Gagal Paham Menyikapi Kritik dalam ‘Komedi Tunggal’ Pandji Pilihan

Jumat, 16 Januari 2026 16:56
(2 pemilihan)

 

Fenomena pelaporan Pandji Pragiwaksono atas pertunjukan Mens Rea di Netflix oleh berbagai kelompok yang mengatasnamakan "anak muda Islam"—baik yang menamakan NU, Muhammadiyah, hingga oleh dua kelompok dadakan di kota Malang: “Aliansi Literasi Akademisi Muslim (ALAM)” dan komunitas yang menamakan diri “Umat Islam Kota Malang”_ sesungguhnya menjadi potret buram dalam lanskap kebebasan berekspresi kita. 

Ketika organisasi induk seperti PBNU dan PP Muhammadiyah justru menanggapi kritik tajam Pandji dengan santai dan dewasa, munculnya riak dari akar rumput yang menggunakan nama besar kedua ormas Islam tersebut secara reaktif, tentu memicu pertanyaan besar:

Sedangkal itukah literasi budaya generasi muda Islam kita?

Reaksi keras mereka terhadap ”Mens Rea” menunjukkan adanya kegagalan dalam membedakan antara penghinaan (insult) dan kritik sosial melalui medium seni.

‘Komedi tunggal’ (stand-up comedy) adalah cermin retak masyarakat; ia bertugas menangkap absurditas dan kemunafikan yang ada dalam realitas sosial, termasuk perilaku beragama.

**

Ketika kelompok anak-anak muda Islam yang berstatus mahasiswa atau komunitas di negeri ini membawa masalah ‘candaan’ Pandji ke ranah hukum dengan dalih penistaan, mereka sebenarnya sedang menunjukkan "kerapuhan iman" yang paradoks. Seolah-olah kesucian sebuah agama dapat runtuh hanya karena sebuah bit komedi. 

Padahal jika ditelaah lebih dalam dan dengan nalar yang jernih, kritik-kritik tajam Pandji dalam _”Mens Rea”_ seringkali menyasar pada perilaku pemeluknya, bukan esensi ketuhanannya. Memenjarakan komedian karena leluconnya adalah bentuk "pembunuhan" terhadap kreativitas dan nalar kritis. Di samping tentu saja, meminjam istilah Rocky Gerung, hanya menunjukkan “kedunguan”. 

Secara reflektif, apa yang dilakukan Pandji sebenarnya bisa dimaknai sebagai upaya amal ma'ruf nahi mungkar dengan cara yang kontemporer. 

Melalui humor, Pandji mengajak penonton untuk melihat kebobrokan, korupsi nalar, dan ketidakadilan yang sering terjadi di sekitar kita.

Sayangnya, kelompok yang mempolisikannya justru terjebak dalam ego kelompok. Mereka merasa menjadi penjaga gerbang moral (moral police) yang paling benar. 

**

Ada ironi yang pedih di sini: di saat pimpinan tertinggi NU dan Muhammadiyah menunjukkan sikap inklusif dan intelektual, sebagian anak mudanya justru memilih jalan koersif. 

Ini menunjukkan adanya diskoneksi ideologis antara nilai-nilai luhur organisasi yang moderat dengan radikalisme pemikiran di tingkat akar rumput.

Apa jadinya masa depan Indonesia jika setiap perbedaan tafsir budaya diselesaikan melalui meja hijau? 

Kita sedang menuju pada sebuah "masyarakat pelapor" (reporting society), di mana dialog dianggap melelahkan dan pemenjaraan dianggap sebagai solusi instan.

**

Keberlanjutan tren pelaporan ini akan membawa dampak sistemik yang mencemaskan bagi kualitas generasi mendatang. 

Pertama, kita akan menyaksikan lahirnya generasi yang anti-kritik, di mana ketidakmampuan mengolah umpan balik yang pahit namun benar membuat mereka kehilangan objektivitas dalam melihat realitas. 

Kedangkalan ini kemudian berimbas pada ekosistem seni yang miskin kreativitas; para seniman dan kreator akan dihantui ketakutan untuk bereksplorasi secara jujur akibat bayang-bayang pasal karet yang siap menerkam setiap saat. 

Selain itu, kondisi ini hanya akan bermuara pada kepicikan nalar, sebuah titik di mana masyarakat kehilangan kemampuan untuk menertawakan diri sendiri sebagai bentuk refleksi. 

Padahal kemampuan tersebut merupakan puncak dari kedewasaan berpikir dan kearifan intelektual suatu bangsa.

**

Keprihatinan kita bukan hanya terletak pada nasib Pandji sebagai aktor, melainkan pada nasib demokrasi kita. Membawa candaan ke ranah hukum adalah tindakan yang tidak proporsional dan cenderung kekanak-kanakan. 

Manakala generasi muda Islam terus-menerus menggunakan hukum sebagai senjata untuk membungkam ekspresi seni yang tidak sejalan dengan tafsir sempit mereka, maka kita tidak sedang membela agama. 

Sebaliknya, kita sedang mempermalukannya dengan menunjukkan bahwa kita adalah umat yang gagal berdebat di ruang gagasan.

Agama yang besar ini tidak butuh pembelaan melalui pasal penistaan dari sebuah panggung komedi. Ia lebih butuh pemeluk yang mampu menjawab kritik dengan karya, dan membalas sindiran dengan perbaikan akhlak. 

 

Allahu a’lam***

Baca 190 kali Terakhir diubah pada Jumat, 16 Januari 2026 17:02
Bagikan: