BETANEWS.ID, KUDUS – Kabar baik datang dari RSUD dr Loekmono Hadi Kudus. Sudah tiga hari ini rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus itu tak merawat pasien Covid-19. Meski begitu, bangsal dan satu ruang (ICU) untuk pasien Covid-19 masih disiapkan.

Direktur RSUD Kudus Abdul Aziz Achyar mengatakan, penyiapan bangsal dan ICU itu untuk jaga-jaga jika ada peningkatan kasus lagi. Mengingat, pemerintah belum mengatakan pandemi sudah selesai.

“Kami masih menyisakan bangsal covid dengan 24 tempat tidur dan ruang ICU Covid-19. Semoga menjadi pertanda baik agar pandemi bisa segera berakhir,” katanya, Sabtu (18/9/2021). 

Menurutnya, pencapaian nihil kasus Covid-19 itu merupakan hasil kerja sama semua pihak. Sejak kasus mulai naik di minggu ketiga Mei 2021, pihak rumah sakit sadar bahwa tanpa kerja sama semua pihak, penurunan kasus ini tidak akan terjadi dengan cepat.

 

 

“Dengan tenaga yang terbatas, kami mengadakan team work leveling (TWL). Semua potensi di rumah sakit kita libatkan, termasuk dokter di luar KSM (kelompok staf medis) ke dalam di luar dokter paru, jantung, dan penyakit dalam sendiri. Dokter yang lain kita libatkan dalam sistem TWL,” terangnya.

Di sisi lain, Aziz juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh tenaga kesehatan di RSUD Kudus. Kekompakan tim diberengi dengan sistem manajemen yang baik terbukti berhasil melewati fase kritis dari serangan varian delta pada gelombang kedua covid-19.

“Saya juga berterima kasih kepada masyarakat Kudus yang sudah tertib menjalankan anjuran pemerintah untuk terus disiplin menjalankan protokol kesehatan, serta mendukung program pemerintah untuk menjalankan program vaksinasi sebagai ihtiyar memutus mata rantai penyebaran covid-19,” kata Aziz.

Aziz membeberkan, sampai saat ini, RSUD telah merawat 4.682 pasien covid-19, baik yang terkonfirmasi positif, suspect, maupun probable. Dari angka itu, yang dinyatakan sembuh ada 4.055 orang atau mencapai 90 persen lebih.

Editor: Ahmad Muhlisin

Diterbitkan di Berita

Liputan6.com, Jakarta Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menyampaikan, data dari berbagai negara, bahwa mayoritas pasien yang terinfeksi COVID-19 dan menjalani rawat inap di rumah sakit adalah mereka yang belum divaksin.

Sesuai analisis Public Health England (PHE), vaksinasi dua dosis efektif untuk mencegah hospitalisasi (perawatan di rumah sakit) dan kematian karena varian Delta.

Data Centers for Disease Control (CDC) Amerika Serikat, hospitalisasi dan kematian di AS menurun sejak vaksinasi dimulai pada awal 2021.

"Data National Health Institute juga menunjukkan, 99 persen kematian di Italia terjadi pada penderita COVID-19 yang belum ikut vaksinasi," ujar Retno saat menyambut kedatangan vaksin COVID-19 tahap ke-38, 39, dan 40, Kamis (19/8/2021) .

Selain itu, Retno juga menekankan, kasus COVID-19 di Indonesia telah menurun. Walau begitu, semua pihak harus tetap waspada dan tidak boleh lengah.

Hal ini melihat beberapa negara yang sudah mengalami zero-COVID-19 berbulan-bulan sekali pun, tetap dapat mengalami kenaikan kasus.

“Mari kita terus berikhtiar. Mari kita bersama-sama terus mendukung program vaksinasi dan mempercepat laju vaksinasi,” ajak Retno. 

Kasus COVID-19 Naik di Beberapa Kawasan

 

Hal yang penting, urgensi kesetaraan vaksin COVID-19, menurut Retno Marsudi, kian mendesak lantaran tren kasus COVID-19 tengah kembali menanjak di berbagai belahan dunia.

Pada periode 12-19 Agustus 2021, beberapa kawasan mengalami kenaikan kasus mingguan COVID-19 secara signifikan.

Amerika Utara tercatat mengalami kenaikan kasus positif sebesar 12 persen, Eropa sebesar 3 persen, dan Oceania 24 persen. Kawasan ASEAN mengalami penurunan sebesar 0,4 persen.

Namun, terdapat beberapa negara ASEAN yang masih mengalami kenaikan kasus mingguan secara signifikan, di antaranya, Brunei Darussalam mengalami kenaikan 304 persen, Filipina 41 persen, Vietnam 12 persen, dan Thailand 6 persen.

“Kita di Indonesia, Alhamdulillah di periode tersebut, dapat kembali menekan penyebaran kasus, yaitu sebesar -22 persen,” kata Menlu Retno melalui pernyataan resmi yang diterima Health Liputan6.com.

Infografis 4 Kriteria Kontak Erat Pasien Covid-19
Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Singapura melarang warganya menjenguk pasien dengan penyakit apa pun di rumah sakit demi mengurangi potensi penularan Covid-19.

Kementerian Kesehatan Singapura mengumumkan bahwa aturan ini mulai berlaku besok, Kamis (5/8) hingga 18 Agustus mendatang.

Meski demikian, ada pengecualian untuk empat kelompok, yaitu jika pasien sangat sakit, pasien bayi atau anak, pasien ibu yang akan atau baru melahirkan, juga pasien berkebutuhan perawat khusus.

Kelompok tersebut bisa dijenguk satu orang yang sudah menyerahkan hasil tes negatif Covid-19, dengan durasi tak lebih dari 30 menit dalam sehari. Penjenguk juga hanya bisa berada di samping tempat tidur pasien.

Kemenkes Singapura menegaskan bahwa penjenguk tak diperkenankan menggunakan toilet pasien, duduk di tempat tidur, juga makan dan minum di dalam kamar.

"Untuk pasien yang sangat sakit, bisa dijenguk lima orang yang sudah didaftarkan sebelumnya, dengan maksimal dua pengunjung di samping tempat tidur dalam sekali kunjungan dengan durasi kunjungan tidak lebih dari 30 menit," demikian pernyataan Kemenkes Singapura.

Penjenguk bisa tinggal lebih dari 30 menit jika pasien benar-benar membutuhkan pendamping terlatih. Namun, para pendamping itu harus menyerahkan hasil negatif Covid-19 dari tes antigen yang diawasi langsung oleh rumah sakit.

The Straits Times melaporkan bahwa Kemenkes mengambil tindakan ini setelah mereka mendeteksi peningkatan kasus Covid-19 belakangan ini, termasuk dari staf dan pasien di rumah sakit.

Sejauh ini, Kemenkes Singapura sudah menemukan klaster-klaster Covid di Changi General Hospital dan Yishun Community Hospital sejak Minggu (1/8).

Dengan kemunculan klaster-klaster baru itu, kasus Covid-19 di Singapura pun melonjak dengan angka hampir 100 setiap harinya sejak pekan lalu.

Angka ini melonjak dari bulan lalu, ketika Singapura melaporkan puluhan kasus Covid-19, sampai-sampai mereka sudah berencana melonggarkan aturan perbatasan.

Dengan penambahan saat ini, Singapura secara keseluruhan sudah melaporkan 63.315 kasus Covid-19 dengan 38 kematian sejak pandemi melanda tahun lalu.

(has)

Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Kudus – Jumlah pasien aktif Covid-19 di Kabupaten Kudus kini tersisa sebanyak 216 orang. Dengan rincian sebanyak 69 pasien dirawat di sejumlah rumah sakit rujukan, dan 147 pasien lainnya menjalani isolasi mandiri.

Sementara secara total, kasus corona di Kudus tercatat sudah ada sebanyak 16.260 orang. ”Namun jumlah pasien sembuh sudah ada sebanyak 14.758 orang.

Sedangkan pasien meninggalnya 1.286 orang,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Badai Ismoyo, Selasa (3/8/2021). Jumlah tersebut, lanjut Badai, telah menurun jauh dibandingkan puncak kasus pada pertengahan Juni 2021 lalu.

Di mana angka tertinggi saat itu adalah sebanyak 2.342 pasien. Kasus harian tertinggi kala itu mencapai 479 orang terkonfirmasi positif Covid-19, dan positivity rate menembus angka 60 persen.

Namun, pihaknya memastikan tak ada penurunan pada kuantitas tracing atau penelusuruan kontak untuk menemukan kasus baru Covid-19 di Kota Kretek. Skala perbandingannya pun dipastikan masih sama.

“Skalanya masih sama, bisa satu banding lima atau satu banding sepuluh,” kata Badai. Jumlah total orang yang dites sendiri, per harinya masih berada di angka 400 hingga 600 orang atau spesimen. Dengan positivity rate di bawah lima persen.

 

 

“Kudus sudah turun jauh untuk angka positifnya, walau memang masih ditemukan kasus baru,” jelas dia. Walau demikian, Badai berharap masyarakat tak mengendurkan penerapan protokol kesehatan 5M.

Mulai dari mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Dengan begitu penyebaran Covid-19 di Kabupaten Kudus bisa ditekan semaksimal mungkin.

“Ini jadi perhatian kita bersama, karena untuk menurunkannya perlu sinergitas baik dari masyarakat, pemerintah, dan unsur-unsur lainnya,” pungkasnya.  

Reporter: Anggara Jiwandhana Editor: Ali Muntoha

Diterbitkan di Berita

INDOZONE.IDPasien COVID-19 di Desa Sianipar Bulu Silape, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba, Sumatera Utara (Sumut) yang sempat viral karena dikeroyok warga dikabarkan telah meninggal dunia pada Minggu (1/8/2021).

Salamat meninggal saat sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Adam Malik. Salamat sendiri sudah berada di RS Adam Malik sejak tanggal 28 Juli 2021. Kabar duka ini disampaikan oleh keponakan Salamat Sianipar, Jhosua Lubis melalui akun Instagram-nya. 

"KABAR DUKACITA. TULANG SALAMAT SIANIPAR korban pemukulan di bulusilape, kab.tobasa, sumut telah meninggal dunia di RUMAH SAKIT ADAM MALIK, Sore Tadi Tanggal, 01 Agustus 2021," tulis Jhosua pada captionnya.

"TERPUJILAH ENGKAU TUHAN, yang telah menetapkan semua ini dan memberikan yang terbaik buat kita semua. Selamat jalan TULANG. Sudah sembuh semua sakit dan penderitaanmu, tenanglah bersama BAPA di Surga," lanjut Jhosua.

Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: Jumlah pasien yang dirawat di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat terus mengalami penurunan. Hal ini seiring dengan menurunnya kasus harian di Ibu Kota beberapa hari terakhir. 

Kepala Penerangan Kogabwilhan I Kolonel Marinir Aris Mudian mengatakan, berdasarkan data, Rabu (28/7/2021) pagi, terdapat 3.235 pasien Covid-19 yang masih dirawat di RSDC Wisma Atlet. Menurutnya jumlah pasien pagi ini berkurang dibandingkan data kemarin. 

"Jumlahnya berkurang 251 orang, semula 3.486 jadi 3.235," kata Aris lewat keterangan tertulisnya, Rabu (28/7/2021). 

Aris menjelaskan, secara keseluruhan pasien dirawat di empat tower RS Wisma Atlet Kemayoran, yakni tower 4, 5, 6 dan 7. Para pasien itu umumnya mengalami gejala sedang hingga berat.

Sementara itu, pasien yang mengalami gejala ringan atau pun tanpa gejala menjalani perawatan di RSDC Rusun Nagrak serta RSDC Pasar Rumput.

Berdadarkan data, ada 170 pasien yang menjalani rawat inap di tower 1, 2 dan 3 Rusun Nagrak di Cilincing, Jakarta Utara. 

"Jumlah itu juga mengalami penurunan dibandingkan data kemarin. Jumlah pasien rawat inap di Rusun Nagrak berkurang 53 orang," jelas Aris.

Sementara di RSDC Pasar Rumput, ada 277 orang yang menjalani rawat inap. Jumlahnya bertambah 85 orang dibandingkan data kemarin.

Terus berkurangnya jumlah pasien di RS Wisma Atlet sejalan dengan kasus Covid-19 di Jakarta yang terus menurun.

Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Jepara – Warga Kabupaten Jepara yang dirawat di rumah sakit karena terkonfirmasi positif Covid-19 saat ini tersisa 67 orang. Dari jumlah itu, 41 pasien dirawat di rumah sakit di Jepara, dan sisanya di luar daerah.

Kabupaten Jepara sendiri kini berstatus Level 4 dalam Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Muh Ali mengatakan,penurunan jumlah pasien dirawat juga diiringi turunnya kasus aktif sampai 65 persen, dalam kurun waktu tiga pekan terakhir.

Menilik data di laman corona.jepara.go.id, kasus aktif Covid-19 saat ini sebanyak 436 kasus, terdiri dari 67 orang dirawat dan sisanya isolasi mandiri. Hingga kini akumulasi kasus positif covid-19 di Bumi Kartini mencapai 17.285 kasus.

Dari akumulasi tersebut, sebanyak 15.889 pasien dinyatakan sembuh. Angka kesembuhan itu setara 91,92 persen. “Karena BOR (bed occupancy rate, red) tempat tidur turun, secara otomatis pasien yang dirawat juga ikut turun.  

Pasien (Covid-19, red) yang dirawat saat ini 41 di Jepara, 26 di luar Jepara,” sebut Muh Ali, Selasa (27/7/2021). Pihaknya memaparkan, kini di RSUD Kartini Jepara merawat 14 pasien positif Covid-19. Di RSUD Rehatta Kelat ada 16 pasien Covid-19 yang saat ini dirawat.

Sedangkan di RSI Sulatn Hadlirin saat ini hanya empat pasien covid-19 yang dirawat. “Di RS Graha Husada sekarang masih ada tiga pasien. Kemudian di RS PKU Muhammadiyah Mayong dan RSU Aisyiyah Jepara masing-masing ada dua pasien yang masih dirawat,” terangnya.

Terpisah, Bupati Jepara Dian Kristiandi menyebut, BOR di Jepara kini tinggal 13 persen yang terisi. Seluruh tempat karantina terpusat pun sudah kosong.

“Angka BOR kita saat ini 13 persen, ini penurunan yang sangat luar biasa,” pungkasnya.  

Reporter: Faqih Mansur Hidayat Editor: Ali Muntoha


Diterbitkan di Berita

sindonews.com JAKARTA - Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta bakal beroperasi sebagai rumah sakit (RS) penanganan Covid-19 mulai Sabtu, 10 Juli 2021. Terdapat delapan gedung yang bakal digunakan sebagai tempat perawatan pasien covid-19 sedang hingga berat.

Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Abdul Kadir menerangkan bahwa untuk mendapatkan perawatan di RS Asrama Haji Pondok Gede, pasien covid-19 terlebih dahulu harus mengisi aplikasi Sistem Informasi Rujukan Terintegrasi Nasional (Sisrutenas).

"Sisrutenas ini diisi oleh rumah sakit atau Puskesmas terdekat dari tempat tinggal pasien. Melalui aplikasi ini nanti akan ada rujukan dan bisa dilihat riwayat dari pasien sehingga ketika dirujuk kesini bisa mendapatkan penanganan yang sesuai,” kata Abdul Kadir, di Asrama Haji Pondok Gede, Jumat (9/7/2021).

Ia menambahkan, pihaknya mengoptimalkan seluruh gedung di asrama haji ini untuk dapat melayani pasien Covid-19. Sementara, pengelolaan manajemen RS Asrama Haji merupakan extension (perpanjangan) dari beberapa rumah sakit.

Adapun rumah sakit yang terlibat dalam manajemen RS Asrama Haji, yaitu: RS Dharmais mengelola pelayanan di Gedung A, RS Harapan Kita mengelola Gedung B, RS Kota mengelola Gedung C, RS Marzoeki Mahdi Bogor mengelola Gedung H, serta RS Ibu dan Anak Bunda mengelola Gedung D5.

"Kita mengoptimalkan semua pelayanan seluruh gedung yang ada di asrama haji, menyiapkan tempat sebanyak-banyaknya, extension (perluasan) rumah sakit dibawah agar kita dapat memonitor secara langsung dan tentunya lebih terkoordinir," terangnya.

Selain sarana prasarana, dari pihak Kemenkes juga telah menyiapkan tenaga kesehatan (Nakes) untuk memberikan pelayanan di RS Asrama Haji Pondok Gede. Total ada350 nakes yang berasal dari seluruh daerah dengan 78 spesialis.

"Nakes yang kami siapkan merupakan tenaga profesional yang berpengalaman di bidangnya dan semua menginap di asrama haji," ujar Abdul Kadir.

Lima gedung yang disiapkan sebagai tempat perawatan pasien Covid 19 adalah gedung A, B, C, H, dan D5. Satu gedung yang sudah digunakan untuk perawatan intensif pasien Covid-19 dengan gejala sedang dan berat adalah Gedung Arafah.

Sedang dua gedung yang akan digunakan sebagai akomodasi tenaga kesehatan adalah gedung D3 dan D4.

(kha)
Diterbitkan di Berita
Jauh Hari Wawan S - detikNews Sleman - Sebanyak 63 pasien di RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta, dikabarkan meninggal dampak krisis stok oksigen di rumah sakit rujukan pasien COVID-19 tersebut.
Pihak RSUP Dr Sardjito tak menampik soal adanya 63 pasien yang meninggal itu, namun tidak semuanya karena kekurangan oksigen.

Kepala Bagian Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito Banu Hermawan mengatakan, jumlah 63 pasien meninggal tersebut adalah akumulasi dari hari Sabtu (3/7) pagi sampai Minggu (4/7) pagi. Sedangkan yang meninggal karena dampak krisis stok oksigen sebanyak 33 pasien.

"Dari data kami (Sabtu, 3/7) jam 20.00 WIB sampai (Minggu, 4/7) tadi pagi, meninggal sekitar 33 pasien, jadi 33 pasien yang meninggal karena oksigen habis," kata Kepala Bagian Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito, Banu Hermawan, saat dihubungi wartawan, Minggu (4/7/2021).

Banu melanjutkan, 33 pasien yang meninggal itu pun sudah dalam kondisi tersuplai oksigen dari tabung. Mereka tak tertolong karena memang kondisinya sudah berat atau masalah klinis.

"Pertama, mereka kondisinya sudah berat, kedua mereka tetap tersuplai oksigen meskipun dengan oksigen tabung. Yang meninggal karena dengan kondisi ventilator itu hanya sekitar 4 pasien. Kemudian yang meninggal itu 15 ada di UGD," jelasnya.

Banu menambahkan, pada pukul 03.40 WIB tadi, truk oksigen liquid pertama sudah masuk dan mengisi tabung utama, sehingga oksigen sentral di RSUP Dr Sardjito sudah berfungsi kembali. Disusul truk kedua pada pukul 04.45 WIB masuk pula mengisi tabung sentral oksigen.

Terpisah, anggota Komisi D DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Muhammad Yazid mengungkapkan adanya 63 pasien di RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta, yang meninggal, Sabtu (3/7) kemarin. Diduga kondisi itu terkait dengan krisis stok oksigen yang dialami RSUP Dr Sardjito.

"Hari kemarin 63 (pasien yang meninggal). Yang jelas Sardjito krisis oksigen kemarin (Sabtu, 3/7). Mulai dari pagi sampai malam sehingga yang di ICU terjadi lonjakan kematian yang luar biasa," kata Yazid saat dihubungi wartawan, Minggu (4/7).

Berdasarkan informasi yang ia terima, lanjut Yazid, 63 kasus kematian di RSUP Dr Sardjito itu bukan hanya disebabkan oleh kekurangan oksigen. Namun, juga karena kondisi klinis pasien tersebut.

"63 ya tidak semua (meninggal) kekurangan oksigen. Secara klinis ya meninggal, meskipun COVID-19 itu ya," ungkapnya.

Yazid mengatakan hal ini bukan hanya jadi tanggung jawab RSUP Dr Sardjito. Pemerintah daerah juga punya andil. Ia pun berharap ke depan tidak akan ada lagi kelangkaan oksigen.

"Mestinya tidak hanya Sardjito yang tanggung jawab. Pemda juga tanggung jawab, apalagi dua hari lalu dibentuk satgas oksigen. Ke depan jangan sampai terulang kedua kalinya. RS lain jangan sampai kekurangan oksigen," katanya.

Diberitakan sebelumnya, RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta, mengalami krisis stok oksigen. Direktur Utama RSUP Dr Sardjito Rukmono Siswishanto mengajukan surat kepada

Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Dalam surat itu berisi laporan kekosongan oksigen dan permohonan dukungan oksigen kepada Menteri Kesehatan dan sejumlah pejabat terkait.

"Kami mengajukan permohonan dukungan agar kebutuhan oksigen dapat terpenuhi mengingat RSUP Dr Sardjito Yogyakarta termasuk RS rujukan dalam penanganan COVID-19 sampai tingkat critical," kata Rukmono dalam suratnya, Sabtu (3/7).

Rukmono melaporkan bahwa Direktur RSUP Dr Sardjito telah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mendapatkan pasokan oksigen dari penyedia maupun tempat lain. Tetapi sampai saat ini masih mengalami kendala.

"Pasokan oksigen diperkirakan paling cepat akan datang ke RS pada Minggu, 4 Juli 2021, pukul 12.00 WIB," kata Rukmono.

Persediaan oksigen sentral RSUP Dr Sardjito, lanjutnya, mengalami penurunan mulai hari Sabtu (3/7) pukul 16.00 WIB sampai dengan kehabisan persediaan oksigen pada pukul 18.00.

"Sehingga berisiko pada keselamatan pasien yang dirawat, baik pasien COVID-19 maupun non COVID-19," katanya.

Rukmono menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan upaya antisipasi maksimal dan penghematan seoptimal mungkin.

(rih/mbr)

Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Kudus – Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Kudus kembali mencatat adanya penurunan jumlah pasien aktif di Kudus,Minggu (27/6/2021) malam. Ini terjadi setelah jumlah pasien sembuh lebih banyak dibanding kasus baru.

Yakni ada 148 pasien sembuh, sementara pasien baru sebanyak 44 orang. Sedangkan pasien meninggal tercatat ada lima orang. Sehingga menjadikan jumlah pasien aktif di Kabupaten Kudus kini menurun kembali menjadi 1.694 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Badai Ismoyo menyampaikan, untuk saat ini angka kesembuhan mulai berangsur stabil dan cenderung naik. Sementara angka kematian mengalami penurunan.

“Untuk total pasien sembuh kini berada di angka 10.693 orang, sementara jumlah pasien meninggal kini berada di angka 1.107 orang, dari total kasus sebanyak 13.494,” ujar Badai, Senin (28/6/2021).

Sementara untuk jumlah penambahan baru, lanjut dia, mengalami penurunan di tiga hari terakhir. Pada tanggal 25 Juni, penambahan kasus aktif terjadi sebanyak 279 orang.

Kemudian di tanggal 26 Juni menurun ke 186 orang, dan tanggal 27 Juni kemarin menurun lagi menjadi 44 orang saja. Sembilan kecamatan di Kabupaten Kudus pun kini dikategorikan sebagai zona oranye penyebaran Covid-19.

Namun secara keseluruhan, Kabupaten Kudus masih dikategorikan sebagai zona merah penyebaran Covid-19. Oleh karena itu pihaknya berharap masyarakat bisa melaksanakan disiplin protokol kesehatan secara baik dan benar.

Penerapan prokesnya, seperti rajin mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. “ Serta mengurangi mobilitas dan menghindari kerumunan, sehingga bisa memutus rantai penularan virus ini,” jelas Badai  

Reporter: Anggara Jiwandhana Editor: Ali Muntoha

Diterbitkan di Berita
Halaman 1 dari 2