Liputan6.com, Utah - Di tengah kebangkitan infeksi dan angka kematian virus corona COVID-19 varian delta di Amerika Serikat, beberapa orang yang pernah menolak vaksin atau hanya menunggu terlalu lama sekarang bergulat dengan konsekuensinya.

"Kami tidak mendapatkan vaksin," kata Mindy Greene menulis di postingan Facebook-nya, ketika menghabiskan satu hari lagi di unit perawatan intensif COVID-19, mendengarkan mesin berputar yang sekarang bernapas untuk suaminya yang berusia 42 tahun, Russ. 

"Saya membaca semua jenis hal tentang vaksin dan itu membuat saya takut. Jadi saya membuat keputusan dan berdoa tentang hal itu dan mendapat kesan bahwa kami akan baik-baik saja," lanjutnya seperti diwartakan oleh the New York Times, disadur pada Minggu (1/8/2021).

Suaminya, ayah untuk empat anak mereka, sekarang melayang antara hidup dan mati, tentakel tabung tumpah dari tubuhnya.

Pasien di kamar sebelah suaminya telah meninggal beberapa jam sebelumnya. Hari itu, 13 Juli, Greene memutuskan untuk menambahkan suaranya ke sekelompok orang yang tidak mungkin berbicara dalam debat nasional terpolarisasi tentang vaksinasi: penyesalan.

 

 

"Jika saya memiliki informasi yang saya miliki hari ini, kami akan mendapatkan vaksinasi," tulis Greene.

"Saya memiliki rasa bersalah yang luar biasa," kata Greene suatu pagi ketika dia duduk di lobi lantai empat di luar I.C.U. di rumah sakit Utah di Provo, yang melihat ke pegunungan di mana keluarganya pernah pergi mendaki.

"Saya masih menyalahkan diri saya sendiri. Setiap hari."

Lonjakan infeksi dan rawat inap baru-baru ini di antara orang-orang yang tidak divaksinasi telah membawa realitas suram COVID-19 menerjang rumah bagi banyak orang yang berpikir mereka telah melewati pandemi.

Tapi sekarang, dengan kemarahan dan kelelahan menumpuk di semua sisi, pertanyaannya adalah apakah cerita mereka benar-benar dapat berubah pikiran.

Beberapa orang yang dirawat di rumah sakit dengan virus masih bersumpah untuk tidak mendapatkan vaksinasi, dan survei menunjukkan bahwa mayoritas orang AS yang tidak divaksinasi tidak bergeming.

Tetap Menyangkal Meski Tengah Terinfeksi dengan COVID-19
 

 

Dokter di unit COVID-19 mengatakan beberapa pasien masih menolak untuk percaya bahwa mereka terinfeksi apa pun, kecuali anggapan bahwa itu hanya sebatas flu.

"Kami memiliki orang-orang di I.C.U dengan COVID-19 yang menyangkal mereka memiliki COVID-19," kata Dr. Matthew Sperry, seorang dokter perawatan kritis paru yang telah merawat suami Greene. "Tidak peduli apa yang kita katakan, mereka tetap menyangkal."

Rawat inap COVID-19 di Utah telah meningkat 35 persen selama dua minggu terakhir, dan Dr. Sperry mengatakan unit perawatan intensif di seluruh sistem 24 rumah sakit tempatnya bekerja 98 persen penuh.

Namun, beberapa rumah sakit yang dibanjiri pasien di daerah yang sebagian besar berhaluan politik konservatif dan tidak divaksinasi telah mulai merekrut penyintas COVID-19 sebagai utusan kesehatan masyarakat dari upaya terakhir.

Harapannya adalah bahwa skeptis satu kali mungkin hanya membujuk orang lain yang menolak kampanye vaksinasi yang dipimpin oleh Presiden Biden, Dr. Anthony S. Fauci dan pasukan dokter dan petugas kesehatan setempat.

Mereka adalah cerita Scared Straight untuk pandemi yang telah berkembang pada informasi yang salah, ketakutan dan divisi partisan yang mengeras tentang apakah akan divaksinasi atau tidak.

"Orang-orang menciptakan berita dari tempat tidur rumah sakit mereka, dari bangsal," kata Rebecca Weintraub, seorang asisten profesor kesehatan global dan kedokteran sosial di Harvard Medical School.

"Ini adalah aksesibilitas pesan: 'Saya tidak melindungi keluarga saya sendiri. Biarkan aku membantumu melindungimu.'"

 

 

Di Springfield, Missouri, di mana kasus coronavirus meningkat musim panas ini, Russell Taylor duduk dengan gaun rumah sakit, cup oksigen yang terbungkus di wajahnya, untuk menawarkan testimoni pro-vaksin dalam video rumah sakit.

"Saya berharap bisa mendapatkannya sekarang," katanya. Seorang pria Texas yang menjalani transplantasi paru-paru ganda setelah tertular virus membuat permohonan di televisi lokal bagi orang lain untuk mendapatkan vaksinasi.

Dan dengan suara gemetar, seorang administrator klinik rumah sakit di pedesaan Utah menggambarkan bagaimana dia telah dipukul oleh pneumonia ganda dan sepsis setelah memilih untuk tidak mendapatkan vaksinasi.

Wanita itu, Stormy, mengatakan butuh berminggu-minggu untuk untuk berbicara dalam video yang diposting oleh departemen kesehatan setempat.

Dia melakukannya hanya menggunakan nama depannya karena dia khawatir bahwa penyangkal COVID-19 akan mengatakan dia mengada-ada.

"Saya benar-benar takut dengan aspek negatif yang bisa datang darinya," katanya dalam sebuah wawancara pekan ini. "Saya adalah bagian dari masalah yang ingin saya hindari."

Beberapa orang yang cepat merangkul vaksin sekarang memilih untuk berbicara tentang anggota keluarga yang tidak selamat.

Itu adalah peran yang tidak pernah diinginkan Kimberle Jones, tetapi satu dia memeluk setelah putrinya, Erica Thompson, 37, seorang ibu dari St. Louis, meninggal pada 4 Juli, hampir tiga bulan setelah dia memiliki apa yang dia pikir adalah serangan asma yang buruk.

"Saya ingin menjadi suara untuknya," kata Jones, yang mendapat vaksinasi segera setelah dia bisa. "Saya benar-benar berpikir putri saya ingin saya mengatakan, 'Pergilah mendapatkan vaksinasi.'"

Ibunya mengatakan Thompson telah skeptis tentang seberapa cepat vaksin Moderna dan Pfizer-BioNTech telah diluncurkan - puncak dari penelitian ilmiah selama beberapa dekade.

Dia juga percaya bahwa kampanye yang dikelola pemerintah adalah plot terhadap orang Kulit Hitam seperti dia, menurut ibunya.

Tingkat vaksinasi untuk orang Amerika Hitam dan Hispanik tertinggal dari populasi kulit putih, celah yang dikaitkan para peneliti dengan ketidakpercayaanyang berakar pada sejarah diskriminasi medis dan kurangnya akses dan penjangkauan.

"Kata-kata terakhirnya kepada saya adalah, 'Mama, saya tidak bisa bernapas,'" kata Nn. Jones.

 

 

Di Utah, Greene mengatakan suaminya telah meninggalkan keputusan vaksinasi keluarga di tangannya. Dia awalnya berencana untuk mendapatkan tembakan segera setelah tetangga sebelahnya, seorang dokter, mendapatkan miliknya.

Tetapi dia memiliki kekhawatiran tentang vaksin, dan menemukan banyak alasan untuk ragu-ragu ketika dia menggulir melalui media sosial atau berbicara dengan teman-teman anti-vaksin. "Anda perlu menonton ini," tulis salah satu padanya.

Mengklik beberapa tautan membawanya ke lubang kelinci teori konspirasi yang disebut-sebut oleh pengacara anti-vaksin dan YouTuber, dan video di mana dokter dan perawat anti-vaksin menyatakan tembakan Covid-19 sebagai "bioweapon."

COVID-19 menerjang dunia keluarga pada akhir Juni ketika dua putra tertua mereka membawa pulang virus dari kamp gereja di mana sembilan anak laki-laki terinfeksi.

Virus menyapu seluruh keluarga. Kemudian datang pada hari ketika Mr Greene, seorang pemburu yang mendaki melintasi pegunungan, harus dilarikan ke rumah sakit ketika kadar oksigennya jatuh.

"Saya akan selalu menyesal bahwa saya mendengarkan informasi yang salah yang diletakkan di luar sana," kata Ms Greene. "Mereka menciptakan rasa takut."

Pandangannya bergeser saat virus merusak tubuh suaminya dan dokter menempatkannya di ventilator.

Mereka bergeser ketika dia berbicara dengan dokter dan perawat tentang pasien yang tidak divaksinasi mengalir ke rumah sakit dan duduk di luar I.C.U., mendengarkan helikopter penerbangan hidup tiba.

Ms Greene mengatakan dia telah membuat janji untuk mendapatkan anak-anaknya divaksinasi.

 
Diterbitkan di Berita

TEMPO.CO, Jakarta - Guru Besar Ilmu Biokimia dan Biologi Molekular Universitas Airlangga (Unair) Chairul Anwar Nidom telah mengidentifikasi Covid-19 varian baru yang disebutnya lebih mengkhawatirkan.

Temuan itu berdasarkan data analisis bioinformatik yang berasal dari GISAID Initiative—organisasi nirlaba internasional yang mempelajari genetika virus. Menurut Nidom, pihaknya di Laboratoriun Profesor Nidom Foundation (PNF) sudah menengarai terkait dengan munculnya varian baru.

“Tapi bukan Delta Plus, di kami namanya B1446.2B,” ujar Nidom saat dihubungi Jumat malam, 30 Juli 2021, sambil menambahkan bahwa varian itu termasuk dalam varian Delta, selain B1617.2 dan B1617.1

Nidom menjelaskan, varian ini memiliki struktur delesi—mutasi yang berefek merusak pada protein yang dihasilkan, lebih daripada substitusi. Menariknya, kata dia, B1446.2B memiliki isolat protein yang berasal dari Indonesia, bukan impor.

“Jadi mutasi virus akibat tekanan yang terjadi di alam Indonesia, dan lebih mengkhawatirkan dari varian Delta lainnya,” tutur dia. Dari segi karakter virus, dia mengatakan varian jenis Delta ini secara umum memiliki percepatan perbanyakan diri dalam tubuh inang yang sangat tinggi.

Jadi, jika dites polymerase chain reaction (PCR), nilai batas ambang siklus virus (CT Value) rendah antara 10-18, bahkan ada yang di bawah 10 (semakin rendah angkanya, semakin tinggi jumlah virusnya atau per satuan waktu replikasinya lebih banyak).

Namun anehnya, Ketua Tim PNF itu menambahkan, jika ditanam di sel kultur—biakan sel yang digunakan untuk menumbuhkan virus yang berasal dari spesimen swab nasofaring atau trachea—agak sulit tumbuh.

Jadi, setelah PCR positif, umumnya virus itu sudah tumbuh di dalam biakan sel karena punya reseptor khusus.

Artinya, profesor di Fakultas Kedokteran Hewan Unair itu berujar, ada dua kemungkinan, varian ini umumnya mampu memperbanyak diri secara cepat sehingga cepat menular atau mempunyai reseptor bukan pada angiotensin converting enzyme 2 (ACE2), tapi pada reseptor lain yang bukan berada di saluran pernapasan.

“Sehingga menjadi penting upaya pelacakan varian Covid-19 varian di darah.” Varian Delta lainnya adalah Delta Plus atau dikenal sebagai B.1.617.2.1 atau AY 1.

Ini menjadi subvarian baru yang menarik perhatian komunitas medis karena memiliki mutasi yang memungkinkan virus menyerang sel paru-paru dengan lebih baik dan berpotensi lolos dari vaksin.

WebMD, pekan lalu melaporkan Delta Plus telah ditemukan di Amerika Serikat, Inggris, dan hampir selusin negara lain.

Sementara India—tempat pertama kali varian ini diidentifikasi pada Februari—telah melabeli varian itu sebagai “variant of concern”, sedang Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) dan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO belum.

Diterbitkan di Berita

Varian Delta mendominasi Italia

Sabtu, 31 Juli 2021 11:51

Milan (ANTARA) - Varian COVID-19 Delta mendominasi Italia, kata Institut Kesehatan Nasional (ISS) pada Jumat (30/7), merilis data yang menunjukkan varian tersebut menyumbang 94,8 persen kasus sejak 20 Juli.

Varian yang pertama kali ditemukan di India pada Desember 2020 itu kini menjadi dominan di dunia dan menyebabkan lonjakan tingkat infeksi yang memicu kekhawatiran pemulihan ekonomi global.

Dalam survei sebelumnya berdasarkan data per 22 Juni, varian Delta hanya menyumbang 22,7 persen kasus. Sebaliknya, varian Alpha menyumbang 3,2 persen kasus sejak 20 Juli versus 57,8 persen dari data sebelumnya.

"Sangat penting untuk melanjutkan pelacakan kasus secara sistematis dan merampungkan siklus vaksinasi secepat mungkin," kata Kepala ISS Silvio Brusaferro melalui pernyataan.

ISS mengeklaim survei mereka tidak mencakup semua kasus varian, tetapi hanya yang terdeteksi pada hari itu.

Pihaknya menambahkan bahwa varian Gamma, yang pertama kali muncul di Brazil, berkurang menjadi 1,4 dari 11,8 persen dalam survei terdahulu.

ISS juga menunjukkan "peningkatan yang sangat tipis" dalam kasus varian Beta, yang mulanya terdeteksi di Afrika Selatan, yang katanya ditandai oleh pengelakan imun secara parsial.

Italia mencatat 128.029 kematian COVID-19 sejak wabah melanda negara tersebut pada Februari tahun lalu. Angka tersebut merupakan yang tertinggi kedua di Eropa setelah Inggris, dan tertinggi kedelapan di dunia.

Hingga kini, tercatat pula 4,34 juta kasus COVID-19 di negara tersebut. Hingga Jumat, hampir 59 persen warga Italia yang berusia 12 tahun ke atas telah mendapatkan dosis vaksin lengkap, sementara sekitar 10 persennya masih menunggu dosis kedua.

Sumber: Reuters

Diterbitkan di Berita
 
Indra menjelaskan, vaksinasi adalah cara selain terinfeksi untuk membentuk kekebalan. Memang, infeksi atau penularan adalah cara alami untuk membentuk kekebalan, namun cara ini memiliki risiko kematian yang tinggi.

Untuk menghindari risiko tersebut, satu-satunya cara adalah vaksinasi.

 
Peneliti AstaZeneca Indra Rudiansyah. Foto: Popbela
Peneliti AstaZeneca Indra Rudiansyah. Foto: Popbela

“Melalui virus natural kita biarkan saja terinfeksi virus SARS-COV-2, kemudian kita sakit, sembuh kemudian memiliki kekebalan. Atau melalui vaksinasi,” ujar Indra dilansir dari detik.com, Jumat (30/7/2021).

“Saya bisa bilang bahwa semua vaksin yang sudah dilisensi ini aman dan sangat efektif. Jadi mau vaksin mana pun, kita terima tetap vaksin tersebut efektif dan aman,” tutur Indra.

“(Dengan vaksinasi) ketika virus bertransmisi menyebar ke semua orang itu sudah mempunyai kekebalan sehingga virus itu tidak memiliki inangnya lagi dan pada akhirnya, virus itu hilang dari permukaan bumi atau tidak aktif untuk waktu yang lama sehingga masyarakat memiliki kekebalan secara kelompok,” paparnya.

Dirinya membenarkan bahwa efek samping vaksin AstraZeneca memang banyak, bahkan mungkin tak sebanyak vaksin Covid-19 lainnya. Namun menurutnya, laporan-laporan tersebut adalah normal.

Dengan begitu, ia menegaskan, masyarakat tak perlu pusing soal jenis vaksin mana yang diterima.

“Meskipun vaksin itu banyak jenisnya dan yang masuk Indonesia tidak hanya 1 vaksin, saya bisa bilang bahwa semua vaksin yang sudah dilisensi ini aman dan sangat efektif. Jadi mau vaksin mana pun, kita terima tetap lakukan vaksinasi dan vaksin tersebut efektif dan aman,” pungkas Indra.

 
Diterbitkan di Berita

LONDON, KOMPAS.TV - Penelitian Public Health England di Inggris memastikan bahwa dosis lengkap atau dua dosis vaksin Covid-19 buatan Pfizer dan buatan AstraZeneca efektif melawan virus Corona varian Delta yang lebih menular seperti halnya terhadap varian Alpha.

Para peneliti mengatakan vaksin tersebut sangat efektif melawan varian Delta, yang sekarang menjadi varian dominan di seluruh dunia.

Walau begitu penelitian tersebut menegaskan kembali, satu suntikan vaksin tidak cukup untuk perlindungan secara maksimal.

Studi yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine ini memastikan temuan awal yang diumumkan oleh Public Health England pada bulan Mei lalu tentang kemanjuran vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech dan Oxford-AstraZeneca, berdasarkan data dunia.

Simak hasil penelitiannya disini

Penelitian itu pada Rabu (21/7/2021) menemukan dua dosis suntikan Pfizer 88 persen efektif mencegah infeksi bergejala dari varian Delta, dibandingkan dengan 93,7 persen terhadap varian Alpha, secara umum sama seperti yang dilaporkan sebelumnya.

 

Vaksin Covid-19 buatan Pfizer dan BioNTech. Penelitian itu hari Rabu, (21/07/2021) menemukan dua dosis suntikan Pfizer 88 persen efektif mencegah infeksi bergejala dari varian Delta, dibandingkan dengan 93,7 persen terhadap varian Alpha, secara umum sama seperti yang dilaporkan sebelumnya (Sumber: BioNTech via Xinhua)

 

 

Sementara, dua suntikan vaksin AstraZeneca 67 persen efektif melawan varian Delta, naik dari 60 persen yang dilaporkan semula, dan 74,5 persen efektif terhadap varian Alpha, dibandingkan dengan perkiraan awal sebesar 66 persen.

"Hanya perbedaan kecil dalam efektivitas vaksin yang dicatat dengan varian Delta dibandingkan dengan varian Alpha setelah menerima dua dosis vaksin," tulis peneliti Public Health England dalam penelitian tersebut.

Data dari Israel memperkirakan efektivitas suntikan Pfizer lebih rendah terhadap infeksi bergejala, meskipun perlindungan terhadap penyakit parah tetap tinggi.

Penulis : Edwin Shri Bimo | Editor : Gading Persada

Diterbitkan di Berita
 

Varian Delta menjadi penyebab lonjakan kasus Covid di sejumlah negara di Asia, bahkan sampai mengguncang infrasruktur kesehatan di negara-negara itu.  Apalagi vaksinasi di banyak negara Asia masih berjalan lamban, sehingga menimbulkan kekhawatiran virus itu terus menular.

Seberapa parah laju penularannya?

Perhatian saat ini adalah pada varian Delta, yang kali pertama dideteksi di India dan kini menjangkiti negara-negara tetangga di Asia. Bahkan Delta kini dijuluki Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai "varian yang paling menular hingga saat ini."

Nepal mengalami serangan yang sangat parah, lonjakan infeksinya sudah melampaui daya tampung fasilitas kesehatan setempat.

Jumlah kasus di Afghanistan mencetak rekor paling tinggi Juni lalu dan menteri kesehatannya, Wajid Majrooh, mengungkapkan bahwa 60% kasus di Ibu Kota Kabul akibat varian Delta.

WHO juga baru-baru ini melaporkan lonjakan kasus di Indonesia, Bangladesh, dan Thailand.

 

Shape of the pandemic in parts of Asia

BBC mencermati lebih detail atas apa yang terjadi di negara-negara tersebut.

 

Indonesia

Indonesia menerapkan lockdown di beberapa wilayah dan kemungkinan akan memperpanjang pemberlakuannya karena kasus penularan masih tinggi.

Jumlah kasus baru penularan dan kematian telah meningkat sejak awal Juni dan pemerintah mengakitkannya dengan varian Delta. Varian ini dideteksi dari 94% rangkaian tes di Indonesia dalam dua pekan terakhir, menurut laman pemantau Our World in Data (OWID).

Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional menyatakan bahwa Indonesia di ambang bencana bersamaan meningkatnya kekhawatiran akan ketersediaan ranjang rumah sakit dan pasokan oksigen.

Vaksinasi di Indonesia terus digalakkan, namun hingga kini belum sampai 6% yang sudah menerima dosis penuh. Presiden Joko Widodo telah menargetkan satu juta vaksinasi per hari dan akan dilipatgandakan Agustus mendatang.

Di Indonesia, lebih dari 85% vaksin buatan China dan telah ada laporan bahwa sejumlah dokter dan tenaga kesehatan meninggal meski sudah menerima dosis penuh vaksin Sinovac.

Indonesia kini akan memakai vaksin Moderna sebagai dosis booster bagi tenaga kesehatan yang sudah dua kali disuntik dengan Sinovac.

Selain Sinovac, vaksin Sinopharm yang juga buatan China telah diizinkan WHO untuk penggunaan darurat.

 

Roads of Jakarta remain deserted even before the lockdown is implemented

Jalan-jalan utama di Jakarta lengang menjelang pemberlakuan PPKM Darurat GETTY IMAGES

 

Bangladesh

Memiliki perbatasan yang panjang dengan India, Bangladesh juga mengalami kenaikan kasus sejak pertengahan Mei. Varian Delta juga ditemukan dari 92% rangkaian tes di negara itu hingga 28 Juni lalu, menurut OWID.

Di tengah kenaikan kasus, negara itu mencabut pembatasan dan lockdown menjelang hari raya Idul Adha pekan ini. Pemerintah menyatakan akan kembali menerapkan lockdown yang lebih ketat lagi usai perayaan Idul Adha.

Walau Bangladesh lebih cepat dari banyak negara lain dalam memulai vaksinasi, namun ternyata berjalan lamban.

 

The government has deployed the army for strict enforcement of the lockdown.

Bangladesh kerahkan personel militer dalam menerapkan lockdown. GETTY IMAGES 

 

April lalu, Bangladesh terpaksa menunda vaksinasi setelah India menunda pengiriman vaksin AstraZeneca. Vaksinasi kini dilanjutkan lagi dengan pasokan Sinopharm asal China dan Pfizer yang disediakan lewat skema bantuan internasional Covax.

Belum sampai 3% dari populasi di Bangladesh yang sudah divaksin hingga 13 Juli lalu.

Thailand

Naiknya jumlah kasus dan kematian di Thailand dikaitkan pula dengan varian Delta, ungkap Departemen Ilmu Kedokteran. Direktur Jenderal Departemen Ilmu Kedokteran, Dr Supakit Sirilak, kepada media mengatakan bahwa varian Delta kini sudah menjalari 71 dari 77 provinsi di Thailand.

Sebanyak 62,6% dari total 3.300 kasus berasal dari varian Delta, menurut data resmi. Pemerintah Thailand kini mengumumkan lockdown di Ibu Kota Bangkok dan kawasan-kawasan lain yang juga berisiko tinggi.

Apalagi baru sekitar 5% rakyat Thailand yang sudah divaksinasi penuh pada akhir Juni. Beberapa pekan lalu Thailand membuka lagi wilayahnya untuk turis asing, namun kembali menerapkan beberapa pembatasan.

Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha beberapa waktu lalu kepada media mengaku bahwa pembukaan wilayah Thailand untuk turis asing mengundang "risiko yang harus kami terima sehingga rakyat Thailand bisa mendapat nafkah."

 

Mongolia has one of the highest vaccination rates in Asia

Mongolia dikenal sebagai negara dengan vaksinasi paling pesat di Asia. GETTY IMAGES

 

Bagaimana dengan negara-negara Asia lainnya?

Pakistan mengalami peningkatan kasus setelah sempat menurun signifikan pada Mei dan Juni, dengan 92% dari rangkaian tes di Kota Karachi menunjukkan varian Delta. Lalu baru 2% populasi di Pakistan yang sudah divaksinasi penuh.

Kasus di Mongolia menurun sejak awal Juli, setelah gelombang penularan yang parah saat mengalami satu dari tingkat penularan dan kematian tertinggi per kapita di Asia.

Kini lebih dari 50% populasi di negara itu sudah divaksinasi penuh - sebagian besar dengan vaksin Sinopharm buatan China. Tingkat vaksinasi yang tinggi itu muncul setelah pemerintah menargetkan "bebas covid di musim panas" (pertengahan tahun).

Beberapa laporan menunjukkan keterkaitan lonjakan kasus di negara-negara yang sangat bergantung pada vaksin-vaksin buatan China.

Namun seorang pejabat di Mongolia Juni lalu mengatakan bahwa kenaikan kasus terjadi setelah negaranya mencabut lockdown, bukan karena vaksin asal China tidak efektif.

Diterbitkan di Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Beberapa orang yang terinfeksi varian delta memiliki gejala yang sejalan dengan flu biasa. Namun ada juga bukti awal yang menunjukkan bahwa gejala orang lain mungkin lebih terasa dengan varian delta.

“Kami telah melihat bahwa tingkat rawat inap tampaknya meningkat pada populasi yang lebih muda dengan varian delta,” kata kepala petugas medis sebuah perusahaan perawatan kesehatan yang berkantor pusat di Tennessee, Premise Health, Jonathan Leizman, dikutip laman Huffpost, Ahad (18/7).  

Namun, hingga kini, tidak ada konsensus ilmiah tentang varian delta yang cenderung membuat orang lebih sakit daripada strain awal.

“Sekarang ada data yang keluar dari Inggris dan Skotlandia yang menunjukkan bahwa tingkat keparahan penyakit dapat meningkat, dan mungkin mengarah pada peningkatan risiko rawat inap,” kata dokter spesialis penyakit menular di Wexner Medical Center di Ohio State University, Carlos Malvestutto.

Malvestutto mengatakan, orang yang tidak divaksinasi sangat rentan karena varian baru, khususnya varian delta. Varian ini menular lebih cepat dan mungkin menyebabkan penyakit yang lebih parah.

Sementara sebagian besar kasus baru dan rawat inap terjadi pada mereka yang belum divaksinasi COVID-19, yaitu sekitar 99 persen infeksi baru di beberapa bagian negara.

Apa yang disebut "kasus terobosan" memang terjadi di antara mereka yang telah menerima kedua suntikan vaksin Pfizer-BioNTech atau Moderna atau vaksin dosis tunggal Johnson & Johnson.

Tapi, menurut data yang tersedia, gejala yang dialami orang dalam kasus terobosan tersebut cenderung relatif ringan. Sekitar sepertiga orang yang terinfeksi setelah divaksinasi lengkap, misalnya, sama sekali tidak menunjukkan gejala.

CDC sekarang hanya melacak kasus terobosan yang mengakibatkan rawat inap atau kematian, jadi tidak ada data yang benar-benar kuat melihat berapa banyak orang yang mengalami gejala ringan pasca-vaksin (atau tidak ada gejala sama sekali).

Sayangnya pula, tidak ada kejelasan tentang varian apa yang mungkin dialami orang-orang tersebut yang terekam. Pada akhirnya, tujuan vaksinasi tidak hanya untuk mengurangi penularan tetapi juga secara drastis mengurangi rawat inap dan kematian dan vaksin telah melakukan hal itu.

“Sebagian besar individu yang divaksinasi lengkap tidak memiliki konsekuensi penyakit yang parah, yang membuat kami berpikir gejalanya mungkin lebih ringan secara umum untuk individu yang divaksinasi lengkap,” kata Leizman. Kasus terobosan juga masih jarang terjadi di Amerika Serikat (AS).

Itulah sebabnya para ahli kesehatan bersikeras bahwa mendapatkan vaksinasi adalah hal terbaik yang dapat dilakukan orang untuk menjaga diri mereka sendiri dan orang lain tetap aman, dan untuk menghindari timbulnya gejala apapun sama sekali.

"Saya dalam keadaan di mana kita melihat peningkatan yang signifikan pada pasien rawat inap dan mereka semua adalah orang yang belum divaksinasi, yang sangat sulit dan menghancurkan, karena ini benar-benar dapat dicegah," kata Powderly.

 
Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Pemerintah Inggris Raya memastikan bahwa hampir semua pembatasan Covid-19 di Inggris akan dicabut pada 19 Juli.

Itu berarti semua pembatasan kontak sosial di sana tidak akan lagi berlaku. Begitu pula memakai masker di sejumlah tempat umum tidak lagi diwajibkan, termasuk kelab malam boleh dibuka kembali. Pembatasan jumlah orang yang berkumpul juga dicabut.

Sebelum Inggris, beberapa negara lain di penjuru dunia sudah melonggarkan pembatasan kegiatan masyarakat selama pandemi Covid-19 tahun ini - dengan hasil yang beragam.

Apa yang terjadi di negara-negara yang sudah melonggarkan pembatasan?

Israel

Negara ini mulai mencabut pembatasan pada Februari lalu saat sudah memvaksinasi banyak rakyatnya.

Mulai pertengahan Juni - saat lebih dari separuh populasi sudah menerima dua kali dosis vaksin - warga Israel tidak lagi memakai masker dan kehidupan di sana kembali ke era sebelum pandemi.

Semua toko, restoran, hotel, dan bioskop kembali buka.

 

covid, israel, varian delta

Israel membuka kembali bar dan restoran Maret lalu. GETTY IMAGES

 

Sejak itu, akibat munculnya varian Delta yang lebih menular, kasus harian yang terkonfirmasi terus meningkat, mencapai rekor tertinggi dalam empat bulan terakhir sebanyak 754 pada Selasa (13/07).

Para pejabat mengungkapkan kasus-kasus yang serius, termasuk jumlah penderita yang dirawat di rumah sakit, masih relatif rendah.

Namun, peningkatan kasus itu membuat pemerintah di bawah perdana menteri baru Naftali Bennett untuk memikirkan antisipasi selanjutnya.

Melalui langkah yang disebut sebagai "penanggulangan lunak," warga Israel diminta untuk belajar hidup dengan Covid.

Sejumlah pembatasan pun kembali diberlakukan, termasuk wajib memakai masker di dalam ruangan tempat umum dan karantina bagi mereka yang baru tiba di Israel.

Belanda

Bersamaan dengan peningkatan vaksinasi dan penurunan kasus baru, Belanda melonggarkan pembatasan akhir Juni lalu. Masker tidak perlu lagi dipakai di hampir semua tempat dan kaum muda diimbau kembali keluar lagi.

Sejak itu, jumlah kasusnya naik lagi, mencapai level tertinggi sejak Desember - walau pelonggaran itu belum sampai mencatat peningkatan jumlah penderita yang masuk rumah sakit.

 

covid, belanda

Belanda terpaksa menerapkan pembatasan kembali setelah sempat dilonggarkan. GETTY IMAGES

 

Setelah makin gencarnya kritik dari para pejabat kesehatan, Perdana Menteri Mark Rutte terpaksa menerapkan kembali pembatasan pada Jumat (16/07) di banyak sektor, padahal baru dua pekan dicabut.

Semua restoran dan bar harus tutup mulai tengah malam dan kelab malam tidak boleh dibuka. Pembatasan kembali itu disertai pernyataan maaf PM Rutte karena terlalu awal melonggarkan pembatasan.

"Apa yang kami kira telah dimungkinkan ternyata tidak demikian," ujarnya.

Laman pemerintah Belanda menyatakan bahwa pembatasan itu berlaku hingga setidaknya 13 Agustus 2021.

Korea Selatan

Sempat dianggap contoh sukses dalam menangani Covid-19, Korsel termasuk satu dari sedikit negara di Asia Timur yang dikira sudah di luar zona pandemi.

Pada Juni lalu Korsel mengumumkan rencana membolehkan warga untuk bepergian tanpa masker, membolehkan pertemuan skala kecil dan melonggarkan jam buka restoran.

Namun, para pakar memperingatkan bahwa Korsel terlalu dini untuk melonggarkan pertahanan dari serangan Covid, apalagi mayoritas rakyatnya masih belum divaksinasi.

Kini, negeri ginseng itu menghadapi lonjakan kasus terburuk.

 

Korsel, covid
 

Warga Korsel kini diminta untuk memakai masker lagi di tempat umum. GETTY IMAGES

 

Munculnya kasus-kasus harian yang mencetak rekor tertinggi di Korsel memaksa pemerintah memperketat lagi aturan pembatasan sosial di hampir penjuru negeri.

Di Ibu Kota Seoul, warga dilarang untuk bertemu lebih dari satu orang setelah jam 6 sore.

Dengan pesatnya penularan varian Delta sementara tingkat vaksinasi yang lambat, kepercayaan publik atas kemampuan Korsel mengatasi Covid telah menurun.

Swedia

Tidak seperti kebanyakan negara, Swedia lebih banyak bergantung pada pendekatan sukarela dari warganya untuk mengatasi penularan, walau juga membatasi jam buka restoran dan jumlah keramaian di tempat-tempat umum.

Beberapa pembatasan itu telah dilonggarkan, termasuk membolehkan gelanggang olahraga dihadiri maksimal 3000 orang dan mencabut pembatasan jam buka restoran mulai 1 Juli. Pembatasan di sektor-sektor lain juga dihapus pada 15 Juli.

Sejak musim semi lalu, jumlah kasus di Swedia menurun, sebagian berkat meningkatnya vaksinasi dan cuaca yang lebih hangat sehingga membuat banyak warga menghabiskan lebih banyak waktu di luar ruangan.

Namun, di tengah kekhawatiran atas meningkatnya penularan varian Delta, orang yang baru tiba di Swedia harus dites Covid.

Australia

Tahun lalu, warga Australia masih menikmati hidup dengan sedikit pembatasan. Masker wajah tidak diwajibkan saat negara itu secara konsisten mencatat tidak ada kasus harian.

Bila ada kenaikan kasus, pihak berwenang langsung menerapkan karantina wilayah untuk menekan jumlah penularan harian kembali ke nol. Contohnya, Kota Perth ditutup selama lima hari pada Januari lalu walau hanya ditemukan satu kasus.

Namun munculnya kasus varian Delta di Sydney pertengahan Juni lalu membuat kota terbesar di Australia itu kembali menerapkan karantina wilayah. Diperkirakan berlangsung setidaknya hingga akhir Juli.

Sydney saat ini menghadapi kasus harian lebih dari 100. Virus itu menyebar cepat - bahkan di pekan pertama lockdown - di kota yang tidak terbiasa dengan pembatasan.

Pejabat setempat mengatakan karantina wilayah itu juga memaksa warga untuk tinggal di rumah.

 

Namun, dengan lebih dari 90% populasinya belum divaksinasi, pemerintah memperkirakan kondisi ke arah normal belum akan segera terwujud.

Kurangnya persediaan vaksin, terutama Pfizer, membuat banyak warga belum dapat divaksinasi hingga di bulan-bulan akhir tahun ini.

Amerika Serikat

Banyak negara bagian sudah melonggarkan pembatasan saat Presiden Joe Biden menggencarkan program vaksinasi, seperti tidak lagi mewajibkan masker dan membolehkan kegiatan usaha dibuka lagi.

Juni lalu, sebagai negara bagian terpadat di AS, California mengumumkan 'pembukaan kembali besar-besaran," sedangkan New York mencabut hampir semua pembatasan setelah vaksinasinya sudah menembus 70%.

 

Secara umum, kasus harian di AS masih rendah. Jumlah penularan baru tidak sampai sepersepuluh dari tingkat rata-rata harian saat puncak pandemi Januari lalu, walaupun kini meningkat dua kali lipat dalam dua pekan terakhir.

Namun makin banyak yang khawatir akan varian Delta pada kasus penularan di beberapa negara bagian yang tingkat vaksinasinya masih rendah.

Saat vaksinasi di daerahnya masih lambat, beberapa negara bagian menyarankan wargaya tetap pakai masker karena kekhawatiran atas varian Covid itu.

Di Kota New York, jumlah kasusnya melonjak hampir sepertiganya dalam sepekan, di mana penularan tertinggi terjadi di beberapa lingkungan yang vaksinasinya masih sangat rendah.

Tingkat kematian juga naik, walau tidak sepesat kasus penularan. Kalangan pejabat mengungkapkan bahwa sebagian besar penderita yang masuk rumah sakit akibat Covid rata-rata belum divaksinasi.

Diterbitkan di Berita

Varian Delta Mulai Mendominasi Dunia

Sabtu, 17 Juli 2021 17:15

KBRN, Jakarta: Varian COVID-19 Delta kini mendominasi dunia, dibarengi dengan lonjakan kematian di seluruh Amerika Serikat, yang semuanya hampir berasal dari kalangan orang yang tidak divaksin, kata pejabat AS pada Jumat (16/7).

Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC) Rochelle Walensky saat acara jumpa pers mengungkapkan bahwa kasus COVID-19 di AS meningkat 70 persen selama sepekan sebelumnya dan kematian naik 26 persen.

Wabah terjadi di sebagian wilayah dengan tingkat vaksinasi yang rendah, kata CDC. Berdasarkan data CDC, jumlah rata-rata sepekan terkait infeksi harian kini lebih dari 26.000 kasus, jauh lebih tinggi dari sekitar 11.000 kasus pada Juni.

"Ini menjadi pandemi bagi mereka yang tidak divaksin," katanya.

Ia menambahkan bahwa 97 persen orang yang masuk rumah sakit karena COVID-19 adalah mereka yang belum divaksin.Walensky mengatakan bahwa semakin banyak daerah di seluruh AS kini menunjukkan risiko transmisi COVID-19 yang tinggi.

Perkembangan itu memutarbalikkan penurunan risiko transmisi dalam beberapa bulan terakhir.

Sekitar satu dari lima kasus baru terjadi di Florida, menurut koordinator tanggap COVID-19 Gedung Putih Jeff Zients.Varian Delta, yang secara signifikan sangat menular dibandingkan COVID-19 versi asli, telah terdeteksi di sekitar 100 negara secara global dan kini menjadi varian dominan di seluruh dunia, kata pakar penyakit menular AS Anthony Fauci.

"Kita sedang berhadapan dengan varian COVID-19 yang mengerikan," kata Fauci selama pembicaraan melalui telepon.

Walensky mendesak warga Amerika yang belum divaksin agar menerima suntikan COVID-19. Ia juga mengeklaim bahwa vaksin buatan Pfizer dan Moderna terbukti sangat ampuh melawan varian Delta.

Menurut Walensky, masyarakat harus menerima dosis kedua vaksin, bahkan jika mereka telah melewati batas waktu penerimaan. Sekitar lima juta orang di AS telah mendapatkan vaksinasi dalam 10 hari terakhir, kata Zients, termasuk banyak di negara bagian yang sejauh ini memiliki tingkat vaksinasi yang rendah.

Ia menambahkan bahwa AS memiliki vaksin yang cukup untuk dijadikan dosis penguat, namun otoritas masih berupaya menentukan apakah dosis ketiga tersebut memang diperlukan. (Reu/ant)

Diterbitkan di Berita
Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth Jakarta - Varian Delta (B1617.2), virus Corona asal India yang kini telah menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengkategorikan virus jenis ini ke dalam 'variant of concern (VoC)'.

Hal ini karena varian Delta memiliki tingkat penularan yang tinggi. Bagaimana tidak, virus ini telah memicu gelombang kedua COVID-19 di India, dan kini Indonesia tengah menghadapi varian Delta.

"Varian Delta tingkat transmisinya paling cepat lebih dari Alpha (B117). Penelitian di inggris menemukan kalau proses transmisinya 60 persen lebih cepat ketimbang varian Alpha.

Gejalanya juga lebih berat dan 2,5 kali lebih banyak menyerang usia muda," kata dr Riyadi Sutarto SpP dari RSUP Persahabatan, dalam siaran langsung di Instagram @radiokesehatan, Selasa, (13/7/2021).

Siapa saja yang paling berisiko terinfeksi varian Delta?

Berdasarkan data dari National Health Service (NHS), yang menganalisis 92.029 kasus varian Delta di Inggris dari awal Februari sampai pertengahan Juni 2021, ada beberapa kelompok tertentu yang paling berisiko terinfeksi varian ini, sebagai berikut.

  • Orang berusia di bawah 50 tahun
  • Orang yang belum divaksinasi COVID-19.

Data ini didapatkan setelah meninjau 92.029 kasus dengan 82.500 pasien di antaranya adalah mereka yang berusia di bawah 50 tahun. Kemudian 53.882 kasus lagi adalah orang-orang yang belum divaksinasi COVID-19.

Meski demikian, data menunjukkan 117 kematian warga Inggris yang terinfeksi varian Delta mayoritas berada di kelompok usia di atas 50 tahun.

Apa saja gejala varian Delta?

Gejala yang ditimbulkan dari varian Delta tampaknya tak jauh berbeda dengan gejala COVID-19 lainnya.

Meski demikian, profesor epidemiologi genetik di King's College London sekaligus pendiri studi gejala COVID ZOE, Professor Tim Spector, MD, mengatakan ada beberapa gejala yang umum terjadi ketika seseorang terpapar varian Delta, sebagai berikut.

Vaksinasi COVID-19 bikin kebal dari varian Delta?

Menurut NHS, orang yang sudah divaksinasi COVID-19 secara penuh umumnya akan memiliki risiko yang lebih rendah untuk tertular varian Delta.

Dari 92.029 kasus varian Delta di Inggris, 20.000 kasus di antaranya sudah menerima satu dosis vaksin COVID-19 dan 7.235 lainnya sudah mendapat dua dosis vaksin COVID-19.

Data tersebut menunjukkan vaksinasi COVID-19 tidak memberikan 100 persen perlindungan terhadap varian Delta. Namun, orang yang sudah divaksinasi akan memiliki risiko yang lebih rendah terkena varian Delta.


(ryh/kna)

Diterbitkan di Berita