Jakarta, CNN Indonesia -- Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman, menyatakan mutasi Covid-19 varian Delta dapat mempersulit herd immunity atau kekebalan komunal.

Sebab menurut dia dengan semakin efektifnya varian Delta menyebar maka semakin tinggi angka reproduksi dari virus tersebut. Dia menerangkan varian Delta juga menurunkan efektifitas vaksin.

"Bahkan orang yang sudah menjadi penyintas bisa terinfeksi lagi," katanya kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Senin (23/8).

Menurutnya dengan kenyataan itu, upaya pengetatan protokol kesehatan serta vaksinasi demi mencapai Herd Immunity yang terus dibangun menjadi mundur.

Herd Immunity, kata Dicky, memang sebuah proses yang panjang sehingga pandemi tidak serta merta usai dengan jika hal itu tercapai. Pandemi, kata dia, baru bisa dinyatakan selesai dengan adanya pengetatan protokol kesehatan dan isolasi mandiri.

Meski begitu, Dicky mengimbau masyarakat tidak khawatir jika herd immunity susah tercapai asalkan tetap konsisten dalam menjaga imun dan mematuhi protokol kesehatan.

Dicky juga menjelaskan menghadapi Covid-19 varian Delta merupakan tantangan tersendiri, karena virus ini memiliki kemampuan untuk mensiasati sistem kekebalan tubuh.

"Pada jenis-jenis virus tertentu itu punya kemampuan menyiasati sistem kekebalan tubuh. Seperti virus HIV itu kenapa sulit mendapatkan vaksinnya karena pinter banget virusnya menyiasati. Dan memang setiap virus ada kekurangan dan kelebihannya," kata Dicky.

Lebih lanjut, Dicky mengatakan kekebalan sistem imun yang terus mengalami penurunan meski sudah divaksinasi memang hal yang tidak begitu mengherankan karena varian Delta terus bermutasi.

"Karena dia bermutasi juga seperti halnya virus influenza, hanya bedanya ini dia memiliki angka reproduksi yang tinggi," ujarnya.

Untuk menghadapi varian Delta ini, menurut Dicky yang perlu diperkuat adalah kesehatan masyarakat.

Senada dengan Dicky, di hadapan parlemen Inggris, Sir Andrew Pollard, seorang profesor infeksi pediatri dan imunitas di Universitas Oxford, mengatakan guna mencapai kekebalan komunal tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat lantaran penyebaran varian Delta.

"Kami tahu sangat jelas dengan virus corona bahwa varian saat ini, varian Delta, masih akan menginfeksi orang yang telah divaksinasi," kata Pollard.

Pollard menjelaskan tidak mungkin herd immunity akan tercapai jika virus bermutasi dan menghasilkan varian virus corona baru. Hal itu juga disebut berpotensi lebih menular pada populasi yang sudah divaksin.

Meskipun sebagian kasus ditemukan dengan gejala lebih ringan, orang yang telah divaksinasi tetap dapat tertular varian Delta. Beberapa ahli berharap herd immunity bisa tercapai seperti halnya campak yang juga sangat menular.

(mhr/ayp)

Diterbitkan di Berita
Kudus Purnomo Wahidin alinea.id Di teras rumah kayu itu, Maksum, 62 tahun, tengah menyuapi cucunya yang berusia tiga tahun. Si cucu berontak. Kaki-kaki kecilnya ingin merangkak. Meski kewalahan, Maksum tak mau melepaskan cucunya itu dari dekapan. 

Rumah Maksum ada di Kampung Apung, Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat. Luasnya sekitar setengah lapangan bulutangkis. Di bawah rumah yang ditopang pondasi kayu itu, ada air sedalam tiga meter mengepung dari semua penjuru. 

Maksum pernah trauma melihat genangan air itu. Sepuluh tahun lalu, anak bungsunya pernah jatuh, tenggelam, dan mati. Ketika itu, usia si bungsu baru empat tahun, setahun lebih tua dari cucu yang tengah ia asuh. 

"Kalau dia (anak bungsu Maksum) masih ada, mungkin sekarang dia sudah SMP kelas satu atau kelas dua," tutur Maksum saat berbincang dengan Alinea.id di kediamannya, Kamis (12/8). 

Maksum menetap di Kampung Apung sejak awal dekade 1980-an. Tak lama setelah peristiwa kematian anak bungsunya, Maksum sempat merantau ke Magelang, Jawa Tengah. Di sana, ia sempat menyambung nyawa dengan berjualan kue pukis.

"Gara-gara dia enggak ada (meninggal), saya drop kalau lihat ke bawah (air)," imbuh dia. 

Pada mulanya, kampung itu bernama Kampung Teko. Menurut Maksum, kampungnya identik dengan nama Kampung Apung setelah air mulai menggenangi rumah-rumah warga secara permanen sejak pertengahan 1980-an. 

Maksum menyalahkan perkembangan kawasan industri di Kapuk sebagai biang kerok tenggelamnya rumah-rumah Kampung Apung. Menurut dia, ada banyak perusahaan di Kapuk yang membangun pabrik dengan meninggikan permukaan tanah. 

"Karena industri banyak melakukan pembangunan dan pengerukan, jadi airnya lari ke tempat kami. Dulu, daerah sini pemakaman umum, sekarang air semua. Abis industri dan daerah sekitar naikin tanah, airnya jadi ke sini dan enggak terkendali," kata Maksum. 

 

Alih-alih surut, ketinggian air terus naik seiring waktu. Maksum dan warga kampung pun harus berulangkali merenovasi rumah agar tak terendam air. Rumah dibikin lebih tinggi tiga sampai lima meter dari posisi awal.

"Teras sama lantai yang sekarang ini, dulunya itu atap rumah saya," ungkap dia.

Hidup di Kampung Apung, kata Maksum, tak pernah mudah. Setiap kali hujan deras tiba, air hampir pasti menyerbu ke dalam rumah warga. Aliran listrik mati dan warga pun dipastikan bakal kesulitan air bersih. 

Persoalan lainnya, semisal padatnya jumlah warga hingga sanitasi yang buruk. Pada saat-saat tertentu, Kampung Apung pun kerap jadi sarang ular. "Semua udah saya lalui. Sekarang sih sudah biasa," kata pria kelahiran Unggahan, Jawa Tengah itu. 

Setelah puluhan tahun didera beragam kesulitan, Maksum mengaku kini legawa. Ia bahkan merasa bakal menghabiskan sisa hidupnya di rumah itu. "Orang tua yang seusia saya, ya, sudah pada mati. Saya juga bakal di sini," kata Maksum. 

 

Suasana tambak ikan milik warga di Kampung Apung, Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat, Kamis (11/8). Alinea.id/Kudus Purnomo Wahidin

Suasana tambak ikan milik warga di Kampung Apung, Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat, Kamis (11/8). Alinea.id/Kudus Purnomo Wahidin

 

Katong, 62 tahun, mengamini cerita Maksum. Tinggal tak jauh dari rumah Maksum, Katong menuturkan harus merenovasi rumah secara berkala. Supaya bisa tetap "mengapung", rumah Katong setidaknya dibikin lebih tinggi satu meter per tahun.

"Rumah juga saya bikin bertingkat, kalau enggak gitu bisa tenggelam rumah saya. Ya, entah kayu yang keropos, ninggiin rumah, atau nambel tembok yang bocor," kata Katong kepada Alinea.id

Sengsara warga kampung, kata Katong, berlipat ganda saat musim penghujan tiba. Banjir menenggelamkan rumah warga hingga aktivitas ekonomi terhenti. "Motor enggak bisa lewat karena (tinggi air) bisa sepinggang kalau hujan," kata Katong. 

Katong sebenarnya punya niat untuk hengkang dari Kampung Apung. Ia khawatir rumahnya bakal benar-benar terendam air dalam sepuluh hingga lima belas tahun ke depan. Namun, saat ini ia tak punya duit untuk mengongkosi biaya pindah ke tempat lain. 

"Sekarang saja sudah banyak rumah yang udah enggak bisa diapa-apain. Dari awalnya, rumah-rumah itu emang di tempat rendah. Kalau rumah saya, agak tinggian. Ya, semoga aja anak-anak saya sama saudara-saudara masih bisa tinggal di sini seterusnya," kata dia. 

Ditemui di tepi salah satu tambak warga, Asmat, 60 tahun, mengatakan kebanyakan warga tetap bertahan di Kampung Apung lantaran tak punya pilihan lain. Mayoritas warga kampung tergolong miskin sehingga sulit untuk bermimpi pindah ke luar kampung. 

Lahir dan besar di Kampung Apung, Asmat hingga kini tak punya pekerjaan tetap. Rumahnya berada di tengah-tengah Kampung Apung yang padat penduduk.

"Saya tinggal di rumah warisan bapak saya. Sumpek kalau di dalam. Jadi, saya kadang sore sampai Magrib suka ke sini (tambak). Nyantai," kata Asmat. 

Menurut Asmat, kehidupan warga kampung semakin suram sejak awal 1990-an. Selain rumah yang kian keropos, barang-barang berharga pun kerap turut rusak karena diserbu air yang kerap tiba-tiba datang. "Ya, motor. Ya, rumah. Banyak dah," kata dia. 

Seperti kebanyakan warga, Asmat pun mengaku sudah berdamai dengan kehidupan yang serba sulit itu. "Seiring waktu, saya terbiasa hidup sama air. Sampai saat ini, alhamdulillah, masih bisa hidup biarpun kudu ninggiin rumah beberapa kali," kata dia. 


Suasana Kampung Apung di Kampung Apung, Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat, Kamis (12/8). Alinea.id/Kudus Purnomo Wahidin

Suasana Kampung Apung di Kampung Apung, Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat, Kamis (12/8). Alinea.id/Kudus Purnomo Wahidin

 

Ditelantarkan pemilik rumah 

Ancaman serupa juga menghantui warga Dadap, Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten. Di kawasan pesisir utara Tangerang yang berbatasan dengan Jakarta Barat itu, ada puluhan rumah yang mulai tenggelam karena tergenang air laut.

Sebagian rumah bahkan hanya tinggal terdiri dari tembok dan tiang penyangga. 

Saman, warga RT 01/RW 02 Dadap, menuturkan banjir rob semakin rutin menyerbu Dadap sejak 2005. Saat ditemui Alinea.id, Jumat (13/8) petang, Saman sedang mengepel lantai di rumahnya yang berjarak hanya sekitar 400 meter dari bibir pantai. 

"Tiba-tiba semalam air pasang, terus masuk (ke dalam rumah). Jadi, biarpun banjir rob sudah surut, air di sini masih menggenang. Soalnya daerah (permukaan) rendah," tutur pria yang sudah tinggal di Dadap sejak 1995 itu. 

Menurut Saman, sudah banyak tetangganya yang kehilangan tempat tinggal lantaran diterjang banjir rob. Warga yang masih bertahan harus meninggikan dasar rumah supaya rumah mereka tak terendam genanan air sisa rob. 

"Saya saja udah tiga kali nguruk rumah biar air enggak masuk. Awalnya, jarak atap sama lantai itu ada sekitar empat meter. Sekarang, jaraknya paling tinggal dua meter. Kita bahkan harus nunduk kalau masuk," kata pria asal Sukabumi, Jawa Barat, itu. 

Menurut Saman, kedatangan rob belakangan tidak bisa diprediksi. Jika sudah menyerbu masuk, rob bisa menggenangi lingkungan Kampung Dadap hingga sepinggang orang dewasa. Akses masuk kampung pun tertutup.

"Kalau pasang, motor enggak bisa lewat. Yang lewat itu sampan," ujar Saman. 

Saman sebenarnya khawatir rumahnya bakal bernasib serupa dengan rumah tetangga-tetangganya. Ia meyakini suatu saat Dadap bakal berada di bawah air laut. Namun, ia tak punya pilihan lain.

"Bingung juga mau pindah ke mana. Tanah sekarang kan mahal," kata pria yang sehari-hari berjualan air minum isi ulang itu. 

 

Rumah warga di Kampung Dadap, Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten, digenangi air sisa banjir rob, Jumat (13/8). Alinea.id/Kudus Purnomo Wahidin

Rumah warga di Kampung Dadap, Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten, digenangi air sisa banjir rob, Jumat (13/8). Alinea.id/Kudus Purnomo Wahidin

 

Selain kerangka rumah, Kampung Dadap saat ini juga dipenuhi dengan rumah bedeng dari bahan triplek.

Menurut salah satu warga Kampung Dadap, Sumarno, rumah-rumah "darurat" itu didirikan warga yang rumahnya ambruk diterjang rob atau tenggelam karena genangan air yang tak kunjung surut.

"Rumah kalau lama-lama kerendam air laut, ya, rusak. Dulu itu bulan Desember sama Januari sering ada rob. Kalau sekarang mah, kapan aja bisa banjir," kata pria berusia 50 tahun itu kepada Alinea.id

Seperti Saman, Sumarno juga tinggal di kawasan yang paling rawan diterjang rob. Ia mengaku sudah lima kali meninggikan pondasi rumah supaya perabotannya tidak terendam saat rob datang. "Lima kali ganti keramik," ucap pengepul rajungan itu. 

Jika laut sedang "mengamuk", menurut Sumarno, Dadap bisa tenggelam hingga setinggi dada orang dewasa. Durasi banjir bahkan bisa sepekan. Selama itu, hanya sampan yang bisa lalu lalang di antara rumah warga. Motor dan mobil tidak bisa melintas.

"Jadi, kalau rob, motor kelem (terendam)," kata dia. Sumarno menetap di Kampung Dadap sejak 1985. Ia merantau dari Indramayu, Jawa Barat. Meskipun kumuh dan langganan banjir, Dadap merupakan tempat yang spesial baginya dan keluarga.

Ia bahkan berniat tetap tinggal di kampung itu hingga benar-benar ditenggelamkan lautan. 

"Ini tempat saya nyari duit. Saya bukannya tidak mampu beli rumah, tapi saya cari makan di sini. Jadi, saya memilih bertahan. Ya, andai nanti daerah ini tenggelam, ya, memang sudah (takdir) dari Yang (Maha) Kuasa," kata Sumarno. 

 

Kerangka rumah yang ditinggalkan pemiliknya di Kampung Dadap, Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (12/8). Alinea.id/Kudus Purnomo Wahidin

Kerangka rumah yang ditinggalkan pemiliknya di Kampung Dadap, Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (12/8). Alinea.id/Kudus Purnomo Wahidin

 

Memperlambat Jakarta tenggelam

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jakarta Tubagus Soleh Ahmadi, mengatakan bahwa "ramalan" Jakarta bakal tenggelam bukan hanya isapan jempol. Menurut dia, semua fakta ekologi mengarah kepada kesimpulan itu. 

"Fakta-fakta ini sudah ditunjukkan lebih dari satu dekade lalu. Penurunan (amblesnya) permukaan tanah sejak lama menjadi persoalan yang paling disoroti, penyebabnya adalah ekstraksi air tanah secara besar-besaran," kata Bagus kepada Alinea.id, Kamis (12/8).

Menurut analisis Climate Central, lembaga nonprofit independen yang fokus pada isu perubahan iklim, sebagian wilayah Jakarta diproyeksikan bakal tenggelam pada 2030. 

Dalam peta yang ditampilkan di laman coastal.climatecentral.org, air laut bahkan diprediksi merangsek hingga ke Bundaran Hotel Indonesia di kawasan Jakarta Pusat.

Supaya prediksi itu "meleset", Bagus menyarankan sejumlah solusi. Pertama, pemerintah membatasi atau melarang pengambilan air tanah, khususnya untuk kepentingan bisnis.

Sedangkan untuk menahan laju kenaikan permukaan air laut, Bagus berharap pemerintah serius menurunkan emisi karbon nasional yang berpengaruh terhadap naiknya suhu bumi. 

Adapun terkait pemukiman penduduk yang kadung tenggelam dan terdampak rob, Bagus meminta pemerintah segera mencari solusi dengan melibatkan masyarakat setempat dan para ahli.

"Karena ini menyangkut masa depan masyarakat, maka penting bagi pemerintah untuk melibatkan penuh masyarakat di pesisir utara Jakarta," kata Bagus. 

Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga mengatakan daerah di pesisir utara Jakarta sudah tidak layak dijadikan permukiman warga.

Menurut dia, kebanyakan daerah permukiman di kawasan itu berada di bawah permukaan laut dan terus turun permukaan tanahnya di kisaran 6-24 centimeter per tahun.

"Dengan penyedotan air tanah, beban infrastruktur jalan atau lalu lintas kendaraan berat dan gedung, serta kenaikan air laut secara perlahan, tapi pasti sekitar dua sampai empat centimeter per tahun, maka kawasan pesisir sudah pasti akan tenggelam dalam beberapa tahun ke depan.

Bisa sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun," ujar Nirwono kepada Alinea.id, Kamis (12/8). 

Nirwono menyebut ada beberapa cara untuk mengatasi banjir rob di sekitar pesisir Jakarta. Pertama, warga di pesisir direlokasi ke rusun terdekat. Setelah direlokasi, permukiman warga kemudian dihijaukan sebagai hutan mangrove dan terbebas dari bangunan apa pun. 

"Sebagai benteng alami kawasan pesisir pantai, untuk meredam rob, abrasi pantai, tsunami. Idealnya lima ratu meter dari tepi pantai ke daratan dijadikan RTH (ruang terbuka hijau) hutan pantai atau mangrove," ujar Nirwono.

Nirwono melihat cara itu paling realistis dilakukan untuk memperlambat ramalan Jakarta tenggelam sekaligus menyelamatkan warga dari dampak naiknya permukaan air laut. "Itu lebih manusiawi, berpikir jangka panjang, berkelanjutan, dan ramah lingkungan," ucap dia. 

Diterbitkan di Berita
Tiara Aliya Azzahra - detikNews Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) isolasi di rumah sakit rujukan COVID-19 kembali menurun. Saat ini, keterisian tempat tidur isolasi sebesar 33 persen dan keterisian ruang ICU 59 persen.

Riza merinci dari total 10.028 tempat tempat tidur isolasi yang disediakan, sekitar 3 ribu sudah terisi. Sedangkan untuk tempat tidur ICU telah terpakai 917 dari total 1.562.

"Tempat tidur BOR turun menjadi 33 persen atau 3.303. ICU turun menjad 917 atau 59 persen," kata Riza kepada wartawan, Jumat (13/8/2021).

Di sisi lain, Riza juga melaporkan saat ini dosis pertama vaksinasi COVID-19 mencapai 8,7 juta. Sedangkan untuk dosis kedua masih berkisar di angka 3,8 juta.

"Total dosis satu dan dua sebanyak 12.592.336," ujarnya.

Sejauh ini, pihaknya berupaya menambah sentra vaksinasi COVID-19 hingga tingkat kecamatan. Tujuannya agar target 11 juta warga divaksinasi COVID-19 bisa segera tercapai. 

"Kami minta seluruh warga Jakarta yang belum melaksanakan vaksin segera datangi sentra-sentra vaksin di tempat-tempat penyelenggara vaksin," ucapnya.

Sebelumnya, pada Selasa (10/8) lalu, keterisian tempat tidur isolasi sebesar 37 persen dan keterisian ruang ICU 64 persen.

"BOR turun lagi menjadi 37 persen, dan ICU turun lagi menjadi 64 persen. Kami terus meningkatkan pelayanan fasilitas RS, laboratorium, oksigen, TPU, peti mati semuanya, obat-obatan bahkan nakes terus kita tambah," kata Riza di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Selasa (10/8/2021).

Politikus Gerindra itu juga menyampaikan saat ini Pemprov DKI Jakarta tengah melakukan uji coba pembukaan mal di masa perpanjangan PPKM Level 4. Kendati demikian, dia tetap meminta warga meminimalkan bepergian ke luar rumah agar tidak terpapar virus Corona.

(idn/idn)

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
 
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menerbitkan Keputusan Gubernur (Kepgub) No. 966 Tahun 2021 tentang perpanjangan PPKM Level 4. Kepgub ini berlaku mulai 3-9 Agustus 2021.
  
Dalam aturan terbaru, para pengendara, pekerja, dan pengguna moda transportasi publik harus sudah divaksin.
 
“Pengendara, pekerja dan pengguna transportasi publik telah divaksinasi,” ujar Anies dalam Kepgub No. 966, dikutip Kamis (5/8).
 
 
 
 
Selama masa perpanjangan PPKM Level 4, untuk masyarakat yang ingin berkegiatan di setiap sektor juga harus wajib vaksinasi minimal dosis pertama.
 
Namun hal ini dikecualikan bagi warga yang masih dalam masa 3 bulan usai terkonfirmasi COVID-19. Hal ini harus dibuktikan dengan hasil laboratorium.
 
Aturan Baru PPKM Level 4 Jakarta, Naik Transportasi Publik Wajib Sudah Vaksin (1)
 
Area vaksinasi di Stasiun Gambir. Foto: KAI
 
Kemudian pengecualian juga diberikan kepada warga yang kontraindikasi atau tak bisa divaksin COVID-19 karena alasan kesehatan, dengan bukti surat keterangan dokter, serta bagi anak-anak usia kurang dari 12 tahun.
 
Nantinya, warga juga dapat dengan mudah menunjukkan bukti vaksinasi melalui aplikasi JAKI kepada petugas.
Diterbitkan di Berita

KOMPAS.TV - Sejumlah masjid tak menggelar shalat Idul Adha berjemaah sesuai imbauan Kementerian Agama. Tapi di Johar Baru, Jakarta Pusat warga tetap menggelar shalat Idul Adha berjemaah, Selasa (20/07/2021) pagi.

Banyaknya warga yang mengikuti ibadah shalat Idul Adha berjemaah membuat sebagian akses jalan permukiman warga ditutup. Warga yang mengikuti shalat Idul Adha membeludak tanpa mengindahkan jaga jarak.

Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Agama meminta warga tak menggelar shalat Idul Adha berjemaah di masjid. Padahal Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meminta warga Jakarta untuk menyelenggarakan shalat Idul Adha di rumah masing-masing.

"Kami mengimbau seluruh penyelenggaraan untuk mengadakan shalat Idul Adha di rumah masing-masing sebagai mana kita pernah melakukannya tahun lalu. Dengan itu insya Allah semua terlindungi," kata Anies dalam rekaman suara, Minggu (18/7/2021).

Sementara itu di Tangerang warga juga tetap menggelar shalat berjemaah di Masjid Al Makmur di Jalan Pesantren Larangan, Kota Tangerang, Banten. Shalat tetap digelar meski Pemerintah Kota Tangerang mengimbau ditiadakannya shalat Idul Adha 2021 di mushala dan masjid-masjid.

Penulis : Natasha Ancely

Diterbitkan di Berita
Tiara Aliya Azzahra - detikNews Jakarta - Dewan Masjid Indonesia (DMI) mengungkap ada 36 masjid di Jakarta yang menggelar salat hari raya Idul Adha. Ketua DMI DKI Jakarta Makmun Al Ayyubi mengatakan laporan masjid melaksanakan salat Id paling banyak di wilayah Jakarta Utara.

"Kita baru terima laporan di beberapa tempat saja. Saya lihat (laporan dari) lapangan (di) Jakarta Utara. Kemudian Jakarta Pusat ada nih, Masjid Nurussamaniyah," kata Makmun saat dihubungi, Selasa (20/7/2021).

Makmun mengatakan hal ini akan dijadikan evaluasi bersama. Ke depan, dia meminta masjid-masjid dapat mengikuti anjuran pemerintah untuk tidak melaksanakan salat berjemaah di masa PPKM Darurat.

"Kami hanya anjuran, imbauan bersama sama MUI dan NU dan semua lembaga kelembagaan dan ormas islam. Biarpun kenyataannya di lapangan masih banyak viral yang menyelenggarakan. ini menjadi evaluasi kita ke depan," ujarnya.

Berikut ini daftar 36 masjid di Jakarta yang menggelar salat Idul Adha: 

Jakarta Utara
Kelurahan Sunter Jaya
1. Masjid Al-Barkah
2. Masjid Nurussalaf

Kelurahan Sunter Agung
3. Masjid Nurul Huda
4. Masjid Nurul Wathan
5. Masjid Al-Maghfiroh
6. Masjid Al-Jihad
7. Masjid Jami An-Nur
8. Masjid Dinul Qoyyimah
9. Masjid Al-Amanah
10. Masjid At-Taqwa
11. Masjid Al-Ikhlas

Kelurahan Sungai Bambu
12. Lapangan Sungai Bambu (Jama'ah Musala Al-Jihad)
13. Masjid Baiturrohim
14. Masjid Al-Hidayah
15. Masjid Siratal Mustaqim
16. Masjid Al-Muin
17. Masjid At-Tauhid
18. Masjid Assabqin

Kelurahan Warakas
19. Masjid Ar-Ruhama
20. Masjid Al-Muhaimin
21. Masjid Al-Musabbihin
22. Masjid Al-Jihad
23. Masjid Hidayatul Mukhlisin

Kelurahan Tanjung Priok
24. Masjid Anni'mah
25. Masjid Baburrahman
26. Masjid Attoibah
27. Masjid Nurussa'adah
28. Masjid Baitul Ihsan
29. Masjid At-Taqwa
30. Masjid Al-Muqarrabien
31. Masjid Istiqomah

Kelurahan Papanggo
32. Masjid Baiturrahman
33. Di jalan Jl. Papanggo 2 RT005/03
34. Masjid Al Hidayah

Kelurahan Kebon Bawang
35. Masjid Nurul Falah


Jakarta Pusat
Kelurahan Duri Pulo
36. Masjid Nurussamaniyah

(zap/zap)

Diterbitkan di Berita

Tim OkezoneOkezone JAKARTA - Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali bertambah. Tercatat pada hari ini, Sabtu (17/7/2021), terdapat penambahan 51.952 kasus baru, sehingga totalnya menjadi 2.832.755.

Sementara itu, jumlah pasien sembuh bertambah 27.903 jadi 2.232.394. Sedangkan pasien meninggal bertambah 1.092 jadi 72.489.

Namun, kasus di DKI Jakarta terpantau melandai, jumlah kasus harian lebih sedikit dibanding kasus sembuh. Dari data Kemenkes dijelaskan bahwa kasus harian di DKI Jakarta menyentuh angka 10.168.

Sedangkan kasus sembuh mencapai 11.613. Sedangkan total kematian dalam sehari akibat Covid-19 hanya ada di angka 67.

Data penambahan kasus positif Covid-19 di Indonesia ini dipublikasikan oleh Satuan Tugas Penanganan Covid-19 di https://www.covid19.go.id dan laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui laman https://www.kemkes.go.id/.

 

(kha)

 
Diterbitkan di Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Bukannya mereda, kasus Covid-19 di Indonesia semakin memburuk beberapa waktu belakangan. Pada Rabu (14/7/2021), Indonesia kembali mencatatkan rekor penambahan kasus harian, yakni di angka 54.517.

Penambahan terbanyak ada di Ibu Kota Jakarta dengan 12.667 kasus. Kondisi ini tentu merugikan bagi banyak pihak, terutama warga miskin Ibu Kota yang serba kekurangan.

Hidup dalam ketidakberdayaan Koordinator Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) Eny Rochayati mengatakan, masyarakat yang tinggal di kampung-kampung Jakarta, salah satunya di Jakarta Utara, kini hidup dalam ketidakberdayaan.

Warga bertahan tanpa nafkah hingga ada yang meninggal sesak napas tanpa teridentifikasi secara medis penyebab kematian tersebut. ”Kejadian kematiannya tinggi sekali. Setiap hari, ada kematian, paling tidak itu dua orang. Gejalanya sama, sesak napas,” kata Eny, dilansir dari Kompas.id.

Mereka yang meninggal itu ada yang hanya bertahan di rumah hingga mengembuskan napas terakhir. Sebagian warga meninggal setelah ditolak rumah sakit karena kapasitas ruang perawatan penuh.

Salah satunya dialami kerabat Eny yang selama 10 hari menderita sakit kepala, lambung, dan sesak napas.

Kerabatnya yang juga bagian dari pengurus JRMK itu mencari rumah sakit di berbagai tempat. Ia sempat diterima di salah satu rumah sakit di wilayah Penjaringan dan ditempatkan di tenda darurat.

Hanya saja, ia tidak mendapat banyak pelayanan kesehatan sehingga dibawa pulang ke rumah oleh keluarganya. Dalam perjalanan pulang itu, kerabat Eny meninggal, tepatnya pada 7 Juli 2021.

Satu per satu warga meninggal saat isolasi mandiri Menurut Eny, warga yang menderita sakit sebagian memutuskan bertahan di rumah tanpa mengakses layanan kesehatan karena ada ketakutan tersendiri apabila menjalani tes usap.

Bagi warga, jika sakit dan dipastikan positif Covid-19, itu berarti mereka harus menjalani perawatan di rumah sakit dan tak bisa bertemu keluarga.

”Ada ketakutan, kalau ketika mereka berobat di rumah sakit, lalu swab dan misalnya dinyatakan positif karena kondisinya parah, berarti harus dirawat di rumah sakit.

Itu menjadi ketakutan mereka karena mereka menganggap itu hari terakhir mereka melihat keluarganya,” kata Eny. Sebagian warga memutuskan bertahan di rumah tanpa menjalani tes usap.

Sayangnya, sebagian dari mereka yang bertahan di rumah itu lalu tak tertolong dan meninggal. Di wilayah RW 019, Kelurahan Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara, saat ini ada 48 keluarga yang sedang menjalani isolasi mandiri di rumah setelah dinyatakan Covid-19.

Warga yang menjalani isolasi mandiri dan tiba-tiba mengalami perburukan dan butuh rujukan ke rumah sakit kesulitan untuk mendapatkan layanan ambulans.

”Ada warga yang sampai sesak napas, kami angkut pakai becak. Susah akses ambulans. Saya coba telepon ke rumah sakit supaya dapat ruang di ICU (tapi belum dapat juga) sampai akhirnya meninggal dunia,” kata Ketua RW 019 Kelurahan Tugu Utara, Ricardo Hutahean.

Di RW Ricardo, sudah tiga orang yang meninggal saat isolasi mandiri. Mereka meninggal akibat terjadi perburukan tiba-tiba karena terlambat atau sama sekali tak mendapat pertolongan medis.

Krisis tabung oksigen Tak sedikit dari warga yang menjalani isolasi mandiri juga butuh bantuan pernapasan dari tabung oksigen. Upaya menolong warga yang menderita sesak napas dengan bantuan tabung oksigen ini juga tak mudah dilakukan.

Eny dalam minggu ini mencoba membantu warga yang membutuhkan oksigen setelah berhasil mendapatkan pinjaman tabung dari aktivis kemanusiaan, Sandiyawan Sumardi. Namun, untuk mengisi oksigen pun sangat sulit.

”Kami sudah dapat link dari mana-mana. Tapi saat coba dilacak oleh keluarga, tidak ada, semua kosong. Lalu, ketika dapat oksigen, antrenya seharian.

Bisa dibayangkan, orang dalam keadaan sesak napas menunggu oksigen sampai seharian, padahal hitungan menit saja sudah megap-megap,” kata Eny.

Di wilayah padat penduduk Penjaringan, satu tabung oksigen yang didapatkan dari Sandiyawan digunakan bergilir oleh warga setempat.

Jelas saja, satu tabung itu sama sekali tak cukup untuk melayani kebutuhan orang-orang yang menderita sesak napas. Saat satu warga masih menggunakan tabung itu, warga lain juga mengiba mendapatkan giliran karena mengalami sesak napas.

”Sementara banyak yang teriak, butuh tabung,” katanya. Dari berbagai kejadian yang terjadi pada warga di kampung-kampung Jakarta itu, JRMK berharap kepada pemerintah untuk tak sekadar mengutamakan sosialisasi dan penegakan hukum PPKM darurat.

Warga miskin kini membutuhkan solusi konkret dari pemerintah untuk mengatasi persoalan ekonomi, sosial, dan persoalan kesehatan yang mendera warga.

”Orang sehat itu karena makan. Kita diminta tidak ke mana-mana untuk memutus mata rantai penularan. Tetapi, kebutuhan kita tidak dipenuhi. Jadi mesti imbang, yang sakit ditolong, yang sehat juga ditolong,” ucap Eny lagi.


Editor : Ivany Atina Arbi


 

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga Antariksa Ameriika Serikat (NASA) menyebut Jakarta dan pulau reklamasi menjadi salah satu kota pesisir yang terancam tenggelam. Ancaman tenggelam ini terjadi akibat kenaikan permukaan air laut imbas pemanasan global dan pencairan lapisan es.

"Hanya sedikit tempat yang menghadapi potensi itu salah satunya daerah dengan penduduk 32 juta orang di Jakarta," seperti tertulis pada laman NASA. 

foto jakarta dari satelit NASA
Foto Jakarta dari satelit NASA tahun 1990 terlihat area tampak lebih hijau dan belum ada penambahan reklamasi di pesisir Jakarta. (Tangkapan layar web landsat.visibleearth.nasa.gov)

 

foto jakarta dari satelit NASA

Foto Jakarta dari satelit NASA pada 2019 dengan berkurangnya area hijau dan penambahan beberapa pulau reklamasi di pesisir Jakarta. (Tangkapan layar web landsat.visibleearth.nasa.gov)

 

NASA pun lantas membagikan foto aerial Jakarta pada 1990 dibandingkan dengan 2019. Gambar dari satelit LandsatNASA menunjukkan evolusi wajah kota Jakarta selama tiga dekade terakhir.

Sejak gambar pertama ditangkap pada tahun 1990, lahan buatan dan pembangunan baru telah menyebar ke perairan dangkal Teluk Jakarta.

Menurut analisis data Landsat NASA, Jakarta setidaknya telah membangun 1185 hektar lahan baru di sepanjang pesisir pantai.Pasalnya, penambahan lahan dengan menambah pulau buatan kerap menjadi solusi tercepat. Sebab, tanah-tanah ini akan memadat dari waktu ke waktu.

Sebagian besar lahan telah digunakan untuk pembangunan perumahan kelas atas dan lapangan golf, jelas Dhritiraj Sengupta, ilmuwan penginderaan jauh di East China Normal University.

Pembangunan di pesisir pantai itu dianggap berisiko, karena berada di garis depan wilayah Jakarta yang tak terhindarkan tenggelam akibat kenaikan permukaan laut. Pasalnya, secara global kenaikan permukaan air laut terus naik hingga 3,3 milimeter pertahun.

Pulau-pulau reklamasi juga dianggap berisiko tenggelam karena punya tingkat penurunan tanah yang cepat. Sebab, tanah di pulau buatan merupakan jenis tanah yang paling cepat tenggelam, karena pasir dan tanahnya mengendap dan menjadi padat seiring waktu.

Sengouta mengatakan sebagian wilayah Jakarta Utara berisiko mengalami penurunan puluhan milimeter per tahun. Tapi, di pulau-pulau reklamasi, angka penurunan tanah itu melonjak hingga 80 milimeter per tahun.

Beberapa pulau baru dibangun merupkan bagian dari rencana induk Pembangunan Terpadu Pesisir Ibu Kota Negara (PTPIN), sebuah upaya untuk melindungi kota dari banjir dan untuk mendorong pembangunan ekonomi.

Inisiatif utama itu adalah pembangunan tanggul laut raksasa dan 17 pulau buatandi sekitar Teluk Jakarta. Meskipun pengerjaan proyek dimulai pada tahun 2015, berbagai masalah lingkungan, ekonomi, dan teknis telah memperlambat pembangunan.

 

NASA menungkap risiko Jakarta tenggelam lewat foto satelit dan meyebut pulau reklamasi paling rawan.

Ilustrasi (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Selain itu, hujan badai juga akan makin intens akibat pemanasan global. Hal ini ikut meningkatkan bahaya di kawasan lain Jakarta yang memang sejak dulu sudah kerap dilanda banjir akibat luapan air sungai.

Sejak lama masalah banjir memang kerap melanda Jakarta akibat aliran sungai dataran rendah yang kerap meluap selama musim hujan.

Sejak tahun 1990, banjir besar telah terjadi setiap beberapa tahun di Jakarta, yang memaksa puluhan ribu orang sering mengungsi. Musim hujan pada tahun 2007 membawa banjir yang sangat merusak, dengan lebih dari 70 persen kota terendam.

Namun, dalam beberapa dekade terakhir masalah banjir dilaporkan kian memburuk, sebagian didorong oleh pengambilan air tanah secara masif yang mengakibatkan penyusutan air tanah.

Akibatnya, terjadi penurunan tanah di Jakarta yang menyebabkan saat ini 40 persen wilayah kota sekarang berada di bawah permukaan laut.

Urbanisasi yang cepat, perubahan penggunaan lahan, dan pertumbuhan penduduk disinyalir telah memperburuk masalah alam.

Penggantian wilayah hutan dan vegetasi menjadi permukaan kedap air. Selain itu, berkurangnya area vegetasi di sekitar sungai Ciliwung dan Cisadane telah mengurangi jumlah air yang dapat diserap oleh tanah. Sehingga meningkatkan risiko banjir.

Selain itu, banyak saluran sungai dan kanal yang menyempit atau tersumbat secara berkala oleh sedimen dan sampah, sehingga sangat rentan terhadap banjir.

Peningkatan populasi pun naik dua kali lipat di kota metropolitan ini antara tahun 1990 dan 2020. Sehingga, banyak orang memadati dataran banjir yang berisiko tinggi.

(can/eks)

Diterbitkan di Berita
Tim Detikcom - detikOto Jakarta - Indonesia kemungkinan besar belum akan bisa menggelar balapan Formula E pada tahun 2022. Dalam kalender sementara yang belum lama ini dirilis, tidak ada nama DKI Jakarta sebagai salah satu tuan rumah.

Formula E merilis kalender balap terbarunya pada pekan lalu, di mana untuk musim balap 2022 akan dilangsungkan di 12 kota dan terdiri dari 16 seri. Kalender paling update tersebut dirilis ke publik setelah digelar pertemuan dengan FIA di Meksiko.

Musim balap Formula E akan dimulai dengan dua balapan pembuka di Arab Saudi pada 28 dan 29 Januari. Setelah itu balapan menggunakan mobil listrik itu akan dilangsungkan di Meksiko, Afrika Selatan, China, Italia, Monaco, dan Jerman.

Ada satu jadwal yang statusnya masih TBD, alias to be to be decided (belum diputuskan). Jadwal balapan tersebut adalah untuk race tanggal 4 Juni. Dikutip dari motorsport, tanggal tersebut disiapkan untuk Jakarta.

"Kami tidak bisa mengumumkan kenapa kami menaruh TBD pada tanggal tersebut. Tapi pada dasarnya, kami punya kontrak untuk melakukannya di Jakarta," ucap pendiri sekaligus direktur kejuaraan Formula E, Alberto Longo.

Jakarta seharusnya menjadi tuan rumah balapan Formula E untuk musim 2019/2020. Ketika itu Formula E Jakarta dijadwalkan dilangsungkan pada 6 Juni.

Namun pada Maret 2020, Gubernur Anies Baswedan mengeluarkan surat yang meminta penyelenggaraan Formula E di Jakarta diundur menyusul merebaknya kasus COVID-19.

"Mencermati perkembangan COVID-19 di berbagai belahan dunia khususnya di DKI Jakarta, maka penyelenggaraan Formula E yang semula dijadwalkan pada bulan Juni 2020 agar ditunda pelaksanaannya," demikianlah bunyi surat Anies ketika itu.

Pada Februari 2021 lalu, Ketua Umum IMI, Bambang Soesatyo, menyebut masih ada peluang Indonesia menjadi tuan rumah balapan Formula E pada 2021. Namun ketika itu belum terjadi ledakan kasus positif COVID-19 sebagaimana sedang dihadapi Indonesia saat ini.

Kalender balap Formula E 2022

Seri 1 dan 2 -- 28 & 29 Januari -- Arab Saudi
Seri 3 -- 12 Februari -- Meksiko
Seri 4 -- 26 Februar -- Afrika Selatan
Seri 5 -- 19 Maret -- China
Seri 6 -- 9 April -- Italia
Seri 7 -- 30 April -- Monaco
Seri 8 -- 14 Mei -- Jerman
Seri 9 -- 4 June -- (TBD)
Seri 10 -- 2 Juli -- Kanada
Seri 11 & 12 -- 16 & 17 Juli -- Amerika Serikat
Seri 13 & 14 -- 30 & 31 Juli -- Inggris
Seri 15 & 16 -- 13 & 14 Agustus -- Korea Selatan


(din/din)

Diterbitkan di Berita
Halaman 1 dari 3