VOA Indonesia Serangan bom bunuh diri saat ibadah salat Jumat di masjid-masjid yang dihadiri umat Syiah Hazara di Afghanistan, yang menewaskan ratusan orang pada bulan lalu, meneror warga Syiah di Afghanistan. Beberapa bahkan tidak berani keluar rumah untuk beraktivitas sehari-hari.

Asif Lali tak lagi pergi beribadah salat Jumat ke masjid. Belum lama ini, gelombang serangan terhadap komunitasnya, yang sebagian besar beretnik Syiah Hazara, telah menewaskan adik laki-lakinya. Kini, ia ketakutan setiap pergi keluar rumah.

“Kami ketakutan dalam situasi apa pun. Saya bahkan tidak berani ke jalan raya, saya hanya berjalan lewat gang-gang saja, karena saya takut ada serangan bunuh diri.

Setiap kali saya terjebak macet atau ada di tengah keramaian, saya takut ada serangan bunuh diri, karena komunitas kami diancam langsung oleh ISIS," kata Lali yang merupakan seorang dokter di sebuah klinik setempat.

Jumat pada 8 dan 15 Oktober, serangan bom bunuh diri meledak di beberapa masjid, menewaskan lebih dari 100 orang. ISIS mengaku bertanggung jawab atas kedua serangan yang menyasar umat Syiah, kelompok minoritas di sana.

Setelah kejadian tersebut, beberapa warga Hazara seperti Lali memutuskan untuk tidak beribadah ke masjid untuk sementara waktu.

 

Kondisi masjid setelah ledakan, di Kunduz, Afghanistan, 8 Oktober 2021. (Foto: Reuters)
Kondisi masjid setelah ledakan, di Kunduz, Afghanistan, 8 Oktober 2021. (Foto: Reuters)

 

“Adik laki-laki saya tewas dalam serangan bunuh diri yang dilakukan ISIS di bandara. Umurnya 23 tahun. Hampir 43 hari telah berlalu sejak serangan itu terjadi, akan tetapi hati kami masih terluka dan masih ada rasa duka di rumah kami. Kami bahkan tidak bisa memajang foto adik kami di dinding. Kami pun menghapus foto-fotonya dari handphone kami, karena kenangan tentangnya sangat menyakitkan bagi kami," ujar Lali.

Saking banyaknya korban tewas akibat serangan bom bunuh diri, warga Hazara memiliki pemakaman khusus di Kabul, dengan sebutan “Kebun Para Martir,” yang menjadi tempat peristirahatan terakhir korban-korban tewas dalam serangan bom sekolah Mei lalu.

Warga etnik Hazara di Afghanistan telah lama didiskriminasi dengan berbagai alasan, salah satunya agama yang mereka anut.

Meski ribuan telah tewas saat Taliban memerintah pada 1996-2001, keberadaan ISIS di Afghanistan pada awal tahun 2015-lah yang menjadikan mereka dan komunitas Syiah secara umum sebagai target sistematis.

Ratusan orang tewas dalam banyak serangan bunuh diri di masjid maupun pusat keramaian oleh militan Sunni garis keras yang tidak menganggap mereka sebagai Muslim sejati, menimbulkan kekerasan sektarian yang menghancurkan negara-negara seperti Irak dan Afghanistan.

Meski Taliban telah berjanji semua kelompok etnik di Afghanistan akan dilindungi, aksi-aski pembunuhan terus terjadi semenjak mereka merebut kekuasaan Agustus lalu. Dengan lebih dari 400 masjid Syiah di Kabul saja, rasa aman sulit terwujud karena tidak ada yang tahu di mana serangan berikutnya akan terjadi.

Hussain Rahimi (23), warga etnik Hazara, mengatakan setiap kali ia berangkat ke masjid untuk beribadah, ia selalu membaca kalimat syahadat, karena tak tahu apakah ia akan selamat pulang ke rumah.

Rahimi sendiri kehilangan adik perempuannya yang duduk di kelas 12 dalam serangan bom di sebuah sekolah di Kabul Mei lalu, yang kebanyakan menewaskan murid perempuan.

“Ini rasa takut yang muncul dengan sendirinya, karena keluarga dan saya sendiri ketakutan. Ketika saya akan pergi ke masjid, saya membaca syadahat, karena saya khawatir tidak bisa kembali ke rumah dengan selamat," ujarnya.

 

Personel keamanan Afghanistan memeriksa lokasi ledakan bom di Kabul, Afghanistan, Kamis, 3 Juni 2021. (Foto: AP)
Personel keamanan Afghanistan memeriksa lokasi ledakan bom di Kabul, Afghanistan, Kamis, 3 Juni 2021. (Foto: AP)

 

Warga Hazara, yang berbahasa Persia dan diperkirakan merupakan keturunan tentara penakluk Mongol abad ke-13, Genghis Khan, dianggap sebagai kelompok etnik terbesar ketiga di Afghanistan, setelah Pashtun dan Tajik. Tidak ada data sensus terbaru, tetapi secara keseluruhan, warga Syiah diperkirakan mewakili 10-20 persen populasi.

Selain itu, warga Hazara juga kerap menjadi korban persaingan etnis dan ekonomi yang merajalela dalam politik Afghanistan.

Di bawah pemerintahan sebelumnya, warga Syiah ditawari sejumlah persenjataan dan pelatihan dasar agar dapat melindungi masjid-masjid mereka. Akan tetapi, Taliban telah mencabut sebagian pesar penawaran tersebut, sehingga membuat mereka merasa lebih rentan.

 

“Masyarakat kami merasa suatu saat, hari Jumat nanti misalnya, dua atau tiga hari setelahnya, mungkin Herat yang akan meledak, mungkin Kabul akan meledak, mungkin kota lainnya, misalnya Helmand atau tempat dan masjid-masjid lain di mana umat Syiah berkumpul untuk berJumatan," kata Mohammad Baqer Sayed, dosen Afghan University.

Pihak berwenang Taliban berjanji akan meningkatkan pengamanan di masjid-masjid Syiah dua pekan lalu, akan tetapi jaminan itu tidak cukup bagi banyak orang, yang memiliki sedikit kepercayaan pada kelompok yang sejak lama dianggap sebagai musuh mereka. [rd/jm]

 

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Kelompok ekstremis ISIS mengklaim sebagai dalang di balik pengeboman yang menargetkan anggota Taliban di Jalalabad, Afghanistan, pada akhir pekan lalu.

ISIS Khorasan mengklaim bom tersebut melalui pengumuman di media propaganda mereka, Kantor Berita Amaaq, pada Minggu (19/9). Sebagaimana dilansir Reuters, dalam pemberitaan itu, ISIS mengklaim memakan korban puluhan anggota Taliban, tapi belum ada pihak yang dapat memverifikasi.

"Lebih dari 35 anggota Taliban tewas atau terluka dalam serangan ledakan tersebut," demikian pernyataan ISIS tersebut. Taliban juga mengakui bahwa anggotanya menjadi target sejumlah serangan bom di Jalalabad pada Sabtu hingga Minggu lalu.

Seorang sumber mengatakan kepada Reuters bahwa setidaknya tiga orang tewas dan sekitar 20 lainnya terluka akibat ledakan di Jalalabad pada Sabtu. Serangkaian ledakan ini menimbulkan pertanyaan terkait keamanan di Afghanistan setelah Taliban mengambil alih kuasa pada pertengahan Agustus lalu.

Ini bukan kali pertama ISIS-K berulah setelah Taliban berkuasa. Pada Agustus lalu, ISIS-K juga melakukan serangan bom bunuh diri di bandara Kabul, ketika warga sedang berbondong menanti evakuasi.

Setelah itu, Taliban mengklaim bahwa mereka dapat membendung ISIS-K jika AS sudah angkat kaki. Namun ternyata, setelah AS hengkang pada akhir Agustus lalu, ISIS-K masih dapat menargetkan anggota Taliban.

"Kami kira sejak Taliban datang, akan ada perdamaian," ujar Feda Mohammad, salah satu warga yang abangnya tewas dalam serangan bom ISIS-K pada Minggu lalu.

Ia kemudian berkata, "Namun, sekarang tak ada perdamaian. Tak ada keamanan. Kalian tak bisa mendengar apapun selain kabar mengenai ledakan bom yang membunuh siapa.

"Bom ISIS ini terjadi ketika Taliban masih berupaya membentuk pemerintahan. Dengan pemerintahan yang belum lengkap ini, Afghanistan harus menghadapi berbagai krisis akibat pembekuan berbagai aliran dana asing setelah Taliban berkuasa. "Ini merupakan puncak dari kesengsaraan kami," ucap seorang warga di Jalalabad, Abdullah.

(has)

Diterbitkan di Berita

sindonews.com KABUL - Taliban sedang memburu seorang jaksa wanita Afghanistan . Jaksa inilah yang mengungkap aksi para milisi kelompok itu dalam memaksa anak-anak menanam bom di jalan-jalan.

Jaksa, yang namanya disamarkan sebagai Mina untuk melindungi identitasnya aslinya, berbagi dengan Newsweek tentang sebuah surat ultimatum ancaman yang dia terima dari dewan militer Taliban sebelum dia meninggalkan rumahnya di provinsi Wardak tengah.

"Anda telah dituduh oleh Mujahidin Imarah Islam membantu dan bersekongkol dengan orang-orang kafir," bunyi surat yang ditujukan langsung kepada Mina.

"Kami memerintahkan Anda untuk meninggalkan pekerjaan Anda dan membantu dan bekerja sama dengan Mujahidin Imarah Islam," lanjut surat tersebut, yang dilansir Newsweek, Jumat (17/9/2021).

"Anda tidak akan dirugikan oleh Mujahidin jika Anda menyenangkan Allah," sambung surat tersebut. Jaksa itu memilih bersembunyi dan khawatir akan dibunuh jika dia ditemukan oleh milisi Taliban.

"Saya akan 100 persen dibunuh jika ditemukan," kata Mina, menambahkan bahwa seorang mantan rekannya dieksekusi oleh milisi Taliban di Panjshir pada hari Senin.

Mina mengatakan para pejabat Taliban sekarang menawarkan hadiah sebesar 500.000 rupee Pakistan (sekitar USD3.000) untuk informasi tentang keberadaannya.

Penyelidikan jaksa wanita ini telah memalukan Taliban, yang berusaha untuk beralih dari organisasi gerilya menjadi pemerintah yang berfungsi karena berusaha untuk menegaskan kendalinya atas semua aspek masyarakat Afghanistan.

"Mereka memaksa anak-anak untuk membantu memasang bom di jalan dan di mobil," kata Mina kepada Newsweek. "Banyak dari mereka yang mati."

Mina berada dalam posisi yang sangat genting mengingat dia adalah Hazara—kelompok minoritas yang terdiri antara 10 dan 20 persen dari populasi yang ditindas secara brutal oleh Taliban ketika mengambil alih kekuasaan pada 1990-an, termasuk beberapa pembantaian.

"Taliban tidak akan menerima perempuan yang bekerja," ujar Mina, seraya mencatat bahwa tawaran amnesti Taliban untuk pegawai pemerintah sebelumnya tidak benar-benar mencakup profesional hukum atau beberapa petugas polisi spesialis.

Sejak mengambil alih negara dan merebut ibu kota nasional, Kabul, pada 15 Agustus, Taliban telah bekerja keras untuk menggambarkan citra profesional yang lebih moderat dalam retorikanya.

Tetapi bahkan ketika juru bicaranya mengesampingkan pembunuhan balasan dan menjanjikan keselamatan bagi wanita, para milisi Taliban mengejar mantan pegawai pemerintah dan menculik wanita muda untuk dinikahkan dengan milisi kelompok itu.

Pemisahan laki-laki dan perempuan merembes ke sekolah dan universitas, sementara pejabat Taliban mendesak perempuan untuk mematuhi Syariah Islam versi mereka. Beberapa wanita menentang kembalinya pemerintahan garis keras Taliban.

Protes telah diadakan di seluruh negeri menuntut perlindungan kebebasan perempuan yang diperoleh dengan susah payah selama dua dekade terakhir, di mana pengunjuk rasa juga mencerca ancaman pengaruh Pakistan yang lebih besar atas Afghanistan melalui hubungan Taliban.

Pasukan Taliban membubarkan beberapa demonstrasi dengan memukuli dan menembaki pengunjuk rasa. Menurut beberapa laporan media lokal, para demonstran dicopot dari pekerjaan di Herat, teller bank perempuan juga diperintahkan keluar dari bank mereka di Kandahar.

Kelompok militan juga meminta sebagian besar wanita pekerja untuk tinggal di rumah, dengan alasan "alasan keamanan."

"Afghanistan adalah negara saya," kata Mina kepada Newsweek. "Saya suka [di mana saya tinggal]. Ini sangat berbahaya bagi saya. Saya mencoba untuk meninggalkan Afghanistan, tetapi saya tidak punya jalan keluar."

(min)

Diterbitkan di Berita

sindonews.com BAGHDAD - Serangan bom bunuh diri menewaskan sedikitnya 35 orang dan melukai puluhan lainnya di pasar yang ramai di Kota Sadr, Baghdad, Irak pada Senin, menjelang perayaan Idul Adha. Hal itu diungkapkan sumber keamanan dan rumah sakit setempat.

"Lebih dari 60 orang terluka," kata sumber polisi seperti dikutip dari Al Arabiya, Selasa (20/7/2021). ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, kata kantor berita kelompok itu Nasheer di Telegram. Dikatakan salah satu gerilyawan meledakkan rompi peledaknya di antara kerumunan.

Sumber rumah sakit mengatakan jumlah korban tewas bisa meningkat karena beberapa yang terluka berada dalam kondisi kritis.

Dalam sebuah pernyataan singkat, kantor perdana menteri Irak mengatakan Perdana Menteri Mustafa al-Kadhimi mengadakan pertemuan mendesak dengan komandan keamanan tinggi untuk membahas serangan itu

"Dengan kejahatan yang mengerikan mereka menargetkan warga sipil di kota Sadr pada malam Idul Adha. Kami tidak akan beristirahat sebelum terorisme terputus dari akarnya," kata Presiden Barham Salih dalam tweetnya

Pada bulan April, kelompok ISIS juga mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom mobil di sebuah pasar di Kota Sadr, lingkungan Syiah di Baghdad, yang menewaskan empat orang dan melukai 20 orang.

ISIS juga mengaku bertanggung jawab atas serangan bom Januari lalu yang menewaskan lebih dari 30 orang di pasar Tayaran Square yang ramai di Baghdad tengah - bom bunuh diri besar pertama Irak selama tiga tahun

Serangan bom besar pernah terjadi hampir setiap hari di Ibu Kota Irak tetapi telah berkurang sejak invasi ISIS ke Irak utara dan barat dikalahkan pada 2017.

(ian)

Diterbitkan di Berita

kontraradikal.com

Krisna Dwi Wardhana alias Abu Aliyah Al Indunisy adalah pria asal Sumatera Barat yang penyuplai bahan bahan kimia yang digunakan untuk membuat bahan peledak bom oleh sejumlah tersangka terorisme.

KDW juga memiliki channel YouTube yang membagikan video-video tata cara permainan kimia atau apapun tentang kimia.

Dan di dalam akun YouTube milik KDW tersebut banyak unggahan video–video tentang eksperimen mengenai uji coba meracik bahan kimia yang dapat menjadi sebuah referensi untuk membuat bahan peledak bom.

Saat penangkapan, tim juga mengamankan sejumlah barang bukti, yakni; satu buah buku The Mujahideen Poisons Handbook, 10 lembar black dolar, Potassium Klorat (KClO3), Sulfur (S) dan Aluminium (Al) yang merupakan bahan baku bahan peledak berkekuatan rendah (low explosive) flash powder.

Menurut Pendiri Negara Islam Indonesia Crisis Center Ken Setiawan, pergerakan kelompok radikal di Sumatera Barat memang agak unik, hampir sama dengan Aceh, ada pergerakan kelompok yg bersifat ideologis dan ada juga yang biologis, karena ada sejarah kelam masa lalu dengan pemerintah yang mempengaruhi.

Ditanya apakah hal tersebut yang mempengaruhi kenapa pilpres yang lalu pak Jokowi kalah telak di Sumatera Barat, Ken tidak menjawab, hanya mengatakan kalau orang sumbar baik baik dan dirinya sering datang kesana.

Ken malah menanggapi lemahnya pengawasan peredaran senjata dan bahan peledak (sendak) yang dinilai sangat berbahaya, sebab dimanfaatkan betul oleh kelompok radikalisme untuk melakukan aksi teror.

Bahkan Ken mencium ada aroma bahwa saat ini ada oknum kelompok radikal dalam melakukan kegiatan latihan mulai terbuka dengan bergabung ke Perbakin, jadi latihan menembak tidak perlu sembunyi sembunyi dihutan lagi, tapi legal dan bisa ikut pertandingan menembak ditingkat daerah maupun nasional.

Kasus penembakan wanita di Mabes Polri menurut Ken harusnya dijadikan pelajaran dan evaluasi bahwa kelompok radikal kini tak perlu bergabung dan berbaiat dengan suatu kelompok tertentu, cukup belajar di media sosial, yang penting sudah punya modal kebencian kepada aparat dan pemerintah, punya keberanian, maka bisa melakukan aksi teror lone wolf, ini yang kadang tidak termonitor oleh pantauan aparat kerena berdiri sendiri. Tutup Ken.

Diterbitkan di Berita

Tim TvOne Jakarta - Tim Detasemen khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap KDW alias Abu Aliyah Al Indunisy, penyuplai bahan bahan kimia yang digunakan untuk membuat bahan peledak bom oleh sejumlah tersangka terorisme.

KDW ditangkap tim Densus 88 di Komplek Perumahan Indrapasta Bogor, pada Senin (14/6/2021) sekitar pukul 10.43 WIB.

Menurut sumber tvOne, KDW juga memiliki channel YouTube "bisakimia" yang membagikan video-video tata cara permainan kimia atau apapun tentang kimia yang bermanfaat. 

Dan di dalam akun YouTube milik KDW tersebut banyak unggahan video–video tentang eksperimen mengenai uji coba meracik bahan kimia yang dapat menjadi sebuah referensi untuk membuat bahan peledak bom.

KDW, pria kelahiran Padang 14 Agustus 1991 ini beralamat tinggal di Perum. Indraprasta, Jl. Gandaria 2 Blok D 2 No. 7 Rt. 004 Rw. 013 Kelurahan Tegal Gundil, Kecamatan Kota Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat.

Saat penangkapan, tim Densus 88 juga mengamankan sejumlah barang bukti, yakni; satu buah buku The Mujahideen Poisons Handbook, 10 lembar black dolar, Potassium Klorat (KClO3), Sulfur (S) dan Aluminium (Al) yang merupakan bahan baku bahan peledak berkekuatan rendah (low explosive) flash powder.

Kemudian Potassium Nitrat (KNO3), Karbon (C) dan Sulfur (S) yang merupakan bahan baku bahan peledak berkekuatan rendah (low explosive) peledak black powder.

Serta Hidrogen Peroksida (H2O2) yang dapat digunakan sebagai bahan baku dan Asam Sulfat (H2SO4)/Asam Klorida (HCl) yang dapat digunakan sebagai katalis dalam pembuatan bahan peledak primer berkekuatan tinggi (primary high explosive) TATP (Triacetone Triperoxide).

Tim juga menyita barag bukti berupa Merkuri Nitrat (Hg(NO3)2) dan etanol (C2H5OH) yang dapat digunakan sebagai bahan baku bahan peledak primer berkekuatan tinggi (primary high explosive) Merkuri (II) Fulminat (Hg(CNO)2). (ito)

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Sebanyak 12 orang tewas akibat ledakan bom di masjid di ibu kota Afghanistan, Kabul. Insiden berdarah tersebut terjadi saat Salat Jumat. Jubir Kepolisian Kabul, Ferdous Faramarz, mengatakan imam masjid menjadi salah satu korban jiwa. Selain itu, terdapat pula 15 orang korban luka.
 
Meski demikian Ferdous tidak mengungkap di masjid mana ledakan tersebut terjadi, demikian dikutip dari Reuters. Sampai saat ini masih belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab.
 
Teroris Taliban, yang biasanya menjadi otak serangan di Afghanistan, kini tengah melakukan gencatan senjata untuk menghormati Idul Fitri.
 
Ledakan di Kabul terjadi sepekan usai ledakan besar di sebuah sekolah. Kejadian berdarah itu mengakibatkan 80 orang lebih tewas.
 
Kekerasan di Afghanistan makin meningkat seiring rencana AS menarik seluruh pasukannya dari negara itu. Rencananya, semua tentara AS akan angkat kaki sebelum 11 September 2021.
Diterbitkan di Berita

Harakatuna.com. Quetta – Sebuah bom Taliban berkekuatan besar meledak di area parkir sebuah hotel mewah di kota Quetta, Pakistan Rabu 21 April. Polisi menyebutkan ledakan bom itu menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai sedikitnya sembilan lainnya.

Pasukan keamanan bergegas ke hotel Serena dan tidak ada yang mereka izinkan mendekati lokasi ledakan. Polisi mengatakan tim penyelamat membawa korban ke rumah sakit terdekat. Rekaman di saluran berita Pakistan menunjukkan mobil yang terbakar.

Beberapa jam setelah serangan itu, Taliban Pakistan dalam sebuah pernyataan mengaku bertanggung jawab, mengatakan itu adalah serangan bunuh diri. Taliban Pakistan, atau Tehreek-e-Taliban Pakistan, adalah kelompok pemberontak terpisah dari Taliban Afghanistan.

“Petugas berusaha untuk menentukan apakah bom itu ditanam di kendaraan yang diparkir di tempat parkir hotel,” ujar pejabat senior polisi Azhar Akram, seperti dikutip AFP, Kamis 22 April 2021.

Dia tidak memberikan rincian lebih lanjut, mengatakan polisi masih melakukan menyelidiki.

Pejabat keamanan lainnya mengatakan bom itu meledak beberapa menit setelah sebuah mobil memasuki tempat parkir. Pihak berwenang sedang menyelidiki untuk menentukan apakah itu serangan bunuh diri.

Wasim Beg, juru bicara departemen kesehatan provinsi mengatakan, empat orang tewas dan 12 luka-luka dalam pemboman itu.

Tidak jelas siapa yang berada di balik serangan itu. Provinsi Baluchistan barat daya adalah tempat pemberontakan berkepanjangan oleh kelompok-kelompok separatis seperti Front Pembebasan Baluchistan dan Tentara Pembebasan Baluchistan.

Mereka telah selama beberapa dekade melancarkan serangan untuk menekan tuntutan kemerdekaan mereka. Kelompok Taliban dan Negara Islam Pakistan juga memiliki kehadiran di sana.

Menteri Dalam Negeri Pakistan Sheikh Rashid Ahmed langsung menyalahkan negara tetangga India atas pemboman hotel tersebut, meskipun dia tidak memberikan bukti untuk mendukung tuduhan tersebut.

Dia mengatakan kepada saluran berita Geo Pakistan bahwa Pakistan hanya memiliki satu musuh dan itu adalah negara tetangga India, yang dia duga berada di balik pengeboman tersebut.

Konflik Taliban Berujung Pengaboman

Ahmed mengatakan mereka telah menerima informasi intelijen tentang kemungkinan serangan di ibu kota, Islamabad dan tempat lain dan informasinya telah dibagikan dengan otoritas terkait untuk meningkatkan keamanan.

Liaquat Shahwani, juru bicara pemerintah provinsi, menyebut serangan itu sebagai tindakan terorisme. “Teroris ingin mengganggu perdamaian di Baluchistan.

Mereka yang tidak ingin melihat kemajuan dan kemakmuran di provinsi Baluchistan bertanggung jawab atas tindakan terorisme ini,” ujar Shahwani.

Jam Kamal Khan, Menteri Kepala di Baluchistan, segera mengutuk pengeboman tersebut. Menteri Informasi Pakistan Fawad Chaudhry mengatakan pihak berwenang sedang menyelidiki dan pernyataan akan dikeluarkan kemudian.

Menteri Dalam Negeri Baluchistan Ziaullah Langove mengatakan, Duta Besar Tiongkok Nong Rong menginap di hotel pada saat pengeboman itu, tetapi tidak jelas apa motif di balik serangan itu.

Dia mengatakan tidak ada tamu yang terluka tetapi seorang petugas polisi termasuk di antara empat orang yang tewas dalam serangan itu.

Hotel ini sering dikunjungi oleh orang asing karena merupakan satu-satunya hotel mewah di kota itu dan dianggap aman.

Arbab Kamran Kasi, seorang dokter di rumah sakit utama Quetta mengatakan pulihan korban luka dibawa dan mereka menyatakan keadaan darurat di rumah sakit untuk menangani para korban.

Pengeboman di Quetta terjadi beberapa jam setelah Pakistan dan tetangganya Iran membuka titik perlintasan perbatasan baru di Baluchistan untuk meningkatkan hubungan perdagangan dan ekonomi. Baluchistan berbagi perbatasan dengan Iran dan Afghanistan.

Perang Melawan Teror

Taliban Pakistan telah menargetkan militer dan warga sipil di seluruh negeri sejak 2001, ketika negara Islam ini bergabung dengan perang melawan teror pimpinan AS menyusul serangan 11 September di Amerika Serikat.

Sejak itu, pemberontak telah menyatakan perang terhadap pemerintah Pakistan dan melakukan banyak serangan. Kelompok militan Pakistan sering kali terkait dengan mereka yang melintasi perbatasan di Afghanistan.

Pakistan hampir menyelesaikan pagar di sepanjang perbatasan dengan Afghanistan. Menurut Islamabad mereka perlukan untuk mencegah serangan militan dari kedua belah pihak.

Pakistan dan tetangganya Afghanistan sering menuduh satu sama lain menutup mata terhadap militan yang beroperasi di sepanjang perbatasan yang keropos.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap satu orang pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang diduga berkaitan dengan readyviewed insiden bom bunuh diri di depan Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu.

Informasi itu dibenarkan oleh Kabid Humas Polda Sulawesi Selatan Kombes Pol E Zulfan. Zulfan mengatakan, total pihaknya telah mengamankan total 33 orang terkait dengan insiden bom itu.

"Benar, sudah 33 orang yang ditangkap guna pemeriksaan oleh penyidik Densus 88," kata Zulfan saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Senin (19/4).

Namun demikian, Zulfan tidak menjelaskan secara rinci terkait peran pegawai BUMN itu dalam insiden bom bunuh diri Makassar.

Diketahui, sepasang suami istri berinisial L dan YSF melakukan bom bunuh diri di depan Gereja Katedral, Makassar pada 28 Maret lalu.

Beberapa hari setelah insiden itu, Densus mengamankan tersangka berinisial W yang merupakan otak perakit bom.

Densus juga menangkap sejumlah rekan L dan YSF di kelompok tersebut. Beberapa orang itu diduga kuat memberi motivasi agar L dan YSF menjalankan aksinya. Selain itu, terdapat juga pihak yang ikut survei lokasi pengeboman.

Selain rangkaian operasi di Makassar, polisi juga menangkap sejumlah terduga teroris di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.

Puluhan terduga teroris yang telah ditangkap itu kini menjalani pemeriksaan intensif oleh tim Densus 88. Dari semua yang diamankan diketahui merupakan jaringan kelompok Jamaah Ansharut Daulah atau JAD, kelompok yang berafiliasi dengan ISIS. 

(yoa/pris)

Diterbitkan di Berita

Konten ini diproduksi oleh Palu Poso

Irham, narapidana yang divonis terlibat kasus tindak pidana terorisme dengan hukuman 2 tahun penjara berbicara blak-blakan mengenai rencana aksinya sebagai calon pengantin untuk amaliyah di Kabupaten Morowali pada 2019.
 
“Dan saya salah satu calon pengantin untuk amaliyah di Morowali tahun 2019. Saya sudah siap dan sudah dibekali dengan bom,” kata Irham, napi teroris Poso, kepada media ini, Rabu (14/4).
 
Sasaran amaliyah saat itu kata Irham, adalah aparatur negara, diskotek, tempat kantor Polisi, tempat TNI, dan kantor Bupati. Rencana itu tercium aparat sehingga ia ditangkap pada 14 September 2019.
 
Irham mengakui, keterlibatannya pada rencana aksi amaliyah itu ketika ia pertama kali melakukan kontak hubungan dengan sejumlah orang dari Ansharut Daulah Islamiyah.
 
Ketika itu, ia mengaku masih menjalani proses hukum dalam Rutan.
 
“Saya berkomunikasi dengan mereka dan diajak. Ketika saya saat itu sudah bebas, mereka mau jemput saya untuk bergabung dengan mereka di sana.
 
Dan, saat itu mereka biayai saya dengan besar, yaitu dana Rp500 ribu untuk perjalanan pergi melaksanakan aksi amaliyah di Morowali,” kata Irham.
 
Napi teroris yang menjalani proses asimilasi ini, mengaku sebelumnya ia juga pernah ditahan karena kasus pembakaran gereja di Poso. Kemudian ditahan di Kabupaten Poso.
 
Saat itu katanya, ia sudah dikontak oleh rekan-rekannya yang memiliki satu pemahaman di Poso.
 
Keberadaan dirinya di Rutan dimanfaatkan untuk mengajak sesama napi untuk bergabung dalam aksi perjuangannya. Tapi, saat itu para napi tidak ada yang tertarik untuk mengikuti jejak perjuangannya. Sehingga, ia memberanikan diri berangkat ke Kabupaten Poso.
 
“Dan selama itu saya belajar agama di Poso dengan Ustad YS dengan Ustad SU. Selain itu belajar lewat chanel-chanel telegramnya. Saya belajar sejak tahun 2018,” katanya.
 
Irham juga mengakui pernah jalan-jalan ke hutan (gunung biru) yang menjadi tempat persembunyian kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso. Namun saat itu, ia tidak bertemu dengan mereka.
 
Ketertarikannya menuju lokasi persembunyian kelompok MIT Poso karena terinspirasi dari ajakan pimpinan MIT Poso Santoso alias Abu Wardah kala itu, bahwa mengikuti mereka adalah jalan yang benar untuk menuju surga.
 
"Kami diajarkan memerangi negara-negara yang dianggap kafir, walaupun kita mati atau membunuh mereka akan dijamin masuk surga. Meski saat itu saya belum sempat ketemu Santoso. Saya hanya sempat hadir di pemakamannya,” ujarnya.
Diterbitkan di Berita
Halaman 1 dari 2