MURIANEWS, Kudus – Keterisian tempat tidur isolasi Covid-19 dan tempat tidur ICU Covid-19 di rumah sakit di Kudus mulai sedikit melega.

Hingga Senin (21/6/2021) malam, keterisian tempat tidur isolasi maupun tempat tidur ICU Covid-19 menurun di angka 88 persen. Pada pekan sebelumnya, tingkat keterisiannya mencapai 94 persen.

Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, untuk Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Loekmono Hadi Kudus kini telah memiliki 191 buah. Kemudian hingga Selasa (22/6/2021), jumlah keterisiannya mencapai 92 persen.

“Di RSUD kami mencatat mereka memiliki 191 tempat tidur, kemudian kini sudah terisi 176.

Artinya sisa 15 tempat tidur, untuk tempat tidur ICU juga sama, dari sepuluh tempat tidur kini hanya tersisa dua,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Badai Ismoyo, Selasa (22/6/2021).

Kemudian di Rumah Sakit Islam Sunan Kudus, kini tersisa 27 buah tempat tidur. RSI sendiri, meningkatkan kapasitasnya menjadi 93 tempat tidur dan kini terisi 65 tempat tidur. Untuk ICU, terisi tiga dari empat tempat tidur.

Selanjutnya Rumah Sakit Mardi Rahayu, kini tersisa enam buah tempat tidur isolasi setelah mereka meningkatkan kapasitasnya. Rumah sakit rujukan lini dua tersebut kini menyediakan sebanyak 93 tempat tidur, hingga Selasa ini sudah terisi 87 tempat tidur.

Sementara 34 tempat tidur ICU mereka, kini tiga tempat tidur saja. Untuk Rumah Sakit Aisyiah, mereka menyediakan 45 tempat tidur dan terisi penuh.

Delapan tempat tidur pada ICU mereka juga penuh. Begitu pula dengan RS Kumala Siwi yang menyediakan sebanyak 27 tempat tidur kini juga telah terisi penuh. Tiga tempat tidur ICU RS tersebut juga telah terisi.

“Sementara untuk Rumah Sakit Nurussyifa, dari 28 tempat tidur yang disiapkan kini terisi 18 tempat tidur, satu tempat tidur ICU mereka kini belum terisi,” terangnya.

Sementara 14 tempat tidur isolasi di Rumah Sakit Kartika Husada kini tersedia tiga tempat tidur, setelah sebelumnya penuh. Bupati Kudus HM Hartopo terus mendorong rumah sakit-rumah sakit penanganan Covid-19 di Kudus untuk menambah kapasitas ruang isolasinya.

Dengan harapan, sebagian besar pasien yang butuh perawatan bisa diatasi sendiri oleh rumah sakit di Kudus.

“Kami terus mendorong rumah sakit untuk meningkatkan kapasitas tempat tidur untuk isolasi covid, sehingga masyarakat Kudus bisa tertangani semua, ini juga dorongan dari pusat untuk menambah kapasitas tempat tidur hingga 50 persen,” ujar dia.  

Reporter: Anggara Jiwandhana Editor: Ali Muntoha

Diterbitkan di Berita

Binti Mufarida sindonews.com JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersiap mengantisipasi tren lonjakan kasus COVID-19 pasca libur panjang Lebaran atau Idul Fitri 2021 .

Sejumlah langkah antisipasi Kemenkes di antaranya mendata seluruh kapasitas tempat tidur di seluruh fasilitas kesehatan (faskes) di Indonesia, pendataan farmasi dan alat kesehatan serta melakukan pendampingan ketat pada daerah yang terindikasi terjadi tren kenaikan kasus.

“Lebaran sudah dekat. Tugas kami adalah mempersiapkan kondisi terburuk, saya merasa dan berharap Insya Allah ini tidak terjadi, tetapi kalaupun terjadi peningkatan penularan kita ingin melakukan antisipasi agar kita tidak kaget.

Sejak Januari yang penting diantisipasi adalah kesediaan tempat tidur RS, kesiapan obat-obatan dan fasilitas lainnya yakni oksigen,” ujar Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin (BGS), dikutip dari laman resmi Kemenkes, Selasa (11/5/2021). 

Secara keseluruhan, berdasarkan data yang dihimpun Kemenkes jumlah tempat tidur yang tersedia sebanyak 390 ribu unit, yang mana 70 ribu di antaranya digunakan untuk pelayanan COVID-19. Saat ini tingkat keterisian tempat tidur untuk pasien COVID-19 sekitar 23 ribuan.

Sementara untuk ruang ICU, secara nasional ada sekitar 22 ribu yang diperuntukkan untuk COVID-19 sebanyak 7.500 unit. Dengan tingkat keterisian ICU sekitar 2.500.

“Kapasitas RS dan ICU yang kita miliki, itu masih 3 kali lebih besar dibandingkan yang kita dedikasikan untuk COVID-19,” terangnya.

Dari kalkulasi ini, BGS memperkirakan masih ada ketersediaan tempat tidur hingga 2 kali lipat untuk mengantisi apabila sewaktu-waktu terjadi lonjakan kasus COVID-19 terutama pasca libur lebaran 2021.

Juga apabila terdapat kekurangan permintaan tempat tidur maupun ICU, pihaknya siap melakukan relaksasi dengan mengonversi RS menjadi RS khusus COVID-19.

“Sejumlah persiapan telah kita lakukan, saya berdoa persiapan itu tidak terpakai dan tetap kosong, tapi kalau ada setidaknya kita sudah melakukan persiapan,” harap BGS.

Selain persiapan ketersediaan tempat tidur RS secara nasional, Kemenkes juga melakukan monitoring terhadap kapasitas tempat tidur bagi pasien COVID-19 di seluruh daerah terutama daerah yang mengalami kenaikan kasus signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

BGS meminta kepada seluruh kepala daerah untuk turut melakukan langkah antisipasi sekaligus pencegahan agar tidak terjadi kenaikan kasus COVID-19 yang tinggi pasca libur panjang Lebaran. 

Adapun 8 daerah yang mengindikasikan peningkatan keterisian ruang perawatan dan ruang ICU khusus COVID-19 di antaranya Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Lampung dan Nusa Tenggara Timur.

“Beberapa provinsi jauh lebih tinggi kasusnya, ini yang harus menjadi perhatian kami pemerintah pusat dan harus menjadi perhatian pemerintah daerah. Kepada gubernur, bupati dan wali kota tolong ini dijaga,” kata BGS. 

Di samping aktif melakukan pendataan kapasitas RS, Kemenkes saat ini juga berupaya keras untuk menjaga ketersediaan obat-obatan serta oksigen di seluruh Tanah Air agar tidak terjadi kekosongan.

Kalaupun ada kekurangan, pihaknya mengimbau kepada daerah untuk dapat menyampaikannya ke Kemenkes agar bisa segera diupayakan untuk dipenuhi.

Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: Krisis pandemi Covid-19 di India nampaknya sudah semakin parah setiap harinya. 

Hal tersebut terlihat pada sebuah masjid di India yang berubah menjadi sebuah rumah sakit darurat pasien Covid-19. Masjid tersebut adalah masjid Jahangipura.

Melansir dari Arab News, Jumat (30/4/2021) kondisi tersebut dilakukan oleh komunitas Muslim India yang terhitung minoritas. Fasilitas di dalamnya terdapat 50 kasur medis tampak bersusun rapi memenuhi aula. 

“Situasi Covid-19 di kota tidak baik dan orang-orang tidak mendapatkan tempat tidur di rumah sakit, Jadi kami memutuskan untuk membuka fasilitas untuk memberikan bantuan kepada orang-orang," ujar Irfan Sheikh, pengawas masjid.

"Dalam beberapa hari setelah fasilitas ini dibuka, semua 50 tempat tidur terisi. Anda bisa membayangkan tekanan seperti apa yang dialami rumah sakit," tambahnya. 

Bahkan rencananya 50 tempat tidur lagi akan ditambahkan, jika pasokan oksigen dapat diandalkan. 

Tidak hanya masjid Jahangipura,  Masjid Darool Uloom di kota yang sama mereka juga membuka pintunya untuk 142 tempat tidur yang dilengkapi dengan oksigen dengan 20 perawat dan tiga dokter yang berada di lokasi.

"Kami bisa membuat fasilitas Covid-19 dengan 1.000 tempat tidur, tapi pasokan oksigen menjadi kendala," kata Ashfaq Malek Tandalja, anggota komite pengelola masjid, kepada Arab News.

Diketahui Masjid Jahangirpura terletak di negara bagian barat kota Vadodara Gujarat. Negara bagian asal Perdana Menteri Narendra Modi ini adalah salah satu yang paling parah terkena dampak di India.

Di Gujarat, hampir 1.500 kasus dan lebih dari 150 kematian dilaporkan pada hari Selasa. Untuk keseluruhan, India melaporkan 323.144 infeksi baru dengan total lebih dari 17.6 juta kasus.

Diterbitkan di Berita
Halaman 3 dari 3