Hasil TKA SMA 2025: Bukti Benderang Kegagalan Pendidikan Kita Pilihan

Jumat, 26 Desember 2025 10:21
(3 pemilihan)

 

"Selamat Natal dan Tahun Baru, Indonesia". Di tengah ucapan selamat itu pemerintah melalui  Kemendikdasmen justru telah menampar kita dengan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 jenjang SMA yang dirilis 23 Desember 2025.

Ini bukan kabar buruk biasa. Sebaliknya ini adalah kabar yang memalukan, memilukan, dan sekaligus menuduh: “Kita sedang membiarkan generasi muda kita jadi korban sistem pendidikan yang bobrok, kuno, dan tak punya malu.”

Lihat angkanya, dan tahan napas

  • Matematika wajib: 36,10
  • Bahasa Inggris wajib: 24,93
  • Bahasa Indonesia wajib: 55,38

Dari perolehan angka-angka TKA tersebut dapat dimaknai rata-rata siswa SMA Indonesia hampir tidak bisa berhitung, hampir tidak bisa berbahasa Indonesia dengan benar, dan sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris.

Ini bukan “rendah”, ini adalah bencana nasional. Siswa kita kalah jauh dari standar minimum manusia modern. Bahkan di negara-negara berkembang sekalipun.

Jangan bilang “soalnya susah” atau “siswanya kurang belajar”. Itu alasan pengecut. Soal TKA dirancang sesuai kurikulum yang kita sendiri buat. Kalau siswa rata-rata hanya mampu 36 di Matematika, artinya kurikulum, buku ajar, dan guru kita yang gagal total. Kita sedang melahirkan generasi yang tidak bisa berpikir, tidak bisa menalar, dan tidak siap menghadapi dunia.

Penyebabnya?

Sangat benderang. Jika kita tidak sepakat silakan dibantah:

  • Pembelajaran masih ala abad 19: hafal rumus, catat, ulang. Tidak ada ruang untuk bertanya, salah, atau bereksperimen.
  • Guru banyak yang takut Matematika sendiri, lalu menularkan ketakutan itu ke siswa.
  • Pandemi jadi kambing hitam, padahal sebelum pandemi pun kita sudah jeblok di PISA.
  • Kurikulum berganti-ganti seperti ganti celana, tapi pelatihan guru selalu setengah hati.
  • Sekolah di daerah terpencil masih jadi gudang kosong tanpa internet, buku, atau guru berkualitas.

Hasilnya? Siswa kita tidak hanya jeblok  secara akademik, tapi juga tidak punya kepercayaan diri, rasa ingin tahu, dan kemampuan bertahan hidup di dunia yang semakin kompleks. Mereka akan jadi tenaga kerja murah yang mudah ditipu data, mudah dibohongi hoaks, dan mudah kalah bersaing dengan anak-anak dari negara lain.

Kemendikdasmen  bilang “Kami akan pakai data ini untuk pemetaan dan perbaikan”. Sudah berapa puluh tahun kita dengar janji serupa? Berapa banyak menteri yang datang dan pergi, tapi angka literasi dan numerasi tetap di dasar jurang? Ini bukan lagi soal kebijakan. Ini soal kemauan politik yang tidak ada.

Yang paling menyakitkan: kita tidak kekurangan anak pintar. Kita kekurangan sistem yang berani mengakui kegagalan dan berani berubah. Kita lebih sibuk membanggakan prestasi Olimpiade beberapa anak berbakat, sementara jutaan anak lain dibiarkan tenggelam dalam ketidakmampuan.

Sekarang, pertanyaannya sederhana: 

Apakah kita mau terus pura-pura bahwa “semuanya baik-baik saja”, atau kita akhirnya berani mengakui bahwa pendidikan Indonesia sedang dalam kondisi darurat dan butuh revolusi total?

Jangan salahkan siswa. Jangan salahkan orang tua. Jangan salahkan pandemi. Salahkan sistem yang kita biarkan busuk selama puluhan tahun. Salahkan pemerintah yang lebih sibuk proyek megah daripada memperbaiki sekolah. Salahkan kita semua yang diam saja.

Hasil TKA 2025 SMA dan sederajat adalah tamparan keras di muka bangsa. Kalau kita masih bisa tidur nyenyak setelah melihat angka-angka ini, maka kita memang pantas jadi bangsa yang tertinggal selamanya.***

Baca 1819 kali
Bagikan: