Khadijah Nur Azizah - detikHealth Jakarta - Vaksin COVID-19 Pfizer menunjukkan efikasi atau kemanjuran lebih dari 90 persen pada anak usia 5-11 tahun. Hasil ini didapatkan dari uji klinis pada kelompok tersebut.

Dikutip dari CNA, hasil studi pada sekitar 2.250 peserta uji coba menemukan 16 anak yang mendapat plasebo terinfeksi COVID-19, sementara hanya tiga yang disuntik vaksin tertular Corona. Data ini dikumpulkan ketika varian Delta dominan di Amerika Serikat dan dunia.

Vaksin pada kelompok anak diberikan dengan dosis 10 mikrogram, sedangkan kelompok usia yang lebih tua telah menerima 30 mikrogram. Dosis diberikan tiga minggu terpisah.

Hasilnya, tidak ada kasus COVID-19 yang parah dan tidak ada kasus sindrom inflamasi multisistem pada anak-anak (MIS-C), kondisi pasca virus yang langka namun serius.

"Meskipun tingkat kematian untuk COVID-19 pada anak-anak secara substansial lebih rendah daripada pada orang dewasa, COVID-19 termasuk di antara 10 penyebab utama kematian untuk anak-anak berusia 5 hingga 14 tahun antara Januari dan Mei 2021 di AS," ujar Pfizer dalam pernyataannya.

Ini adalah pertama kalinya Pfizer merilis perkiraan kemanjuran untuk vaksin COVID buatannya pada anak di bawah 12 tahun, bersama dengan kumpulan data yang lebih rinci.

Menurut dokumen yang dirilis, profil kejadian buruk pada kelompok anak-anak tidak menunjukkan masalah keamanan dari vaksin. Perusahaan telah mengatakan sebelumnya bahwa profil keamanan pada kelompok usia umumnya sebanding dengan usia 16 hingga 25 tahun.

(kna/kna)

Diterbitkan di Berita

Liputan6.com, Jakarta - Beberapa produsen vaksin COVID-19 kini mulai memperluas uji coba mereka pada kelompok usia anak, demikian pula dengan Moderna.

Produsen vaksin tersebut dikabarkan tengah berencana memperbesar skala uji coba mereka pada anak usia 6 bulan hingga kurang dari 12 tahun.

Studi tersebut kini akan mendaftarkan 13.275 partisipan uji coba vaksin menurut rincian terbaru yang dimuat dalam situs catatan uji klinis clinicaltrials.gov. Jumlah itu hampir dua kali lipat dari target awal 6.975, seperti dikutip Antara dari Reuters.

Moderna mengatakan pada Juli lalu tengah berdiskusi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) guna memperluas studi yang bakal mendaftarkan database keamanan yang lebih besar, yang meningkatkan kemungkinan pelacakan kejadian langka.

Saat ini vaksin Moderna juga dalam peninjauan FDA untuk penggunaan pada remaja. Pada Desember 2020, vaksin Moderna telah mengantongi izin guna darurat bagi individu usia 18 tahun ke atas di Amerika Serikat.

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia Setidaknya 27 anak tewas di Afghanistan dalam tiga hari di tengah pertempuran sengit antara Taliban dan pasukan pemerintah, kata PBB.

Lembaga anak-anak PBB, Unicef, mengatakan mereka terkejut dengan "kekerasan parah terhadap anak-anak yang meningkat pesat".

Taliban menguasai banyak wilayah di Afghanistan setelah penarikan pasukan asing. Kelompok itu telah merebut enam ibu kota daerah sejak hari Jumat (06/09).

Mereka menolak seruan internasional untuk gencatan senjata. Lebih dari 1.000 warga sipil terbunuh akibat konflik tersebut dalam satu bulan terakhir.

Dalam pernyataan pers pada Senin (09/09), Unicef mengatakan tindakan kekejaman yang dilakukan terhadap anak-anak "bertambah dari hari ke hari".

Angka 27 kematian anak dicatat di tiga provinsi - Kandahar, Khost, dan Paktia. Sekitar 136 anak lainnya terluka di wilayah-wilayah ini dalam tiga hari terakhir, kata Unicef.

"Afghanistan sudah lama menjadi salah satu tempat terburuk di Bumi bagi anak-anak namun dalam beberapa pekan terakhir dan, bahkan, 72 jam terakhir, itu telah menjadi lebih buruk lagi," kata Samantha Mort dari Unicef Afghanistan kepada BBC.

Anak-anak terbunuh dan terluka akibat bom-bom di pinggir jalan dan dalam baku tembak. Seorang ibu berkata kepada Unicef bahwa keluarganya sedang tidur ketika rumahnya dihantam pecahan peluru meriam, yang mengakibatkan kebakaran dan membuat putranya yang berusia 10 tahun mengalami "luka bakar yang mengerikan".

Banyak anak juga tidur di luar setelah mengungsi dari rumah mereka.

 

Pasukan keamanan Afghanistan di Kunduz, Juli 2020.

Pemerintah Afghanistan mengatakan pasukan keamanan masih bertempur di Kunduz. REUTERS

 

Unicef meminta kedua pihak yang berseteru untuk memastikan anak-anak dilindungi.

Kekerasan terus meningkat

Kekerasan meningkat di seluruh Afghanistan setelah pasukan asing yang dipimpin AS ditarik usai menjalankan operasi militer selama 20 tahun.

Taliban dengan cepat merangsek dan merebut sebagian besar daerah di pedesaan, dan sekarang menyasar kota-kota.

Taliban dilaporkan telah menguasai kota Kunduz di utara, dalam kemenangan mereka yang paling signifikan sejak Mei.

Kota berpopulasi 270.000 orang itu dianggap sebagai pintu gerbang menuju provinsi-provinsi di utara yang kaya akan mineral. Lokasinya strategis karena dekat perbatasan dengan Tajikistan, yang dimanfaatkan untuk menyelundupkan opium dan heroin.

Kunduz juga signifikan secara simbolis bagi Taliban karena merupakan benteng pertahanan penting di utara sebelum 2001. Para militan sempat dua kali menguasai kota itu pada 2015 dan 2016 namun tidak pernah mempertahankannya untuk waktu yang lama.

Pemerintah Afghanistan mengatakan pasukan keamanan masih bertempur di kota tersebut.

 

Pasukan keamanan Afghanistan

Pasukan keamanan Afghanistan menerima pukulan besar dengan jatuhnya Kunduz ke tangan Taliban. REUTERS

 

Kota Zaranj di barat daya merupakan ibu kota daerah pertama yang jatuh ke tangan Taliban dalam serangan besar-besaran. Kota-kota Shebergan, Sar-e-Pul, Taloqan, dan Aybak di utara juga sekarang dilaporkan berada di bawah kendali Taliban.

Para pemberontak itu memasuki Aybak, ibu kota provinsi Samangan, tanpa perlawanan setelah para tetua masyarakat meminta supaya tidak ada lagi kekerasan di kota itu, kata deputi gubernur Sefatullah Samangani kepada kantor berita AFP.

"Gubernur menerima dan menarik semua pasukan dari kota itu," ujarnya. Tolo News dan Shamshad TV juga melaporkan di Twitter bahwa pasukan Afghanistan telah mundur dari kota Aybak tanpa pertempuran. Belum ada pernyataan langsung dari pihak tentara.

Di tempat lain, pesawat-pesawat AS dan Afghanistan telah melancarkan serangan udara, yang belum berhasil menghentikan pergerakan Taliban namun pemerintah Afghan mengatakan puluhan kombatan dari kelompok itu telah tewas.

Pertempuran sengit dilaporkan terjadi di Pul-e-Khumri dan Mazar-e-Sharif, pusat perdagangan di perbatasan dengan Uzbekistan. Para komandan tentara mengatakan mereka telah memukul mundur militan dari pinggiran kota.

Pada Senin pagi (09/09) ledakan keras terdengar di luar kantor polisi di kota Lashkar Gah di selatan, tempat pasukan pemerintah dan Taliban telah bertempur selama lebih dari seminggu.

Warga mengatakan sekitar 20 warga sipil tewas dalam dua hari terakhir, dan sebuah sekolah dan sebuah klinik hancur.

Perebutan sejumlah kota dan pertempuran sengit yang terus berlangsung di kota-kota lainnya telah mengakibatkan ribuan warga sipil mengungsi. Banyak keluarga, beberapa dengan anak-anak kecil dan perempuan hamil, meninggalkan rumah mereka dan pergi ke ibu kota, Kabul.

Departemen Pertahanan AS pada hari Senin mengatakan situasi keamanan di Afghanistan "tidak bergerak ke arah yang benar", namun pasukan keamanan Afghanistan mampu melawan Taliban.

"Ini adalah pasukan militer mereka, ini adalah ibu kota provinsi mereka, rakyat mereka sendiri yang mereka lindungi dan ini akan tergantung pada kepemimpinan yang sanggup mereka tunjukkan di sini pada saat ini," kata juru bicara Dephan AS John Kirby.

Diterbitkan di Berita

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi Covid-19 juga berdampak pada menurunnya pelayanan imunisasi anak di fasilitas kesehatan. Baru-baru ini, platform telemedicine Halodoc meluncurkan fitur baru yang bisa menghadirkan layanan tersebut ke rumah.

Dalam siaran persnya, ditulis Rabu (4/8/2021), Halodoc menyatakan mereka melakukan kolaborasi bersama mitra klinik untuk menghadirkan layanan homecare, di mana orangtua tetap bisa memberikan akses imunisasi rutin bagi anak secara lebih aman.

Dokter Irwan Heriyanto, Chief of Medical Halodoc, mengatakan bahwa kadar kekebalan atau antibodi yang terbentuk pada bayi lebih baik daripada anak yang sudah menginjak usia lebih tua.

"Sehingga sebagian besar imunisasi diberikan pada saat bayi berumur 6 bulan, dengan beberapa jenis imunisasi yang perlu dilakukan pemberian ulang setelah anak berumur 1 tahun (booster) untuk mempertahankan kadar antibodi dalam jangka waktu lama," katanya. 

 

Lindungi Anak dari Penyakit Infeksi

 

Menurut Irwan, imunisasi anak yang dilakukan sesuai jadwal diharapkan mampu menjadi langkah preventif yang sangat efektif, untuk melindungi mereka dari setidaknya 26 penyakit infeksi.

"Tentunya kemudahan melakukan imunisasi anak di rumah masing-masing akan sangat membantu anak mendapatkan hak pada akses pelayanan kesehatan selama masa pandemi, khususnya pada PPKM Level 4 ini," kata Irwan.

Halodoc mengungkapkan bahwa untuk sekarang, ada lima jenis imunisasi yang tersedia di platform mereka melalui layanan imunisasi anak ke rumah.

Di antara jenis imunisasi tersebut adalah paket imunisasi DTP (difteri-tetanus-pertusis), polio, influenza, dan hepatitis B yang dapat dipilih sesuai kebutuhan.

 

Hasil Tes Covid-19 Sebagai Syarat Perjalanan

 

Halodoc juga mengatakan mereka memiliki sejumlah inovasi baru terkait penanganan Covid-19 di Indonesia.

Mereka mengungkapkan, hasil tes Covid-19 dari layanan drive-thru mereka sudah terhubung dengan new all record (NAR) Kementerian Kesehatan, sehingga bisa dijadikan sebagai syarat perjalanan.

Alfonsius Timboel, Chief Product Officer Halodoc mengatakan, masyarakat tidak perlu khawatir dengan keabsahan hasilnya karena sudah langsung terhubung dengan NAR, sehingga akan terbaca di aplikasi PeduliLindungi.

Untuk mendapatkan layanan tersebut, Alfonsius pun meminta agar para pengguna Halodoc untuk memperbarui aplikasi mereka.

Selain itu, Halodoc menyebut bahwa mereka telah membuka Pos Pelayanan Vaksinasi Covid-19 di Sukaharjo, yang menyasar masyarakat umum berusia 18 tahun ke atas, dan menargetkan 20 ribu peserta vaksinasi pada 26 Juli 2021 lalu.

(Dio/Isk)

Diterbitkan di Berita
sindonews.com JAKARTA - Vaksin platform mRNA, Moderna , yang rencananya dipakai juga di Indonesia, tengah dirancang untuk anak-anak di bawah usia 12 tahun. Uji coba akan dilakukan dengan harapan mengetahui informasi lebih baik terkait potensi efek samping.
 
"Ini merupakan niat kami untuk memperluas cakupan penerima vaksin COVID-19 dengan dilakukannya uji coba dan kami secara aktif mendiskusikan proposal dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA)," kata juru bicara Moderna pada Fox News melalui email, dikutip Selasa (27/7).
Dari uji coba tersebut, diharapkan peneliti mendapati informasi mengenai database keamanan vaksin serta adanya kemungkinan kejadian yang jarang terjadi.

Kabar ini mencuat ke publik setelah The New York Times melaporkan bahwa atas 'desakan' FDA, vaksin Pfizer maupun Moderna memperluas cakupan vaksinasi mereka yaitu pada usia 5-11 tahun . Uji coba diharapkan dapat membuktikan apakah dugaan peradangan jantung benar muncul paskavaksinasi.

Pfizer sendiri mengumumkan bahwa uji coba pada usia 5-11 tahun akan bisa diketahui pada September mendatang, kemudian uji coba berlanjut ke usia yang lebih muda lagi setelahnya. "Hasil uji coba pada usia 6 bulan diharapkan rampung pada Oktober atau November," kata juru bicara Pfizer.
 
Pfizer sendiri sudah mulai menguji coba anak berusia 5-11 tahun sejak 8 Juni 2021 dan anak di bawah 5 tahun pada 21 Juni 2021. Uji coba diketahui diikuti oleh 4.500 peserta dari Amerika Serikat, Finlandia, Polandia, dan Spanyol.
(tsa)
 
 
Diterbitkan di Berita

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menilai anak-anak memiliki antusiasme tinggi untuk mendapatkan vaksin COVID-19. Pihaknya mendorong percepatan vaksinasi guna membentengi anak-anak jika nantinya pembelajaran tatap muka dimulai.

Hal itu disampaikan Ganjar, usai meninjau Vaksinasi COVID-19 bagi anak usia 12-17 tahun dalam rangka hari anak nasional tahun 2021 di GOR Patriot Kodam IV/Diponegoro, Jumat (23/7/2021). Ganjar datang dan menyapa sejumlah siswa yang sedang menunggu giliran vaksin.

 “Kamu kenapa di sini? Mau divaksin? Siapa yang kasih tahu kalau ada vaksin?,” tanya Ganjar didampingi Pangdam IV Diponegoro Mayjen Rudianto dan Kapolda Jateng Irjen Ahmad Luthfi.
 

“(yang kasih tau) Ayah, mau vaksin biar sehat,” ujar siswa tersebut.

Anak-anak yang lain juga tak luput oleh Ganjar, ketika ditanya ternyata tidak sedang antri vaksin. Namun sedang menemani dan menunggu kakaknya yang antri vaksin.

“Kamu namanya siapa? Sekolah di mana? Ikut vaksin juga?,” tanya Ganjar. “Nadia, sekolah di SD Jatingaleh 2. Ke sini nungguin kakak,” kata Nadia.

Ganjar kemudian ‘ngetes’ pemahaman Nadia pada situasi pandemi ini. Ganjar bertanya apa saja 3M protokol kesehatan yang saat pandemi.

“Mencuci tangan, memakai masker sama menjaga jarak,” kata Nadia. “Wah hebat, kasih hadiah ini mas. Kamu mau coklat ndak?,” ujar Ganjar sembari memberikan coklat pada Nadia.

Suasana di GOR Patriot pun ger-geran. Ganjar kemudian masuk ke bagian gelanggang olahraga itu dan berinteraksi dengan siswa lainnya. Ganjar melihat antusias tinggi dari para siswa untuk vaksin. Ganjar juga mengapresiasi pihak TNI yang menyiapkan tempat dengan baik.

“Saya terima kasih, ini bagus ya diatur memang duduk itu cara paling bagus untuk controlling,” kata Ganjar.

Ganjar mengatakan, antusias anak usia 12-17 tahun dalam vaksinasi ini adalah bukti bahwa mereka punya keinginan untuk bisa sehat dan tidak tertular.

“Ini cara kita mendorong agar anak-anak bisa cepet belajar kembali, dan pada saatnya nanti dibentengi vaksin ini,” katanya.

Di sisi lain, Ganjar juga merencanakan agar para mahasiswa juga bisa segera mendapatkan vaksin. Sebab, mereka masuk kategori usia muda untuk divaksin.

“Habis ini kita ajak mahasiswa, karena masuk usia muda untuk divaksin,” tegasnya.

Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Rudianto mengatakan, vaksinasi untuk anak ini menyasar untuk pelajar di sekolah umum hingga pelajar di pesantren. Selain itu, pihaknya juga bantu mendorong percepatan vaksinasi daerah yang capaian vaksinnya rendah.

“Karena sewaktu-waktu pak gub instruksikan belajar tatap muka anak-anak sudah siap. Karena kalau kita lihat anak-anak hanpir 1,5 tahun berada di rumah, mereka ingin sekali segera tatap muka dan kita coba sasar daerah-daerah merah yang tinggi angka COVIDnya,” tandas Pangdam.

Pemprov Kolaborasi TNI Polri, Akselerasi Daerah yang Tingkat Vaksinasinya Rendah

Di sisi lain, dalam kesempatan tersebut Ganjar mengatakan bahwa pihaknya terus berkolaborasi dengan TNI Polri untuk percepatan vaksinasi. Beberapa daerah yang vaksinasinya rendah, didorong dengan bantuan dari TNI Polri.

“Kita kolaborasi terus (dengan TNI Polri) untuk percepatan. Daerah-daerah tadi yang kurang cepet, (antara lain) Brebes, Cilacap,” kata Ganjar.

Sebenarnya, lanjut Ganjar, Pemda maupun masyarakat di daerah yang vaksinasinya masih rendah memiliki semangat yang tinggi. Namun harus bersabar karena stok vaksinnya terbatas.

“Sebenarnya mereka-mereka sudah gumregah, bersemangat. Hanya memang mesti bersabar karena pengirimannya belum bisa lancar karena belum banyak masuk impornya. Agustus nanti akan banyak (penerimaan dosis vaksin) jadi insyaallah akan lancar,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

Diterbitkan di Berita
Ardela Nabila - detikHealth Jakarta - Vaksinasi COVID-19 bagi anak dan remaja sudah dimulai. Berikut ini daftar lokasi vaksin COVID-19 untuk anak 12-17 tahun di DKI Jakarta dan sekitarnya.

Kementerian Kesehatan RI sudah resmi memulai pelaksanaan vaksinasi COVID-19 bagi anak usia 12-17 tahun. Hal tersebut berdasarkan Surat Edaran nomor HK.02.02/I/1727/2021 tentang Vaksinasi Tahap 3 Bagi Masyarakat Rentan serta Masyarakat Umum dan Vaksinasi Anak Usia 12-17 Tahun.

Bagi anak dan remaja usia 12-17 tahun yang ingin divaksin, salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah dengan membawa Kartu Keluarga atau dokumen lainnya yang mencantumkan NIK (Nomor Induk Kependudukan) anak.

Sementara itu, mekanisme pelaksanaannya masih sama dengan vaksinasi COVID-19 untuk orang dewasa, yakni tahap screening, pelaksanaan, dan observasi. Jenis vaksin yang digunakan dalam vaksinasi COVID-19 anak usia 12-17 tahun ini pun sudah ditetapkan oleh Pemerintah.

"Menggunakan vaksin Sinovac dengan dosis 0,5 ml sebanyak dua kali pemberian dengan jarak atau interval minimal 28 hari," tulis Kemenkes.

Berikut ini daftar lokasi vaksinasi COVID-19 untuk anak usia 12-17 tahun di DKI Jakarta.

(Update 3 Juli 2021)

Rumah Sakit Lapangan Artha Graha Peduli (Rumkitlap AGP) (Jakarta Utara)

Jadwal: Senin-Sabtu pukul 10.00-14.00 WIB.

Syarat:

  • Terbuka untuk semua WNI berusia di atas 12 tahun yang memiliki NIK.
  • Penyandang disabilitas.
  • Membawa identitas diri berupa KTP atau Kartu Keluarga.
  • Melakukan pendaftaran online melalui TAUTAN INI
  • Bisa mendaftar offline, tetapi kuota terbatas.

Mall Artha Gading, Function Hall Lantai 5 (Jakarta Utara)

Jadwal: Senin-Sabtu pukul 10.00-14.00 WIB.

Syarat:

  • Terbuka untuk semua WNI berusia di atas 12 tahun yang memiliki NIK.
  • Penyandang disabilitas.
  • Membawa identitas diri berupa KTP atau Kartu Keluarga.
  • Melakukan pendaftaran online melalui TAUTAN INI
  • Bisa mendaftar offline, tetapi kuota terbatas.

SCBD, Lot 8 (ex. Live Space) (Jakarta Selatan)

Jadwal: Senin-Sabtu pukul 10.00-14.00 WIB.

Syarat:

  • Terbuka untuk semua WNI berusia di atas 12 tahun yang memiliki NIK.
  • Penyandang disabilitas.
  • Membawa identitas diri berupa KTP atau Kartu Keluarga.
  • Melakukan pendaftaran online melalui TAUTAN INI
  • Bisa mendaftar offline, tetapi kuota terbatas.

Hotel Borobudur Jakarta, Hall Majapahit (Jakarta Pusat)

Jadwal: Senin-Sabtu pukul 10.00-14.00 WIB.

Syarat

  • Terbuka untuk semua WNI berusia di atas 12 tahun yang memiliki NIK.
  • Penyandang disabilitas.
  • Membawa identitas diri berupa KTP atau Kartu Keluarga.
  • Melakukan pendaftaran online melalui TAUTAN INI
  • Bisa mendaftar offline, tetapi kuota terbatas.

Summarecon Mall Serpong, Gedung Parkir L6 SMS 2 (Kabupaten Tangerang)

Jadwal: Minggu, 4 Juli 2021 pukul 08.00-14.00 WIB.

Syarat:

  • Membawa KTP/Kartu Keluarga/surat keterangan domisili di Kabupaten Tangerang
  • Berusia 12 tahun ke atas.
  • Belum pernah terdaftar vaksinasi.
  • Melakukan pendaftaran di 
  • Informasi lebih lanjut hubungi (021) 5422-0811 atau 0813-1772-0859.

Rumah Sakit St. Carolus Summarecon Serpong (Kabupaten Tangerang)

Jadwal: Senin, 5 Juli 2021 pukul 08.00-12.00 WIB.

Syarat:

  • Membawa KTP/Kartu Keluarga/surat keterangan domisili di Kabupaten Tangerang
  • Berusia 12 tahun ke atas.
  • Belum pernah terdaftar vaksinasi.
  • Melakukan pendaftaran di 
  • Informasi lebih lanjut hubungi (021) 5422-0811 atau 0813-1772-0859.

Rumah Sakit Khusus Gigi dan Mulut Universitas Indonesia (RSKGM UI) (Jakarta Pusat)

Syarat:

  • Berusia 12-17 tahun.
  • Membawa Kartu Keluarga atau dokumen lainnya yang mencantumkan NIK anak.
  • Melakukan pendaftaran di TAUTAN INI

(Update 2 Juli 2021)

Mal Taman Anggrek (Jakarta Barat)

Jadwal: Senin-Minggu pukul 10.00-16.00 WIB.

Lokasi:

  • Ground Floor - The Kitchen (untuk tahap registrasi dan verifikasi data).
  • 4th Floor - North Wing (untuk tahap screening kesehatan, vaksinasi, dan observasi).

Syarat:

  • Anak berusia 12-17 tahun.
  • Membawa Kartu Keluarga atau dokumen lain yang mencantumkan NIK anak.
  • Bagi anak yang berdomisili di luar DKI Jakarta, maka diharuskan juga untuk membawa surat keterangan domisili.
  • Melakukan pendaftaran di TAUTAN INI

Klinik Pediacare (Jakarta Selatan)

Syarat:

  • Anak berusia 12-17 tahun.
  • Membawa Kartu Keluarga DKI Jakarta atau identitas lain yang mencantumkan NIK anak.
  • Melakukan pendaftaran melalui 
  • Informasi lebih lanjut hubungi 0819-1000-0019.

Mall Kota Kasablanka, Lantai 3 (Jakarta Selatan)

Jadwal:

  • Periode I: 5-9 Juli 2021.
  • Periode II: 12-16 Juli 2021.

Syarat:

  • Membawa pre-screening yang telah dicetak.
  • Membawa KTP asli atau fotokopi Kartu Keluarga bagi pendaftar berusia 12-17 tahun.
  • Membawa pulpen.
  • Melakukan pendaftaran dan memilih jadwal vaksinasi melalui aplikasi JAKI.

Stadion Utama Gelora Bung Karno (Jakarta Pusat)

Jadwal: 3-4 Juli 2021.

Syarat:

  • Membawa pre-screening yang telah dicetak.
  • Membawa KTP asli atau fotokopi Kartu Keluarga bagi pendaftar berusia 12-17 tahun.
  • Membawa pulpen.
  • Melakukan pendaftaran dan memilih jadwal vaksinasi melalui aplikasi JAKI.

RSIA SamMarie Basra (Jakarta Timur)

Jadwal: Rabu dan Jumat pukul 09.00-14.00 WIB (mulai 7 Juli 2021).

Syarat:

  • Anak berusia 12-17 tahun.
  • Membawa Kartu Keluarga atau dokumen lain yang mencantumkan NIK anak.
  • Informasi lebih lanjut dan pendaftaran dapat menghubungi (021) 8661-3145 atau Whatsapp 0877-8400-2551/0821-5712-2323/0812-1913-5501.
(up/up)
 
Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: Kementerian Kesehatan Brasil mencatat 1.122 anak di bawah usia 10 tahun meninggal karena Covid-19. Anak-anak itu meninggal karena berbagai penyakit pernapasan akut, seperti kasus flu berat.

Namun, para peneliti dari organisasi kesehatan global Vital Strategies menduga jumlah sebenarnya lebih dari itu karena banyak kasus yang tidak dilaporkan. Organisasi itu menduga angka kematian sebenarnya mendekati angka 3.000. 

Hal itu diketahui setelah membandingkan jumlah kematian anak akibat penyakit tersebut pada 2018 dan 2019 dengan jumlah kematian sejak awal pandemi.

"Apa yang kita lihat di Brasil jumlah anak-anak yang meninggal karena Covid yang ditetapkan sebagai penyebab kematian lebih tinggi daripada di negara lain di dunia, 10 kali lebih tinggi," kata epidemiologi Vital Strategies Ana Luiza Bierrenbach kepada CNN.

Di Amerika Serikat, negara dengan kasus dan kematian akibat virus corona tertinggi di dunia, jauh lebih sedikit anak-anak yang meninggal karena Covid-19. Menurut data CDC, 382 anak di bawah usia 18 tahun di AS meninggal karena Covid-19.

Bierrenbach menambahkan bahwa varian virus corona P.1 atau yang disebut Gamma, yang pertama kali diidentifikasi di Brasil, belum tentu menjadi penyebabnya.

"Anak-anak banyak meninggal di Brasil sejak varian aslinya terdeteksi, jadi bukan varian baru P.1 yang membuat anak-anak lebih banyak meninggal di sini daripada di negara lain," katanya.

Covid-19 selama ini memang memiliki dampak lebih parah pada orang tua. Bahkan jika semua 2.975 kematian anak di Brasil disebabkan oleh Covid-19 terkonfirmasi, jumlahnya masih yang jauh lebih rendah daripada orang dewasa.

Hingga kini jumlah kematian corona di Brasil mencapai lebih dari 514.000 jiwa. Akan tetapi, para peneliti khawatir hal itu membuat para dokter lengah terhadap pasien muda.

"Sejujurnya, Covid-19 pada anak-anak diabaikan di awal pandemi," kata dokter anak Brasil Andre Laranjeira.

"Banyak dokter anak memiliki resistensi tertentu jika harus meminta tes Covid-19 untuk anak-anak, ketika mereka menunjukkan gejala saluran pernapasan yang khas, pilek, batuk, demam, hampir semua anak memiliki gejala tersebut sepanjang tahun ini, di musim gugur, dan beberapa dokter tidak mengujinya," kata dia.

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, NETRALNEWS.COMPemerintah akan segera melakukan vaksinasi Covid-19 bagi anak-anak berusia 12-17 tahun. Hal tersebut dipastikan seiring dengan terbitnya izin penggunaan darurat atau emergency use of authorization dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk vaksin Sinovac.

Hal tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo dalam keterangannya di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin, (28/6/2021).

"Kita bersyukur, BPOM telah mengeluarkan ijin penggunaan darurat atau emergency use of authorization (EUA) untuk vaksin Sinovac yang dinyatakan aman digunakan anak usia 12 sampai 17 Tahun. Sehingga vaksinasi untuk anak-anak usia tersebut bisa segera dimulai," ujar Presiden.

Program vaksinasi Covid-19 nasional sendiri telah mencapai angka 1,3 juta suntikan per hari pada Sabtu, 26 Juni 2021 lalu. Capaian ini lebih cepat dari target yang ditetapkan sebelumnya oleh pemerintah, yakni 1 juta suntikan per hari mulai Juli.

"Hal ini tercapai berkat kerja keras dan gotong royong semua pihak, terutama Kementerian Kesehatan, TNI-Polri, pemda, BUMN, dan pihak swasta yang turut membantu, serta masyarakat yang bersedia divaksin," jelas Presiden.

Meskipun capaian 1 juta vaksinasi per hari telah tercapai, Kepala Negara meminta agar semua pihak tetap bekerja keras agar sehingga angka 1 juta suntikan vaksin per hari dapat terus dilakukan dan bahkan dilipatgandakan.

"Saya ingatkan bahwa seluruh pihak tetap harus bekerja keras agar target 1 juta per hari vaksinasi terjaga sampai akhir Juli dan dapat meningkat dua kali lipat pada Agustus 2021, mencapai 2 juta dosis per hari," ungkapnya.

Seiring dengan vaksinasi yang terus digencarkan oleh pemerintah, Presiden kembali mengingatkan bahwa penyebaran Covid-19 hanya dapat ditekan melalui upaya bersama. Untuk itu, Presiden meminta agar masyarakat terus disiplin menerapkan protokol kesehatan.

"Saya mohon kepada bapak, ibu, dan saudara-saudara, kita semua, untuk tidak ragu divaksinasi, dan tetap berdisiplin menjalankan protokol kesehatan, memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Dan sekali lagi saya ingatkan, tinggallah di rumah selama tidak ada kebutuhan yang mendesak," tandasnya.

Reporter : PD Djuarno
Editor : Sesmawati

Diterbitkan di Berita

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sedang mengkaji kemungkinan pemberian vaksin COVID-19 untuk anak berusia di bawah 18 tahun.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan kebijakan itu ditempuh seiring dengan melonjaknya kasus COVID-19 di Tanah Air dan semakin banyak kelompok anak berusia 18 tahun ke bawah yang terjangkit virus corona.

Kemenkes saat ini sedang melakukan penelitian mengenai tingkat severity atau keparahan terhadap anak usia di bawah 18 tahun di Indonesia yang tertular virus corona.

Ia menjelaskan, berdasarkan data global, anak usia 18 tahun ke bawah yang terpapar COVID-19 menunjukkan 99 persen sembuh dibandingkan dengan kelompok usia dewasa atau 18 tahun ke atas.

Maka dari itu, pihaknya saat ini sedang mengkaji vaksin-vaksin COVID-19 mana saja yang sudah memiliki emergency use of authorization (EUA) untuk diberikan kepada anak di bawah 18 tahun.

 

Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam telekonferensi pers di Istana Kepresidenan , Jakarta, Senin (7/6) mengatakan sekolah Tatap muka dilakukan secara Terbatas (biro pers).
Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam telekonferensi pers di Istana Kepresidenan , Jakarta, Senin (7/6) mengatakan sekolah Tatap muka dilakukan secara Terbatas (biro pers).

 

“Yang sudah kita amati sekarang yang ada di list kita, yakni Sinovac, yang bisa antara umur 3-17 tahun, kemudian Pfizer yang bisa umur 12-17 tahun. Itu sudah keluar EUA-nya,” ungkap Budi dalam telekonferensi pers, di Jakarta, Jumat (25/6).

Budi mengatakan pihaknya sedang berdiskusi dengan badan independen Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) terkait pemberian vaksin COVID-19 kepada anak.

Selain itu, Kemenkes juga akan melihat bagaimana negara-negara lain, seperti Eropa dan Amerika Serikat, dalam melakukan vaksinasi ini kepada anak-anak di bawah 18 tahun tersebut.

“Dan di grup mana mereka memberikan sehingga dengan demikian kita bisa mengeluarkan keputusan yang komprehensif berdasarkan data yang ada di kita, data penggunaan atau policy di negara-negara lain, dan juga data ilmiah kesehatan EUA yang sudah diberikan terhadap perusahaan vaksin tersebut,” jelasnya.

Vaksinasi Anak Tidak Mudah

Ketua ITAGI, Sri Rezeki Hadinegoro, mengonfirmasi diskusi antara pihaknya dengan Kemenkes terkait pemberian vaksinasi COVID-19 pada anak-anak.

Ia menegaskan jika rencana vaksinasi pada anak usia di bawah 18 tahun direalisasikan, maka hal ini akan dilakukan secara bertahap untuk memastikan keamanannya.

“Jadi kalau pun untuk anak, kita akan kelompokkan. Kelompok yang besar-besar dulu seperti umur 12-17 tahun, terus nanti yang umur 6-11 tahun. Baru nanti di bawah 5 tahun," kata Sri Rezeki Hadinegoro kepada VOA.

Jadi, tambahnya, akan ada tiga kelompok yang mungkin berbeda-beda waktu pelaksanan vaksinasinya.

 

Seorang petugas kesehatan menyiapkan dosis vaksin Sinovac untuk COVID-19 saat vaksinasi massal untuk petugas medis di stadion Istora Senayan, Jakarta, 4 Februari 2021. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)
Seorang petugas kesehatan menyiapkan dosis vaksin Sinovac untuk COVID-19 saat vaksinasi massal untuk petugas medis di stadion Istora Senayan, Jakarta, 4 Februari 2021. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)

 

"Karena ini kan vaksin baru ya. Kita musti coba dulu di anak yang lebih besar, aman atau tidak? kalau bagus baru kita (beri) ke adiknya, baru nanti ke bawahnya lagi. Jadi secara bertahap,” ungkap Sri.

Meski begitu, ia tidak bisa memastikan kapan hal ini akan dilakukan, mengingat masih banyak data dan penelitian yang harus dipelajari untuk memastikan agar pemberian vaksin COVID-19 ini aman. Selain itu, ia menggarisbawahi bahwa teknis pelaksanaannya nanti tidak akan mudah.

“Dan pelaksanaannya gak gampang, sekarang aja yang dewasa belum selesai. Kita musti pikirkan pemberiannya mau gimana? Apakah lewat sekolah, atau bukan.

Biasanya kan imunisasi anak-anak sekolah ini lewat sekolah, kita kan sudah punya strukturnya, apakah kita mau pakai itu atau bagaimana? karena kan sekolah belum buka. Jadi itu kan harus dibicarakan, makanya ini belum matang,” katanya.

Pemerintah Buka Program Vaksinasi Untuk Remaja Usia 18 Tahun

Ditambahkannya, yang harus dipikirkan pemerintah selanjutnya adalah masalah logistik, yakni ketersediaan vaksin itu sendiri. Pasalnya, stok vaksin COVID-19 masih terbatas dan banyak negara yang masih memperebutkan vaksin COVID-19 ini.

“Lalu bagaiimana pemberiannya? Apakah sama seperti orang dewasa atau bagaimana? Pang paling penting sistem imun anak-anak itu kan beda sama orang dewasa. Kalau di atas 12 tahun hampir seperti dewasa, tapi kalau di bawah 12 tahun, kan beda. Ini kita musti hati-hati juga,” pungkasnya. [gi/ah]

Diterbitkan di Berita
Halaman 1 dari 2