KABAR BANTEN - Varian Mu merupakan salah satu varian baru yang ditetapkan oleh WHO sebagai Varian of Interest atau varian yang menarik. Varian Mu atau nama lainnya yakni Varian B. 1.621 ini terdaftar dalam Who sebagai Varian of Interest pada 30 Agustus 2021 lalu.

Varian Mu yang ditetapkan sebagai Variantt of Interest ini, pertama kali diidentifikasi dan ditemukan di Kolombia pada Januari 2021. Menurut WHO, sejak saat itulah akhirnya varian merebak ke beberapa negara diseluruh dunia termasuk di Amerika Serikat, Inggris, Eropa, AS, dan Hongkok.

Bahkan, berdasarkan infografis yang dibagikan pada laman instagram @drjeffaloys bahwa varian Mu ini sudah sampai ke Malaysia. Tentu, Indonesia harus mulai waspada dan terus protect dalam menjaga diri, terutama tetap disiplin dalam menerapkan prokes.

Apalagi, dalam buletin mingguan WHO dijelaskan bahwa sebagai Variant of Interest, varian Mu ini memiliki konstelasi mutasi yang menunjukkan sifat potensial untuk dapat lolos dari kekebalan.

Bahkan, varian Mu ini didefinisikan sebagai varian yang memiliki perubahan genetik yang diprediksi dapat mempengaruhi karakteristik virus tertentu. Termasuk, keparahan penyakit, pelepasan imun, pelepasan diagnostik atau terapeutik, dan penularan.

Melihat kondisi tersebut, lalu bagaimana caranya untuk dapat melindungi diri dari paparan Covid-19 terkhusus varian Mu?

Dilansir kabarbanten.pikiran-rakyat.com dari Health.com, menurut dokter penyakit menular, Richard Watkins, MD, mengungkapkan bahwa cara terbaik untuk melindungi diri dari varian Mu pada dasarnya sama.

Artinya, layaknya bagaimana melindungi diri dari berbagi varian Covid-19 termasuk varian Mu maka itulah yang diterapkan.

Lebih lanjut, Richard Watkins, MD yang juga merupakan profesor penyakit dalam di Northeast Ohio Medical University menjelaskan bahwa dengan mengikuti vaksinasi yang sesuai dengan pedoman suntikan booster, maka hal tersebut cukup efektif.

Kemudian, Richard Watkins, MD juga mengingatkan penting kiranya sering mencuci tangan dan memakai masker terutama di area dalam ruangan dengan tingkat penyebaran Covid-19 baik sedang maupun tinggi. 

Terakhir, agar mengurangi risiko terpapar Covid-19, termasuk varian Mu, maka upayakan untuk menghindar dari keramaian. Demikian penjelasan mengenai bahayanya varian Mu dan cara terbaik untuk melindungi diri sendiri.*** 

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menilai penyebaran varian Virus Corona (Covid-19) baru yang dikenal dengan nama Mu tak sehebat varian Delta yang cepat menular dari satu orang ke orang lain.

Badan Kesehatan Duni (WHO) telah menyatakan bahwa varian yang bernama ilmiah B.1.621 telah masuk dalam kategori Variant of Interest (VOI). "Tapi penyebarannya tak sehebat varian Delta," kata Dante dalam konferensi pers secara daring, Senin (6/9) malam.

Kemenkes RI sempat mencatat bahwa kecepatan penularan varian Delta 6-8 kali lebih cepat dari varian Covid-19 lainnya. Sehingga mampu menciptakan penularan yang eksponensial.

Tak hanya itu, Dante menilai varian Mu memiliki resistensi terhadap kondisi vaksin virus corona berdasarkan kajian laboratorium. Meski demikian, ia tak menjelaskan lebih lanjut apa yang dimaksudkannya soal kajian Laboratorium tersebut.

"Tapi, dalam konteks laboratorium. Bukan dalam konteks epidemiologis," ujarnya. Dante mengatakan bahwa varian Mu sampai saat ini belum terdeteksi atau di temukan di Indonesia.

Hal itu berdasarkan hasil tes genome sequencing terhadap 7 ribuan spesimen Covid-19 yang tersebar di seluruh Indonesia. "Belum terdeteksi varian Mu. Semoga varian Mu ini abortif seperti varian Lamda," kata Dante.

Berdasarkan data PANGO Lineages yang dirujuk oleh WHO di situs resminya mencatat varian Mu telah terdeteksi setidaknya di 32 negara. Dengan kasus terbanyak di kawasan Amerika, termasuk Kolombia.

WHO turut melaporkan bahwa varian Mu ini pertama kali terdeteksi di Kolombia. Di Kolombia mencatat 290 kasus Covid-19 varian Mu. Menurut WHO pula, mutasi varian itu mengindikasikan kebal terhadap vaksin.

(rzr/ain)

 

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Saat ini muncul varian baru virus corona baru yang dinamai "mu" yang mungkin bisa menghindari kekebalan yang diinduksi vaksin.

Varian ini dikenal sebagai B.1.621 dan pertama kali terdeteksi di Kolombia pada Januari 2021 dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikannya sebagai variant of interest (VOI).

Label VOI, seperti dikutip dari Livescience, Jumat, berarti prevalensi varian tersebut meningkat di beberapa area dan mutasi ini cenderung mempengaruhi karakteristik virus, seperti penularan atau tingkat keparahan penyakit.

Menurut WHO, varian mu memiliki konstelasi mutasi yang menunjukkan sifat potensial untuk lolos dari kekebalan vaksin.

Data awal studi laboratorium menunjukkan antibodi yang dihasilkan sebagai respons terhadap vaksinasi COVID-19 atau infeksi sebelumnya kurang mampu menetralisir atau mengikat dan menonaktifkan varian mu. Namun, temuan ini masih perlu dikonfirmasi melalui penelitian selanjutnya.

Sejauh ini, varian mu telah terdeteksi di 39 negara, termasuk di Amerika Selatan, Eropa dan Amerika Serikat. Sebuah studi dari University of Miami mendeteksi varian ini pada 9 persen kasus di Jackson Memorial Health System di Miami, menurut Medpage Today.

Meskipun mu ditemukan kurang dari 0,1 persen dari semua kasus COVID-19 di seluruh dunia, tetapi varian ini menyumbang 39 persen dari kasus di Kolombia dan 13 persen di Ekuador, dan telah meningkat prevalensinya di area tersebut.

WHO menyatakan masih memerlukan lebih banyak penelitian untuk lebih memahami varian mu dan penyebarannya. Terkait penularannya, otoritas kesehatan di Inggris mencatat varian ini tidak menyebar sangat cepat dan tak lebih menular daripada varian delta.

Tetapi mu punya kemampuan menghindari kekebalan yang diinduksi vaksin. Selain mu, WHO saat ini juga memantau empat VOI lainnya yakni eta, iota, kappa dan lambda serta empat variant of concern (VOC) yaitu alfa, beta, gamma dan delta.

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita
Nafilah Sri Sagita K - detikHealth Jakarta - Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito menegaskan hingga kini sudah ditemukan tiga jenis variant of concern (VoC) yaitu varian Alpha, Beta, dan varian Delta.

Total varian Beta di Indonesia 17 kasus, disusul varian Alpha yang sudah mencapai 64 kasus, dan paling banyak mendominasi hampir di seluruh provinsi Indonesia adalah varian Delta dengan 2.240 kasus.

Sementara lima jenis vaksin COVID-19 di Indonesia pada umumnya dikembangkan dengan varian asli yang pertama kali diidentifikasi di Wuhan. Maka dari itu, menurut dia, masih ada kemungkinan efikasi vaksin menurun saat melawan varian baru Corona.

"Meski menurun, masyarakat tidak perlu khawatir khususnya pada kelima jenis vaksin yang telah digunakan di Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menegaskan bahwa standar vaksin dengan kemampuan membentuk kekebalan yang baik ialah yang memiliki efikasi atau efektivitas di atas 50 persen," sebut Prof Wiku dalam konferensi pers, Kamis (2/8/2021).

Wiku kemudian mengingatkan untuk tidak berpuas diri dengan cakupan vaksinasi 70 persen. Dengan adanya varian baru Corona, lebih baik mencapai total vaksinasi di atas 70 persen untuk memastikan herd immunity atau kekebalan kelompok benar-benar terbentuk.

Berikut rangkuman efektivitas vaksin COVID-19 di Indonesia melawan varian baru Corona.

Varian Alpha

- Vaksin Sinovac memiliki efikasi di atas 50 persen

Varian original (Wuhan)

Lima jenis vaksin COVID-19 di Indonesia terbukti ampuh melawan varian virus asli yang pertama kali diidentifikasi di Wuhan, dengan efikasi di atas 50 persen, ambang batas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

  • Vaksin Sinovac
  • Vaksin AstraZeneca
  • Vaksin Sinopharm
  • Vaksin Moderna
  • Vaksin Pfizer

Varian Alpha

Tiga dari lima jenis vaksin COVID-19 di Indonesia terbukti mampu melawan COVID-19 varian Alpha dengan efikasi di atas 50 persen. Berikut daftarnya.

  • Vaksin AstraZeneca
  • Vaksin Moderna
  • Vaksin Pfizer

Adapun vaksin COVID-19 yang masih butuh studi lanjutan terkait efektivitasnya meliputi:

  • Vaksin Sinovac
  • Vaksin Sinopharm

Varian Beta

Tiga dari lima jenis vaksin COVID-19 di Indonesia terbukti mampu melawan COVID-19 varian Beta dengan efikasi di atas 50 persen. Berikut daftarnya.

  • Vaksin AstraZeneca
  • Vaksin Moderna
  • Vaksin Pfizer

Sementara vaksin COVID-19 yang masih butuh studi lanjutan terkait efektivitasnya meliputi:

  • Vaksin Sinovac
  • Vaksin Sinopharm

Varian Delta

Ada dua di antara lima jenis vaksin COVID-19 di Indonesia terbukti ampuh melawan varian Delta di Indonesia.

  • Vaksin AstraZeneca
  • Vaksin Pfizer

Vaksin COVID-19 yang masih butuh studi lanjutan efektivitasnya pada varian Delta adalah:

  • Vaksin Sinovac
  • Vaksin Moderna

Vaksin COVID-19 yang masih diteliti untuk varian Delta.

  • Vaksin Sinopharm

Varian Gamma

Baru ada satu vaksin COVID-19 yang terbukti ampuh melawan varian Gamma di Indonesia yaitu vaksin Sinovac.

Masih butuh studi lebih lanjut:

  • Vaksin AstraZeneca
  • Vaksin Moderna
  • Vaksin Pfizer

Masih menunggu hasil studi:

  • Vaksin Sinopharm

(naf/up)

Diterbitkan di Berita

WHO Waspadai Varian Corona Baru Bernama Mu

Rabu, 01 September 2021 11:18

Jakarta, CNN Indonesia -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa mereka sedang terus memantau perkembangan varian virus corona baru yang dikenal dengan nama Mu.

Melalui buletin mingguannya yang terbit pada Selasa (31/8), WHO menyatakan bahwa varian bernama ilmiah B.1.621 itu kini masuk dalam kategori "variant of interest (VOI)".

Menurut WHO, mutasi varian itu mengindikasikan risiko kekebalan terhadap vaksin. Mereka pun menyerukan studi lebih lanjut untuk lebih memahami varian Mu ini.

"Varian Mu punya konstelasi mutasi yang mengindikasikan potensi kebal imun," demikian keterangan WHO dalam buletin tersebut. 

WHO memaparkan bahwa varian Mu ini pertama kali terdeteksi di Kolombia. Setelah itu, varian Mu juga dilaporkan terdeteksi di negara-negara Amerika Selatan dan sebagian Eropa.

Merujuk pada data yang dihimpun WHO, varian Mu baru terdeteksi di 0,1 persen kasus Covid-19 global. Namun, varian itu sudah mendominasi 39 persen infeksi corona di Kolombia.

Sebagaimana dilansir AFP, kini para ahli memang sedang mengkhawatirkan kemunculan berbagai varian baru karena lonjakan tingkat infeksi corona secara global.

Kekhawatiran kian tinggi karena saat ini virus corona varian Delta - yang dikenal lebih cepat menular - mendominasi kasus Covid-19 global. Sementara itu, berbagai negara mulai melonggarkan aturan pencegahan Covid-19.

WHO menjelaskan bahwa semua virus pasti bermutasi. Mutasi itu dapat berbahaya, bisa juga tidak, tergantung ketahanannya terhadap vaksin dan seberapa cepat menyebar.

Saat ini, WHO sedang terus memantau empat varian Covid-19 baru selain Mu, termasuk Alpha yang ditemukan di 193 negara, dan Delta di 170 negara.

(has)


Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Sebaran mutasi virus corona (Covid-19) varian Delta B1617.2 di Indonesia meningkat 1,9 kali lipat dalam kurun lima hari. Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan mencatat 1.823 kasus varian Delta yang tersebar di 31 provinsi.

Berdasarkan laporan per 21 Agustus 2021 yang baru diunggah Balitbangkes Kemenkes, Senin (23/8), hanya tiga provinsi yang masih terbebas dari varian Delta, yakni Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan 80 persen hasil pemeriksaan spesimen lanjutan menggunakan metode whole genome sequence (WGS) dalam sebulan terakhir teridentifikasi sebagai varian Delta.

Menurutnya, kecepatan penularan varian Delta 6-8 kali lebih cepat dari varian Covid-19 lainnya, sehingga mampu menciptakan penularan yang eksponensial. Selain varian Delta, Kemenkes juga mencatat 64 kasus varian B117 Alfa dan 17 kasus varian B1351 Beta.

Ketiga varian tersebut merupakan 'Variant of Concern (VoC)' alias varian yang diwaspadai Badan Kesehatan Dunia (WHO). WHO sejauh ini baru menetapkan empat varian yang masuk dalam kategori ini yaitu B117, B1351, B1617, dan P1. Hanya P1 yang belum teridentifikasi di Tanah Air.

Temuan kasus varian itu teridentifikasi berdasarkan hasil pencarian strain virus baru, WGS, terhadap total 5.360 sampel spesimen. Berikut sebaran provinsi dan temuan kasus dari tiga varian tersebut.

Varian B1617.2 Delta 1.823 Kasus
Sumatera Utara: 29 kasus
Sumatera Barat: 75 kasus
Sumatera Selatan: 9 kasus
Aceh: 18 kasus
Bengkulu: 3 kasus
Riau: 27 kasus
Lampung: 3 kasus
Jambi: 1 kasus
Kepulauan Riau: 3 kasus
Kepulauan Bangka Belitung: 5 kasus
Banten: 22 kasus
Jawa Barat: 287 kasus
DKI Jakarta: 617 kasus
DIY: 20 kasus
Jawa Timur: 20 kasus
Jawa Tengah: 190 kasus
Bali: 23 kasus
Nusa Tenggara Barat: 42 kasus
Nusa Tenggara Timur: 102 kasus
Kalimantan Tengah: 3 kasus
Kalimantan Timur: 187 kasus
Kalimantan Utara: 16 kasus
Kalimantan Barat: 28 kasus
Kalimantan Selatan: 16 kasus
Sulawesi Selatan: 14 kasus
Sulawesi Utara: 8 kasus
Sulawesi Tengah: 20 kasus
Gorontalo: 1 kasus
Maluku: 10 kasus
Papua: 12 kasus
Papua Barat: 12 kasus

Varian B117 Alfa 64 kasus
Sumatera Utara: 2 kasus
Riau: 1 kasus
Sumatera Selatan: 1 kasus
Lampung: 1 kasus
Kepulauan Riau: 7 kasus
DKI Jakarta: 37 kasus
Jawa Barat: 10 kasus
Jawa Timur: 2 kasus
Jawa Tengah: 1 kasus
Kalimantan Selatan: 1 kasus
Bali: 1 kasus

Varian B1351 Beta 17 kasus
Jawa Barat: 2 kasus
DKI Jakarta: 12 kasus
Jawa Timur: 2 kasus
Bali: 1 kasus

(khr/fra)

Diterbitkan di Berita

VIVA – Varian Delta COVID-19, dikenal sangat menular, mudah menyebar dan menimbulkan gejala parah sehingga memicu gelombang kedua virus ini di berbagai negara di dunia.

Di waktu yang sama, varian Delta Plus, yang muncul berurutan dari beberapa kasus yang terjadi di gelombang kedua, disebut membawa mutasi lanjutan dari dua varian yang terlihat menginfeksi bahkan orang-orang yang sudah divaksinasi lengkap, serta menyebabkan kematian.

Tapi, di antara keduanya, manakah yang paling harus diwaspadai? Apakah salah satunya paling menular dibanding yang lainnya?

Dikutip laman Times of India, baik varian Delta dan Delta Plus sama-sama dikategorikan sebagai Variants of Concern (VoC) dan menyebar di banyak negara. Ancaman paling menonjol yang terlihat saat ini adalah di mana cakupan vaksinasi masih rendah.

Varian Delta COVID-19 yang paling bertanggung jawab atas gelombang kedua. Peningkatan kasusnya juga sangat cepat karena tingkat penularannya yang sangat tinggi. Tapi, varian Delta Plus, yang mengandung mutasi dari varian Delta, diberi label lebih mengkhawatirkan.

Secara perbandingan, varian Delta Plus dikatakan hampir 60 persen lebih cepat menyebar dibanding varian Delta.

Meski pengamatan klinis menunjukkan ancaman penularan yang lebih tinggi, namun keberadaan varian Delta Plus masih dalam sisi yang rendah dan hanya ditemukan menyebar dalam tingkat yang lebih lamban dari perkiraan.

Saat ini, meski varian Delta masih menjadi strain COVID-19 yang dominan, dan virusnya sangat aktif, para ahli menyarankan bahwa vairan ini, dengan gejala yang parah bisa menjadi ancaman yang terus ada.

Bukti yang tersedia mengenai penularan dan penyebarannya juga muncul lewat penelitian dan temuan genomik. Menurut para ahli, Delta Plus, meski sangat cepat menyebar dan menimbulkan keparahan, tidak meningkat dengan cepat saat ini.

Varian Delta dianggap ekstrem karena keparahan gejala yang ditimbulkan, dibandingkan dengan strain asli.

Keterlibatan paru-paru, kesulitan bernapas, keluhan gastrointestinal (meski pada kasus ringan atau sedang) yang tinggi menjadi apa yang membedakan dengan variants of concern sebelumnya.

Sementara varian Delta Plus, yang disebut membawa ciri-ciri dari varian Delta dan Beta, secara sifat membawa keparahan yang lebih tinggi.

Beberapa studi menunjukkan bahwa varian ini bisa dengan mudah menembus pertahanan imun, dan mengikat kuat sel reseptor paru-paru. Lebih banyak studi tengah dilakukan untuk menentukan daftar lebih terelaborasi kemungkinan tanda dan gejalanya.

Meski kebanyakan gejala mirip dengan varian Delta, berikut bisa menjadi tanda yang harus diperhatikan.

- Keterlibata paru-paru di stadium awal
- Sesak napas dan kesulitan bernapas
- Demam yang lebih panjang dan batuk menetap
- Gejala gastrointestinal
- Ruam kulit dan alergi
- Mata kering dan berair
- Kehilangan nafsu makan dan mual

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Adanya mutasi Covid-19 varian Delta disebut dapat mempersulit kekebalan komunal atau Herd Immunity. Hal itu diakui langsung oleh pengembang vaksin AstraZeneca dan Oxford.

Di hadapan parlemen Inggris, Sir Andrew Pollard, seorang profesor infeksi pediatrik dan immunity di Universitas Oxford, mengatakan bahwa mencapai kekebalan komunal tidak mungkin terjadi sekarang, lantaran varian Delta.

"Kami tahu sangat jelas dengan virus corona bahwa varian saat ini, varian Delta, masih akan menginfeksi orang yang telah divaksinasi," kata Pollard.

Terlebih ia menjelaskan tidak mungkin herd immunity akan tercapai, jika virus bermutasi dan menghasilkan varian virus corona baru. Hal itu juga disebut berpotensi lebih menular pada populasi yang sudah divaksin.

Orang yang divaksinasi masih bisa tertular varian Delta, meskipun sebagian kasus ditemukan dengan gejala lebih ringan. Beberapa ahli berharap herd immunity bisa tercapai seperti halnya campak yang juga sangat menular.

Banyak negara telah mencapai kekebalan komunal pada penyakit campak, dengan memvaksinasi 95 persen populasinya, seperti Amerika Serikat (AS), di mana penularan endemik berakhir pada tahun 2000. Hasilnya jika seseorang divaksinasi campak, mereka tidak dapat menularkan virus.

Meski demikian dengan masih menyebarnya virus Corona, vaksin masih memenuhi peran utamanya yaitu melindungi dari gejala parah.

Dikutip The Guardian, konsep kekebalan komunal atau populasi bergantung pada seberapa besar populasi yang memperoleh kekebalan baik melalui vaksinasi atau sebelumnya sudah terinfeksi.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit CDC AS, orang yang divaksinasi yang terkena varian Delta 25 kali lebih kecil kemungkinannya memiliki gejala parah atau meninggal. Mayoritas yang tertular bergejala ringan atau tidak sama sekali.

Tetapi semakin banyak bukti menunjukkan bahwa dengan adanya varian Delta, orang yang divaksinasi dosis lengkap masih dapat menularkan virus. "Kami tidak memiliki apa pun yang akan menghentikan penularan itu ke orang lain," kata Pollard seperti dikutip Science Alert.

Data dari studi React yang baru dilakukan oleh Imperial College London, menunjukkan bahwa orang yang divaksinasi penuh berusia 18 hingga 64 tahun memiliki risiko 49 persen lebih rendah terinfeksi, dibandingkan dengan orang yang tidak divaksinasi.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa orang yang divaksinasi penuh memiliki sedikit kemungkinan positif, meskipun setelah melakukan kontak dengan orang yang terpapar virus Corona.

Israel adalah contoh yang baik dalam kekebalan komunal. Kasus positif paparan corona dilaporkan turun, setelah memvaksinasi sekitar 80 persen orang dewasa.

Hal itu mendorong beberapa orang berharap bahwa capaian itu telah melampaui herd immunity, tetapi varian Delta sejak itu membawa lonjakan kasus lain.

(can/DAL)

Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: 11 juta orang di Wuhan, China, dilaporkan telah menyelesaikan pengujian covid-19.

Hal tersebut dilakukan setelah munculnya varian terbaru yakni Varian Delta di sejumlah negara. Test ini juga ditargetkan pada seluruh warganya terkecuali anak-anak di bawah usia enam tahun dan siswa pada liburan musim panas mereka.

"Wuhan mencatat 37 kasus Covid-19 yang ditularkan secara lokal dan menemukan 41 pembawa asimptomatik lokal dalam putaran pengujian massal terbaru," ungkap Pejabat Senior Wuhan Li Tao dikutip AFP, Senin (9/8/2021).

Selain itu, pejabat kota juga mengumumkan bahwa tujuh infeksi menular lokal telah ditemukan di antara pekerja migran di Wuhan.

Bahkan, memecahkan rekor selama setahun tanpa kasus domestik setelah menekan wabah awal dengan penguncian yang belum pernah terjadi sebelumnya pada awal 2020.

Pihak berwenang setempat juga mengatakan jika mereka dengan cepat memobilisasi lebih dari 28.000 petugas kesehatan di sekitar 2.800 lokasi untuk kampanye pengujian covid-19.

Sebelumnya diketahui, bahwa China menurunkan kasus domestik menjadi hampir nol setelah virus corona pertama kali muncul di kota itu pada akhir 2019. Pencegahan penyebaran virus corona memungkinkan ekonomi untuk pulih dan kehidupan sebagian besar kembali normal.

Tetapi wabah baru telah merusak rekor itu, karena varian Delta yang menyebar cepat mencapai puluhan kota setelah infeksi di antara petugas kebersihan bandara di Nanjing memicu rantai kasus yang telah dilaporkan di seluruh negeri.

Maka dari itu, China sejak itu membatasi penduduk di seluruh kota di rumah mereka, memutus jaringan transportasi domestik dan meluncurkan pengujian massal saat memerangi wabah yang terbesar dalam beberapa bulan.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - China mulai waspada atas lonjakan kenaikan kasus covid-19 yang baru saja terjadi. Berbeda dari yang sebelumnya, virus yang menyebar adalah varian ganas, delta.

Dalam laporan Jumat (6/8/2021), kasus Covid-19 baru menyentuh angka tertinggi sepanjang gelombang baru ini, 124 kasus pada Kamis (5/8/2021). Angka ini naik dari sebelumnya 85 kasus. Dari data itu, 80 kasus merupakan transmisi lokal, naik dari sehari sebelumnya 62 kasus.

Mengutip Reuters, Komisi Kesehatan Nasional mengatakan lonjakan infeksi masih terjadi di provinsi Jiangsu. Di mana ada 61 kasus baru yang dilaporkan atau naik dari sehari sebelumnya 40 kasus.

Xi Jinping diketahui belum mengomentari lebih jauh soal gelombang infeksi tersebut. Namun dari kebijakan yang ditempuh, terlihat kesiagaan cukup tegas.

Kemarin, dalam pernyataan publiknya, ia hanya menyebutkan kembali niat Beijing dalam membantu seluruh dunia dengan mengirimkan vaksin corona dan bantuan-bantuan lainnya.

China akan menyumbangkan 2 miliar dosis vaksin Covid sepanjang tahun ini. Selain itu Negeri Tirai Bambu juga akan memberikan US$ 100 juta atau setara Rp 1,4 triliun untuk program distribusi vaksin global Covax untuk negara-negara berkembang.

"China akan terus melakukan yang terbaik untuk membantu negara-negara berkembang mengatasi pandemi," kata Xi.

Gelombang di China kali ini terjadi akibat masuknya varian Delta. Varian virus corona ini pertama kali ditemukan di India awal Mei lalu dan masuk ke China lewat penerbangan dari Rusia 20 Juli.

Saat ini, varian itu telah menyebar ke setidaknya 18 provinsi dan puluhan kota. Ini menghasilkan setidaknya empat daerah berisiko tinggi dan 91 daerah berisiko sedang.

Sementara itu, sejak akhir pekan, China sudah mengambil kebijakan penguncian (lockdown) melalui karantina khusus dan wilayah. Media pemerintah Global Times mengklaim beberapa kota tampaknya telah memperlihatkan hasil yang baik.

Di kota Nanjing, masih di provinsi Jiangsu, tempat virus mewabah pertama kali, kurva infeksi harian diklaim mulai datar. Bahkan, kota itu mencatatkan infeksi hingga satu digit saja dalam tiga hari berturut-turut.

Komisi Kesehatan kota Nanjing melaporkan empat kasus lokal baru yang dikonfirmasi pada Rabu (4/8/2021). Sehingga jumlah total infeksi di kota itu menjadi 227 sejak epidemi pecah dari bandara setempat.

Wang Guangfa, seorang ahli pernapasan di Rumah Sakit Pertama Universitas Peking, mengatakan bahwa tren menunjukkan wabah di Nanjing telah dikendalikan.

"Dengan langkah-langkah yang tepat waktu dan akurat untuk memutus rantai penularan, menahan penyebaran virus, dan vaksinasi, kami yakin dapat mengekang lonjakan Covid-19 bahkan dalam menghadapi varian Delta," kata Wang.

Hingga saat ini,China telah mencatat 93.374 kasus virus dan 4.636 kematian sejak wabah itu pertama kali muncul di kota Wuhan.

(mij/mij)

Diterbitkan di Berita