Pejabat humas Pengadilan Negeri Jakarta Timur Alex Adam Faisal menyebut ,sidang vonis digelar, Rabu (21/4/2021) kemarin. Alex membenarkan jika keenam terdakwa dalam kasus ini divonis hukuman mati.

"Semua terdakwa menerima dan tidak menyatakan banding," kata Alex kepada wartawan, Kamis (22/4/2021).

Keenam terdakwa tersebut adalah:

1. Anang Rachman

2. Suparman alias Maher

3. Syawaluddin Pakpahan

4. Suyanto alias Abu Izza

5. Handoko alias Abu Bukhori

6. Wawan Kurniawan

Seperti yang diketahui, kerusuhan di Mako Brimob terjadi pada 8 Mei 2018 silam. Peristiwa itu dipicu salah pahan terkait titipan makanan dari pihak keluarga.

Insiden ini berlangsung sekitar 40 jam, sebelum akhirnya bisa ditangani pihak kepolisian. 155 napi terorisme yang sebelumnya ditahan di Mako Brimob kemudian dipindahkan ke Nusakambangan.

Akibat peristiwa ini, 5 orang anggota Polri gugur. Sementara 1 orang napi terorisme turut tewas.

Diterbitkan di Berita

KENDARI, KOMPAS - Jenazah Brigadir Satu Anumerta Herlis Pombili yang gugur dalam kontak tembak dengan kelompok Mujahidin Indonesia Timur di Palu, dimakamkan di kampung halamannya di Kolaka Utara.

Anggota Brimob Polda Sulawesi Tengah ini dimakamkan tepat di sebelah makam ibunya yang meninggal beberapa tahun sebelumnya. 

Jenazah Briptu Herlis tiba di kampung halamannya, di Kolaka Utara, pada Kamis (4/3/2021) sekitar pukul 12.00 Wita. Anggota Kompi 4 Tolitoli Brimob Polda Sulteng ini diterbangkan dari Palu menuju kampung halamannya di Kecamatan Pakue, Kolaka Utara dengan helikopter.

Komandan Satuan Brimob Polda Sultra Komisaris Besar Adarma Sinaga menuturkan, setelah tiba, jenazah Briptu Herlis dibawa ke pemakaman umum di daerah tempat tinggal almarhum. Hal tersebut sesuai dengan permintaan keluarga untuk dimakamkan di sebelah pusara almarhum sang ibu.

“Dalam pengantaran jenazah, ikut juga sejumlah pejabat dan personel dari Polda Sulteng. Dari kami ada 30 personil Brimob Polda Sultra yang terlibat dalam rangkaian upacara pemakaman kedinasan. Inspektur upacara adalah Bupati Kolaka Utara Nur Rahman Umar,” kata Adarma, di Kendari, Sultra, Kamis siang.

 

Jenazah Briptu Anumerta Herlis Pombili tiba di kampung halamannya di Pakue, Kolaka Utara, Kamis (4/3/2021) siang. Briptu herlis meninggal dunia setelah tertembak oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur di Desa Gayatri, Kecamatan Poso Pesisir Utara, sekitar 8 kilometer dari permukiman warga, Rabu (3/3/201), 15.30 Wita. BRIMOB POLDA SULTRA

 

Awalnya, tutur Adarma, jenazah Briptu Herlis direkomendasikan untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kendari. Sebab, almarhum termasuk pahlawan yang berkorban hingga meninggal dunia terkait keamanan dan keutuhan bangsa. 

Akan tetapi, oleh pihak keluarga, meminta untuk dimakamkan di pemakaman umum di Kolaka Utara. Mengikuti permintaan itu, pemakaman akhirnya dilakukan di lokasi sesuai permintaan keluarga besar almarhum. 

Brigadir Kepala Aksan, kakak korban menyampaikan, pihaknya menyatakan berterima kasih atas rekomendasi tempat pemakaman di Taman Makam Pahlawan di Kendari.

Akan tetapi, mengingat lokasi Kolaka Utara dan Kendari yang berjarak sekitar 200 kilometer, keluarga memutuskan agar pemakaman dilakukan di lokasi pemakaman umum terdekat. 

“Lokasi Taman Makam Pahlawan itu jauh dari tempat keluarga besar kami, jadi diputuskan untuk dimakamkan di pemakaman umum, itu yang pertama. Yang kedua, ibu kami juga dimakamkan di pemakaman umum, jadi bisa dimakamkan berdekatan,” katanya. 

 

 
Jenazah Briptu Anumerta Herlis Pombili tiba di kampung halaman di Pakue, Kolaka Utara, (4/3/2021) siang. Briptu herlis meninggal dunia setelah tertembak oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur di Desa Gayatri, Kecamatan Poso Pesisir Utara, sekitar 8 kilometer dari permukiman warga, Rabu (3/3/201), 15.30 Wita. BRIMOB POLDA SULTRA

 

Meninggalnya Briptu Herlis, kata Aksan, menjadi duka yang dalam untuk keluarga. Sebab, sang adik adalah sosok pendiam yang punya perhatian besar terhadap keluarga. Bahkan, sebelum masuk hutan untuk bertugas sehari sebelumnya, almarhum sempat menelepon sang ayah untuk mengabarkan kondisi dan situasi. 

Meski demikian, ia melanjutkan, pihak keluarga ikhlas akan kejadian yang terjadi, dan menyerahkan semuanya ke yang kuasa. Ia berharap tidak ada lagi korban selanjutnya dari operasi yang digelar di wilayah Sulawesi Tengah. 

Sebelumnya, kontak senjata terjadi di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Rabu (3/3/2021), antara aparat Satuan Tugas Operasi Madago Raya dan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Dalam kejadian ini, Briptu Herlis tewas tertembak. 

 

Warga membuka laman yang menampilkan Daftar Pencarian Orang (DPO) teroris Poso di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (4/4/2018). Polda Sulteng kembali merilis sisa DPO Teroris Poso dari 41 menjadi 29 orang yang tergabung dalam kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso. Jumlah tersebut berkurang karena 10 di antaranya tewas tertembak dan dua ditangkap hidup-hidup. ANTARA/BASRI MARZUKI

 

Baku tembak tersebut pecah di pegunungan Desa Gayatri, Kecamatan Poso Pesisir Utara, sekitar 8 kilometer dari permukiman warga, pukul 15.30 Wita. Baku tembak bermula saat anggota Satuan Tugas Operasi Madago Raya berpatroli dan bertemu dengan anggota kelompok MIT.

”Telah gugur salah satu personel Brimob Polda Sulteng atas nama Brigadir Satu Herlis. Jenazahnya telah berada di RS Bhayangkara untuk divisum,” kata Kepala Bidang Humas Polda Sulteng Komisaris Besar Didik Supranoto, di Palu.

Didik memastikan kontak senjata tersebut terjadi antara aparat dan kelompok MIT yang dipimpin Ali Kalora. Baku tembak masih serangkaian dengan kontak senjata pada Senin (1/3/2021) di Desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir Utara.

Namun, Didik tidak bisa memastikan kelompok itu orang yang sama yang terlibat baku tembak pada Senin, yang dipastikan ada Ali Kalora di dalamnya.

 

 

Kepala Polda Sulteng Inspektur Jenderal (Pol) Abdul Rakhman Baso di Palu, Sulteng, Selasa (2/3/2021) memperlihatkan gambar dua anggota Mujahidin Indonesia Timur yang tewas ditembak di Poso, Senin (1/3/2021). KOMPAS/VIDELIS JEMALI

 

Sebelumnya, kontak senjata terjadi pada Senin yang menewaskan dua anggota MIT dan satu anggota TNI. Dua orang tersisa dari kelompok itu kemudian dikejar aparat. Salah satu dari dua orang tersebut dipastikan Ali Kalora, pemimpin kelompok MIT.

”Satuan Tugas Operasi Madago Raya masih mengejar kelompok MIT,” katanya. Operasi Madago Raya digelar untuk mengejar anggota MIT di Poso. Operasi digelar sejak 2016 yang sebelumnya bernama Operasi Tinombala.

Sejak Januari 2021 operasi itu berganti sandi menjadi Operasi Madago Raya. Tinombala merujuk nama gunung di timur Kabupaten Parigi Moutong, kabupaten tetangga Poso.

Sementara madago, kata dalam bahasa Pamona, bahasa yang dipakai suku Pamona, salah satu suku di Poso, berarti ’baik hati’.

Operasi berpusat di pegunungan berhutan lebat di Kabupaten Poso, Parigi Moutong, dan Sigi. Wilayah itu merupakan medan gerilya kelompok Ali Kalora, yang diperkirakan tersisa 9 orang setelah dua orang tewas pada Senin (Kompas, Rabu, 3 Maret 2021).

Diterbitkan di Berita