MURIANEWS, Kudus – Sebanyak 379 pasien Covid-19 di Kabupaten Kudus dinyatakan sembuh pada Sabtu (26/6/2021) petang. Sementara jumlah pasien baru bertambah sebanyak 186 orang, dan pasien meninggal bertambah 20 orang.

Penambahan di tiga kategori tersebut pun memengaruhi jumlah pasien aktif menjadi sebanyak 1.803 orang. Atau menurun sebanyak 212 orang dari hari sebelumnya.

“Dengan rincian 385 pasien menjalani perawatan di rumah sakit, dan 1.418 pasien menjalani isolasi mandiri,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Badai Ismoyo, Sabtu (26/6/2021) petang.

Kemudian secara akumulasi, lanjut Badai, jumlah total warga Kudus yang terpapar Covid-19 hingga saat ini sebanyak 13.450 orang. Sebanyak 10.545 orang sudah dinyatakan sembuh. Sementara pasien meninggal kini berada di angka 1.102 orang.

“Sisanya adalah pasien aktif yaitu sebanyak 1.803 orang,” ujarnya.

Kabupaten Kudus, tambah dia, juga masih memiliki sebanyak 238 pasien suspek yang masih menunggu hasil swab PCRnya. Serta ada sebanyak 211 probable meninggal dunia. Status zonasi di tingkat kecamatan juga mengalami penurunan.

Di mana sembilan kecamatan di Kabupaten Kudus mengalami perubahan status menjadi zona oranye. Setelah pada awal pekan ini semuanya berstatus zona merah.

Hanya, Badai tetap mengimbau semua warga Kabupaten Kudus untuk terus menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Sehingga bisa menekan angka penularan Covid-19.

“Kami terus ingatkan untuk mematuhi protokol kesehatan 5M, yakni mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas,” jelasnya.

Para pasien isolasi mandiri juga diharapkan bisa melakukan isolasi dengan sungguh-sungguh. Apabila rumahnya tidak memadau, disarankan untuk masuk ke isolasi terpusat milik desa ataupun pemerintah.

“Para nakes di rumah sakit juga terus berjuang menyembuhkan pasien Covid-19 yang dirawat,” tandas Badai.  

Reporter: Anggara Jiwandhana Editor: Ali Muntoha

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Lonjakan kasus positif Covid-19 masih terjadi di Ibu Kota. Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat, penambahan kasus positif Covid-19 mencapai 9.271 orang pada Sabtu (26/6/2021) kemarin.

Ini merupakan penambahan kasus harian tertinggi di DKI Jakarta selama pandemi.

Sebelumnya, penambahan kasus harian tertinggi terjadi pada dua hari sebelumnya dengan 7.505 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Widyastuti mengatakan, tidak semua penderita Covid-19 harus dirawat di rumah sakit (RS).

"Kementerian Kesehatan juga telah mengeluarkan kriteria prioritas pasien yang bisa dirawat di RS, yakni utamanya yang bergejala sedang, berat, dan kritis," kata Widyastuti dalam keterangan tertulis, Sabtu (26/6/2021).

Bagi pasien Covid-19 tanpa gejala (OTG) dan gejala ringan, tidak perlu isolasi di RS.

OTG adalah pasien terkonfirmasi positif Covid-19, tetapi tidak memiliki gejala. Sementara pasien gejala ringan seperti mengalami demam, batuk, pilek, sakit kepala, nyeri otot, tanpa sesak napas.

"Untuk yang bergejala ringan, seperti batuk, pilek, sakit kepala, radang tenggorokan, tidak sesak napas, maupun yang tanpa gejala, bisa menjalani isolasi mandiri saja di rumah atau fasilitas isolasi terkendali,” tutur Widyastuti.

Baik OTG dan pasien gejala ringan diharuskan melakukan pemantauan mandiri, meminum paket obat yang telah diberikan, menjalankan protokol kesehatan, serta terus berkomunikasi dengan petugas kesehatan.

Pemantauan mandiri yaitu dengan memantau suhu tubuh harian, gejala harian, cek kadar oksigen dalam darah (saturasi oksigen) dengan pulse oximeter, memantau tanda-tanda kegawatan (sesak napas, hilang kesadaran, gelisah, keringat dingin, kadar oksigen di bawah 95 persen), dan tetap minum obat untuk penyakit sebelumnya.

Gejala sedang dan berat

Sementara, kriteria prioritas pasien yang perlu dirawat di RS, antara lain jika saturasi oksigen 93 persen atau di bawahnya, mengalami sesak napas, kesulitan/tidak dapat berbicara, penurunan kesadaran, terdapat komorbid, dan bergejala sedang dengan pneumonia.

Pasien yang disebutkan di atas masuk kategori gejala sedang hingga berat, tergantung angka saturasi oksigen.

Maka, yang harus dilaksanakan adalah pasien harus dirujuk ke RS dan menaati tata laksana di RS tersebut.

Terkait dengan RS yang merawat pasien Covid-19, Widyastuti menyatakan, saat ini ada 140 RS di wilayah DKI Jakarta telah merawat pasien dengan gejala sedang hingga ringan.

Dari 140 RS itu, terdapat RSUD/RSKD di bawah Pemprov DKI Jakarta yang seluruhnya telah merawat Covid-19.

RS itu di antaranya RSUD Tanah Abang, RSUD Cempaka Putih, RSUD Sawah Besar, RSUD Tugu Koja, RSUD Pademangan, RSUD Cengkareng, RSUD Kalideres, RSUD Pasar Minggu, RSUD Kebayoran Lama, RSUD Kebayoran Baru,

RSUD Jatipadang, RSUD Kramatjati, RSUD Ciracas, RSKD Duren Sawit, RSUD Tarakan, RSUD Koja, RSUD Pasar Rebo, RSUD Budhi Asih, dan RS Adhyaksa.

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama menyatakan asrama haji yang tersebar di seluruh Indonesia siap digunakan untuk menampung pasien COVID-19 dalam menjalani isolasi mandiri.

"Asrama haji pernah digunakan sebagai ruang isolasi COVID-19. Tahun ini, Menag Yaqut Cholil Qoumas sudah memberikan izin dan asrama haji siap kembali digunakan sebagai ruang isolasi COVID-19," ujar Plt Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Khoirizi dalam keterangan tertulisnya di jakarta, Senin.

Khoirizi mengatakan 27 dari 31 asrama haji milik Kemenag sudah siap digunakan untuk menampung pasien. Namun, empat asrama haji lainnya belum bisa digunakan dengan berbagai alasan, seperti Asrama Haji Pontianak, Mamuju, Jayapura, dan Sorong.

Menurutnya, koordinasi antara Kemenag dengan Satgas COVID-19 terkait penggunaan asrama haji sebagai ruang isolasi sudah dilakukan sejak lama. Bahkan, pemanfaatan asrama haji sebagai ruang isolasi juga sudah dilakukan pada 2020.

Ia mencontohkan Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, penyiapannya sudah dilakukan bersama dengan Satgas COVID-19 DKI Jakarta. Bahkan, kesiapannya juga sudah ditinjau oleh Sekda DKI dan Pangdam Jaya.

"Ada dua gedung di Asrama Haji Pondok Gede yang disiapkan sebagai ruang isolasi," ujar dia.

Demikian pula dengan UPT Asrama Haji Gorontalo, Kepala UPT sudah menggelar rapat dengan Satgas setempat agar bisa digunakan untuk menampung pasien COVID-19.

“Asrama Haji Gorontalo akan menjadi alternatif ketiga bila ruang isolasi pasien COVID-19 di tingkat provinsi sudah tidak memadai,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri Saiful Mujab mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak RS Haji Jakarta untuk memastikan ruang isolasi yang disiapkan sudah sesuai standar Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Kementerian Kesehatan, bahkan WHO.

"Setiap pasien menempati satu kamar, satu tempat tidur. Tidak boleh digabung. Ada juga standar pelayanan kasus di bawah pengawasan tenaga kesehatan," ujarnya.

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Sebanyak 5.453 pasien terkonfirmasi positif virus corona (COVID-19) hingga Selasa (15/6) masih dirawat di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran.

"Pasien bertambah 425 orang," kata Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I, Kolonel Marinir Aris Mudian di Jakarta, Selasa.

Aris menjelaskan jumlah pasien dalam perawatan pada Senin (14/6) sebanyak 5.028 orang. Pasien yang masuk berasal dari wilayah DKI Jakarta.

Aris menjelaskan para pasien COVID-19 itu dirawat di tower 4, 5, 6, dan 7. Para pasien itu dirawat dengan gejala ringan. Kapasitas RSDC Wisma Atlet Kemayoran mampu menampung 7.937 pasien sehingga saat ini tersisa sebanyak 2.484 tempat tidur yang kosong.

Untuk rekapitulasi pasien sejak 23 Maret 2020 hingga 15 Juni 2021 sebanyak 92.278 pasien terdaftar. Dimana 86.825 pasien telah keluar dengan rincian 85.815 dinyatakan sembuh, 918 dirujuk ke RS lain, dan 92 orang meninggal dunia.

Sementara itu, di RS Darurat Wisma Atlet Pademangan pasien rawat inap sebanyak 3.326 orang per Selasa (15/6). Angka itu berkurang 432 orang dibandingkan Senin (14/6) sebanyak 3.758 orang. Para pasien dirawat di tower 8, 9, dan 10.

Sebelumnya, Koordinator RSDC Wisma Atle, Mayjen TNI Tugas Ratmono mengatakan pihaknya mengoptimalkan setiap unit apartemen/rusunawa di tower 4,5, 6, dan 7.

“Setiap unit kita maksimalkan daya tampungnya jadi tiga pasien terutama pasien kategori gejala ringan. Tadinya maksimal hanya 2 pasien,” jelas Tugas.
 

Pewarta: Fauzi
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

Liputan6.com, Jakarta - Tiga skenario tengah disiapkan dalam menghadapi lonjakan kasus COVID-19 di DKI Jakarta dan daerah penyanggah, begitu kata Ketua Satuan Tugas Penanganan COVID-19, Letjen TNI Ganip Warsito.

Ganip, mengatakan, pemerintah akan membuka Tower 8 Wisma Atlet Pademangan untuk untuk merawat pasien COVID-19 kategori orang tanpa gejala (OTG).

Tower tersebut saat ini ditempati para tenaga kesehatan. Ketika dialihfungsikan, nakes akan dipindahkan ke hotel.

"Apabila langkah ini berhasil, kita akan menambah 1.572 tempat tidur," kata Ganip saat memberikan keterangan pers Kesiapan Antisipasi Lonjakan Kasus COVID-19 Pasca Libur Lebaran yang disiarkan secara langsung di Kanal Youtube BNPB pada Minggu sore, 13 Juni 2021.

Selain itu, di saat bersamaan akan ditambah pula kapasitas tempat tidur per kamar di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat, menjadi tiga yang semula dua.

"Sehingga penambahan kapasitas ini bisa menambah 2.000 tempat tidur di RSDC Wisma Atlet," ujarnya.

Dengan demikian, lanjut Ganip Warsito, kapasitas RSDC Wisma Atlet Kemayoran dapat meningkat dari kondisi sekarang, dari 5.944 menjadi 9.566 tempat tidur.

Rusun Nagrak Cilincing untuk Pasien COVID-19

Lebih lanjut pria yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan bahwa sudah berkoordinasi dengan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, untuk mulai mengoperasikan fasilitas isolasi terkendali bagi pasien COVID-19 OTG di Rusun Nagrak Cilincing.

"Terdiri dari lima tower, masing-masing 16 lantai, sehingga menambah 2.550 tempat tidur," ujarnya.

Satgas melalui BNPB, lanjut Ganip, akan membantu mengisi kebutuhan di Rusun Nagrak Cilincing secara bertahap,"Saat ini sudah kita kirimkan 900, nanti akan kita lengkapi sesuai dengan kapasitas tempat tidur yang ada di sana.".

Dengan demikian, RSDC Wisma Atlet akan memiliki kapasitas 12.116 tempat tidur, kata Ganip.

"Penambahan ini realnya menjadi 6.122 tempat tidur atau 102 persen," katanya.

 
Infografis Waspada Mutasi Covid-19 Kombinasi Varian Inggris-India.
Diterbitkan di Berita

TEMPO.COJakarta - Penambahan pasien Covid-19 yang dirawat di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat, tembus rekor tertinggi. Jumlah pasien mencapai 3.626 orang atau 60,4 persen dari kapasitas tempat tidur.

Peningkatan jumlah pasien pada hari ini adalah kenaikan tertinggi setelah libur Lebaran pada pertengahan Mei lalu. Data Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) I menunjukkan pasien Covid-19 yang dirawat di Wisma Atlet naik 405 orang pada hari Kamis, 10 Juni 2021.  

Selama dua hari sebelumnya, jumlah pasien juga mengalami peningkatan. Hari Selasa bertambah 235 orang, dan 252 orang pada hari Rabu.

"Pasien rawat inap terkonfirmasi positif hari ini 3.626 orang, terdiri atas 1.707 pria dan 1.919 wanita," kata Kepala Penerangan Kogabwilhan I Kolonel Marinir Aris Mudian dalam keterangan tertulisnya hari ini.

Mengantisipasi peningkatan jumlah pasien Covid-19 setelah arus balik Lebaran, Wisma Atlet Kemayoran telah menyiapkan maksimal 10 ribu tempat tidur. Diperkirakan akan terjadi lonjakan kasus penularan virus corona usai Lebaran karena ribuan orang mudik ke kampung halaman.  

Menurut Koordinator RS Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Mayjen Tugas Ratmono, kapasitas tempat tidur di empat tower sanggup menampung pasien hingga 5.994 orang.

Dengan kapasitas itu, Tugas menganggap tempat tidur pasien yang tersedia cukup aman jika ada lonjakan kasus Covid-19.

"Tetapi kalau ada lonjakan sangat tinggi, kapasitas bisa penuh. Kita dapat kembangkan menjadi 10 ribu tempat tidur," kata koordinator RSDC Wisma Atlet Kemayoran itu. 

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Pasien COVID-19 tak bergejala atau bergejala ringan saat ini tidak disarankan dulu berolahraga, menurut dokter spesialis kedokteran olahraga dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Andhika Raspati.

Merujuk pada literatur salah satunya dalam British Journal of Sport Medicine, melakukan latihan fisik termasuk berolahraga pada pasien COVID-19 berpotensi cedera jantung termasuk miokarditis.

Hal ini penting, karena berolahraga dengan miokarditis berhubungan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas.

"Menurut literatur, semakin banyak pakar kesehatan yang menganjurkan saat orang positif COVID-19 meskipun dia tanpa gejala (OTG) atau gejala ringan, rest dulu karena ada satu ancaman yaitu miokarditis," kata Andhika yang juga dokter KONI DKI Jaya itu dalam sebuah diskusi awam secara daring, ditulis Rabu.

Menurut dia, untuk tetap aktif, pasien bisa melakukan latihan peregangan atau pernapasan.

Sebaliknya, dia sementara waktu tidak perlu melakukan latihan kardio, jogging santai, berlari di atas treadmill walau dengan kecepatan lambat karena dikhawatirkan bila ada miokarditis maka akan semakin berat.

Setelah selesai masa isolasi mandiri selama sekitar dua pekan pasien baru bisa perlahan melakukan latihan, namun sebatas berjalan kaki selama 10 menit sebagai upaya test drive di pekan pertama.

Sembari bergerak, cobalah evaluasi apakah ada gejala seperti sesak napas, nyeri dada atau pusing. Bila gejala ini dialami, maka pertanda tubuh belum siap.

Sebaliknya, apabila tak ada gejala, penyintas COVID-19 bisa perlahan meningkatkan durasi latihan menjadi 10 menit, 15 menit hingga 20 menit.

Tingkatkan kecepatakan perlahan, dari jalan pelan menjadi jogging santai dan diharapkan lambat laun latihan akan kembali seperti semula baik dari sisi durasi dan kecepatannya.

Miokarditis, menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Junior Doctor Network (JDN), Vito A. Damay, merupakan bentuk peradangan pada otot jantung.

Saat otot mengalami peradangan, maka fungsi jantung untuk memompa darah menjadi terganggu.

Hanya saja, merujuk pada studi dalam jurnal the BMJ, angka kejadian miokarditis pada mereka yang tidak bergejala atau memiliki penyakit ringan hingga sedang belum diketahui.

Menurut Vito, olahraga pada pasien COVID-19 dikhawatirkan memperberat kondisinya sehingga rentan masuk ke penyakit lebih berat.

"Saat berolahraga takutnya memperberat kondisi yang berat (akibat sakit), sehingga rentan masuk ke penyakit lebih berat. Walau demikian kita masih belajar (mengenai olahraga pada pasien COVID-19). Lakukan stretching ringan, jangan bedrest juga kalau Anda OTG," kata Vito.

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita
Halaman 2 dari 2