Anak Buah Prabowo Curigai HAARP di Balik Erupsi 6 Gunung, Pendiri Kaskus Kasih Respon Menohok Pilihan

Pendiri Kaskus, Andrew Darwis [suara.com/Bowo Raharjo] Pendiri Kaskus, Andrew Darwis [suara.com/Bowo Raharjo]
Senin, 07 September 2026 22:55
(0 pemilihan)

Suara.com - Fenomena erupsi enam gunung api di Indonesia dalam periode yang berdekatan jadi perhatian seluruh masyarakat saat ini.

Namun di tengah situasi seperti saat ini, pernyatana kontroversial justru dikeluarkan oleh Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia.

Ulfa mengaitkan fenomena tersebut dengan proyek High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP).

Melalui pernyataannya, Ulta mempertanyakan apakah rangkaian erupsi tersebut sepenuhnya disebabkan fenomena alam atau terdapat faktor lain di balik kejadian itu.

Ulta mengakui pandangannya mengenai HAARP berpotensi dikategorikan sebagai teori konspirasi. Namun, ia menyebut dirinya sebagai pribadi yang skeptis dan tidak ingin langsung menerima begitu saja penjelasan yang dianggap umum.

"Walau gak ada bukti ilmiah yang kredibel, tapi otak skeptis pasti berpikir atau setidaknya entertain pemikiran," tulis Ulta dalam pernyataannya seperti dikutip dari akun Instagram miliknya.

Ulta kemudian menyoroti enam gunung api di Indonesia yang mengalami erupsi dalam waktu berdekatan.

Ia mempertanyakan apakah rangkaian aktivitas vulkanik tersebut murni merupakan fenomena alam.

Pernyataan itu kemudian dikaitkan Ulta dengan pertemuan Presiden RI dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok.

Ia menyoroti waktu pertemuan tersebut yang disebutnya terjadi sehari sebelum sejumlah gunung api mengalami erupsi.

"Kenapa sehari setelah Presiden RI bersalaman mesra dengan Putin di Vladivostok, enam gunung vulkanik Indonesia erupsi secara bersamaan?" tulis Ulta.

Pernyataan Ulfa ini sontak saja membuat netizen banyak memberikan kritik pedas.

Andrew Darwis Singgung Teori HAARP

Pendiri forum Kaskus, Andrew Darwis, turut menyinggung isu HAARP melalui akun X miliknya.

Ia mengajak masyarakat membedakan antara klaim teori konspirasi dan fakta ilmiah terkait fenomena gempa serta aktivitas geologi di Indonesia.

Darwis juga menyinggung potongan video yang menampilkan Dharma Pongrekun, sosok yang kerap dikaitkan dengan pembahasan teori konspirasi global.

Dalam unggahannya, Darwis menjelaskan bahwa anggapan gempa besar dapat dipicu oleh gelombang elektronik atau HAARP tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.

"HAARP itu neliti lapisan atmosfer atas (ionosfer), gelombangnya gak bisa nembus ke dalam kerak bumi buat ngegerakin patahan geologi," tulis Darwis.

Ia juga menjelaskan alasan Indonesia menjadi salah satu wilayah yang rawan mengalami gempa.

Menurut Darwis, aktivitas gempa di Indonesia berkaitan dengan kondisi geografis wilayah yang berada di pertemuan sejumlah lempeng tektonik besar.

Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik terus bergerak sehingga aktivitas tektonik menjadi bagian dari proses alam yang berlangsung di kawasan tersebut.

Apa Itu HAARP?

HAARP merupakan fasilitas penelitian yang digunakan untuk mempelajari ionosfer, yakni lapisan atmosfer bagian atas yang memiliki peran penting dalam berbagai fenomena gelombang radio.

Program HAARP pada fase awalnya memang melibatkan pendanaan dan sejumlah lembaga pemerintah Amerika Serikat, termasuk militer.

Fakta tersebut kemudian menjadi salah satu alasan HAARP kerap dikaitkan dengan berbagai teori konspirasi di internet.

HAARP selama bertahun-tahun dituding memiliki kemampuan untuk memengaruhi cuaca, memicu badai, hingga menyebabkan gempa bumi dan aktivitas vulkanik.

Namun, tudingan tersebut berbeda dengan fungsi ilmiah HAARP yang berfokus pada penelitian ionosfer.

Tidak terdapat bukti ilmiah kredibel yang menunjukkan HAARP dapat mengendalikan aktivitas gunung api atau menggerakkan patahan geologi.

 

Sumber: https://www.suara.com/entertainment/2026/09/07/194926/anak-buah-prabowo-curigai-haarp-di-balik-erupsi-6-gunung-pendiri-kaskus-kasih-respon-menohok?page=all

 

 

Baca 10 kali Terakhir diubah pada Senin, 07 September 2026 23:02
Bagikan: