SEJUMLAH unggahan di platform Facebook, X, dan TikTok [arsip] menyebarkan narasi yang menuding Singapura sebagai penyebab melemahnya nilai rupiah. Konten-konten itu beredar di tengah melemahnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (US$) yang sempat mencapai Rp 18.049 pada Kamis, 4 Juni 2026. Unggahan tersebut menyertakan data Pusat Pelaporan dan Transaksi Keuangan (PPATK) mengenai capital outflow dari Indonesia ke Singapura yang mencapai Rp 3.595 triliun. Singapura kemudian dituding menguras US$ dari Indonesia. Benarkah Singapura menjadi dalang melemahnya rupiah? PEMERIKSAAN FAKTA Tempo memverifikasi konten itu dengan mewawancarai pakar dan artikel dari sumber kredibel. Hasilnya, aliran dana dari dan ke Singapura tidak dapat diartikan sebagai faktor melemahnya rupiah. Aliran Uang Singapura-Indonesia Angka Rp 3.595 triliun didapat dari laporan PPATK pada semester I tahun 2024. Dikutip dari Bisnis.com, PPATK mencatat outgoing atau uang asal Indonesia yang ditransfer ke luar negeri lebih banyak ke Singapura dibandingkan Amerika Serikat dan Cina. Triliunan uang asal Indonesia juga mengalir ke Hong Kong, Inggris, Jepang, hingga Korea Selatan. PPATK menolak berkomentar soal fenomena aliran uang ribuan triliun ke Singapura. Termasuk, apakah uang tersebut merupakan dana yang wajar atau berasal dari tindak pidana pencucian uang. Berdasarkan laporan PPATK pada tahun yang sama, Singapura menjadi negara dengan transfer dana (incoming) dengan nominal transaksi terbesar pada Mei 2024, yaitu Rp 228,285 triliun. Hanya saja angkanya tidak sebesar dana yang keluar dari Indonesia ke Singapura (outgoing) sebesar Rp 1.792,502 triliun. BACA JUGA Meski demikian, aliran uang ke Singapura tidak dapat diartikan sebagai penyebab melemahnya nilai rupiah. Capital Outflow Keputusan Investor, Bukan Negara Tertentu Keterkaitan Singapura dengan melemahnya rupiah adalah faktor ekspektasi dari para investor. Pengamat ekonomi dan investasi dari Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, menjelaskan investor Singapura memang banyak yang membeli surat utang atau obligasi dari Indonesia. Penarikan dana investor secara besar-besaran, biasa disebut capital outflow, sangat mungkin melemahkan nilai rupiah. Namun, penarikan dana oleh investor terjadi karena faktor-faktor yang sangat obyektif dan rasional. Misalnya, konflik di Timur Tengah yang tidak hanya mempengaruhi ekonomi Indonesia, tetapi juga menyebabkan gejolak dalam skala global. “Investor-investor tersebut tidak berkaitan dengan negara atau pemerintah dari negara mana pun. Ini murni keputusan investasi,” ujar Anthony saat dihubungi Tempo pada Rabu, 10 Juni 2026. Menurut Anthony, capital outflow juga terjadi di emerging market atau perekonomian negara berkembang lainnya, bukan hanya di Indonesia. Pengaruhnya bagi Indonesia lebih besar karena faktor fundamental ekonomi indonesia lebih buruk. Faktor fundamental dipengaruhi oleh ketersediaan (supply) dan permintaan (demand). Bank Indonesia mencatat transaksi modal dan finansial pada triwulan I 2026 mengalami defisit US$ 4,9 miliar. Padahal pada triwulan sebelumnya, transaksi itu mengalami surplus US$ 9 miliar. BI menyebut defisit ini dipengaruhi ketidakpastian pasar keuangan global, pembayaran pinjaman luar negeri yang jatuh tempo, serta penempatan kas dan aset di luar negeri. “Neraca transaksi berjalan Indonesia defisit. Sedangkan Vietnam, Thailand, Malaysia surplus. Jangan ditanya Singapura,” ucap Anthony. Faktor-faktor Melemahnya Rupiah Dalam artikel Cek Fakta Tempo edisi 4 Juni 2026, Ekonom Universitas Gadjah Mada Denni Puspa Purbasari, menjelaskan melemahnya rupiah terhadap US$ karena faktor fundamental dan ekspektasi. Faktor fundamental berkaitan dengan interaksi antara ketersediaan (supply) dan permintaan (demand). Konflik geopolitik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang memicu lonjakan harga minyak dan tingginya defisit transaksi juga memicu pelemahan rupiah. Adapun faktor ekspektasi berhubungan dengan sentimen atau proyeksi pasar yang dipengaruhi iklim investasi dan kebijakan negara. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap fakta-fakta tersebut, klaim bahwa Singapura menjadi dalang melemahnya rupiah adalah menyesatkan. Sumber: https://www.tempo.co/cekfakta/menyesatkan-singapura-dalang-melemahnya-rupiah-2268445