Muncul Wacara Muktamar di IKN! Purwanto: Hindari Rebutan Tempat, Sejarah Besar NU dan NKRI

Minggu, 17 Mei 2026 06:32
(0 pemilihan)

JAKARTA | duta.co – Sampai sekarang lokasi Muktamar ke-35 NU (Nahdlatul Ulama) belum diputuskan. Menurut Ketua Panitia Pelaksana, Drs H Saifullah Yusuf (Gus Ipul), jajaran panitia masih mengkaji berbagai lokasi dengan mempertimbangan sarana prasarana yang ada. Termasuk menimbang banyaknya daerah yang mengajukan diri untuk ditempati.

“Tetapi, menurut hemat saya, bila NU ingin membuat sejarah yang akan dikenang rakyat Indonesia dan menjadikan NU salah satu pelopor dan pendukung pembangunan Indonesia sentris yang monumental, perlu dipikirkan penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU di IKN (Ibu Kota Nusantara), Kalimantan Timur,” demikian disampaikan Purwanto M Ali kepada duta.co, Minggu (10/5/26).

Dalam pandangan Purwanto, soal fasilitas, tidak diragukan lagi. Pun sejarah NU dalam merajut NKRI (Negara Kesatuan Reoublik Indinesia). “Pembukaan muktamar bisa di pelataran upacara di depan Istana Negara. Ada tempat perkemahan yang bisa didirikan banyak tenda. Sidang-sidang komisi pun bisa pinjam aula gedung-gedung kementerian yang belum digunakan. Tinggal menambah armada penjemputan peserta dari penginapan ke tempat persidangan,” katanya.

Fasilitas penginapan peserta? “Banyak yang bisa dipinjam. Misalnya, bisa pinjam rusun ASN yang belum ditempati. Dan sudah ada hotel yang bisa disewa. Justru di sini juga bisa digelar istighotsah untuk keselamatan bangsa. NU akan memulianya, itu akan tercatat dalam sejarah Nusantara,” pungkasnya.

Memang, PBNU telah membentuk kepanitiaan dengan menunjuk Gus Ipul sebagai Ketua Panitia Pelaksana (Organizing Committee/OC). Sekretaris Jenderal PBNU yang juga Menteri Sosial ini didampingi Amin Said Husni sebagai sekretarisnya. Sementara posisi Ketua Panitia Pengarah (Steering Committee/SC) dipercayakan kepada KH Ahmad Said Asrori dengan didampingi Prof. M. Nuh selaku Sekretaris. Tetapi, soal lokasi masih belum ditentukan.

Wacana muktamar NU di IKN memang tidak langsung mulus. Banyak kader NU yang menolak keinginnan tersebut. “NU saat ini butuh konsolidasi, bukan selebrasi. Konflik PBNU yang berkepanjangan harus dicarikan solusi yang baik. NU itu lahir dari pesantren, harus berada dalam pesantren. Karena itu, munculnya wacana Muktamar NU di IKN, sah sah saja, tetapi, itu bukan solusi masalah, justru melupakan masalah,” tegas Khoiron, warga NU, Jombang.

Hal yang sama disampaikan Drs H Abd Kholiq. Menurut mantan pengurus GP Ansor Jombang ini, banyaknya permintaan daerah untuk ditempati muktamar, jelas memiliki reasoning sendiri-sendiri. “Di Jombang misalnya, PCNU dan Pemdanya yakin sangat siap, dengan catatan muktamar di pesanten, bukan di alun-alun. Alasanya kembali ke dzurriyah.

Soal fasilitas tidak masalah. Begitu juga Lirboyo, Kediri, pernah menjadi tuan rumah, juga memiliki fasilitas memadai, Begitu juga Surabaya dan NTB. Jakarta konon juga siap. Jadi tidak perlu ke IKN, barokahnya lebih banyak dari pesantren,” tegasnya.

Sejumlah daerah sudah mengajukan diri sebagai lokasi perhelatan bersejarah di usia NU yang telah memasuki abad kedua ini. Beberapa rekomendasi yang muncul di antaranya Kabupaten Situbondo yang diusulkan Bupati Mas Rio, Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, hingga PWNU Nusa Tenggara Barat (NTB) yang secara resmi telah menyurati PBNU.

Ketua Umum Forkom Jurnalis Nahdliyin (FJN) sekaligus Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Timur, Muhamad Didi Rosadi, lain lagi. Ia menilai Kota Surabaya adalah tempat paling layak sebagai tuan rumah. Ia menyebut dukungan pemerintah daerah menjadi garansi suksesnya hajat akbar tersebut.

“Wali Kota Eri Cahyadi pernah melontarkan kesiapan Surabaya menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-35 saat menerima silaturahmi FJN di Balai Kota pada 2021 lalu,” ujar Didi kepada wartawan.

Jika Muktamar ke-35 digelar di Surabaya, katanya dengan optimis, akan ada dukungan besar dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Ia menyontohkan kesuksesan agenda besar seperti Peringatan Satu Abad NU di Sidoarjo (2023),

Kongres Muslimat NU ke-18 di Surabaya (2025), hingga Mujahadah Kubro Satu Abad NU di Stadion Gajayana (2026) yang dihadiri Presiden RI, Prabowo Subianto. “Ada dua variabel utama mengapa Surabaya layak: faktor historis dan teknis,” jelasnya kepada timesindonesia.co.id. (mky)

 

Sumber: https://duta.co/muncul-wacara-muktamar-di-ikn-purwanto-hindari-rebutan-tempat-sejarah-besar-nu-dan-nkri

 

Baca 13 kali
Bagikan: