Pengantar redaksi: Pagi tadi, Senin, 23 Juni 2025, pukul 05.41, saya menerima pesan via WA dari Yesmil Anwar yang isinya seperti di bawah ini: PEMBACA PUISI PERJALANAN DI TANAH SUCI KARYA MENTERI AGAMA RI, PROF NASARUDDIN UMAR assalamualaikum pak Yesmil, diatas saya sampaikan puisi yg dibuat oleh prof Nasaruddin Umar semasa musim haji kemarin; beliau meminta pak yesmil membacakan puisi ini besok pagi di acara nbo; Terimakasih Muhammad Hasan Thoyib_ ketua NBO (Ngaji Bareng Online) Kemudian saya menikmati pembacaan puisi karya Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia, yang dilakukan oleh Yesmil Anwar, penyair Bandung melalui video. Ada lima puisi karya Nasaruddin Umar yang ditulis di Tanah Suci, sewaktu Menteri Agama menjadi Amirul Haj. Inilah judul kelima puisi itu: “Cinta Sejati Tak Terlihat” “Wahai yang Mengetuk Jiwaku” “Cinta dalam Sujud” "Dalam Sujud Aku Mencium Tangan-Mu" “Munajat di Tanah Suci: Ketika Dosa Tak Dapat Disembunyikan, dan Kasih-Mu Tak Pernah Habis” Silakan menikmati puisi-puisi karya Menteri Agama kita. (Muhammad Ridlo Eisy, Pemimpin Redaksi inharmonia.id).*** “Cinta Sejati Tak Terlihat” Dalam sunyi malam yang merangkak, kuketuk pintu langit dengan doa lemah, bukan karena ku layak, tapi karena Kau tak pernah menolak. Cinta-Mu tak bersyarat, mengalir seperti udara—diam, namun nyata, membalut luka jiwa yang penat, menuntunku ke dalam cahaya yang sederhana. Tak perlu rupa tuk mencintai-Mu, sebab wajah-Mu terpahat di tiap denyut kalbu. Tak perlu suara tuk mendengar-Mu, sebab firman-Mu bergema dalam diamku. Ketika dunia menjauh dan sunyi menjelang, Engkaulah peluk abadi yang tak pernah hilang. Ketika tangis tak lagi punya tempat, di sujud malam, Kau beri hangat. Ya Tuhan… Cintaku ini belum sempurna, masih tercampur resah dan lupa. Namun Kau tetap setia, memandangku dengan kasih tak berbatas rupa. Aku hanya ingin tetap mencintai-Mu, meski seringkali tak tahu bagaimana caranya. Namun, jika dengan rindu dan air mata aku bisa mendekat—maka biarlah itu jadi jalannya. (Mekkah, 5 Juni 2025, pukul 01.30) “Wahai yang Mengetuk Jiwaku” Aku telah banyak berjalan, melihat langit, debu, dan suara. Tapi malam tadi Kau bisikkan padaku: "Lepaskan semuanya. Kini, dengarlah Aku." Aku pun menangis… bukan karena sedih, tapi karena dikenali. Sebab selama ini aku mencari, ternyata Engkau lebih dulu menantiku—di setiap hembusan takbir, di setiap detik yang kusangka biasa. Ya Allah, Jika ini adalah pintu, izinkan aku melangkah, tak dengan ego, tapi dengan telanjang hati. Jika ini adalah panggilan, aku jawab: "Labbaik, ya Rabb!" Meski aku belum bersih, namun Engkau tak menunggu kesempurnaanku. Engkau hanya menunggu niat kembaliku. (Mekkah, 5 Juni 2025, pukul 05.45, seusai shalat Subuh) “Cinta dalam Sujud” Dalam dingin malam yang sepi, kuhadapkan wajah pada sajadah sunyi. Hanya Engkau yang tahu isi hati, saat bibir ini gemetar menyebut Asma-Mu, ya Ilahi. Engkau yang Maha Kasih, ku temui dalam lengkung ruku dan linangan tangis. Cinta ini, meski tak sebanding, tetap kupersembahkan dalam doa yang lirih dan bening. Tak kupinta dunia yang megah, cukuplah Engkau ridha dan tak menjauhkan wajah. Sebab dunia hanyalah bayang yang menipu, sedang Engkau—cahaya yang tak pernah redup walau waktu berlalu. Dalam tiap hembusan nafasku, ada zikir yang ingin terus memujamu. Dalam tiap duka dan luka, kutemukan rahmatMu menyelimutiku tanpa cela. Tuhanku… sering ku lalai, sering pula aku lupa. Namun tak pernah Kau pergi, meninggalkanku dalam gelapnya nestapa. Ampuni aku yang penuh cela, yang mencintai-Mu dengan cinta yang belum sempurna. Ajari aku mencintai-Mu dengan sabar, seperti sabar-Mu menungguku kembali ke jalan yang benar. (Mekkah, 5 Juni 2025, pukul 02.30) "Dalam Sujud Aku Mencium Tangan-Mu" Ya Rabb… Pagi ini aku terbangun, dengan hati yang gentar namun penuh rindu. Semalam, aku bermimpi tentang-Mu. Aku tak tahu isinya utuh, tapi aku tahu… Engkaulah yang memanggil. Dengan jemari jiwa yang gemetar, ingin aku cium tangan-Mu, bukan karena aku pantas, tapi karena Kau izinkan aku merasa dekat. Apakah ini ilham-Mu? Atau hanya air mata yang Kau kirim sebagai tamu? Aku tak tahu. Namun yang kutahu… Cinta ini bukan buat dunia—tapi buat-Mu. Ya Allah, Jika kata-kata ini jalan menuju-Mu, maka biarkan aku terus menulis, meski dengan tinta air mata dan huruf dari sujud. Jika tangis ini adalah zikir, maka jangan keringkan ia sampai Kau ridha. Jika rindu ini adalah jalan pulang, maka tuntun aku dengan cahaya-Mu yang tak pernah padam. Aku hanyalah hamba yang terbangun dalam kekosongan dunia, lalu Kau isi dengan satu hal: Kerinduan kepada-Mu. Terima kasih, ya Rabbi, telah menyentuhku… meski hanya lewat mimpi. Kini aku tahu, bahkan di antara tidur dan sadar, Engkau tetap mengasihiku. (Mekkah, 5 Juni 2025, pukul 03.30) “Munajat di Tanah Suci: Ketika Dosa Tak Dapat Disembunyikan, dan Kasih-Mu Tak Pernah Habis” Ya Allah, ya Syakur, ya Hamid Di Tanah Suci yang megah ini, aku tidak berpesta, tidak menyusun resolusi di atas kertas tebal, hanya bersimpuh— menghitung usia yang bertambah, dan dosa yang tak berkurang. Aku tidak membawa persembahan selain sepasang mata yang pernah terlalu sering menatap yang Engkau larang, dan hati yang lambat dalam bersyukur atas nikmat-Mu yang tak pernah berhenti. Ya Allah, ya ‘Afuw Di malam yang dingin ini, aku tidak mencari bintang, aku hanya mencari ampunan-Mu yang lebih terang dari segala cahaya langit. Tubuhku sujud, wajahku mencium bumi, air mataku membasahi lantai yang diam, sementara hatiku— mengadu dalam sunyi yang paling jujur. Ya Allah, ya Bashir, ya Gafur Umurku bertambah, tapi dosaku pun membesar. Tapi Engkau... Engkau selalu lebih besar dari apa pun yang kusebut sebagai dosa. Aku ini hamba-Mu yang berani meminta meski sering bermaksiat, yang berharap meski tak pantas, yang mencintai-Mu— meski hatiku belum bersih dari cinta pada dunia. Ya Allah, ya Sami’, ya Ghaffar Siapakah pendosa selain aku? Siapakah Maha Pengampun selain Engkau? Jika tubuh ini telah lelah bersujud, dan wajah ini basah oleh tangis, masihkah Engkau tega memasukkanku ke dalam neraka-Mu? Jika jiwaku sudah dipenuhi cinta pada-Mu, masihkah Engkau berpaling? Engkau bebas, ya Allah. Bebas menghukum atau mengampuni. Jika Engkau bakar aku dalam api, itu karena Engkau Maha Adil. Jika Engkau masukkan aku ke surga, itu karena Engkau Maha Pengasih. Ya Allah, ya Rahman, ya Rahim Ajarkan aku, bukan hanya untuk bersyukur atas nikmat, tapi juga bersabar atas cobaan. Ajarkan aku, bukan hanya menjadi ikhlas dalam kata, tapi istiqamah dalam laku. Ajarkan aku, bukan hanya untuk bicara tentang kebenaran, tapi juga takut melanggar larangan-Mu. Ajarkan aku untuk tidak hanya bisa menilai orang lain, tapi juga mengenali kehinaan diri sendiri. Ajarkan aku, bukan hanya untuk memahami yang zahir, tapi juga menyelami yang batin. Jadikan aku bukan hanya seorang alim, tapi juga seorang arif. Bukan hanya tahu, tapi juga mau mengamalkan. Ya Allah, ya ‘Afuw, ya Gafur Ampuni kami… karena kami membiarkan orang yang lemah, tanpa mengulurkan tangan. Karena kami melihat kezaliman, tanpa memberi perlindungan. Karena kami menutup mata dari yang susah, dan enggan memaafkan yang meminta maaf. Kami tersenyum melihat maksiat, dan terdiam melihat kebaikan. Kami simpan hak orang lain, dan kami abaikan kewajiban kami pada-Mu. Kami menerima kebaikan dari sesama, tanpa tahu berterima kasih. Kami membicarakan aib orang, dan menolak menghargai kebaikan mereka. Ya Allah… Jika hari ini Engkau masih mengizinkan kami hidup, maka izinkan pula kami memperbaiki hidup itu. Jangan Engkau cabut usia ini, sebelum kami sempat kembali menjadi manusia yang Engkau rindu untuk temui di hari pengadilan nanti.