suaraislam.co

Detasemen Khusus (Densus) 88 antiteror kembali menangkap dua terduga teroris di Jakarta. Sehingga, total terduga teroris yang diamankan hingga hari ini di Jakarta berjumlah tujuh orang.

Karopenmas Div Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono mengatakan, penangkapan terhadap keduanya itu dilakukan pascabom bunuh diri yang terjadi Gereja Katedral Kota Makassar pada Minggu (26/3) kemarin.

“Untuk penahanan lain di NTB tetap 5, di Jatim ada 2 yang diamankan, di Jakarta sudah 7 yang Condet dan Bekasi. Sekarang jumlahnya sudah 7 yang diamankan Densus 88, dan tentunya kasus-kasus akan terus dikembangkan diusut tuntas. Mudah-mudahan ini menjadi salah satu bagian bagaimana masalah terorisme di tanah air bisa ditangani,” kata Rusdi di Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (1/4).

Namun, Rusdi belum bisa menyebut termasuk pada jaringan mana tujuh terduga teroris yang sudah ditangkap di Jakarta dan sekitarnya.

“Ini belum diketahui untuk Jakarta jaringan mana, masih didalami oleh Densus. Nanti apabila sudah tuntas tugas Densus, rekan-rekan akan tahu ini jaringan mana dan jaringan mana,” ungkapnya.

Lalu, untuk di Makassar sendiri. Sudah sebanyak 18 terduga teroris yang diamankan pasca kejadian bom bunuh diri. Mereka yang diamankan tersebut, termasuk dalam kelompok Villa Mutiara.

Sehingga, total secara keseluruhan yang sudah diamankan pascabom bunuh diri di Gereja Katedral Kota Makassar berjumlah 32 orang.

“Telah diamankan sampai siang hari ini 18 yang diduga terlibat di dalam kasus Gereja Katedral di Makassar, khususnya ini kelompok Villa Mutiara. Sudah 18 dan salah satu otak pembuat bom yang digunakan untuk meledakkan saudara W ini laki-laki telah turut diamankan. Kasus tetap dikembangkan terus, diusut. Sehingga betul-betul kelompok Villa Mutiara ini bisa dituntaskan,” katanya.

Diterbitkan di Berita
Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah menghapus ratusan konten terkait bom di Gereja Katedral Makassar yang ada di berbagai platform media sosial.
 
Berdasarkan keterangan juru bicara Kominfo, Dedy Permadi, pihaknya telah menghapus 134 posting-an di media sosial “yang tidak selayaknya dipublikasikan” terkait insiden tersebut. Dia menjelaskan, blokir konten ini sudah dilakukan sejak Minggu (28/3).
 
“Sejak kejadian Bom di Makassar, Minggu 28 Maret 2021 lalu, Kementerian Kominfo langsung melakukan patroli siber untuk menelusuri konten-konten di media sosial yang mengandung unsur kekerasan, potongan tubuh, luka-luka, dan konten lainnya yang tidak selayaknya dipublikasikan,” kata Dedy kepada kumparanTECH, Senin (29/3).
 
Berdasarkan keterangan Dedy per Senin (29/3) pukul 10.00 WIB, Kominfo telah menghapus 34 konten di Facebook, 21 konten di Instagram, 59 konten di Twitter, dan 20 di YouTube.
 
Kominfo Hapus Ratusan Konten Bom Gereja Katedral Makassar di Medsos (1)
Ilustrasi sosial media. Foto: Shutter Stock
 
“Keseluruhan konten tersebut telah diajukan Kominfo kepada masing-masing platform untuk dilakukan pemutusan akses/blokir,” kata Dedy.
 
 “Kami kembali mengimbau kepada masyarakat untuk tidak menyebarluaskan konten seperti tersebut di atas dan bersama-sama menangkal paham radikalisme-terorisme baik di ruang fisik maupun ruang digital.”
 
Sebelumnya, Gereja Katedral Makassar diserang aksi terorisme pada Minggu (28/3) pagi, di mana dua orang pelaku melakukan aksi bom bunuh diri di depan gerbang lokasi tersebut. Dalam insiden tersebut, tak ada korban jiwa kecuali kedua pelaku tewas.
 
Sejauh ini, jumlah korban luka akibat bom bunuh diri yang masih dirawat di rumah sakit tinggal 15 orang. Sebanyak 13 di antaranya di rawat di RS Bhayangkari Makassar dan 2 lainnya di RS Siloam.
Diterbitkan di Berita

Tim Detikcom - detikNews Jakarta - Militer Rusia melancarkan serangkaian serangan udara di wilayah Suriah. Sejumlah jet tempur Rusia membombardir sebuah fasilitas gas, sebuah pabrik semen dan beberapa kota di wilayah Suriah sebelah barat laut, dekat perbatasan Turki. Gempuran dilancarkan Rusia saat militer Suriah melancarkan serangan artileri di area yang sama.

Seperti dilansir Reuters, Senin (22/3/2021), sejumlah saksi mata dan sumber pemberontak setempat menyebut serangan artileri Suriah itu mengenai sebuah rumah sakit dan menewaskan tujuh orang serta melukai 14 paramedis.

Sejumlah sumber menyebut gempuran rudal permukaan-ke-permukaan milik Rusia juga mengenai kota Qah, sedangkan serangan udara Rusia mengenai area di dekat kamp pengungsian yang padat penduduk di sepanjang perbatasan Turki.

Sebuah fasilitas gas yang ada di dekat kota Sarmada, Provinsi Idlib terkena gempuran Rusia itu. Puluhan trailer yang membawa barang di area parkir dekat perbatasan Bab al Hawa terbakar dalam serangan terbaru itu.

Juru bicara Tentara Nasional, aliansi pemberontak yang didukung Turki, menyebut Rusia yang mendukung rezim Suriah berupaya mendestabilisasi markas terakhir pemberontak di Suriah dan mengganggu aktivitas komersial.

Sumber-sumber intelijen Barat menyebut Rusia ada di balik serangan rudal balistik pada awal bulan ini, yang membakar puluhan kilang minyak lokal di dekat al-Bab dan Jarablus, yang dikuasai pemberontak di mana Turki memegang kendali dan mengerahkan militer secara signifikan.

"Serangan udara Rusia terus berlanjut. Rudal balistik juga menghantam daerah yang dekat dengan pusat-pusat sipil," tutur Mayor Youssef Hamoud kepada Reuters. "Mereka berusaha memicu kekacauan dan kebingungan," imbuhnya.

Secara terpisah, Kementerian Pertahanan Turki menyatakan bahwa sebuah rudal yang ditembakkan pasukan pemerintahan Suriah menghantam wilayah Qah dan mengenai sebuah truk dan taman trailer di dekat Sarmada. Gempuran rudal itu disebut melukai tujuh warga sipil.

Kementerian Pertahanan Turki mengirimkan pernyataan kepada Rusia yang isinya meminta gempuran dihentikan segera dan memberitahu bahwa tentara Turki telah disiagakan. Belum ada komentar Rusia atas laporan serangan ini.

Pertempuran antara militer Suriah dan pemberontak mereda sejak kesepakatan tercapai setahun lalu untuk mengakhiri operasi pengeboman pimpin Rusia yang membuat 1 juta orang di dekat perbatasan Turki kehilangan tempat tinggal.

Penduduk setempat menyatakan meski tidak ada pertempuran besar, ketenangan kadang-kadang diganggu oleh gempuran Rusia terhadap pos pemberontak dan serangan milisi yang didukung Iran dan Suriah di area tersebut.

Suriah dan Rusia menyatakan mereka hanya menargetkan militan dan menyangkal adanya serangan tanpa pandang bulu di are-area sipil atau serangan disengaja terhadap rumah sakit dan infrastruktur sipil. 

(ita/lir)

Diterbitkan di Berita

Yosafat Diva Bayu Wisesa - Hops.ID

Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) atau dalam bahasa Indonesia Negara Islam Irak dan Syam jadi salah satu kelompok miltan ekstrimis yang mengatasnamakan agama dalam setiap perjuangannya.

Meski mengaku ingin mendirikan negara berdasarkan ajaran Islam, ternyata ISIS justru pernah jadikan kitab suci Al-Quran sebagai bom peledak.

Berdasarkan laporan Press TV pada beberapa tahun silam, Menteri Luar Negeri Irak, Ibrahim al-Jafari sempat membeberkan bahwa ISIS pernah melakukan perbuatan biadab, yakni menyembunyikan bom dan sejumlah bahan peledak lainnya di dalam Al-Quran.

Namun perilaku tidak terpuji itu malah seakan menjadi bumerang bagi pihak ISIS lantaran militer Irak justru mendapat pecutan motivasi untuk segera menghabisi kelompok radikal ekstrimis tersebut.

“Perbuatan biadab mereka hanya akan memberikan motivasi kepada tentara Irak untuk secara habis-habisan melawan mereka,” kata Al-Jafari, dikutip Hops pada Jumat, 19 Februari 2021.

 
Ilustrasi pasukan ISIS. Foto: The Muslim Post
Ilustrasi pasukan ISIS. Foto: The Muslim Post

 

Sebenarnya perilaku ISIS yang menggunakan media kitab suci Al-Quran sebagai media penyeludupan bom dan bahan peledak tersebut dilakukan karena mereka sudah putus asa. 

Menteri Al-Jafari menjelaskan, setelah tentara Irak beberapa kali memukul mundur ISIS, terutama di kawasan Fallujah, ISIS kerap menggunakan taktik yang terbilang tidak masuk akal dan aneh.

Kekalahan tersebut membuat mereka putus asa dan menghalalhkan berbagai cara, salah satunya mengunakan taktik yang justru secara tidak langsung menghina agama Islam, yakni menggunakan Al-Quran sebagai tempat membunyikan bom serta berbagai bahan peledak lainnya.
 

Buat biaya perang, ISIS sampai jual narkoba

Ilustrasi kelompok militan ISIS. Foto: Antara
Ilustrasi kelompok militan ISIS. Foto: Antara

 

Pihak kepolisian Italia menduga, ISIS menjadi dalang dibalik beredarnya pil Captagon. Lantaran pihaknya sempat menyita tiga kapal Kontainer berisi muatan pil Captagon seberat 14 ton di Pelabuhan Selatan Salerno.

Bahkan pemerintah Italia mengungkapkan, penemuan penyeludupan obat terlarang senilai US$1,6 miliar ini menjadi operasi penyitaan amfetamin terbesar dalam sejarah.

Penyeludupan itu terkuak ketika kepolisian setempat menemukan sekitar 84 juta pil Captagon yang berada di dalam mesin dan tabung besar salah satu bagian kapal.

Dilansir dari Republika, pil Captagon atau yang biasa dikenal sebagai ‘Obat Jihad’ kerap digunakan kelompok militan Negara Islam (ISIS) ketika berperang. Penggunaan obat ini memiliki efek yang berbahaya namun dinilai baik ketika berperang dan terjadi baku tembak di medan perang.

Sejumlah pihak menilai kandungan kimia di dalamnya dapat memberikan efek penghambat rasa takut dan stimulisinya juga terbukti berguna selama berlangsungnya perang berkepanjangan di sejumlah konflik.

Dugaan pil Captagon diproduksi oleh kelompok jaringan ISIS diperkuat dengan sejumlah temuan di tempat-tempat persembunyian tentara ISIS. Termasuk adanya laporan dari sejumlah pihak yang menunjukkan bahwa Suriah menjadi tempat produksi besar pil tersebut.

Tak hanya menghilangkan rasa takut pada pasukan ISIS, obat jihad ini juga dijual ke sejumlah belahan dunia. Adapun dana hasil penjualan tersebut menjadi sumber pemasukan bagi kelompoknya untuk menggelontorkan dana dalam sejumlah agenda militannya, seperti membeli perlengkapan senjata, perbekalan perang, dan kegiatan lainnya.

 

Peredaran Pil Captagon

Salah satu dampak penggunaan pil Captagon yang terkenal akhir-akhir ini adalah peristiwa serangan teater Bataclan pada tahun 2015 yang menewaskan 90 orang di Kota Paris, Prancis. Teroris yang menembak secara brutal ke arah warga itu terbukti mengkonsumsi pil Captagon.

Diketahui, Pil Captagon merupakan sejenis amfetamin fenethylline hydrochloride. Bahan baku yang digunakan berbahan dasar obat sintesis Fenethyline yang diracik bersama kafein dan senyawa lainnya.

Penggunaan awal dari pil ini adalah untuk mengobati penyakit-penyakit dengan gangguan seperti hiperaktif, narkolepsi, hingga depresi.

Penggunaan obat ini secara resmi dilarang oleh hampir seluruh negara sejak tahun 1980-an. Namun, obat versi tiruan ini dengan senyawa yang sama masih tetap beredar dan diproduksi di wiayah timur tengah.

Dalam laporan World Drug Report, Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC), tujuan utama dari peredaran Captagon untuk saat ini ialah Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, dan Bahrain. Bahkan ditargetkan bisa masuk ke benua Afrika melalui Libya dan Sudan. 

Diterbitkan di Berita

COPENHAGEN, KOMPAS.com - Empat belas orang telah ditangkap di Denmark dan Jerman karena dicurigai mempersiapkan satu atau beberapa serangan di kedua negara tersebut, kata polisi Denmark pada Jumat (12/2/2021).

Dalam penggerebekan itu polisi menemukan bendera ISIS, yang mengindikasikan para tersangka “memiliki hubungan atau simpati dengan organisasi teror tersebut."

“Temuan itu mengkhawatirkan. Tetapi menurut penilaian kami tidak ada bahaya yang akan terjadi," kata Flemming Drejer, Kepala Operasi Badan Keamanan dan Intelijen Denmark melansir AP.

Dreyer mengatakan tujuh orang pertama yang ditangkap di Denmark telah memperoleh beberapa senjata laras panjang. Pihaknya juga menemukan hal-hal yang dapat digunakan untuk membuat bom.

Namun, dia tidak dapat memberikan rincian lebih lanjut tentang kasus Denmark atau hubungannya dengan Jerman. "Kami sekarang dalam tahap awal penyelidikan dan kami perlu menyimpan “kartu” kami sebagai informasi rahasia," kata Dreyer.

Baca juga: Arkeolog yang Kepalanya Dipenggal ISIS karena Lindungi Kota Kuno Palmyra Ditemukan

Semua kecuali satu dari 14 penangkapan terjadi di Denmark. Tiga dari tersangka adalah warga negara Suriah, berusia 33, 36 dan 40 tahun. Satu orang ditangkap akhir pekan lalu di Jerman menurut pejabat negara itu.

Otoritas Denmark mengumumkan delapan penangkapan pada Kamis, dan polisi mengatakan enam orang lainnya ditahan Jumat (12/2/2021). Sidang penahanan di Denmark akan diadakan dalam mekanisme “pintu tertutup ganda.

” Artinya kasus tersebut diselimuti kerahasiaan dan hanya sedikit detail yang bisa dipublikasikan. Pejabat tidak mengidentifikasi tersangka.

Pada Kamis (11/2/2021), Dinas Keamanan Denmark (Denmark PET) mengatakan tujuh orang pertama, yang ditangkap di Denmark, diduga telah “memperoleh bahan dan komponen untuk pembuatan bahan peledak, kepemilikan senjata, atau berpartisipasi dalam hal ini" Mereka dicurigai "telah merencanakan satu atau lebih serangan teroris atau berpartisipasi dalam percobaan terorisme".

Sebelumnya, otoritas Jerman mengumumkan tiga penangkapan pertama, dua di Denmark dan satu di Jerman. Para tersangka diduga telah membeli beberapa kilogram bahan kimia pada Januari, yang dapat digunakan untuk membuat bahan peledak.

“Sebuah pencarian tempat tinggal di kota Dessau-Rosslau Jerman, barat daya Berlin, menemukan 10 kilogram bubuk hitam dan sekering,” kata jaksa penuntut Jerman. Dilaporkan lebih banyak bahan kimia disita di Denmark.

Baca juga: Pemimpin Sayap Kanan Perancis Hadapi Ancaman Penjara Setelah Sebar Gambar Kekejaman ISIS

Kantor berita DPA Jerman melaporkan bahwa ketiganya bersaudara. Sementara dua orang telah memasuki Jerman untuk pertama kalinya pada 1998 dan menerima status pengungsi kemudian.

Bahan kimia yang diduga mereka dapatkan berasal dari sumber di Polandia, dikirim ke Dessau-Rosslau, dan kemudian dibawa ke Denmark, DPA melaporkan.

Menteri Kehakiman Denmark Nick Haekkerup dalam kicauan di Twitter pada Kamis malam (11/2/2021) menulis "kasus tersebut menunjukkan bahwa ancaman teroris terhadap Denmark tetap serius."

Negara Skandinavia berpenduduk 6 juta itu telah mengkhawatirkan kemungkinan serangan ekstremis sejak September 2005. Tepatnya ketika sebuah surat kabar Denmark menerbitkan 12 kartun yang menampilkan Nabi Muhammad.

Kartun tersebut menyebabkan kemarahan dan protes di dunia Muslim, di mana penggambaran Muhammad secara umum dianggap menghujat. Surat kabar tersebut mengatakan ingin menguji apakah kartunis akan menerapkan sensor diri ketika diminta untuk memerankan Muhammad.

Tidak ada hukum Denmark yang dilanggar dengan publikasi kartun tersebut.

Diterbitkan di Berita
Halaman 2 dari 2