damailahindonesiaku.com Surakarta – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol. Dr. Boy Rafli Amar, M.H., mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk bersikap bijak dalam menyikapi pemberitaan terkait konflik antara Afghanistan dengan kelompok Taliban. Karena dengan adanya masalah tersebut, bukan tidak mungkin ada kelompok yang berusaha menggalang simpatisan.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala BNPT kepada wartawan usai bersilaturahmi kepada Walikota Surakarta (Solo), Gibran Rakabuming Raka, di Balaikota Surakarta, Kamis (19/8/2021). Silaturahmi Kepala BNPT dan jajarannya tersebut dalam rangka membangun sinergi dengan berbagai instansi dalam rangka pencegahan paham radikalisme dan terorisme.

“Tentunya kita harus hati-hati dalam menyikapi perkembangan yang terjadi di Afganistan, yang dilanda konflik berkepanjangan itu. Jangan sampai masyarakat salah bersimpati, karena berdasarkan pemantauan kami ada pihak-pihak tertentu yang berusaha menggalang simpatisan atas isu Taliban. Ini sedang kita cermati” ujar Komjen Pol Boy Rafli Amar..

Lebih lanjut Kepala BNPT menekankan kepada masyarakat agar bijak dan tetap sadar bahwasannya apa yang terjadi di Afghanistan tersebut merupakan persoalan dalam negeri Afghanistan itu sendiri. Dan masalah pergerakan yang terjadi di negara tersebut adalah sesuatu yang tidak boleh terjadi di Indonesia.

“Jangan sampai masyarakat terpengaruh masuk kedalam aksi-aksi yang tidak perlu. Karena kita adalah negara yang memiliki ideologi dan konstitusi yang mewajibkan kita untuk bela negara sendiri, bukan bela negara lain.”tegas mantan Kapolda Papua ini

Menyinggung kemungkinan pengaruh pergerakan Taliban dengan kelompok jaringan terorisme Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) di Indonesia, Kepala BNPT melihat Taliban tidak ada afiliasi dengan ISIS. Namun demikian Taliban dalam pergerakannya terjebak dalam perbuatan kekerasan yang dalam terminologi hukum disebut sebagai perbuatan teror.

“Selama berupaya meraih kekuasaan, Taliban melakukan kekerasan. Itu yang tidak sesuai dengan jatidiri bangsa Indonesia. Taliban jangan dijadikan role model bagi anak muda. Karena bertentangan dengan falsafah dan ideologi kita Pancasila,” ucap mantan Kepala Divisi Humas Polri ini.

Terkait dengan silaturahmi kepada Walikota Solo, Kepala BNPT mengatakan bahwa keduanya membahas program yang berkaitan dengan dukungan program vaknisasi terhadap mantan warga binaan BNPT dan penyintas terorisme, serta program pencegahan berkaitan dengan masalah radikalisme dan intoleransi yang berkembang di masyarakat.

“Kita terus bersinergi khususnya dengan Pemkot Solo dan daerah Solo Raya lainnya, karena cukup banyak warga binaan kita yang perlu disinergikan potensinya dengan program-program yang ada di pemerintah daerah setempat,” ujar mantan Kapolda Banten ini.

Karena dengan upaya tersebut menurutnya, diharapkan mantan warga binaan juga dapat berperan aktif dalam menangkal isu hoaks ditengah pandemi Covid-19 yang nantinya malah justru menghambat upaya program nasional percepatan vaksinasi Covid-19.

“Kita menggandeng warga binaan bersama dengan masyarakat agar meyakinkan semua pihak untuk tidak termakan isu hoaks dan mensukseskan program nasional,”ujar mantan Waka Lemdiklat Polri ini.

Kepala BNPT pun menjelaskan rencana BNPT kedepannya dalam hal penanggulangan terorisme melalui pelibatan seluruh komponen masyarakat baik secara daring maupun luring terkait wawasan kebangsaan dan moderasi beragama karena keberagaman yang dimiliki bangsa ini justru menjadi kerentanan yang bisa dimanfaatkan oleh kelompok atau oknum tertentu untuk dengan sengaja menimbulkan konflik di tengah masyarakat.

“Kami berupaya meningkatkan peran serta tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam hal pencegahan masuknya paham radikal dan terorisme yang saat ini mengincar anak muda,” ujar alumni Akpol tahun 1988 ini mengakhiri.

Dalam kesempatan tersebut Walikota Solo Gibran Rakbuming Raka pun menyambut baik sinergi yang akan terjalin antara BNPT dan pemerintah kota Surakarta.

“Kami berterima kasih dan atas dukungan penuh BNPT terhadap program percepatan vaksinasi, kami siap merangkul teman-teman eks napiter beserta warga binaan agar bisa menyebar virus optimis dan kami siap bersinergi untuk pencegahan radikalisme dan terorisme,” ungkap Gibran.

Gibran yang juga merupakan putra dari Presiden RI, Joko Widodo ini pun mengungkapkan bahwa Pemkot Surakarta sendiri juga turut membantu percepatan vaksinasi terhadap eks napi terorisme yang ada di wilayah Solo Raya.

“Vaksinasi di Solo sudah mencapai 76 persen. Dengan adanya bantuan dari BNPT ini, maka target vaksinasi akan terus meningkat,” kata Gibran mengakhiri.

Turut mendampingi Kepala BNPT dalam kunjungan tersebut yakni Sekretaris Utama (Sestama) BNPT, Mayjen TNI Untung Budiharto, Plt. Deputi Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan BNPT, Brigjen Pol. Eddy Hartono, S.Ik, MH, Direktur Pencegahan, BNPT Brigjen Pol. R. Ahmad Nuwakhid, SE, MM, serta Direktur Deradikalisasi BNPT, Prof. Dr.Irfan Idris, MA..

Diterbitkan di Berita
sindonews.com WASHINGTON - Putra Ahmad Shah Massoud, salah satu pemimpin utama perlawanan anti-Soviet Afghanistan pada 1980-an, telah berjanji untuk bertahan melawan Taliban dari basisnya di lembah Panjshir.
Dalam editorial Washington Post, Ahmad Massoud, putra mantan komandan mujahidin berusia 32 tahun, mengatakan anggota militer Afghanistan termasuk beberapa dari unit elit Pasukan Khusus telah bersatu untuk perjuangannya dan dia meminta bantuan Barat.
 
"Kami memiliki gudang amunisi dan senjata yang telah kami kumpulkan dengan sabar sejak zaman ayah saya, karena kami tahu hari ini mungkin akan datang," katanya dalam tulisan tajuk di Washington Post seperti dikutip dari Reuters, Jumat (20/8/2021).
Ia menambahkan bahwa beberapa pasukan yang bergabung dengannya telah membawa senjata mereka. "Jika panglima perang Taliban melancarkan serangan, mereka tentu saja akan menghadapi perlawanan keras dari kami," katanya.
 
Tulisan itu muncul menyusul pernyataan Amrullah Saleh, salah satu pembantu terdekat Ahmad Shah Massoud yang kemudian menjadi wakil presiden, bahwa dia adalah presiden yang sah Afghanistan setelah Ashraf Ghani melarikan diri dari Kabul ketika gerilyawan Taliban merebut ibu kota pada hari Minggu lalu.
 
Lembah Panjshir di utara Kabul masih dipenuhi bangkai kendaraan lapis baja Uni Soviet yang hancur dalam pertempuran yang gagal untuk menaklukkannya, dan wilayah itu juga bertahan melawan Taliban ketika mereka memerintah Afghanistan pada 1996-2001.
Ahmad Shah Massoud terbunuh beberapa hari sebelum serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat oleh militan al-Qaeda yang menikmati perlindungan Afghanistan di bawah kekuasaan Taliban, dan namanya terus membawa bobot besar baik di Afghanistan dan di seluruh dunia.
 
Namun masih belum jelas apakah pasukan di Panjshir akan mampu mengusir serangan pasukan Taliban, yang sejauh ini belum mencoba memasuki lembah sempit itu, atau apakah deklarasi Massoud merupakan langkah awal menuju negosiasi.
Dia mengatakan pasukannya tidak akan mampu bertahan tanpa bantuan dari Barat dan dia meminta dukungan dan bantuan logistik dari AS, Inggris dan Prancis.
 
"Taliban bukan masalah bagi rakyat Afghanistan saja. Di bawah kendali Taliban, Afghanistan tanpa diragukan lagi akan menjadi titik nol terorisme Islam radikal; plot melawan demokrasi akan ditetaskan di sini sekali lagi," katanya.
Dinukil dari Russia Today, Ahmad Massoud diberi gelar “pemimpin Front Perlawanan Nasional Afghanistan.”
 
Ia adalah putra dan pewaris Ahmad Shah Massoud, pemimpin terkemuka dalam gerakan mujahidin sebuah gerakan pemberontakan Islam melawan pemerintah Komunis Afghanistan dan pasukan Uni Soviet yang menopangnya pada 1980-an.
Pasukan Shah Massoud adalah salah satu pemain domestik utama selama perang saudara setelah penarikan pasukan Uni Soviet.
 
Dia memegang jabatan Menteri Pertahanan di bawah Presiden Burhanuddin Rabbani yang pemerintahannya digulingkan dari Kabul pada tahun 1996 oleh faksi mujahidin yang lebih radikal dan sukses, Taliban.
Dia juga memimpin perlawanan bersenjata melawan Taliban di provinsi Panjshir utara dan dibunuh oleh pembunuh bom bunuh diri beberapa hari sebelum serangan teroris 11 September.
 
Aliansi Utara yang pernah dipimpin Shah Massoud menjadi sekutu kunci Amerika Serikat (AS) selama invasi pembalasannya ke Afghanistan. Presiden Hamid Karzai, penerus Rabbani yang didukung AS, menghormati komandan mujahidin itu dengan menobatkannya sebagai pahlawan nasional Afghanistan. Putra panglima perang yang dihormati, yang dijuluki 'Singa Panjshir' oleh para pengagumnya, menyalurkan warisan ayahnya dalam upaya untuk menciptakan kembali hari-hari gemilang Perlawanan Panjshir.
 
Gerakannya 'Perlawanan II' konon didukung oleh beberapa ribu pejuang dan beberapa pemimpin militer tua. Namun situasi di lapangan tidak seperti selama tugas Taliban sebelumnya yang bertanggung jawab atas Afghanistan, sebagaimana dibuktikan oleh kemampuannya untuk merebut beberapa wilayah di utara yang tidak dikendalikan pada 1990-an.
(ian)
 
Diterbitkan di Berita

medcom.id Balkh: Salima Mazari, salah satu gubernur perempuan pertama di Afghanistan, yang mengangkat senjata untuk memerangi Taliban kini telah ditangkap. Namun, tidak ada keterangan tentang statusnya saat ini.

Pada saat banyak pemimpin politik Afghanistan telah melarikan diri dari negara itu, Salima Mazari tetap bertahan sampai Provinsi Balkh menyerah. Hal itu dilakukan hingga ketika distriknya di Chahar Kint jatuh ke tangan Taliban.

“Menurut laporan, pemimpin wanita itu telah ditangkap oleh Taliban setelah kelompok militan itu menguasai seluruh negara dan pemerintah Afghanistan,” sebut laporan News Track Live, Jumat 20 Agustus 2021.

Sosok Mazira jauh berbeda dari Presiden Ashraf Ghani yang melarikan diri dan kini bermukim di Uni Emirat Arab. Salima Mazari menjadi salah satu dari hanya tiga gubernur perempuan yang pernah ada di Afghanistan.

Sementara banyak Provinsi Afghanistan hancur tanpa banyak perlawanan, Salima mencoba segalanya untuk menjaga Chahar Kint di Provinsi Balkh tidak terluka. Distrik Chahar Kint, dengan Salima Mazari sebagai pemimpinnya, melakukan pertempuran besar melawan Taliban.

Semangatnya terhapus di distriknya dan hal yang sama terlihat dalam perjuangan mereka melawan kekuatan tirani, bertekad lebih dari sebelumnya untuk membangun kembali kekuasaan mereka.

Hingga musim gugur yang terakhir, Chahar Kint adalah satu-satunya wilayah di bawah kendali seorang wanita yang tidak termasuk dalam kelompok teror mana pun di wilayah tersebut. Menurut The Guardian, Salima Mazari berhasil menegosiasikan penyerahan 100 pejuang Taliban tahun lalu.
 
(JMS)

Diterbitkan di Berita

JALALABAD, KOMPAS.TV – Kericuhan terjadi pada demo Anti-Taliban di Kota Jalalabad, Afghanistan pada 18 Agustus 2021. Taliban menembaki warga yang protes dan membentangkan bendera nasional Afghanistan sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Afghanistan yang jatuh pada 19 Agustus.

Warga menurunkan bendera Taliban yang dinaikan di sejumlah wilayah yang telah dikuasai oleh Taliban. Namun, aksi ini membuat Taliban bereaksi keras. Warga Afghanistan bertekad untuk mengembalikan pemerintahan sebelumnya.

"Saya berdiri di sini di depan Anda. Anda dapat memukul saya dengan 30 peluru, membunuh saya. Saya akan mengorbankan hidup saya untuk bendera ini, ini bendera saya. Pemerintah saya akan segera kembali, insya Allah,” ujar salah satu warga seperti dilansir dari APTN (18/8/2021).

Saat kejadian setidaknya 1 orang tewas dan 6 orang lainnya terluka. Sementara itu, Taliban berhasil menguasai Afghanistan sejak 15 Agustus 2021.

Video Editor: Vila Randita

Penulis : Sadryna Evanalia

Diterbitkan di Berita
Aulia Damayanti - detikFinance Jakarta - Pasukan Taliban dilaporkan menghalangi warga di bandara yang ingin melarikan diri dari Afghanistan. Bandara yang seharusnya menjadi tempat yang aman untuk berpergian tetapi ini kondisinya berbeda, orang yang hendak pergi dihalangi hingga menimbulkan kekacauan.

Dikutip dari CNBC, Kamis (19/8/2021), ribuan orang yang ingin pergi sampai berlarian ke landasan pesawat. Bahkan beberapa orang nekat hampir memegang pesawat saat pesawat akan lepas landas. Kekacauan ini terjadi di Bandara Internasional Hamid Karzai.

Sekitar 4.500 tentara AS dikerahkan ke bandara untuk evakuasi orang yang berjatuhan. Beberapa tentara dilaporkan telah melepaskan tembakan peringatan ke udara, bermaksud untuk mengendalikan kerumunan pendatan.

Menurut Wakil Menteri Luar Negeri AS Wendy Sherman kekacauan di bandara Afghanistan melanggar komitmen Taliban kepada AS karena menghalangi orang yang hendak pergi dari negara itu. Terutama banyak pekerja AS hingga jurnalis AS yang terjebak di negara itu.

"Kami telah melihat laporan bahwa Taliban, bertentangan dengan pernyataan publik mereka dan komitmen mereka kepada pemerintah kami, menghalangi warga Afghanistan yang ingin meninggalkan negara itu untuk mencapai bandara," katanya.

Mengingat banyak militer AS di Afghanistan yang terlibat dalam keamanan, maka Sherman berharap mereka bisa meluruskan dan mengizinkan warga AS, negara bagian AS, hingga warga Afghanistan yang hendak lari dari negara itu diberikan jalan.

Namun, di sisi lain Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin mengakui bahwa militer AS saat ini tidak memiliki kemampuan untuk mengawal orang AS keluar dari Afghanistan.

Dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, Menteri Pertahanan Lloyd Austin dan Sekretaris Keamanan Dalam Negeri Alejandro Mayorkas yang berada di Afghanistan tercatat ada sekitar 200 lebih wartawan dan staf serta keluarga AS di Afghanistan yang berusaha untuk mengungsi.

Sebelumnya, sudah ada 2.000 orang AS yang berhasil dievakuasi dari Afghanistan dalam waktu 24 jam. Namun, masih ada lebih dari 4.840 orang lagi untuk evakuasi selama beberapa hari sebelumnya.

(eds/eds)

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia Taliban telah mengejutkan dunia setelah menguasai kembali Afghanistan hanya dalam waktu 10 hari, cepat mengambil alih kendali kota-kota besar dan kecil.

Masih belum jelas siapa yang nantinya akan mengambil tampuk pemerintahan baru. Tapi apa yang kita ketahui tentang pemimpin Taliban sejauh ini, siapa saja mereka?

1. Hibatullah Akhundzada

Hibatullah Akhundzada menjadi panglima tertinggi Taliban pada Mei 2016.

Pada periode 1980an, dia terlibat dalam perlawanan Islam melawan kampanye militer Soviet di Afghanistan, tapi reputasinya lebih dari sekadar pemipin agama dibandingkan pemimpin militer.

Akhundzada bekerja sebagai kepala Pengadilan Syariah pada 1990an.

Setelah pertama kali mendapat kekuasaan pada 1990an, Taliban mempromosikan dan mendukung hukuman sesuai dengan interpretasi mereka yang sempit mengenai hukum Islam: mereka mengeksekusi pembunuh dan pezina di muka umum, dan memotong anggota tubuh pencuri.

Di bawah kepemimpinan tertutup Mullah Mohammed Omar (yang diperkirakan meninggal pada 2013), Taliban juga melarang adanya televisi, musik, bioskop, rias wajah, dan melarang perempuan berusia 10 atau lebih untuk duduk di bangku sekolah.

 

Mullah Mohammed Omar

Sangat sedikit foto dan gambar mengenai mantan pemimpin Taliban, Mullah Mohammed Omar, yang meninggal pada 2013. EPA

 

Akhundzada diyakini berusia 60an, dan menjalani sebagian besar hidupnya di Afghanistan.

Bagaimana pun, menurut para pakar, dia mempertahankan hubungan dekat dengan apa yang disebut "Quetta Shura" - Para pemimpin Taliban Afghan yang dikatakan berbasis di kota Quetta, Pakistan.

Sebagai panglima tertinggi kelompok tersebut, Akhundzada bertanggung jawab atas urusan politik, militer dan agama.

 
 
 
para pemimpin Taliban
1px transparent line

2. Abdul Ghani Baradar

Mullah Abdul Ghani Baradar adalah satu dari empat tokoh laki-laki yang mendirikan Taliban pada 1994.

Dia menjadi ujung tombak pemberontakan setelah Taliban digulingkan oleh invasi AS pada 2001.

Tapi dia ditangkap dalam operasi gabungan AS-Pakistan di Kota Karachi, Pakistan Selatan, Februari 2010.

 

Taliban delegation headed by Abdul Ghani Baradar (C), the groups deputy leader, are seen leaving the hotel after attending the meeting on Afghan peace with the participation of delegations from Russia, China, the US, Pakistan in March 2021

Mullah Abdul Ghani Baradar (tengah) adalah salah satu pendiri Taliban di Afghanistan. GETTY IMAGES

 

Dia menjalani hukuman penjara selama delapan tahun, sampai akhirnya dibebaskan sebagai bagian dari rencana untuk memfasilitasi proses perdamaian. Dia telah menjadi kepala kantor politik di Qatar sejak Januari 2019.

Pada 2020, Baradar menjadi pemimpin pertama Taliban yang berkomunikasi secara langsung dengan presiden AS setelah melakukan perbincangan dengan Donald Trump.

Hari ini, Abdul Ghani Baradar adalah pemimpin politik utama Taliban.

"Kami memperoleh kemenangan yang tak disangka-sangka.. sekarang, ini adalah tentang bagaimana kami melayani dan melindungi rakyat kami," kata Baradar dalam sebuah pernyataan yang direkam di Doha, ibu kota Qatar, di mana dia menjadi bagian dari tim negosiasi Taliban dalam perundingan damai.

 

Mike Pompeo and Abdul Ghani Baradar

Menlu AS, Mike Pompeo dan Abdul Ghani Baradar bertemu pada September 2020 di Doha. GETTY IMAGES

 

3. Mohammad Yaqoob

Mohammad Yaqoob adalah anak dari pendiri Taliban, Mullah Mohammed Omar.

Dia diyakini berusia kurang lebih dari 30 tahun, dan masih mengambil peran sebagai pemimpin operasi militer Taliban.

Setelah kematian mantan pemimpin Taliban, Akhtar Mansour pada 2016, sejumlah militan menginginkan Yaqoob menjadi panglima tertinggi yang baru, tapi sebagian lainnya merasa bahwa dia masih terlalu muda dan kurang pengalaman.

Menurut laporan media lokal, Yaqoob tinggal di Afghanistan.

4. Sirajuddin Haqqani

Sirajuddin Haqqani adalah salah satu wakil pimpinan tertinggi Taliban.

Setelah kematian ayahnya, Jalaluddin Haqqani, dia menjadi pemimpin baru dari jaringan Haqqani, yang telah dihubung-hubungkan dengan sejumlah serangan paling kejam di Afghanistan saat melawan pasukan pemeirntah dan sekutu Barat dalam beberapa tahun terakhir.

Jaringan Haqqani merupakan salah satu yang paling kuat dan ditakuti di dalam kelompok Taliban. Sebagian orang mengatakan, geng mereka lebih berpengaruh dibandingkan kelompok ISIS di Afghanistan.

 

FBI poster on the Haqqni network

Jaringan Haqqani saat ini menjadi salah satu geng Taliban yang paling kuat dan ditakuti di antara militan. FBI

 

Kelompok tersebut, yang dilabeli oleh AS sebagai organisasi teroris, berperan mengawasi keuangan dan aset militer Taliban di sepanjang perbatasan Pakistan-Afghanistan. Haqqani diyakini berusia sekitar 45 tahun, dan keberadaannya tidak diketahui.

5. Abdul Hakeem

Pada September 2020, Taliban menunjuk Abdul Hakem sebagai kepala tim negosiasi Taliban yang baru di Doha. Dia diyakin berusia sekitar 60 tahun. Ia dilaporkan mengelola sebuah madrasah - sekolah Islam - di Quetta, Pakistan, sekaligus mengawasi sistem peradilan Taliban.

Banyak pemimpin senior Taliban dilaporkan mengungsi ke Quetta, untuk menggerakan para militan dari sana. Tapi Islamabad telah membantah tentang keberadaan "Quetta Shura".

Hakeem juga mengepalai dewan ulama yang kuat diyakini sebagai salah satu yang paling dekat dengan panglima tertinggi, Akhundzada.

Diterbitkan di Berita

sindonews.com KABUL - Video wanita muda dan anak-anak mencoba melarikan diri dari Afghanistan dengan putus asa memohon bantuan dari tentara Amerika Serikat (AS) telah muncul dari Kabul.

Video semacam itu semakin banyak muncul hanya beberapa hari setelah Taliban menguasai Kabul dan seluruh Afghanistan.

“Tolong, tolong, tolong, tolong Taliban mendatangi saya,” ungkap seorang wanita muda memohon dengan putus asa pada seorang tentara AS di balik pintu yang digembok dengan rantai.

Video yang viral itu dibagikan oleh seorang jurnalis di Twitter. Video-video serupa juga menunjukkan bagaimana warga putus asa meminta tolong dibawa keluar Afghanistan. Pada pukul 02.00 pagi waktu setempat pada Kamis, wanita yang sama terlihat masih menunggu di lokasi yang sama.

 

https://twitter.com/tagabhishek/status/1428107844977446917

 

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres mengkonfirmasi pada Jumat tentang laporan "mengerikan" yang muncul bahwa Taliban telah sangat membatasi hak-hak perempuan dan anak perempuan Afghanistan di daerah-daerah yang mereka rebut.

Taliban memberikan indikasi pertama pada Selasa sejak berkuasa bahwa mereka tidak akan mewajibkan burqa bagi perempuan seperti yang mereka lakukan ketika mereka terakhir memerintah Afghanistan.

Di samping kekhawatiran yang berpusat pada pakaian, banyak negara dan kelompok hak asasi manusia telah memperingatkan nasib pendidikan perempuan di Afghanistan yang sekarang berada di tangan kelompok garis keras yang memasuki ibu kota Kabul pada Minggu.

Jaminan Taliban untuk bersikap lebih moderat tampaknya masih sulit dipercaya banyak pihak ketika beberapa laporan mengungkapkan kekejaman baru yang dilakukan kelompok tersebut pada para penentangnya.

(sya)

Diterbitkan di Berita

VIVA – Seorang jurnalis media nasional, Qaris Tajudin menceritakan pengalamannya ketika berada di Afghanistan saat Taliban kehilangan kekuasaannya pada 20 tahun lalu. Dari cerita tersebut, publik bisa sedikit tahu kenapa sekarang mereka bisa berkuasa lagi. 

Jadi, kata dia, tidak lama setelah tragedi Menara World Trade Center (WTC) Amerika Serikat pada 9 November, AS menyerang Afghanistan karena Taliban yang berkuasa menyembunyikan Osama bin Laden, pemimpin Al-Qaeda yang dianggap mendalangi aksi teror itu.

Menurut dia, AS datang dibantu Aliansi Utara yang bersuku Tajik di utara dan pasukan Ahmad Shah Massoud (Pashtun) di timur dan selatan. Hanya butuh beberapa minggu untuk merebut Kabul.

“Saya dikirim ketika Taliban sudah terdesak ke selatan, tapi masih berkuasa. Saya turun di Pakistan dengan harapan bisa masuk lewat Kandahar. Tapi di Kandahar, pasukan Taliban melarang. Alasannya, mereka enggak bisa jamin keamanan saya,” kata Qaris dikutip dari Twitter pada Rabu, 18 Agustus 2021.

Di hotel, Qaris bertemu seorang fixer yang baru mengantar wartawan Rusia masuk Afghan dari Pakistan. Caranya, dimasukkan ke karung beras. Di perbatasan, karungnya ditusuk-ditusuk pedang, dan pedang itu lewat di depan idungnya.

“Saya mau pakai jasanya, tapi enggak mau dikarungin. Dia putar otak, telpon sana-sini, lalu memutuskan memasukkan saya lewat dataran tinggi di timur. Setelah naik turun gunung dan dikejar tentara, kami bisa masuk Afghan. Perlu beberapa hari untuk sampai kota terbesar di sebelah timur: Jalalabad. Sepanjang jalan, semua kota seperti kota mati. Mencekam,” ujarnya.

Selama beberapa hari, kata dia, tidak lihat perempuan sama sekali. Pengaruh Taliban masih kuat, perempuan disembunyikan dalam rumah dan tidak boleh sekolah atau beraktivitas di luar. Jadi tidak heran ada kejadian pilu seperti yang dialami Malala Yousafzai.

“Sebenarnya sekolah cuma ada di kota besar. Di kota-kota kecil, sekolah sudah jadi markas militer. Saya sekali nginep di markas bekas sekolah. Tidur di lantai dengan granat dan peluru di sebelah (kolong ranjang),” jelas dia.

Tapi, Qaris mengaku melakukan hal bodoh yang hampir membuatnya koit alias meninggal. Di markas itu, ia dikerubungi belasan milisi yang semua mengacungkan senjata terkokang. “Udah kayak di film-film. Dengkul lemes. Salah gue apa? “Kamu pakai telepon satelit. Bahaya, bisa dilacak,” kata komandan yang selametin (duduk di tengah),” katanya.

Jadi, lanjutnya, di sana itu setiap daerah sebesar kecamatan dikuasai war lord. Setiap mau melintas harus izin dulu, kadang malah bayar. Mereka ini punya pasukan sendiri. Para warlord ini berkuasa banget. 

Nah, Qaris punya pengalaman lagi yang hampir meninggal dan ini ada hubungannya sama warlord. Dalam perjalanan Jalalabad-Kabul, seorang milisi bawa senapan mesin pingin ikut mobilnya. Fixer sudah melarang, tapi dia ngotot.

“Oke, akhirnya disetujui, tapi fixer bilang, ‘Kamu jangan ngomong apapun. Apapun’. Salah gue, pas doi masuk mobil, gue kasih salam, ‘Assalamualaikum’. Dia tahu logatnya bukan logat Afghan. Dia marah, nuduh gue intel AS dan mau bunuh gue,” katanya.

Akhirnya, Fixer meyakinkan bahwa Qaris bukan intel AS. Lalu, ia diminta baca Alquran. Tidak mempan, menurutnya bisa aja intel AS baca Alquran. Ya juga sih. Setelah itu, dia naruh moncong senjatanya di dada Qaris, ngokang, dan siap bunuh.

“Gue pasrah, ya udahlah ya, kalau memang mati, ya mati aja. Gue cuma mau salat 2 rakaat di batu gede di pinggir jalan. Eh, pas gitu tiba-tiba dia gak jadi bunuh. Lega, tapi gak tahu kenapa. Pas dia udah turun, fixer cerita sebabnya. Saya bilang, kau boleh bunuh dia, tapi bunuh saya dulu, kata fixer ke milisi. Emang kau siapa? tanyanya. Saya teman baik warlord X. Milisi itu ngeper & batal bunuh gue. Lah kalau dia gak takut sama warlord gimana? tanya gue. Ya kita mati bedua hahaha,” kata fixer itu,” lanjutnya.

Para warlord enggak loyal pada kekuasaan mana pun. Jadi, pragmatis banget? Yup. Tergantung siapa yang bayar. Jadi, kalau di Indonesia orang punya duit nyaleg, di sana orang punya pengaruh akan bikin milisi. “Ini yang buat kekuasaan di Afghan fragile. Siapa yang kuat lobby dan duitnya ke para warlord akan dapat dukungan. Di Afghan, konflik adalah bisnis,” katanya.

Ladang bisnis

Menurut dia, mau bisnis apa lagi di tengah orang-orang yang tak terpelajar, terisolir, dan semua pegang senjata. Di setiap rumah ada AK-47. Anak-anak lebih dulu belajar menembak dari baca-tulis.

Selain itu, ada bisnis opium. Dalam keadaan tanpa kekuasaan, para warlord punya atau lindungi ladang opium. Dari pinggir jalan utama bisa lihat ladang ini. Tentu, Taliban enggak bisa gerak sendiri. Pasti ada yang danain untuk menggaet para warlord. 

“Meski mereka Taliban (santri), tapi politik mereka bukan soal agama. Ini benar-benar pragmatis banget. Dan para warlord juga enggak mau gabung cuma diiming-iming surga,” katanya lagi.

Kelompok-kelompok ini bersatu kalau ada musuh bersama, kayak Uni Soviet. Tapi itu juga karena ada AS yang bayarin. Setelah Uni Soviet kabur dan kolaps, para mujahidin berantem sendiri, kudeta mulu kerjaannya.

“Taliban pada pertengahan 1990-an muncul karena geram sama berantemnya para warlord ini. Tapi akhirnya, dia masuk putaran yang sama. Apa yang terjadi beberapa hari lalu sebenernya kelanjutan aja dari konflik selama puluhan tahun,” jelas Qaris.

Siapa yang memimpin Taliban saat ini?

Namanya Mullah Baradar. Dia ditangkap pada 2010 di Pakistan. Tapi pemerintah Donald Trump pada 2018 minta Pakistan bebasin doi. Sekarang Mullah Baradar pemimpin Taliban dan "presiden" de facto Afghan. Simpulkan sendiri.

“Dulu, saat Taliban berkuasa, semua tempat hiburan diberangus. Bahkan, orang mau layangan dilarang. Alasannya? Haram,” katanya.

Nah, pas Qaris sampai, masyarakat Afghan lagi merayakan kebebasan mereka lagi. Bioskop dibuka lagi, meski filmnya film jadul. Kayak gini bioskop di ibukota Kabul. Jadi bisa kebayang kalau rakyat Afghan saat ini enggak mau hidup dibawah tekanan Taliban. 

“Bioskop dan hiburan tentu hal remeh. Yang lebih penting adalah soal keamanan. Kenapa? Gini, setiap terjadi perebutan kekuasaan kayak gini, negara akan goncang terus selama bbrp tahun utk cari titik keseimbangan. Artinya, pertempuran akan jadi makanan sehari-hari. Tentara dan pemberontak akan pakai semua fasilitas untuk perang,” katanya.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) memperingatkan Taliban bahwa mereka akan menyerang Afghanistan jika negara tersebut menjadi sarang terorisme lagi. 

"Mereka yang sekarang mengambil alih kekuasaan memiliki tanggung jawab untuk memastikan bawah teroris internasional tak mendapat tempat," ujar Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg kepada wartawan, seperti dilansir Reuters, Selsaa (17/8).

"Kami punya kemampuan untuk menyerang dari jarak jauh, jika kami menyaksikan kelompok teroris kembali mencoba membangun diri mereka sendiri, merencanakan dan mengatur serangan terhadap sekutu NATO dan negara mereka," ujarnya.

Operasi militer pertama NATO di luar Eropa terjadi pada tahun 2001. Saat itu, mereka mengerahkan ribuan tentara untuk bertempur melawan Al-Qaeda, kelompok teror yang dipimpin Osama Bin Laden bertanggung jawab atas serangan 9/11 di Amerika Serikat. 

Bin Laden adalah satu gerilyawan Taliban. Usai penarikan pasukan tersebut, Taliban dengan cepat bergerak dan merebut kota-kota terbesar di Afghanistan hanya dalam waktu beberapa hari.

Pengambil alihan ibu kota secara tiba-tiba pun membuat ribuan orang berlari menuju bandara. Mereka berusaha menyelamatkan diri dari kendali Taliban, yang dianggap akan menerapkan sistem ultra-konservatif, sebagaimana tahun 1996-2001.

Di Brussel, seorang jurnalis Afghanistan bertanya kepada Stoltenberg tentang tindakan dunia Barat melihat situasi terkini.

Stoltenberg kemudian meminta Taliban untuk memfasilitasi keberangkatan semua orang yang ingin meninggalkan negara itu. Ia juga mengatakan sekutu pertahanan Barat setuju mengirim lebih banyak pesawat evakuasi ke Kabul.

Di saat yang sama, Stoltenberg menyatakan frustasi dengan kepemimpinan Afghanistan dan menyalahkan pemerintah atas keberhasilan Taliban menduduki istana presiden dengan mudah.

"Sebagian pasukan keamanan Afghanistan bertempur dengan berani," kata Stoltenberg.

"Tetapi mereka tidak dapat mengamankan negara, karena pada akhirnya kepemimpinan politik Afghanistan gagal melawan Taliban dan mencapai solusi damai yang sangat diinginkan orang Afghanistan," lanjutnya

Sebelumnya, Taliban berhasil memasuki Kabul dan menduduki istana kepresidenan Taliban pada hari Minggu (15/8). Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani memilih angkat kaki dan kabur ke luar negeri, demi menghindari pertumpahan darah.

Ghani juga menyatakan Taliban sudah memenangkan seluruh pertempuran. Mereka, katanya, memiliki tanggung jawab untuk melindungi kehormatan, kemakmuran dan harga diri rakyat Afghanistan.

Sebelum sampai Kabul, Taliban telah merebut sejumlah kota strategis di Afghanistan, seperti Herat, Kandahar, Jalalabad, Mazar-i-Sharif dan lainnya. Beberapa di antaranya direngkuh tanpa perlawanan.

Dalam konferensi pers pertama usai menduduki Istana, Taliban berkeinginan membentuk pemerintahan terbuka dan melibatkan perempuan.

(ans/vws)

Diterbitkan di Berita

alinea.id Anggota Komisi I DPR, Muhammad Farhan, menyarankan, pemerintah Indonesia tidak terburu-buru mengakui kedaulatan Taliban, usai kelompok teroris itu berhasil menduduki Afghanistan pada Minggu (15/8).

Hal ini diungkap Farhan merespon pernyataan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), termasuk ucapan selamat HUT RI ke-76 dari juru bicara Taliban, Suhail Syahidin.

Dalam sebuah pernyataan, JK meyakini Taliban akan bersikap moderat ke depan. Sementara Suhail Syahidin mengungkapkan, keberhasilan kelompoknya menguasai Afganistan sama seperti kesuksesan Indonesia mengusir penjajah Belanda.

Farhan mengungkapkan, Republik Indonesia sebagai anggota komunitas internasional yang menerapkan politik bebas aktif, tentu tidak perlu tertutup terhadap gestur bersahabat dari negara mana pun. Namun, sikap resmi harus menunggu pemerintahan Taliban mampu mendapat pengakuan rakyat Afghanistan.

"Untuk respon resmi, tampaknya pemerintah RI harus menunggu sampai pemerintahan Afghanistan yang sekarang mampu menunjukkan kedaulatan dan pengakuan dari rakyat Afghanistan," kata Farhan saat dihubungi Alinea.id, Rabu (18/8).

Menurut politikus Partai NasDem ini, yang perlu dilakukan pemerintah saat ini ialah menunggu ada bukti jaminan keselamatan warga negara Indonesia (WNI) dan kepentingan Indonesia di KBRI Kabul.

"Jadi dalam kondisi sekarang, kita tunggu sampai ada bukti jaminan keselamatan WNI dan kepentingan Indonesia di KBRI Kabul," ujar Farhan.

Taliban secara efektif menguasai pemerintahan Afghanistan pada hari Minggu (15/8). Dengan demikian, Pemerintahan ketika Presiden Ashraf Ghani pun runtuh.

 

Dilaporkan, terkecuali China dan Rusia, lebih dari 60 negara mengeluarkan pernyataan bersama pada Minggu malam yang menyerukan kepada Taliban untuk mengizinkan perjalanan yang aman bagi warga negara asing dan warga Afghanistan keluar dari Kabul.

Sebelumnya, anggota Komisi I DPR Syaifullah Tamliha meyakini pemerintah Indonesia akan mengakui pemerintahan Taliban, setelah kelompok itu menguasai Afghanistan.

Berdasarkan informasi yang diperolehnya, sebut Syaifullah, Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara diam-diam juga terus-menerus menjalin hubungan dengan pimpinan Pejuang Taliban yang berpusat di Doha, Qatar.

"Terakhir beberapa bulan yang lalu menteri Luar Negeri RI RI Retno Marsudi juga berkunjung ke Doha yang tentunya mengemban misi yang sama," kata politikus PPP ini.

Diterbitkan di Berita