TEMPO.CO, Jakarta - Hasil sigi Indikator Politik Indonesia menunjukkan 55,4 persen anak muda percaya Presiden Joko Widodo atau Jokowi bisa mengatasi pandemi Covid-19.

"Pak Jokowi dianggap bisa menanganai wabah Covid-19 di kisaran 55 persen yang menganggap percaya atau sangat percaya," kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, dalam rilis Survei Nasional Suara Anak Muda tentang Isu-Isu Sosial Politik Bangsa, Ahad, 21 Maret 2021.

Survei Indikator Politik Indonesia yang menggunakan telepon ini dilakukan pada Maret 2021, dengan melibatkan 1.200 responden anak muda berusia 17-21 tahun. Dengan asumsi metode simple random sampling, ukuran sampel 1.200 responden memiliki toleransi kesalahan sekitar lebih kurang 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Selain itu, Burhanuddin mengatakan mayoritas responden anak muda sangat atau cukup percaya Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dapat bekerja secara baik dalam mengatasi Covid-19. "Approval terhadap Pak Budi Sadikin soal penanganan Covid-19 itu 42,9 persen," ujarnya.

Menurut Burhanuddin, penanganan wabah virus corona menjadi masalah yang menurut anak muda paling penting diselesaikan, dengan 26,3 persen responden. Masalah paling penting berikutnya adalah manajemen dan pertumbuhan ekonomi 24,9 persen, dan kemiskinan 12,1 persen.

Lebih lanjut, tingkat kepercayaan anak muda bahwa Jokowi bisa mengatasi pandemi Covid-19 tidak jauh berbeda dengan survei nasional pada Februari 2021 yang melibatkan populasi warga umum. Pada survei nasional, sebanyak 56,5 persen warga umum percaya Jokowi bisa menangani wabah Covid-19.

Reporter: Friski Riana

Editor: Aditya Budiman

Diterbitkan di Berita

Masih Surplus Dihadang Pandemi

Rabu, 17 Maret 2021 09:28

Kerjha — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tren kenaikan neraca perdagangan yang masih terus berlanjut di tengah pandemi global Covid-19. Pada Februari 2021, necara dagang tercatat mencapai USD 2 miliar, membaik dari surplus bulan sebelumnya sebesar USD 1,96 miliar.

Berdasarkan catatan BPS, nilai ekspor Indonesia Februari 2021 mencapai USD 15,27 miliar atau turun 0,19 persen dibanding ekspor Januari 2021. Sementara dibanding Februari 2020, naik sebesar 8,56 persen.

Ditilik dari kategorinya, ekspor nonmigas Februari 2021 mencapai USD 14,40 miliar, turun 0,04 persen dibanding Januari 2021. Sedangkan jika dibandingkan dengan ekspor nonmigas Februari 2020, naik 8,67 persen.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Februari 2021 mencapai USD 30,56 miliar atau naik 10,35 persen dibanding periode yang sama pada 2020. Demikian juga ekspor nonmigas mencapai USD 28,81 miliar atau naik 10,52 persen.

Sementara penurunan terbesar ekspor nonmigas Februari 2021 terhadap Januari 2021 terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar USD 639,5 juta (27,11 persen), dan peningkatan terbesar terjadi pada besi dan baja sebesar USD 240,7 juta (24,20 persen).

Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari– Februari 2021 naik 10,29 persen dibanding periode yang sama pada 2020, demikian juga ekspor hasil pertanian naik 8,81 persen dan ekspor hasil tambang dan lainnya naik 12,19 persen.

Ekspor nonmigas Februari 2021 terbesar diserap Tiongkok sebesar USD 2,95 miliar, disusul Amerika Serikat USD 1,86 miliar, dan Jepang USD 1,20 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 41,77 persen. Sementara ekspor ke ASEAN dan Uni Eropa masing-masing sebesar USD 2,99 miliar dan USD 1,13 miliar.

Adapun menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari–Februari 2021 berasal dari Jawa Barat dengan nilai USD 5,16 miliar (16,90 persen), diikuti Jawa Timur USD 3,23 miliar (10,56 persen), dan Riau USD 2,64 miliar (8,63 persen).

Masih berdasarkan data BPS, nilai impor Indonesia Februari 2021 mencapai USD 13,26 miliar, turun 0,49 persen dibandingkan Januari 2021 atau naik 14,86 persen dibandingkan Februari 2020.

Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Februari 2021 adalah Tiongkok USD 8,06 miliar (33,95 persen), Jepang USD 1,86 miliar (7,83 persen), dan Singapura USD 1,31 miliar (5,53 persen). Sedangkan impor nonmigas dari ASEAN USD 4,41 miliar (18,57 persen) dan Uni Eropa USD 1,55 miliar (6,54 persen).

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia 

Para pejabat kesehatan Jerman, Jumat (12/3) memperingatkan negara itu menghadapi gelombang ketiga infeksi virus corona, dan virus yang disebut sebagai varian Inggris mungkin menjadi penyebabnya.

Pada konferensi pers di Berlin, Lothar Wieler Presiden Robert Koch Institute for Infectious Diseases mengatakan kepada wartawan bahwa varian COVID-B117, yang awalnya diidentifikasi di Inggris, menyebar dengan cepat di negara itu, dan mungkin menggerakkan lonjakan terbaru, dengan kasus baru pada hari Jumat merupakan yang tertinggi di Jerman dalam satu bulan ini.

Wieler mengatakan vaksinasi dapat membantu virus itu terkendali tetapi masyarakat harus tetap mempraktikkan social distancing dan langkah-langkah lainnya. Ia mengatakan, “virus tidak akan menghilang lagi, tetapi kita telah memiliki tingkat imunitas dasar di tengah masyarakat, kita dapat mengontrol virus.”

 

Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn (kanan) dan Lothar H. Wieler (kiri) presiden Robert-Koch-Institute, dalam konferensi pers di Berlin, Jerman, Jumat, 12 Maret 2021. (AP Photo / Michael Sohn)
Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn (kanan) dan Lothar H. Wieler (kiri) presiden Robert-Koch-Institute, dalam konferensi pers di Berlin, Jerman, Jumat, 12 Maret 2021. (AP Photo / Michael Sohn)

 

Pada konferensi pers yang sama, Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn mengatakan negara itu harus bersiap untuk “menghadapi beberapa pekan mendatang yang sangat menantang.”

Spahn menyatakan penyesalan karena beberapa negara tetangga telah menghentikan penggunaan vaksin virus corona AstraZeneca menyusul laporan penggumpalan darah pada sejumlah penerima vaksin itu, meskipun masih kurang bukti bahwa vaksin itu penyebabnya.

Spahn mengatakan meskipun Jerman menerima laporan mengenai kemungkinan efek samping akibat itu vaksin itu “dengan sangat, sangat serius,” Badan Pengawas Obat Eropa (EMA) dan badan pengawas vaksin Jerman sendiri telah menyatakan mereka tidak memiliki bukti mengenai peningkatan penggumpalan darah yang berbahaya, yang ada kaitannya dengan vaksin.

 

Warga mengenakan masker saat menunggu kereta di stasiun kereta bawah tanah di Frankfurt, Jerman, Jumat, 12 Maret 2021, di tengah meningkatnya kasus infeksi COVID-19. (Foto AP / Michael Probst)
Warga mengenakan masker saat menunggu kereta di stasiun kereta bawah tanah di Frankfurt, Jerman, Jumat, 12 Maret 2021, di tengah meningkatnya kasus infeksi COVID-19. (Foto AP / Michael Probst)

 

Denmark, Kamis (11/3) mengumumkan tentang penghentian sementara penggunaan vaksin AstraZeneca setelah ada laporan mengenai penggumpalan darah pada beberapa orang. Austria melakukan hal yang sama sebelumnya pekan ini. Setelah menyelidiki kasus-kasus di Austria, EMA mengeluarkan pernyataan hari Rabu yang menyebutkan tidak menemukan indikasi bahwa vaksin itu penyebab kondisi tersebut.

EMA menyatakan “manfaat vaksin terus melampaui risikonya dan vaksin dapat terus diberikan” sementara evaluasi yang lebih cermat terhadap kasus-kasus penggumpalan darah berlanjut. [uh/ab]

Diterbitkan di Berita

Rakernas berlangsung selama 2 hari mulai 9-10 Maret 2021 dengan tema "Pramuka Berbakti Tanpa Henti, dalam memasuki Adaptasi Kebiasaan Baru, dengan Gerakan Kedisplinan dan Kepedulian Nasional.

Penerapan protokol ketat pun dilakukan, mengingat kegiatan dilakukan di tengah pandemi Covid-19. Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Komjen Pol (Purn) Budi Waseso mengatakan nantinya dalam kegiatan ini akan dibahas program-program Pramuka ke depan.

Tentunya berkaitan dengan bakti kepada negara dan bangsa. Salah satunya mungkin, kata dia, terkait keterlibatan dalam penanganan Covid-19.

“Salah satunya itu. Di antaranya itu. Tapi macam-macam, bukan hanya masalah covid aja. Tapi kegiatan Pramuka itu sendiri. Pendidikan generasi muda dengan model yang baru kita harus lakukan karena situasi covid ini,” tutur Buwas sapaan akrab Budi Waseo.

Pramuka, lanjut dia, juga telah membentuk Satuan Tugas Penganggulangan Pandemi Covid-19 di berbagai tingkatan dan akan segera bergerak dalam waktu dekat.

“Presiden RI selaku Ketua Majelis Pembimbing Gerakan Nasional Pramuka telah memberikan arahan untuk melaksanakan 2 gerakan. gerakan kedisiplinan nasional dengan menunjukan prilaku mematuhi protokol kesehatan dan gerakan kepedulian nasional dengan mewujudkan sikap empati dan simpati menolong sesama.

Itulah sebabnya Kwartir Nasional telah membentuk Satuan Tugas Penanggulangan Pandemic Covid-19 yang segera bergerak ditingkat nasional, daerah, cabang hingga ke ranting. Serta Gugus Depan Pramuka,” jelas Buwas.

Buwas kemudian juga mengajak para Pramuka di berbagai daerah untuk ikut serta dalam mengubah perilaku masyarakat di tengah pandemi Covid-19.

Dengan cara bagaimana? Yakni menerapkan gaya hidup sehat dalam keseharian. “Diharapkan para Pramuka dapat memberi contoh untuk mengubah prilaku masyararkat luas agar hidup lebih sehat dalam upaya menanggulangi pandemi Covid-19,” tuturnya lagi.

Sebagai informasi, setiap tahun Kwartir Nasional Gerakan Pramuka mengadakan Rapat Kerja Nasional. Pada tahun 2020  Rapat Kerja Nasional (Rakernas) diselenggarakan pada bulan Februari (sebelum ada Covid-19) di Cibubur, Jakarta.

Pada tahun ini Rakernas Gerakan Pramuka untuk pertama kali diselenggarakan virtual. Rakernas berlangsung di Gedung Sarbini, Taman Rekreasi Wiladatika Cibubur, Jakarta, 9-10 Maret 2021. Peserta dari Kwarda seluruh Indonesia mengikuti secara daring.

Pimpinan dan panitia Rakernas akan luring. Rakernas Tahun 2021 ini dibuka oleh Zainuddin Amali, Menteri Pemuda dan Olahraga RI, selaku Sekretaris Maabinas Gerakan Pramuka secara daring.

Sebelum Rakernas berlangsung di tempat yang sama diadakan Sidang Paripurna Nasional (Sidparnas) Gerakan Pramuka Tahun 2021 pada tanggal 7-8 Maret 2021. (Miechell Octovy Koagouw)

Diterbitkan di Berita

TEMPO.COBandung - Institut Teknologi Bandung (ITB) memberikan keringanan pembayaran uang kuliah tunggal (UKT) per semester kepada 2.742 mahasiswa.

“Mulai tahun ini, mekanismenya mahasiswa dapat mengajukan permohonan beasiswa untuk mendapatkan keringanan UKT ini,” kata Direktur Kemahasiswaan ITB G. Prasetyo Adhitama lewat keterangan tertulis, Senin, 15 Februari 2021.

Bantuan yang disiapkan untuk periode pengajuan Agustus 2020 itu nilainya mencapai Rp 4,6 miliar.

Penerima bantuan UTK merupakan mahasiswa angkatan 2015 hingga 2019. Paling banyak berasal dari angkatan 2019, yaitu sebanyak 1.123 orang. Selain itu ada 57 mahasiswa angkatan 2014 dan 2013 yang mengajukan pembebasan Biaya Penyelenggaraan Pendidikan (BPP) karena tinggal menyelesaikan Tugas Akhir.

Menurut Prasetyo, beasiswa UKT terbagi menjadi beberapa kelompok, mulai dari keringanan cicilan dua hingga tiga kali, dan penurunan UKT sementara waktu serta permanen.

Pemberian keringanan paling banyak yaitu cicilan dua kali yang diterima oleh 923 mahasiswa, 299 mahasiswa lain bisa mengangsur UKT sebanyak tiga kali. “Sebanyak 37 mahasiswa dibebaskan dari pembayaran UKT,” katanya.

Adapun 271 mahasiswa yang mendapat bantuan dari Kartu Indonesia Pintar Kuliah semester I diperpanjang sampai semester II. “Beasiswa ini dapat diberikan keringanan jika ada kejadian luar biasa seperti penanggung jawab nafkah meninggal atau bangkrut, tentu dengan bukti-bukti yang dilampirkan,” lanjutnya.

ITB menerapkan lima jenis UKT bagi mahasiswanya. Golongan 1 senilai Rp 0 atau gratis. Golongan 2 UKT sebesar Rp 1 juta per semester. Golongan 3 besaran UKT Rp 5 juta dan Rp 8 juta khusus di Sekolah Bisnis Manajemen (SBM) ITB. “UKT golongan 3 diperuntukkan bagi mahasiswa yang masuk dari jalur SNMPTN dan SBMPTN,” katanya.

Selanjutnya UKT golongan 4 sebesar Rp 8.750.000 dan Rp 14 juta untuk mahasiswa SBM. Besaran UKT 4 ini bagi mahasiswa yang masuk dari jalur SNMPTN dan SBMPTN. Sementara bagi mahasiswa yang masuk dari jalur Seleksi Mandiri besaran UKT 4 ialah Rp 12,5 juta.

UKT golongan 5 dipatok sebesar Rp 12,5 juta dan Rp 20 juta untuk mahasiswa SBM. Besaran ini hanya untuk mahasiswa ITB yang masuk dari jalur SNMPTN dan SBMPTN. Sementara mahasiswa dari jalur Seleksi Mandiri, besaran UKT 5 adalah Rp 25 juta.

Reporter: Anwar Siswadi (Kontributor)
Editor: Erwin Prima
Diterbitkan di Berita

Selama masa Pandemi ini pasti kita semua menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Termasuk juga anak-anak.

Diterbitkan di Undangan
Halaman 3 dari 3