Jurus Meningkatkan Bahasa Inggris  dan Matematika ala Wamen Stella Pilihan

Kholid Harras Jumat, 15 Agustus 2025 08:38
(5 pemilihan)

 

Merujuk teori, ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh sebuah bangsa untuk memperbaiki kualitas pendidikanya. Ada yang membenahi kurikulum, meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan para guru dan tenaga kependidikanya, menyediakan fasilitas yang memadai, hingga memperluas akses internet.

Namun, di Indonesia, rupanya ada satu cara baru yang lebih “inovatif”: mengajari matematika dan bahasa Inggris lewat nama makanan.

Itulah gagasan yang keluar dari bibir Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, saat menghadiri Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 di Bandung, Jumat, 8 Agustus 2025.

Dengan keyakinan penuh, Stella menyatakan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan hanya akan memenuhi gizi anak-anak, tetapi juga akan meningkatkan kemampuan berhitung dan bahasa Inggris mereka. “Mereka akan belajar menghitung dan mengenal bahasa Inggris melalui jenis-jenis makanan,” ujarnya, seperti dikutip dari laman resmi Badan Gizi Nasional.

Jadi nantinya sekumpulan siswa sambil menikmati menu MBG di kantin terjadi diskusi seperti ini:  “What is this?  Bread or cake?”. Di pojok lain, seorang siswa memegang pisang goreng lalu berkata, “This is banana fritter, one… two… three,” sambil menghitung potongan tahu isi.

Jadi guru bahasa Inggris atau Matematika tak perlu lagi menulis rumus tensis atau aljabar di papan tulis. Cukup menggelar bazar kuliner di ruang kelas. Matematika terhidang di piring, bahasa Inggris tersaji di mangkuk.

**

Kita semua sepakat bahwa gizi yang baik akan sangat berpengaruh pada kemampuan belajar siswa. Otak yang kenyang cenderung lebih fokus dibanding perut keroncongan. Tapi mengaitkannya secara langsung, yakni mengenal nama makanan dalam bahasa Inggris sama dengan meningkatkan kemampuan berbahasa, atau menghitung potongan tempe sama dengan melatih aljabar, sungguh membutuhkan lompatan logika yang jaraknya kira-kira setara dengan dari meja makan ke planet Mars.

Analogi tersebut mungkin terdengar lucu. Tapi bukan karena cerdas, melainkan karena absurd. Seperti mengatakan minum es teh manis akan membuat kita dengan cepat memahami filsafat Kant, atau makan sate atau gule kambing akan otomatis meningkatkan nilai ujian kimia siswa.

Mungkin saja Wamen Stella niatnya ingin menciptakan metode belajar kontekstual. Namun, jika konteks yang dipilih adalah nasi goreng dan donat, maka yang berkembang bukan kemampuan kognitif, melainkan kemampuan nafsu makan.

Yang lebih menggelitik,  gagasan Wamen Stella bahwa program MBG akan meningkatkan kemampuan berhitung dan bahasa Inggris disampaikan di forum resmi sains dan teknologi. Sebuah ruang yang semestinya dipenuhi data, bukti, dan konsep yang diuji secara akademis.

Namun yang keluar justru ide yang terdengar seperti dialog di ruang brainstorming program acara televisi anak-anak. Bukan berarti pendidikan tidak boleh kreatif, tetapi kreativitas yang baik selalu berdiri di atas pijakan logika, bukan di atas piring sayur lodeh.

Di negara lain, pemerintah sedang sibuk mengintegrasikan kecerdasan buatan dalam pembelajaran, menciptakan platform digital interaktif, dan mengembangkan kurikulum berbasis riset mutakhir. Sementara di sini, kita masih terjebak membahas apakah anak akan lebih pintar matematika jika menghitung potongan bakwan.

Jika begini, jangan heran bila capaian Programme for International Student Assessment (PISA) kita masih di papan bawah disebabkan bukan karena siswa kita malas, tapi karena ide-ide kebijakan kadang lahir dari meja makan, bukan meja riset.

**

Pernyataan Stella mungkin dimaksudkan untuk memotivasi, tetapi justru membuka ruang satire. Bukan tidak mungkin nanti ada usulan lanjutan: mengajarkan geografi lewat daftar menu rumah makan Padang, atau melatih fisika lewat hitungan tusuk sate yang jatuh di Warung Sate Kardjan. Semua itu demi membungkus kebijakan dengan aroma kreatif, meski rasa logikanya hambar.

Seperti biasa, rakyat hanya bisa menyimak dengan senyum pahit. Karena kita tahu, ide seperti ini sering kali tidak akan mengubah kualitas pendidikan secara nyata. Namun, setidaknya, ia berhasil memberi satu manfaat instan: menambah koleksi “materi stand-up comedy” di tengah rapat kabinet. Dan tentu saja, semua ini terjadi di negeri di mana logika sering kali disajikan sebagai lauk pelengkap—bukan menu utama. ***

Dr. Kholid Abdullah Harras, M.Pd. adalah dosen Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung. Aktif meneliti berbagai topik literasi digital dan penggunaan media digital dalam pendidikan . Ia juga telah menulis artikel ilmiah dan populer di berbagai media daring maupun jurnal, serta membimbing guru dalam penggunaan media pembelajaran digital. Buku terbarunya (semuanya terbit tahun 2025) antara lain, Mengantarkan Siswa Menjadi Pembaca Teks Digital,  Kelelahan Digital dan Mindfulness di Era Digital, Sekularisasi dan Perelijiusan Kosa Kata Bahasa Indonesia yang Berasal dari Bahasa Arab, dan Linguistik Korupsi: Bahasa Sebagai Medan Simbolik Kejahatan Suap.

Selain sebagai dosen Kholid Abdullah Harras juga berkhidmah di Ormas Islam, Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Kota Bandung dan Wilayah Jawa Barat.

 

Baca 335 kali
Bagikan: