Dalam beberapa bulan mendatang, pasukan Amerika Serikat (AS) di Irak akan mengakhiri misi tempurnya. Presiden Joe Biden mengumumkan hal itu pada Senin (26/7) dalam pertemuan di Gedung Putih dengan Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi.

Menanggapi pertanyaan wartawan di Oval Office, Biden yang didampingi pemimpin Irak itu mengatakan, peran baru pasukan Amerika di Irak adalah "terus melatih, membantu, menolong dan menghadapi ISIS jika bangkit, tapi menjelang akhir tahun ini, kita tidak akan lagi dalam misi tempur."

Biden menolak mengatakan berapa banyak dari sekitar 2.500 tentara AS yang akan tetap berada di Irak.

Dalam pernyataan bersama AS-Irak yang dikeluarkan pada Senin (26/7) setelah pertemuan teknis, kedua negara mengatakan, "Hubungan keamanan akan sepenuhnya beralih ke peran pelatihan, pemberian nasihat, bantuan, dan berbagi intelijen. Tidak akan ada pasukan AS yang melakukan peran tempur di Irak menjelang 31 Desember 2021."

"Ini adalah pergeseran misi. Ini bukan menarik kemitraan atau kehadiran kita atau hubungan erat kita dengan para pemimpin Irak," kata juru bicara Gedung Putih, Jen Psaki, kepada wartawan sesaat sebelum pertemuan di Oval Office itu.

Pasukan AS di Irak "mampu melakukan banyak hal," kata Menteri Pertahanan Lloyd Austin kepada sekelompok wartawan di Alaska, Sabtu (24/7).

Ditanya oleh VOA apakah ia akan mengklasifikasikan pasukan Amerika yang saat ini berada di Irak sebagai pasukan tempur atau utamanya untuk melatih, memberi nasihat dan membantu, Austin menjawab: "Saya rasa sangat sulit untuk membuat perbedaan itu. Namun, saya akan mengatakan, kuncinya adalah apa tujuan kita, apa tugas yang diberikan kepada kita pada saat itu."

Para pejabat mengatakan penekanannya akan tetap pada mencegah terulangnya apa yang terjadi tujuh tahun lalu, ketika kelompok ISIS menyapu Mosul dan puluhan ribu pejuang asing mengalir ke Irak dan negara tetangga Suriah. Pasukan pemerintah Irak hampir tidak berdaya, dan puluhan serangan bom bunuh diri terjadi setiap bulan. [my/ka]

Diterbitkan di Berita

sindonews.com BAGHDAD - Serangan bom bunuh diri menewaskan sedikitnya 35 orang dan melukai puluhan lainnya di pasar yang ramai di Kota Sadr, Baghdad, Irak pada Senin, menjelang perayaan Idul Adha. Hal itu diungkapkan sumber keamanan dan rumah sakit setempat.

"Lebih dari 60 orang terluka," kata sumber polisi seperti dikutip dari Al Arabiya, Selasa (20/7/2021). ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, kata kantor berita kelompok itu Nasheer di Telegram. Dikatakan salah satu gerilyawan meledakkan rompi peledaknya di antara kerumunan.

Sumber rumah sakit mengatakan jumlah korban tewas bisa meningkat karena beberapa yang terluka berada dalam kondisi kritis.

Dalam sebuah pernyataan singkat, kantor perdana menteri Irak mengatakan Perdana Menteri Mustafa al-Kadhimi mengadakan pertemuan mendesak dengan komandan keamanan tinggi untuk membahas serangan itu

"Dengan kejahatan yang mengerikan mereka menargetkan warga sipil di kota Sadr pada malam Idul Adha. Kami tidak akan beristirahat sebelum terorisme terputus dari akarnya," kata Presiden Barham Salih dalam tweetnya

Pada bulan April, kelompok ISIS juga mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom mobil di sebuah pasar di Kota Sadr, lingkungan Syiah di Baghdad, yang menewaskan empat orang dan melukai 20 orang.

ISIS juga mengaku bertanggung jawab atas serangan bom Januari lalu yang menewaskan lebih dari 30 orang di pasar Tayaran Square yang ramai di Baghdad tengah - bom bunuh diri besar pertama Irak selama tiga tahun

Serangan bom besar pernah terjadi hampir setiap hari di Ibu Kota Irak tetapi telah berkurang sejak invasi ISIS ke Irak utara dan barat dikalahkan pada 2017.

(ian)

Diterbitkan di Berita

medcom.id Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut ada ribuan warga negara Indonesia (WNI) yang terhasut jaringan teroris global. Mereka semua dibawa ke Irak dan Suriah.

"Berdasarkan catatan keberangkatan itu setidaknya 1.500 warga negara kita telah berangkat ke sana," kata Kepala BNPB Boy Rafli Amar dalam rapat internal secara virtual dengan Media Group, Senin, 21 Juni 2021.

Boy mengatakan jaringan teroris yang membawa mereka terafiliasi dengan Al-Qaeda, ISIS, dan Taliban. WNI yang ikut ke Irak dan Suriah diiming-imingi sejumlah uang dan fasilitas.

"Mereka menjanjikan ketika berangkat akan mendapatkan sejumlah gaji, fasilitas pendidikan, dan fasilitas asuransi, dan sebagainya," ujar Boy.

Namun, fasilitas dan uang itu hanya omong kosong. Setibanya di Irak maupun Suriah mereka hidup sengsara.

"Sebagian besar dari mereka masih berada di camp-camp tahanan. Untuk yang pria, dan wanita, dan bahkan anak-anak berada di camp pengungsian," kata Boy.

BNPT juga mencatat sebagian dari mereka ada yang dideportasi dari Irak dan Suriah. Beberapa orang di antaranya dinyatakan meninggal.

"Ada yang telah meninggal dunia estimasi sekitar seratus dan kemudian melakukan relokasi ke negara-negara yang sedang konflik lainnya," ucap Boy.

Boy mengatakan mereka semua terhasut karena narasi propaganda yang disebar kelompok teroris. Narasi itu harus dimusnahkan agar warga negara tidak ada lagi yang tertipu dengan muslihat kelompok teroris.

Untuk itu, BNPT menggelar kerja sama dengan Media Group. Kerja sama itu diharap bisa menghapuskan narasi sesat dari kelompok teroris di Indonesia. BNPT juga ingin mengadakan acara terbuka dengan Media Group.

"Menurut hemat kami ini perlu perlibatan semua masyarakat agar masyarakat bisa tercerahkan, kemudian tentunya kita berupaya agar jangan sampai banyak lagi masyarakat yang terperdaya untuk berangka ke Irak dan Suriah tersebut," kata Boy.
 
(JMS)

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Sekelompok arsitek Mesir berhasil memenangi sayembara desain pembangunan kembali Masjid Raya al-Nuri di Kota Mosul, Irak, setelah empat tahun lalu dihancurkan oleh kelompok milisi yang menyebut diri mereka Negara Islam (ISIS).

Kelompok itu meledakkan masjid peninggalan abad ke-12 tersebut pada Juni 2017 saat pasukan pemerintah Irak bergerak merebut kembali Kota Mosul. Pertempuran merebut kembali Mosul berlangsung hampir sembilan bulan, menghancurkan sebagian besar kota itu.

Ribuan warga sipil tewas dan lebih dari 900.000 lainnya kehilangan tempat tinggal.

Tiga tahun sebelumnya, pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi, memproklamirkan "kekhalifahan" dari masjid tersebut.

Rekonstruksi masjid ini merupakan bagian dari proyek 'Membangkitkan Semangat Mosul' yang didanai Perserikatan Bangsa Bangsa.

Pembangunan kembali masjid raya itu "akan menjadi tonggak penting dalam proses memajukan rekonsiliasi kota itu setelah dilanda perang," kata Audrey Azoulay, yang memimpin badan PBB urusan kebudayaan, Unesco.

Delapan arsitek Mesir itu, dengan desain bernama Courtyards Dialogue, terpilih dari total 123 desain yang dilombakan.

 

masjid

Delapan arsitek Mesir itu, dengan desain bernama "Courtyards Dialogue", terpilih dari total 123 desain yang dilombakan. UNESCO

 

Desain aula salat akan dibuat seperti dulu, disertai dengan sejumlah perubahan, termasuk penggunaan cahaya alami dan perluasan ruang salat untuk perempuan dan tokoh-tokoh penting, demikian pernyataan Unesco.

 

Warisan Nur al-Din Mahmoud Zangi

Nama masjid raya itu terinspirasi dari seorang tokoh bernama Nur al-Din Mahmoud Zangi - penguasa Mosul dan Aleppo yang terkenal menyatukan laskar-laskar Muslim melawan Tentara Salib Kristen.

Dia yang memerintahkan pembangunan masjid itu pada 1172, dua tahun sebelum meninggal.

Selama 28 tahun memerintah, Nur al-Din berhasil merebut Damaskus dan turut berperan bagi keberhasilan Saladin, yang menjadi anak buahnya sebagai panglima perang di Mesir sebelum mendirikan dinasti Ayyubiyah dan merebut kembali Yerusalem pada tahun 1187.

Nur al-Din juga dihormati oleh para jihadis atas upayanya untuk membuat Muslim Sunni mendominasi atas Syiah.

 

masjid

Masjid ini jadi lokasi pemimpin ISIS memproklamirkan kekalifahan ALAMY

 

Menara "Si Bungkuk"

Terlepas dari hubungannya dengan sosok termasyhur itu, yang tersisa dari wujud asli masjid hanyalah menara miring, beberapa tiang dan mihrab, sebuah relung yang menunjukkan arah ke Mekah.

Menara miring itu dijuluki "al-Hadba" atau "si bungkuk", yang rusak parah selama Pertempuran Mosul.

Menara silindris tersebut ditutupi dengan susunan batu bata rumit yang terinspirasi oleh desain Iran dan ditutup dengan kubah kecil diplester putih.

Pada saat pembangunannya selesai, menara itu memiliki tinggi 45 meter. Tetapi pada saat Ibnu Batutah mengunjungi Mosul pada abad ke-14, menara itu sudah miring secara signifikan sehingga berjuluk "al-Hadba".

 

Masjid

Menara al-Hadba saat difoto pada 1932 sudah terlihat miring. LIBRARY OF CONGRESS

 

Penyebab kemiringan menara itu tidak sepenuhnya diketahui. Menurut kepercayaan lokal, menara itu membungkuk kepada Nabi Muhammad saat naik ke surga, walau faktanya adalah Nabi wafat berabad-abad sebelum masjid itu dibangun.

Tetapi para ahli percaya hal itu disebabkan oleh tekanan angin barat laut, efek matahari pada batu bata di sisi selatan, atau terkait kualitas gipsum yang digunakan untuk menahan batu bata.

Lalu serangan bom yang menyerang Mosul selama perang Iran-Irak juga merusak pipa bawah tanah di dekat dasar menara, dan ini membuat limbah terkumpul di kolam dan melemahkan fondasinya.

Pembangunan kembali masjid yang hancur itu akan dimulai akhir tahun ini.

Diterbitkan di Berita
 
 

MOSUL, NETRALNEWS.COM - Paus Fransiskus mendengarkan cerita penduduk Muslim dan Kristen di Mosul, Irak, saat mereka hidup di bawah pemerintahan brutal kelompok ISIS.

Fransiskus yang sedang berada di Irak untuk perjalanan bersejarah yang menandai pertama kalinya seorang paus berkunjung ke negara itu, terbang ke Mosul menggunakan helikopter pada Minggu (7/3/2021), untuk memulihkan luka sektarian dan berdoa bagi korban tewas dari agama apa pun.

"Betapa kejamnya bahwa negara ini, tempat lahirnya peradaban, harus dilanda pukulan yang begitu biadab, dengan tempat-tempat ibadah kuno dihancurkan dan ribuan orang Muslim, Kristen, Yazidi, dan lainnya secara paksa mengungsi atau dibunuh," kata Paus Fransiskus.

"Hari ini, bagaimanapun, kami menegaskan kembali keyakinan kami bahwa persaudaraan lebih langgeng daripada pembunuhan antar saudara, bahwa harapan lebih kuat daripada kebencian, bahwa perdamaian lebih kuat daripada perang," ujar dia, menambahkan.

Kota Tua Mosul adalah rumah bagi gereja dan masjid kuno yang dihancurkan pada 2017 selama pertempuran berdarah oleh pasukan Irak dan koalisi militer internasional untuk mengusir ISIS.

Korupsi dan pertikaian di antara politisi Irak masih memperlambat upaya untuk membangun kembali Mosul dan sebagian besar kota tetap menjadi reruntuhan.

Paus berusia 84 tahun itu berjalan melewati reruntuhan rumah dan gereja ke alun-alun yang dulunya merupakan pusat kota tua yang berkembang pesat. Kota utara Mosul diduduki oleh ISIS dari 2014 hingga 2017.

Merujuk langsung ke ISIS, Paus mengatakan bahwa harapan tidak akan pernah bisa "dibungkam oleh darah yang tumpah oleh mereka yang menyesatkan nama Tuhan untuk mengejar jalan kehancuran."

Dia kemudian membaca doa yang mengulangi salah satu tema utama perjalanannya, bahwa selalu merupakan kesalahan untuk membenci, membunuh, atau berperang atas nama Tuhan.

 

Takut untuk kembali

Komunitas Kristen Irak, salah satu yang tertua di dunia dan sangat terpukul oleh konflik selama bertahun-tahun, menurun jumlahnya menjadi sekitar 300.000 dari sekitar 1,5 juta sebelum invasi Amerika Serikat pada 2003 dan kekerasan militan Islam yang brutal yang menyusulnya.

Pastor Raid Adel Kallo, pendeta dari Gereja Kabar Sukacita, menceritakan bagaimana pada 2014 dia tinggal dengan 500 keluarga Kristen dan saat ini hanya kurang dari 70 keluarga tersisa. "Mayoritas telah beremigrasi dan takut untuk kembali," kata dia.

"Tetapi saya tinggal di sini, dengan dua juta warga Muslim yang memanggil saya ayah dan saya menjalankan misi saya dengan mereka," ujar Kallo menambahkan.

Ia juga mengatakan kepada Paus tentang komite keluarga Mosul yang mempromosikan hidup berdampingan secara damai antara Muslim dan Kristen. Paus Fransiskus, yang dijaga ketat oleh petugas keamanan selama perjalanannya ke Irak, telah menekankan toleransi beragama.

Sebelumnya pada Sabtu (6/3), dia mengadakan pertemuan bersejarah dengan ulama Syiah Irak dan mengunjungi tempat kelahiran Nabi Ibrahim. Paus mengutuk kekerasan atas nama Tuhan sebagai "hujatan terbesar".

Reporter : Sesmawati
Editor : Sesmawati

Diterbitkan di Berita

BBC Indonesia

Paus Fransiskus akan mengunjungi beberapa daerah di Irak utara yang sebelumnya dikuasai oleh kelompok yang menamai diri mereka Negara Islam (ISIS) pada hari ketiga perjalanan bersejarahnya ke negara itu. Militan menyerbu wilayah itu pada tahun 2014, menghancurkan gereja-gereja bersejarah dan melakukan penjarahan.

Umat ​​Kristen telah kembali ke sana sejak ISIS dikalahkan pada 2017. Paus juga akan merayakan Misa di sebuah stadion sepak bola di kota Erbil, acara yang diperkirakan akan dihadiri 10.000 peserta.

Ada kekhawatiran acara itu bisa menyebarkan virus corona. Kasus Covid-19 di negara itu telah mengalami peningkatan tajam selama sebulan terakhir, membuat perjalanan Paus sangat berisiko. Pemimpin Gereja Katolik berusia 84 tahun itu dan rombongannya semuanya telah divaksinasi, tetapi Irak baru menerima dosis pertama minggu lalu.

 

Pope Francis greets people as he arrives to hold a Mass at the Chaldean Cathedral of "Saint Joseph" in Baghdad, Iraq, 6 March 2021

Beberapa kelompok militan Syiah dilaporkan telah menentang kunjungan tersebut, dan menyatakan bahwa tur tersebut merupakan campur tangan Barat dalam urusan negara.

Pada hari Minggu, Paus akan mengunjungi Mosul - bekas benteng ISIS selama tiga tahun. Di sana dia akan berdoa di Church Square untuk para korban perang yang menewaskan puluhan ribu warga sipil.

Dia kemudian akan mengunjungi gereja terbesar Irak, yang sebagian dihancurkan oleh ISIS, di dekat Qaraqosh, tapi orang-orang Kristen telah kembali sejak kekalahan kelompok itu.

Sekitar 10.000 personel Pasukan Keamanan Irak telah dikerahkan untuk melindungi Paus selama kunjungannya, sementara jam malam juga telah diberlakukan untuk membatasi penyebaran Covid.

Pemimpin gereja Katolik berusia 84 tahun itu sebelumnya berkata kepada wartawan bahwa ia merasa "terikat oleh tugas" untuk melakukan perjalanan "simbolik" ke berbagai situs di Irak.

 
Diterbitkan di Berita
Syarifudin sindonews.com MOSKOW - Komisaris Presiden Rusia untuk Hak Anak, Anna Kuznetsova, mengungkapkan negaranya telah memulangkan 145 anak Rusia mantan militan ISIS dari Suriah dan Irak sejak wabah Covid-19.
Kuznetsova mengatakan sejak awal tahun lalu, agensinya telah melakukan enam perjalanan untuk membawa anak-anak itu kembali ke Rusia, berkoordinasi dengan pihak berwenang Suriah dan Irak.
 
Tindakan pencegahan diambil setiap saat terkait virus corona. Dia menjelaskan sulit menentukan jumlah anak yang tersisa di Suriah dan Irak, tetapi sejauh ini ada dokumen yang disiapkan untuk mengembalikan 105 anak lagi. 
November lalu, Administrasi Otonomi Kurdi di timur laut Suriah menyerahkan 30 anak Rusia dari militan ISIS yang ditahan di Kamp Al-Hol, tenggara Hasakah.

Sebelumnya, Prancis telah memulangkan tujuh anak pejuang ISIS dari timur laut Suriah. Ini adalah upaya terbaru negara Eropa memulangkan warganya setelah bertahun-tahun enggan melakukannya.
Anak-anak itu berusia antara 2 dan 11 tahun. Mereka tinggal di kamp Al-Hol dan Roj yang dijalankan milisi Kurdi seperti Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dan Unit Perlindungan Rakyat (YPG).

Menurut Kementerian Luar Negeri Prancis, anak-anak itu rentan dan telah dirawat di layanan sosial. Pemulangan terakhir ini membuat jumlah anak-anak yang dipulangkan ke Prancis menjadi 35 anak, yang sebagian besar adalah yatim piatu.

Banyak dari mereka yang ditahan di kamp adalah warga asing yang melakukan perjalanan ke Suriah untuk bergabung ISIS beberapa tahun setelah revolusi Suriah pecah. Menurut Save the Children, lebih dari 9.000 anak warga asing tetap tinggal di wilayah tersebut dan banyak dari mereka adalah warga negara Eropa, termasuk Inggris.

Di kamp Al-Hol saja, dilaporkan ada 43.000 anak. Meskipun ada seruan organisasi hak asasi manusia dan Amerika Serikat (AS) agar Inggris dan negara Eropa lainnya memulangkan warganya serta mengadili mereka di negara asalnya, banyak yang menolak atau enggan melakukannya.
Pemerintah negara-negara Eropa berdalih risiko keamanan yang akan mereka hadapi jika mereka dipulangkan.
 
Diterbitkan di Berita

TEMPO.CO, - Paus Fransiskus akan mengunjungi Irak pada 7 Maret mendatang. Salah satu agendanya bakal melihat gereja-gereja yang dihancurkan ISIS di Mosul.

Para pekerja pun sibuk membersihkan tempat-tempat yang bakal didatangi pemimpin umat Katolik itu. Salah satu yang terlibat adalah Anas Zeyad asisten koordinator situs untuk UNESCO di Irak.

“Sebagai seorang Muslim saya bangga membantu membangun kembali gereja-gereja ini,” kata Zeyad dikutip dari Reuters, Ahad, 28 Februari 2021.

Salah satu gereja yang sedang diperbaiki adalah gereja Katolik Suriah Al-Tahera dengan bantuan dari UNESCO, Uni Emirat Arab, dan mitra lokalnya. Gereja ini dirusak oleh ISIS dan dijadikan tempat pengadilan.

Kondisi gereja ini makin parah setelah terdampak serangan udara saat pasukan Irak mengusir para militan ISIS. Bagian atapnya hancur.

"Saya berharap kami melihat orang Kristen kembali ke tempat-tempat ini, sehingga kami hidup bersama lagi seperti yang kami lakukan selama berabad-abad," ucap Zeyad.

Ada empat gereja di Mosul yakni Gereja Katolik Suriah, Ortodoks Siria, Ortodoks Armenia, dan Katolik Kasdim. “Dulunya mirip dengan Yerusalem di dataran Niniwe,” kata Uskup Agung Mosul dan Akra Khaldea Najeeb Michaeel.

Michaeel menuturkan sebelum invasi AS pada 2003, umat Kristen Irak dari berbagai komunitas akan menghadiri kebaktian satu sama lain di festival keagamaan

Hari-hari itu telah berlalu. Hari ini hanya satu dari gereja Mosul yang masih hidup menawarkan kebaktian Ahad mingguan untuk populasi Kristen yang menyusut menjadi hanya beberapa lusin keluarga dari sekitar 50 ribu orang.

Dalam kunjungan ke Irak, Paus Fransiskus akan mengadakan doa untuk para korban perang di Hosh al-Bieaa, yang dikenal sebagai Alun-Alun Gereja, sebagai bagian dari perjalanan empat hari yang dimulai pada 5 Maret.

Sumber: REUTERS

Diterbitkan di Berita