi jumlah pasien aktif menjadi sebanyak 1.803 orang. Atau menurun sebanyak 212 orang dari hari sebelumnya.

“Dengan rincian 385 pasien menjalani perawatan di rumah sakit, dan 1.418 pasien menjalani isolasi mandiri,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Badai Ismoyo, Sabtu (26/6/2021) petang.

Kemudian secara akumulasi, lanjut Badai, jumlah total warga Kudus yang terpapar Covid-19 hingga saat ini sebanyak 13.450 orang. Sebanyak 10.545 orang sudah dinyatakan sembuh. Sementara pasien meninggal kini berada di angka 1.102 orang.

“Sisanya adalah pasien aktif yaitu sebanyak 1.803 orang,” ujarnya.

Kabupaten Kudus, tambah dia, juga masih memiliki sebanyak 238 pasien suspek yang masih menunggu hasil swab PCRnya. Serta ada sebanyak 211 probable meninggal dunia. Status zonasi di tingkat kecamatan juga mengalami penurunan.

Di mana sembilan kecamatan di Kabupaten Kudus mengalami perubahan status menjadi zona oranye. Setelah pada awal pekan ini semuanya berstatus zona merah.

Hanya, Badai tetap mengimbau semua warga Kabupaten Kudus untuk terus menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Sehingga bisa menekan angka penularan Covid-19.

“Kami terus ingatkan untuk mematuhi protokol kesehatan 5M, yakni mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas,” jelasnya.

Para pasien isolasi mandiri juga diharapkan bisa melakukan isolasi dengan sungguh-sungguh. Apabila rumahnya tidak memadau, disarankan untuk masuk ke isolasi terpusat milik desa ataupun pemerintah.

“Para nakes di rumah sakit juga terus berjuang menyembuhkan pasien Covid-19 yang dirawat,” tandas Badai.  

Reporter: Anggara Jiwandhana Editor: Ali Muntoha

Diterbitkan di Berita