Tiara Aliya - detikNews Jakarta - Guru, dosen dan tenaga pendidik hari ini menerima vaksinasi COVID-19. Presiden Joko Widodo (Jokowi), Mendikbud Nadiem Makarim dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memantau langsung vaksinasi COVID-19 di SMAN 70 Jakarta di Bulungan, Jakarta Selatan.

Pantauan detikcom di lokasi Rabu (24/2/2021), Anies Baswedan tiba lebih dulu sekitar pukul 10.40 WIB. Kemudian, pukul 11.10 WIB Jokowi dan Mendikbud Nadiem Makarim tiba dan langsung meninjau jalannya vaksinasi COVID-19.

Ketiganya kemudian mulai berkeliling memantau proses vaksinasi bagi guru, dosen dan tenaga pendidik. Mereka tampak berbincang sambil berjalan memasuki ruangan vaksinasi. Seperti diketahui, Ratusan guru, dosen dan tenaga pendidik menerima vaksinasi COVID-19 hari ini di SMAN 70 Jakarta.

Presiden Joko Widodo hingga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim membuka langsung vaksinasi bagi golongan ini.

Terpantau, vaksinasi COVID-19 dibagi menjadi 3 kloter untuk mengantisipasi terjadinya kerumunan. Rinciannya, pukul 08.00-10.00 WIB sebanyak 250 orang, pukul 10.00-12.00 WIB sebanyak 150 orang dan 13.00 WIB hingga selesai sebanyak 250 orang.

"(Sekitar) 650 orang, sudah termasuk di bawah naungan Kemenag. Nanti mas Menteri (Nadiem) sampaikan angka rincian," kata Dirjen guru dan Tenaga Pendidikan Kemendikbud Iwan Syahril saat ditemui di SMAN 70 Jakarta, Bulungan, Jakarta Selatan, Rabu (24/2/2021).

Berdasarkan keterangan yang tercantum di meja registrasi, pihak yang divaksinasi hari ini terdiri dari Organisasi Guru Undangan Ditjen GTK, Guru Disdik Provinsi DKI Jakarta hingga organisasi PGRI.Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi memastikan seluruh guru, baik ASN maupun honorer mulai divaksinasi COVID-19 sejak hari ini.

Nantinya, program ini akan dilakukan bertahap di seluruh Indonesia.Setelah registrasi selesai dilakukan, mereka diarahkan ke meja verifikasi data. Setelah itu, vaksinator segera menyuntikkan vaksin ke para guru, dosen dan tenaga pendidik yang berhasil lolos tahap verifikasi data.

(dwia/dwia)

 
Diterbitkan di Berita

Agung Sandy Lesmana | Yaumal Asri Adi Hutasuhut  Suara.comRusmiati, sosok nenek berusia 58 tahun yang ada dalam foto unggahan Instagram Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, meminta hidupnya ditanggung sang pemimpin Ibu Kota itu. Sebab Anies yang menjanjikan RW 9 Kelurahan Cipinang Melayu terbebas banjir tidak ditepati.

“Makanya saya mau ngomong, minta bantuan ke Pak Anies, selamanya saya hidup saja,” kata Rusmiati saat ditemui Suara.com, Senin (22/2/2021).

 Rusmiati adalah warga Cipinang Kampung Melayu, Jakarta Timur yang sempat difoto dan diunggah ke Instagram pribadinya, Anies.

Beberapa waktu lalu, dalam unggahannya itu, Anies menuliskan bahwa RW 4 Kelurahan Cipinang Melayu, Jakarta Timur terbebas banjir. Namun, kenyataannya pada Jumat-Minggu (19-21/2/2021) banjir masih melanda kawasan itu, bahkan ketinggiannya mencapai 3-4 meter. 

  

Anies Baswedan saat mengunjungi kawasan Cipinang Melayu. [Anies Baswedan / Twitter]
Anies Baswedan saat mengunjungi kawasan Cipinang Melayu. [Anies Baswedan / Twitter]

 

“Kenapa Pak, Bapak kemarin bilang bebas banjir, tapi sekarang banjir lagi. Saya kecewa,” kata Rusmiati.

Rusmiati pun mengatakan bahwa saat ini dia tinggal bersama anak dan cucunya. Pekerjaannya pun hanya sebagai ibu rumah tangga.

“Saya tinggal bersama anak dan satu cucu saya,” ujar Rusmiati. Dia pun mengenang, saat sosok orang nomor satu DKI Jakarta itu memeluknya dan mengatakan bahwa daerah tempat tinggalnya sudah terbebas banjir.

“Yang meluk juga dia (Anies), peluk Bu, kata dia gitu, sambil bilang, sudah tidak banjir lagi Bu, katanya gitu. Pelukannya sudah seperti keluarga gitu” ujar Rusmiati mengingat pernyataan Anies kepadanya.

  
Seorang warga menggendong anaknya berjalan menerjang banjir yang merendam Kelurahan Cipinang Melayu, Jakarta, Jumat (19/2/2021). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Seorang warga menggendong anaknya berjalan menerjang banjir yang merendam Kelurahan Cipinang Melayu, Jakarta, Jumat (19/2/2021). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

 

Trauma

Rusmiati berkisah, banjir mulai menggenang rumahnya di RW 4 RT 6 sejak Jumat pagi (19/2). Saat itu, kata dia, ketinggian banjir masih mencapai dengkulnya, namun perlahan mencapai ketinggian 3-4 meter.

Beruntung pada saat air masih rendah, Rusmiati sudah mengungsi ke rumah anaknya yang berada di Keranji. Karena peristiwa itu, Rusmiati mengatakan dirinya stres.

“Bukan Trauma lagi, stres saya,” ujarnya.

Apalagi sejumlah barang elektroniknya seperti kulkas, tape recorder, dan mesin cuci rusak terendam, bahkan lemari yang baru dibelinya juga bernasib sama.

“Lemari baru beli, baru beli pisan. Saya kan orang enggak punya ya,” ujar Rusmiati.

Di samping itu, Rusmiati juga mengatakan, sudah tidak tahu, jika Anies kembali berjanji daerah tempat tinggalnya terbebas banjir.

“(Kalau Anies janji lagi) nggak tahu deh (masih percaya atau tidak),” ujarnya.

Atas peristiwa itu, Rusmiati pun berharap, Anies segera datang ke RW 4 Kelurahan Cipinang Melayu untuk melihat kondisinya dan warga lain.

“Berharap Bapak Anies datang. Katanya sih Insya Allah mau datang. Kalau Pak Anies datang saya mau bilang, janjinya gimana sih, janjinya katanya enggak banjir lagi, ternyata banjir” ujarnya.

Banjir yang menggenangi RW 4 Kelurahan Cipinang Melayu sejak Jumat (19/2) disebabkan luapan aliran Kali Sunter karena intensitas hujan tinggi. Bahkan, saat banjir terjadi ketinggian air sempat mencapai 3-4 meter, lalu perlahan surut pada Minggu sore sekitar 50 cm.

Diketahui, kawasan RW 04 Cipinang Melayu sempat diklaim Anies Baswedan terbebas dari banjir. Hal itu diketahui berdasarkan unggahan Anies dari akun Instagramnya.

Ia mengunggah foto perbandingan saat tahun 2017 ketika banjir dengan sekarang. Tampak Anies dalam foto itu dipeluk oleh seorang ibu bernama Rusmiati sambil tergenang banjir setinggi pinggangnya. Di unggahan yang sama tampak ada foto Anies masih bersama Rusmiati tak lagi kebanjiran.

“Kita semua patut bersyukur karena warga kawasan RW 04 dan RW 03 Cipinang Melayu bisa merasakan musim penghujan tanpa kebanjiran,” ujar Anies dalam keterangan instagramnya.
 
 

Diterbitkan di Berita

Jalaludin Rumi - Hops.ID Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Amerika Serikat, Akhmad Sahal atau yang karib disapa Gus Sahal kembali menyoroti kinerja Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dalam penanggulangan banjir di Ibu Kota. Dia menilai, Anies belum menunaikan tugasnya dengan baik dan benar.

Dikutip dari video berjudul ‘Gubernur Seiman tapi Amburadul Buat Apa?’ di saluran Youtube CokroTV, tokoh NU itu mengatakan, banjir yang melanda Jakarta menjadi bukti sahih ketidakmampuan Anies Baswedan mengelola Ibu Kota. Alih-alih bertidak, kata dia, Anies justru lebih sering bicara dan menyalahkan pihak-pihak lain.

“Banjir besar yang melanda DKI, dan amburadulnya penanganan yang dilakukan Anies Baswedan adalah contoh terbaru dari rentetan bukti ketidakbecusannya sebagai Gubernur Jakarta,” ujar Gus Sahal, dikutip Senin 22 Februari 2021.

“Bukan hanya tak becus kerja, Anies juga terbukti lebih banyak ngomong ketimbang aksi, hobinya nyalahin pihak lain, ngeyel, dan suka ngeles. Sehingga, begitu banyak warga Jakarta yang sengsara karenanya. Inilah akibatnya, kalau gubernur dipilih semata-mata karena iman,” sambungnya.

 

Lambang NU. Foto: kholidintok.net

 

Lebih jauh, Gus Sahal juga berkisah, bahwa Jakarta pernah dipimpin gubernur yang bekerja dengan baik dan sungguh-sungguh, dia adalah Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok. Namun, kasus politisasi agama membuatnya terjungkal, lalu digantikan gubernur baru yang menurut dia kurang kompeten.

“Politisasi ayat di Jakarta ini terbukti merugikan Jakarta itu sendiri. Jakarta kan kota metropolitan dengan segepok persoalan yang kompleks. Ini butuh pemimpin yang bersih, tegas, berani galak untuk kepentingan warga, dan mengerti detail persoalan.”

“Namun dengan adanya politisasi SARA, kepemimpinan Jakarta yang harusnya urusan dunia tiba-tiba dibelokkan menjadi soal akhirat,” terangnya.
 

Jakarta banjir, tokoh NU sebut Anies pemimpin zalim

Gus Sahal mengatakan, sebenarnya ada banyak warga DKI yang kala itu puas dengan kinerja Ahok. Namun, setelah politisasi agama menyeruak dan mereka ditakut-takuti dengan ayat, maka tak ada pilihan lain selain memilih Anies Baswedan.

Padahal, kata Gus Sahal, kualitas pemimpin bukan diukur dari imannya, melainkan pada kinerja dan kesungguhannya melayani rakyat. “Kepemimpinan menurut Islam adalah seberapa jauh sang pemimpin tersebut kompeten.
Seberapa jauh dia becus dalam menegakkan kemaslahatan, bukan soal iman. Karena iman pemimpin hanya berdampak pada dirinya sendiri, itu urusan dia dengan Allah di akhirat,” urainya.

 

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Foto: Antara

 

Seharusnya, kata dia, prinsip tersebut menjadi acuan warga DKI dalam memilih pemimpin, yakni dengan melihat kinerja bukan iman atau kepercayaannya.

“Jakarta telah memilih pemimpin seiman, tapi enggak becus kerja. No action talk only, ngeyel, dan suka ngeles. Akibatnya, yang kita rasakan saat ini, Jakarta jadi salah urus. Ini adalah tipe pemimpin zalim,” kata Gus Sahal.

 

 
Diterbitkan di Berita

Deden Gunawan - detikNews Jakarta - Selama tiga tahun terakhir, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tak fokus mengatasi masalah banjir. Sebab, menurut Ketua Pansus Banjir DPRD DKI Jakarta, Februari - Desember 2020, Gubernur Anies Baswedan terbelenggu oleh janji politik semasa kampanye.

Dia tidak mau melakukan normalisasi Ciliwung karena harus merelokasi warga di bantaran sungai. Padahal normalisasi sungai itu merupakan solusi utama untuk mengatasi banjir di Jakarta.

"Kalau mau bicara gamblang dan melihat alokasi anggaran, Pak Gubernur itu sudah tiga tahun tidak fokus terhadap isu banjir di Jakarta. Kenapa, karena terbelenggu dengan janji politik," kata Zita Anjani yang juga Wakil Ketua DPRD DKI dari Fraksi PAN kepada tim Blak-blakan detikcom, Minggu (21/2/2020).

 Ke depan, dia melanjutkan, perlu ada semacam pakta integritas dengan warga DKI bahwa siapapun gubernurnya, menangani banjir itu jangan politis, jangan baper. Tapi pakai data dan fakta.

"Siapapun gubernurnya gak bisa dia ganti-ganti program penanganan banjir, karena harus long term. Mengatasi banjir itu harus saintifik, gak bisa politik," tegas alumnus University College London itu.

Pemprov DKI baru akan menjalankan program banjir seperti normalisasi (pelebaran) sungai Ciliwung pada 2021 ini, sebab anggarannya baru disetujui. Juga ada dana pinjaman PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) sebesar Rp1 triliun.

Selain menormalisasi Ciliwung, kata Zita Anjani, Pemprov DKI juga harus memperbaki kondisi drainase, membuat waduk dan embung sebagai bagian dari infrastruktur banjir.

Melakukan pengerukan lumpur di danau seperti yang telah dilakukan patut diapresiasi karena membuat banjir cepat surut. Tapi hal itu tetap tidak akan memadai bila dibandingkan dengan rata-rata debit banjir yang muncul.

"Mau dikeruk sebanyak apapun lumpurnya, kalau kapasitas sungai tak ditambah ya Jakarta akan tetap banjir," kata Zita.

Putri Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan itu juga menyoroti program sumur resapan yang kerap disampaikan Anies Baswedan. Dari 1,8 juta yang ditargetkan, ternyata yang baru dibangun hanya 1.772 titik.

Untuk menggenjotnya tanpa membebani APBD, Zita Anjani menyarankan agar Pemprov DKI meminta para pengembang melakukannya berdasarkan aturan yang ada.

Kapasitas kali/sungai eksisting kita hanya 950 m3/detik, sedangkan rata-rata banjir tahunan debit airnya mencapai 2.100-2.650 m3/detik. "Bahkan awal 2020 mencapai 3.389 m3/detik," imbuh Zita.

(jat/jat)

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, NETRALNEWS.COM Bencana banjir yang tidak pernah hilang dari Jakarta membuat masyarakat lelah. Namun, menurut Sekertaris Jendral PDIP Hasto Kristianto, pemerintah pusat melalui Menteri PUPR Basuki Hadimuljono sudah berusaha untuk bekerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta menangani banjir.

Hanya saja, Menteri Basuki, kata Hasto mengeluh karena susah bekerjasama dengan Anies Baswedan untuk tangani banjir di Jakarta ini. Pegiat media sosial, Denny Siregar pun ikut berkomentar. Menurutnya, Anies bukan susah diajak bekerjasama, karena sebenarnya Anies tidak mengerti apa yang dimaksud Menteri Basuki.

“Bukan susah kerjasama, pak Bas.. Emang doi gak ngerti apa yang pak Bas maksud.

Harusnya kalo ngobrol ama @aniesbaswedan pake kelir, baru doi ngangguk2,” tulis Denny di akun Twitternya, Minggu (21/2/2021).

Sebelumnya, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengungkap Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono sempat marah-marah karena sulit bekerja sama dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk menangani banjir Jakarta.

"Pak Basuki, Menteri PU pun sampai marah-marah karena betapa sulitnya bekerja sama dengan pemimpin DKI tersebut,” ungkap Hasto.

Hal itu disampaikannya sebelum memulai acara Program Gerakan Penghijauan dan Bersih-Bersih Daerah Aliran Sungai (DAS), Cinta Ciliwung Bersih, di Waduk Cincin, Jakarta Utara, Minggu (21/2/2021).

Karena menurut Hasto, banjir sangat merugikan warga. Dia pun bisa merasakan bagaimana kerugian warga yang terdampak banjir.

Pasalnya, kediaman Hasto di Villa Taman Kartini, Bekasi, pun ikut kebanjiran. Ini sudah tahun ketiga dia merasakan kebanjiran.

“Selain lumpur di mana-mana, barang rusak, yang paling membuat khawatir adalah ular sering terbawa. Selain itu kecoa ada dimana-mana. Tempat menjadi terasa kumuh dan tentu saja ancaman penyakit," ucap Hasto.

"Jadi saya bisa merasakan betapa susahnya warga Jakarta yang sering terdampak banjir," imbuhnya.

Reporter : Dimas Elfarisi
Editor : Sesmawati

Diterbitkan di Berita
Halaman 4 dari 4