JALALABAD, KOMPAS.TV – Kericuhan terjadi pada demo Anti-Taliban di Kota Jalalabad, Afghanistan pada 18 Agustus 2021. Taliban menembaki warga yang protes dan membentangkan bendera nasional Afghanistan sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Afghanistan yang jatuh pada 19 Agustus.

Warga menurunkan bendera Taliban yang dinaikan di sejumlah wilayah yang telah dikuasai oleh Taliban. Namun, aksi ini membuat Taliban bereaksi keras. Warga Afghanistan bertekad untuk mengembalikan pemerintahan sebelumnya.

"Saya berdiri di sini di depan Anda. Anda dapat memukul saya dengan 30 peluru, membunuh saya. Saya akan mengorbankan hidup saya untuk bendera ini, ini bendera saya. Pemerintah saya akan segera kembali, insya Allah,” ujar salah satu warga seperti dilansir dari APTN (18/8/2021).

Saat kejadian setidaknya 1 orang tewas dan 6 orang lainnya terluka. Sementara itu, Taliban berhasil menguasai Afghanistan sejak 15 Agustus 2021.

Video Editor: Vila Randita

Penulis : Sadryna Evanalia

Diterbitkan di Berita
Aulia Damayanti - detikFinance Jakarta - Pasukan Taliban dilaporkan menghalangi warga di bandara yang ingin melarikan diri dari Afghanistan. Bandara yang seharusnya menjadi tempat yang aman untuk berpergian tetapi ini kondisinya berbeda, orang yang hendak pergi dihalangi hingga menimbulkan kekacauan.

Dikutip dari CNBC, Kamis (19/8/2021), ribuan orang yang ingin pergi sampai berlarian ke landasan pesawat. Bahkan beberapa orang nekat hampir memegang pesawat saat pesawat akan lepas landas. Kekacauan ini terjadi di Bandara Internasional Hamid Karzai.

Sekitar 4.500 tentara AS dikerahkan ke bandara untuk evakuasi orang yang berjatuhan. Beberapa tentara dilaporkan telah melepaskan tembakan peringatan ke udara, bermaksud untuk mengendalikan kerumunan pendatan.

Menurut Wakil Menteri Luar Negeri AS Wendy Sherman kekacauan di bandara Afghanistan melanggar komitmen Taliban kepada AS karena menghalangi orang yang hendak pergi dari negara itu. Terutama banyak pekerja AS hingga jurnalis AS yang terjebak di negara itu.

"Kami telah melihat laporan bahwa Taliban, bertentangan dengan pernyataan publik mereka dan komitmen mereka kepada pemerintah kami, menghalangi warga Afghanistan yang ingin meninggalkan negara itu untuk mencapai bandara," katanya.

Mengingat banyak militer AS di Afghanistan yang terlibat dalam keamanan, maka Sherman berharap mereka bisa meluruskan dan mengizinkan warga AS, negara bagian AS, hingga warga Afghanistan yang hendak lari dari negara itu diberikan jalan.

Namun, di sisi lain Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin mengakui bahwa militer AS saat ini tidak memiliki kemampuan untuk mengawal orang AS keluar dari Afghanistan.

Dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, Menteri Pertahanan Lloyd Austin dan Sekretaris Keamanan Dalam Negeri Alejandro Mayorkas yang berada di Afghanistan tercatat ada sekitar 200 lebih wartawan dan staf serta keluarga AS di Afghanistan yang berusaha untuk mengungsi.

Sebelumnya, sudah ada 2.000 orang AS yang berhasil dievakuasi dari Afghanistan dalam waktu 24 jam. Namun, masih ada lebih dari 4.840 orang lagi untuk evakuasi selama beberapa hari sebelumnya.

(eds/eds)

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia Taliban telah mengejutkan dunia setelah menguasai kembali Afghanistan hanya dalam waktu 10 hari, cepat mengambil alih kendali kota-kota besar dan kecil.

Masih belum jelas siapa yang nantinya akan mengambil tampuk pemerintahan baru. Tapi apa yang kita ketahui tentang pemimpin Taliban sejauh ini, siapa saja mereka?

1. Hibatullah Akhundzada

Hibatullah Akhundzada menjadi panglima tertinggi Taliban pada Mei 2016.

Pada periode 1980an, dia terlibat dalam perlawanan Islam melawan kampanye militer Soviet di Afghanistan, tapi reputasinya lebih dari sekadar pemipin agama dibandingkan pemimpin militer.

Akhundzada bekerja sebagai kepala Pengadilan Syariah pada 1990an.

Setelah pertama kali mendapat kekuasaan pada 1990an, Taliban mempromosikan dan mendukung hukuman sesuai dengan interpretasi mereka yang sempit mengenai hukum Islam: mereka mengeksekusi pembunuh dan pezina di muka umum, dan memotong anggota tubuh pencuri.

Di bawah kepemimpinan tertutup Mullah Mohammed Omar (yang diperkirakan meninggal pada 2013), Taliban juga melarang adanya televisi, musik, bioskop, rias wajah, dan melarang perempuan berusia 10 atau lebih untuk duduk di bangku sekolah.

 

Mullah Mohammed Omar

Sangat sedikit foto dan gambar mengenai mantan pemimpin Taliban, Mullah Mohammed Omar, yang meninggal pada 2013. EPA

 

Akhundzada diyakini berusia 60an, dan menjalani sebagian besar hidupnya di Afghanistan.

Bagaimana pun, menurut para pakar, dia mempertahankan hubungan dekat dengan apa yang disebut "Quetta Shura" - Para pemimpin Taliban Afghan yang dikatakan berbasis di kota Quetta, Pakistan.

Sebagai panglima tertinggi kelompok tersebut, Akhundzada bertanggung jawab atas urusan politik, militer dan agama.

 
 
 
para pemimpin Taliban
1px transparent line

2. Abdul Ghani Baradar

Mullah Abdul Ghani Baradar adalah satu dari empat tokoh laki-laki yang mendirikan Taliban pada 1994.

Dia menjadi ujung tombak pemberontakan setelah Taliban digulingkan oleh invasi AS pada 2001.

Tapi dia ditangkap dalam operasi gabungan AS-Pakistan di Kota Karachi, Pakistan Selatan, Februari 2010.

 

Taliban delegation headed by Abdul Ghani Baradar (C), the groups deputy leader, are seen leaving the hotel after attending the meeting on Afghan peace with the participation of delegations from Russia, China, the US, Pakistan in March 2021

Mullah Abdul Ghani Baradar (tengah) adalah salah satu pendiri Taliban di Afghanistan. GETTY IMAGES

 

Dia menjalani hukuman penjara selama delapan tahun, sampai akhirnya dibebaskan sebagai bagian dari rencana untuk memfasilitasi proses perdamaian. Dia telah menjadi kepala kantor politik di Qatar sejak Januari 2019.

Pada 2020, Baradar menjadi pemimpin pertama Taliban yang berkomunikasi secara langsung dengan presiden AS setelah melakukan perbincangan dengan Donald Trump.

Hari ini, Abdul Ghani Baradar adalah pemimpin politik utama Taliban.

"Kami memperoleh kemenangan yang tak disangka-sangka.. sekarang, ini adalah tentang bagaimana kami melayani dan melindungi rakyat kami," kata Baradar dalam sebuah pernyataan yang direkam di Doha, ibu kota Qatar, di mana dia menjadi bagian dari tim negosiasi Taliban dalam perundingan damai.

 

Mike Pompeo and Abdul Ghani Baradar

Menlu AS, Mike Pompeo dan Abdul Ghani Baradar bertemu pada September 2020 di Doha. GETTY IMAGES

 

3. Mohammad Yaqoob

Mohammad Yaqoob adalah anak dari pendiri Taliban, Mullah Mohammed Omar.

Dia diyakini berusia kurang lebih dari 30 tahun, dan masih mengambil peran sebagai pemimpin operasi militer Taliban.

Setelah kematian mantan pemimpin Taliban, Akhtar Mansour pada 2016, sejumlah militan menginginkan Yaqoob menjadi panglima tertinggi yang baru, tapi sebagian lainnya merasa bahwa dia masih terlalu muda dan kurang pengalaman.

Menurut laporan media lokal, Yaqoob tinggal di Afghanistan.

4. Sirajuddin Haqqani

Sirajuddin Haqqani adalah salah satu wakil pimpinan tertinggi Taliban.

Setelah kematian ayahnya, Jalaluddin Haqqani, dia menjadi pemimpin baru dari jaringan Haqqani, yang telah dihubung-hubungkan dengan sejumlah serangan paling kejam di Afghanistan saat melawan pasukan pemeirntah dan sekutu Barat dalam beberapa tahun terakhir.

Jaringan Haqqani merupakan salah satu yang paling kuat dan ditakuti di dalam kelompok Taliban. Sebagian orang mengatakan, geng mereka lebih berpengaruh dibandingkan kelompok ISIS di Afghanistan.

 

FBI poster on the Haqqni network

Jaringan Haqqani saat ini menjadi salah satu geng Taliban yang paling kuat dan ditakuti di antara militan. FBI

 

Kelompok tersebut, yang dilabeli oleh AS sebagai organisasi teroris, berperan mengawasi keuangan dan aset militer Taliban di sepanjang perbatasan Pakistan-Afghanistan. Haqqani diyakini berusia sekitar 45 tahun, dan keberadaannya tidak diketahui.

5. Abdul Hakeem

Pada September 2020, Taliban menunjuk Abdul Hakem sebagai kepala tim negosiasi Taliban yang baru di Doha. Dia diyakin berusia sekitar 60 tahun. Ia dilaporkan mengelola sebuah madrasah - sekolah Islam - di Quetta, Pakistan, sekaligus mengawasi sistem peradilan Taliban.

Banyak pemimpin senior Taliban dilaporkan mengungsi ke Quetta, untuk menggerakan para militan dari sana. Tapi Islamabad telah membantah tentang keberadaan "Quetta Shura".

Hakeem juga mengepalai dewan ulama yang kuat diyakini sebagai salah satu yang paling dekat dengan panglima tertinggi, Akhundzada.

Diterbitkan di Berita

sindonews.com KABUL - Video wanita muda dan anak-anak mencoba melarikan diri dari Afghanistan dengan putus asa memohon bantuan dari tentara Amerika Serikat (AS) telah muncul dari Kabul.

Video semacam itu semakin banyak muncul hanya beberapa hari setelah Taliban menguasai Kabul dan seluruh Afghanistan.

“Tolong, tolong, tolong, tolong Taliban mendatangi saya,” ungkap seorang wanita muda memohon dengan putus asa pada seorang tentara AS di balik pintu yang digembok dengan rantai.

Video yang viral itu dibagikan oleh seorang jurnalis di Twitter. Video-video serupa juga menunjukkan bagaimana warga putus asa meminta tolong dibawa keluar Afghanistan. Pada pukul 02.00 pagi waktu setempat pada Kamis, wanita yang sama terlihat masih menunggu di lokasi yang sama.

 

https://twitter.com/tagabhishek/status/1428107844977446917

 

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres mengkonfirmasi pada Jumat tentang laporan "mengerikan" yang muncul bahwa Taliban telah sangat membatasi hak-hak perempuan dan anak perempuan Afghanistan di daerah-daerah yang mereka rebut.

Taliban memberikan indikasi pertama pada Selasa sejak berkuasa bahwa mereka tidak akan mewajibkan burqa bagi perempuan seperti yang mereka lakukan ketika mereka terakhir memerintah Afghanistan.

Di samping kekhawatiran yang berpusat pada pakaian, banyak negara dan kelompok hak asasi manusia telah memperingatkan nasib pendidikan perempuan di Afghanistan yang sekarang berada di tangan kelompok garis keras yang memasuki ibu kota Kabul pada Minggu.

Jaminan Taliban untuk bersikap lebih moderat tampaknya masih sulit dipercaya banyak pihak ketika beberapa laporan mengungkapkan kekejaman baru yang dilakukan kelompok tersebut pada para penentangnya.

(sya)

Diterbitkan di Berita

VIVA – Seorang jurnalis media nasional, Qaris Tajudin menceritakan pengalamannya ketika berada di Afghanistan saat Taliban kehilangan kekuasaannya pada 20 tahun lalu. Dari cerita tersebut, publik bisa sedikit tahu kenapa sekarang mereka bisa berkuasa lagi. 

Jadi, kata dia, tidak lama setelah tragedi Menara World Trade Center (WTC) Amerika Serikat pada 9 November, AS menyerang Afghanistan karena Taliban yang berkuasa menyembunyikan Osama bin Laden, pemimpin Al-Qaeda yang dianggap mendalangi aksi teror itu.

Menurut dia, AS datang dibantu Aliansi Utara yang bersuku Tajik di utara dan pasukan Ahmad Shah Massoud (Pashtun) di timur dan selatan. Hanya butuh beberapa minggu untuk merebut Kabul.

“Saya dikirim ketika Taliban sudah terdesak ke selatan, tapi masih berkuasa. Saya turun di Pakistan dengan harapan bisa masuk lewat Kandahar. Tapi di Kandahar, pasukan Taliban melarang. Alasannya, mereka enggak bisa jamin keamanan saya,” kata Qaris dikutip dari Twitter pada Rabu, 18 Agustus 2021.

Di hotel, Qaris bertemu seorang fixer yang baru mengantar wartawan Rusia masuk Afghan dari Pakistan. Caranya, dimasukkan ke karung beras. Di perbatasan, karungnya ditusuk-ditusuk pedang, dan pedang itu lewat di depan idungnya.

“Saya mau pakai jasanya, tapi enggak mau dikarungin. Dia putar otak, telpon sana-sini, lalu memutuskan memasukkan saya lewat dataran tinggi di timur. Setelah naik turun gunung dan dikejar tentara, kami bisa masuk Afghan. Perlu beberapa hari untuk sampai kota terbesar di sebelah timur: Jalalabad. Sepanjang jalan, semua kota seperti kota mati. Mencekam,” ujarnya.

Selama beberapa hari, kata dia, tidak lihat perempuan sama sekali. Pengaruh Taliban masih kuat, perempuan disembunyikan dalam rumah dan tidak boleh sekolah atau beraktivitas di luar. Jadi tidak heran ada kejadian pilu seperti yang dialami Malala Yousafzai.

“Sebenarnya sekolah cuma ada di kota besar. Di kota-kota kecil, sekolah sudah jadi markas militer. Saya sekali nginep di markas bekas sekolah. Tidur di lantai dengan granat dan peluru di sebelah (kolong ranjang),” jelas dia.

Tapi, Qaris mengaku melakukan hal bodoh yang hampir membuatnya koit alias meninggal. Di markas itu, ia dikerubungi belasan milisi yang semua mengacungkan senjata terkokang. “Udah kayak di film-film. Dengkul lemes. Salah gue apa? “Kamu pakai telepon satelit. Bahaya, bisa dilacak,” kata komandan yang selametin (duduk di tengah),” katanya.

Jadi, lanjutnya, di sana itu setiap daerah sebesar kecamatan dikuasai war lord. Setiap mau melintas harus izin dulu, kadang malah bayar. Mereka ini punya pasukan sendiri. Para warlord ini berkuasa banget. 

Nah, Qaris punya pengalaman lagi yang hampir meninggal dan ini ada hubungannya sama warlord. Dalam perjalanan Jalalabad-Kabul, seorang milisi bawa senapan mesin pingin ikut mobilnya. Fixer sudah melarang, tapi dia ngotot.

“Oke, akhirnya disetujui, tapi fixer bilang, ‘Kamu jangan ngomong apapun. Apapun’. Salah gue, pas doi masuk mobil, gue kasih salam, ‘Assalamualaikum’. Dia tahu logatnya bukan logat Afghan. Dia marah, nuduh gue intel AS dan mau bunuh gue,” katanya.

Akhirnya, Fixer meyakinkan bahwa Qaris bukan intel AS. Lalu, ia diminta baca Alquran. Tidak mempan, menurutnya bisa aja intel AS baca Alquran. Ya juga sih. Setelah itu, dia naruh moncong senjatanya di dada Qaris, ngokang, dan siap bunuh.

“Gue pasrah, ya udahlah ya, kalau memang mati, ya mati aja. Gue cuma mau salat 2 rakaat di batu gede di pinggir jalan. Eh, pas gitu tiba-tiba dia gak jadi bunuh. Lega, tapi gak tahu kenapa. Pas dia udah turun, fixer cerita sebabnya. Saya bilang, kau boleh bunuh dia, tapi bunuh saya dulu, kata fixer ke milisi. Emang kau siapa? tanyanya. Saya teman baik warlord X. Milisi itu ngeper & batal bunuh gue. Lah kalau dia gak takut sama warlord gimana? tanya gue. Ya kita mati bedua hahaha,” kata fixer itu,” lanjutnya.

Para warlord enggak loyal pada kekuasaan mana pun. Jadi, pragmatis banget? Yup. Tergantung siapa yang bayar. Jadi, kalau di Indonesia orang punya duit nyaleg, di sana orang punya pengaruh akan bikin milisi. “Ini yang buat kekuasaan di Afghan fragile. Siapa yang kuat lobby dan duitnya ke para warlord akan dapat dukungan. Di Afghan, konflik adalah bisnis,” katanya.

Ladang bisnis

Menurut dia, mau bisnis apa lagi di tengah orang-orang yang tak terpelajar, terisolir, dan semua pegang senjata. Di setiap rumah ada AK-47. Anak-anak lebih dulu belajar menembak dari baca-tulis.

Selain itu, ada bisnis opium. Dalam keadaan tanpa kekuasaan, para warlord punya atau lindungi ladang opium. Dari pinggir jalan utama bisa lihat ladang ini. Tentu, Taliban enggak bisa gerak sendiri. Pasti ada yang danain untuk menggaet para warlord. 

“Meski mereka Taliban (santri), tapi politik mereka bukan soal agama. Ini benar-benar pragmatis banget. Dan para warlord juga enggak mau gabung cuma diiming-iming surga,” katanya lagi.

Kelompok-kelompok ini bersatu kalau ada musuh bersama, kayak Uni Soviet. Tapi itu juga karena ada AS yang bayarin. Setelah Uni Soviet kabur dan kolaps, para mujahidin berantem sendiri, kudeta mulu kerjaannya.

“Taliban pada pertengahan 1990-an muncul karena geram sama berantemnya para warlord ini. Tapi akhirnya, dia masuk putaran yang sama. Apa yang terjadi beberapa hari lalu sebenernya kelanjutan aja dari konflik selama puluhan tahun,” jelas Qaris.

Siapa yang memimpin Taliban saat ini?

Namanya Mullah Baradar. Dia ditangkap pada 2010 di Pakistan. Tapi pemerintah Donald Trump pada 2018 minta Pakistan bebasin doi. Sekarang Mullah Baradar pemimpin Taliban dan "presiden" de facto Afghan. Simpulkan sendiri.

“Dulu, saat Taliban berkuasa, semua tempat hiburan diberangus. Bahkan, orang mau layangan dilarang. Alasannya? Haram,” katanya.

Nah, pas Qaris sampai, masyarakat Afghan lagi merayakan kebebasan mereka lagi. Bioskop dibuka lagi, meski filmnya film jadul. Kayak gini bioskop di ibukota Kabul. Jadi bisa kebayang kalau rakyat Afghan saat ini enggak mau hidup dibawah tekanan Taliban. 

“Bioskop dan hiburan tentu hal remeh. Yang lebih penting adalah soal keamanan. Kenapa? Gini, setiap terjadi perebutan kekuasaan kayak gini, negara akan goncang terus selama bbrp tahun utk cari titik keseimbangan. Artinya, pertempuran akan jadi makanan sehari-hari. Tentara dan pemberontak akan pakai semua fasilitas untuk perang,” katanya.

Diterbitkan di Berita

Suara.comWakil Presiden pertama Afghanistan, Amrullah Saleh mengumumkan dirinya sebagai penjabat Presiden sementara yang sah. Ini setelah Presiden Ashraf Ghani kabur dari negaranya usai pejuang Taliban menguasai ibu kota Kabul.

Marullah Saleh memang dikenal amat vokal menentang Taliban. Dalam cuitannya di Twitter, Selasa (17/8/2021), ia mengatakan, secara aturan kenegaraan, maka dirinyalah yang duduk sebagai pemimpin tertinggi yang sah apabila presiden tidak ada.

"Menurut aturan jelas Konstitusi Republik Islam Afghanistan, dalam hal presiden tidak hadir, melarikan diri atau meninggal, wakil presiden pertama akan menjadi penjabat Presiden," ujar Saleh dalam cuitannya.

"Saya berada di dalam negeri dan saya secara hukum dan sah bertanggung jawab atas posisi ini. Saya berkonsultasi dengan semua pemimpin negara untuk memperkuat posisi ini," sambungnya.

Selain menyatakan sebagai pemimpin Afghanistan yang sah, Amrullah Saleh juga mengkritik pernyataan Presiden Amerika Serikat Joe Biden yang menyebut penguasaan Taliban adalah karena para pemimpin Afghanistan telah menyerah.

"Tidak ada gunanya berdebat dengan Presiden AS soal Afghanistan sekarang. Biarkan dia mencernanya. Kami di Afghanistan mesti membuktikan bahwa Afghanistan bukanlah Vietnam dan Taliban bahkan tidak jauh seperti Viet Cong," kata Saleh.

"Tidak seperti AS/NATO, kami tidak kehilangan semangat dan melihat peluang besar di depan. Peringatan yang tidak berguna telah selesai," sambungnya.

Diketahui, Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani diketahui melarikan diri tak lama setelah kelompok Taliban merebut ibu kota Kabul dan memasuki istana presiden.

Dalam pernyataannya di Facebook, Ghani mengklaim, ia memilih kabur demi menghindari pertumpahan darah.

Meski tak mengungkapkan di mana lokasi keberadaannya saat ini, beberapa informasi menyebutkan ia melarikan diri menuju Tajikistan.

Taliban sudah menang pertempuran dari segi senjata dan mereka memiliki tanggung jawab untuk melindungi kehormatan, kemakmuran dan harga diri rekan-rekan kami," ucap Ghani.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) memperingatkan Taliban bahwa mereka akan menyerang Afghanistan jika negara tersebut menjadi sarang terorisme lagi. 

"Mereka yang sekarang mengambil alih kekuasaan memiliki tanggung jawab untuk memastikan bawah teroris internasional tak mendapat tempat," ujar Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg kepada wartawan, seperti dilansir Reuters, Selsaa (17/8).

"Kami punya kemampuan untuk menyerang dari jarak jauh, jika kami menyaksikan kelompok teroris kembali mencoba membangun diri mereka sendiri, merencanakan dan mengatur serangan terhadap sekutu NATO dan negara mereka," ujarnya.

Operasi militer pertama NATO di luar Eropa terjadi pada tahun 2001. Saat itu, mereka mengerahkan ribuan tentara untuk bertempur melawan Al-Qaeda, kelompok teror yang dipimpin Osama Bin Laden bertanggung jawab atas serangan 9/11 di Amerika Serikat. 

Bin Laden adalah satu gerilyawan Taliban. Usai penarikan pasukan tersebut, Taliban dengan cepat bergerak dan merebut kota-kota terbesar di Afghanistan hanya dalam waktu beberapa hari.

Pengambil alihan ibu kota secara tiba-tiba pun membuat ribuan orang berlari menuju bandara. Mereka berusaha menyelamatkan diri dari kendali Taliban, yang dianggap akan menerapkan sistem ultra-konservatif, sebagaimana tahun 1996-2001.

Di Brussel, seorang jurnalis Afghanistan bertanya kepada Stoltenberg tentang tindakan dunia Barat melihat situasi terkini.

Stoltenberg kemudian meminta Taliban untuk memfasilitasi keberangkatan semua orang yang ingin meninggalkan negara itu. Ia juga mengatakan sekutu pertahanan Barat setuju mengirim lebih banyak pesawat evakuasi ke Kabul.

Di saat yang sama, Stoltenberg menyatakan frustasi dengan kepemimpinan Afghanistan dan menyalahkan pemerintah atas keberhasilan Taliban menduduki istana presiden dengan mudah.

"Sebagian pasukan keamanan Afghanistan bertempur dengan berani," kata Stoltenberg.

"Tetapi mereka tidak dapat mengamankan negara, karena pada akhirnya kepemimpinan politik Afghanistan gagal melawan Taliban dan mencapai solusi damai yang sangat diinginkan orang Afghanistan," lanjutnya

Sebelumnya, Taliban berhasil memasuki Kabul dan menduduki istana kepresidenan Taliban pada hari Minggu (15/8). Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani memilih angkat kaki dan kabur ke luar negeri, demi menghindari pertumpahan darah.

Ghani juga menyatakan Taliban sudah memenangkan seluruh pertempuran. Mereka, katanya, memiliki tanggung jawab untuk melindungi kehormatan, kemakmuran dan harga diri rakyat Afghanistan.

Sebelum sampai Kabul, Taliban telah merebut sejumlah kota strategis di Afghanistan, seperti Herat, Kandahar, Jalalabad, Mazar-i-Sharif dan lainnya. Beberapa di antaranya direngkuh tanpa perlawanan.

Dalam konferensi pers pertama usai menduduki Istana, Taliban berkeinginan membentuk pemerintahan terbuka dan melibatkan perempuan.

(ans/vws)

Diterbitkan di Berita

alinea.id Anggota Komisi I DPR, Muhammad Farhan, menyarankan, pemerintah Indonesia tidak terburu-buru mengakui kedaulatan Taliban, usai kelompok teroris itu berhasil menduduki Afghanistan pada Minggu (15/8).

Hal ini diungkap Farhan merespon pernyataan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), termasuk ucapan selamat HUT RI ke-76 dari juru bicara Taliban, Suhail Syahidin.

Dalam sebuah pernyataan, JK meyakini Taliban akan bersikap moderat ke depan. Sementara Suhail Syahidin mengungkapkan, keberhasilan kelompoknya menguasai Afganistan sama seperti kesuksesan Indonesia mengusir penjajah Belanda.

Farhan mengungkapkan, Republik Indonesia sebagai anggota komunitas internasional yang menerapkan politik bebas aktif, tentu tidak perlu tertutup terhadap gestur bersahabat dari negara mana pun. Namun, sikap resmi harus menunggu pemerintahan Taliban mampu mendapat pengakuan rakyat Afghanistan.

"Untuk respon resmi, tampaknya pemerintah RI harus menunggu sampai pemerintahan Afghanistan yang sekarang mampu menunjukkan kedaulatan dan pengakuan dari rakyat Afghanistan," kata Farhan saat dihubungi Alinea.id, Rabu (18/8).

Menurut politikus Partai NasDem ini, yang perlu dilakukan pemerintah saat ini ialah menunggu ada bukti jaminan keselamatan warga negara Indonesia (WNI) dan kepentingan Indonesia di KBRI Kabul.

"Jadi dalam kondisi sekarang, kita tunggu sampai ada bukti jaminan keselamatan WNI dan kepentingan Indonesia di KBRI Kabul," ujar Farhan.

Taliban secara efektif menguasai pemerintahan Afghanistan pada hari Minggu (15/8). Dengan demikian, Pemerintahan ketika Presiden Ashraf Ghani pun runtuh.

 

Dilaporkan, terkecuali China dan Rusia, lebih dari 60 negara mengeluarkan pernyataan bersama pada Minggu malam yang menyerukan kepada Taliban untuk mengizinkan perjalanan yang aman bagi warga negara asing dan warga Afghanistan keluar dari Kabul.

Sebelumnya, anggota Komisi I DPR Syaifullah Tamliha meyakini pemerintah Indonesia akan mengakui pemerintahan Taliban, setelah kelompok itu menguasai Afghanistan.

Berdasarkan informasi yang diperolehnya, sebut Syaifullah, Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara diam-diam juga terus-menerus menjalin hubungan dengan pimpinan Pejuang Taliban yang berpusat di Doha, Qatar.

"Terakhir beberapa bulan yang lalu menteri Luar Negeri RI RI Retno Marsudi juga berkunjung ke Doha yang tentunya mengemban misi yang sama," kata politikus PPP ini.

Diterbitkan di Berita

INDOZONE.IDSeluruh kota telah berubah bagi wanita hampir dalam semalam. Bahkan berjalan di jalan pun terasa berbeda. Hidup telah berhenti, ini adalah kata-kata seorang jurnalis wanita di Kabul setelah Afghanistan berada di bawah kendali Taliban.

Wanita di Afghanistan takut pada kelompok pemberontak ekstremis. Ketika mereka menguasai negara dengan kecepatan yang menakjubkan pada hari Minggu, para wanita takut bahwa mimpi buruk mereka akan menjadi kenyataan.

Banyak yang khawatir Taliban akan mengembalikan dua dekade keuntungan yang diperoleh perempuan dan etnis minoritas sambil membatasi pekerjaan jurnalis dan pekerja LSM.

Seluruh generasi Afganistan dibesarkan dengan harapan membangun negara demokratis yang modern, tapi mimpi itu tampaknya telah mencair ketika kelompok pemberontak mengambil alih negara pada hari Minggu.

Selama pemerintahan mereka sebelumnya, Taliban melarang perempuan bekerja di luar rumah atau bersekolah. Wanita diharuskan mengenakan burqa dan harus ditemani oleh kerabat laki-laki setiap kali mereka pergi ke luar. 

Sebuah foto beredar di media sosial yang menunjukkan pemilik salon kecantikan melukis di atas poster yang menggambarkan wanita. Para pemuda berlari pulang untuk mengganti jeans dan kaus oblong mereka dan mengenakan pakaian tradisional shalwar kamiz.

 

Kabul. pic.twitter.com/RyZcA7pktj

— Lotfullah Najafizada (@LNajafizada) August 15, 2021 "> 

"Kami semua wanita yang lebih tua telah berbicara tentang betapa sulitnya sebagai seorang wanita di masa lalu. Saya dulu tinggal di Kabul saat itu dan saya ingat bagaimana mereka memukuli wanita dan gadis yang meninggalkan rumah mereka tanpa burqa," kenang seorang wanita Afghanistan, dikutip dari India Today.

Wartawan lain yang mencoba melarikan diri dari negara itu setelah kelompok ekstremis mengambil alih mengatakan dia dirampok dengan todongan senjata dalam perjalanan ke bandara. Paspor dan dokumennya diambil, tetapi dia berhasil sampai di bandara.

Meskipun Taliban telah menjanjikan hak yang sama bagi perempuan, itu hanya dapat dianggap sebagai nilai nominal karena kekejaman yang dilakukan pada perempuan di masa lalu.

Diterbitkan di Berita

Taliban Rebut Bandara Afghanistan

Kamis, 12 Agustus 2021 12:06

VOA Indonesia Pemberontak Taliban, Rabu (11/8), merebut bandara Afghanistan di Provinsi Farah dan Kunduz sementara melakukan konsolidasi kekuatan, dan pasukan Amerika menyelesaikan penarikan diri dari Afghanistan pada akhir bulan ini.

Beberapa laporan juga menyatakan pemberontak itu berhasil merebut sebuah pangkalan AD di Kunduz setelah ratusan tentara menyerah.

Anggota parlemen Afghanistan Shah Khan Sherzad menyatakan kepada TOLO, media setempat bahwa bandara dan pangkalan AD di Kunduz “direbut oleh Taliban bersama seluruh perlengkapannya.”

Taliban juga menyatakan telah memegang penuh kendali di sembilan ibukota provinsi dan dalam proses merebut wilayah lainnya.

Perkembangan terbaru pemberontak itu datang ketika Presiden Afghanistan Ashraf Ghani melakukan perjalanan ke Mazar-i-Sharif untuk menyemangati pasukan pro-pemerintah agar mempertahankan kota terbesar di utara Afghanistan itu.

Ini merupakan sebuah pusat komersial dan rute perdagangan perbatasan yang penting antara Afghanistan dan negara tetangganya.

Ofensif Taliban baru-baru ini menyaksikan kelompok pemberontak itu berhasil merebut pelintasan perbatasan Afghanistan dengan Iran, Turkmenistan, Iran, dan satu dari lima rute perdagangan dan perjalanan dengan Pakistan.

Pasukan keamanan kesulitan untuk membendung kemajuan cepat yang diperoleh Taliban. Itu menggoncangkan pemerintah Afghanistan yang didukung Amerika dan negara-negara Barat lainnya.

Kemunduran di medan pertempuran itu memaksa Ghani, Rabu (11/8) mengganti panglima AD dengan komandan dari korps pasukan khusus, Jenderal Hibatullah Alizai.

Berbicara kepada VOA, juru bicara Taliban Zabihullah Mujahi, Rabu (11/8) menjelaskan kejatuhan sembilan ibukota provinsi itu berarti pemberontak mengendalikan secara penuh sembilan dari keseluruhan 34 provinsi Afghanistan.

Mujahih menambahkan pemberontak Taliban bertekad melancarkan ofensif terhadap provinsi Kandahar dan Helmand di selatan, dimana kebanyakan distriknya sudah dikuasai oleh pemberontak. [jm/mg]

Diterbitkan di Berita