Suara.comPemerintah India sedang menggodok rencana mengganti suara klakson menggunakan suara alat musik seperti suling untuk mengurangi polusi suara. Menyadur Cartoq Senin (6/9/2021), rencana tersebut disampaikan oleh Menteri Transportasi India Nitin Gadkari.

Nitin Gadkari mengungkapkan jika saat ini pihaknya sedang berupaya mengubah suara klakson. Hal tersebut berawal dari ketidaksenangannya atas suara klakson.

"Saya tinggal di lantai 11 di Nagpur. Saya melakukan pranayama selama 1 jam setiap pagi. Tapi suara klakson mengganggu keheningan pagi," buka Nitin. Nitin mengungkapkan jika suara klakson mobil di India seharusnya menjadi instrumen dan harus digunakan sesuai dengan fungsinya.

"Suara instrumen seperti tabla, perkusi, biola, terompet, suling harus didengar dari klakson," kata Nitin Gadkari. Lokmat melaporkan jika pemerintah menyetujui, suara klakson kendaraan bisa bersuara seperti alat musik di India.

Bunyi klakson dari kendaraan menyebabkan polusi suara di India. Terlebih lagi, tidak ada zona membunyikan klakson di seluruh wilayah negara tersebut.

Sebagian besar pengendara mobil dan motor di India juga dianggap tidak mengikuti norma yang berlaku ketika membunyikan klakson. Menurut aturan yang berlaku di India, kenyaringan maksimum bunyi klakson kendaraan baik mobil atau motor tidak boleh melebihi 112 dB.

Di Kerala, polisi sekarang dipersenjatai dengan pengukur suara canggih yang dapat digunakan untuk mengukur kerasnya klakson. Jika klakson kendaraan lebih keras dari batas yang diizinkan, polisi akan mengeluarkan challan atau tilang kepada pengendara.

Diterbitkan di Berita

bensinkita.com Untuk kesekian kalinya, Jakarta kembali masuk dalam daftar sebagai kota besar dengan kondisi udara paling buruk di dunia. Berdasar pantauan IQAir.com pada 7 Juli 2021 pukul 05.20 WIB, indeks kualitas udara Jakarta tercatat mencapai 165 dalam katagori tidak sehat dengan konsentrasi polusi PM 2.5 tercatat mencapai 82,4 µg/m³.

Konsentrasi partikulat PM 2.5 di Jakarta tersebut tercatat  8 kali lipat di atas rekomendasi ambang batas yang ditetapkan WHO. Artinya, warga Jakarta wajib menggunakan masker pelindung jika berada di luar ruangan guna mencegah timbulnya gangguan kesehatan akibat terpapar polutan.

Menurut IQAir.com, kondisi udara Jakarta secara real time pada 7 Juli 2021 pukul 05.20 WIB berada dalam urutan pertama yang terburuk di dunia. Sementara kota besar yang tercatat dengan kondisi udara terburuk kedua di dunia adalah  Kota Johannesburg (Afrika Selatan) dengan indeks kualitas udara Jakarta tercatat mencapai 151 dalam katagori tidak sehat.

 

Dua hari sebelumnya, Jakarta juga masuk dalam daftar sebagai kota besar dengan kondisi udara paling buruk di dunia. Berdasar pantauan IQAir.com pada Senin 5 Juli 2021 pukul 06.20 WIB, indeks kualitas udara Jakarta tercatat mencapai 168 dalam katagori tidak sehat dengan konsentrasi polusi PM 2.5 tercatat mencapai 88 µg/m³.

Menurut IQAir.com, kondisi udara Jakarta secara real time pada 5 Juli 2021 pukul 06.20 WIB berada dalam urutan pertama yang terburuk di dunia. Sementara kota besar yang tercatat dengan kondisi udara terburuk kedua di dunia adalah Kota Zagreb (Kroasia), kemudian disusul Kota Johannesburg (Afrika Selatan) di urutan ketiga, dan Kota Dhaka (Banglades) di urutan keempat.

Terkait memburuknya kualitas udara Jakarta ini, Pertamina terus mengajak warga Jakarta untuk beralih menggunakan bahan bakar minyak (BBM) yang lebih ramah lingkungan. Saat ini Pertamina memberikan potongan harga sebesar Rp 300 per liter bagi para pembeli BBM Pertamax RON-92, Pertamax RON-98, Dexlite CN-51 maupun Pertamina Dex CN-53. Potongan harga tersebut berlaku hingga 31 Juli 2021 bagi pengguna aplikasi MyPertamina.

Diterbitkan di Berita

Neneng Zubaidah sindonews.com JAKARTA - 3 mahasiswa Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggagas bahan kimia sintetis yang mampu mereduksi gas buang kendaraan bermotor.

Inovasi ini memanfaatkan katalis NiMo/Zeolit-Y hierarki yang mampu mereduksi emisi kendaraan secara optimal.

Tingginya penggunaan kendaraan bermotor di Indonesia menjadi penyumbang terbesar pada buruknya kualitas udara di beberapa kota besar di Indonesia.

Tidak hanya menimbulkan polusi udara , emisi kendaraan bermotor seperti karbondioksida (CO2) juga berdampak pada perubahan iklim.

“Dari permasalahan tersebut kami berusaha mencari solusi untuk mengurangi gas buang kendaraan yang berbahaya bagi lingkungan,” jelas Ketua Tim Ardi Lukman Hakim melalui siaran pers, Jumat (14/5/2021).

Pada tahapan awal, lanjutnya, batuan zeolit disintetis terlebih dahulu, lalu disintetis lagi dengan katalis NiMo. “Menurutnya, penelitian terdahulu menyebutkan zeolit hanya dapat bekerja bila disintesis bersama zat yang bisa menjadi katalisnya salah satunya ialah NiMo.

Hasil dari sintetis zeolit dan NiMo tersebut menghasilkan NiMo/Zeolit-Y hierarki dengan 3 konsentrasi yaitu konsentrasi 0,125 M, 0,25 M, dan 0,5 M.

Menurutnya, hasil dari sintetis ini akan dikarakterisasi untuk mengetahui lebih lanjut apakah bahan sintetis tersebut sudah terkatalis sempurna dan dapat digunakan. “Katalis komposit yang paling ideal ialah pada konsentrasi 0,25M,” ujar mahasiswa asal Madiun ini.

Ardi menjelaskan, konsentrasi yang dianggap paling ideal ini akan dilakukan tahap uji emisi. Pada tahap uji emisi ini katalis akan diimpregnasi dahulu dengan tiga varaibel waktu, yaitu 5 jam, 10 jam, dan 15 jam. 

Hasil dari impregnasi ini akan ditinjau luas permukaan, volume pori, dan diameter pori dari katalis tersebut. Utamanya tahap uji emisi dilakukan uji coba apakah katalis mampu mereduksi gas emisi berbahaya. 

Berdasarkan hasil konversi CO dan Hidrokarbon (HC), katalis NiMo/Zeolit-Y hierarki dengan waktu impregnasi 10 jam lah yang paling optimal, di mana terjadi proses oksidasi CO dan HC akibat kerja katalis NiMo.

“Hasil impregnasi 10 jam juga memiliki luas permukaan dan volume pori tidak terlalu besar sehingga cocok digunakan memfilter gas emisi,” tambahnya.

Bersama kedua rekannya yang juga mahasiswa angkatan 2020 yakni Fifi Risma Mailani Farikhah dan Novia Nurul Hidayah, tim ini telah berhasil meraih medali emas dalam kompetisi karya tulis ilmiah kategori health and environment yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya.

Tim yang dibimbing oleh Mashuri SSi MT ini mengusung idenya dalam karya tulis bertajuk Pereduksi Gas Buang Motor Katalis Nimo/Zelolit-Y Hierarki Sintetis dan Fabrikasi.

“Gagasan ini memerlukan penelitian lebih lanjut untuk menambah variabel uji agar hasil lebih optimal dan valid,” terang pemuda kelahiran 2002 ini.

Ardi berharap bahwa gagasan timnya ini dapat diteliti lebih lanjut dengan pendanaan dan sarana prasana yang memadai.

“Saya berharap gagasan ini tidak hanya sekadar ide, namun dapat diteliti lebih dalam dan memberikan keluaran yang bermanfaat bagi bangsa Indonesia,” pungkasnya penuh harap.
(mpw)
Diterbitkan di Berita