Mari kita catat, menurut worldometer.info, pada tanggal 13 Mei 2021, kasus aktif Covid-19 Indonesia berada pada peringkat 22 di dunia, dengan jumlah 94.857 orang. Mari kita pantau bersama, bagaimana keadaan pandemi di Indonesia setelah lebaran 1442 H. Pandu Riono, Epidemiolog UI berpendapat, Indonesia tinggal menunggu bom kasus Covid-19 yang lebih besar meledak. "Sudah meledak-meledak. Nanti ada bom yang lebih besar meledak, setelah Lebaran," kata Pandu pada Kantor Berita Antara, Selasa, 11 Mei 2021. (https://nasional.tempo.co/read/1461586/epidemiolog-ui-pandu-riono-sebut-bom-covid-19-meledak-setelah-lebaran). Peringatan Pandu itu menakutkan, apalagi kalau benar-benar terjadi. Kita takut, Indonesia akan seperti India. Perlu dicatat, beberapa bulan terakhir ini prestasi penanganan Covid-19 di Indonesia lumayan bagus. Prestasi ini dapat dilihat dari grafik tren kasus aktif Covid-19 di Indonesia yang disajikan oleh beritasatu.com (https://www.beritasatu.com/berita-grafik/773521/data-kasus-aktif-covid19-sampai-13-mei-2021). Bulan September 2020, kasus aktif India lebih dari sejuta orang, menduduki peringkat dua di dunia (Indonesia peringkat 16), kemudian Covid-19 mampu dikendalikan, dan pada tanggal 11 Februari 2021, kasus aktif India tinggal 137.578 orang, pada peringkat 17 di dunia. Sedangkan kasus aktif Indonesia waktu itu. lebih besar dari India, yaitu 166.492 orang dengan peringkat 12 di dunia. Namun setelah itu keadaan berubah, bom Covid-19 meledak di India, setelah upacara keagamaan dan kampanye pemilihan. Jumlah kasus aktif India meroket menjadi 3.720.408 orang, dan menjadi peringkat 2 di dunia. Sedangkan peringkat kasus aktif Indonesia turun ke peringkat 22 dengan 94.857 orang. Antara India dan AS Untuk melihat keadaan pandemi Covid-19, data kasus aktif Covid-19 adalah data yang paling representative. Angka kasus aktif didapatkan dari jumlah kasus yang terjadi dikurangi dengan jumlah pasien yang sembuh dan yang meninggal. Jika jumlah kasus aktif bertambah, itu berarti serangan Covid-19 semakin hebat, jika jumlah kasus aktif menurun, artinya serangan Covid-19 terkendali. Mari bandingkan Amerika Serikan (AS) dengan India, antara September 2020 sampai dengan Februari 2021. Pada saat India berhasil mengendalikan Covid-19, jumlah kasus aktif AS bertambah lebih dari 7 juta orang. Sebaliknya, antara bulan Februari sampai Mei 2021, waktu jumlah kasus aktif India bertambah lebih dari 3 juta orang, jumlah kasus aktif di AS berkurang lebih dari 3 juta orang. Namun, AS tetap di peringkat satu di dunia, jumlah kasus aktifnya 6,36 juta orang. Mungkin, Covid-19 di AS dapat ditekan karena Trump kalah, jika Trump menang mungkin Covid-19 makin bertambah di AS. Pengalaman Natal dan Tahun Baru Bagaimana dengan Indonesia? Ikhtiar pencegahan mudik sudah dilakukan semampu pemerintah. Hampir semua stasiun TV menyiarkannya. Mudik dilarang, karena pengalaman Natal dan Tahun baru yang pahit. Pada tanggal 22 Desember 2020 kasus aktif di Indonesia hanya 105.146 orang, dan meningkat menjadi 176.672 orang pada tanggal 5 Februari 2021. Mudik adalah peristiwa budaya yang massif. Kalau peningkatan jumlah kasus aktif seperti kasus Natal dan Tahun Baru, maka penanganan kasus mudik lebaran ini dianggap berhasil. Namun, kalau meroket seperti India, atau sepertiga India saja, keadaan Covid-19 Indonesia akan sangat mengerikan. Berapa biaya untuk menanggulangi Covid-19 di Indonesia, sampai tanggal 13 Mei 2021? Untuk test PCR sudah dikeluarkan sekitar Rp13,87 triliun (Test 15,4 juta dengan biaya Rp900.000 per test, https://www.kompas.com/tren/read/2020/10/10/122805365/batas-tertinggi-pcr-ditetapkan-tarif-rp-900000-termasuk-apa-saja). Sedangkan biaya penyembuhan Rp292,4 triliun (Jumlah yang sembuh 1,59 juta orang, dengan biaya penyembuhan rata-rata Rp184 juta, https://republika.co.id/berita/qjx07e414/ratarata-biaya-perawatan-covid19-per-orang-rp-184-juta). Sementara itu, di akhir tahun 2020, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengungkapkan, anggaran penanganan pandemi Covid-19 yang telah digelontorkan mencapai Rp 1.035,25 triliun. (https://money.kompas.com/read/2020/12/29/211100326/bpk--anggaran-penanganan-covid-19-capai-rp-1.035-25-triliun). Memang tidak enak menghitung-hitung biaya untuk menyelamatkan nyawa anak bangsa. Perlu dicatat, jumlah korban Covid-19 di Indonesia mencapai 47.716 orang, pada tanggal 13 Mei 2021, dan menduduki peringkat 17 di dunia ditinjau dari jumlah kematian karena Covid-19. Angka itu masih bersifat angka statistic, kalau dalam angka itu tidak ada keluarga kita. Begitu dalam angka kematian itu ada keluarga kita, maka angka itu akan menyesakkan dada. Mari kita lindungi diri kita, keluarga dan sahabat kita. Kita saksikan pemerintah sudah berikhtiar semampunya, untuk mencegah arus mudik. Pencegahan arus mudik tidak 100% berhasil, namun kita berharap semua keluarga di Indonesia bisa tetap sehat. (Muhammad Ridlo Eisy)***