BBC Indonesia Paus Fransiskus akan mengunjungi beberapa daerah di Irak utara yang sebelumnya dikuasai oleh kelompok yang menamai diri mereka Negara Islam (ISIS) pada hari ketiga perjalanan bersejarahnya ke negara itu. Militan menyerbu wilayah itu pada tahun 2014, menghancurkan gereja-gereja bersejarah dan melakukan penjarahan. Umat Kristen telah kembali ke sana sejak ISIS dikalahkan pada 2017. Paus juga akan merayakan Misa di sebuah stadion sepak bola di kota Erbil, acara yang diperkirakan akan dihadiri 10.000 peserta. Ada kekhawatiran acara itu bisa menyebarkan virus corona. Kasus Covid-19 di negara itu telah mengalami peningkatan tajam selama sebulan terakhir, membuat perjalanan Paus sangat berisiko. Pemimpin Gereja Katolik berusia 84 tahun itu dan rombongannya semuanya telah divaksinasi, tetapi Irak baru menerima dosis pertama minggu lalu. Paus Fransiskus menghadiri Misa di katedral Khaldea di Baghdad pada hari Sabtu (REUTERS) Perjalanan empat hari, yang dimulai pada hari Jumat, adalah perjalanan internasional pertama Paus sejak dimulainya pandemi lebih dari setahun yang lalu, dan kunjungan Paus yang pertama ke negara itu. Beberapa kelompok militan Syiah dilaporkan telah menentang kunjungan tersebut, dan menyatakan bahwa tur tersebut merupakan campur tangan Barat dalam urusan negara. Pada hari Minggu, Paus akan mengunjungi Mosul - bekas benteng ISIS selama tiga tahun. Di sana dia akan berdoa di Church Square untuk para korban perang yang menewaskan puluhan ribu warga sipil. Dia kemudian akan mengunjungi gereja terbesar Irak, yang sebagian dihancurkan oleh ISIS, di dekat Qaraqosh, tapi orang-orang Kristen telah kembali sejak kekalahan kelompok itu. Sekitar 10.000 personel Pasukan Keamanan Irak telah dikerahkan untuk melindungi Paus selama kunjungannya, sementara jam malam juga telah diberlakukan untuk membatasi penyebaran Covid. Pemimpin gereja Katolik berusia 84 tahun itu sebelumnya berkata kepada wartawan bahwa ia merasa "terikat oleh tugas" untuk melakukan perjalanan "simbolik" ke berbagai situs di Irak.