detikJatim Mojokerto - Penangguhan operasional SPPG Sumolawang 1, Kecamatan Puri, Mojokerto mengakibatkan suplai makan bergizi gratis (MBG) untuk 2.423 penerima manfaat terhenti 20 hari terakhir. Salah satu kepala sekolah (Kepsek) menyebut terhentinya MBG tidak ada pengaruhnya terhadap para siswa. MI Miftahul Huda salah satu sekolah penerima MBG dari SPPG Sumolawang 1. Setiap harinya, sekolah ini biasa menerima kiriman MBG pukul 07.30 WIB. MBG lantas dibagikan kepada 161 siswa pada jam istirahat pukul 09.00 WIB. "Mulai 25 Mei 2026 tidak ada distribusi MBG. Sudah ada konfirmasi dari SPPG, cuma untuk pengiriman lagi disuruh menunggu informasi berikutnya. Kami tidak tanya masalah kendala di SPPG," terang Kepala MI Miftahul Huda, Ahmad Yunus kepada wartawan di kantornya, Rabu (17/6/2026). Terhentinya pasokan MBG di sekolahnya, lanjut Yunus, tidak berdampak terhadap para siswa. Sebab menurutnya, para siswa tetap membawa uang saku untuk jajan di sekolah dalam kondisi ada maupun tidak ada MBG. "Kalau boleh dikata ada MBG ya mereka (para siswa) senang, kalau tidak ada ya tidak ada pengaruhnya," ungkapnya. SPPG Sumolawang 1 juga memasok MBG untuk 260 siswa SDN Sumolawang. Kepala SDN Sumolawang, Siti Machmudah menyebut, suplai MBG untuk anak didiknya terhenti sejak 25 Mei 2026. "Menurut mereka (SPPG Sumolawang 1) untuk pembuangan limbah MBG yang belum maksimal, mengganggu masyarakat, harus ada IPAL," jelasnya. Terhentinya MBG hampir satu bulan, kata Siti, dikeluhkan para siswa. Sebab selama ini, para siswa sangat antusias dan bersemangat ketika kiriman MBG datang. "Kalau keluhan sih ada. Pertama, anak-anak sudah terbiasa makan MBG bersama. Kedua, dampaknya anak-anak yang tidak membawa bekal dari rumah, uang jajannya bertambah, beban orang tua bertambah," tandasnya. Sebelumnya, Kepala SPPG Sumolawang 1, Anta Dewinta menjelaskan, pihaknya menyuplai MBG untuk 2.423 orang penerima manfaat di 19 sekolah dan 14 posyandu. Dapur MBG di bawah naungan Yayasan Pendidikan dan Sosial Islam SMP SMA Kletek, Bojonegoro terakhir kali operasi sebelum libur Idul Adha. Menurutnya, SPPG Sumolawang 1 terakhir kali mengirim MBG ke para penerima manfaat pada 25 Mei 2026. Sebab sejak 29 Mei, operasional mereka ditangguhkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Karena Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dapur MBG ini bermasalah. "IPAL-nya masih belum standar. Dari Korwil BGN Mojokerto melakulan pendataan, IPAL yang sistem sedot tidak boleh operasi (di-suspend)," jelasnya kepada wartawan di SPPG Sumolawang 1, Dusun Pohgurih, Desa Sumolawang. Selain ribuan penerima manfaat, penangguhan operasional SPPG Sumolawang juga berdampak terhadap 47 relawan. Praktis mereka tidak bisa bekerja. Seminggu terakhir, tambah Anta, pihaknya fokus membangun IPAL sesuai ketentuan. "(Target selesai) Ini belum tahu, masih instalasi pipa dan membuat sumur resapan lagi," tandasnya.