Konten ini diproduksi oleh kumparan

Tesla berpindah menggunakan baterai lithium-iron-phosphate (LFP) yang mana sudah digunakan untuk model entry-level Tesla yang dijual di China, yakni Model 3 Standard Range.

Adanya perpindahan ini karena beberapa keuntungan yang sangat menarik, salah satunya harga yang lebih murah. Keuntungan yang dimiliki oleh baterai lithium-iron-phosphate dibandingkan baterai biasanya yang menggunakan nikel, yakni lebih mudah didapatkan.

Bijih besi didapat dengan volume yang lebih besar per tahunnya dibandingkan nikel. Sehingga ini membuat harganya pun jadi lebih murah. 

Baterai baru Tesla 4680. Foto: Futurecar.com

Kemudian bahan kobalt juga memiliki kesulitannya tersendiri, dengan rantai suplai yang lebih rumit, kemudian kuantitas yang ditambang sangat sedikit, yang mana kebanyakan digunakan untuk pembuatan baterai, dan harga yang sangat tinggi.

Tesla sendiri telah menggunakan baterai berbasis nikel-kobalt yang diproduksi oleh LG Chem dan Panasonic. Adapun, hampir 100 persen mobil listrik penuh (BEV) yang menggunakan baterai LFP diproduksi dan dijual di pasar China.

Inilah mengapa Tesla Model 3 Standard Range di China sudah menggunakan baterai tersebut. Model lain seperti Wuling HongGuang Mini EV dan BYD Han juga sudah menggunakan baterai tersebut.

 

Wuling Hongguang Mini EV. Foto: dok. Wuling

Bukan hanya Tesla

Nyatanya, bukan hanya Tesla yang melakukan perpindahan ke baterai LFP ini, banyak pabrikan yang memproduksi mobil listrik juga sudah mempertimbangkan untuk pindah menggunakan LFP karena biaya yang lebih murah.

Awal tahun ini, CEO Ford Jim Farley mengatakan perusahaan asal Amerika itu berencana gunakan baterai LFP pada beberapa mobilnya. Tidak hanya itu, pabrikan asal Jerman, Volkswagen juga mengakui akan menggunakan sel baterai dengan bahan baku LFP khusus untuk mobil listrik entry-level.

Memungkinkan mobil listrik jadi lebih murah

Tentunya hal ini bukan menjadi pertanyaan baterai dengan bahan baku mana yang lebih unggul. Melainkan, dengan adanya baterai LFP ini semakin membuka kesempatan untuk banyak mobil listrik entry-level diproduksi.

 

Seorang pekerja melintas di pabrik Tesla di Fremont, California, AS, Selasa (12/5/2020). Foto: Reuters/Stephen Lam

Seperti yang beberapa pabrikan rencanakan, dengan murahnya baterai LFP ini memungkinkan untuk membuat mobil listrik jadi lebih murah, meskipun jarak tempuh dan tenaga jadi sedikit berkurang.

Yang mana pada akhirnya, mobil listrik yang menggunakan baterai nikel akan tetap diproduksi namun dengan harga yang cukup mahal dengan jarak tempuh yang jauh. Ini membuat populasi mobil listrik tetap bertambah.

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia sendiri memiliki pasokan nikel yang sangat besar, terdapat sedikitnya 26 persen nikel dunia terdapat di Tanah Air. Ini pun juga terlihat dari negara Korea Selatan yang sudah mulai membangun pabrik baterai di Karawang, Jawa Barat. 

 

Hyundai mulai pembangunan pabrik sel baterai mobil listrik di Karawang, Jawa Barat, Rabu (15/9). Foto: Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden

Pemerintah memang sedang menggenjot investasi untuk energi terbarukan, mengingat bahan baku dalam negeri yang menjanjikan. Bahkan pemerintah juga buka peluang untuk perusahaan asing yang menginginkan investasi untuk pembangunan baterai listrik.

“Jadi ini sekitar 6 atau 7 negara yang akan masuk ke Indonesia. makanya Indonesia akan kita jadikan sebagai negara pusat produsen baterai mobil,” kata Menteri Investasi Bahlil Lahadalia saat konferensi pers virtual, Jumat (17/9).

Tentunya, dengan Indonesia yang mampu menjadi negara pusat produsen baterai mobil, membuka kemungkinan penekanan harga mobil listrik jadi lebih rendah dari yang sekarang.

 

Diterbitkan di Berita

Merdeka.comBagi sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin sudah tidak asing lagi dengan merek mobil listrik asal Amerika Serikat, Tesla. Mobil ini dikenal memiliki berbagai tekhnologi canggih.

Salah satunya adalah fitur autopilot yang memungkinkan kendaraan bisa melaju sendiri tanpa kendali manusia.

Siapa sangka, dibalik canggihnya fitur Full-Self-Driving pada mobil Tesla tersebut ternyata ada sosok wanita asal Indonesia bernama Moorisa Tjokro. Ia menjadi satu-satunya Autopilot Software Engineer perempuan yang bekerja di perusahaan Tesla, California.

Berikut informasi selengkapnya:

 

Sosok Moorisa Tjokro

Instagram/@omg.indonesia.id ©2021 Merdeka.com

 

Moorisa merupakan Warga Negara Indonesia yang telah bekerja di perusahaan Tesla, California, Amerika Serikat sejak tahun 2018 lalu. Ia menjadi satu-satunya wanita dari 6 Autopilot Software Engineer yang bekerja di perusahaan tersebut.

Dilansir dari unggahan di Instagram @omg.indonesia.id seperti yang diberitakan VOA, ia dipercaya oleh pihak Tesla untuk ikut menggarap fitur swakemudi Full-Self-Driving di perusahaan tersebut.

Moorisa dipercaya mengerjakan bagian Computer Vision, untuk membuat mobil seakan bisa melihat dan mendeteksi lingkungan sekitar.

 

Dikontak Langsung Oleh Perusahaan

Instagram/@omg.indonesia.id ©2021 Merdeka.com

 

Diketahui jika Moorisa dihubungi langsung oleh pihak perusahaan Tesla dan direkrut tanpa tes. Ia dihubungi setelah salah satu temannya mengirim resume tentang dirinya ke pihak Tesla.

"Sekitar dua tahun yang lalu, temanku sebenarnya intern (magang) di Tesla. Dan waktu itu dia sempat ngirimin resume-ku ke timnya. Dari situ, aku tuh sebenarnya enggak pernah apply, jadi langsung dikontak sama Tesla-nya sendiri. Dan dari situlah kita mulai proses interview," kata Moorisa.

Sebelum menjadi insinyur softaware enginerr di Tesla, Moorisa disebut terlebih dahulu dipercaya sebagai Data Scientist yang menangani seputar perangkat lunak mobil.

Saat ini, Moorisa lebih banyak ditugaskan untuk mengevaluasi perangkat lunak autopilot dan melakukan pengujian terhadap kinerja mobil.

 
Instagram/@omg.indonesia.id ©2021 Merdeka.com

 

Jadi Satu-satunya Perempuan di Tim-nya

 
Instagram/@omg.indonesia.id ©2021 Merdeka.com

 

Sebagai seorang insinyur, Moorisa menjadi satu-satunya wanita dalam tim-nya yang bertanggung jawab atas fitur autopilot di mobil Tesla. Dalam melakoni pekerjaannya, ia pun mengungkapkan tantangan yang dialaminya.

"Jadi tantangannya kurang role model si sebagai cewek di dunia ini, jadi lebih susah termotifasi untuk menjadi eksekutif," kata Moorisa.

Lebih lanjut, Moorisa menyebut jika pekerjaannya yang bertanggung jawab me-manage fitur autopilot di Tesla ini cukup sulit. Ia bahkan menghabiskan waktu sekitar 60-70 jam seminggu untuk bekerja.

Pesan-Pesan Moorisa

Di akhir video, Moorisa memberikan pesan motivasi untuk seluruh generasi muda. Menurutnya, dalam meraih cita-cita dalam bidang apapun harus dimulai dengan mengikuti kata hati.

“Walaupun mungkin banyak orang yang enggak setuju atau berpikir keputusan kita bukan yang terbaik, we have to follow our hearts (dan) karena ketika kita follow our hearts, kita enggak mungkin nyesel,” pesan Moorissa.

 

 
Instagram/@omg.indonesia.id ©2021 Merdeka.com

 

Dikutip dari laman Tesla, fitur Full-Self-Driving pada mobil Tesla sendiri dirancang agar kendaraan dapat melakukan perjalanan jarak pendek dan jauh tanpa perlu tindakan apa pun oleh orang yang duduk di kursi pengemudi.

Yang perlu dilakukan pemilik mobil adalah, masuk mobil dan menginput lokasi ke mana harus pergi.

Jika pengendara tidak menginput lokasi tujuan, mobil akan melihat kalender pemilik kendaraan dan membawanya ke tempat tujuan sesuai lokasi di kalender, atau menuju rumah jika tidak ada agenda di kalender.

Diterbitkan di Berita

Liputan6.com, Jakarta Baru-baru ini, Tantowi Yahya mengunggah video berdurasi kurang dari dua menit. Dalam videonya, Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru itu menjajal mobil elektrik Tesla.

“Hari bersejarah keliling Auckland naik Tesla dengan driver-nya yang baru beli ini, orang di Auckland ini, Mister Junjun,” kata presenter kuis Who Wants To Be Millionaire.

 

Tantowi Yahya memperkenalkan Junjun sebagai sahabat Katon Bagaskara dan pengamat musik Bens Leo. Yang menarik, video itu sempat merekam mobil Toyota dengan pelat Jokowi. Kok, bisa?

 

Dengar Lagu Saya

 

Mulanya, Tantowi Yahya merekam aktivitas bareng sahabat menjajal Tesla. Mobil Tesla mengaspal di salah satu ruas jalan di Auckland. Ia memamerkan aktivitas di dalam mobil.

“Asyik, kan dengar lagu saya lagi. Mungkin karena menghormati saya. Tapi kalau menurut dia tuh, memang enak. Memang asyik, jalan-jalan pakai lagu country. Bukan sembarang country tapi country KW ala Tantowi Yahya,” celotehnya.

 

Enggak Ada Bunyinya

 

“Enak banget ini mobil enggak ada bunyinya. Terus di mobil ini enggak ada apa-apa, yang ada cuma setir sama ipad. Sama dua tuas saja,” kakak Helmy Yahya menyambung.

Tesla dengan konsep autopilot, kata Tantowi Yahya, tak mungkin melanggar marka jalan. Ia bisa menambah laju kecepatan dan mengerem sendiri. Sejurus kemudian, kamera Tantowi Yahya menyorot sebuah mobil.

 

Pelat Nomornya Jokowi
 

 

Mobil warna perak bermerek Toyota itu melintas persis di depan Tesla yang ditunggangi Tantowi Yahya. Yang bikin syok, pelat yang menempel di bagian belakang mobil bertuliskan Jokowi.

“Dan di depan tuh ada pemandangan bagus, tuh. Mobil pelat nomornya Jokowi. Kurang apa pengalaman kita hari ini? Luar biasa,” seru Tantowi Yahya yang pernah memandu kuis Persembahanku di Indosiar.

 

Pengalaman Pertama
Tantowi Yahya. (Foto: Instagram @tantowiyahyaofficial)

 

 

Pengalaman Pertama. Pengalaman pertama naik Tesla dan ketemu mobil dengan plat nomor Jokowi,” tulis Tantowi Yahya menyertai video yang diunggah Minggu (23/5/2021).

Sejumlah selebritas mencuap di kolom komentar. “Oke, minggu depan beli lima,” cuit Dewi Lestari. “Insyaallah bentar lagi Mas Dubes akan punya juga mobil tesla, dtunggu di indo ya mas dubes,” pedangdut Kristina menimpali.

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Mobil Tesla menabrak pohon dalam uji coba pengendalian tanpa pengemudi (autodriver) di Texas, Amerika Serikat (AS), pada Sabtu (17/4).
 
Gara-gara peristiwa ini, kekayaan CEO dan Founder Tesla Inc, Elon Musk pun raib hingga USD 5,6 miliar atau setara Rp 81,2 triliun (kurs USD 1 = Rp14.500).
 
Dikutip dari Forbes, insiden kecelakaan yang dialami Tesla itu membuat harga saham Tesla anjlok 3,8 persen. Hal inilah yang membuat kekayaan Elon Musk tergerus jadi USD 174,1 miliar atau Rp 2.524 triliun.
 
Posisi dia di daftar orang terkaya dunia versi Forbes pun melorot ke ranking ketiga. Sebelumnya, Bos Space-X itu menempel ketat pemilik Amazon, Jeff Bezos, yang ada di pemuncak klasemen daftar orang terkaya dunia.
 
 
Mobil Tesla Tabrak Pohon, Bikin Kekayaan Elon Musk Raib Rp 81,2 Triliun (1)
Ilustrasi pabrik Tesla. Foto: Shutter Stock
Posisi kedua yang sebelumnya ditempati Elon Musk, digantikan oleh pemilik produk-produk luxury bermerek LVMH, Bernard Arnault. Kekayaan pria ini bertambah menyentuh USD 180,3 miliar atau sekitar Rp2.614 triliun.
 
Mobil Tesla yang sebelumnya dilaporkan kecelakaan hingga menewaskan dua orang itu, adalah Model S 2019.
 
Kepolisian lokal melaporkan, mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi di sekitar tikungan pada pukul 23:25 waktu setempat, sebelum keluar dari jalan sekitar 100 kaki dan menabrak pohon.
  
Kedua korban berjenis kelamin laki-laki, dengan usia 59 dan 69 tahun. Satu orang duduk di kursi belakang dan yang satunya lagi duduk di kursi penumpang depan.
 
“Butuh empat jam untuk memadamkan api yang biasanya memakan waktu beberapa menit,” kata petugas kepolisian kepada The New York Times, seraya menambahkan bahwa dibutuhkan lebih dari 30.000 galon air untuk memadamkan api yang terus menyala karena dipicu oleh baterai mobil listrik Tesla tersebut.
Diterbitkan di Berita

Aulia Damayanti - detikFinance Jakarta - Bos produsen mobil listrik Tesla Elon Musk telah kehilangan gelarnya sebagai orang terkaya di dunia setelah saham Tesla merosot baru-baru ini. Pasalnya Tesla menjadi pendorong utama kekayaan Musk.

Dikutip dari BBC, Rabu (24/2/2021), saham Tesla telah jatuh lebih dari 20% sejak mencapai tertinggi lebih dari US$ 880 pada awal Januari lalu. Penurunan itu mengembalikan bos Amazon Jeff Bezos ke posisi teratas daftar orang terkaya di dunia.

Penurunan saham Tesla dikaitkan dengan turunnya nilai bitcoin beberapa hari belakangan ini. Bitcoin sendiri menjadi seakan terikat dengan Tesla karena perusahaan telah membeli bitcoin senilai US$ 1,5 miliar dan berencana uang kripto itu diizinkan untuk transaksi membeli mobil listriknya.

Analis Wedbush Securities Dan Ives mengungkap penurunan nilai bitcoin mungkin telah mendorong beberapa investor Tesla untuk menjual saham mereka. "Oleh Musk dan Tesla yang secara agresif merangkul bitcoin investor mulai mengikat Bitcoin dan Tesla," katanya.

Anjloknya nilai bitcoin juga diduga dorong komentar dari Menteri Keuangan AS Janet Yellen, yang menyuarakan peringatan tentang bitcoin. Dia menyebutnya menggunakan bitcoin merupakan cara yang sangat tidak efisien dalam melakukan transaksi.

Sebelumnya, nilai bitcoin melonjak hampir 50% dalam beberapa minggu setelah Tesla mengungkapkan telah membeli US$ 1,5 miliar dari mata uang tersebut dan berencana untuk menerimanya sebagai pembayaran.

Tetapi sejak naik di atas US$ 57.000 cryptocurrency itu turun hampir 20% dan kini menjadi kurang dari US$ 48.000.

Menurunnya kekayaan Elon Musk telah terjadi sejak saham Tesla turun 8% dan menyebabkan Musk kehilangan US$ 15 miliar dari kekayaan bersihnya, menurut Bloomberg. Saham Tesla turun 2% lebih lanjut pada hari Selasa.

Kicauan Musk di media sosial Twitter juga terkenal memicu pergerakan tajam di saham Tesla, termasuk tahun lalu ketika perusahaan kehilangan US$ 14 miliar dalam nilai pasar setelah Musk menulis bahwa harga sahamnya terlalu tinggi.

(eds/eds)

Diterbitkan di Berita