tvonenews.com Juru Bicara Taliban mengatakan bahwa begitu Taliban resmi berkuasa, kami akan melakukan aliansi dengan China untuk bangun kembali negeri kami yang porak poranda.

Pada 2019, China menjadi negara yang pertama kali menjadi tuang rumah bagi perwakilan Taliban untuk negosiasi. Sejak itu hubungan China dan Taliban semakin erat.

Cina menjanjikan investasi besar dalam proyek energi dan infrastruktur, termasuk pembangunan jaringan jalan di Afghanistan.

Diterbitkan di Berita
Tim detikcom - detikNews Jakarta - Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PPP Syaifullah Tamliha mengaku mendapat informasi yang menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) diam-diam menjalin komunikasi dengan pimpinan Taliban di Doha, Qatar. Apa benar?

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menjelaskan Indonesia sejak 2019 tergabung dalam Troika Plus. Troika Plus adalah kumpulan negara yang bersama-sama mencari solusi damai atas konflik pemerintah Afghanistan dengan Taliban.

"Indonesia ikut dalam proses yang disebut dengan Troika Plus. Melalui kesertaan tersebut, Indonesia berkesempatan berkomunikasi dengan para pihak yang berseberangan, yaitu Republik Afghanistan dan Taliban," kata juru bicara Kemlu Teuku Faizasyah saat berbincang dengan detikcom, Selasa (17/8/2021).

"Troika itu disponsori oleh Qatar dan kita merupakan salah satu negara yang diundang," imbuhnya.

Faizasyah tak menampik bila dikatakan bahwa negara-negara yang tergabung dalam Troika Plus, seperti Jerman dan Norwegia, juga berkomunikasi dengan Taliban.

"Adalah satu keniscayaan bila negara-negara yang ikut serta dalam dialog tersebut berinteraksi dan berbicara dengan pihak-pihak yang terlibat, termasuk Taliban. Jadi dengan demikian, sejak beberapa waktu lalu, sudah ada komunikasi, tapi dalam proses atau track yang berbeda," terang Faizasyah.

Lebih lanjut Faizasyah mengingatkan, Direktur Jenderal (Dirjen) Asia Pasifik dan Afrika Kemlu, Abdul Kadir Jailani, beberapa hari lalu juga sempat komunikasi dengan pimpinan Taliban secara virtual.

"Kemudian secara terpisah, beberapa hari lalu dirjen di Kemlu, Pak Abdul Kadir, ada berdialog dengan pihak Taliban. Komunikasi ini juga bisa dilihat sebagai bagian dari proses Troika Plus. Silakan dicek di akun tweet-nya Pak Kadir," sebutnya.

Karena itu, Faizasyah menyebutkan publik di Tanah Air mengetahui bahwa Indonesia memang berkesempatan untuk berkomunikasi dengan Taliban. Bahkan Indonesia juga memiliki andil dalam mempertemukan ulama-ulama Tanah Air dengan ulama-ulama Afghanistan.

"Publik mengetahui bahwa Indonesia menjadi bagian dari proses untuk mencari solusi damai atas konflik di sana dan berkomunikasi dengan semua pihak di Afghanistan," tutur Faizasyah.

"Indonesia juga berkontribusi dalam kegiatan yang mempertemukan para ulama Afghanistan dengan ulama Indonesia, mempertemukan perempuan-perempuan muslim berpengaruh di Indonesia dengan pihak-pihak terkait. Jadi kesemuanya adalah bagian dari kerja diplomasi Indonesia," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, legislator PPP Syaifullah Tamliha menyebut keakraban yang terjalin antara Presiden Jokowi dan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani. Namun, dia mengatakan, Jokowi juga menjalin komunikasi dengan pemimpin Taliban, yang berpusat di Doha, Qatar.

"Meskipun Presiden Jokowi tampak menunjukkan 'keakraban' dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, yang sekarang memilih kabur ke Tajikistan, Indonesia, menurut informasi yang saya peroleh, diam-diam Presiden Jokowi juga terus-menerus menjalin hubungan dengan pimpinan pejuang Taliban yang berpusat di Doha, Qatar," ujar Tamliha kepada wartawan, Selasa (17/8).

"Terakhir beberapa bulan yang lalu Menlu RI Retno Marsudi juga berkunjung ke Doha, yang tentunya mengemban misi yang sama," sambung dia.

(zak/gbr)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat intelijen dan terorisme Ridlwan Habib mengatakan kemenangan Taliban di Afganistan, tidak akan secara langsung membuat gerakan radikal di Indonesia menjadi lebih kuat.

Namun, aparat keamanan dan para pihak terkait tetap harus melakukan antisipasi. “Secara langsung tidak,” ujar Ridlwan Habib saat dihubungi Beritasatu.com, Senin (16/8/2021).

Kendati demikian, menurut Ridlwan, peristiwa ini bisa memotivasi kelompok radikal untuk membuat negara Islam. “Spirit atau semangat untuk menciptakan negara Islam tentu bisa termotivasi,” imbuhnya.

Diketahui, kelompok Taliban mengambil alih kepemimpinan nasional di Afganistan, dan segera memproklamasikan berdirinya Negara Islam Afghanistan. Taliban adalah kelompok fundamentalis Islam yang pernah memerintah Afghanistan pada 1996-2001.

Pemerintahan Taliban terguling setelah Amerika Serikat (AS) bersama sekutu melakukan invasi.

Aksi militer itu digelar karena kelompok Taliban memberikan perlindungan kepada Al-Qaeda dan pemimpinnya, Osama bin Laden, dalang serangan teror dengan sasaran World Trade Center dan Pentagon, Amerika Serikat, 11 September 2001.

Beberapa bulan belakangan, Taliban meningkatkan agresi terhadap pemerintahan Afganistan, menguasai perlintasan perbatasan sekaligus memperluas kedudukannya di seluruh negeri. Kemudian, Taliban berhasil menguasai Ibu Kota Kabul, pada 15 Agustus 2021.

Diterbitkan di Berita

INDOZONE.IDSeluruh kota telah berubah bagi wanita hampir dalam semalam. Bahkan berjalan di jalan pun terasa berbeda. Hidup telah berhenti, ini adalah kata-kata seorang jurnalis wanita di Kabul setelah Afghanistan berada di bawah kendali Taliban.

Wanita di Afghanistan takut pada kelompok pemberontak ekstremis. Ketika mereka menguasai negara dengan kecepatan yang menakjubkan pada hari Minggu, para wanita takut bahwa mimpi buruk mereka akan menjadi kenyataan.

Banyak yang khawatir Taliban akan mengembalikan dua dekade keuntungan yang diperoleh perempuan dan etnis minoritas sambil membatasi pekerjaan jurnalis dan pekerja LSM.

Seluruh generasi Afganistan dibesarkan dengan harapan membangun negara demokratis yang modern, tapi mimpi itu tampaknya telah mencair ketika kelompok pemberontak mengambil alih negara pada hari Minggu.

Selama pemerintahan mereka sebelumnya, Taliban melarang perempuan bekerja di luar rumah atau bersekolah. Wanita diharuskan mengenakan burqa dan harus ditemani oleh kerabat laki-laki setiap kali mereka pergi ke luar. 

Sebuah foto beredar di media sosial yang menunjukkan pemilik salon kecantikan melukis di atas poster yang menggambarkan wanita. Para pemuda berlari pulang untuk mengganti jeans dan kaus oblong mereka dan mengenakan pakaian tradisional shalwar kamiz.

 

Kabul. pic.twitter.com/RyZcA7pktj

— Lotfullah Najafizada (@LNajafizada) August 15, 2021 "> 

"Kami semua wanita yang lebih tua telah berbicara tentang betapa sulitnya sebagai seorang wanita di masa lalu. Saya dulu tinggal di Kabul saat itu dan saya ingat bagaimana mereka memukuli wanita dan gadis yang meninggalkan rumah mereka tanpa burqa," kenang seorang wanita Afghanistan, dikutip dari India Today.

Wartawan lain yang mencoba melarikan diri dari negara itu setelah kelompok ekstremis mengambil alih mengatakan dia dirampok dengan todongan senjata dalam perjalanan ke bandara. Paspor dan dokumennya diambil, tetapi dia berhasil sampai di bandara.

Meskipun Taliban telah menjanjikan hak yang sama bagi perempuan, itu hanya dapat dianggap sebagai nilai nominal karena kekejaman yang dilakukan pada perempuan di masa lalu.

Diterbitkan di Berita

suaraislam.co Pasukan Taliban berhasil mengambil alih Ibukota Afghanistan, Kabul sekaligus telah menguasai Istana Kepresidenan setelah Presiden Ashraf Ghani melarikan diri ke Tajikistan.

Lantas, dari manakah sumber keuangan Taliban dalam melakukan aksi-akasinya tersebut?

Dikutip dari VOA, Senin (16/8/2021), berdasarkan hasil yang diperoleh badan-badan intelijen mengungkapkan Taliban dapat menghasilkan US$ 300 juta hingga US$ 1,6 miliar atau setara dengan Rp 4,3 triliun sampai Rp 23 triliun (kurs dolar Rp 14.387).

Laporan PBB pada Juni 2021 menyebut, sebagian besar uang Taliban berasal dari aktivitas kriminal seperti produksi opium, perdagangan narkoba, pemerasan dan penculikan untuk tebusan.

Salah satu badan intelijen mengungkapkan dari perdagangan narkoba saja mungkin telah menghasilkan US$ 460 juta (Rp 6,6 triliun) bagi Taliban.

The U.N melaporkan, para pemimpin Taliban juga telah menghasilkan uang tambahan dari sumber daya alam di daerah-daerah di bawah kendali mereka, termasuk sebanyak US$ 464 juta (Rp 6,7 triliun) tahun lalu dari operasi pertambangan.

Para pemimpin Taliban juga mendapat banyak manfaat dari sumbangan, termasuk dari apa yang digambarkan oleh PBB sebagai “jaringan yayasan amal non-pemerintah” dan dari pendukung kaya raya.

Selain itu, AS juga sempat curiga jika Taliban mendapat bantuan dari Rusia. Analis-analis lain menyebut Taliban juga mendapat aliran dana dari Pakistan, hingga Iran meski tak banyak.

Menurut data terbaru dari Bank Dunia, pemerintah Afghanistan menghabiskan US$ 11 miliar pada tahun 2018, dimana 80% berasal dari bantuan asing.

“Tampaknya bahkan Taliban memahami kebutuhan mendesak Afghanistan akan bantuan asing,” kata John Sopko, Inspektur Jenderal Khusus AS untuk Rekonstruksi Afghanistan, dalam sebuah acara Maret lalu.

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Denny Siregar mengungkap bagaimana kebiadaban Taliban yang telah menganiaya dan menyiksa seorang perempuan sejak dinikahkan di usia 8 tahun dan di usia 16 tahun harus bernasib tragis.

Berikut catatan lengkap Denny Siregar:

BIBI AISHA & KEJAMNYA TALIBAN..

Kisah Bibi Aisha, bisa jadi adalah salah satu kisah terkejam di dunia..

Bibi Aisha dulu adalah seorang anak perempuan yang berusia 8 tahun yang tinggal di Afghanistan. Dia dinikahkan oleh ayahnya karena berhutang pada anggota Taliban. 

Dan pada usia 16 tahun kemudian, keluarga Bibi Aisha menyerahkannya pada keluarga suaminya yang semuanya pengikut Taliban. Hidup berubah jadi neraka oleh Bibi Aisha karena terus menerus mendapat siksaan, yang kemudian membuat dia akhirnya kabur dari rumah keluarga suaminya.

Bibi Aisha berhasil ditemukan oleh keluarga suaminya. Lalu mereka membuat pengadilan sendiri dan memutuskan Bibi Aisha harus dipotong telinga dan hidungnya. Suaminya yang mengeksekusi Bibi Aisha sendiri di pegunungan Oruzgan. Bibi Aisha yang pingsan ditinggalkan dengan bermandi darah dan dianggap sudah mati saat itu juga.

Untungnya, dalam situasi kritis, Bibi Aisha bertemu dengan beberapa orang baik yang segera menyelamatkan dia. Bibi Aisha kemudian dibawa ke Amerika, karena takut jika dia ditemukan lagi oleh keluarga suaminya, dia akan dicincang.

Foto Bibi Aisha di majalah Time dengan hidung yang hilang dan telinga hilang yang tertutupi oleh rambut, seketika jadi sampul majalah Time tahun 2010. Foto itu viral dan membuka mata dunia betapa kejamnya Taliban, terutama terhadap wanita dan anak perempuan yang mereka anggap hanya budak belaka.

Ketakutan yang sama sekarang melanda warga Afghanistan, ketika Taliban sudah mulai menguasai negara itu. Gelombang pengungsian terjadi disana, mereka menghindari kekejaman Taliban yang pernah mereka saksikan ketika organisasi yang berafiliasi dgn Alqaeda itu pernah menguasai negara mereka.

Dan tampaknya akan terjadi. Taliban sudah masuk Kabul, ibukota Afghanistan. Dimulailah cerita-cerita seram yang akan membuat kita miris, tentang hilangnya rasa kemanusiaan.

Kita harus hati-hati disini. Taliban menjadi simbol baru buat ormas radikal. Gerakan mereka pasti bangkit dan bendera2 Taliban akan dikibarkan..

Kalau kita lengah, entah itu ibu, istri, adik, anak dan saudara kita, akan mengalami peristiwa horor yang sama yang dialami oleh Bibi Aisha..

Seruput kopinya, kawan.. 

Denny Siregar

Taliban Nyaris Kuasai Afganistan

Diberitakan, kelompok Taliban sudah melancarkan serangan di berbagai kota hingga membuat ratusan tentara Afghanistan menyerah. Amerika Serikat (AS) yang sudah menarik lebih dulu pasukannya kini lepas tangan dengan meminta Afghanistan untuk berjuang sendiri.

"Para pemimpin Afghanistan harus bersatu," kata Biden kepada wartawan di Washington, DC. 

"Mereka harus berjuang untuk diri mereka sendiri," imbuhnya seperti diberitakan kantor berita AFP, Rabu (11/8/2021).

Lebih lanjut, Biden mengatakan AS akan terus mendukung pemerintah Afghanistan di Kabul. Dia juga menambahkan tak menyesali keputusannya menarik pasukan AS dari negara konflik itu pada 31 Agustus usai dua dekade perang.

Meski meminta Afghanistan berjuang sendiri, pihaknya menekankan bahwa Washington akan terus mendukung pasukan keamanan Afghanistan dengan serangan udara, makanan, peralatan, dan uang untuk pembayaran gaji.

"Kami melatih dan melengkapi lebih dari 300.000 pasukan Afghanistan dengan peralatan modern selama dua dekade," tutur Biden.

"Mereka pasti ingin berperang. Jumlah mereka melebihi jumlah Taliban," imbuhnya.

Saat ini, sudah ada delapan kota yang dikuasia Taliban. Terbaru, Taliban menguasai kota Farah dan Pul-e-Khumri di Provinsi Baghlan dalam selisih beberapa jam saja.

"Taliban sekarang berada di kota ini," kata anggota parlemen Baghlan, Mamoor Ahmadzai kepada AFP.

"Mereka mengibarkan bendera di alun-alun utama dan di gedung kantor gubernur," imbuhnya.

Perebutan kota-kota tersebut pun dikonfirmasi Taliban dalam postingan di Twitter.

Akibat serangan terus-menerus, ribuan warga Afghanistan dilaporkan melarikan diri dari kota-kota yang baru direbut Taliban. Mereka menyebut Taliban melakukan sejumlah aksi brutal, mulai memukul, menjarah, hingga membawa paksa gadis atau janda.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli

Diterbitkan di Berita

Taliban Rebut Bandara Afghanistan

Kamis, 12 Agustus 2021 12:06

VOA Indonesia Pemberontak Taliban, Rabu (11/8), merebut bandara Afghanistan di Provinsi Farah dan Kunduz sementara melakukan konsolidasi kekuatan, dan pasukan Amerika menyelesaikan penarikan diri dari Afghanistan pada akhir bulan ini.

Beberapa laporan juga menyatakan pemberontak itu berhasil merebut sebuah pangkalan AD di Kunduz setelah ratusan tentara menyerah.

Anggota parlemen Afghanistan Shah Khan Sherzad menyatakan kepada TOLO, media setempat bahwa bandara dan pangkalan AD di Kunduz “direbut oleh Taliban bersama seluruh perlengkapannya.”

Taliban juga menyatakan telah memegang penuh kendali di sembilan ibukota provinsi dan dalam proses merebut wilayah lainnya.

Perkembangan terbaru pemberontak itu datang ketika Presiden Afghanistan Ashraf Ghani melakukan perjalanan ke Mazar-i-Sharif untuk menyemangati pasukan pro-pemerintah agar mempertahankan kota terbesar di utara Afghanistan itu.

Ini merupakan sebuah pusat komersial dan rute perdagangan perbatasan yang penting antara Afghanistan dan negara tetangganya.

Ofensif Taliban baru-baru ini menyaksikan kelompok pemberontak itu berhasil merebut pelintasan perbatasan Afghanistan dengan Iran, Turkmenistan, Iran, dan satu dari lima rute perdagangan dan perjalanan dengan Pakistan.

Pasukan keamanan kesulitan untuk membendung kemajuan cepat yang diperoleh Taliban. Itu menggoncangkan pemerintah Afghanistan yang didukung Amerika dan negara-negara Barat lainnya.

Kemunduran di medan pertempuran itu memaksa Ghani, Rabu (11/8) mengganti panglima AD dengan komandan dari korps pasukan khusus, Jenderal Hibatullah Alizai.

Berbicara kepada VOA, juru bicara Taliban Zabihullah Mujahi, Rabu (11/8) menjelaskan kejatuhan sembilan ibukota provinsi itu berarti pemberontak mengendalikan secara penuh sembilan dari keseluruhan 34 provinsi Afghanistan.

Mujahih menambahkan pemberontak Taliban bertekad melancarkan ofensif terhadap provinsi Kandahar dan Helmand di selatan, dimana kebanyakan distriknya sudah dikuasai oleh pemberontak. [jm/mg]

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia Setidaknya 27 anak tewas di Afghanistan dalam tiga hari di tengah pertempuran sengit antara Taliban dan pasukan pemerintah, kata PBB.

Lembaga anak-anak PBB, Unicef, mengatakan mereka terkejut dengan "kekerasan parah terhadap anak-anak yang meningkat pesat".

Taliban menguasai banyak wilayah di Afghanistan setelah penarikan pasukan asing. Kelompok itu telah merebut enam ibu kota daerah sejak hari Jumat (06/09).

Mereka menolak seruan internasional untuk gencatan senjata. Lebih dari 1.000 warga sipil terbunuh akibat konflik tersebut dalam satu bulan terakhir.

Dalam pernyataan pers pada Senin (09/09), Unicef mengatakan tindakan kekejaman yang dilakukan terhadap anak-anak "bertambah dari hari ke hari".

Angka 27 kematian anak dicatat di tiga provinsi - Kandahar, Khost, dan Paktia. Sekitar 136 anak lainnya terluka di wilayah-wilayah ini dalam tiga hari terakhir, kata Unicef.

"Afghanistan sudah lama menjadi salah satu tempat terburuk di Bumi bagi anak-anak namun dalam beberapa pekan terakhir dan, bahkan, 72 jam terakhir, itu telah menjadi lebih buruk lagi," kata Samantha Mort dari Unicef Afghanistan kepada BBC.

Anak-anak terbunuh dan terluka akibat bom-bom di pinggir jalan dan dalam baku tembak. Seorang ibu berkata kepada Unicef bahwa keluarganya sedang tidur ketika rumahnya dihantam pecahan peluru meriam, yang mengakibatkan kebakaran dan membuat putranya yang berusia 10 tahun mengalami "luka bakar yang mengerikan".

Banyak anak juga tidur di luar setelah mengungsi dari rumah mereka.

 

Pasukan keamanan Afghanistan di Kunduz, Juli 2020.

Pemerintah Afghanistan mengatakan pasukan keamanan masih bertempur di Kunduz. REUTERS

 

Unicef meminta kedua pihak yang berseteru untuk memastikan anak-anak dilindungi.

Kekerasan terus meningkat

Kekerasan meningkat di seluruh Afghanistan setelah pasukan asing yang dipimpin AS ditarik usai menjalankan operasi militer selama 20 tahun.

Taliban dengan cepat merangsek dan merebut sebagian besar daerah di pedesaan, dan sekarang menyasar kota-kota.

Taliban dilaporkan telah menguasai kota Kunduz di utara, dalam kemenangan mereka yang paling signifikan sejak Mei.

Kota berpopulasi 270.000 orang itu dianggap sebagai pintu gerbang menuju provinsi-provinsi di utara yang kaya akan mineral. Lokasinya strategis karena dekat perbatasan dengan Tajikistan, yang dimanfaatkan untuk menyelundupkan opium dan heroin.

Kunduz juga signifikan secara simbolis bagi Taliban karena merupakan benteng pertahanan penting di utara sebelum 2001. Para militan sempat dua kali menguasai kota itu pada 2015 dan 2016 namun tidak pernah mempertahankannya untuk waktu yang lama.

Pemerintah Afghanistan mengatakan pasukan keamanan masih bertempur di kota tersebut.

 

Pasukan keamanan Afghanistan

Pasukan keamanan Afghanistan menerima pukulan besar dengan jatuhnya Kunduz ke tangan Taliban. REUTERS

 

Kota Zaranj di barat daya merupakan ibu kota daerah pertama yang jatuh ke tangan Taliban dalam serangan besar-besaran. Kota-kota Shebergan, Sar-e-Pul, Taloqan, dan Aybak di utara juga sekarang dilaporkan berada di bawah kendali Taliban.

Para pemberontak itu memasuki Aybak, ibu kota provinsi Samangan, tanpa perlawanan setelah para tetua masyarakat meminta supaya tidak ada lagi kekerasan di kota itu, kata deputi gubernur Sefatullah Samangani kepada kantor berita AFP.

"Gubernur menerima dan menarik semua pasukan dari kota itu," ujarnya. Tolo News dan Shamshad TV juga melaporkan di Twitter bahwa pasukan Afghanistan telah mundur dari kota Aybak tanpa pertempuran. Belum ada pernyataan langsung dari pihak tentara.

Di tempat lain, pesawat-pesawat AS dan Afghanistan telah melancarkan serangan udara, yang belum berhasil menghentikan pergerakan Taliban namun pemerintah Afghan mengatakan puluhan kombatan dari kelompok itu telah tewas.

Pertempuran sengit dilaporkan terjadi di Pul-e-Khumri dan Mazar-e-Sharif, pusat perdagangan di perbatasan dengan Uzbekistan. Para komandan tentara mengatakan mereka telah memukul mundur militan dari pinggiran kota.

Pada Senin pagi (09/09) ledakan keras terdengar di luar kantor polisi di kota Lashkar Gah di selatan, tempat pasukan pemerintah dan Taliban telah bertempur selama lebih dari seminggu.

Warga mengatakan sekitar 20 warga sipil tewas dalam dua hari terakhir, dan sebuah sekolah dan sebuah klinik hancur.

Perebutan sejumlah kota dan pertempuran sengit yang terus berlangsung di kota-kota lainnya telah mengakibatkan ribuan warga sipil mengungsi. Banyak keluarga, beberapa dengan anak-anak kecil dan perempuan hamil, meninggalkan rumah mereka dan pergi ke ibu kota, Kabul.

Departemen Pertahanan AS pada hari Senin mengatakan situasi keamanan di Afghanistan "tidak bergerak ke arah yang benar", namun pasukan keamanan Afghanistan mampu melawan Taliban.

"Ini adalah pasukan militer mereka, ini adalah ibu kota provinsi mereka, rakyat mereka sendiri yang mereka lindungi dan ini akan tergantung pada kepemimpinan yang sanggup mereka tunjukkan di sini pada saat ini," kata juru bicara Dephan AS John Kirby.

Diterbitkan di Berita
Novi Christiastuti - detikNews Kabul - Kelompok Taliban menembak mati seorang pejabat pemerintah Afghanistan di sebuah masjid di wilayah Kabul.

Penembakan dilakukan beberapa hari setelah Taliban memperingatkan akan menargetkan pejabat pemerintahan senior sebagai balasan atas meningkatkan serangan udara beberapa waktu terakhir.

Seperti dilansir AFP, Jumat (6/8/2021), pejabat yang ditembak mati Taliban itu diidentifikasi sebagai Dawa Khan Menapal yang merupakan kepala pusat informasi media pada pemerintahan Afghanistan.

"Sangat disayangkan, teroris yang biadab telah melakukan aksi pengecut sekali lagi dan membunuh seorang patriot Afghan," sebut juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan, Mirwais Stanikzai, merujuk pada kematian Menapal.

Taliban dalam pernyataannya mengklaim bertanggung jawab atas kematian Menapal pada Jumat (6/8) waktu setempat.

Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mengirimkan pesan kepada media yang berbunyi: "Dia tewas dalam serangan khusus yang dilakukan oleh mujahidin."

Pertempuran dalam konflik berkepanjangan Afghanistan semakin meningkat sejak Mei, saat pasukan asing mulai ditarik pulang oleh negara masing-masing. 

Taliban dilaporkan telah menguasai sebagian besar wilayah pinggiran Afghanistan, dan sekarang tengah menantang pasukan pemerintah di beberapa kota besar.

Pada Rabu (4/8) waktu setempat, Taliban memperingatkan akan ada lebih banyak serangan menargetkan pejabat pemerintah Afghanistan. Sehari sebelumnya, Taliban melancarkan serangan terhadap Menteri Pertahanan (Menhan), yang berhasil selamat dari upaya pembunuhan itu.

Serangan bom dan penembakan terhadap Menhan Bismillah Mohammadi pada Selasa (3/8) malam waktu setempat membawa pertempuran ke ibu kota Kabul untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir.

Militer Afghanistan dan Amerika Serikat (AS) meningkatkan serangan udara dalam perjuangan melawan Taliban di berbagai kota. Pada Rabu (4/8) waktu setempat, Taliban menyebut serangan di area Kabul merupakan respons atas peningkatan serangan udara itu.

(nvc/ita)

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia - Kementerian Pertahanan Afghanistan mengatakan angkatan udaranya telah melakukan lebih banyak serangan udara terhadap posisi Taliban di Afghanistan Selatan, sementara kelompok pemberontak tersebut kembali meraih kemajuan di bagian utara negara itu.

Sebuah pernyataan kementerian pertahanan menyebutkan serangan udara itu sendiri sebetulnya dilangsungkan di berbagai penjuru negara itu, termasuk di provinsi Helmand, di bagian selatan Afghanistan, di mana ibu kota provinsinya -- Lashkar Gah -- sedang diperebutkan dengan sengit.

Taliban menguasai sembilan dari 10 distrik polisi di kota itu. Penduduk di Lashkar Gah melaporkan pengeboman besar-besaran terjadi di dekat stasiun radio dan televisi pemerintah, yang berada di bawah kendali Taliban.

Beberapa balai pernikahan dan wisma gubernur provinsi itu terletak di dekat stasiun radio dan televisi itu.

Di Afghanistan Utara, Taliban menguasai sebagian besar ibu kota provinsi, Sar-e-Pul, kata kepala dewannya, Mohammad Noor Rahmani. Dalam beberapa bulan terakhir, kelompok tersebut telah menguasai puluhan distrik di beberapa provinsi di wilayah utara negara itu.

Serangan Taliban tampaknya meningkat dengan dimulainya penarikan terakhir pasukan AS dan NATO pada akhir April. Pasukan keamanan Afghanistan menanggapinya dengan mengintensifkan serangan udara, dengan bantuan pasukan Amerika Serikat.

Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran banyak pihak tentang jatuhnya korban sipil di berbagai penjuru negara itu.

"Kami sangat prihatin dengan keselamatan orang-orang di Lashkar Gah, di Afghanistan Selatan, di mana puluhan ribu orang kemungkinan terjebak dalam pertempuran," kata Stephane Dujarric, juru bicara PBB, Rabu (4/8).

“Kami, bersama dengan mitra-mitra bantuan kemanusiaan kami di Afghanistan, kini sedang mengevaluasi kebutuhan dan tanggapan yang diperlukan di Afghanistan Selatan, jika akses memungkinkan,'' katanya. [ab/uh]

Diterbitkan di Berita