Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Halaman muka mesin pencari Google Indonesia kembali menampilkan tokoh Indonesia dalam ilustrasi Google Doodle hari ini, Selasa (11/5). Sosok yang dipilih kali ini adalah K.R.T. Hardjonagoro, atau biasa dikenal sebagai Go Tik Swan.
 
Menurut penjelasan di laman resmi Google Doodle, Go Tik Swan merupakan seorang ahli seni kuno kontemporer dalam mendesain kain dengan lilin panas. Seni yang kini populer dengan nama batik.
 
K.R.T. Hardjonagoro lahir pada 11 Mei 1931 di Solo, Jawa Tengah. Ya, ini adalah cara Google Doodle merayakan hari lahirnya K.R.T. Hardjonagoro yang telah memperkenalkan batik nusantara.
 
Go Tik Swan sering mengunjungi bengkel batik kakeknya, di mana dia menyerap pengetahuan budaya Jawa dari pengrajin lokal. Ia lantas mengeksplorasi lebih jauh warisan leluhurnya dengan mempelajari sastra dan tari Jawa di Universitas Indonesia.
 
Budayawan Batik Go Tik Swan K.R.T. Hardjonagoro Hiasi Google Doodle Hari Ini (1)
Ilustrasi pengrajin yang sedang membuat batik Kampung Batik Laweyan Foto: Shutter Stock
 
Presiden pertama Indonesia, Soekarno, yang mengetahui latar belakang keluarga Hardjonagoro dalam pembuatan batik, lantas menugaskannya untuk membuat gaya batik baru yang diyakini bisa mengatasi perpecahan dan menyatukan bangsa Indonesia.
 
Merasa tergugah, Hardjonagoro pulang kampung untuk mendalami segala sesuatu tentang batik, mulai dari sejarah hingga falsafahnya.
 
Menurut catatan Intisari edisi Juni 1998, Hardjonagoro menggali pola batik langka yang tak dikenal umum maupun pola tradisional lainnya dan dikembangkan tanpa menghilangkan ciri dan maknanya yang hakiki. Pola yang sudah dikembangkan tersebut diberi warna baru yang cerah, bukan coklat, biru, atau putih kekuningan yang lazim dijumpai batik Solo-Yogya. Dari perpaduan ini, lahirlah 'Batik Indonesia'.
 
Setiap helai batik yang dikembangkan Go Tik Swan memiliki makna filosofis. Ia bahkan mengembangkan motif berjudul Kembang Bangah sebagai surat cinta atas jati dirinya pada 1970-an.
 
Selain pelopor Batik Indonesia, Hardjonagoro juga dikenal sebagai ahli dalam budaya Jawa, ahli keris, dan pemain gamelan yang terampil. Jasanya dalam memperkenalkan warisan budaya Indonesia membuat pemerintah Surakarta menghormatinya dengan gelar bangsawan Panembahan Hardjonagoro.
Diterbitkan di Berita

Liputan6.com, Jakarta Produk batik telah menjadi salah satu ciri khas Indonesia yang laku di pasar dunia. Motif tradisional tersebut kini telah banyak diukir dalam berbagai produk, mulai dari kain, selendang, gaun, kemeja, hingga sepatu dan masker.

Namun, Yuli Astuti punya cerita tersendiri dalam membuat dan memasarkan batik. Wanita ini memilih membangkitkan motif Batik Kudus yang sempat punah sembari mengajak warga sekitar hingga anak muda untuk melestarikannya. Tak sia-sia, kini produk hasil karyanya berhasil menembus pasar dunia.

 

Yuli Astuti bercerita, Batik Kudus pernah berkembang dan populer hingga pertengahan abad 20. Namun sayangnya, produk busana bermotif Batik Kudus mulai punah pada tahun 1970-an.

Sebagai seorang pengrajin batik, Yuli kemudian tergugah untuk mempelajari asal muasal Batik Kudus. Pada tahun 2005 ia menemukan, hanya tersisa satu orang berusia sepuh yang masih bertahan melestarikannya.

Berbekal modal tersebut, Yuli lantas coba menekuni motif kapal kandas yang berasal dari latar cerita Pegunungan Muria. Sebuah kisah legenda tentang kapal pembawa rempah-rempah yang terdampar di pegunungan tersebut.

"Saya punya niat untuk menekuni Batik Kudus dan meneliti motif-motif Batik Kudus yang sudah lama punah dengan baik. Saya lalu pergi ke Gunung Muria menggali sejarah motif kapal kandas," terangnya kepada Liputan6.com, Sabtu (13/4/2021).

Dirinya lalu mulai mendirikan sanggar Muria Batik Kudus pada 2005, dan mengajak warga sekitar dan anak-anak muda untuk membuat Batik Kudus. Tak hanya itu, Yuli pun menggaet anak berkebutuhan khusus untuk belajar membatik.

Di sanggar miliknya, Yuli yang juga kerap mengajar batik di Manado, Riau hingga Makassar coba menurunkan ilmu pada masyarakat umum hingga anak berkebutuhan khusus.

 

Tembus Pasar Malaysia hingga Jerman

Motif Batik Kudus milik Yuli Astuti berhasil tembus pasar dunia

 

Total, Yuli memiliki 20 pekerja yang berkarya di workshop miliknya, serta 9 orang lain yang bekerja di rumah masing-masing. Ke depan, ia ingin mereka bisa mandiri dengan bekal tenun batik tersebut.

"Saya tertarik karena ingin mereka mandiri ke depannya, dan membuat mereka percaya diri. Dan Alhamdulillah sekarang ada 100an motif yang tercipta dengan kearifan budaya lokal Kudus," ujar Yuli.

Kini, produk karya sanggar Muria Batik Kudus telah berhasil melayani pasar luar negeri. Permintaan akan produk batik berdatangan, mulai dari Malaysia, Brunei, Singapura, hingga Jerman.

Yuli pun turut berpesan bagi para pelaku batik hingga pegiat usaha lain, untuk serius menekuni bidang yang digelutinya. Sebab menurutnya, proses tak akan mengkhianati hasil.

"Jalani usaha dengan tekun dan berproses, belajar sampai ahli di bidangnya. Niatkan memberi kemanfaatan bagi banyak orang," imbuh Yuli.

 
Diterbitkan di Berita