Adhyasta Dirgantara - detikNews Jakarta - Anggota DPR RI Fadli Zon meminta Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri dibubarkan. Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengaku kaget melihat permintaan Fadli Zon yang ingin Densus 88 bubar karena biasanya yang mengeluarkan pernyataan itu adalah teroris.

"Kami sangat kaget, heran, dan menyayangkan statement anggota DPR RI Bapak Fadli Zon yang menyatakan Densus 88 sebaiknya dibubarkan karena islamofobia dan menjadikan teroris sebagai komoditi," ujar komisioner Kompolnas Poengky Indarti melalui pesan singkat, Kamis (7/10/2021).

Poengky mengatakan permintaan Fadli Zon agar Densus 88 bubar sangat tidak berdasar. Terlebih, kata Poengky, Fadli tidak masuk ke dalam komisi DPR yang menjadi mitra pengawas Polri.

"Bagi kami, statement tersebut sangat tidak berdasar. Tidak didukung data, tidak didukung penelitian, dan ahistoris. Apalagi Bapak Fadli Zon tidak masuk dalam komisi yang menjadi mitra atau pengawas Polri," jelasnya.

"Ahistoris itu maksudnya tidak melihat sejarah. Artinya, ucapan Fadli Zon tidak melihat selama ini Densus 88 secara profesional mengungkap dan memproses hukum kasus-kasus teroris di Indonesia sejak kasus Bom Bali 1 di tahun 2003 hingga kasus-kasus teroris yang terjadi saat ini," sambung Poengky.

Lebih lanjut, Poengky mengungkapkan narasi 'Densus 88 dibubarkan' selama ini datang dari kelompok teroris atau radikal. Maka dari itu, Poengky menganggap permintaan Fadli Zon sesat dan berbahaya.

"Selama ini narasi-narasi yang menyatakan Densus 88 harus dibubarkan adalah narasi-narasi dari kelompok teroris dan kelompok radikal, sehingga menyesatkan dan sangat berbahaya jika seorang anggota Dewan mendukung narasi tersebut," katanya.

Poengky menegaskan Kompolnas selalu mengapresiasi kinerja Densus 88 yang profesional. Dia menekankan Densus 88 adalah salah satu detasemen antiteror terbaik di dunia.

"Kompolnas sebagai pengawas fungsional Polri, termasuk Densus 88 di dalamnya, sangat mengapresiasi kinerja Densus 88 yang sangat efektif dan profesional. Densus 88 sejak didirikan hingga saat ini, sudah berhasil menegakkan hukum terhadap para teroris di Indonesia. Dan bahkan dengan prestasinya, Densus 88 adalah salah satu detasemen antiteror terbaik di dunia," imbuh Poengky.

Diketahui, Fadli Zon meminta Densus 88 dibubarkan. Fadli menilai perubahan dunia membuat Densus sebaiknya dibubarkan. "Narasi semacam ini tak akan dipercaya rakyat lagi, berbau Islamifobia. Dunia sudah berubah, sebaiknya Densus 88 ini dibubarkan saja," tulis Fadli melalui akun Twitter resminya, @fadlizon, Rabu (6/10).

Dalam cuitan tersebut, Fadli Zon juga men-quote tweet sebuah berita. Berita itu berjudul 'Densus 88 Klaim Taliban Menginspirasi Teroris Indonesia'. Selain itu, Fadli mengatakan teroris memang harus tetap diberantas. Dia meminta jangan sampai teroris justru dijadikan komoditas.

"Teroris memang harus diberantas, tapi jangan dijadikan komoditas," tambahnya di tweet tersebut. Densus 88 sendiri telah merespons pernyataan Fadli Zon itu. Kabag Banops Densus 88 Kombes Aswin Siregar mengaku akan mempelajari permintaan Fadli tersebut.

"Terima kasih informasinya. Akan kami pelajari," kata Aswin saat dihubungi.

(aud/aud)

Diterbitkan di Berita

damailahindonesiaku Jakarta – Kelompok teroris menggunakan kondisi pandemi Covid-19 untuk memotivasi anggotanya untuk melakukan aksi teror. Mereka membuat narasi bahwa pandemi Covid-19 adalah kondisi akhir zaman, lalu memantik motivasi untuk melakukan aksi teror.

“Lalu masyarakat atau jemaahnya ini harus menyiapkan diri untuk menyambut adanya akhir zaman itu,” kata Kadensus 88 Antiteror Mabes Polri Irjen Pol Martinus Hukom dala diskusi daring yang digelar Humas Polri, Selasa (31/8).

Martinus mencontohkan beberapa kasus di Brebes, Kendal, Maluku, dan Sulawesi Tenggara beberapa waktu lalu. Densus 88 mengungkap bahwa sejumlah anggota kelompok teroris tengah membuat bom untuk aksi teror. Itu semua adalah upaya untuk mempersiapkan datangnya akhir zaman.

Menurutnya, Densus 88 melakukan banyak penindakan hukum selama masa pandemi saat ini. Hal itu, membuktikan bahwa aktivitas teroris tetap berjalan selama masa pandemi.

Selain isu pandemi, Martinus menyebut kelompok teroris juga banyak menggunakan platform-platform media sosial untuk menjaring simpatisan, sehingga percaya ideologi yang mereka anut. Biasanya kelompok teroris memanfaatkan kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah.

“Itu mereka menggunakan isu-isu pandemi ini sebagai satu trigger untuk memotivasi kelompoknya untuk bergerak,” kata Martinus.

Sebelumnya, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan ada 4.093 laporan terkait aliran dana yang diduga berasal dari kelompok teroris dalam lima tahun terakhir.

Ribuan informasi tersebut disusun menjadi 207 laporan analisis, lalu diserahkan ke Polri dan Badan Intelijen Negara (BIN). Dilanjutkan dengan proses hukum dan penangkapan para tersangka teroris jika ditemukan bukti-bukti yang cukup.

Diterbitkan di Berita

damailahindonesiaku.com Jakarta – Kabag Bantuan Operasi Densus 88 Kombes Pol Aswin Siregar menyampaikan Afghanistan menjadi tempat melatih diri (training ground) para kelompok teroris yang biasa beraksi di Indonesia.

Awalnya, Aswin menyampaikan konflik di Afghanistan yang terjadi sejak 1970 silam telah memicu datangnya pejuang alias kombatan dari berbagai penjuru negara. Tak terkecuali Warga Negara Indonesia (WNI).

Ia mengungkapkan banyak WNI yang diketahui menjadi kombatan berdalih memperjuangkan nasib dan kemerdekaan umat Islam. Sesampainya di sana, mereka mendapatkan pencucian otak (brainwash).

“Sampai di sana mereka biasa lah yang mengalami proses brainwash. Kemudian membangun jaringan kenal satu sama lain dan melatih dan melengkapi diri dengan persenjataan yang ada,” kata Aswin dalam diskusi daring, dikutip tribunnews, Senin (30/8).

Ia mencatat ada lebih dari 10 gelombang WNI yang berangkat ke Afghanistan dengan maksud menjadi kombatan pejuang di Afghanistan. Mereka menjadikan tempat itu sebagai melatih berperang.

“Ada yang tercatat misalnya, saya mungkin lebih ada 10 gelombang yang berangkat ke Afghanistan dari tahun-tahun awal itu ya. Kemudian setelah mereka selesai dalam tanda kutip berjuang di sana, selesai berlatih di sana, Afghanistan itu akan selalu itu jadi training ground mereka ya berlatih dan berperang,” ungkapnya.

Ia menerangkan WNI eks kombatan di Afghanistan ini rata-rata memiliki pemikiran dengan tingkat radikalisme yang tinggi seusai pulang ke Indonesia. Tercatat, ada sejumlah aksi teror yang diperbuat eks kombatan di Afghanistan.

“Kemudian selesai pulang ke Indonesia dan melakukan berbagai aksi teror ya di sini sebagaimana yang tercatat di kita itu ada bom malam natal ketika konflik di Poso, Bom Bali 1, bom Bali 2, bom JW Marriott, bom Kedubes Australia, Ritz Carlton dan sebagainya,” ungkapnya.

Atas dasar itu, Aswin mengingatkan bahwa keberadaan WNI sebagai kombatan di Afghanistan berdampak terhadap pemikirannya selepas pulangnya ke Indonesia.

“Jadi hasil-hasil dari keberadaan mereka di Afghanistan itu secara nyata dan faktual memberikan dampak terhadap pemikiran dan aksi mereka setelah kembali ke Indonesia,” jelasnya.

Diterbitkan di Berita

VOA — Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Inspektur Jenderal Raden Prabowo Argo Yuwono, Jumat (20/8), mengatakan Polri menangkap tiga tersangka yang memberi pendanaan, pelatihan penggunaan media sosial, dan pembuatan bom bagi kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso, Sulawesi Tengah.

Ketiga tersangka yang diamankan tersebut berinisial RWP, S, dan WS.

Juru bicara Polri Argo Yuwono saat memberikan keterangan pers di Jakarta pada Senin (16/11/2020). (Foto: VOA)
Juru bicara Polri Argo Yuwono saat memberikan keterangan pers di Jakarta pada Senin (16/11/2020). (Foto: VOA)

“RWP ini memberikan bantuan berupa uang dengan cara mengirimkan ke perbankan di kelompok MIT Poso dan kemudian untuk operasional persiapan amaliyah di kelompok MIT,” kata Argo Yuwono dalam konferensi Pers daring yang disiarkan melalui akun YouTube DIV Humas POLRI.

Argo menambahkan pada 12 Agustus-17 Agustus 2021, Detasemen Khusus 88 Anti Teror Mabes Polri telah menangkap total 53 tersangka tindak pidana terorisme di 11 Provinsi yaitu Sumatera Utara, Jambi, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Maluku, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur.

Dari jumlah itu, imbuhnya, 50 orang adalah anggota jaringan Jamaah Islamiyah dari 10 provinsi dan tiga orang dari jaringan Ansharut Daulah di Kalimantan Timur.

 

Baliho berisi Daftar Pencarian Orang (DPO) Kelompok Teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang dipajang di sisi jalan Trans Sulawesi di Kecamatan Poso Pesisir, Poso. Jumat (11/12/2020). (Foto: VOA/Yoanes Litha)
Baliho berisi Daftar Pencarian Orang (DPO) Kelompok Teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang dipajang di sisi jalan Trans Sulawesi di Kecamatan Poso Pesisir, Poso. Jumat (11/12/2020). (Foto: VOA/Yoanes Litha)

Pengejaran MIT

Satuan Tugas (Satgas) Operasi Madago Raya di Sulawesi Tengah masih melakukan pengejaran terhadap sisa kelompok MIT di hutan pegunungan di wilayah Kabupaten Poso, Sigi dan Parigi Moutong.

Anggota kelompok itu kini tersisa enam orang setelah tiga anggotanya tewas dalam penyergapan Satgas Madago Raya pada 11 dan 17 Juli 2021 di Kabupaten Parigi Moutong. Mereka adalah Rukli, Abu Alim alias Ambo, dan Qatar alias Farel alias Anas.

 

Wakil Penanggung jawab Komando Operasi Madago Raya, Brigjen TNI Farid Makruf, mengatakan tewasnya Qatar, teroris asal Bima, Nusa Tenggara Barat, makin melemahkan pergerakan kelompok teroris itu.

“Karena rupanya selama ini, itu lebih dominan Qatar dalam menakhodai gerakan DPO (daftar pencarian orang) teroris ini,” kata Farid kepada para wartawan di Poso, Rabu (11/8).

Dia menambahkan kelompok itu kini hanya punya satu pucuk senjata api laras panjang M-16 dan satu pucuk revolver dengan amunisi yang terbatas.

“Dan M-16 itu senjata paling ringkih, kalau masuk ke hutan. Apalagi dia kena embun, kena air. Saya yakin Ali Kalora itu sudah tidak bisa dipakai M-16nya. Hanya revolver mungkin karena dirawat, itupun pelurunya sangat terbatas,” ujar Farid yang juga Komandan Komando Resort Militer (KOREM) 132 Tadulako.

 

Polisi memeriksa bangunan yang dibakar dalam serangan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora di Dusun Lewonu, Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Sabtu (28/11/2020). (Foto: Courtesy/Humas Po
Polisi memeriksa bangunan yang dibakar dalam serangan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora di Dusun Lewonu, Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Sabtu (28/11/2020). (Foto: Courtesy/Humas Po

Waspadai Paham Radikalisme

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Zainal Abidin mengingatkan pentingnya untuk mewaspadai perkembangan gerakan atau paham radikalisme yang mengarah kepada intoleransi dan terorisme.

“Radikalisme di Sulawesi Tengah, bukan sebatas gerakan dakwah, pemikiran atau ideologi tetapi sudah sampai dalam bentuk tindak teror. Bahkan hingga hari ini kelompok MIT masih eksis,” kata Zainal Abidin saat berbicara dalam Ngobrol Perempuan yang digelar leh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi Tengah, Kamis (12/8) pekan lalu.

Menurutnya, seberapa besar potensi perkembangan gerakan atau paham radikalisme di Sulawesi Tengah tergantung kemampuan seluruh elemen masyarakat, termasuk warga, tokoh agama dan pemerintah, untuk mengontrol faktor-faktor penyebab, seperti pemikiran, Pendidikan, dan ekonomi.

 

Selain itu, imbuhnya, masyarakat Sulawesi Tengah rentan disusupi paham radikalisme, terutama mereka atau yang keluarganya pernah menjadi korban tragedi Poso beberapa tahun silam.

“Hal ini dapat dimanfaatkan oleh para propagandis radikalisme dengan dalih menegakkan keadilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa napiter (narapidana terorisme) kasus Poso, tidak dimotivasi oleh faktor ideologi-pemikiran keagamaan, tetapi lebih disebabkan oleh dendam pribadi,” jelas Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu itu.

Kondisi geografis Sulawesi Tengah yang dikelilingi oleh pegunungan dan hutan lebat, juga berpotensi dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok radikalisme-terorisme sebagai tempat persembunyian yang aman dari jangkauan aparat, seperti yang dilakukan oleh MIT. [yl/ft]

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri kembali menangkap sejumlah tersangka teroris dari jaringan Jamaah Islamiyah (JI) di Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Sulawesi Tenggara (Sulteng) pada Jumat (20/8) kemarin.

Sejak 12 Agustus kemarin, total Densus telah mengamankan 58 tersangka teroris yang tersebar di 11 Provinsi.

"Densus 88 AT kembali menangkap 5 tersangka teroris. Hari Jumat tanggal 20 Agustus 2021. Penangkapan dilakukan terhadap 5 tersangka di 2 provinsi," kata Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri Kombes Ahmad Ramadhan kepada wartawan, Sabtu (21/8).

Dia menjelaskan, para tersangka itu diduga terlibat dalam kegiatan teroris berkaitan dengan senjata api. Satu tersangka berinisial MT di tangkap di Sulawesi Selatan. Sementara, empat lainnya ditangkap di Sulawesi Tengah (Sulteng).

"Sulawesi Selatan 1 orang atas nama MT (jaringan JI). Di Sulawesi Tengah 4 orang AR, NL, BL, F (jaringan JI)," jelasnya. Ramadhan mengatakan, Densus telah mengamankan barang bukti berupa senjata api dalam penangkapan itu.

Namun dia belum dapat merincikan lebih lanjut mengenai peristiwa tersebut. "Perannya menyembunyikan senjata api, barang bukti senjata api telah diamankan oleh Densus," tambah dia.

Sebagai informasi, puluhan tersangka teroris yang sebelumnya ditangkap oleh Densus diduga hendak melakukan aksi teror saat pelaksanaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-76 RI.

Kadiv Humas Polri, Inspektur Jenderal Argo Yuwono penangkapan itu dilakukan usai Densus 88 melakukan profiling dan penyelidikan terkait dengan rencana kegiatan jaringan teroris tersebut.

Menurutnya, setiap agenda yang dibuat oleh jaringan teroris ini pada masa lalu memiliki keterkaitan hingga kini.

"Ini sesuai dengan keterangan daripada beberapa tersangka yang kami lakukan penangkapan. Ya memang, kelompok JI sendiri dan dia ingin menggunakan momen 17 Agustus hari kemerdekaan," kata Kadiv Humas Polri, Inspektur Jenderal Argo Yuwono dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (20/8).

(mjo/eks)

Diterbitkan di Berita
Deny Prastyo Utomo - detikNews Surabaya - Densus 88 mengamankan seorang terduga teroris di Jalan Jagir Wonokromo, Surabaya. Densus kemudian menggeledah rumah milik terduga teroris tersebut..

Ketua RT 12 Kelurahan Wonokromo, Muchsin, mengatakan terduga teroris yang diamankan adalah E. Muchsin mengaku tak tahu pasti kapan E diamankan. Dia hanya tahu E diamankan saat bertanya kepada salah satu petugas Densus.

"Saya tanya, pak E di mana. Dijawab dibawa Densus," ujar Muchsin kepada detikcom, Senin (16/8/2021). Muchsin kemudian bersama ketua RW diminta menjadi saksi saksi penggeledahan. Muchsin menyebut penggeledahan dilakukan sekitar pukul 05.30 WIB.

Muchsin menjelaskan ada dua tempat yang digeledah tim Densus 88. Pertama adalah workshop atau bengkel usaha aluminium dan rumah pribadi milik E. Penggeledahan berakhir sekitar pukul 08.00 WIB.

"Pak E sudah lama tinggal di sini, sebelum tahun 2000-an," tandas Muchsin.

(iwd/iwd)

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Kasubdit Penyidikan Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri Dr Imam Subandi mengatakan aksi terorisme di Indonesia merupakan metamorfosis dari rasa ketidakpuasan kekuasaan politik di masa lalu.

"Kalau kita lihat sejarah awalnya tidak murni agama tetapi politik kekuasaan," kata Imam Subandi di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan keadaan sekarang tidak bisa dilepaskan dari sejarah masa lalu saat terjadi revolusi 1945-an dan 1980-an munculnya Negara Islam Indonesia (NII) yang kemudian bermetamorfosis.

Dari ketidakpuasan tadi, kemudian disakralisasi dan diubah ke arah isu-isu agama yang pada akhirnya muncul penggunaan isu-isu keagamaan menjadi dasar atau alasan lahirnya aksi-aksi teror.

Saat NII muncul pemerintah mengambil langkah tegas dengan menumpas organisasi tersebut. Tidak sampai di situ lahir pula Jamaah Islamiyah (JI) kemudian bermetamorfosis menjadi Majelis Mujahidin Indonesia dan lain sebagainya.

Jika ditarik benang merah jauh ke belakang, kata Imam Subandi, maka aksi-aksi terorisme yang terjadi masih berkaitan dengan masa lalu.

Hal itu, lanjutnya, juga masih berkaitan dengan hilangnya tujuh kata dalam Pancasila dan terkait penumpasan yang cukup keras terhadap orang-orang yang menginginkan Indonesia dibangun atas dasar hukum Islam.

Oleh sebab itu, menurut dia, adanya aksi-aksi terorisme di tanah air terjadi karena rasa tidak puas atas kekuasaan politik yang dimulai dari NII, Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) hingga membentuk wujud yang lebih kongkret, yakni terorisme.

Terorisme bisa saja muncul dari agama-agama lain tergantung dari bentuk ketidakpuasan di suatu negara. Misal di Inggris yang didominasi nonmuslim maka teroris bisa muncul dari agama di luar islam.

"Atau misalkan terjadi di India, maka agama Hindu atau Sikhisme sebagai latar belakang rasa ketidakpuasan bisa melakukan aksi terorisme," ujarnya.

Begitu juga di negara-negara lain yang mayoritas bukan muslim, ketika merasa terjadi ketidakpuasan atau tidak ada keadilan maka jalan kekerasan bisa menjadi pilihan bagi mereka.

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Joko Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

 

Diterbitkan di Berita

alinea.id Densus 88 Antiteror akhirnya menangkap terduga teroris AS pada pukul 21.30 tadi malam (5/7) di Kampung Kace, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka.

Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri, Kombes Ahmad Ramadhan mengatakan, dia ditangkap oleh tim gabungan Reserse Kriminal dan Intel Polda Bangka Belitung. Kemudian, dibawa ke Polda Bangka Belitung (Babel) untuk pemeriksaan lanjutan.

"Tersangka teroris yang melarikan diri berhasil ditangkap kembali okeh Densus 88 Antiteror," katanya saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Selasa (6/7).

Menurut Ramadhan, Densus 88 Antiteror turut menangkap dua orang yang membantu pelarian terduga teroris AS. Kendati demikian, tidak disebutkan apa hubungan keduanya dengan AS. 

"Iya sekaligus ditangkap dua orang yang ikut menyembunyikannya. Dibawa ke Polda Babel," ucap Ramadhan.

Untuk diketahui, terduga teroris AS melarikan diri saat diberikan waktu istirahat dalam proses introgasi. Dia saat itu diborgol kaki dan tangannya oleh penyidik.

Terduga teroris AS melarikan diri dalam melalui jendela. Terakhir dia menggunkan kaos berwarna abu-abu dengan rambut panjang, kulit sawo matang, dan memiliki beberapa tahi lalat di wajahnya.

Diterbitkan di Berita

Puteranegara BatubaraOkezone JAKARTA - Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan mengungkapkan, terduga teroris BA yang ditangkap di Deliserdang, Sumatera Utara, pernah ikut latihan menembak bersama kelompok Jamaah Islamiyah.

"Keterlibatannya itu tahun 2015 dia mengikuti latihan menembak bersama anggota Rodifah Isobah Barat Kodimah Barat Jamaah Islamiah (JI)," kata Ramadhan saat dihubungi, Jakarta, Jumat (2/7/2021).

Kemudian, kata Ramadhan, pada 2014, terduga itu juga berperan sebagai pihak menyimpan senjata api yang digunakan untuk pelatihan tersebut.

Selain itu, pada 2016, terduga tersebut juga menjabat sebagai Ketua Khidmat Rodifah Isobah Barat Jamaah Islamiyah. Setahun berikutnya, ia ditetapkan sebagai ketua untuk koperasi yang diduga milik kelompok tersebut.

"Sejak 2017 terpilih sebagai ketua koperasi Attoyibah yang merupakan koperasi milik Rodifah Isobah JI dan sebagai penanam modal koperasi Attoyibah tersebut," ujar Ramadhan.

Sebelumnya, personel Detasemen Khusus 88 Anti-teror Mabes Polri menangkap seorang terduga teroris dari kawasan Bandar Klippa, Kecamatan Percut Seituan, Deliserdang, Sumatera Utara, Kamis (1/7/2021).  

(erh)

Diterbitkan di Berita

suaraislam.co Tiga terduga teroris, DS, SY, dan AS ditangkap Densus 88 Antiteror Polri. Penangkapan tersebut dilakukan di Duren Sawit, Jakarta Timur (Jaktim); Kembangan, Jakarta Barat (Jakbar); dan Bangka Belitung (Babel).

“Hari ini, Rabu, 30 Juni 2021, Densus 88 Antiteror Polri Satgas Wilayah DKI bekerja sama dengan Satgas Wilayah Babel telah melakukan penangkapan terhadap tiga orang diduga teroris namanya adalah DS, SY, dan AS,” kata Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Ahmad Ramadhan, seperti dikutip dari detk.com, Rabu (30/6/2021).

Ramadhan mengungkapkan ketiganya diduga berasal dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Ketiganya ditangkap usai AS diduga mengirim paket senjata dari Babel ke Jakarta.

“Di mana perannya adalah menerima barang paket titipan dari saudara AS yang dikirim dari Provinsi Babel. Di mana setelah ditangkap Satgas Wilayah Densus 88 DKI, barang bukti yang diamankan adalah tiga pucuk senapan panjang dengan amunisi 120 butir, kemudian tiga pucuk senpi jenis revolver dengan amunisi 100 butir, juga ada dua pisau belati,” tuturnya.

“Hasil penyelidikan sementara bahwa kelompok ini adalah kelompok JAD,” sambung Ramadhan. Ramadhan mengatakan Densus masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mencari pelaku lainnya. DS dan SY yang ditangkap di Jakarta bakal dibawa ke Polda Metro Jaya.

“Selanjutnya tentunya Densus teruskan penyelidikan lebih lanjut di mana pelaku-pelaku lain. (DS dan SY) akan dibawa ke Polda Metro Jaya,” tuturnya.

Diterbitkan di Berita