Bisnis.com, JAKARTA - Para pejuang Taliban kembali merebut puluhan distrik di Afghanistan setelah mereka meningkatkan serangan pada saat proses penarikan terakhir oleh pasukan asing berlangsung, menurut laporan dari PBB.

Para gerilyawan merebut lebih dari 50 dari 370 distrik sejak Mei, kata utusan khusus PBB Deborah Lyons kepada Dewan Keamanan PBB dengan memperingatkan skenario mengerikan.

Dia mengatakan peningkatan konflik berarti peningkatan ketidakamanan bagi banyak negara lain. Sementara itu, AS dan NATO masih menargetkan penarikan pasukan sepenuhnya pada 11 September.

Juru bicara Pentagon John Kirby mengatakan situasinya 'tetap dinamis' meskipun Taliban diuntungkan.

Baca Juga : Penarikan Pasukan AS Dimulai dari Afghanistan, Taliban Jadi Ancaman

Hanya saja hal itu tidak mengubah penarikan pasukan AS dan masih ada fleksibilitas bagi AS untuk bertindak.

Kemajuan kelompok Islam garis keras baru-baru ini adalah hasil dari "serangan militer yang intensif", kata Lyons kepada 15 anggota Dewan Keamanan PBB di New York seperti dikutip CNN.com, Rabu (23/6/2021).

"Distrik-distrik yang telah diambil itu mengelilingi ibu kota provinsi yang menunjukkan bahwa Taliban memposisikan diri mereka untuk mencoba mengambil ibu kota ini begitu pasukan asing ditarik sepenuhnya," katanya.

Taliban juga merebut perbatasan utama Afghanistan dengan Tajikistan pada Selasa, kata para pejabat. Persimpangan itu berada di provinsi utara Kunduz, tempat pertempuran meningkat dalam beberapa hari terakhir.

Baca Juga : Joe Biden Masih Ragu Tarik Pasukan AS dari Afghanistan

Pejuang Taliban mengatakan mereka memiliki kendali atas seluruh provinsi dan tinggal ibu kota provinsi dan Kunduz yang dipertahankan oleh pemerintah.

Namun, kementerian pertahanan di Kabul mengatakan pasukan Afghanistan telah merebut kembali beberapa distrik dan operasi sedang berlangsung.

Kota Kunduz berada di posisi strategis dan sempat jatuh ke tangan pemberontak pada 2015 dan setahun kemudian direbut kembali oleh pasukan pemerintah yang didukung NATO.

Media lokal melaporkan bahwa Taliban juga telah menyita sejumlah besar peralatan militer, dan membunuh serta melukai atau menangkap puluhan tentara.

Author: John Andhi Oktaveri
Editor : Oktaviano DB Hana

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Pejabat tinggi Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) memberi peringatan yang serius tentang bahaya kelompok teroris terhadap AS, kalau pasukan AS dan koalisi sudah meninggalkan negara itu dalam bulan-bulan mendatang.

Menteri Pertahanan Lloyd Austin, Kamis (17/6), mengatakan kepada anggota Kongres, diperkirakan dibutuhkan waktu “mungkin dua tahun” bagi kelompok seperti Al-Qaida atau ISIS untuk menyusun kekuatan dan kapabilitas merencanakan serangan terhadap AS dan sekutu Barat.

Perwira militer tertinggi Amerika yang juga Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Mark Milley lebih jauh memperingatkan potensi kebangkitan organisasi-organisasi teroris ini bisa lebih cepat lagi, tergantung pada nasib pemerintahan Afghanistan yang sekarang.

“Kalau pemerintah ambruk atau pembubaran dari pasukan keamanan Afghanistan, risiko itu sudah tentu semakin besar,” kata Milley.

Presiden Joe Biden pada April lalu mengumumkan keputusan untuk menarik semua sisa pasukan dari Afghanistan, di mana ia mengatakan AS telah mencapai sasarannya, yakni menuntut pertanggungjawaban Al Qaida dan pemimpinnya Osama bin Laden atas serangan mematikan pada 11 September 2001 terhadap Gedung WTC di New York dan Pentagon. [jm/em]

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Sebanyak 12 orang tewas akibat ledakan bom di masjid di ibu kota Afghanistan, Kabul. Insiden berdarah tersebut terjadi saat Salat Jumat. Jubir Kepolisian Kabul, Ferdous Faramarz, mengatakan imam masjid menjadi salah satu korban jiwa. Selain itu, terdapat pula 15 orang korban luka.
 
Meski demikian Ferdous tidak mengungkap di masjid mana ledakan tersebut terjadi, demikian dikutip dari Reuters. Sampai saat ini masih belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab.
 
Teroris Taliban, yang biasanya menjadi otak serangan di Afghanistan, kini tengah melakukan gencatan senjata untuk menghormati Idul Fitri.
 
Ledakan di Kabul terjadi sepekan usai ledakan besar di sebuah sekolah. Kejadian berdarah itu mengakibatkan 80 orang lebih tewas.
 
Kekerasan di Afghanistan makin meningkat seiring rencana AS menarik seluruh pasukannya dari negara itu. Rencananya, semua tentara AS akan angkat kaki sebelum 11 September 2021.
Diterbitkan di Berita

Seorang pejabat senior keamanan mengatakan kepada Reuters tanpa menyebut nama bahwa sebagian besar korban adalah siswa yang keluar dari sekolah Sayed ul Shuhada, dan banyak yang terluka parah di rumah sakit.

Rekaman di saluran TV ToloNews menunjukkan adegan kacau, dengan buku dan tas sekolah berserakan di jalan berlumuran darah, dan warga bergegas membantu para korban.

"Itu adalah ledakan bom mobil yang terjadi di depan pintu masuk sekolah," kata seorang saksi mata seperti dikutip dari Reuters, Minggu (9/5/2021), yang meminta tidak disebutkan namanya. Dia mengatakan semua kecuali tujuh atau delapan korban adalah siswi yang akan pulang setelah menyelesaikan studi mereka.

Di sekolah menengah Sayed ul Shuhada, anak perempuan dan laki-laki belajar dalam tiga shift, yang kedua untuk siswa perempuan, Najiba Arian, juru bicara Kementerian Pendidikan, mengatakan kepada Reuters. Yang terluka kebanyakan adalah para siswi, katanya.

Juru bicara kementerian dalam negeri, Tariq Arian, mengatakan korban tewas sedikitnya 30 orang dengan 52 luka-luka.

Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan hari Sabtu itu. Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid membantah kelompoknya terlibat dan mengutuk insiden itu.

Meskipun Ghani menyalahkan Taliban, ledakan hari Sabtu terjadi di lingkungan Muslim Syiah yang telah menghadapi serangan brutal oleh militan ISIS selama bertahun-tahun, termasuk ledakan di bangsal bersalin hampir persis setahun yang lalu.

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Setelah 20 tahun menginvasi Afghanistan, tentara AS dan Inggris bersiap angkat kaki. Bulan ini Presiden Biden mengumumkan bahwa 2.500-3.500 pasukan AS yang tersisa di sana akan sudah pergi pada 11 September. Inggris juga melakukan hal yang sama, menarik sisa 750 pasukannya.

Pilihan tanggal tersebut amatlah penting. Itu tepat 20 tahun sejak serangan 11 September terhadap Amerika oleh Al-Qaeda, direncanakan dan diarahkan dari Afghanistan, yang mendorong koalisi AS-Inggris menggulingkan Taliban dan menyingkirkan Al-Qaeda untuk sementara.

Harga yang harus dibayar selama 20 tahun peperangan ini amat sangat tinggi - diukur dalam nyawa, kehidupan, dan uang. Lebih dari 2.300 prajurit AS telah tewas dan lebih dari 20.000 lainnya terluka, bersama lebih dari 450 prajurit Inggris serta ratusan dari beberapa negara lain.

Namun warga Afghanistan sendirilah yang menanggung paling banyak korban jiwa, dengan lebih dari 60.000 anggota aparat keamanan tewas dan hampir dua kali lipatnya warga sipil.

Biaya finansial yang ditanggung duit pajak dari rakyat AS mendekati 1 triliun dolar AS.

Jadi pertanyaan canggung yang harus ditanyakan adalah: apakah hasilnya sepadan?

Jawabannya tergantung cara Anda mengukurnya.

Mari kita mundur sejenak dan memikirkan alasan tentara Barat datang ke Afghanistan serta tujuan mereka.

Selama lima tahun, dari 1996 hingga 2001, Al-Qaeda, yang disebut sebagai kelompok teroris trans-nasional, berkembang di Afghanistan, di bawah pemimpinnya yang karismatik Osama Bin Laden.

Al-Qaeda mendirikan kamp pelatihan teroris, termasuk bereksperimen dengan gas beracun menggunakan anjing, dan merekrut serta melatih sekitar 20.000 relawan jihadis dari seluruh dunia.

Mereka juga mengarahkan serangan kembar terhadap kedutaan AS di Kenya dan Tanzania pada 1998, yang menewaskan 224 orang, sebagian besar warga sipil Afrika.

 

Warga berkumpul di acara peringatan yang diadakan di lokasi pengeboman Kedubes AS di Nairobi, Kenya pada 12 Agustus 1998.

Keadaan kedubes AS di Nairobi setelah pengeboman. REUTERS

 

Al-Qaeda dapat beroperasi dengan impunitas di Afghanistan karena mereka dilindungi oleh pemerintah saat itu: Taliban, yang menguasai seluruh negeri pada 1996 menyusul penarikan Tentara Merah Soviet dan bertahun-tahun perang sipil yang destruktif.

AS, melalui sekutunya di Saudi, berusaha membujuk Taliban untuk mendepak Al-Qaeda, tetapi mereka menolak. Setelah serangan 11 September 2001, komunitas internasional meminta Taliban untuk menyerahkan mereka yang bertanggung jawab — namun Taliban kembali menolak.

Jadi, bulan berikutnya pasukan Afghanistan anti-Taliban yang disebut Aliansi Utara menyerang Kabul, dengan dukungan tentara AS dan Inggris. Mereka berhasil menggulingkan Taliban dari kekuasaan dan mengusir Al-Qaeda ke negara tetangga, Pakistan.

Pekan ini seorang sumber pejabat keamanan senior berkata kepada BBC bahwa sejak saat itu tidak ada satu pun serangan teroris internasional yang sukses direncanakan dari Afghanistan.

Jadi, hanya dari ukuran kontra-terorisme internasional, kehadiran militer dan pasukan keamanan Barat di sana sukses mencapai tujuannya.

Namun itu, tentu saja, pengukuran yang terlalu sederhana dan mengabaikan jumlah korban jiwa yang berjatuhan akibat konflik itu - dan masih berjatuhan sampai sekarang - dari warga Afghanistan, baik sipil maupun militer. Dua puluh tahun kemudian, negeri itu belum juga damai.

Menurut kelompok penelitian Action on Armed Violence, pada tahun 2020 ada lebih banyak warga Afghanistan yang terbunuh oleh alat peledak dibandingkan negara mana pun di dunia.

Al-Qaeda, Negara Islam (IS), dan kelompok militan lainnya belum musnah, mereka bangkit kembali dan tak diragukan lagi menjadi bersemangat dengan kepergian tentara Barat yang tak lama lagi.

 

Para perempuan berduka di luar rumah sakit di Kabul setelah serangan bom truk.

Para perempuan berduka di luar rumah sakit di Kabul setelah serangan bom truk. REUTERS

 

Pada tahun 2003, saat liputan di sebuah markas militer terpencil di Provinsi Paktika bersama Divisi Gunung ke-10 Tentara AS, saya ingat seorang kolega veteran di BBC, Phil Goodwin, meragukan warisan kehadiran pasukan Koalisi di sana.

"Dalam 20 tahun," katanya, "Taliban akan kembali menguasai sebagian besar wilayah Selatan."

Hari ini, menyusul perundingan damai di Doha dan pergerakan militer di lapangan, mereka bersiap memainkan peran yang menentukan masa depan seluruh negeri.

Namun Jenderal Sir Nick Carter, Staf Kepala Pertahanan Inggris, yang bertugas dalam beberapa tur di sana, menyoroti bahwa "komunitas internasional telah membangun masyarakat sipil yang mengubah kalkulus tentang legitimasi populer seperti apa yang diinginkan Taliban."

"Kondisi negeri ini lebih baik daripada di tahun 2001," ujarnya, "dan Taliban telah menjadi lebih terbuka."

Dr. Sajjan Gohel dari Yayasan Asia Pasific berpandangan lebih pesimis. "Ada kekhawatiran nyata," katanya, "bahwa Afghanistan bisa kembali menjadi tempat perkembangbiakan ekstremisme seperti di tahun 1990-an." Kekhawatiran ini juga dirasakan banyak agensi intelijen Barat.

Akan tetapi itu belum tentu terjadi, tergantung pada dua faktor: pertama, apakah Taliban mengizinkan aktivitas Al-Qaeda dan ISIS di area yang dikuasainya setelah menang, dan kedua sejauh mana komunitas internasional bersiap untuk mengatasinya ketika mereka tidak lagi memiliki sumber daya di Afghanistan.

Jadi gambaran keamanan di masa depan untuk Afghanistan masih samar. Negara yang akan ditinggalkan tentara Barat musim panas ini jauh dari aman. Namun tak banyak yang mengira, dalam hari-hari penuh amarah menyusul serangan 11 September, mereka akan mampu bertahan di sana sampai dua dekade.

Saat saya mengingat kembali berbagai perjalanan liputan saya di Afghanistan, bersama pasukan AS, Inggris, dan Emirat, ada satu kenangan yang paling berkesan. Itu terjadi di markas tentara AS yang terletak hanya 6km dari perbatasan dengan Pakistan.

Kami berjongkok di atas kotak-kotak amunisi dalam benteng berdinding lumpur di bawah langit yang penuh bintang. Semuanya baru saja berpesta dengan steik ribeye Texas yang diterbangkan dari Ramstein di Jerman - ya, ini benar-benar terjadi - sebelum roket Taliban menghantam markas tersebut.

Seorang serdadu berusia 19 tahun dari New York bercerita bahwa dia telah kehilangan banyak kawannya selama dia bertugas di sana. "Jika memang sudah waktunya saya, biarlah," katanya sambil mengangkat bahu. Kemudian seseorang mengeluarkan gitar dan menyanyikan tembang populer Radiohead, Creep.

Lagu itu ditutup dengan kata-kata, "What the hell am I doing here? I don't belong here." (Apa yang kulakukan di sini? Aku tidak semestinya berada di sini). Dan saya ingat waktu itu berpikir: tidak, barangkali memang tidak.

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Perjalanan ke wilayah Afghanistan yang dikuasai Taliban tidak lama. Setelah sekitar 30 menit dari kota Mazari Sharif di utara, melintasi kawah-kawah besar bekas bom di pinggir jalan, kami bertemu dengan tuan rumah: Haji Hikmat, wali kota bayangan Taliban di distrik Balkh.

Mengenakan wewangian dan turban hitam, dia adalah anggota veteran kelompok militan tersebut, bergabung pada tahun 1990-an ketika mereka menguasai mayoritas Afghanistan.

Taliban telah menyiapkan unjuk kekuatan untuk kami. Pria-pria bersenjata berat berbaris di kedua sisi jalan, salah satu dari mereka membawa pelontar granat berpeluncur roket, lainnya membawa senapan serbu M4 yang dirampas dari tentara AS. Balkh pernah menjadi salah satu daerah paling stabil di Afghanistan; sekarang, ia termasuk yang paling bergejolak.

Baryalai, seorang komandan militer lokal dengan reputasi bengis, menunjukkan jalan, "pasukan pemerintah ada di dekat pasar utama, tetapi mereka tidak bisa meninggalkan pangkalan mereka. Wilayah ini milik mujahidin".

Gambaran serupa ditemukan di sebagian besar Afghanistan: pemerintah mengontrol kota-kota, namun Taliban mengelilingi mereka, dengan kehadiran di sebagian besar pedesaan.

Kelompok militan itu menegaskan otoritas mereka melalui pos pengecekan yang terletak sporadis di jalan-jalan utama. Ketika anggota Taliban menghentikan dan menanyai mobil-mobil yang lewat, Aamir Sahib Ajmal, kepala dinas intelijen setempat, berkata kepada kami bahwa mereka sedang mencari orang-orang yang punya hubungan dengan pemerintah.

"Kami akan menangkap mereka, dan menawan mereka," ujarnya. "Kemudian kami menyerahkan mereka ke pengadilan kami dan mereka memutuskan apa yang terjadi selanjutnya."

Taliban percaya kemenangan adalah milik mereka. Duduk ditemani secangkir teh hijau, Haji Hekmat menyatakan, "kami telah menang perang dan Amerika telah kalah". Keputusan Presiden AS Joe Biden untuk menunda penarikan sisa tentara AS sampai September, yang berarti mereka akan tetap berada di negara itu setelah tenggat 1 Mei yang disepakati tahun lalu, telah memantik reaksi keras dari kepemimpinan politik Taliban. Meskipun demikian, momentum tampaknya ada di tangan para militan.

"Kami siap untuk apapun," kata Haji Hekmat. "Kami sepenuhnya siap untuk damai, dan kami sepenuhnya siap untuk jihad." Seorang komandan militer yang duduk di sampingnya menambahkan: "Jihad adalah ibadah. Ibadah adalah sesuatu yang, seberapa banyakpun Anda melakukannya, Anda tidak merasa lelah."

 

Haji Hekmat mengenakan turban hitam, Taliban, AS, Afghanistan
 

Haji Hekmat, wali kota bayangan Taliban di distrik Balkh, bergabung dengan kelompok itu pada tahun 1990-an.

 

Dalam setahun ke belakang, tampaknya ada kontradiksi dalam "jihad" Taliban. Mereka berhenti menyerang pasukan internasional menyusul penandatanganan kesepakatan dengan AS, namun terus bertempur dengan pemerintah Afghanistan.

Akan tetapi, Haji Hikmat bersikeras bahwa tidak ada kontradiksi. "Kami menginginkan pemerintahan Islam yang diatur dengan Syariah. Kami akan melanjutkan jihad kami sampai mereka menerima tuntutan kami."

Soal apakah Taliban akan bersedia membagi kekuasaan dengan faksi politik lain di Afghanistan, Haji Hikmat menyerahkannya pada kepemimpinan politik kelompok itu di Qatar. "Apapun yang mereka putuskan, kami akan terima," katanya berkali-kali.

Taliban tidak menganggap diri mereka sebagai kelompok pemberontak biasa, tetapi calon pemerintah. Mereka menyebut diri mereka "Emirat Islam Afghanistan", nama yang mereka gunakan saat berkuasa dari tahun 1996 sampai digulingkan, menyusul serangan teror 11 September 2001 di Amerika Serikat.

Sekarang, mereka memiliki struktur "bayangan" yang rumit, dengan beberapa pajabat bertanggung jawab mengawasi layanan sehari-hari di wilayah yang mereka kuasai. Haji Hikmat, sang walikota Taliban, mengajak kami berkeliling.

Kami dibawa ke sebuah sekolah dasar, penuh dengan anak laki-laki dan perempuan menulis di buku teks yang disumbangkan oleh PBB. Saat berkuasa pada 1990-an, Taliban melarang perempuan mendapat pendidikan, meskipun mereka sering membantahnya. Bahkan sekarang, ada laporan bahwa di wilayah lain perempuan yang berusia lebih tua tidak diizinkan masuk kelas. Akan tetapi di sini setidaknya Taliban berkata mereka aktif mendorongnya.

"Selama mereka mengenakan hijab, penting bagi mereka untuk belajar," kata Mawlawi Salahuddin, yang bertanggung jawab atas komisi pendidikan setempat Taliban. Di sekolah menengah, katanya, hanya guru perempuan yang diizinkan, dan mereka wajib mengenakan kerudung. "Jika mereka mengikuti Syariah, tidak masalah."

 

Anak-anak perempuan dalam kelas di wilayah yang dikuasai Taliban, AS, Afghanistan
 

Beberapa pihak takut anak-anak perempuan tidak akan mendapat akses ke pendidikan jika Taliban berkuasa lagi.

 

Sumber BBC mengatakan Taliban menghapus mata pelajaran seni dan kewarganegaraan dari kurikulum, mengganti mereka dengan mata pelajaran Islam, namun sisanya mengikuti silabus nasional.

Jadi apakah Taliban menyekolahkan putri-putri mereka sendiri? "Putri saya masih sangat muda, tapi setelah dia besar, saya akan mengirimnya ke sekolah dan madrasah, selama mereka mewajibkan hijab dan Syariah," kata Salahuddin.

Pemerintah membayar gaji pegawai sekolah, namun Taliban yang berkuasa. Ini sistem hibrida yang diterapkan di seluruh negeri.

Di klinik kesehatan setempat, yang dijalankan oleh organisasi bantuan, ceritanya sama. Taliban mengizinkan pegawai perempuan untuk bekerja, tapi mereka harus didampingi pria saat malam hari, dan pasien laki-laki dan perempuan dipisah. Kontrasepsi dan informasi tentang keluarga berencana selalu siap sedia.

Taliban jelas-jelas ingin kami melihat mereka dengan lebih positif. Ketika kendaraan kami melintasi kerumunan murid perempuan yang berjalan pulang dari sekolah, Haji Hikmat melambai dengan semangat, bangga karena telah menyangkal ekspektasi kami. Namun keprihatinan tentang pandangan Taliban terhadap hak-hak perempuan tetap ada. Kelompok itu tidak punya anggota perempuan sama sekali, dan pada 1990-an mereka melarang perempuan bekerja di luar rumah.

 

Patients at a clinic in a Taliban-controlled area, Taliban, AS, Afghanistan
 

Perempuan diizinkan bekerja di klinik kesehatan lokal ini, tapi harus didampingi pria pada malam hari.

 

Ketika kendaraan kami melewati desa-desa di distrik Balkh, kami melihat banyak perempuan, tidak semuanya mengenakan burqa yang menutupi sekujur badan, berjalan-jalan dengan bebas. Namun di bazar setempat, tidak ada perempuan sama sekali. Haji Hikmat bersikeras bahwa mereka tidak dilarang, meski dalam masyarakat yang konservatif, dia bilang, mereka biasanya memang tidak pergi ke sana.

Kami ditemani Taliban setiap waktu, dan beberapa warga lokal yang kami ajak bicara mengungkapkan dukungan mereka kepada kelompok tersebut, dan bersyukur kepada mereka karena telah membuat wilayah mereka lebih aman dan mengurangi tindak kriminal. "Ketika pemerintah berkuasa, mereka memenjarakan orang-orang kami dan meminta suap untuk membebaskan mereka," kata seorang lelaki tua. "Orang-orang kami dahulu sangat menderita, tapi sekarang kami bahagia dengan situasi ini."

Nilai-nilai ultra-konservatif Taliban memang tidak begitu berbenturan dengan masyarakat di wilayah rural, namun banyak orang, terutama di perkotaan, takut mereka akan membangkitkan kembali Emirat Islam yang brutal di tahun 1990-an.

Seorang warga lokal belakangan bersedia untuk bicara kepada kami, dengan syarat namanya tidak disebut, dan mengatakan Taliban sebenarnya jauh lebih keras dari yang mereka akui dalam wawancara. Dia menceritakan warga desa yang ditampar atau dipukuli karena mencukur janggut, atau stereo mereka dihancurkan karena mendengarkan musik. "Orang-orang tidak punya pilihan selain patuh pada mereka," ujarnya kepada BBC, "bahkan karena masalah sepele pun mereka main fisik. Orang-orang takut."

 

Anggota taliban membawa senapan anti pesawat udara, AS, Afghanistan
 

Seorang warga berkata kepada BBC banyak orang patuh pada Taliban karena takut.

 

Haji Hikmat adalah anggota Taliban di tahun 1990-an. Sementara para kombatan yang lebih muda senang mengambil foto dan selfie, dia awalnya menutup wajahnya dengan turban ketika melihat kamera kami. "Kebiasaan lama," katanya sambil nyengir, sebelum akhirnya mengizinkan kami merekam wajahnya. Di bawah rezim lama Taliban, fotografi dilarang.

Apakah mereka melakukan kesalahan saat berkuasa, saya bertanya? Akankah mereka berperilaku sama lagi sekarang?

"Taliban dahulu dan Taliban sekarang sama saja. Jadi membandingkan waktu itu dan sekarang - tidak ada yang berubah," kata Haji Hikmat. "Tapi," dia menambahkan, "ada perubahan personel, tentu saja. Sebagian orang lebih kejam dan sebagian lagi lebih kalem. Itu normal."

Taliban tampaknya sengaja bersikap ambigu tentang apa yang mereka maksud dengan "pemerintahan Islam" yang ingin mereka dirikan. Beberapa analis memandangnya sebagai usaha sengaja untuk menghindari gesekan internal antara elemen garis keras dan yang lebih moderat. Dapatkah mereka mengakomodasi mereka yang berpandangan berbeda tanpa mengasingkan basis mereka sendiri? Kekuasaan dapat menjadi ujian terbesar mereka.

Saat kami menyantap makan siang ayam dan nasi, kami mendengar suara gemuruh setidaknya empat serangan udara dari jauh. Haji Hikmat tidak gentar. "Itu jauh, jangan khawatir," ujarnya.

Kekuatan udara, khususnya yang disediakan oleh Amerika, berperan penting dalam upaya menghalau Taliban selama bertahun-tahun. AS sudah secara drastis memangkas operasi militernya setelah meneken kesepakatan dengan Taliban tahun lalu, dan banyak yang takut kalau menyusul penarikan total mereka, Taliban akan mengerahkan militernya untuk mengambil alih Afghanistan.

Haji Hikmat mencemooh pemerintah Afghanistan, atau "pemerintahan Kabul" - demikian sebutan Taliban, korup dan tidak Islami. Sulit membayangkan laki-laki seperti dia akan berdamai dengan pihak lain di negara itu, kecuali itu sesuai kemauan dia.

"Ini jihad," ujarnya, "ini ibadah. Kami melakukannya bukan untuk kekuasaan melainkan untuk Allah dan hukum-Nya. Untuk membawa Syariah ke negeri ini. Siapapun yang menghalangi kami akan kami lawan."

Diterbitkan di Berita

DW Indonesia

Larangan bernyanyi itu dianggap mempromosikan kebijakan yang mirip Taliban. Kementerian Pendidikan Afghanistan mencabut keputusan yang melarang remaja perempuan berusia di atas 12 tahun bernyanyi di depan umum.

Larangan tersebut sebelumnya diprotes keras oleh para aktivis hak-hak perempuan yang menuduh bahwa pejabat Afghanistan memperkenalkan nilai-nilai fundamentalis Islam ke dalam sistem pendidikan.

Kementerian Pendidikan mengumumkan pada pekan ini, cabang regional Kabul mengeluarkan larangan tersebut tanpa konsultasi. Kementerian menambahkan bahwa tujuan melarang bernyanyi di depan umum adalah untuk mencegah penyebaran virus corona, yakni dengan mencegah anak perempuan dan laki-laki bernyanyi dalam kelompok.

"Arahan yang dikeluarkan oleh kepala cabang pendidikan Kabul tidak mewakili posisi dan kebijakan resmi Kementerian Pendidikan Afghanistan," menurut pernyataan itu. Kementerian Pendidikan akan melakukan penyelidikan ke cabang Kabul.

"Pimpinan Kementerian Pendidikan berkomitmen untuk mendukung hak pendidikan, dan pilihan semua anak perempuan dan laki-laki untuk ikut serta dalam kegiatan budaya, seni dan olahraga," tambah pernyataan itu.

 #IAmMySong

Aktivis hak-hak perempuan meluncurkan kampanye media sosial untuk mengecam fundamentalisme di Afghanistan.

 

 

Di bawah tagar #IAmMySong, perempuan Afghanistan dan aktivis hak sosial berbagi klip video remaja perempuan yang menyanyikan himne dan lagu, bersama dengan pertunjukan musik oleh perempuan Afghanistan.

"Alasan utama protes kami adalah bahwa lagu dan himne adalah suara perempuan. Membungkam suara perempuan berarti memberantas perempuan dari ruang publik. Arahan ini persis seperti aturan yang dikeluarkan Taliban selama supremasi mereka," ujar aktivis hak perempuan Afghanistan, Vida Saghari, kepada DW.

Saghari mengatakan lebih lanjut, larangan menyanyi bukanlah menandai pertama kalinya Kementerian Pendidikan mengeluarkan aturan "bergaya Taliban". Menjelang akhir tahun 2020, kementerian mengumumkan akan mendukung madrasah Islam yang hanya mengajarkan Alquran. Saghari menambahkan, kementerian pendidikan juga mendukung rencana untuk hanya mengizinkan anak perempuan dari kelas satu hingga tiga untuk menghadiri kelas di masjid.

Kementerian Pendidikan mencoba menarik kembali keputusan tersebut dengan berkilah, pembelajaran di madrasah dan masjid dimaksudkan sebagai solusi untuk kawasan terpencil yang tidak memiliki akses ke sekolah modern.

Catatan tragis hak-hak perempuan Afghanistan

Selama beberapa dekade, perempuan Afghanistan berjuang untuk diakui sederajat di negara yang marak dilanda arus fundamentalisme itu. Saghari mengatakan Afghanistan memiliki sejarah panjang yang tragis dalam hal hak-hak perempuan. Pada 1980-an di era Mujahidin Islam, penyanyi perempuan sering dibungkam dan kemudian dibunuh.

Posisi fundamentalis juga dimiliki oleh Taliban, meskipun kelompok militan tersebut mengklaim bahwa pendiriannya terhadap hak-hak perempuan agak melunak.

Samira Hamidi, juru kampanye Asia Selatan di organisasi pembela hak asasi Amnesty International, menolak gagasan bahwa Taliban telah berubah.

"Posisi Taliban tidak berubah terkait perempuan, hak kebebasan berekspresi, media dan pendidikan anak perempuan," kata Hamidi kepada DW. "Mereka mengizinkan perempuan untuk mendapat pendidikan, tetapi hanya menurut kaidah Islam dan Syariah, dan mereka tidak pernah menjelaskan apa yang mereka maksud dengan itu," katanya. 

Bagaimana Taliban pengaruhi kehidupan perempuan Afghanistan?

Aktivis hak asasi Afghanistan Robina Shahabi mengatakan kepada DW, Taliban akan memperkenalkan kembali struktur tradisionalis dan fundamentalis ke Afghanistan.

Shahabi menafsirkan larangan bernyanyi remaja perempuan sebagai langkah pertama ke arah itu.

Banyak warga Afghanistan takut akan kembalinya Taliban.

"Pandangan pribadi saya dan teman-teman yang saya ajak berdiskusi, adalah bahwa ini [larangan menyanyi remaja perempuan] adalah bagian dari kesesuaian dengan Taliban dan pandangan mereka," pungkas Shahabi. (pkp/as)

Koresponden DW Shakeela Ebrahimkhail turut berkontribusi dalam laporan ini.

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Menteri pendidikan Afghanistan mengatakan sedang menginvestigasi pernyataan baru-baru ini dari seorang direktur kementerian pendidikan di kota Kabul yang melarang perempuan berusia 12 tahun ke atas bernyanyi di depan publik.

Larangan ini mendapat kritik yang meluas di media sosial. Para perempuan membagikan video mereka sambil bernyanyi dengan menggunakan tagar #IAmMySong. Pro dan kontra ini datang di tengah kekhawatiran kemungkinan kesepakatan damai dengan Taliban.

Di bawah Taliban, remaja perempuan tak diberi pendidikan dan sebagian besar musik dilarang. Pernyataan dari Kabul, melarang remaja 12 tahun ke atas untuk bernyanyi dalam acara sekolah, dan juga melarang remaja perempuan memiliki guru musik laki-laki.

Menteri pendidikan mengatakan, kebijakan ini tidak mencerminkan posisi dirinya. Dia mengatakan akan mengkaji hal ini, dan mungkin mengambil langkah menegur atau korektif kepada bawahannya yang mengeluarkan kebijkan tersebut.

Larangan ini diumumkan beberapa hari lalu, yang menapat kritik di media sosial. Kalangan sastrawan dan aktivis mengatakan pelarangan bernyanyi menjadi langkah mundur dari hak-hak pendidikan.

"Maafkan kami Tuhan, manusia bisa begitu kejam, bahkan mereka melihat seorang anak dari sudut pandang berbasis gender," cuit penulis dan penyair Shafiqa Khpalwak, satu dari penulis perempuan terkenal di negara itu.

Sejumlah perempuan membandingkan larangan ini terhadap kehidupan di bawah Taliban - yang digulingkan pada 2001 - di mana remaja perempuan dilarang untuk pergi ke sekolah, dan kebanyakan musik dilarang. "Ini adalah Talibanisasi dari dalam republik," kata Sima Samar, seorang aktvisi HAM Afghanistan kepada kantor berita Associated Press (AP).

 

Afghan female musicians

"Musik adalah bagian besar dari budaya Afghanistan. Jika pelarangan berlanjut dan para perempuan muda dilarang bernyanyi, maka kami akan kehilangan bagian dari budaya Afghanistan," kata pianis konser Maram Atayee.

Remaja berusia 18 tahun dari Kabul itu adalah anggota orkestra Zohra yang semuanya perempuan. Ia kini belajar di Institut Musik Nasional Afghanistan. Seperti banyak anak muda Afghanistan, dia khawatir dengan arahan kementerian pendidikan baru-baru ini, yang melarang perempuan berusia di atas 12 tahun bernyanyi di depan umum ketika ada laki-laki.

 

Tanda peringatan

"Hari ini mereka melarang perempuan muda menyanyi - jika kami tidak melawan, mereka akan melarang musik sepenuhnya," kata Maram kepada BBC.

 
Maram Atayee performing in a concert

Ketakutannya bukan tanpa alasan - larangan tersebut membawa kembali kenangan menyakitkan semasa kekuasaan Taliban antara tahun 1996 dan 2001. Para militan percaya pada bentuk Islam yang keras, yang melihat bahwa musik tidak sesuai dengan keyakinan mereka dan mereka sama sekali melarangnya.

"Itu sangat mengejutkan dan menyedihkan. Saya tidak menyangka orang akan melakukan ini di tahun 2021," katanya.

 

Peluang

Maram bergabung dengan orkestra Zohra empat tahun lalu dan mereka telah tampil dalam konser di banyak negara, termasuk Pakistan, India, China, Portugal, Azerbaijan, Inggris, Swedia, Slovakia dan Australia.

 

Afghan female musician playing with a dog

Peluang seperti ini sangat jarang bagi anak perempuan yang tumbuh di negara yang dilanda perang saudara selama empat dekade. "Orkestra memberi kami kesempatan untuk melihat dunia, bermain dengan musisi lain, dan merasakan budaya yang berbeda," kata Maram.

Afghanistan adalah salah satu negara termiskin di dunia, dengan pendapatan per kapita sekitar $ 500 (Rp7,1 juta) per tahun, dan jumlah perempuan yang bisa membaca di bawah 30 persen.

 

Keluhan-keluhan

Kementerian pendidikan mengatakan mereka mengambil keputusan tersebut setelah menerima keluhan dari orang tua, yang mengatakan pendidikan anak perempuan mereka terganggu oleh kegiatan bermusik yang mereka ikuti.

 

Dr Ahmad Sarmast surrounded by the members of his orchestra after a performance in Slovakia

 

"Ini tidak masuk akal," kata Dr Ahmad Sarmast yang gelisah dengan persoalan itu. Dia adalah orang yang mendirikan orkestra Zohra pada 2015 dan Institut Musik Nasional Afghanistan pada 2010. "Bahkan jika ada keluhan dari beberapa orang tua, itu tidak bisa menjadi alasan untuk membungkam semua perempuan muda Afghanistan," katanya kepada BBC.

Menyusul protes terhadap larangan tersebut, kementerian pendidikan Afghanistan mengeluarkan klarifikasi pada hari Kamis (11 Maret) yang mengatakan anak-anak sekolah dasar dapat berpartisipasi dalam kegiatan bernyanyi jika mendapat izin dari keluarga mereka.

 

Kebebasan berekspresi

Pemerintah mengatakan mereka yang melanggar arahan ini akan ditangani sesuai dengan aturan hukum, tetapi tidak menyebutkan tindakan hukuman apa pun. Dr Sarmast telah memulai kampanye daring menentang larangan tersebut.

 

Zohra concert in progress

"Saya mendesak orang-orang untuk merekam dan mengunggah lagu untuk menyuarakan perlawanan mereka," katanya. Dr Sarmast lolos dari kematian pada tahun 2014, ketika seorang pelaku bom bunuh diri Taliban meledakkan dirinya hanya beberapa meter darinya, saat dia tengah menonton drama yang dipentaskan oleh murid-muridnya di Kabul.

Dia kehilangan pendengaran di satu telinga dan harus menjalani beberapa operasi untuk mengeluarkan pecahan peluru dari kepalanya. Namun, dia masih mendedikasikan diri untuk bidang yang sama. "Para perempuan muda Afghanistan harus bisa bebas berekspresi lewat musik," katanya.

Komisi Hak Asasi Manusia Independen negara itu telah bergabung menentang langkah pemerintah itu. "Hak atas pendidikan, kebebasan berekspresi dan akses ke keterampilan artistik adalah hak dasar semua anak," katanya dalam sebuah pernyataan.

Dr Sarmast sangat mengkhawatirkan masa depan. "Ini adalah upaya untuk membatasi perempuan dan anak perempuan secara sosial. Jika kita tidak menghentikan ini, lebih banyak pembatasan akan diberlakukan," katanya.

Perwakilan pemerintah Afghanistan saat ini sedang merundingkan kesepakatan damai dengan Taliban, yang dapat mengarah pada pembagian kekuasaan dengan militan dan penarikan pasukan Amerika. Taliban didorong keluar oleh invasi militer pimpinan Amerika pada akhir 2001. Tapi butuh waktu bertahun-tahun untuk menghidupkan kembali musik Afghanistan.

 

Perjuangan awal

Kompetisi musik di televisi sekarang sangat populer di Afghanistan dan lagu-lagu, dari Turki hingga Bollywood dan sekitarnya, dapat didengar di radio. Tetapi penolakan terhadap musik tidak memudar sepenuhnya dengan jatuhnya Taliban.

 

Zohra orchestra performing in Slovakia

"Hanya orang yang sangat kuat yang bisa menjadi penyanyi atau musisi di Afghanistan," kata Maram. Dia memahami itu dari pengalaman. Kakek-nenek Maram menentang musik, begitu pula orang tuanya pada awalnya.

Namun setelah pindah ke Mesir pada tahun 2000, penentangan orangtuanya berkurang. Maram lahir pada tahun 2002 di Kairo dan mulai belajar piano saat berusia lima tahun. Dia tampil di konser pertamanya pada usia enam tahun. Perjalanan musik Maram mengalami gangguan ketika keluarganya pindah kembali ke Kabul ketika dia berusia 13 tahun.

"Ketika saya datang ke sini semuanya berubah. Ayah saya khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada kami jika saya melanjutkan musik saya," kata Maram. Ayahnya bahkan memintanya untuk berhenti bermain piano di rumah.

 

Cinta pada piano

Maram merasa sulit untuk menurut.

 

Zohra concert in progress

"Saya benar-benar tidak tahu betapa berharganya musik bagi saya, hingga saya datang ke Afghanistan. Di sini orang dan budayanya berbeda. Ada begitu banyak kesulitan," kata Maram. "Satu-satunya hal yang tetap sama adalah musik saya." Dia menghubungi Dr Sarmast dan dia membantunya mendapatkan izin dari ayahnya untuk bermain piano dua kali seminggu.

"Dua jam itu paling penting bagi saya. Saya tidak pernah ingin meninggalkan piano," kata Maram. Dia segera bergabung dengan sekolah musik dan orkestra yang dia dirikan, dan menjadi pianis pada usia 14 tahun.

"Memilih musik adalah keputusan terbaik dalam hidup saya. Saya menjadi lebih dewasa dan guru saya mengatakan saya adalah panutan yang baik." Dia mengatakan timnya menginspirasi banyak pelajar untuk mempelajari musik.

 

Mimpi yang tinggi

Maram sekarang menghabiskan sebanyak delapan jam sehari untuk berlatih piano dan dia ingin melanjutkan studinya.

 

Maram pratising her music

"Tidak ada perguruan tinggi di Afghanistan yang menawarkan gelar di bidang musik, jadi saya ingin pergi ke luar negeri," katanya. Dia khawatir langkah terbaru pemerintah bisa menghancurkan aspirasi banyak orang. Untungnya dia mendapat dukungan penuh dari orang tuanya dan dia memiliki tujuan yang jelas.

"Saya ingin menjadi perempuan Afghanistan pertama yang melakukan konser piano solo di seluruh dunia."

Diterbitkan di Berita

Gubernur Herat Sayed Abdul Wahid Qatali mengatakan puluhan rumah dan toko rusak akibat ledakan tersebut, dengan wanita dan anak-anak termasuk di antara yang tewas. Tim penyelamat di tempat kejadian berusaha menyelamatkan orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan, seperti dikutip dari Deutsche Welle, Sabtu (13/3/2021). 

Meskipun tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas ledakan itu, pihak berwenang setempat menyalahkan Taliban atas insiden tersebut. Taliban fundamentalis Sunni telah melancarkan pemberontakan terhadap pemerintah Afghanistan yang didukung Barat selama hampir dua dekade.

Diterbitkan di Berita

medcom.id Kabul: Kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan tiga wanita pekerja media di Afghanistan. Serangan yang sama melukai seorang wanita lainnya, yang kini kritis di rumah sakit.

ISIS mengklaim para petempurnya telah menargetkan tiga wanita yang bekerja di sebuah stasiun televisi di kota Jalalabad Timur, pada Selasa, 2 Maret 2021, malam waktu setempat.

Kelompok militan itu mengklaim anggotanya melakukan pembunuhan terhadap apa yang disebutnya sebagai "wartawan yang bekerja untuk salah satu stasiun media yang setia kepada pemerintah Afghanistan yang murtad".

Ketiga wanita, yang bekerja untuk televisi lokal Enikas TV, diketahui berusia antara 18- 20 tahun. Menurut pejabat Afghanistan, ketiganya ditembak ketika dalam perjalanan pulang kerja.

Pemakaman ketiganya akan dilaksanakan pada Rabu, 3 Maret 2021, waktu setempat.

Selain tiga korban meninggal dunia, diketahui ada satu wanita lain yang mengalami luka-luka akibat serangan itu. Kini, wanita itu tengah dirawat di sebuah rumah sakit dalam kondisi kritis.

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani mengutuk serangan itu, di mana awalnya polisi setempat menuduh pemberontak Taliban, yang kemudian membantah terlibat. 
(KHL)

Diterbitkan di Berita