"Bahwa saya ini termasuk susah kasih nilai. Ya... karena apa? 100 itu milik Yang Maha Kuasa, ya kan… 99 itu milik Presiden Republik Indonesia ya kan…" Lalu tepuk tangan hadirin pun membahana. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto itu muncul dalam pidato saat acara peluncuran buku sekaligus ulang tahun Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (7 Agustus 2026). Sepintas ungkapan tadi terdengar seperti kerendahan hati religius, yang lazim diucapkan dalam retorika publik oleh seorang pejabat Indonesia. "Kesempurnaan hanya milik Tuhan" adalah ungkapan umum untuk menjustifikasi kenapa penilai manusia tidak boleh memberi nilai maksimal. Kenapa tetap terasa janggal Masalahnya bukan pada logika "100 milik Yang Maha Kuasa (Tuhan)", tapi pada lompatan berikutnya — bukan "99 milik manusia pada umumnya", melainkan lebih ekstrim lagi: "99 milik Presiden Republik Indonesia" secara spesifik. Ini mengubah kesan pernyataan dari kerendahan hati generik menjadi klaim bahwa dialah, dalam kapasitasnya sebagai presiden, adalah otoritas penilai tertinggi kedua setelah Tuhan. Ini adalah sebuah personifikasi jabatan yang terdengar megalomaniak meski mungkin tidak dimaksudkan begitu. Perhatikan logika kalimat tersebut. Jika Tuhan = 100 dan seorang manusia = 99, maka secara matematis jaraknya hanya 1 poin. Seolah-olah ada seorang manusia yang hanya kurang sedikit nilainya dari Tuhan. Secara matematis ini mengandaikan bahwa kesempurnaan Tuhan dan manusia berada pada satu skala kuantitatif. Ada "total kesempurnaan" yang dapat diukur; kesempurnaan Tuhan dapat dibagi menjadi bagian-bagian dan ada manusia yang memiliki 99% dari kesempurnaan Tuhan. Ungkapan yang problematik secara Aqidah Salah satu prinsip paling fundamental dalam ajaran aqidah ahlussunah wal jama'ah Asy'ariyah adalah sifat Allah mukhalafatu lil hawaditsi (Allah tidak menyerupai makhluk-Nya) dalam segala hal, termasuk dalam kategori-kategori yang berlaku bagi makhluk seperti kuantitas, ukuran, dan gradasi. Kenapa kuantifikasi nilai ini bermasalah secara ushuluddin? Bilangan adalah kategori makhluq (ciptaan), bukan kategori ilahiyyah. Angka mengandaikan jins (genus) atau skala bersama yang memungkinkan perbandingan, yakni sesuatu diukur relatif terhadap sesuatu yang lain dalam satuan yang sepadan. Padahal dalam Surah asy-Syura 11 Allah SWT berfirman: لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Ayat al-Qur'an menutup kemungkinan ini di akar permasalahannya: tidak ada sesuatu pun yang sepadan (mumatsalah) dengan Allah sehingga bisa dijadikan skala pembanding. Begitu seseorang menaruh Allah di titik "100" pada sebuah skala 0–100, secara logis sudah menempatkan-Nya dalam sebuah ruang pengukuran bersama dengan entitas lain yang bisa menempati 99, 98, dst. Ungkapan itu sendiri sudah merupakan bentuk tasybih konseptual, yakni menyamakan kedudukan Dzat Allah dengan makhluk dalam satu kontinum yang sama, meski Allah ditaruh di ujung tertinggi. Kesempurnaan Allah SWT bersifat dzati dan mutlak, bukan derajat tertinggi dalam sebuah spektrum. Dalam ajaran ahlussunah wal jama'ah, sifat-sifat Allah (ilmu, qudrah, iradah, dst.) tidak dipahami sebagai "yang paling banyak/ paling tinggi" dibanding makhluk — itu justru cara pikir kaum Mu'tazilah yang cenderung menaruh Allah pada ujung spektrum yang sama dengan makhluk (dengan nilai tak terhingga). Ajaran ahlussunnah wal jama'ah Asy'ariyah menegaskan sifat Allah qadim dan berbeda secara kategoris (bukan gradual) dari sifat makhluk yang hadits. Maka kesempurnaan-Nya bukan "100 dari 100", melainkan sesuatu yang berada di luar logika skala sama sekali — tidak ada kesepadanan/ commensurable, titik. Konsep bi la kayfa Dalam tradisi ahlussunah wal jama'ah klasik (Imam Malik, al-Asy'ari, al-Ghazali, as-Sanusi dll), pembahasan sifat Allah selalu berhenti pada penetapan makna tanpa menanyakan atau menggambarkan "bagaimana" (kayfiyyah). Kuantifikasi numerik justru memaksakan sebuah kayfiyyah (cara/ bentuk) tertentu atas sesuatu yang secara prinsip dinyatakan bila kayfa. Hubungan antara Khaliq dan makhluk bukan seperti dua manusia yang dibandingkan dalam kompetisi. Allah SWT tidak memiliki "nilai kesempurnaan 100" sementara ada seorang manusia memiliki "nilai 99". Persoalannya adalah cara berpikir yang menempatkan nilai (kesempurnaan) Khaliq dan nilai makhluk dalam satu skala. Kesempurnaan Allah tidak membutuhkan angka. Dan kesempurnaan manusia tidak pernah mendekati kesempurnaan Allah dalam pengertian yang sama. Allah SWT adalah Maha Sempurna secara mutlak, sedangkan manusia memiliki kesempurnaan dalam batas kemakhlukannya. Inilah sebabnya ungkapan yang lebih tepat bukan “Allah 100, saya 99”, melainkan: “Allah memiliki kesempurnaan mutlak, sedangkan manusia hanya memiliki kesempurnaan yang terbatas dan diberikan oleh Allah.” Nabi Muhammad ﷺ tidak menempatkan dirinya seperti itu Ini sangat menarik karena meskipun Nabi ﷺ adalah manusia paling mulia, tetapi beliau tetap menegaskan posisi kehambaannya: إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ "Aku hanyalah seorang hamba. Maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya." (HR. Bukhari) Jadi semakin tinggi kedudukan seorang manusia di sisi Allah, semakin sempurna pula pengakuannya terhadap kehambaan dan kefaqirannya kepada Allah, bukan semakin tinggi klaim kesempurnaan dirinya. Ada paradoks spiritual dalam Islam: Semakin seseorang mengenal kebesaran Allah, semakin ia menyadari keterbatasan dirinya. Sebaliknya semakin seseorang merasa dirinya hampir tidak membutuhkan Allah, semakin besar masalah dalam dirinya. Penutup Ucapan Prabowo memang bukan proposisi teologis formal, tapi “100” disitu nampaknya dipakai sebagai idiom umum (“nilai sempurna = 100” diadopsi dari sistem penilaian sekolah). Namun bahkan sebagai majaz atau retorika sekalipun, ungkapan itu secara struktural tetap merupakan logika kuantifikasi-komparatif yang bertentangan dengan aqidah ahlussunnah wal jama’ah. Secara implisit dia menyandingkan otoritas presidensial dengan otoritas Ilahi. Ungkapan seperti itu sebenarnya kurang patut jika dilihat dari kacamata etika politik, apalagi itu dilakukan di ruang publik dan disambut tepuk tangan. Bila ditarik lebih jauh lagi secara epistemologi-teologis ke ranah aqidah/ ushuluddin sudah pasti ungkapan ini bermasalah. Noor Hilmi - anggota redaksi inharmonia.id dan etiks.id