Nafilah Sri Sagita K - detikHealth Jakarta - Jerman diserang gelombang keempat COVID-19, sempat mencatat rekor kasus 50 ribu sehari. Tiga Menteri Kesehatan di negara bagian Jerman mendesak strategi pengendalian COVID-19 lebih ketat seperti lockdown hingga penutupan sekolah.

Insiden kasus COVID-19 selama tujuh hari di Jerman mencapai rekor tertinggi selama pandemi. Jumlah orang yang terinfeksi naik menjadi 277,4 per 100 ribu penduduk berdasarkan data Robert Koch Institute per Sabtu (13/11/2021), di beberapa wilayah bahkan meningkat menjadi 500.

Kepala asosiasi dokter terbesar di Jerman, Marburger Bund mengatakan kepada grup media Jerman Funke Mediengruppe beberapa ruangan intensif atau perawatan ICU kemungkinan perlu memindahkan pasien antarwilayah, mencari tempat tidur dalam beberapa minggu mendatang, imbas kapasitas nyaris penuh.

Beban rumah sakit

Pemerintah federal dan para pemimpin dari 16 negara bagian Jerman akan membahas langkah-langkah pandemi baru pekan depan. Menteri kesehatan negara bagian Baden-Wuerttemberg, Hessen dan Brandenburg berpendapat bahwa sejumlah wilayah perlu tetap membuka opsi kebijakan darurat seperti jam malam, lockdown, atau penutupan sekolah, jika situasinya terus memburuk.

"Menghadapi beban rumah sakit yang di beberapa daerah hampir melebihi batas absolut, status epidemi harus diperpanjang di tingkat nasional," kata ketiga menteri kesehatan itu dalam pernyataan bersama, Sabtu, dikutip dari Channel News Asia.

Kanselir Jerman Angela Merkel mendesak orang yang tidak divaksinasi untuk mempertimbangkan kembali keputusan mereka dalam sebuah pesan video yang disebarkan Sabtu kemarin.

Dia juga menyerukan penegakan aturan yang lebih kuat terkait testing, vaksinasi, atau bukti 'bebas COVID-19' sebelum berkunjung ke tempat tertutup, dan mendesak vaksin booster dilakukan lebih cepat.

"Minggu-minggu yang sulit terbentang di depan kita, dan Anda dapat melihat bahwa saya sangat khawatir," kata Merkel, berbicara dalam podcast video mingguannya. "Saya segera meminta semua orang yang belum divaksinasi, tolong pertimbangkan kembali."

Tentara Jerman sedang bersiap membantu layanan perawatan kesehatan, lapor surat kabar Spiegel, dan akan memberikan vaksinasi dan tes booster di panti jompo dan rumah sakit.

(naf/up)

Sumber: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5810417/jerman-diserang-gelombang-ke-4-covid-19-rs-mulai-kewalahan?single

Diterbitkan di Berita

Fitra Iskandar alinea.id Jurnalis Dichen Ongmu meninggalkan rumahnya di provinsi Sikkim, India timur laut untuk menghindari infeksi pada bayi saudara perempuannya yang baru lahir, memotong rambutnya yang panjang agar dia dapat mendisinfeksi dirinya sendiri secara lebih efektif setiap malam, dan mengembalikan insentif Covid-19 pemerintah karena dia percaya bahwa beberapa rekannya telah mengantonginya dengan tidak layak.

Wartawan lain di ibu kota Delhi mengajukan ceritanya meskipun kaget karena harus mengucapkan selamat tinggal terakhir secara daring kepada nenek tercintanya, yang kesehatannya tiba-tiba memburuk.

Keluarganya tahu dia tidak akan meninggalkan pekerjaannya, meskipun dia sangat ingin bersama neneknya di saat-saat terakhirnya.

Dari Mei hingga Juli tahun ini, ketika gelombang kedua virus corona yang mematikan di India surut, 40 jurnalis wanita dari 30 negara bagian di seluruh India menggelar sesi daring di mana mereka menceritakan pengalaman meliput pandemi, mengungkapkan tingkat etika dan komitmen profesional yang luar biasa tinggi.

Banyak yang mempertaruhkan kemungkinan terpapar ketika mereka pergi ke rumah sakit yang tidak dilengkapi fasilitas dengan baik untuk menceritakan kisah-kisah keluarga yang orang-orang terkasihnya megap-megap, atau pergi ke desa-desa untuk menemukan orang-orang sekarat karena ketidaktahuan atau kekurangan dokter atau transportasi.

Yang lain menghadapi pelecehan dan ancaman di krematorium di mana mereka pergi untuk menghitung mayat. Beberapa melampaui tugas profesional mereka, menggunakan hak istimewa mereka untuk menyelesaikan panggilan SOS selama gelombang kedua.

Malam-malam dihabiskan untuk berkoordinasi dengan birokrat dan rumah sakit, dan kemudian berbaring terjaga dengan rasa bersalah karena tidak mampu menyelesaikan semua panggilan darurat yang mereka terima.

Ketika Gather Sisters, sebuah kelompok feminis yang berbasis di Delhi, memulai proyek ini, yang disebut “The Moment, As She Knows It” — sejarah lisan Covid-19 seperti yang dilihat oleh jurnalis wanita India — banyak yang masuk hanya untuk mendengarkan dalam barisan.

Segera, mereka masuk setiap hari kerja pada pukul 7 malam, tidak mau ketinggalan cerita mencekam yang mereka harapkan. Fokus utamanya adalah pandemi, tetapi, berkat pertanyaan dari penyelenggara Gather Sisters Tithiya Sharma dan para pemirsa, narasi selama satu jam akhirnya mencakup semua masalah perempuan di negara bagian mereka. Yang secara harfiah, itu berarti segalanya.

Menjadi jelas bahwa para jurnalis muda ini sudah melihat peristiwa dari sudut pandang seorang wanita. Pengabaian tenaga kesehatan sosial yang berada di garda terdepan penanganan pandemi ini mengalir seperti benang merah dalam narasi mereka.

Ruchika M. Khanna dari Tribune dari wilayah Punjab yang berbatasan dengan Pakistan menggambarkan beban ganda yang ditimbulkan pandemi dan penguncian pada perempuan: tidak hanya mengurus rumah tangga, tetapi juga berurusan dengan suami yang tiba-tiba menganggur.

Dia juga berbicara tentang bagaimana protes petani yang sedang berlangsung telah membuat perempuan bertanggung jawab atas keluarga di rumah dan ladang mereka.

Bagi Jyoti Yadav dari The Print, sebuah publikasi yang berfokus pada berita dan analisis, kisah yang menentukan dari pandemi adalah buruh migran hamil yang suaminya inginkan pulang — dan tidak masalah jika istrinya melahirkan dalam perjalanan.

Yadav memastikan wanita itu melahirkan di rumah sakit, tetapi ketika dia berlari keluar untuk memberi tahu suaminya bahwa ibu dan anak itu sehat, dia menangis ketika mendengar bahwa bayi itu adalah seorang perempuan -- anak kelima mereka.

Quratulain Rehbar, seorang jurnalis lepas dari Kashmir, menggambarkan bagaimana pandemi hanya memperburuk kondisi perempuan di daerah yang sudah berada di bawah penguncian militer sejak Agustus 2019, ketika Pasal 370, ketentuan konstitusional yang memberi negara status khusus, dicabut.

Dengan tidak adanya angkutan umum, katanya, perempuan harus berjalan bermil-mil untuk mencapai rumah sakit, takut naik kendaraan yang lewat.

Pergi ke kantor polisi terdekat di Kashmir adalah urusan yang berisiko dan situasi politik yang berubah - termasuk pembubaran komisi perempuan negara bagian -- berarti tidak ada jalan lain yang tersisa bagi perempuan yang terjebak di rumah menghadapi kekerasan dalam rumah tangga.

Hampir 10 tahun menjalani profesinya, banyak wartawan yang menceritakan kisah mereka selama interaksi daring telah meliput komunitas yang paling terpinggirkan.

Krithika Srinivasan dari New Indian Express, misalnya, menceritakan kesulitan yang dihadapi gadis suku Tamil Nadu dalam memasuki perguruan tinggi.

Pekerja lepas Chhandosree Thakur dari Jharkhand, sebuah negara bagian di timur negara itu, menggunakan dialog tersebut untuk berbicara tentang “perburuan penyihir”, dan memberikan slogan Hum sab daayan hain (“Kita semua adalah penyihir”) sambil menjelaskan bahwa pembunuhan terhadap wanita tersebut selalu karena laki-laki menginginkan tanah yang mereka miliki.

Wartawan suku Chhattisgarh Pushpa Rokde, dari surat kabar Prakhar Samachar, mengungkapkan kebrutalan yang terus berlanjut yang dilakukan oleh pasukan keamanan terhadap masyarakat suku itu di distrik Bastar, dan penghinaan terbuka terhadap perempuan suku yang diperlakukan oleh petugas non-suku tersebut.

Di Bihar, dunia yang sama sekali berbeda diungkapkan oleh dua jurnalis senior yang menjelaskan bagaimana gadis-gadis remaja dinikahkan dalam semalam dengan orang asing yang kemudian akan menjual mereka ke dalam prostitusi, dan bagaimana para pemuda diculik dan dipaksa menikah untuk menghindari membayar mahar. “Nyawa di Bihar adalah yang paling murah,” kata mereka dengan getir.

Berjuang untuk Didengar

Wartawan lain menggunakan dialog tersebut untuk membahas tantangan yang mereka hadapi saat melaporkan dari berbagai bagian India, bahkan sebelum pandemi. Tidak dianggap serius oleh birokrat dan politisi laki-laki adalah bahaya profesional.

“Jangan ganggu saya dengan pertanyaan konyol” dan “Anda tidak akan mengerti, sudahlah” adalah di antara beberapa tanggapan yang diterima wartawan wanita dari pejabat.

Iram Siddique dari Indian Express, yang memilih untuk meninggalkan pekerjaannya yang nyaman sebagai reporter di kotanya sendiri di Mumbai dan menjadi koresponden khusus di Madhya Pradesh, sebuah negara bagian yang tidak dikenalnya, ditanyai berapa usianya oleh seorang politisi senior dan diejek olehnya karena kurangnya pengetahuan tentang negara bagian itu.

Deepthi Bathini dan Rishika Sadam dari Print dari Andhra Pradesh menceritakan betapa sulitnya untuk didengar sebagai satu-satunya wanita dalam konferensi pers. Sementara Jyoti Yadav telah dicemooh oleh buruh migran muda di Bihar, Bathini kena kantong plastik air yang dilemparkan padanya saat meliput demonstrasi politik.

Terlepas dari semua ini, betapa istimewanya jurnalis perempuan muda di kota-kota besar dirasakan oleh para jurnalis dari Bihar. Tidak hanya yang terakhir harus menyeimbangkan kehidupan rumah dan kantor, mereka juga harus berjuang dengan transportasi umum yang tidak aman.

Rekan laki-laki mereka juga menyarankan agar mereka menerjemahkan liputan mereka, sambil membenci kehadiran mereka di kantor pada larut malam ("kami diharapkan berada di rumah pada waktu itu," kata seseorang). Ini berarti tekanan luar biasa untuk membuktikan diri mereka mampu melakukan liputan politik dan investigasi.

Para wartawan ini menghadapi tantangan, meskipun dengan biaya besar untuk kesehatan mental mereka, kata Rajni Shankar dari United News of India, sebuah kantor berita.

Jyoti Yadav mengatasi rintangan yang bahkan lebih besar ketika dia kembali ke Haryana sebagai jurnalis yang mengenakan celana jins dan membawa ponsel untuk mewawancarai orang-orang yang melarang jeans dan ponsel untuk anak perempuan.

Menariknya, pendengar tetap serial tersebut adalah veteran pembela hak asasi manusia Tahira Abdullah dari Islamabad.

Jauh dari menemukan akun yang sulit untuk diidentifikasi, dia "merasa seperti di rumah sendiri karena sayangnya semuanya begitu akrab -- sikap patriarki, pelecehan seksual, menimbulkan rasa persaudaraan lintas batas." Ketika Gather Sisters menyusun serial itu, gelombang kedua di India sedang mencapai puncaknya.

Yakin bahwa warga dibohongi, dan bahwa tidak akan ada pertanggungjawaban, kelompok tersebut memutuskan untuk mendengar kebenaran dari laporan saksi mata dari orang-orang yang dapat mereka percayai.

Mengingat jaringan mereka, tidak sulit untuk menemukan campuran reporter yang beragam, satu-satunya kriteria adalah bahwa mereka merupakan "pencari berita" dengan "wawasan dan keberanian untuk melawan narasi resmi." Tak satu pun dari mereka dibayar.

Serial tersebut, kata penyelenggara Tithiya Sharma, membuatnya merasa bahwa “ini adalah waktu yang berbahaya untuk menjadi reporter wanita.”(gijn)

 

Diterbitkan di Berita

Suara.comBanyak cara dilakukan untuk menjaga kesehatan di tengah pandemi, mulai dari berjemur, minum vitamin, olahraga, hingga mengonsumsi makanan bernutrisi. Tapi satu hal yang tidak diketahui banyak orang, yaitu minum kopi hitam. Lho, apa hubungannya?

Manfaat kopi hitam untuk kesehatan sudah sering diungkap dalam berbagai riset. Hal ini lantaran kopi disebut banyak mengandung zat yang mampu melindungi tubuh dari penyakit.

Bahkan, sekarang ini mulai banyak penelitian terkait kopi dan imunitas terhadap Covid-19 yang dilakukan banyak institusi, khususnya di luar negeri. Beberapa data dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang minum kopi 3 cangkir sehari lebih kebal terhadap virus Covid-19. 

Kopi hitam banyak mengandung polifenol dan fenolik yang berperan dalam imunitas tubuh. Keduanya diketahui memiliki sifat antiinflamasi dan antioksidan.

Kandungan antioksidan dalam kopi hitam membantu memelihara kesehatan jantung dan juga irama detak jantung, sehingga minum kopi hitam rutin dapat mencegah penyakit jantung.

Dilansir dari laman Theraflu, ahli gizi Ashley Reaver mengatakan bahwa kandungan antioksidan dalam kopi membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan membantu memerangi inflamasi.

Hal tersebut juga telah dibuktikan dalam riset yang diterbitkan Pharmacology & Therapeutics di tahun 2006. Tidak hanya itu, kopi hitam juga dapat memberikan energi, menurunkan berat badan, dan meningkatkan fokus.

Kandungan kafein yang ada dalam kopi dapat meningkatkan suasana hati, membantu otak bekerja lebih baik, dan meningkatkan stamina selama melakukan olahraga.

Minum kopi tanpa gula dapat menghilangkan bakteri dan toksin dari dalam perut. Bakteri dan toksin ini akan dikeluarkan lewat urin. Kopi hitam juga membantu menghentikan pertumbuhan parasit jahat yang bisa menimbulkan masalah kesehatan perut.

Dilihat dari sisi nutrisi, kopi hitam lebih banyak mengandung vitamin dan mineral, termasuk vitamin B1, vitamin B3, vitamin B2, vitamin B5, magnesium, kalsium, potassium, dan mangan. Semua ini diperlukan tubuh setiap hari untuk kesehatan yang optimal.

Selain kafein, di dalam kopi hitam ada beberapa zat lain yang mendukung peningkatan pertahanan imun tubuh, yaitu antioksidan polifenol dan L-theanine.

Keberadaan antioksidan polifenol dalam kopi hitam dapat membantu mencegah penyakit utama seperti diabetes, masalah jantung, penyakit saraf, osteoporosis, dan kanker.

Sedangkan L-theanine memiliki produk metabolisme, yaitu Ethylamine, yang juga ditemukan dalam teh hitam, dan memicu reaksi sel T tertentu, yang membantu sistem imun untuk melindungi tubuh dari penyakit dan infeksi.

Saat terserang Covid-19, biasanya orang cenderung merasa lemas, ditambah sistem imun yang melemah memudahkan infeksi lain dalam tubuh. Keberadaan zat tersebut sangat menguntungkan untuk membantu pemulihan lebih cepat.

Untuk mendapatkan efek positif dari kopi hitam di masa pandemi Covid-19, sebagian besar terjadi lewat asupan kafein tingkat sedang.

Lalu, berapa jumlah kafein yang disarankan? Jumlah asupan yang disarankan adalah 400 miligram kafein atau sekitar tiga hingga empat cangkir kopi per hari. Jumlah tersebut dianggap ideal untuk orang dewasa yang sehat.

Dan bagi ibu hamil, disarankan hanya mengkonsumsi kopi tak lebih dari 2 cangkir per hari. Namun, untuk orang-orang muda sebaiknya tidak mengkonsumsi kafein lebih dari 100 mg per hari.

Nah, tertarik untuk mulai minum kopi hitam hari ini? Ada banyak manfaat lain yang bisa dijadikan alasan untuk minum kopi hitam sekali setiap hari, selain membuat mata terjaga lebih lama dan juga menghilangkan stres.

Berikut manfaat kopi bagi kesehatan yang sudah ditemukan oleh para ahli.

1. Meningkatkan Fungsi Otak dan Memperbaiki Mood
Bicara soal manfaat kopi hitam bagi otak, ternyata sangat banyak dan juga menguntungkan. Setelah Anda meminum kopi hitam, kafein yang diserap oleh tubuh Anda akan menghambat hormon adenosin.

Dengan terhambatnya adenosin, produksi dopamin dan norepinefrin jadi bertambah. Dopamin mempengaruhi mood sehingga Anda lebih ceria, sementara norepinefrin dapat meningkat denyut jantung Anda.

Hal ini berbeda dengan kokain atau ekstasi yang lama kelamaan memperburuk fungsi otak, mengonsumsi kafein dalam takaran wajar dapat membuat otak dan mood lebih baik.

Kafein yang terdapat pada kopi hitam ternyata mampu membuat otak Anda bekerja lebih baik, lho. Anda dapat mengingat lebih tepat, memproses informasi lebih cepat, dan lebih fokus.

Itu sebabnya, tak jarang bagi penikmat kopi hitam merasakan sensasi rasa kantuk yang seolah menghilang setelah meminumnya.

2. Menambah Energi
Dengan minum kopi hitam, kefein mendorong tubuh memproduksi epinephrine, adrenalin dalam darah sehingga mampu memberi stimulus pada sistem saraf.

Tak hanya itu, kafein juga sangat ampuh meningkatkan metabolisme dalam tubuh sebanyak 3-11% lebih baik. Untuk melakukan proses perubahan ini kafein menggunakan energi dari lemak darah.

Alasan tersebut menjadikan tubuh terasa lebih berenergi dan bersemangat setelah minum kopi.

3. Obat Sakit Kepala
Dalam kondisi sakit kepala dan stres, minum segelas kopi merupakan langkah awal yang tepat untuk meredakan sakit kepala sementara. Kafein berperan penting dalam membantu mengurangi rasa sakit migrain dan sakit kepala ringan akibat peradangan.

Menurut riset yang dilakukan oleh peneliti di Department of Emergency Medicine, Shohadaye Tajrish Hospital pada 2016, kopi hitam aman dikonsumsi bersama dengan obat pereda nyeri seperti acetaminophen, aspirin, atau ibuprofen.

Bahkan, mengkonsumsi jenis obat tersebut dengan meminum kopi hitam meningkatkan efektifitas obat hingga 40%. Hal ini karena kafein dapat melebarkan aliran darah sehingga rasa sakit dapat berkurang.

Studi tentang manfaat kopi di bidang obat masih terus berlanjut hingga saat ini. Namun, meski banyak potensinya bagi kesehatan, jangan mencampurnya dengan jenis obat lain sebelum ada anjuran ahli, ya.

4. Mencegah Parkinson dan Alzheimer
Jika Anda pecinta kopi hitam, atau kopi pahit, meminum kopi hitam secara rutin dapat mengurangi risiko penyakit neurodegeneratif seperti parkinson dan alzheimer, penyakit neurodegeneratif yang menyebabkan penderitanya mengalami penurunan fungsi saraf, perubahan kepribadian, kehilangan memori, hingga demensia. Kedua penyakit ini adalah penyumbang terbesar penderita demensia di dunia.

Penelitian yang dilakukan National Food and Nutrition Institute, Warsawa, Polandia menunjukan bahwa peminum kopi memiliki 65% resiko lebih kecil menderita alzheimer dan 40% lebih kecil terjangkit parkinson.

5. Mengurangi Risiko Diabetes Tipe II
Minum kopi hitam secara rutin ternyata memiliki resiko mengidap diabetes tipe II lebih rendah. Diabetes tipe II adalah penyakit degeneratif yang disebabkan oleh kombinasi antara gaya hidup yang kurang sehat dan faktor genetik.

Banyak penelitian yang menyatakan tentang konsumsi kopi hitam bagi kesehatan memang sangat baik. Akan tetap, Anda harus tetap memperhatikan konsumsi gula saat menikmatinya.

Kopi hitam pada dasarnya memiliki rasa pahit alami yang khas dan beberapa orang memilih untuk menambahkan gula. Itu tidak salah, yang salah hanyalah ketika terlalu berlebih.

Pada dasarnya, biji kopi memiliki kandungan gula alami di dalamnya. Bahkan setelah di-roasting, kandungan gula dalam bijinya tidak hilang dan malah terkaramelisasi.

Selain gula alami, di dalam biji kopi juga terdapat asam klorogenat yang mampu membakar lemak darah menjadi energi. Hal tersebut juga menjadi salah satu alasan setelah minum kopi seseorang langsung merasa lebih fokus dan semangat.

Sayangnya, kebanyakan orang Indonesia mengkonsumsi minuman ini dengan gula. Sehingga, pembakaran lemak darah tidak terjadi karena tubuh mengambil energi dari gula.

Dengan sederet manfaat kesehatan di atas, termasuk dalam hal peningkatan imun, tak salah jika manfaat kopi sangat disoroti selama masa pandemi. Kemudahan menyiapkan dan menyajikan kopi mendasari pilihan jenis kopi yang dibeli untuk dikonsumsi selama pandemi Covid-19 ini.

Mulai dari kopi instan atau kopi sachet yang tersedia di berbagai gerai dengan harga terjangkau, hingga kopi bubuk dalam kemasan, dan tentu saja kopi literan yang bisa langsung dinikmati tanpa perlu keluar rumah.

Tapi ingat, minum kopi untuk meningkatkan imun selama pandemi guna menghadapi virus Covid-19 juga harus dibarengi dengan rutin berolahraga, nutrisi lengkap dan seimbang, serta istirahat yang cukup, ya.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) Hermawan Saputra menyebut Indonesia berpotensi masuk fase hiperendemi ketika beberapa negara lain masuk tahap endemi selepas pandemi virus corona (Covid-19).

"Kalaupun pandemi itu dicabut, boleh jadi menjadi endemi, bahkan hiperendemi. Indonesia potensial menjadi negara hiperendemi," kata Hermawan kepada CNNIndonesia.com, Selasa (24/8).

Sebagai informasi, pandemi merujuk pada situasi wabah penyakit yang terjadi serempak dimana-mana, meliputi daerah geografis yang luas.

Sementara endemi adalah penyakit yang muncul dan menjadi karakteristik di wilayah tertentu. Biasanya, penyakit tersebut sudah bisa dikendalikan dalam jangka waktu yang lama.

"Hiperendemi bisa jadi kasus itu masih tinggi, karena statusnya dicabut WHO. Artinya kasus itu belum terkendali secara signifikan," ujar Hermawan.

Hermawan menilai WHO belum mencabut status pandemi global karena penyebaran Covid-19 di sejumlah negara masih kritis, termasuk Indonesia.

Menurutnya, Indonesia belum bisa mengendalikan penularan virus corona dengan baik. Hal ini terlihat dari tambahan kasus positif dan kematian Covid-19 yang masih terbilang tinggi.

"Kita ini dilihat oleh WHO belum keluar dari critical momentum-nya malah. Artinya masih tinggi ya angka kesakitan, kematian, dan sebagainya," katanya.

Hermawan mengaku tak tahu kapan WHO akan mencabut status pandemi global. Namun, ia memprediksi keputusan itu bisa saja dilakukan akhir tahun ini karena beberapa negara sudah bisa mengendalikan penyebaran virus corona.

"Perkiraan saya WHO akan mencabut pandemi ini di akhir 2021. Melihat konstelasi global, banyak negara dunia yang sudah mampu mengendalikan," ucapnya.

Hermawan mengusulkan pemerintah menyiapkan perencanaan (road map) secara menyuluruh sebelum memasuki fase hiperendemi. Menurutnya, pemerintah tak cukup hanya hanya menyiapkan protokol kesehatan.

"Negara kita potensial menjadi hiperendemi, road map-nya harus menyeluruh," kata Hermawan. Hermawan menyatakan permasalahan Covid-19 itu kompleks.

Menurutnya, yang dihadapi bukan hanya penambahan kasus Covid-19, melainkan penyakit peneyerta atau komorbid pasien yang bisa memperburuk kondisi.

Hermawan menyoroti beberapa penyakit besar yang sudah dianggap berisiko tinggi saat tertular Covid-19, seperti stroke, jantung, gagal ginjal, diabetes, tuberkolosis, dan malaria. Menurutnya, road map yang harus disiapkan harus mengacu pada ketahanan kesehatan di masyarakat.

"Road map bukan hanya Covid nya, tapi menyangkut risiko penyakit lain yang menjadi faktor yang memperburuk keadaan," ujarnya.

"Kalau bicara kesehatan itu, dalam road map seolah hanya rumah sakit, dokter, dokter spesialis, klinik. Padahal upaya ketahanan kesehatan masyarakat itulah yang menjadi hulu," kata Hermawan menambahkan.

Sebelumnya Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) Airlangga Hartarto mengungkap Presiden Joko Widodo memiliki rencana program yang diistilahkan sebagai "pandemik bertransisi menuju endemik".

Pemerintah sedang menyusun sejumlah program untuk mencapai itu dan mulai dilaksanakan tahun 2022. "Khusus tahun depan, kita lihat perlu ada program menggeser atau yang diistilahkan Bapak Presiden adalah dari pandemik bertransisi menuju endemik," kata Airlangga dalam wawancara eksklusif di CNNIndonesia TV, Kamis (29/7).

Sampai kemarin, Selasa (24/8), total kasus positif Covid-19 di Indonesia mencapai 4.008.166 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.606.164 orang sembuh, 128.252 orang meninggal, dan 273.750 orang masih dalam perawatan.

(yla/fra)

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id—Pandemi Covid-19 yang melanda dunia selama lebih dari setahun ini membatasi pergerakan sosial di masyarakat. Sebagian masyarakat mengurangi aktvitas sosial di luar rumah, termasuk berolahraga.

Padahal, menurut Bompa (1994), olahraga bertujuan untuk meningkatkan fungsi fisiologi tubuh seseorang. Kementerian Pemuda dan Olahraga dan World Health Organization (WHO) lantas memberikan kiat-kiat untuk tetap dapat berolahraga dengan baik di tengah pandemi.

Penelitian terdahulu menyatakan olahraga kesehatan mampu meningkatkan sekresi hormon endorfin yang dapat meningkatkan imunitas tubuh (Nia Sri Ramania, dkk., 2020).

Bahkan, salah satu empat kegiatan penting dalam melawan Covid-19 yang dianjurkan oleh pemerintah adalah berolahraga. Adapun kegiatan lainnya adalah pemenuhan nutrisi yang baik, istrirahat yang cukup, dan penanganan stres.

Kegiatan berolahraga selalu dikaitkan dengan kebugaran tubuh. Semakin bugar keadaan tubuh seseorang, semakin tinggi derajat sehat orang tersebut.

Namun, perlu diperhatikan pula olahraga yang dilakukan harus memenuhi kriteria olahraga kesehatan, yaitu durasi minimum pelaksanaannya selama 20 menit, intensitas yang submaksimal, dan adanya seminimalnya keterlibatan otot besar yang bergerak serempak dalam tubuh.

Penelitian yang Dilakukan

Tim peneliti Kelompok Keilmuan Ilmu Keolahragaan dan Kelompok Keilmuan Farmakologi Klinik Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung melakukan pengamatan terkait perbandingan tingkat kebugaran antara populasi sampel yang terpapar oleh Covid-19 dan populasi sampel yang tidak pernah terpapar oleh Covid-19.

Kegiatan ini dilakukan melalui kegiatan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarat (LPPM) ITB. Tim peneliti yang diketuai oleh Dr. Nia Sri Ramania, M.Sc. ini berkolaborasi dengan tim dokter Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Bagian Rehabilitasi Medik serta peneliti muda Bagus Winata.

Studi ini dilakukan melalui pengukuran performa, meliputi antropometri dan V02max atau cardiorespiratory fitness dari kedua jenis populasi sampel tersebut.

Nantinya, hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran bagi masyarakat akan pentingnya olahraga dalam pembasmian virus Covid-19.

Hasil Penelitian

Nilai V02max merupakan kemampuan maksimal seseorang untuk mengonsumsi oksigen saat sedang melakukan aktivitas yang intens. Atas dasar pertimbangan itulah pengukuran V02max dilakukan.

Melalui penelitian ini didapatkan temuan V02max populasi sampel yang tidak pernah terpapar Covid-19 lebih baik (39 mVmin-1/kg-1) daripada hasil pada populasi sampel yang terpapar Covid-19 (28 ml/min-1/kg-1).

Hal ini membuktikan semakin baik V02max seseorang, semakin rendah risiko terpaparnya Covid-19.

Prinsip ATM

 

Selain melakukan penelitian, tim peneliti gabungan ini juga mengampanyekan kiat olahraga kesehatan yang tepat. Kiat-kiat ini meliputi perhitungan denyut nadi, pengenalan intensitas, dan durasi latihan olahraga kesehatan yang tepat.

Ditemukan pula sebuah rumusan prinsip saat berolahraga yang disebut dengan prinsip ATM. ATM merupakan kepanjangan dari aman, terukur, dan menyenangkan.

Saat berolahraga, harus dipilih kegiatan yang aman agar esensi dari aktivitas olahraga ini tetap sesuai, yaitu meningkatkan fungsi fisiologi tubuh.

Selain itu, kegiatan ini harus terukur agar dapat menggambarkan kegiatan olahraga yang dilakukan dan mengetahui kemampuan tubuh kita. Terakhir, kegiatan olahraga harus menyenangkan agar dapat membantu fungsi fisiologi dan psikologi secara opimal.

Dengan demikian, jangan lupa berolahraga agar imunitas bisa meningkat.

 

Program pengabdian masyarakat ini telah dipublikasi di Media Indonesia rubrik Rekacipta ITB pada 10 Agustus 2021 melalui web pengabdian LPPM ITB

Reporter: Hanan Fadhilah Ramadhani (Teknik Sipil Angkatan 2019)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Bambang Soesatyo menyatakan pandemi Virus Corona (Covid-19) berpotensi memicu kebangkitan ideologi radikal. Hal tersebut ia sampaikan dalam pidato pembukaan Sidang Tahunan MPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (16/8).

"Yang juga patut diwaspadai adalah potensi bangkitnya nilai-nilai, paham individualisme, komunisme, intoleransi, separatisme, radikalisme, terorisme, dan etnonasionalisme di tengah ketidakpastian akibat pandemi Covid-19," kata pria yang akrab disapa Bamsoet itu dalam pidatonya.

Oleh karena itu, Bamsoet meminta perang terhadap pandemi Covid-19 dilakukan dengan peningkatan ketahanan ideologi masyarakat, selain dengan penguatan tubuh dengan vaksinasi.

Menurut dia, dalam kerangka itu, MPR terus melakukan vaksinasi ideologi Pancasila melalui sosialisasi empat pilar MPR.

"Yaitu Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara, UUD NRI Tahun 1945 sebagai konstitusi negara, NKRI sebagai bentuk negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara kepada seluruh lapisan masyarakat di seluruh wilayah tanah air," ujar Bamsoet.

Lebih lanjut, Politikus Partai Golkar itu, melalui vaksinasi ideologi, ia meyakini segala potensi ancaman dan gangguan yang berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa akan dapat dicegah dan ditangkal.

Ia juga percaya, wabah Covid-19 justru akan semakin memperkuat ketahanan ideologi Indonesia. Menurut dia, Covid-19 tidak hanya menjadi tantangan, tetapi menjadi peluang baru bagi Indonesia.

"Tetapi menjadi peluang untuk bangkit beradaptasi dengan tuntutan dinamika, situasi dan kondisi yang baru," pungkasnya.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkap bahwa penyebaran propaganda kelompok terorisme dan pendanaannya meningkat di masa pandemi.

(dmi/arh)


Diterbitkan di Berita

medcom.id Jakarta: Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menilai tokoh agama berperan penting dalam penanganan pandemi covid-19. Tokoh agama diharapkan bijak saat menyampaikan pendapat.

"Lebih bijak, mawas diri, dan terukur dalam menyampaikan pendapat dan pernyataan terkait pandemi covid-19," kata Yaqut melalui keterangan tertulis, Minggu, 8 Agustus 2021.

Tokoh agama dinilai sebagai figur yang dijadikan contoh oleh umat. Sosok tokoh agama juga berperan menenangkan umat di tengah badai pandemi covid-19.

"Oleh karena itu, para tokoh agama diharapkan dapat menjadi teladan dalam melawan covid-19," ujar Yaqut. Yaqut menuturkan pemerintah tidak bisa jalan sendiri dalam menghadapi pandemi. Perlu kesadaran, empati, kerja sama, dan sinergitas seluruh elemen bangsa.
 
"Kami percaya, para alim ulama, para pengasuh pondok pesantren, pimpinan ormas keagamaan, dan pemuka agama akan selalu bersama-sama pemerintah untuk ikut serta mencegah dan menangani pandemi covid-19," ujar Yaqut.
  
(REN)

Diterbitkan di Berita

sindonews.com JAKARTA - Keberadaan baliho tokoh politik di tengah pandemi Covid-19 sekarang ini dinilai memiliki sisi negatif. Masyarakat diyakini akan menilai sejumlah tokoh yang ada di baliho tersebut tidak sensitif terhadap penderitaan rakyat.

"Menurut saya akan ada efek bumerang. Justru menyerang balik si tokoh yang ada di baliho itu. Orang enggak mempersepsi itu sebagai komitmen mereka untuk maju di 2024, tapi orang akan bisa mempersepsi itu sebagai tokoh yang enggak sensitif terhadap penderitaan rakyat," ujar Direktur Eksekutif Lembaga Survei KedaiKOPI Kunto Adi Wibowo kepada SINDOnews, Sabtu (7/8/2021).

Dia menambahkan, hidup sebagian besar masyarakat sedang susah di tengah pandemi.

"Lagi PPKM, banyak warung tutup, tempat wisata enggak berjalan, terus duit dihambur-hamburkan untuk baliho. Nah ini mungkin yang ada di benak atau di persepsi pemilih," ujarnya. Sejumlah tokoh politik di berbagai baliho itu, kata dia, mengharapkan popularitas.

"Popularitas dapat, tapi elektabilitas itu akan malah berkurang, enggak malah nambah dan berkurang. Menurut saya itu yang harus diperhatikan ketika masang baliho waktu krisis pandemi ini, apalagi PPKM, ekonomi masyarakat juga sedang seperti ini," ungkapnya.

Dia pun menyarankan agar para tokoh politik lebih terjun langsung menemui masyarakat dengan memberikan bantuan yang dibutuhkan di tengah pandemi ini.

"Dan saya yakin pemilih yang disasar oleh bantuan dari tokoh-tokoh ini walaupun tasnya atau goodie bag-nya disablon dengan wajah mereka, karena isinya memang dibutuhkan, itu akan lebih diingat oleh pemilih daripada baliho yang berjajar di pinggir jalan yang enggak akan membuat perut kenyang," pungkasnya.
(zik)

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Kantor Staf Kepresidenan (KSP) menyayangkan adanya rencana aksi demonstrasi menolak kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) saat pandemi karena dapat menyebabkan kerumunan massa yang memicu risiko penularan COVID-19.

Deputi IV Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Bidang Informasi dan Komunikasi Politik Juri Ardiantoro dalam siaran pers di Jakarta, Sabtu, mengatakan saat ini yang dibutuhkan adalah empati terhadap semua pejuang pandemi COVID-19, yakni para tenaga kesehatan dan pasien yang sedang berusaha sembuh dari infeksi virus corona.

“Termasuk empati kepada aparat yang menjaga masyarakat agar taat protokol kesehatan dan masyarakat yang bahu membahu mengatasi pandemi serta berusaha meringankan beban ekonomi,” kata Juri.

Juri mengatakan justru saat ini masyarakat harus menghindari aktivitas kerumunan seperti demonstrasi karena bisa mempercepat persebaran COVID-19

“Penting sekali untuk menghindari aktivitas yang menyebabkan kerumunan. Hal itu seperti aksi-aksi demonstrasi yang bisa menjadi klaster penyebaran COVID-19, dimana saat ini daya penularannya sangat cepat,” ujar Juri.

Hal tersebut disampaikan KSP menanggapi beredarnya pesan berantai dan berbagai unggahan di media sosial yang mengajak masyarakat untuk melakukan demonstrasi di jalan.

Aksi turun ke jalan menolak PPKM telah dilakukan di beberapa kelompok masyarakat dalam beberapa waktu terakhir.

Juri mengingatkan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah berkali-kali menyatakan pemerintah terbuka dan menghargai berbagai kritik dari berbagai pihak.

“Sebagaimana disampaikan Presiden, pemerintah memahami bahwa kehidupan masyarakat saat ini sedang mengalami tekanan yang tidak ringan, tetapi kebijakan pembatasan-pembatasan kegiatan masyarakat harus diambil untuk menurunkan angka penularan COVID-19 yang sedang tinggi dan mencegah lumpuhnya rumah sakit akibat kewalahan menerima pasien,” katanya.

Meskipun diterapkan kebijakan PPKM, kata Juri, pemerintah menggulirkan kebijakan bantuan sosial dan ekonomi untuk meringankan beban hidup masyarakat yang bergantung pada penghasilan harian.

“Oleh karena itu pemerintah menambah bantuan berupa pembagian beras, pendirian dapur-dapur umum, selain yang sudah berjalan seperti subsidi listrik, bansos, BLT dana desa, subsidi kuota internet, Program Keluarga Harapan (PKH), dan kartu sembako,” ujarnya.

Selain itu, pada saat yang sama pemerintah membangun sistem yang memudahkan pengobatan pasien COVID-19. Hal itu termasuk bagi yang sedang menjalani isolasi mandiri (isoman) dengan layanan telemedisin dan obat gratis.

Menurut Juri, kolaborasi dari seluruh komponen masyarakat adalah kunci untuk bisa mengatasi pandemi COVID-19. Hal itu bisa dimulai dengan kedisplinan untuk mematuhi protokol kesehatan hingga bergotong royong membantu masyarakat sekitar yang sedang isoman.

“Banyak saudara kita yang membutuhkan obat-obatan dan alat kesehatan lain untuk sembuh dari COVID-19. Banyak juga saudara-saudara kita yang sedang kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mari kita gotong royong bersama dengan pemerintah mengatasi semua kesulitan ini,” kata Juri.

Pewarta: Indra Arief Pribadi
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

Jakarta (Kemenag) --- Pandemi telah berdampak pada ekonomi masyarakat. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pengurus Pusat Muhammadiyah mengimbau masyarakat mendonasikan atau mensedekahkan dana kurbannya untuk membantu warga terdampak Covid-19.

"Pandemi Covid-19 telah menimbulkan dampak buruk di masyarakat terutama timbulnya masalah sosial-ekonomi. Oleh karena itu, PBNU mengimbau warga nahdliyin yang memiliki kemampuan secara ekonomi agar mendonasikan dana yang akan dibelikan hewan, untuk membantu masyarakat yang terdampak Covid-19," demikian dikutip dari Surat Edaran PBNU 4162/C.I.34/07/2021, Sabtu (17/7/2021).

Surat edaran ini terbit pada 28 Dzulqa'dah 1442 H atau 9 Juli 2021. SE ini ditandatangani Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekjen PBNU H Ahmad Helmy Faishal Zaini, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf.

Meski demikian, PBNU mempersilakan warga yang mampu bila ingin tetap membeli hewan kurban, serta membantu warga terdampak Covid-19.

"Warga nahdliyin yang memiliki kemampuan untuk berdonasi dalam rangka membantu penanggulangan dampak Covid-19, dan juga memiliki kemampuan untuk melaksanakan kurban dipersilakan untuk melaksanakan keduanya," demikian tertulis dalam poin d edaran tersebut.

Dalam ketentuan lainnya, edaran ini menjelaskan, tempat-tempat yang dinyatakan aman dari Covid-19 oleh pemerintah setempat dan satgas Covid-19 dapat melaksanakan Salat Iduladha di masjid/mushalla dengan menjalankan protokol kesehatan ketat. Sedangkan daerah yang menjalankan PPKM Darurat diminta untuk tidak melaksanakan salat di masjid/mushalla atau lapangan.

Imbauan senada disampaikan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang tertuang dalam edaran Nomor 05/EDR/I.0/E/2021 tentang Imbauan Perhatian, Kewaspadaan, dan Penanganan Covid-19, serta Persiapan Menghadapi Idul Adha 1442 Hijriah. Imbauan ini ditandatangani Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Syamsul Anwar dan Sekretaris Mohammad Mas'udi di Yogyakarta, 2 Juli 2021.

Selain mengimbau Salat Iduladha di rumah, PP Muhammadiyah menyarankan umat muslim yang hendak berkurban, bisa dialihkan dengan bersedekah menggunakan uang tunai. Sebab, jumlah kaum dhuafa di Indonesia meningkat karena dampak pandemi Covid-19. Sehingga, 
sangat disarankan agar umat Islam yang mampu untuk lebih mengutamakan bersedekah berupa uang daripada menyembelih hewan kurban.

Meski demikian, PP Muhammadiyah juga mempersilakan umat muslim yang mampu untuk melangsungkan keduanya baik berkurban dan bersedekah uang tunai. Baik membantu duafa maupun berkurban, keduanya mendapatkan pahala di sisi Allah SWT.

 
Diterbitkan di Berita
Halaman 1 dari 3