alinea.id Apa yang sulit dilakukan tentara di masa perang? Jawabannya bisa macam-macam. Tetapi yang jelas mereka pasti kurang piknik. Setelah perang berakhir, tentara Taliban yang kurang piknik itu pun datang ke kebun binatang dengan senjata.

Bagi pejuang muda yang berasal dari pedesaan, ini adalah sesuatu yang baru. Mereka terlihat antusias. Sementara menggendong AK-47 atau senapan serbu M16, mereka saling bergurau dan tertawa-tawa. 

Pemandangan yang tidak bisa dijumpai di kebun binatang manapun di dunia. Tentara masuk ke kebun binatang menentang senjata. Bukan untuk apa-apa, tetap sekadar berwisata. Mereka berbaur di antara keluarga di Kebun Binatang Kabul. 

Saat pengunjung santai di tempat piknik di tempat teduh, menikmati es krim dan biji delima asin, orang-orang bersenjata Taliban yang bersenjata berat mengintip ke dalam kandang yang menampung singa, macan tutul, unta, serigala, burung unta, dan kera.

Setelah bertahun-tahun bertempur di pedesaan, bisa masuk ke ibu kota adalah sesuatu bagi sejumlah pejuang Taliban. Mereka yang berasal dari desa-desa banyak yang pertama kalinya memasuki kota besar, apalagi kebun binatang.

Mereka mengambil foto narsis dan berpose untuk foto kelompok, tetapi ketenangan relatif itu tiba-tiba berubah ketika seorang pejuang mencengkeram tanduk rusa dan teman-temannya tertawa terbahak-bahak.

Berpose dengan senapan

Setelah salat Jumat, puluhan pejuang Taliban bersenjata muncul – dan banyak lagi yang tidak memiliki senjata – mengenakan topi tradisional, sorban, dan syal. Beberapa memakai riasan mata yang populer di kalangan pria Afghanistan.

Seorang anggota Taliban, Abdul Qadir, 40 tahun, yang sekarang bekerja untuk kementerian dalam negeri, mengatakan dia sedang jalan-jalan dengan sekelompok teman pria. "Saya sangat menyukai binatang, terutama yang dapat ditemukan di negara kita," katanya.

"Aku sangat menyukai singa." Ditanya tentang kehadiran bersenjata -- tidak pernah terdengar di kebun binatang lain di seluruh dunia -- dia mengatakan Taliban mendukung pelarangan senjata dari tempat itu sehingga "anak-anak atau wanita tidak perlu merasa takut".

Kebun binatang itu telah lama menjadi surga bagi wanita, anak-anak, dan kekasih muda di ibu kota yang memiliki sedikit ruang publik bagi siapa pun kecuali pria.

Satu rombongan yang terdiri dari enam pria bersenjata dari direktorat intelijen Taliban -- mengenakan seragam militer lengkap, anyaman tempur yang penuh dengan amunisi dan borgol baja, topi berpuncak dan bantalan lutut -- berkumpul untuk berfoto bersama dengan mullah bersorban.

Fotografer yang ditunjuk mengoordinasikan pemotretan, yang kemudian diperiksa dengan cermat oleh kelompok. Sebuah acungan jempol dari salah satu pejuang, menunjukkan persetujuan mereka. Mungkin maksudnya 'mantap fotonya'.

Kemudian, sekelompok pria bersenjata yang berbeda menawarkan senapan mereka kepada anak laki-laki berusia delapan tahun untuk berfoto. Dipotret dengan ponsel mereka.

Tidak boleh ada senjata 

Binatang yang dipamerkan di kebun binatang adalah seekor singa, yang diberi nama sederhana "Singa Putih", yang tidur di dek dalam kandangnya, berukuran sekitar 20 meter kali 30 meter.

Penghuni kebun binatang yang paling berharga adalah Marjan, seekor singa jantan yang merupakan simbol kelangsungan hidup Afghanistan yang hidup melalui kudeta, invasi, perang saudara dan pemerintahan pertama Taliban, sampai dia meninggal pada tahun 2002.

Sebuah patung perunggu dari kucing besar, yang pernah terluka oleh serangan granat, menyambut pengunjung dalam perjalanan mereka, sementara sebuah plakat di kuburannya berbunyi: "Di sinilah letak Marjan, yang berusia sekitar 23 tahun. Dia adalah singa paling terkenal di dunia. "

Atraksi populer lainnya adalah akuarium dan rumah reptil, di mana para wanita yang mengenakan niqab, burqa, dan hijab menggembalakan anak perempuan dan laki-laki di sekitar tank.

Seekor ular sanca bergulung dalam kandang kaca besar saat ikan mas, lele, dan kura-kura berenang di dalam tangki yang melapisi dinding.

Terletak di antara bukit-bukit curam dan di sebelah Sungai Kabul, biaya masuk ke kebun binatang itu 40 sen untuk warga Afghanistan, meskipun beberapa tentara Taliban masuk tanpa membayar, dengan terang-terangan mengabaikan tanda yang bertuliskan "Tidak Ada Senjata di Kebun Binatang".

(indiatoday)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Kelompok ekstremis ISIS mengklaim sebagai dalang di balik pengeboman yang menargetkan anggota Taliban di Jalalabad, Afghanistan, pada akhir pekan lalu.

ISIS Khorasan mengklaim bom tersebut melalui pengumuman di media propaganda mereka, Kantor Berita Amaaq, pada Minggu (19/9). Sebagaimana dilansir Reuters, dalam pemberitaan itu, ISIS mengklaim memakan korban puluhan anggota Taliban, tapi belum ada pihak yang dapat memverifikasi.

"Lebih dari 35 anggota Taliban tewas atau terluka dalam serangan ledakan tersebut," demikian pernyataan ISIS tersebut. Taliban juga mengakui bahwa anggotanya menjadi target sejumlah serangan bom di Jalalabad pada Sabtu hingga Minggu lalu.

Seorang sumber mengatakan kepada Reuters bahwa setidaknya tiga orang tewas dan sekitar 20 lainnya terluka akibat ledakan di Jalalabad pada Sabtu. Serangkaian ledakan ini menimbulkan pertanyaan terkait keamanan di Afghanistan setelah Taliban mengambil alih kuasa pada pertengahan Agustus lalu.

Ini bukan kali pertama ISIS-K berulah setelah Taliban berkuasa. Pada Agustus lalu, ISIS-K juga melakukan serangan bom bunuh diri di bandara Kabul, ketika warga sedang berbondong menanti evakuasi.

Setelah itu, Taliban mengklaim bahwa mereka dapat membendung ISIS-K jika AS sudah angkat kaki. Namun ternyata, setelah AS hengkang pada akhir Agustus lalu, ISIS-K masih dapat menargetkan anggota Taliban.

"Kami kira sejak Taliban datang, akan ada perdamaian," ujar Feda Mohammad, salah satu warga yang abangnya tewas dalam serangan bom ISIS-K pada Minggu lalu.

Ia kemudian berkata, "Namun, sekarang tak ada perdamaian. Tak ada keamanan. Kalian tak bisa mendengar apapun selain kabar mengenai ledakan bom yang membunuh siapa.

"Bom ISIS ini terjadi ketika Taliban masih berupaya membentuk pemerintahan. Dengan pemerintahan yang belum lengkap ini, Afghanistan harus menghadapi berbagai krisis akibat pembekuan berbagai aliran dana asing setelah Taliban berkuasa. "Ini merupakan puncak dari kesengsaraan kami," ucap seorang warga di Jalalabad, Abdullah.

(has)

Diterbitkan di Berita

sindonews.com Pemerintah Turki disebut-sebut frustrasi dengan Taliban dan enggan mengakui pemerintahannya di Afghanistan. Alasannya, pemerintahan tersebut tidak menampilkan keragaman termasuk peran perempuan di kabinetnya.

Dua sumber yang mengetahui pembicaraan Turki dan Taliban mengatakan frustrasi mulai dirasakan Ankara ketika mereka dan Taliban masih berjuang untuk mencapai kesepakatan akhir tentang pengamanan dan pengoperasian Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul.

Ankara mengambil pendekatan wait and see (menunggu dan melihat), untuk memberi pemerintahan Taliban waktu guna mencari tahu bentuk akhir yang akan diambil pemerintahnya. "Tidak ada yang akan terburu-buru untuk mengakui pemerintahan mereka," ungkapnya.

(mad)

Diterbitkan di Berita

KABUL, KOMPAS.TVAnak perempuan usia remaja Afghanistan dilarang kembali ke sekolah menengah oleh pemerintah Taliban. Dilaporkan pada Sabtu (18/9/2021), penguasa baru di negara itu hanya memerintahkan anak laki-laki dan guru laki-laki kembali ke kelas.

Kelompok Islam garis keras menggulingkan pemerintah yang didukung Amerika Serikat (AS) bulan lalu. Taliban menjanjikan pemerintahan yang lebih lembut daripada pemerintahan represifnya pada 1990-an, ketika sebagian besar perempuan dilarang bersekolah dan bekerja.

Namun diktat dari kementerian pendidikan merupakan langkah terbaru dari pemerintahan baru untuk mengancam hak-hak perempuan, seperti dilansir Straits Times, Sabtu.

"Semua guru dan siswa laki-laki harus kembali berkegiatan di sekolah-sekolah mereka," kata sebuah pernyataan menjelang kelas dimulai kembali pada hari Sabtu. Pernyataan itu, yang dikeluarkan pada Jumat malam, tidak menyebutkan guru atau siswa perempuan.

Sekolah menengah di Afghanistan, dengan siswa-siswi yang biasanya berusia antara 13 dan 18, sering dipisahkan berdasarkan jenis kelamin. Selama pandemi Covid-19, mereka menghadapi penutupan berulang kali dan penutupan permanen sejak Taliban merebut kekuasaan.

Sejak invasi pimpinan AS menggulingkan Taliban tahun 2001, pendidikan anak perempuan mencapai kemajuan signifikan.

Jumlah sekolah menjadi tiga kali lipat, dan tingkat melek huruf murid perempuan hampir dua kali lipat, yang persentasenya mencapai 30 persen dari jumlah seluruh perempuan di Afghanistan. Namun, perubahan itu sebagian besar terbatas di kota-kota.

PBB menyatakan "sangat khawatir" akan masa depan sekolah perempuan di Afghanistan.

"Sangat penting bahwa semua anak perempuan, termasuk anak perempuan yang lebih tua, dapat melanjutkan pendidikan mereka tanpa penundaan lebih lanjut. Untuk itu, kami membutuhkan guru perempuan untuk melanjutkan mengajar," kata badan anak-anak PBB, UNICEF.

 

Perempuan Afghanistan diperbolehkan bersekolah, namun harus terpisah dari pria. (Sumber: AP Photo/Felipe Dana)

 

Sekolah dasar telah kembali beroperasi, dengan anak laki-laki dan perempuan kebanyakan duduk di kelas terpisah dan beberapa guru perempuan kembali bekerja.

Rezim baru Taliban juga mengizinkan perempuan untuk kuliah di universitas swasta, meskipun dengan pembatasan ketat pada pakaian dan pergerakan mereka.

Taliban juga dilaporkan menutup kementerian urusan perempuan pemerintah dan menggantinya dengan departemen yang terkenal karena menegakkan doktrin agama yang ketat selama pemerintahan pertamanya.

Ini merupakan pertanda buruk mengerasnya kebijakan Taliban terhadap kaum perempuan. Di Kabul pada Jumat (17/9/2021), para pekerja terlihat memasang tanda untuk Kementerian Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan di gedung lama Kementerian Urusan Perempuan di ibukota Kabul.

Video yang diunggah ke media sosial memperlihatkan pekerja perempuan dari kementerian melakukan protes di luar setelah kehilangan pekerjaan. Sejauh ini, belum ada komentar dari pejabat Taliban.

Meski masih terpinggirkan, perempuan Afghanistan berjuang untuk dan mendapatkan hak-hak dasar selama 20 tahun terakhir, menjadi anggota parlemen, hakim, pilot dan polisi.

Ratusan ribu perempuan telah memasuki dunia kerja. Ini merupakan suatu keharusan. Lantaran, dalam beberapa kasus, banyak perempuan menjadi janda dan kini harus menghidupi keluarga karena suami mereka cacat akibat konflik selama beberapa dekade belakangan.

Taliban dilaporkan menunjukkan sedikit kecenderungan untuk menghormati hak-hak perempuan. Ini terlihat dari tidak adanya perempuan yang dimasukkan dalam pemerintahan dan banyak yang dihentikan untuk kembali bekerja.

Penulis : Edwin Shri Bimo | Editor : Vyara Lestari

Diterbitkan di Berita
Tim Detikcom - detikNews Jakarta - Kelompok Taliban yang berkuasa di Afghanistan dilaporkan menutup Kementerian Urusan Perempuan. Kementerian itu kini diganti dengan Kementerian Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan yang dikenal sebagai "kementerian polisi moral".

Kantor berita Reuters, Sabtu (18/9/2021) melaporkan, simbol-simbol di gedung Kementerian Perempuan itu telah diganti dengan tanda polisi moral Taliban. Sementara para karyawan wanita di kementerian itu dilarang masuk ke gedung saat mereka datang untuk bekerja.

Menurut foto-foto, sebuah penanda di gedung itu bertuliskan, "Kementerian Doa dan Bimbingan dan Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan". "Saya satu-satunya pencari nafkah di keluarga saya," kata seorang wanita yang bekerja di kementerian itu.

"Ketika tidak ada lagi kementerian itu, apa yang harus dilakukan seorang wanita Afghanistan?" dia bertanya. Taliban sebelumnya telah menyatakan bahwa perempuan Afghanistan tidak akan diizinkan bekerja di kementerian-kementerian pemerintah bersama-sama pria.

Kini, para karyawan perempuan di Kementerian Urusan Perempuan mengatakan bahwa mereka tidak diizinkan untuk melapor ke tempat kerja, dan disuruh pulang ke rumah setiap kali mereka datang.

Sebelumnya, saat pengumuman susunan anggota kabinet pada 7 September, Taliban tidak menyebutkan penunjukan Menteri Urusan Perempuan, sementara Plt Menteri untuk Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan disebutkan.

Selama pemerintahan pertama Taliban tahun 1996-2001, kaum perempuan sebagian besar tidak diberi akses ke kehidupan publik, termasuk dilarang meninggalkan rumah mereka kecuali ditemani oleh kerabat laki-laki.

Anak perempuan juga tidak diizinkan bersekolah dan kaum perempuan dilarang bekerja dan kuliah. Saat itu, Kementerian Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan bekerja sebagai polisi moral Taliban yang memastikan penegakan hukum Syariah.

Awal pekan ini, seorang pemimpin senior Taliban mengatakan bahwa perempuan Afghanistan tidak akan diizinkan bekerja bareng laki-laki di kementerian-kementerian pemerintah.

(ita/ita)

Diterbitkan di Berita

sindonews.com KABUL - Taliban sedang memburu seorang jaksa wanita Afghanistan . Jaksa inilah yang mengungkap aksi para milisi kelompok itu dalam memaksa anak-anak menanam bom di jalan-jalan.

Jaksa, yang namanya disamarkan sebagai Mina untuk melindungi identitasnya aslinya, berbagi dengan Newsweek tentang sebuah surat ultimatum ancaman yang dia terima dari dewan militer Taliban sebelum dia meninggalkan rumahnya di provinsi Wardak tengah.

"Anda telah dituduh oleh Mujahidin Imarah Islam membantu dan bersekongkol dengan orang-orang kafir," bunyi surat yang ditujukan langsung kepada Mina.

"Kami memerintahkan Anda untuk meninggalkan pekerjaan Anda dan membantu dan bekerja sama dengan Mujahidin Imarah Islam," lanjut surat tersebut, yang dilansir Newsweek, Jumat (17/9/2021).

"Anda tidak akan dirugikan oleh Mujahidin jika Anda menyenangkan Allah," sambung surat tersebut. Jaksa itu memilih bersembunyi dan khawatir akan dibunuh jika dia ditemukan oleh milisi Taliban.

"Saya akan 100 persen dibunuh jika ditemukan," kata Mina, menambahkan bahwa seorang mantan rekannya dieksekusi oleh milisi Taliban di Panjshir pada hari Senin.

Mina mengatakan para pejabat Taliban sekarang menawarkan hadiah sebesar 500.000 rupee Pakistan (sekitar USD3.000) untuk informasi tentang keberadaannya.

Penyelidikan jaksa wanita ini telah memalukan Taliban, yang berusaha untuk beralih dari organisasi gerilya menjadi pemerintah yang berfungsi karena berusaha untuk menegaskan kendalinya atas semua aspek masyarakat Afghanistan.

"Mereka memaksa anak-anak untuk membantu memasang bom di jalan dan di mobil," kata Mina kepada Newsweek. "Banyak dari mereka yang mati."

Mina berada dalam posisi yang sangat genting mengingat dia adalah Hazara—kelompok minoritas yang terdiri antara 10 dan 20 persen dari populasi yang ditindas secara brutal oleh Taliban ketika mengambil alih kekuasaan pada 1990-an, termasuk beberapa pembantaian.

"Taliban tidak akan menerima perempuan yang bekerja," ujar Mina, seraya mencatat bahwa tawaran amnesti Taliban untuk pegawai pemerintah sebelumnya tidak benar-benar mencakup profesional hukum atau beberapa petugas polisi spesialis.

Sejak mengambil alih negara dan merebut ibu kota nasional, Kabul, pada 15 Agustus, Taliban telah bekerja keras untuk menggambarkan citra profesional yang lebih moderat dalam retorikanya.

Tetapi bahkan ketika juru bicaranya mengesampingkan pembunuhan balasan dan menjanjikan keselamatan bagi wanita, para milisi Taliban mengejar mantan pegawai pemerintah dan menculik wanita muda untuk dinikahkan dengan milisi kelompok itu.

Pemisahan laki-laki dan perempuan merembes ke sekolah dan universitas, sementara pejabat Taliban mendesak perempuan untuk mematuhi Syariah Islam versi mereka. Beberapa wanita menentang kembalinya pemerintahan garis keras Taliban.

Protes telah diadakan di seluruh negeri menuntut perlindungan kebebasan perempuan yang diperoleh dengan susah payah selama dua dekade terakhir, di mana pengunjuk rasa juga mencerca ancaman pengaruh Pakistan yang lebih besar atas Afghanistan melalui hubungan Taliban.

Pasukan Taliban membubarkan beberapa demonstrasi dengan memukuli dan menembaki pengunjuk rasa. Menurut beberapa laporan media lokal, para demonstran dicopot dari pekerjaan di Herat, teller bank perempuan juga diperintahkan keluar dari bank mereka di Kandahar.

Kelompok militan juga meminta sebagian besar wanita pekerja untuk tinggal di rumah, dengan alasan "alasan keamanan."

"Afghanistan adalah negara saya," kata Mina kepada Newsweek. "Saya suka [di mana saya tinggal]. Ini sangat berbahaya bagi saya. Saya mencoba untuk meninggalkan Afghanistan, tetapi saya tidak punya jalan keluar."

(min)

Diterbitkan di Berita
Tim detikcom - detikNews Jakarta - Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar bicara soal Taliban menguasai Afghanistan. BNPT menilai jangan sampai Taliban menjadi role model atau contoh masyarakat.

"Konstelasi geopolitik keamanan global hari ini berubah tentunya apa yang kita lihat memang sesuatu yang tidak diduga sebelumnya karena hari ini Taliban mendapat kesempatan kembali untuk berkuasa. Tetapi kami melihat jangan sampai kembalinya Taliban ke tampuk pemerintahan ini menjadikan sebagai role model bagi masyarakat," kata Komjen Boy Rafli dalam rapat dengar pendapat di Komisi III DPR RI, Rabu (15/9/2021).

"Yang kami maksud adalah aksi-aksi kekerasannya," imbuhnya. Boy Rafli mengatakan Indonesia memiliki jati diri tersendiri yang berbeda dengan Taliban. Indonesia memiliki Pancasila hingga Bhineka Tunggal Ika.

"Jadi tentu kita sebagai bangsa Indonesia sudah memiliki jati diri dan bentuk tersendiri, kita telah memiliki konstitusi, ideologi negara Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, atau bapak-bapak menyebut sebagai 4 pilar," ujarnya.

Perjuangan di dalam negeri diharapkan tak mencontoh Taliban yang menggunakan cara kekerasan bahkan mengangkat senjata. Menurut Boy Rafli, cara tersebut bukan contoh yang layak.

"Tetapi tentu dengan kekayaan yang kita miliki tersebut dari nilai-nilai yang kita miliki maka jangan sampai salah kita memilih ala perjuangan seperti Taliban yang menggunakan kekerasan, menggunakan senjata, menjadi semacam sesuatu yang layak kita contoh," ucapnya.

Selain itu, Boy Rafli berharap kondisi Afghanistan dapat berjalan dengan damai. Boy Rafli ingin kekerasan tak terjadi kepada perempuan dan anak-anak di Afghanistan.

"Kami hanya mengimbau agar untuk kita tidak terpancing dengan kondisi seperti ini dan tetaplah kita setia dengan jati diri kita," imbuhnya.

(rfs/gbr)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Salah satu petinggi sekaligus pendiri Taliban, Mullah Abdul Ghani Baradar, sempat diisukan tewas dalam baku tembak di antara fraksi kelompok tersebut.

Belakangan muncul desas-desus bahwa Taliban tengah menghadapi perpecahan internal, di mana kubu pendukung Baradar bentrok dengan kubu pendukung Sirajuddin Haqqani, yang merupakan pemimpin Jaringan Haqqani.

Baradar dan Haqqani merupakan dua petinggi senior Taliban yang disegani. Dalam pemerintahan baru Afghanistan, Baradar menjabat sebagai wakil perdana menteri, sementara Haqqani menjabat sebagai menteri dalam negeri.

Perpecahan internal dalam tubuh Taliban muncul setelah beredar spekulasi persaingan yang semakin sengit antara komandan militer seperti Haqqani dan para pemimpin politik kelompok itu termasuk Baradar, yang berbasis di kantor Doha, Qatar.

Rumor tewas itu juga beredar ketika Baradar belum terlihat lagi di depan publik meski sejumlah acara penting terjadi dalam beberapa waktu terakhir, termasuk saat kunjungan Menlu Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani ke Kabul pada akhir pekan lalu.

Padahal, Baradar selama ini menjadi ketua delegasi Taliban yang kerap bertemu berbagai perwakilan negara asing. Ia juga yang mewakili Taliban dalam penandatangan perjanjian dengan Amerika Serikat pada 2020 lalu.

Juru bicara Taliban, Suhail Shaheen, membantah rumor Baradar tewas dengan merilis pesan suara atasannya itu kepada publik. "Dia (Baradar) mengatakan itu bohong dan sama sekali tidak berdasar," kata Shaheen dalam kicauannya via Twitter seperti dikutip Reuters pada Rabu (15/9).

Taliban juga merilis rekaman video yang konon menunjukkan Baradar menghadiri pertemuan di Kota Kandahar. Namun, Reuters belum bisa segera memverifikasi rekaman tersebut.

Pemimpin tertinggi Taliban, Mullah Haibatullah Akhundzada, juga belum terlihat di depan publik  sejak Taliban menguasai Afghanistan lagi pada 15 Agustus lalu. Namun, Akhundzada telah mengeluarkan pernyataan publik beberapa waktu lalu.

Sementara itu, desas-desus perpecahan internal Taliban berlangsung ketika kelompok itu baru mengumumkan pembentukan pemerintahan baru Afghanistan. Taliban telah berulang kali membantah spekulasi tentang perpecahan internal dalam kelompoknya.

(rds)

Diterbitkan di Berita

damailahindonesiaku.com Tangerang – Indonesia harus mewaspadai potensi radikalisme dan terorisme pasca kehancuran kelompok ISIS di Irak dan Suriah, dan berkuasanya kelompok Taliban di Afghanistan.

Pasalnya, banyak Warga Negara Indonesia (WNI) yang pernah bergabung dengan jaringan kelompok teroris Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) di Suriah dan Irak di era 2014-2019, serta ikut pelatihan dengan Taliban di Afghanistan pada 1990-an yang melahirkan kelompok Al Jamaah Al Islamiyah.

“Ini menjadi tantangan bangsa Indonesia untuk melawan radikalisme dan terorisme. ISIS memang sudah selesai, tetapi simpatisan dari Indonesia yang ingin kembali masih banyak. Lalu kemudian Al Jamaah Al Islamiyah Indonesia yang kita ketahui bersama ada generasi 1 sampai 4 dan sudah diidentifikasi oleh negara,” ujar mantan Deputi Kerjasama Internasional dan Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irjen Pol (Purn) Drs. Hamidin di Tangerang, Jumat (10/9/2021).

Ia mengungkapkan, ada beberapa kembalinya simpatisan ISIS dan isu Taliban di Afghanistan yang harus diwaspadai. Potensi pertama adalah orang-orang yang kembali pasca kekalahan ISIS.

Ia mengaku pernah datang langsung ke Irbil, Irak, untuk menjemput deportan eks simpatisan ISIS tahun 2017 lalu. Di situ, ia melihat fakta, tidak semua simpatisan ISIS tidak semua kembali ke negaranya.

Dari penelusurannya, Hamidin mengatakan, ada eks militan asal Indonesia yang tidak pulang ke Indonesia, tetapi pulang ke Tunisia karena menikah dengan orang Tunisia. Kemudian ada juga militan dari negara lain yang justru ke Indonesia.

Ada yang kembali ke Tunisia misalnya orang Indonesia atau wanita Indonesia yang kemudian menikah dengan orang Tunisia. Kemudian ada yang dari negara lain juga ke Indonesia.

“Saya menyebut mereka relocator. Mereka adalah dia orang dari suatu negara,tapi dia ikut berjuang pada ISIS, dia kembali, kemudian dia tinggal di suatu negara tertentu dan bergabung dengan sel-sel terorisme di negara tersebut,” ungkap mantan Kapolda Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur ini.

Menurutnya, relocator ini dulu pernah terjadi di Indonesia saat ramai-ramainya kelompok Al Qaeda seperti Noordin M Top dan Dr. Azahari dari Malayia. Pun dengan tokoh teroris lainnya Muhammad Hasan dari Singapura yang ditangkap tahun 2008 lalu.

Mereka adalah contoh nyata relocator masa lalu. “Sekarang orang yang dari ISIS bisa saja berada di tengah-tengah kita, kemudia dia bergabung kepada sel lamanya. Kemudian suatu saat ketika ada momentum, maka dia akan hidup lagi untuk menggelorakan itu,” jelas Hamidin.

Ia mengungkapkan, tidak semua relocator itu teridentifikasi saat masuk ke Indonesia. Seperti Muhammad Bojoglan dan kawan-kawan dari Uighur, yang pernah bergabung dengan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso. Kedua, lanjut Hamidin, yang perlu diwaspadai adalah pengelana yang frustasi atau frustatated traveller.

Saat ISIS berjaya, orang-orang ini sebenarnya ingin berangkat ke Suriah dan Irak tetapi tidak ada sponsor, tidak ada yang bisa mengajak, tidak ada yang bisa mengantar tapi gairahnya sangat tinggi.

“Kita sudah melihat bagaimana kasus misalnya penyerangan Kapolsek di Tangerang pada saat itu. Dia mau berangkat, tapi tidak ada uang. Hanya melihat polisi dia hajar. Nah ini termasuk pengelana yang frustasi,” tegasnya.

Ketiga, ungkapnya, adalah sel-sel hibernasi atau hibernate cells atau sel tiarap. Mereka bila BNPT, Densus 88, dan BIN banyak kegiatan, mereka tiarap, tapi bukan mati. Kendati demikian, semangat dan motivasi mereka tetap ada dan tinggi.

Kemudian yang keempat adalah sleeping cell atau sel tidur. Mereka ini tidak ada gerakan, tapi sebetulnya radikal. Mereka tidak melakukan apa-apa, dan lebih banyak menunggu momen. Contohnya adalah kasus tero bom Surabaya dan bom Gereja Katedral Makassar.

Empat hal itulah yang harus diwaspadai terutama seiring berkuasanya Taliban di Afghanistan sekarang ini. Pasalnya, ideologi Tablian di masa lalu adalah ideologi terorisme.

“Semua kita paham itu. Jadi tetaplah kita Waspada, kita ikuti perkembangan perkembangan Taliban di sana. Kita berharap mereka akan melaksanakan apa yang sudah Taliban deklarasikan kepada Amerika dan lain-lain bahwa mereka akan menjadi demokrasi dan mengikuti tata aturan global. Saya kira itu yang saya lihat. Lebih baik kita wait and see,” papar Ketua Kelompok Ahli Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) ini.

Selain itu, Hamidin mengungkapkan ada tantangan besar bangsa Indonesia dalam mewaspadai radikalisme dan terorisme di masa pandemi Covid-19. Ia mengakui pandemi membuat banyak sektor terpuruk dan perekonomian nasional menurun, serta kegiatan masyarakat harus dibatasi.

Di sisi lain, pemerintah juga fokus menangani pandemi Covid-19. Menurutnya di tengah isu-isu pandemi Covid-19, bukan berarti isu terorisme selesai. Sebab, kadang-kadang kelompok-kelompok teroris memanfaatkan isu itu menimbulkan keresahan di masyarakat.

“Misalnya mau percaya takut kepada siapa? Mau takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atau takut kepada Covid ? Nah ini yang mereka campur adukkan. Sebetulnya jawabannnya tidak seperti itu. Dua duamya memang harus kita waspadai. Jadi kalau Allah memang tempat kita bermohon, tetapi Covid ini juga tidak bisa dihindari. Karena dia berada di tengah-tengah kita jadi saya kira dua hal ini harus sama-sama kita waspadai. Dan semua komponen bangsa harus turut serta didalamnya,” tuturnya.

Untuk itulah, ia menyarankan BNPT sebagai koordinator penanggulangan terorisme di Indonesia menggandeng ulama-ulama untuk ikut juga memberikan pencerahan terhadap bagaimana mencegah pandemi covid dan juga mengembalikan apa namanya pemahaman kita kepada ideologi dan agama yang benar.

Keterlibatan ulama sangat penting untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat. Ia khawatir bila masyarakat menerima pemikiran yang salah dan karena tidak ada yang meluruskan akhirnya mereka melaksanakan ajaran itu.

Terbukti banyak isu-isu menyesatkan selama pandemi seperti disebutkan bahwa pandemi ini konspirasi.

“Saya kira itu untuk kelompok-kelompok radikal selalu itu yang dijadikan bahan propaganda,” tegasnya.

Diterbitkan di Berita

DELHI, KOMPAS.TVSeorang mantan polisi perempuan Afghanistan mengungkapkan bagaimana penyiksaan sadis yang dilakukan Taliban padanya. Oleh sebab itu, ia juga tak yakin mereka akan berubah setelah mengaku lebih moderat ketika kembali menguasai Afghanistan.

Khatera Hashmi, yang merupakan seorang mantan polisi perempuan mengaku disiksa oleh anggota Taliban pada tahun lalu. Hashmi mengungkapkan ia ditembak beberapa kali, bahkan mata kanannya dirusak oleh mereka.

Hashmi mengatakan penyiksaan itu terjadi ketika mereka menculiknya. Apalagi, penyiksaan tersebut terjadi ketika Hashmi masih dalam keadaan hamil. “Bagi Taliban, dosa terbesar seorang perempuan adalah jika ia keluar dari rumahnya untuk bekerja,” katanya kepada India Today.

“Apa yang terjadi pada saya, juga terjadi pada perempuan lainnya. Namun, mereka tak bisa berbicara, karena merasa takut,” tambah Hashmi. Hashmi yang kini tengah berada di India, mengaku masih gemetar dan menangis saat mengingat apa yang terjadi padanya di Afghanistan.

Ia mengatakan, dengan memakai nama Islam, Taliban telah meneror warga Afghanistan. “Suatu hari saat saya pulang bekerja, tiga anggota Taliban menunggu di dekat rumah saya. Mereka menyeang saya, menusuh saya sekitar delapan atau 10 kali dengan pisau,” ujarnya.

“Mereka menembak saya. Saya kehilangan kesadaran saat peluru mengenai kepala. Tak puas, mereka bahkan merusak mata saya,” tambahnya. Hashmi bahkan mengaku dirinya telah dikhianati oleh ayahnya, yang diketahuinya terlibat dengan Taliban setelah penyerangan kepadanya.

Ayahnya memang menentang keputusan Hashmi untuk bergabung dengan kepolisian. Bahkan menurutnya, ayahnya mengetahui apa yang akan terjadi padanya dan tak melakukan apa-apa.

Setelah serangan tersebut, Hashmi langsung dibawa ke rumah sakit, dan dokter berhasil menyelamatkan nyawanya. Namun, mereka tak mampu melakukan apa pun terhadap matanya, yang membuat ia kehilangan penglihatan selamanya.

“Saya menjadi seperti mayat hidup. Saya bernapas, tapi tiap hari saya harus berjuang. Melakukan hal mudah, bahkan seperti tantangan bagi saya,” tambahnya. Saat Taliban kembali ke Afghanistan, Hashmi sedang melakukan perawatan lanjutan di India.

Hashmi pun mengaku khawatir mengenai anak-anaknya yang berada di Afghanistan. Namun, ia mengaku tak bisa pulang karena Taliban tengah mencarinya setelah mengetahui ia masih hidup.

“Terakhir kali saya bicara dengan anak-anak saya di Afghanistan sekitar 9 atau 10 har lalu,” ujarnya. “Mereka mengatakan Taliban mengetuk pintu bai siang atau malam, menanyakan kapan saya dan suami akan kembali,” lanjutnya.

Hashmi pun mengungkapkan Taliban telah mengancam mereka dengan mengatakan akan menyakiti mereka jika ia dan suaminya tak kembali. “Sejak itu saya belum berbicara dengan anak-anak saya. Mungkin mereka pergi dari rumah atau bersembunyi. Saya tak tahu mereka masih hidup atau sudah mati,” tuturnya.

Penulis : Haryo Jati | Editor : Purwanto

Diterbitkan di Berita