IDI Soroti Bahaya Asap Karhutla, Paparan Jangka Panjang Bisa Picu Kanker

Senin, 26 Oktober 2026 10:53
(0 pemilihan)

detikHealth Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat menyebabkan penurunan kualitas udara yang berdampak pada kesehatan. Paparan asap dalam jangka pendek dapat memicu gangguan pernapasan, sementara paparan berkepanjangan terhadap polusi udara juga berisiko menimbulkan masalah kesehatan yang lebih serius.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr Slamet Budiarto menyoroti pentingnya pemantauan kualitas udara di wilayah terdampak karhutla. Menurutnya, informasi kualitas udara bisa dipantau melalui internet untuk mengetahui tingkat polusi di lingkungan sekitar.

Ia mencontohkan kondisi kualitas udara di Palembang yang menurut pemantauannya menunjukkan angka di atas 500, jauh melampaui angka normal yang disebutkannya, yakni di bawah 70.

"Ini harus menjadi perhatian pemerintah karena lama-kelamaan kalau udara kita lebih dari normal, efeknya tidak baik untuk masyarakat. Bisa sakit, infeksi pernapasan, infeksi paru, bahkan dalam jangka panjang juga bisa menyebabkan kanker," ujar dr Slamet kepada wartawan, Sabtu (25/10/2026).

Ia menilai, penanganan karhutla perlu dilakukan secepatnya untuk meminimalkan dampak buruk asap terhadap kesehatan.

Slamet mengatakan, pemerintah perlu memberikan sosialisasi mengenai bahaya paparan asap karhutla. Edukasi ini penting untuk memahami risiko kesehatan yang dapat muncul akibat penurunan kualitas udara.

"Pemerintah harus memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahayanya. Jadi ke depannya memang harus diminimalisir karhutlanya," katanya.

Pemerintah Diminta Menyediakan Masker

Slamet juga meminta pemerintah menjamin ketersediaan masker bagi warga di wilayah terdampak karhutla, terutama untuk anak sekolah yang rentan mengalami gangguan kesehatan, mulai dari tingkat taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA).

"Pemerintah harus menjamin masker untuk masyarakat, terutama untuk anak sekolah yang rentan sakit," ungkap dr Slamet.

Di sisi lain, Slamet memastikan dokter dan tenaga kesehatan siap memberikan pelayanan bagi warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat karhutla. Kesiapan tersebut mencakup tenaga medis maupun fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk rumah sakit.

"Saya kira SOP terkait karhutla itu hampir semua dokter sudah tahu, dokter, perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lain.

(elk/up)

 

Sumber: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8723034/idi-soroti-bahaya-asap-karhutla-paparan-jangka-panjang-bisa-picu-kanker

Baca 11 kali Terakhir diubah pada Senin, 26 Oktober 2026 10:55
Bagikan: