Perang Iran dorong inflasi AS ke 3,8%, Trump disorot

Rabu, 13 Mei 2026 21:04
(0 pemilihan)

idnfinacials JAKARTA - Inflasi tahunan Amerika Serikat melonjak ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir pada April 2026, dipicu kenaikan tajam harga energi dan pangan di tengah konflik AS-Israel melawan Iran.

Lonjakan harga yang meluas itu memperbesar tekanan politik terhadap Presiden Donald Trump menjelang pemilu sela (by-election) November mendatang.

Seperti dikutip Reuters, data departemen tenaga kerja AS yang dirilis Selasa menunjukkan indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) naik 0,6% secara bulanan pada April setelah melonjak 0,9% pada Maret.

Secara tahunan, inflasi mencapai 3,8%, tertinggi sejak Mei 2023, naik dari 3,3% pada bulan sebelumnya.

Kenaikan inflasi, terutama dipicu lonjakan biaya energi setelah perang di Timur Tengah, mendorong harga minyak sempat menembus US$100 per barel pada Maret.

Meski harga minyak sempat turun usai gencatan senjata awal April, biaya bahan bakar tetap tinggi dan mulai menjalar ke berbagai sektor ekonomi.

Harga energi naik 3,8% dan menyumbang lebih dari 40% kenaikan CPI April. Harga bensin melonjak 5,4% setelah melejit 21,2% pada Maret, sementara harga solar naik 17%.

Tarif listrik juga meningkat akibat tingginya permintaan pusat data kecerdasan buatan.

Tekanan inflasi semakin meluas ke sektor pangan dan jasa. Harga makanan naik 0,5% setelah stagnan pada Maret. Inflasi bahan pangan di toko ritel melonjak 0,7%, terbesar sejak Agustus 2022.

Harga daging sapi naik 2,7%, tertinggi sejak November 2024. Harga kopi naik 2%, buah dan sayur naik 1,8%, sementara minuman nonalkohol meningkat 1,1%. Produk susu dan telur juga mencatat kenaikan signifikan.

Ekonom memperingatkan inflasi pangan masih berpotensi meningkat akibat gangguan pasokan pupuk dan terganggunya rantai distribusi global, terutama di Selat Hormuz.

Trump, yang memenangkan pemilu 2024 dengan janji menekan inflasi, kini menghadapi penurunan dukungan publik. Kenaikan inflasi kini melampaui pertumbuhan upah untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, memperbesar tekanan terhadap daya beli rumah tangga AS.

“Harga terus naik di mana-mana dan keluarga di mana pun berjuang untuk mengimbanginya,” kata Janelle Jones, Senior Fellow Century Foundation.

“Langkah-langkah seperti menangguhkan pajak bensin akan memberikan bantuan jangka pendek, tetapi itu sama saja mengambil dari satu pihak untuk diberikan kepada pihak lain. Yang benar-benar dibutuhkan keluarga adalah mengakhiri perang ini dan para pemimpin yang berkomitmen untuk mengakhiri krisis keterjangkauan," ujarnya.

Trump pada Senin mengusulkan pemangkasan pajak federal bensin sebesar 18,4 sen per galon guna meredam kenaikan harga bahan bakar.

Kenaikan inflasi juga memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Pekan lalu, data tenaga kerja AS menunjukkan kenaikan payroll nonpertanian melampaui perkiraan, sementara pertumbuhan upah tahunan tercatat 3,6%.

The Fed bulan lalu mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%, yang memicu reaksi negatif pasar keuangan.

Bursa saham Wall Street melemah, imbal hasil obligasi pemerintah AS naik, dan dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama.

Ekonom RSM, Joseph Brusuelas, memperingatkan ekonomi AS mulai mendekati fase “stagflation lite” pada 2026, yakni kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melemah.

“Inilah mengapa stagflasi ringan tetap menjadi patokan ekonomi untuk tahun 2026 dengan risiko utama inflasi dan bukan pertumbuhan yang lebih lambat,” ujar Brusuelas.

Sementara itu, inflasi inti AS yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi naik 0,4% pada April, terbesar sejak Januari 2025. Kenaikan tersebut turut dipicu lonjakan biaya sewa rumah dan tarif penerbangan.

Biaya sewa melonjak 0,5%, sedangkan tarif hotel dan motel naik 2,8%. Tarif penerbangan juga meningkat 2,8% akibat mahalnya bahan bakar jet.

Harga alas kaki mencatat kenaikan terbesar dalam lima tahun, sementara harga furnitur rumah tangga naik 0,7%, mengindikasikan dampak tarif impor Trump mulai diteruskan ke konsumen.

Ekonom BMO Capital Markets, Scott Anderson, menilai penutupan Selat Hormuz menjadi ancaman serius bagi upaya The Fed mengendalikan inflasi.

“Penutupan Selat Hormuz berdampak signifikan terhadap kemampuan The Fed untuk mengendalikan inflasi,” kata Anderson. (DH)

 

Sumber: https://www.idnfinancials.com/id/news/63751/perang-iran-dorong-inflasi-as-ke-3-8-trump-disorot

 

Baca 9 kali Terakhir diubah pada Rabu, 13 Mei 2026 21:10
Bagikan: